Rabu, 08 November 2017

PMII: Pemuda Jauh dari Cita Pendiri Bangsa

Pamekasan, Haedar Nashir. Di bawah terik matahari pukul 10.00 aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Pamekasan, satu per satu menaiki pondasi monumen Arek Lancor di jantung kota Pamekasan Ahad (27/10). Mereka berpidato.

Salah seorang aktivis, Mohammad Elman menegaskan, PMII miris kondisi pemuda hari ini. “Pemuda Indonesia, kini jauh dari cita-cita penegak kemerdekaan bangsa ini. Termasuk pemuda Madura sendiri. Tak sedikit yang masih terbelenggu oleh sifat menuhankan uang, pragmatis, dan karakter yang lebih mementingkan diri sendiri,” terang Ketua I PC PMII Pamekasan ini.

PMII: Pemuda Jauh dari Cita Pendiri Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII: Pemuda Jauh dari Cita Pendiri Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII: Pemuda Jauh dari Cita Pendiri Bangsa

Dikatakan, orasi yang menjadi perhatian banyak pengendara tersebut, merupakan salah satu upaya untuk merajut kesadaran para pemuda. Kesadaran betapa pemuda saat ini harus bangkit kembali. Pemuda Madura harus beranjak dari zona nyaman.

Haedar Nashir

“Jangan sampai, pesatnya teknologi dan informasi, menjadikan pemuda abai dalam belajar. Pemuda Madura yang sejauh ini belum begitu menjadi kiblat keilmuan dan kecakapan, bisa menunjukkan taringnya,” tekan Elman dengan wajah serius.

Haedar Nashir

Pantauan Haedar Nashir, massa PMII tampaknya tidak peduli dengan sinar matahari yang terasa membakar kulit. Hingga azan Dhuhur berkumandang, mereka tetap mendengungkan sekaligus mengajak pemuda agar sadar dan bangkit untuk semangat membangun negeri ini.

“Salah satu langkah positif yang bisa dilakukan pemuda sekarang ialah memandirikan diri sendiri. Membikin dirinya hebat dengan ilmu pengetahuan serta kecakapan yang bersumber dari potensi dan bakatnya. Ketika sudah bisa mandiri dan sejahtera, maka baru ia bisa bicara dan melangkah untuk memandirikan serta menyejahterakan masyarakat,” ujar alumnus STAIN Pamekasan ini.

Menurutnya, pemuda saat ini, termasuk pemuda Madura, cenderung semangat melakukan kritik dan kontrol terhadap orang lain. Sedangkan dirinya terperangkap dalam keterpurukan.

Sudarsono, aktivis PMII lainnya, menyatakan betapa pemuda itu tidak boleh seperti lilin. “Jangan sampai ia menerangi sekelilingnya, tetapi dirinya sendiri terbakar. Jadilah matahari. Ia setia menebar sinar sepanjang waktu, hingga tiba nantinya akhir dari segala kehidupan ini,” tukasnya.

Refleksi Sumpah Pemuda PMII Pamekasan ini diikuti oleh kader yang tersebar di penjuru Kabupaten Pamekasan. Terdiri dari lima komisariat. “Hanya Komisariat STAI Al-Khairat yang tidak hadir. Sebab, saat ini sedang melangsungkan Mapaba (Masa Penerimaan Anggota Baru, red),” pungkasnya.

Dalam kesempatan itu, para aktivis pergerakan menghayati makna Sumpah Pemuda. Sempat disentil bahasa-bahasa presiden SBY yang seringkali dicampur dengan bahasa asing dalam pidato resminya. Disinggung pula betapa tanah air ini penuh dengan penindasan karena belum meratanya keadilan. (Hairul Anam/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Amalan, Anti Hoax Haedar Nashir

Selasa, 07 November 2017

“GP Ansor Bukan Organisasi Kemarin Sore”

Kencong-Jember, Haedar Nashir. Puncak peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-79 GP Ansor Kencong Jember diadakan dalam bentuk Apel Kebangsaan. Apel yang dipusatkan di Alun-alun kota Puger itu diikuti 300 anggota Ansor dan 250 anggota Banser serta ratusan warga nahdliyyin, Ahad (23/6).

Kegiatan yang dirangkai dengan pelantikan 6 PAC dan 53 Pimpinan Ranting se Cabang Kencong tersebut diawali dengan kirab panji-panji Ansor dan Banser keliling kota Puger, dilanjutkan dengan penampilan atraksi pencak silat dan gebyar shalawat.

“GP Ansor Bukan Organisasi Kemarin Sore” (Sumber Gambar : Nu Online)
“GP Ansor Bukan Organisasi Kemarin Sore” (Sumber Gambar : Nu Online)

“GP Ansor Bukan Organisasi Kemarin Sore”

Tampil juga menghibur masyarakat kota Puger, tim Paduan Suara anak-anak Pesantren Kilat (Bimbingan Pasca Ujian Nasional) yang melantunkan lagu-lagu penyemangat GP Ansor, seperti Mars Ansor, Yaah Lalwathan dan Pusaka Ulama.

Haedar Nashir

Dalam sambutannya, Bupati Jember, yang diwakili oleh Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Pemkab Jember, H. Wiji Prastyo, menyampaikan apresiasi kepada Ansor, khususnya Ansor Kencong yang selalu tampil di Garda Depan dalam Perjuangan membela tanah air.

“Ansor bukanlah organisasi kemarin sore. Ansor adalah organisasi yang lahir sebelum bangsa ini lahir, dan perjuangan Ansor tak lapuk oleh hujan dan tak lekang karena panas,” jelas Kakesbangpol yang kader NU tersebut di lapangan kota Puger yang diguyur hujan gerimis.

Haedar Nashir

Selain para tokoh NU dan para ulama se kota Puger, hadir juga Pimpinan Wilayah GP Ansor Jawa Timur, ketua PC GP Ansor Banyuwanagi, para ketua Badan Otonom NU, kader Ansor yang menjadi anggota DPRD, yaitu Agus Widianto, ketua Fraksi PAN DPRD Jember dan HM Imam Ghozaly Aro, anggota DPRD Jawa Timur dan sejumlah undangan lainnya.

KH Khoir Zad Maddah, Rais Syuriyah PCNU Kencong dalam amanahnya menyampaikan agar GP Ansor selalu berada dalam garis perjuangan ulama NU, yaitu islam ala ahlissunnah wal jamaah.

Pesan Gus Ya’ (panggilan akrab KH Khoir Zad) tersebut mempertegas instruksi kepada kader Ansor, agar persoalan aliran menyimpang yang selama ini mengganggu kerukunan warga NU dan umat Islam kota Puger selalu menjadi fokus perhatian Ansor. 

Sementara itu, Abd. Rohim, ketua PC GP Ansor dalam laporannya menyampaikan berbagai program kegiatan dalam rangka Harlah 79 GP Ansor, yang meliputi berbagai kegiatan, Seminar, Gebyar Shalawat, Bahtsul Masail, Pelatihan Koperasi Syariah, Sanlat, Turnamen Tenes Meja, dan ditutup dengan Apel Kebangsaan di Alun-Alun Kota Puger.

“Pokoknya sejak April 2013 sampai jelang malam Nisfu Sya’ban sore ini Ansor Kencong benar-benar bergerak,” tutup ketua cabang yang akan mengakhiri Masa Khikmadnya tahun depan ini.

Red: A. Khoirul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Hikmah Haedar Nashir

Sedekah dengan Ganjaran Dobel

Macau,Haedar Nashir

Senin (5/6) adalah pelaksanaan shalat tarawih malam kesebelas. Tak terasa sudah sampai masuk sepertiga kedua Ramadhan. Rencananya saya akan memimpin tarawih dan witir sebanyak 23 rakaat. Baru dua rakaat baju saya sudah lepek basah oleh keringat. Di ruangan itu kipas terus berputar kencang tanpa henti, namun angin yang berhembus justru laksana uap sauna.

Sedekah dengan Ganjaran Dobel (Sumber Gambar : Nu Online)
Sedekah dengan Ganjaran Dobel (Sumber Gambar : Nu Online)

Sedekah dengan Ganjaran Dobel

Usai witir, bermula dari sebuah pertanyaan obrolan seputar zakat, infak, dan sedekah meluncur satu per satu dari jamaah Indonesia yang berasal dari Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur. Memang diakui potensi zakat umat Muslim yang sedemikian besar belum digarap secara maksimal, walaupun diakui trennya setiap tahun selalu naik.

Salah satu yang menarik kami diskusikan ialah masih luputnya wawasan fiqh prioritas dari Muslim Indonesia. Banyak di antara kita yang menyalurkan sedekah atau infaknya, namun tidak mengindahkan skala prioritas. Padahal seharusnya orangtua, keluarga, dan kerabat dekat lebih dahulu menjadi perhatian utama.

Haedar Nashir

"Iya, Ustad. Kita sering bersedekah kepada fakir miskin ataupun masjid. Tapi lupa sama saudara sendiri yang susah. Seakan akan gak kelihatan," begitu komentar salah satu jamaah.

Haedar Nashir

Harus diakui tak jarang masyarakat kita justru gemar sedekah dan berinfak, namun abai pada keluarga atau kerabat dekat. Padahal ganjaran sedekah terhadap keluarga dan kerabat dekat nilainya dua kali lipat. Pertama, dinilai sedekah. Kedua dinilai sebagai upaya shilah (menyambung silaturahim) sebagaimana tercantum dalam hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad, At-Turmudzi dan An-Nasai.

Jika kita merujuk kepada Al-Qur’an, di antaranya terdapat dalam Surat An-Nisa ayat 36 dan An-Nahl ayat 90, berbicara tentang pentingnya berbuat kebaikan kepada keluarga dan kerabat dekat. Bahkan ada satu ayat yang bicara tentang memberi harta pada dzawi al-Qurba", baru kemudian menunaikan zakat seperti yang tercantum dalam Al-Baqarah ayat 177.

Ibadah sosial dan yang memperkuat hubungan silaturahim memang lebih ditekankan di dalam Al-Qur’an ketimbang ibadah yang hanya membawa kenikmatan secara individual. Karena dampak ibadah sosial jauh lebih besar manfaatnya kepada masyarakat.

Malam itu, ditemani segelas kopi saya sampaikan, "Di dalam Islam kita dilarang meminta-minta. Tapi di saat yang sama kita harus memberi sebelum mereka yang membutuhkan, meminta."

Rekan saya, Ustad Muhammad Yunus turut menambahkan, fenomena itu mungkin terjadi karena adanya penyakit hati.

“Sehingga justru urusan harta dan hubungan kekeluargaan menjadi amat sensitif. Perbedaan ekonomi bukan jadi kesempatan untuk saling mengisi, justru yang ‘berada’ tak peduli walau terhadap keluarga sendiri,” papar Ustad asal Banyuwangi, Jawa Timur.

"Ibadah sosial bukan hanya membutuhkan tekad dan iming-iming pahala tapi juga kebersihan hati, kearifan serta kepekaan yang tinggi dalam menentukan prioritas," tutup saya. (Saepuloh, dai anggota Tim Inti Dai Internasional dan Media (TIDIM) LDNU yang ditugaskan ke Macau. Kegiatan ini bekerja sama dengan LAZISNU)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Santri Haedar Nashir

Karnaval Batik Lasem Ramaikan Haul Para Syekh

Rembang, Haedar Nashir. Karnaval batik Lasem yang rencananya digelar Jum‘at mendatang (18/10) turut meramaikan haul para syekh Rembang Jawa Tengah. Batik tulis Lasem akan dipamerkan dalam pesta rakyat.

Batik tulis lasem adalah batik asli asal kota Rembang ? yang menjadi kebanggaan warga kota Lasem. Batik-batik ini akan dipamerkan dengan produk-produk yang dimodifikasi dari barang bekas.

Karnaval Batik Lasem Ramaikan Haul Para Syekh (Sumber Gambar : Nu Online)
Karnaval Batik Lasem Ramaikan Haul Para Syekh (Sumber Gambar : Nu Online)

Karnaval Batik Lasem Ramaikan Haul Para Syekh

Karnaval Batik Lasem sengaja digelar sebagai ajang perkenalan masyarakat tentang batik tulis asal Kecamatan Lasem.

Haedar Nashir

Ketua Panitia Pandu mengatakan pihaknya bekerjasama dengan SMK Umar Fatah untuk membuat kostum modifikasi yang akan dipamerkan. Perpaduan produk barang bekas dan batik diolah menjadi aksesoris.

Haedar Nashir

Hingga kini, lanjut pandu, sudah ada sekitar 50 kostum batik yang sudah terkumpul dan siap dipamerkan pada 18 Oktober mendatang.

Menurut pandu, adanya ide untuk mengangkat batik tulis Lasem melalui acara haul tahunan yang biasa dikunjungi para peziarah dari berbagai daerah di pulau Jawa.

“Batik tulis Lasem yang sudah dimodifikasi dengan suatu bentuk dan barang tidak kalah menarik dengan busana atau pun produk lain merk luar negeri. Menurut pandu harga dari batik tulis Lasem sendiri cukup relatif terjangkau, apalagi masyarakat Lasem masih aktif dalam memproduksi batik tulis,” kata Pandu.

Kali ini, kata Pandu, hasil karya anak SMK akan dipamerkan. Mereka generasi penerus yang akan melanjutkan para perajin batik tulis Lasem pada tahun-tahun berikutnya. Batik tulis Lasem sangat pantas dipakai kalangan muda, dewasa, dan orang tua. Tak heran jika komunitas pecinta seni dan sejarah mempunyai inisiatif untuk memamerkan hasil karya masyarakat Lasem. (Ahmad Asmu’i/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Warta, Hikmah Haedar Nashir

Senin, 06 November 2017

Gus Mus: Kalau Tidak Moderat, Bukan Islam!

Tangerang Selatan, Haedar Nashir - Mustasyar PBNU KH A. Mustofa Bisri menjelaskan, pada dasarnya Islam itu moderat. Dengan demikian, kalau tidak moderat, maka itu bukanlah Islam.

“Moderat itulah Islam. Jadi bukan Islam moderat. Islam itu memang moderat. Jangan Islam moderat, lalu Islam apalagi. Kalau tidak moderat, tidak Islam,” kata kiai akrab disapa Gus Mus di Pondok Cabe, Kamis (11/5) malam.

Gus Mus: Kalau Tidak Moderat, Bukan Islam! (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Mus: Kalau Tidak Moderat, Bukan Islam! (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Mus: Kalau Tidak Moderat, Bukan Islam!

Gus Mus mengatakan, Allah melarang segala sesuatu yang berlebih sebagaimana yang tertera dalam Al-Quran. Bahkan, Nabi Muhammad mengatakan, sebaik-baiknya sesuatu adalah yang di tengah-tengah.

“Semua yang ekstrem-ekstrem itu dilarang di Qur’an, wa la tusrifu (jangan berlebih-lebihan),” jelas Pengasuh Pondok Pesantren Roudlatut Thalibin Leteh, Rembang. ?

Haedar Nashir

Namun permasalahannya, saat ini baik yang ekstrem kanan maupun kiri juga mengaku yang moderat.

Terkait hal itu, Gus Mus mengumpamakan moderat itu dengan mengukur kedalaman air di sungai. Standar ukurannya bukan dengan menggunakan tubuh sendiri-sendiri.

Haedar Nashir

“Jangan pakai tubuh (untuk mengukur kedalaman air di sungai). Kalau kita jangkung, kita akan mengatakan ini dangkal sekali. Kalau kita cebol kita akan mengatakan ini dalam sekali. Jadi, pakai apa?” tanyanya.

Menurut penulis buku Membuka Pintu Langit itu, banyak orang yang mengukur sesuatu dengan diri sendiri, bukan dengan ukuran yang pasti dan telah disepakati. “Katanya Qur’an yang dijadikan ukuran. Tapi tidak mau perbedaan,” tutup Gus Mus. (Muchlishon Rochmat/Abdullah Alawi)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir AlaSantri Haedar Nashir

Pesantren Didorong Aktif Tengahi Konflik di Masyarakat

Bandung, Haedar Nashir - Pesantren For Peace yang mempunyai misi menyebarkan perdamaian antarumat beragama dan antarormas kembali menggelar kegiatan Pendidikan HAM dan Penyelesaian Konflik di Pondok Pesantren Mahasiswa Universal (PPMU), Jalan Cipadung, Kota Bandung, Jawa Barat, Sabtu (20/8).

Koodinator Pesantren for Peace Idris Hemay mengatakan, kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan peran pesantren dalam membangun perdamaian karena menurutnya beberapa pesantren masih tidak tanggap terhadap penyelesaian konflik.

Pesantren Didorong Aktif Tengahi Konflik di Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Didorong Aktif Tengahi Konflik di Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Didorong Aktif Tengahi Konflik di Masyarakat

“Di Pulau Jawa ini dari hasil penelitian yang kami lakukan, bahwa ada beberapa pesantren yang masih cenderung pasif ketika ada konflik terjadi. Nah, dari sini kita mendorong pesantren lebih aktif dalam penyelesaian konflik,” ujar Idris Hemay.

Haedar Nashir

Dia pun mengungkapkan, di Pulau Jawa khususnya konflik yang besar ada di Jawa Barat seperti dalam kasus Jamaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) yang diserang pihak ormas dan Penghancuran Gereja Pasundan di Bandung.

“Dari konflik yang terjadi tersebut, bagaimana (elemen pesantren) bisa menengahi konflik,? menyelesaikan secara damai,? di samping itu tentu secara umum Pesantren for Peace ini bertujuan untuk membangun Islam yang moderat, damai dan ramah di Indonesia,” jelasnya dalam kegiatan yang berlangsung sehari penuh atas dengan dukungan kerja sama antara Center for the Study Of Religion and Culture (CSRC) UIN Jakarta dan Konrad-Adenauer-Stiftung (KAS) dan Uni Eropa yang sebelumnya diadakan di 5 Wilayah di Pulau Jawa.

Haedar Nashir

Pengasuh Pondok Pesantren Mahasiswa Universal (PPMU), Kiai Tatang Astarudin mengatakan bahwa dirinya sudah menerapkan dalam kehidupan sehari-hari. Di pesantrennya tinggal para santri dari berbagai daerah dan berbagai macam karakter.

“Selalu saya katakan kepada istri, dan kepada mahasantri yang lain, ayo kita cari sejuta alasan untuk tetap saling menyayangi. Kalau dia marah boleh jadi dia sedang tidak punya uang, kalau telat mungkin dia sibuk di kampus,” kata Kiai Tatang.

Kiai Tatang pun meyakini bahwa keagungan universalitas Islam tidak akan luntur hanya karena memaklumi dan menyayangi mereka yang berbeda. “Maka mulai dari kita untuk menebar kebahagian, kedamaian dengan cara mencari titik-titik kesamaan,” paparnya.

Kegiatan ini dihadiri dari perwakilan 30 pesantren dan beberapa organisasi dari tingkat kampus sampai daerah. Kegiatan ini terbagi 3 sesi, bulan Agustus, November, dan Februari 2017. (Bakti Habibie/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Sejarah Haedar Nashir

Mahasiswa UIM Diwajibkan Ambil Matakuliah Aswaja 6 Semester

Makassar, Haedar Nashir

Rektor Universitas Islam Makassar (UIM) Majdah M Zain mengatakan komitmennya untuk menjadikan kampus yang ia pimpin sebagai kampus qur’ani dan menanamkan nilai Ahlussunnah wal Jama’ah an-Nahdliyah yang menjunjung tinggi moderasi (tawasuth dan i’tidal), toleransi (tasamuh), keseimbangan (tawazun), dan amar ma’ruf nahi munkar.

Majdah menyampaikan hal itu saat melantik pengurus Forum Komunikasi Mahasiswa Pascasarjana Universitas Islam Makassar (FKM-UIM), Sabtu, 23/4), di Auditorium KH Muhyiddin Zain UIM, Makassar, Sulawesi Selatan.

Mahasiswa UIM Diwajibkan Ambil Matakuliah Aswaja 6 Semester (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahasiswa UIM Diwajibkan Ambil Matakuliah Aswaja 6 Semester (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahasiswa UIM Diwajibkan Ambil Matakuliah Aswaja 6 Semester

Sebagai kampus milik NU, katanya, UIM ingin seluruh aktivitas pembelajaran tidak terlepas dari nilai-nilai qurani. “Salah satu implementasinya saat ini, seluruh mahasiswa UIM wajib mengambil mata kuliah Ahlusunnah wal Jama’ah (Aswaja) selama 6 semester yang terintegrasi dalam Mata Kuliah Pendidikan Agama Islam dibina oleh Lembaga Kajian Aswaja dan Kampus Qurani,” ujarnya.

Haedar Nashir

"Olehnya itu, saya berpesan kepada semua pengurus FKM Pascasarjana UIM untuk senantiasa mengembangkan nilai-nilai qurani sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat dan saat ini sudah harus menyusun program yang riil dan mudah terealisasi," tambahnya.

Haedar Nashir

Direktur Program Pascasarjana (PPs) UIM Nurul Fuadi dalam sambutannya berterima kasih kepada seluruh mahasiswa Pascasarjana UIM yang terdiri dari Prodi Manajemen Pendidikan Islam, Agribisnis, dan Agroteknologi yang telah menginisiasi terbentuknya Forum Komunikasi Mahasiswa Pascasarjana UIM.

"Sebagai wadah silaturahmi mahasiswa Pascasarjana UIM, tentunya sebagai pengelola PPs UIM menyambut baik gagasan mahasiswa yang membentuk forum silaturrahim ini," tambahnya.

Tampak hadir Wakil Rektor II Saripuddin Muddin, Wakil Rektor II Dr Abd Rahim Mas P Sanjata, Asdir II PPs UIM KH M Amin Harun, Dekan Fakultas Pertanian La Sumange, Ketua Prodi PPs Manajemen Pendidikan Islam Afifuddin Harisah, Ketua Prodi PPs Agribisnis dan Agroteknologi Helda Ibrahim, serta ratusan mahasiswa Pascasarjana UIM. (Andy Muhammad Idris/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Tegal Haedar Nashir