Senin, 09 Januari 2012

Adakan Pelatihan Jurnalistik, MANU Luthful Ulum Maksimalkan Website

Pati, Haedar Nashir

Madrasah Aliyah Nahdlatul Ulama (MANU) Luthful Ulum Wonokerto Pasucen Trangkil, Pati, Jawa Tengah, Rabu (9/3) mengadakan pelatihan jurnalistik khusus untuk mengolah website dengan berita-berita yang kreatif dan inovatif. Pelatihan ini diadakan karena MANU Luthful Ulum ingin memaksimalkan fungsi website di www.manuluthfululum.com.?

Adakan Pelatihan Jurnalistik, MANU Luthful Ulum Maksimalkan Website (Sumber Gambar : Nu Online)
Adakan Pelatihan Jurnalistik, MANU Luthful Ulum Maksimalkan Website (Sumber Gambar : Nu Online)

Adakan Pelatihan Jurnalistik, MANU Luthful Ulum Maksimalkan Website

Mohammad Khoirun Niam Al-Hafidh, Pengurus Lakpesdam PCNU Pati mengisi acara jurnalistik ini. Menurut Niam, website sekolah harus diisi dengan berita dan opini yang menarik. Website ini harus menjadi ajang pengembangan bakat dan minat siswa-siswi, khususnya dalam bidang jurnalistik. Membuat laporan kegiatan menjadi menu utama website.?

“Siswa-siswi MANU Luthful Ulum haru bisa membuat laporan kegiatan yang berkaitan dengan apa saja, baik itu intrakurikuler maupun ekstrakurikuler khususnya kegiatan-kegiatan ilmiah, seperti seminar, bedah buku, pelatihan, dan lain-lain,” jelas Niam.

Selain itu, tambahnya, website juga diisi dengan kreativitas siswa-siswi, seperti cerpen, novel, puisi, prosa, makalah ilmiah, esai, artikel, dan lain-lain. Tidak ada batasan dalam berkarya, sehingga karya apapun asalkan memberikan informasi yang positif bisa dimasukkan dalam website untuk menambah wawasan dan memperluas cakrawala pemikiran.?

Haedar Nashir

Untuk memotivasi siswa-siswi MANU Luthful Ulum, Niam memberikan tips-tips sukses, seperti memulai dengan menulis diary untuk mendokumentasikan kegiatan harian, kemudian menulis puisi, cerpen, dan mencoba menulis esai.?

Ketekunan, lanjut Mas Niam, sangat dibutuhkan jika seseorang ingin menjadi penulis profesional. Kerja keras, kecerdasan, dan keunggulan yang disertai dengan ketekunan akan menjadikan kemampuan seseorang melesat dengan cepat, seperti busur yang sulit dihentikan.?

Dalam pelatihan ini, diumumkan dan dibagikan hadiah bagi para juara cerpen yang diraih oleh Diah Mawarni untuk juara 1, Novianta Awaluddiin juara 2, Dian Puspita Sari untuk juara 3, Niken Fitriana untuk juara harapan 1, Rita Apriliana untuk harapan 2, dan Puji Lestari untuk harapan 3. Siswa-siswi ini memenangkan perlombaan menyisihkan seluruh siswa-siswi yang mengirimkan karya cerpennya.?

Nur Alimah, Wakil Kepala Madrasah bidang kesiswaaan MANU Luthful Ulum mengatakan, madrasah ini terus mengadakan lomba-lomba untuk mengasah kreativitas siswa-siswinya supaya ke depan mereka menjadi kader-kader masa depan bangsa yang kompetitif dan produktif. (Jamal Ma’mur/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir

Haedar Nashir Doa Haedar Nashir

Rabu, 04 Januari 2012

Santri Pesantren Annajyiah Bahrul Ulum Belajar Jurnalistik

Jombang, Haedar Nashir. “Pak, kalau sudah bisa nulis berita apakah harus jadi wartawan media? celetuk santri perempuan pesantren Annajiah Bahrul Ulum Tambakberas Jombang saat mengikuti diklat jurnalistik santri beberapa waktu lalu.

Santri Pesantren Annajyiah Bahrul Ulum Belajar Jurnalistik (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Pesantren Annajyiah Bahrul Ulum Belajar Jurnalistik (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Pesantren Annajyiah Bahrul Ulum Belajar Jurnalistik

Kegiatan diklat jurnalistik dikalangan santri pesantren Bahrul Ulum Tambakberas bukan hal baru, hampir setiap tahun dilakukan. Baik untuk kalangan santri maupun pelajar di lingkungan madrasah yang ada di pesantren KH Wahab Hasbullah ini.

”Setiap tahun santriwati memiliki agenda kegiatan pelatihan, termasuk jurnalistik seperti ini,” ujar Dewi Widya Sari ketua pelaksana kegiatan yang juga santri senior di Annajiah ini menceritakan.

Haedar Nashir

Diklat jurnalistik tahun ini dikatakannya diperuntukkkan bagi santri kelas 1 dan II setingkat Madrasah Aliah. “Mereka diharapkan bias mengisi dan mengelola majalah yang dimiliki pesantren. Karena sekarang majalah yang pernah diterbitkan sekarang rencananya akan kembali diterbitkan lagi,” tandasnya, majalah pesantren Annajiah bahrul Ulum diterbitkan bersama mahasiswa Stikes dan pelajar SMK dibawah naungan Annajiah.

Pesantren Bahrul Ulum juga pernah memiliki Majalah dengan nama Ka’bah, yang terbit setiap satu tahun sekali. Sedangkan beberapa unit lembaga pendidikan juga memiliki Majalah tersendiri, Seperti Madrasah Mu’alimin Mu’alimat Atas (MMA) enam tahun menerbitkan majalah atau bulletin tahunan dengan Kharisma, begitu juga dengan MAN juga menerbitkan Majalah tahunan. Bahkan kedua lembaga ini kini juga memiliki web site www.mualliminenamtahun.net dan www.mantambakberas.com.

Haedar Nashir

Sementara itu, Haedar Nashir yang diminta memberikan materi Jurnalistik Dasar untuk menulis karya jurnalistik seseorang tidak harus menjadi wartawan. Karena karya jurnalistik bisa dipublikasikan diberbagai media. 

“Dan banyak orang bisa dengan mudah membuat beritanya sendiri lalu menyebarluaskannya di berbagai jejaring sosial dunia maya. Entah lewat blog atau di berbagai situs jejaring sosial seperti Facebook atau Youtube,” beber Ramadlan mengatakan.

Untuk publikasi, lanjutnya sesorang tidak perlu menunggu waktu lama agar tulisannya bisa dimuat dalam media cetak arus utama, saat ini, seseorang sudah bisa memublikasikan tulisannya secara independen. Semangat kemandirian yang difasilitasi dengan sangat baik oleh jaringan internet.

Jika tulisan-tulisan itu cukup kuat, maka peran pembentukan opini pun dapat pula direngkuhnya. Media jenis ini disebut sebagai “new media.” Kemudian melahirkan pula apa yang dikenal saat ini dengan konsep “citizen journalism” atau pewarta warga yang biasa dikirim seorang pada media media cetak maupun online.

"Dan banyak media menyediakan kolom untuk karya seperti ini," tandasnya. 

Dikatakannya, media kini terbagi menjadi beberpa macam, meliputi jurnalistik cetak (print journalism), elektronik (electronic journalism). Akhir-akhir ini juga telah berkembang jurnalistik secara tersambung (online journalism).’ Seperti Haedar Nashir, dan yang lainnya,” pungkasnya.

Redaktur: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Hadits, Makam Haedar Nashir

Minggu, 25 Desember 2011

Pesantren Kurang Perhatian Pada Karya Beraksara Pegon dan Jawi

Tangsel, Haedar Nashir - Kitab-kitab ulama Nusantara yang berbahasa Jawi, Sunda, ataupun Jawa kurang begitu mendapatkan tempat dan tidak banyak dikaji di pesantren-pesantren di Indonesia. Padahal, kitab-kitab seperti Majmuk karangan Syekh Soleh Darat dan Tafsir Al-Ibriz karya KH Bisri Mustafa adalah dua di antara karya penting ulama Nusantara yang ditulis menggunakan aksara Pegon.

Hal itu disampaikan Syafiq Hasyim saat menjadi narasumber dalam acara Peluncuran dan Bedah Buku Mahakarya Islam Nusantara: Kitab, Naskah, Manuskrip, dan Korespondensi Ulama Nusantara karya A Ginanjar Sya’ban di Aula Madya UIN Jakarta Ciputat Tangerang Selatan, Rabu (24/5).

Pesantren Kurang Perhatian Pada Karya Beraksara Pegon dan Jawi (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Kurang Perhatian Pada Karya Beraksara Pegon dan Jawi (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Kurang Perhatian Pada Karya Beraksara Pegon dan Jawi

Syafiq yang juga dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini menyesalkan hal tersebut bisa terjadi di Indonesia. Padahal, di Thailand Selatan karya-karya ulama Nusantara yang beraksara Jawi diajarkan dan dikaji di pondok-pondok. Bahkan, di dunia akademisi Indonesia, karya-karya beraksara Jawi tersebut kurang begitu mendapatkan perhatian.

“Di Thailand Selatan, kitab-kitab yang beraksara Jawi masih dibaca di pesantren-pesantren,” jelas Syafiq.

Haedar Nashir

“Ini mengorbankan mahakarya kita sendiri,” lanjutnya.

Haedar Nashir

Jika di Indonesia, imbuh Syafiq, biasanya yang membaca karya-karya tersebut adalah kiai-kiai yang ada di desa dan para orientalis. “Kiai-kiai di desa membacanya untuk orang-orang awam. Dan orientalis sebagai bahan penelitian,” urainya.

Dosen yang pernah menjadi Rais Syuriyah PCINU Jerman itu menduga, alasan kitab beraksara Jawi tidak diajarkan di pesantren-pesantren adalah agar santri bisa mempraktikkan ilmu-ilmu alat yang dipelajarinya seperti nahwu, sharaf, dan lainnya.

“Mungkin alasannya agar santri bisa membaca kitab kuning gundul dengan mempraktikkan ilmu nahwu, sharaf,” tandasnya. (Muchlishon Rochmat/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Doa Haedar Nashir

Pemimpin Agung Iran Dipilih dengan Metode Ahlul Halli

Jakarta, Haedar Nashir. Pemimpin Agung Iran yang disebut wilayatul fakih yang memiliki otoritas tertinggi agama dan politik di Iran dipilih melalui mekanisme ahlul halli wal aqdi.?

Pemimpin Agung ini memiliki kekuasaan yang lebih tinggi daripada presiden karena berhak menunjuk kepala militer, pemerintah sipil dan yudikatif. Sebelumnya yang berhak menduduki jabatan wali fakih hanya marja-e taqlid, peringkat tertinggi ulama dan otoritas pada hukum agama dalam ushul Islam Syiah. Pada 1989 konstitusi merubah ketentuan tersebut dan hanya mensyaratkan "cendekiawan" Islam.

Pemimpin Agung Iran Dipilih dengan Metode Ahlul Halli (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemimpin Agung Iran Dipilih dengan Metode Ahlul Halli (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemimpin Agung Iran Dipilih dengan Metode Ahlul Halli

Hafidz Alkaf dari Islamic Cultural Center (ICC), pusat kebudayaan Iran di Jakarta yang ditemui Haedar Nashir menjelaskan kalau berbicara syiah sebagai mazhab, tidak ada mekanisme memilih pemimpin. Ulama muncul karena kealimannya dan kemudian diterima oleh ulama yang lain yang kemudian diterima publik secara luas.

Haedar Nashir

Tetapi jika merujuk pada Iran sebagai sebuah negara yang dipimpin oleh seorang ulama dengan gelar wali fakih, mekanismenya ada dua. Pertama diterima masyarakat tanpa melalui prosedural. Masyarakat mendukung, para ulama mendukung, tiba-tiba muncul sebagai ulama nomor satu. Memang tidak sembarangan karena ia ulama besar seperti Imam Khomeini.?

Haedar Nashir

Mekanisme kedua adalah ahlul halli wal aqdi sebagaimana yang berlaku saat ini dalam pemilihan Ayatullah Ali Khamenei. Pemimpin Agung tersebut dipilih oleh Majles-e Khobregan atau Dewan Ahli yang terdiri dari sekitar 70-80 ulama kaliber mujtahid yang terdiri dari golongan sunni maupun syiah.?

“Dan setelah dipilih tidak ada masa jabatan tertentu. Selagi orang ini layak, maka terus pemimpin. Setiap tiga bulan sekali, mereka mengadakan rapat untuk mengevaluasi kinerja wali fakih, apakah masih layak apa tidak,” katanya.

Selama dua puluh lima tahun kepemimpinan Ali Khamenei, sidang selalu menghasilkan keputusan ia masih layak memimpin. Dari fisiknya, kesehatannya, ataupun dari sisi bahwa dia berada di jalan yang benar, tidak keluar dari jalur revolusi Islam. Sampai saat ini ia masih tetap zuhud dan wara’.?

“Ketika syarat-syarat itu sudah tidak ada, maka dipilih orang baru,” tandasnya.?

Lalu bagaimana mekanisme pemilihan Dewan Ahli? Hafidz Alkaf menjelaskan mereka dipilih melalui mekanisme pemilu yang dibagi per daerah pemilihan (dapil). Ulama-ulama dalam satu dapil yang memenuhi syarat diizinkan mencalonkan diri, lalu masyarakat nantinya akan memilih. Mereka yang terpilih akan menduduki jabatannya selama delapan tahun.?

Ia menjelaskan, mekanisme pertama seperti kemunculan Ayatullah Khomeini baik karena muncul dari akar rumput sehingga dukungan ke atas lebih kuat.?

“Cuma, masalahnya dari akar rumput kadang kita tidak tahu ada permainan apa tidak, lebih banyak menyita waktu dan dana. Juga cenderung rawan konflik,” tandasnya.?

Sementara itu kalau melalui mekanisme ahlul halli, kemungkinan terjadinya konflik bisa ditekan, dana bisa di tekan, energi bisa ditekan karena yang terkuras pikirannya hanya orang-orang tertentu saja.?

“Dampak buruknya, apakah orang-orang ahlul halli ini bisa dipertanggungjawabkan apa tidak. Kedua, sangat mungkin terjadi politik uang, karena orang yang berkepentingan, dia hanya perlu bernegosiasi dengan orang yang terbatas. Kalau akar rumput kan sulit.”

Ia menambahkan kemungkinan buruk lainnya, pilihan ahlul halli ternyata tidak disetujui akar rumput ada potensi terjadinya penentangan dari akar rumput terbuka.?

“Dua-duanya ada sisi baik dan buruknya,” katanya.?

Sementara itu, kalau berbicara organisasi keagamaan dalam lingkungan syiah, banyak organisasi seperti NU, misalnya ada Jamiatul Mudarisin yang terdiri dari para guru-guru pesantren. Mereka punya persatuan kerena anggotanya para ulama, akhirnya punya kekuatan di kalangan masyarakat sehingga pandangan politik mereka juga dipertimbangkan.?

“Masyarakat Iran kan relatif religius sehingga apa yang dikatakan ulama diikuti, apalagi ini bukan satu ulama. Satu kelompok besar ulama.”

Mekanisme kepemimpinan mereka dipilih oleh para anggota sendiri. “Mirip dengan yang dilakukan oleh NU sekarang, dari perwakilan wilayah dan cabang datang untuk memilih orang yang dianggap layak memilih pemimpin,” imbuhnya. (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Hadits, Nahdlatul Ulama Haedar Nashir

Jumat, 16 Desember 2011

Ansor NTB Siapkan Sejumlah Kegiatan Pra-Konferwil

Mataram, Haedar Nashir. Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Nusa Tenggara Barat (NTB) tengah mempersiapkan beberapa agenda menjelang diselenggarakannya Konfrensi Wilayah (Konferwil) VIII di Pulau Lombok, 10-20 April mendatang.

Ansor NTB Siapkan Sejumlah Kegiatan Pra-Konferwil (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor NTB Siapkan Sejumlah Kegiatan Pra-Konferwil (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor NTB Siapkan Sejumlah Kegiatan Pra-Konferwil

“Konfrensi kali ini dikemas dengan beberapa agenda penting yang menyakut tentang keberadaan organisasi dan mamfaat bagi masyarkat umum,” kata ketua panitia, Ismul Basar, usai rapat panitia, Jumat (13/3), di Mataram.

Agenda-agenda tersebut antara lain “Gerakan Pesantren Hijau” dan “Pengobatan Gratis” yang akan dipusatkan di Kabupaten Lombok Utara dan Kabupaten Lombok timur.

Haedar Nashir

Selain itu, kaderisasi juga sedang digencarkan, di antaranya Kursus Banser Lanjutan (Susbalan) yang akan berpusat di Kabupaten Lombok Utara dan Pelatihan Kepemimpinan Lanjut (PKL) di Pondok Pesantren Abhariah Jerneng Kabupaten Lombok Barat.

PW GP Ansor NTB menjadwalkan pula acara diskusi publik bertajuk “Talk Show Teologi Islam dan Peluralisme”. Konferwil VIII GP Ansor NTB rencananya berlangsung di Kota Mataram, ibu kota NTB. (Hadi/Mahbib)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Daerah, Budaya Haedar Nashir

Sabtu, 26 November 2011

Lembaga Kajian Strategis Bangsa Bahas Kesalehan Nasional dan Ramadhan

Jakarta, Haedar Nashir - Lembaga Kajian Strategis Bangsa (LKSB) menggelar diskusi yang menautkan semangat kebangsaan dan Ramadhan di Gedung PBNU, Jakarta, Jumat (17/6) sore. Bersama sejumlah narasumber lembaga ini mencoba melihat perubahan-perubahan masyarakat di dalam dan di luar Ramadhan.

Direktur LKSB Abdul Ghafur yang membuka diskusi ini mengajak peserta diskusi untuk mensyukuri persatuan dan kesatuan negara Indonesia. Karena dalam sejarah pendirian republik ini, menurutnya, tidak bisa dipisahkan dari bulan Ramadhan seperti hari-hari menjelang proklamasi.

Lembaga Kajian Strategis Bangsa Bahas Kesalehan Nasional dan Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)
Lembaga Kajian Strategis Bangsa Bahas Kesalehan Nasional dan Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)

Lembaga Kajian Strategis Bangsa Bahas Kesalehan Nasional dan Ramadhan

“Karenanya Ramadhan bukan alasan bermalas-malasan. Tetapi Ramadhan membangun semangat kita,” kata Ghafur membuka diskusi.

Ia mengamati perubahan signifikan masyarakat Indonesia. Di bulan Ramadhan, masyarakat bisa menjadi saleh, cerdas spiritual, bahkan kepedulian sesama yang luar biasa. “Tetapi kenapa ketika di luar Ramadhan, kita meninggalkan nilai positif yang melekat pada diri kita saat Ramadhan?”

Haedar Nashir

Ia berharap kekuatan spiritual di bulan Ramadhan ini tetap hadir sepanjang tuhan di luar Ramadhan.

Haedar Nashir

Sementara Jenderal A Yani Basuki yang kini aktif di Lembaga Sensor Film menyoroti hadits keutamaan berpuasa. Menurutnya, puasa yang bermutu dapat mengantarkan mereka yang mengamalkannya sebagai manusia berkualitas.

Tampak hadir narasumber lainnya Wakil Ketua LKKNU Luluk Nurhamidah, Kiai Kusein Alcepu, dan rektor salah satu kampus Islam di Jakarta. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Syariah, Budaya, Nahdlatul Ulama Haedar Nashir

Kamis, 17 November 2011

Diklatama Pelajar NU Bondowoso Usung Kepedulian Lingkungan

Bondowoso, Haedar Nashir

Dewan Koordinasi Cabang (DKC) Corps Brigade Pembangunan (CBP) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Korps Pelajar Putri (KPP) Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kabupaten Bondowoso menyelenggarakan Pendidikan dan Latihan Pertama (Diklatama) selama tiga hari, 12-14 Februari 2016.

Diklatama Pelajar NU Bondowoso Usung Kepedulian Lingkungan (Sumber Gambar : Nu Online)
Diklatama Pelajar NU Bondowoso Usung Kepedulian Lingkungan (Sumber Gambar : Nu Online)

Diklatama Pelajar NU Bondowoso Usung Kepedulian Lingkungan

Kegiatan yang melibatkan kader anak cabang IPNU-IPPNU se-Kabupaten Bondowoso itu berlangsung di Aula MWCNU Cermee, Kecamatan Cermee, Kabupaten Bondowoso, dengan tema “Pelajar Berkarakter Kebangsaan, Peduli Lingkungan dan Berjiwa Kemanusiaan"

Marsudi, pejabat pemerintahan Kecamatan Cermee yang mewakili camat setempat mengaku bangga dan mendukung acara Diklatama ini. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi sarana mendidik mental generasi muda.

Haedar Nashir

“Di samping mendidik mental juga mendidik akhlak, nah itu memang yang diharapkan oleh bangsa ini, di mana ke depannya bangsa ini harus mempunyai karekter atau jiwa yang berakhlak mulia, saya kira begitu," ucapnya seraya berharap, agenda serupa bisa berlanjut ke tempat-tempat yang lain.

Sementara Aiptu Hadi Sugono dari Polsek Cermee menyambut positif acara ini. Menurutnya, Diklatama mampu mendidik para pemuda-pemudi agar lebih mamahami kehidupan atau situasi bencana, keamanan, narkoba, dan radikalisme.

Haedar Nashir

"Saya sangat berterima kasih kepada ormas NU ini dengan diadakan diklatama ini untuk menangkal kenakalan remaja, agar tidak terkena masalah hukum, terpengaruh globalisasi dan masih banyak yang lain," kata dia.

Diklatama dibuka Jumat lalu dan diikuti kurang lebih 30 peserta dari Dewan Koordinasi Anak Cabang (DKAC) CBP IPNU- KPP IPPNU Bondowoso. Turut hadir dalam acara pembukaan M Ainul Narjib dari Dewan Koordinasi Wilayah (DKW) CBP IPNU Jawa Timur, Iva Navulani dari DKW KPP IPPNU Jawa Timur, Ketua Tanfidiziah MWCNU Cermee H Mannan, Koramil Cermee Sugiaanto, Ketua PC IPNU Bondowoso Ahmad Juhadi, dan Ketua IPPNU Bondowoso Robiatul Adawiyah. (Ade Nurwahyudi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Habib, Daerah Haedar Nashir