Senin, 27 November 2017

Seribu Orang Berebut Kursi Mahasiswa Polteknaker

Jakarta, Haedar Nashir

Sebanyak 1000 peserta Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) mengikuti ujian Tes Potensi Akademik (TPA) Politeknik Ketenagakerjaan (Polteknaker) tahun ajaran 2017-2018 di ruang serbaguna kantor Kementerian Ketenagakerjaan, Jakarta, Selasa (3/10).



Seribu Orang Berebut Kursi Mahasiswa Polteknaker (Sumber Gambar : Nu Online)
Seribu Orang Berebut Kursi Mahasiswa Polteknaker (Sumber Gambar : Nu Online)

Seribu Orang Berebut Kursi Mahasiswa Polteknaker

Para peserta  yang mengikuti  TPA ini telah lulus tahapan pertama yaitu seleksi administrasi berdasarkan kelengkapan berkas data dan persyaratan lainnya. Gelombang pertama  tes TPA diikuti 600 peserta dan 400 peserta menyusul di gelombang kedua.

Dari 1000 peserta TPA, didominasi lulusan SMA sebanyak 53 persen dan 42 persen lulusan SMK, lulusan pesantren dan SLTTA ke atas masing-masing 1 persen, madrasah Aliyah 3 persen.

Sementara dari segi usia, rata-rata peserta TPA Poltek Ketenagakerjaan berusia kurang dari 21 tahun sebanyak 83 persen dan 15 persen berusia 21-30 tahun. Sebanyak 2 persen berumur lebih dari 30 tahun,

Menurut Direktur Politeknik Ketenagakerjaan Retno Pertiwi, proses seleksi penerimaan mahasiswa baru dilaksanakan dengan prinsip adil, akuntabel, transparan, dan tidak diskriminatif dengan tidak membedakan jenis kelamin, agama, suku, ras.

Haedar Nashir

“Para peserta diwajibkan mengikuti seluruh proses penerimaan mahasiswa baru sesuai prosedur yang telah ditentukan. Kita ingin memastikan hanya calon terbaik dan yang memenuhi persyaratan dan sesuai kriteria yang bisa mengikuti perkuliahan di Politeknik Ketenagakerjaan,“ kata Retno.

Retno mengatakan Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) memberikan kesempatan kepada putra-putri terbaik Indonesia untuk mengikuti pendidikan di Politeknik Ketenagakerjaan dalam rangka  meningkatkan kompetensi Sumber Daya Manusia (SDM) di bidang ketenagakerjaan.

Haedar Nashir

“Sesuai arahan dari Menaker M Hanif Dhakiri, kehadiran Politeknik Ketenagakerjaan Ini merupakan sebuah terobosan untuk menyiapkan SDM yang kompeten di bidang ketenagakerjaan,“ kata Retno.

Rencananya, pada tahun ini, Politeknik Ketenagakerjaan akan membuka tiga program studi (prodi) , yaitu Program Studi D4 Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Program Studi D4 Relasi Industri, dan Program Studi D3 Manajemen Sumber Daya Manusia dengan kuota 90 orang mahasiswa.

Dari 1000 peserta yang mengikuti TPA sebanyak 56 persen berjenis kelamin laki-laki dan 44 persen perempuan. Peminat program diploma (prodi) Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) sebanyak 47 persen, prodi relasi industri (34) dan prodi Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM) sebanyak 19 persen.

"Kehadiran Polteknaker dharapkan menjadi  solusi untuk mewarnai pembangunan ketenagakerjaan sehingga akan lebih kondusif dan semakin sejahtera dengan memperhatikan kondisi terhadap angkatan kerja, tingkat pendidikan, pengangguran dan link and match, “kata Retno.

Dari tiga prodi yang dibuka, Retno mengungkapkan tahap seleksi pertama adalah seleksi administrasi dengan melihat kelengkapan berkas. Pada proses ini terdapat pendaftar oline sebanyak 3.552 orang. Namun yang mengirim berkas melalui surat elektronik atau email sebanyak 1.302 peserta, yang akan memperebutkan 90 kursi dari tiga prodi.

 

Ditambahkan Retno, tahap selanjutnya usai TPA adalah test psikotes dan wawancara yang diikuti oleh peserta yang lulus TPA, pada tanggal 6 Oktober nanti di Pusdiklat Kemnaker. Peserta yang dinyatakan lulus psikotest dan wawancara akan diumumkan pada 7 Oktober 2017, mengikuti tes kesehatan dan bebas narkoba pada 9 Oktober 2017 di Pusdiklat Kemnaker. Rencananya Peserta PMB secara final akan diumumkan pada 10 Oktober dan langsung mendaftar ulang pada 11-13 Oktober 2017. (Red. Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Lomba Haedar Nashir

Bela Negara Tak Hanya dengan Angkat Senjata

Depok, Haedar Nashir. Rektor Universitas Indonesia M Anies mengungkapkan, saat ini bangsa Indonesia menghadapi berbagai ancaman yang bukan hanya fisik semata. Untuk itu, bela negara saat ini bukanlah dengan mengangkat senjata. 

Bela Negara Tak Hanya dengan Angkat Senjata (Sumber Gambar : Nu Online)
Bela Negara Tak Hanya dengan Angkat Senjata (Sumber Gambar : Nu Online)

Bela Negara Tak Hanya dengan Angkat Senjata

"Dalam menjaga NKRI melalui bela negara harus melibatkan semua elemen; yaitu ulama, umara, perguruan tinggi,” ujarnya pada Halaqoh Nasional Ulama Pesantren dan Cendekiawan Gerakan Dakwah Aswaja Bela Negara, di Pesantren Al-Hikam, Kukusan, Beji, Depok, Senin (24/10).

Bela negara melalui pendidikan terkait dengan ideologi dan cara berpikr. Perguruan tinggi, dikatakan Anies mencetak generasi  yang bertanggungjawab, sehingga bisa  menjadi mitra dalam menyelesaikan dan menjawab tantangan  global. 

"Demi jaga keutuhan,  cara tepat dengan melibatkan dunia pendidikan. Kita sadari bagaimana medsos menjadi ancaman keutuhan bila menyampaikan hal negatif. Tentunya bila ada kesamaan pemahaman tentang ke-Indonesia-an, maka bisa menjadi filter tersendiri," terangnya. 

Haedar Nashir

Menurutnya, salah satu upaya dalam pendidikan adalah dengan menekankan kembali dalam kesamaan pemahaman ke-Indonesia-an. Ia menilai, perwujudannya melalui nilai Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, UUD 45.

"Perlu dicari metode menanamkan nilai Pancasila sejak dini. Tidak bisa anak sekarang disuruh menghafal Pancasila dan P4. Tentunya, generasi milenium beda dalam penyampaian dan metodenya," paparnya. 

Haedar Nashir

Pengasuh Pesantren Al-Hikam Depok KH. Yusron Ash-Shidqi menilai tugas bela negara bukan hanya tanggungjawab pemerintah, namun semua elemen bangsa turut aktif. 

“Antara ulama dan umara memiliki kesamaan dalam maslahat. Terlebih lagi, dalam upaya menjaga keutuhan NKRI,” tutur Kiai Yusron.

Ia menegaskan Al-Hikam adalah rumah aswaja dalam menegakkan dan menjaga NKRI. 

Kegiatan Halaqoh Nasional Ulama Pesantren dan Cendekiawan Gerakan Dakwah Aswaja Bela Negara menghadirkan 200 ulama dan cendekiawan.  Gagasan kegiatan tersebut dicetuskan almarhum KH Hasyim Muzadi sebagai upaya menyatukan visi misi ulama umara menjadikan aswaja dan bela negara sebagai sumbangsih pada NKRI. (Aan Humaidi/Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pahlawan Haedar Nashir

Gus Mus: Banyak yang Ngaku Ulama, Tapi Perilakunya Tidak Tepat

Semarang, Haedar Nashir. Shalat menjadi hadiah terbesar bagi umat Islam. Peristiwa Isra Miraj menjadi titik balik bagi kaum Muslim untuk menjalankan ibadah kepada Allah. Dalam peringatan Isra Miraj yang dibarengkan dengan Khotmil Quran Pondok Pesantren Al-Aziziyah Beringin, Semarang, Jawa Tengah, Senin (24/4) ini, KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) hadir untuk memberikan mauidhoh hasanah.

Gus Mus: Banyak yang Ngaku Ulama, Tapi Perilakunya Tidak Tepat (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Mus: Banyak yang Ngaku Ulama, Tapi Perilakunya Tidak Tepat (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Mus: Banyak yang Ngaku Ulama, Tapi Perilakunya Tidak Tepat

Gus Mus menerangkan, pengertian ulama bisa diartikan dari bahasa Arab dan Indonesia. Kedua hal ini berbeda secara makna. Konteks yang melatarbelakangi kata ini pun akan lain. Kata ulama tak bisa diartikan secara langsung dengan kata kiai. Ulama itu bukan terjemahan dari kiai.

"Ulama adalah produk masyarakat, mengenali masyarakat dan masyarakat tahu persis track record ulama tersebut," papar Pengasuh Pesantren Raudlatut Thalibin Leteh, Rembang ini.

Menurutnya, banyak yang mengaku ulama, akan tetapi tak pantas menyandangnya karena keilmuan dan perilakunya tidak tepat dengan peran dan tugasnya sebagai ulama. Secara sanad keilmuan, tak jelas menganut kepada siapa. Keilmuan tak dapat secara instan. Kadang mereka hadir tanpa diketahui masyarakat rekam jejaknya seperti apa.

"Kiai memiliki pandangan yandzhuruna ilal ummah bi ainir rahmah (melihat umat dengan pandangan kasih sayang)," tambah alumni pesantren Krapyak, Yogyakarta.

Haedar Nashir

Inilah yang membedakan antara kiai dan ulama pada masa sekarang. Kiai merupakan ciri khas (istilah) bagi masyarakat Jawa. Benda-benda yang dihormati dinamakan dengan kiai. Secara tak langsung kiai adalah orang yang dihormati.

Haedar Nashir

Selain itu, harapan besar Gus Mus bagi mutakharrijin (alumni) yang telah diwisuda ini menjadi ahli Quran. Setelah hafal kemudian masuk dalam tingkatan memahami dan mengerjakan apa yang termaktub di dalamnya. “Hafal merupakan fase awal,” tegasnya.

Sebagaimana Nabi Muhammad dahulu, tandas Gus Mus, perangainya Al-Quran. Masyarakat atau sahabat cukup dengan melihat tingkah lakunya saja. Nabi telah mengerjakan terlebih dahulu apa-apa yang akan diperintahkan kepada umat Islam. (Zulfa/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pendidikan Haedar Nashir

Ilmu dan Derajat Manusia

Nabi Muhammad memerangi perilaku jahat, kelaliman, dan tindak kekerasan yang terjadi di dalam kehidupan masyarakat Arab saat itu dengan mengajak dan mendidik umat manusia supaya memiliki ilmu pengetahuan. Dengan ilmu pengetahuan, seseorang akan bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.

?

? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ?.
Ilmu dan Derajat Manusia (Sumber Gambar : Nu Online)
Ilmu dan Derajat Manusia (Sumber Gambar : Nu Online)

Ilmu dan Derajat Manusia

? ? ? ? ? ? ? ?.. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ?..

Haedar Nashir

? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?? ? ?? . ? . ? ? ? ? ? ?.

Haedar Nashir

Para jamaah idul fitri yang dimuliakan Allah,? . Sebelum agama Islam datang, dunia ini diliputi dengan kekerasan dan penindasan yang disebabkan oleh kebodohan. Manusia terbagi menjadi dua kelas sosial, masyarakat kaya dan masyarakat miskin. Masyarakat kaya berisi para raja dan orang-orang yang memiliki hamba sahaya atau budak. Sedangkan masyarakat kelas bawah adalah para budak, petani, dan masyarakat secara umum. Masyarakat kelas atas menindas masyarakat kelas bawah. Kekerasan terjadi secara sistematis, bahkan undang-undang dalam masyarakat yang bias keadilan hanya memihak kepada masyarakat kelas atas yang menindas kaum tak punya.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? Menghadapi kenyataan yang bengis dan penuh kelaliman itu, sekitar tahun 610 M. nabi Muhammad Saw menyeru kepada umat manusia untuk menghilangkan penindasan di muka bumi dengan mengajak umat manusia untuk belajar. Salah satu ayat al-Quran yang pertama kali diturunkan adalah perintah untuk membaca: ? ? ? ? ? (Bacalah dengan [menyebut] nama Tuhanmu Yang Menciptakan).

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? Melalui ayat ini Allah memerintahkan kepada umat manusia supaya membaca, yakni mendayagunakan akal-pikirnya untuk memahami wahyu yang tertulis, yakni al-Quran dan wahyu yang tidak tertulis, yaitu alam semesta. Melalui ilmu pengetahuan, nabi Muhammad mengajak umat manusia untuk berperilaku baik, menjadikan semua lapisan masyarakat setara di hadapan hukum, dan menghilangkan tindak kezaliman.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? Setelah nabi menerima wahyu, yang pertamakali tertarik dan mengimani dakwah nabi, selain istrinya, Khadijah binti Khuwailid, adalah orang-orang yang pada masa itu digolongkan sebagai kelompok mustadl’afîn (orang-orang lemah), yaitu hamba sahaya dan masyarakat yang tak punya. Kepada penganutnya yang rata-rata dari kaum dlu’afâ`, nabi mengumpulkannya di masjid, lalu nabi mengajarkan ajaran Islam kepada mereka. Taqiyuddîn al-Maqrîzî dalam kitabnya yang berjudul Imtâ’ al-Asmâ’ menginformasikan, ketika nabi Muhammad Saw duduk di masjid, maka kaum dlu’afa yang mengikutinya seperti ‘Ammâr, Khabbâb, Shuhaib, Bilâl, Abû Fukaihah, ‘Âmir bin Fuhairah, dan yang lainnya ikut duduk bersama nabi.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? Sementara itu, kufar Quraisy yang secara ekonomi dan kekuasaan takut dirugikan oleh dakwah nabi yang membela masyarakat tertindas itu, terus berusaha membendung dakwah nabi dengan cara melarang masyarakat untuk mengikuti agama Islam, hingga memerangi serta mengusir nabi dan sahabatnya dari tanah kelahirannya, yakni Makkah.

?

? ? ? ? ? ? ? ?. Jamaah shalat idul fitri yang berbahagia,. Nabi Muhammad memerangi perilaku jahat, kelaliman, dan tindak kekerasan yang terjadi di dalam kehidupan masyarakat Arab saat itu dengan mengajak dan mendidik umat manusia supaya memiliki ilmu pengetahuan. Dengan ilmu pengetahuan, seseorang akan bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Mana yang bermanfaat bagi dirinya dan orang lain, dan mana yang membahayakan. Karenanya, belajar atau sekolah di dalam Islam memiliki tempat yang sangat istimewa.

Allah Swt berfirman:

? ? ? ? ? ? ? ? ?. Artinya: “Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu, dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujâdalah 11).

Dalam QS. Ali ‘Imrân 18 Allah berfirman:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. Artinya: “Allah menyatakan bahwa tidak ada Tuhan selain Dia; (demikian pula) para malaikat dan orang berilmu yang menegakkan keadilan.”

Kata “ûlûl ‘ilmi” dalam ayat di atas artinya adalah orang yang memiliki ilmu. Allah menyebutkan “orang berilmu” dalam ayat tersebut pada urutan ketiga setelah penyebutan diri-Nya dan malaikat. Hal ini menunjukkan bahwa “orang yang berilmu” memiliki tempat yang sangat istimewa di sisi Allah, dan orang yang berilmu akan menegakkan keadilan.

Sedangkan hadis nabi yang menjelaskan tentang perintah mencari ilmu atau sekolah dan keutamaannya juga banyak sekali. Antara lain:

? ? ? ? ? ?. Artinya: “Mencari ilmu hukumnya wajib bagi semua orang Islam.”

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. Artinya: “Orang bodoh tidak boleh diam atas kebodohannya, dan orang berilmu tidak boleh diam atas pengetahuan yang dimilikinya.”?

Kepada sahabatnya yang bernama Kumail, Ali bin Abi Thalib mengatakan:

? ? ? ? ? ?. “Wahai Kumail, ilmu itu lebih baik daripada harta benda.”

? ? ? ? ?. “Ilmu akan menjagamu, sementara engkau akan menjaga harta.”

? ? ? ? ?. “Ilmu akan menjadi hakim (pemutus), sementara harta akan menjadi sesuatu yang dihakimi (diputuskan).”

? ? ? ? ? ?. “Harta akan berkurang sebab digunakan, sementara ilmu akan bertambah bila diberikan atau diamalkan.”

Lebih jauh Sahabat Ali bin Abi Thalib mendendangkan syair:

? ? ? ? ? ? ? ? #? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ??

“Tidak ada kebanggaan kecuali bagi orang-orang yang punya ilmu, mereka menjadi petunjuk bagi orang yang meminta ditunjukkan.”

? ? ? ? ? ? ? #? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ??

“Derajat setiap orang adalah dapat memperbaiki sesuatu, sementara orang-orang bodoh memusuhi orang-orang yang berilmu.”

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? #? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. Maka menangkanlah dengan ilmu. Dengan ilmu engkau akan hidup selama-lamanya. Semua manusia akan mati, sementara orang berilmu akan tetap hidup.

Hadirin, hadirat yang dimuliakan Allah,. Kemiskinan dan mencari ilmu atau belajar kerap kali dipertentangkan. Hanya gara-gara tak punya biaya kemudian mencari ilmu ditinggalkan. Seharusnya tidak demikian.

Apabila membaca sejarah peradaban Islam, maka akan didapati; betapa banyak para ilmuan-ilmuan muslim justru lahir dari kalangan orang-orang miskin dan rakyat jelata. Beberapa nama yang mungkin bisa disebut dalam kesempatan ini, antara lain: Muhammad bin Idris As-Syâfi’î atau biasa dikenal dengan Imam Syâ’fi’i yang menjadi panutan umat Islam Indonesia dan negara lainnya dalam bidang hukum Islam (fikih). Imam Syâfi’î lahir pada tahun 150 H di Ghazzah (Gaza) atau sekarang menjadi salah satu kota di Palestina dan wafat pada tahun 204 H di Mesir. Beliau lahir dari keluarga miskin dan bukan dari keluarga raja atau ulama, namun ketekunannya dalam belajar dapat mengantarkan Asy-Syafi’i menjadi ilmuan besar dan punya banyak karya, antara lain; kitab Al-Umm dalam bidang fikih dan Ar-Risâlah yang menjelaskan tentang ushûl al-fiqh. Namanya harum dan dikenal di belahan dunia, dan terus dikenang sepanjang masa, serta hasil pemikirannya diikuti oleh banyak umat Islam.

Ilmuan muslim lainnya yang juga lahir dari keluarga miskin yaitu Abû Hâmid al-Ghazâli atau dikenal dengan Imam Ghazâli, lahir pada tahun 450 H di Thûs, Khurasan (sekarang Iran) dan wafat pada tahun 505 H di tempat yang sama. Beliau lahir dari keluarga tak punya, namun kemiskinan yang dialami keluarganya tak menghalangi Imam al-Ghazâli menempuh ilmu hingga kemudian berhasil menjadi orang besar. Karangannya sangat banyak, antara lain: Faishal at-Tafriqah baina al-Islâm wa az-Zandaqah, Minhâj al-‘Âbidîn, Tahâfut al-Falâsifah, Misykâtu al-Anwâr, al-Iqtishâd fî al-I’tiqâd, al-Mustashfâ, dan yang paling terkenal yaitu kitab Ihyâ` ‘Ulûmiddîn.

Nama lainnya yaitu Râbi’ah al-‘Adâwiyah, tokoh tasawuf perempuan yang lahir di Bashrah pada tahun 105 H dan meninggal pada tahun 185 H. Dalam ilmu tashawuf, nama ini sangat dikenal. Râbi’ah adalah wali perempuan yang lahir dari keluarga miskin, bahkan saat dirinya lahir, orangtua Râbi’ah tidak punya uang sepeser pun untuk membeli minyak lampu buat penerangan persalinan. Namun, penderitaannya dalam perekonomian tidak mengantarkan Râbi’ah menjadi glandangan, tapi ia giat mencari ilmu hingga menjadi orang sukses, menjadi kekasih Allah Swt.

?

? ? ? ? ? ? ? ?. Jamaah idul fitri yang berbahagia,. Tidak hanya tiga ilmuan di atas, masih banyak lagi orang-orang besar sejak dahulu hingga sekarang yang lahir dari kaum dlu’afâ. Bahkan nabi Muhammad Saw sendiri lahir bukan dari kalangan ningrat, tapi dari rakyat jelata, miskin, dan yatim piatu. Tapi dengan ilmu pengetahuan, nabi Muhammad, sahabatnya dan para ulama yang memperhatikan ilmu pengetahuan demi menghilangkan kebodohan telah terbukti dapat membangun masyarakat, bisa membangun peradaban, hidupnya dapat memberikan manfaat kepada banyak orang.

Mencari ilmu atau berusaha menjadi manusia yang sempurna (al-insân al-kâmil) yang dapat memberikan manfaat bagi diri sendiri dan orang lain tidak selamanya berkaitan dengan harta benda. Tapi kuncinya adalah kemauan. Di sinilah pentingnya orangtua, keluarga, dan lingkungan untuk turut serta mendidik anak sejak dini supaya mencintai ilmu pengetahuan.

Nabi Muhammad Saw bersabda:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ??

Artinya: “Tidak ada anak yang dilahirkan kecuali dilahirkan dalam keadaan fitrah, suci, atau bersih. Lalu kedua orangtuanya yang menjadikannya memeluk Yahudi, Nasrani, atau Majusi.”

Hadis ini memberikan pemahaman bahwa anak kecil bagaikan kertas kosong yang bersih dari coretan apapun. Orangtua dan keluarga sebagai lingkungan pertama yang dihadapi anak dalam berinteraksi, tentu sangat memberikan pengaruh terhadap watak dasar anak yang sedang berproses. Oleh karenanya, jika ingin anak itu kelak menjadi orang yang baik, dan ini menjadi keinginan semua orangtua, maka orangtua harus mendidiknya sejak kecil supaya anak terbiasa dengan melakukan kebaikan-kebaikan. Bahkan, dalam Islam mendidik anak harus dimulai sejak masih dalam kandungan, yakni dibacakan al-Quran, dzikir, dan lantunan-lantunan doa. Itu semua demi masa depan anak, agar menjadi anak yang shâlih yang dapat menjadi warisan berharga bagi yang meninggalkannya.

Nabi Muhammad Saw bersabda:

? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. Artinya: “Jika manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali 3 hal, yaitu: shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shâlih yang terus mendoakannya.”

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? Meninggalkan warisan kekayaan melimpah terkadang dapat memicu pertengkaran dan permusuhan di antara keluarga, tapi meninggalkan 3 hal di atas dapat mengantarkannya ke sorga dan membahagiakan orang-orang yang ditinggalkannya.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? Dengan meneladani para tokoh terdahulu yang lahir dari rakyat jelata dengan ekonomi yang serba kekurangan, dapat disimpulkan bahwa kemiskinan bukan penghalang seseorang mencari ilmu, karena kemiskinan dapat dikalahkan dengan peran keluarga yang menanamkan kemandirian kepada anak-anaknya.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? Jadi, langkah yang harus dilakukan dalam mengatasi benyaknya perilaku kasar, zalim, keterbelakangan dan kemunduran bangsa, serta berbagai tindakan yang tidak bermoral yang setiap hari menjadi tontonan adalah dengan mendidik anak dan menyekolahkannya. Masa depan orangtua ditentukan oleh keturunannya, dan masa depan bangsa ditentukan oleh generasi mudanya. Pepatah Arab mengatakan: ? ? ? ? (Generasi muda sekarang adalah pemimpin masa depan).

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? Demikian khutbah yang dapat saya sampaikan, mohon maaf atas segala kesalahan. Selamat hari raya idul fitri, mohon maaf lahir dan batin.

? ? ? ?.

? ? ? ? ? ? ? ? ?.

? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. [?: 9] ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.? . ?

=== ? ? ===? . ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ?.. ? ? ? ?? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.. ? ?: ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ?.? .

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.? .

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.. ? Oleh: Khoirul Anwar,? Aktifis Lembaga Bahtsul Masail (LBM) NU Jawa Tengah.?

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Quote Haedar Nashir

Kiai Manan Paparkan 7 Strategi Dakwah dalam Merevitalisasi Masjid

Pringsewu, Haedar Nashir. Saat mengisi Kegiatan Ngaji Ahad Pagi atau Jihad Pagi yang rutin dilaksanakan di Gedung NU Pringsewu, Ahad (14/5), Ketua PBNU KH Abdul Manan Ghani mengajak umat Islam memaksimalkan masjid khususnya di lingkungan NU untuk pengembangan dakwah dan amaliyah ibadah.

"Masjid merupakan tempat membangun peradaban dan aset yang berperan penting dimasyarakat. Membangun Masjid gampang namun memakmurkannyalah yang lebih penting," tegasnya di hadapan jamaah dan Pengurus NU di Kabupaten Pringsewu yang memenuhi Aula gedung tersebut.

Kiai Manan Paparkan 7 Strategi Dakwah dalam Merevitalisasi Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Manan Paparkan 7 Strategi Dakwah dalam Merevitalisasi Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Manan Paparkan 7 Strategi Dakwah dalam Merevitalisasi Masjid

Maksimalisasi Masjid sebagai tempat dakwah dan ibadah lanjut Kiai yang sebelumnya merupakan Ketua Lembaga Takmir Masjid NU (LTMNU) ini dapat ditempuh dengan berbagai langkah nyata. Lebih lanjut Ia memaparkan tujuh Strategi Dakwah dalam Merevitalisasi Masjid.

Strategi tersebut terangkum dalam doa yang sering diucapkan setiap waktu yaitu "Allahumma Inna Nasaluka Salamatan Fiddin, Waafiyatan Fil Jasad, Wazidatan Fil Ilmi, Wa Barakatan Fi Rizq, wa Taubatan Qablal Maut, Warahmatan Indal Maut, wa Maghfiratan Badal Maut.

Pertama, salamatan fiddin yaitu memaksimalkan masjid sebagai tempat gerakan, pemeliharaan aqidah ummat Islam  ahlus sunnah wal jamaah (aqidah, syariah, akhlak) sesuai dengan sunah Rasulullah, para sahabat, tabiin dan para ulama Salafussalihin.

Haedar Nashir

Hal ini dapat ditempuh dengan langkah nyata seperti Menegakkan shalat berjamaah dan mendata jamaah, Pengajian Al-Qur`an dan Aqidah Aswaja, Sertifikasi Masjid dan pendataan Masjid-Masjid NU.

Haedar Nashir

Kedua adalah Waafiyatan Fil Jasad yaitu memaksimalkan Masjid sebagai tempat gerakan pelayanan kesehatan ummat. Dalam hal ini takmir Masjid dapat menjalin kerjasama Lembaga Kesehatan dalam melayani kesehatan jamaah masjid, penyuluhan kesehatan dan penyuluhan  pola hidup sehat dan menyelenggarakan Gerakan kebersihan masjid serta lingkungan sekitar masjid. Selain itu perlu menghidupkan majlis dzikir, baik jamaah yasin, istighosah, sholawat dan sejenisnya.

Ketiga adalah Waziyadatan fil Ilmi yaitu menjadikan Masjid sebagai tempat gerakan peningkatan Sumber Daya Manusia Jamaah Masjid dan putra-putrinya di bidang keilmuan dan keterampilan. Langkah konkrit yang bisa ditempuh adalah seperti menyelenggarakan bimbingan belajar putra-putri jamaah masjid berbagai bidang keilmuan dan keterampilan sekaligus kaderisasi Remaja Masjid seperti : bahasa Arab, bahasa Inggris, matematika, IPA, IPS, pelatihan MC, dan lain-lain.

Keempat adalah Wabarakatan Fi Rizq yaitu menjadikan Masjid sebagai pusat gerakan pemberdayaan ekonomi ummat. Membuat LAZ, UPZ masjid, GISMAS (Gerakan Infaq Shadaqah memakmurkan Masjid), Membangun Kewirausahaan, Warmas (warung masjid) merupakan salah satu usaha real yang bisa ditempuh.

Kelima adalah Wataubatan Qablal Maut yaitu menjadikan Masjid sebagai pusat gerakan dakwah mengajak dan menyadarkan orang Islam yang belum menjalankan syariat Islam dan dakwah untuk non-muslim sebagai tempat kembali bagi orang-orang yang ingin kembali kepada Allah. 

Hal ini dapat ditempuh dengan Pelatihan dakwah, Penyebarluasan materi Islam melalui berbagai media, Menyediakan pengajian (massal atau privat) untuk orang-orang yang ingin mempelajari dan memperdalam Islam tetapi terkendala waktu dan kesibukan lainnya serta Menyusun materi dan metodologi dakwah sesuai dengan perkembangan.

Keenam adalah Warahmatan Indal Maut yaitu maksimalisasi Masjid Sebagai pusat gerakan kepedulian sosial seperti Menjenguk jamaah yang sakit, Mengantar jamaah sakit ke rumah sakit, Menolong orang-orang yang terkena bencana, Pelatihan pemulasaraan jenazah dan lain lain.

Dan yang terakhir adalah Wa Maghfiratan Badal Maut yaitu Masjid sebagai tempat berdoa untuk mendoakan orang-orang yang telah wafat dengan bentuk kegiatan seperti Talqin Mayyit, mengadakan tahlilan dan yasinan, Ratiban, dibaan, barzanjian, Istighatsah serta Lailatul Ijtima. (Muhammad Faizin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nahdlatul, Hadits, Pendidikan Haedar Nashir

Perayaan Hari Santri di Gresik Bertabur Doorprize

Gresik, Haedar Nashir. Heroisme perayaan Hari Santri Nasional juga menggema di kota santri Gresik Jawa Timur. Pesantren Mambaus Sholihin berpartisipasi dengan menggelar kirab santri yang melibatkan tak kurang dari 5000 santri dan alumninya untuk menggetarkan bumi Gresik, Sabtu (22/10).?

Perayaan Hari Santri di Gresik Bertabur Doorprize (Sumber Gambar : Nu Online)
Perayaan Hari Santri di Gresik Bertabur Doorprize (Sumber Gambar : Nu Online)

Perayaan Hari Santri di Gresik Bertabur Doorprize

"Momentum hari santri ini memang kita manfaatkan betul untuk penguatan kembali semangat nasionalisme bagi para santri dan alumni. Tidk hanya sekedar kirab, bahkan kami menyediakan doorprice bagi peserta kirab," kata Ketua Umum Himpunan Alumni Mambaus Sholihin (HIMAM), Maftuh.?

KH Agus Muhammad Maruf, Ketua Yayasan Pesantren Mambaus Sholihin dalam sambutannya saat melepas peserta kirab menyampaikan ucapan syukur atas disahkanya 22 Oktober sebagai hari santri. Menurutnya, dengan adanya hari santri, negara telah mengakui peran besar santri, khususnya dalam mempertahankan kermerdekaan Indonesia.

Ia menilai, para pejuang kemerdekaan yang dimotori oleh pendiri Nahdlatul Ulama KH Hasyim Asyari melalui Resolusi Jihad mempunyai makna tersendiri bagi santri, bagi kaum santri, cinta tanah air merupakan manifestasi keimananan kepada Allah dan Rasul-Nya.?

Ia menambahkan, pada masa perjuangan kemerdekaan, cinta tanah air diwujudkan dalam bentuk berjuang mengusir penjajah, namun kini perjuangan itu bisa diwujudkan dalam bentuk dedikasi untuk membangun bangsa dari berbagai aspek.

Haedar Nashir

Dengan berbagai kostum yang merepresentasikan tradisi santri, 5000 peserta kirab dengan tertib dan penuh semangat mengelilingi kota gresik diselingi yel-yel santri. Dan di penghujung acara, peserta semakin riuh saat tiba pengundian kupon berhadiah 25 juta teridiri dari kulkas, TV LED 21, mesin cuci, dan kelengkapan rumah tangga lainnya. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir IMNU, Daerah Haedar Nashir

Haedar Nashir

Kaderisasi Ansor Nias Selatan dan Nias Barat Teguhkan Nasionalisme

Nias Selatan, Haedar Nashir. Pengurus Cabang Karateker Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Nias Selatan dan Nias Barat menyelenggarakan Pelatihan Kader Dasar (PKD) Jumat hingga Ahad (29-31/5). Kegiatan dilaksanakan di Aula Hotel Hernelys, Telukdalam Nias Selatan.

Ketua Karateker PC GP Ansor Nias Selatan dan Nias Barat Alez Brianita Wau menjelaskan, PKD menjadi kewajiban bagi Kader Ansor sebelum membentuk kepengurusan PC GP Ansor. Acara bertemakan “Meneguhkan Komitmen Islam yang Rahmatan Lil ‘Alamin dalam Bingkai Kebangsaan dan NKRI” ini digelar untuk meningkatkan wawasan, kapasitas dan kreatifitas Kader Ansor.

Kaderisasi Ansor Nias Selatan dan Nias Barat Teguhkan Nasionalisme (Sumber Gambar : Nu Online)
Kaderisasi Ansor Nias Selatan dan Nias Barat Teguhkan Nasionalisme (Sumber Gambar : Nu Online)

Kaderisasi Ansor Nias Selatan dan Nias Barat Teguhkan Nasionalisme

“Apalagi Kader Ansor juga bertugas sebagai kader bangsa yang berpaham Ahlussunnah wal Jamaah dalam keanekaragaman dan memperkuat keutuhan NKRI. Diharapkan dengan PKD para kader bisa mengembangkan pemahaman tradisi Aswaja sebagai pencerminan pengamalan sunnah Rasulullah,” ujarnya.

Haedar Nashir

Selain itu, lanjut Alez, Kader Ansor juga mengemban amanah menggemakan syiar Islam sebagai perisai bagi dampak negatif globalisasi, mempererat ukhuwah dan sebagai perekat warga Nahdliyin untuk Indonesia.

Haedar Nashir

“Untuk itu, kader perlu dibekali pemahaman Ke-Ansoran dan Ke-NU-an. Tujuannya, menanamkan rasa cita terhadap organisasi sebagai upaya meningkatkan kapasitas, kreatifitas dan wawasan kebangsaan bagi generasi muda. Sebelumnya Ansor Nias Selatan dan Nias Barat juga telah mengikuti PKD di Gunungsitoli,” imbuhnya.

Hadir dalam acara, Wakil Sekretaris Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Nias Selatan Wajdin Telaumbanua. Dalam sambutannya, PCNU berharap Pimpinan Pusat GP Ansor melalui PW GP Ansor Sumut dapat menerbitkan SK Kepengurusan GP Ansor Nias Selatan dan Nias Barat setelah Tim Karateker melaksanakan tugas melaksanakan PKD dan Konfercab I.

“Ansor adalah salah satu badan otonom NU wadah berkumpulnya pemuda-pemuda NU, dengan adanya Cabang NU di Kabupaten Nias Selatan maka sudah seharusnya PC GP Ansornya ada juga di Nias Selatan. Kita berharap agar Pimpinan Pusat GP Ansor melalui PW GP Ansor Sumut dapat menerbitkan SK Kepengurusan GP Ansor Nias Selatan dan Nias Barat,” harapnya.

Acara PKD dibuka secara resmi oleh Wakil Ketua PW GP Ansor Sumut Armansyah Harahap yang berlangsung selama 3 hari. Armansyah Harahap mengatakan, GP Ansor pusat telah menetapkan tiga grand design untuk pengembangan GP Ansor se-Indonesia, yakni GP Ansor diberi amanah untuk mengembangkan kembali tradisi-tradisi dan nilai-nilai ajaran Ahlussunnah Wal-Jama’ah.

“Dalam materi kepemimpinan, materi Ahlussunnah Wal-Jama’ah itu merupakan materi inti,” ujar Armansyah saat memberikan arahan dan bimbingan pada Pembukaan Pelatihan Kepemimpinan Dasar GP Ansor Kabupaten Nias Selatan dan Kabupaten Nias Barat. (Dedi Tanjung/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kiai, Pahlawan, Makam Haedar Nashir