Minggu, 17 Desember 2017

Kisah Santri Istighfar dan Dua Burung

Jepara, Haedar Nashir. KH Dzikron Abdullah saat mengimbau supaya para santri tetap mendawamkan membaca istighfar. Dawam pada berbagai kondisi, baik dalam keadaan susah, senang, banyak maupun minim rezeki.

Kisah Santri Istighfar dan Dua Burung (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Santri Istighfar dan Dua Burung (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Santri Istighfar dan Dua Burung

Menurut Pengasuh pesantren Addainuriyah Semarang ini kemudian menceritakan sesosok santri yang rajin membaca kalimat meminta ampunan kepada Tuhan tersebut.

Kiai berusia 66 tahun itu menambahkan, santri yang sudah boyong ini sebut saja bernama si fulan. Usai boyong, ia nganggur sementara ia harus menafkahi istri dan tiga anaknya. Tapi ia masih tetap mendawamkan istighfar.

Haedar Nashir

Suatu ketika, si fulan berinisiatif membeli burung beo seharga Rp.400.000. Singkat kisah seorang Tionghoa mendengar ocehan burung itu. “Chino kepet. Chino kepet (tidak mandi, red),” terangnya pada ceramah di Haul I KH Ahmad Cholil (Rais Syuriah PCNU Jepara) di desa Bakalan kecamatan Kalinyamatan kabupaten Jepara, Jum’at (28/8) sore.

Haedar Nashir

Sontak orang itu berkeinginan ingin membeli burung yang bisa ngoceh itu seharga RP 4.500.000. Maka, untunglah si fulan. Di lain hari, si fulan membeli burung derkuku atau tekukur atau dekukur.

Suatu hari, datanglah seorang bos ke musholla yang tak jauh dari kediaman si fulan. “Bos ini punya penyakit imsonia. Tidak bisa tidur. Sudah diobatkan hingga ke luar negeri namun tak kunjung sembuh,” terang Ketua Idaroh Wustho Jatman Provinsi Jawa Tengah menambahkan.

Tiba-tiba saat si bos menunaikan shalat Dluha di musholla, ia mendengar kicauan burung tersebut. “Cekuter kuk. Cekuter kuk.” begitu bunyi kicauan burung milik si fulan.

Anehnya, penyakit imsonia yang sudah diobatkan ke sana ke mari bisa ditaklukkan hanya dengan kicauan burung derkuku. “Setiap si bos mendengar burung manggung cekuter kuk. Cekuter kuk lelaki kaya ini langsung tidur,” tambahnya juga disambut tawa hadirin.

Padahal sebelum-sebelumnya dari jam 9 pagi hingga 9 pagi ia sama sekali tidak bisa memejamkan matanya. Alhasil, atas berkah kicauan burung seharga Rp.100.000 dibeli oleh si bos dengan Rp.5.000.000 plus si fulan diberangkatkan haji ke tanah suci.

Dengan misal itu Kiai Dzikron mengimbau seluruh hadirin untuk memperbanyak istighfar dalam kondisi apa pun.

Hadir dalam Haul KH Ahmad Bukhori pengasuh Pesantren Al Falah, KH Imam Abi Jamrah Ketua LBM NU Jawa Tengah, KH Kamil Ahmad Rais Syuriah PCNU Jepara, KH Asyhari Syamsuri Ketua PCNU Jepara dan H Ahmad Marzuqi Bupati Jepara. (Syaiful Mustaqim/Abdullah Alawi)? ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kyai Haedar Nashir

Ajaran Aswaja Tak Suka Mengafirkan yang Lain

Kendal, Haedar Nashir. Sesepuh majlis dzikir Al-Khidmah Jawa Tengah KH Munir Abdullah mengatakan, warga nahdliyin harus menguatkan kembali aqidah Ahlussunah wal Jamaah (Aswaja). Pasalnya, sekarang banyak bermunculan kelompok agama Islam yang mudah mengkafirkan kelompok agama lain.

Ajaran Aswaja Tak Suka Mengafirkan yang Lain (Sumber Gambar : Nu Online)
Ajaran Aswaja Tak Suka Mengafirkan yang Lain (Sumber Gambar : Nu Online)

Ajaran Aswaja Tak Suka Mengafirkan yang Lain

“Jika ada yang mudah mengkafir-kafirkan orang lain, itu bukan aqidah ahlussunah wal jamaah. Aqidah kita aqidah yang ramah, bukan aqidah yang gampang mengkafirkan ” tegas  pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Huda, Grobogan, Jawa Tengah tersebut. 

Hal itu disampaikan dalam tausiahnya pada acara Istigotsah Akbar dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW yang dihelat Pengurus Cabang Muslimat NU Kendal bersama dengan Majlis Dzikir Al-Khidmah, bertempat di aula Pondok Modern Selamat, Kendal, Kamis (24/1) pagi.

Haedar Nashir

Di hadapan ribuan anggota Muslimat NU Kabupaten Kendal, kiai yang akrab disapa Gus Munir itu menegaskan bahwa Istigotsah berjamaah merupakan salah satu media untuk menguatkan aqidah ala ahlussunah wal jamaah. Sebab, lanjutnya, dengan Istigotsah berjamaah, umat berkumpul mempererat silaturahmi sekaligus mendekatkan diri kepada Illahi.

Pada Istigotsah akbar tersebut, beberapa kiai dan ulama hadir pula untuk turut khidmat membacakan Istigotsah bersama, di antaranya rais syuriyah PCNU Kendal KH Izzudin Abdussalam, KH Nur Rois, KH Zamakhsary, dan ketua Al-Khidmah Jawa Tengah H Joko Suyono.

Haedar Nashir

Dengan mengenakan pakaian serba putih, para jamaah Istigotsah yang berjumlah ribuan orang terlihat memadati aula Pondok Modern Selamat, bahkan ratusan jamaah yang tidak mendapat tempat di dalam aula, tampak duduk di halaman beralaskan koran dan tikar. Mereka terlihat khusyu’ dan khidmat, baik ketika pembacaan Istigotsah maupun ketika mendengarkan tausiah.

ketua PC Muslimat NU Kendal Khadijah Muslih mengatakan, digelarnya Istigotsah akbar tersebut diharapkan dapat mempererat silaturahmi dan memperkuat ajaran ahlussunah wal jamaah melalui tausiah yang disampaikan para kiai.

“Istigotsah ini menjadi ajang berkumpulnya ibu-ibu Muslimat. Selain dapat mempererat hubungan internal antar pengurus PC, PAC, dan Ranting Muslimat se kabupaten Kendal, semoga warga NU semakin kuat dalam melaksanakan ajaran Islam yang rahmatan lil alamin,” tuturnya.

Redaktur   : A. Khoirul Anam

Kontributor: Amalia Ulfah

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nusantara, Makam Haedar Nashir

Ngabuburit, KMNU Padjadjaran Ngaji Kitab Uqudul Lujjain

Sumedang, Haedar Nashir

Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) Padjadjaran mengisi waktu menjelang buka puasa Ramadhan kali ini dengan mengaji kitab Uqudul Lujjain fi Bayani Huquqiz Zaujain. Kitab Syekh Muhammad bin Umar an-Nawawi ini membahas tentang etika dalam berumah tangga.

Ngabuburit, KMNU Padjadjaran Ngaji Kitab Uqudul Lujjain (Sumber Gambar : Nu Online)
Ngabuburit, KMNU Padjadjaran Ngaji Kitab Uqudul Lujjain (Sumber Gambar : Nu Online)

Ngabuburit, KMNU Padjadjaran Ngaji Kitab Uqudul Lujjain

Ngabuburit yang dikemas dengan ngaji pasaran ala santri ini diselengarakan setiap hari dari 1-15 Ramadhan 1437 H, pukul 16.00 hingga waktu Maghrib tiba, di Madrasah Al-Fitrah, Jatinangor, Kabupaten Sumedang. Pengajian ini diasuh oleh Ustadz Erwin, pengasuh Pondok Pesantren Al-Falah, Cileles, Jatinangor.

Ngaji pasaran pada bulan Ramadhan merupakan salah satu cara KMNU untuk menjaga tradisi NU yang semakin dilupakan oleh kalangan pemuda setelah menjadi mahasiswa. “Kegiatan ini terbuka untuk umum bagi seluruh mahasiswa, mahasiswi, maupun masyarakat yang ingin ikut ngaji,” tutur Abdurrahman, Ketua KMNU Padjadjaran.

Haedar Nashir

Ia berharap kegiatan ini menambah ilmu peserta pengajian sebagai bekal dalam kehidupan bermasyarakat berumah tangga demi terwujudnya keluarga yang sakinah, mawadah, warahmah.

Haedar Nashir

Selain mengaji, peserta ngaji kitab ini juga bisa menikmati takjil gratis saat berbuka puasa tiba dalam nuansa kekeluargaan. Sehingga rasa kebersamaan dan kekeluargaan sangat terasa.

“Saya sangat senang dengan adanya kegiatan ini yang sangat bermanfaat, selain itu penyampaian Ustadz Erwin yang sudah ahli dalam bidangnya dan selalu menghibur para santri dengan gaya canda tawanya sehingga membuat para santri tidak jenuh dan bosan,” kata Ari Agustian, peserta ngaji kitab Uqudul Lujain. (Muhtar/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir PonPes Haedar Nashir

Pentingnya Kaderisasi bagi Penguatan NU

Matraman, Haedar Nashir

Untuk meningkatkan mutu kader-kader NU di semua lini, PBNU terus mengkampanyekan pentingnya kaderisasi. Pelaksanaan kaderisasi adalah amanah resmi Muktamar NU ke-33 di Jombang, Jawa Timur tahun 2015.

Dalam AD/ART NU Bab XIII Pasal 39 ayat 4-7 dijelaskan bahwa syarat untuk menjadi pengurus cabang NU, PWNU dan PBNU harus sudah mengikuti pendidikan kader atau kaderisai yang dibuktikan dengn sertifikat kader NU.

Pentingnya Kaderisasi bagi Penguatan NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Pentingnya Kaderisasi bagi Penguatan NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Pentingnya Kaderisasi bagi Penguatan NU

Poin-poin tersebut terungkap saat Sidang Pleno Kedua pada Munas Konbes NU 2017, Kamis (23/11) malam di pelataran Masjid Islamic Center NTB.

Ketua PBNU didampingi Sekjen PBNU pada kesempatan tersebut, menjelaskan kaderisasi dilaksanakan melalui Madrasah Kader NU yang di-launching secara resmi pada Juni 2016. MKNU kemudian  secara resmi menjadi bagian dari suprastruktur kadeeisasi NU di semua lini dan tingkatkan.

Sejauh ini pelaksanaan Madrasah kader NU di berbagai daerah sudah menghasilkan beberapa angkatan alumni. Hingga November 2017, madraha kader NU sudah terselenggara di 20 titik, dengan luar Jawa sebgaia fokus prioritasnya.

Haedar Nashir

Beberapa materi yang disampaikan adalah relasi NU terhadap perkembangan ideologi dan gerakannya; arah, cita-cita dan strategi perjuangan NU; relasi dan respons NU terhadap negara; arah, cita-cita dan program perjuangan NU 2015-2020.

Selain itu juga strategi pembangunan dan pemberdayaan ekonomi NU, literasi media, kekuaatan dan tantangnnya.

Haedar Nashir

Madrasah kader NU langsung dipandu oleh instruktur dan fasilitator dai PBNU. (Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Aswaja Haedar Nashir

Sabtu, 16 Desember 2017

Kiai Subekhan: Pembiaran Maksiat Datangkan Musibah

Brebes, Haedar Nashir. Pengasuh Pondok Pesanteren Assalafiyah Luwungragi, Kecamatan Bulakamba, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, KH Subekhan Makmun, menegaskan, bila ada pembiaran terhadap kemaksiatan maka akan ditimpakan bencana.

Kiai Subekhan: Pembiaran Maksiat Datangkan Musibah (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Subekhan: Pembiaran Maksiat Datangkan Musibah (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Subekhan: Pembiaran Maksiat Datangkan Musibah

Hal itu terjadi, kata dia, ketika para pemimpin daerah atau pemimpin umat sudah acuh tak acuh terhadap kemaksiatan yang terjadi di daerah tersebut.

Kiai Subekhan menyampaikan hal tersebut saat mengisi mauidlotul khasanah dalam Pengajian Maulid Nabi Muhammad SAW di Pendopo Bupati Brebes, Kamis (30/1) malam.

Haedar Nashir

Menurutnya, azab akan ditimpakan kepada pelaku kemaksiatan secara pribadi-pribadi. Allah tidak akan menimpakan azab kepada orang yang tidak berdosa. Tetapi ketika kemaksiatan sudah menjamur, membudaya dan tidak ada tindakan preventif maupun kuratif dari pemerintah setempat maka azab akan ditimpakan pula kepada orang-orang yang tidak berdosa.

Haedar Nashir

“Apalagi kalau pemerintah setempat menyetujui atau memberi ijin beroperasinya tempat-tempat yang mengundang maksiat, maka azab akan ditimpakan kepada orang yang tidak berdosa juga,” ucapnya.

Diibaratkan, lanjutnya, ketika ada seekor semut menggigit orang maka ketika orang tersebut mengetahui semut bersembunyi ke sarangnya, maka sarang tersebut dibakarnya. “Akibatnya, semut-semut lain yang tidak nakal, ikut terbakar,” katanya.

Untuk itu, kata kiai, Pemerintah Kabupaten harus terus memfasilitasi berbagai kegiatan yang mendorong peningkatan Iman dan Takwa kepada Allah SWT. “Biarlah Brebes penuh dengan jalan yang berlobang, tetapi jangan sampai ada “lubang-lubang” yang berjalan. Jangan sampai ada lokalisasi di Brebes,” tandas kiai.

Kiai mengajak kepada seluruh pengunjung untuk bersyukur karena Kabupaten Brebes terhindar dari marabahaya. Wujud dari rasa syukur, setiap saat harus menghindarkan diri dari perbuatan maksiat dan dzolim. “Agar nikmat tidak lepas, maka harus diikat dengan syukur,” terangnya.

Peringatan Nabi Muhammad SAW yang mengambil tema memetik hikmah, merajut ukhuwah dan menuju masa depan cerah di hadiri ribuan pengunjung. Selain mauidlotul khasanah juga digelar, semaan Quran oleh 30 orang Hafidz dan Istighosah yang dipimpin pengasuh Pesanteren Darussalam Jatibarang Kidul, Kec Jatibarang Brebes KH Syeh Sholeh Basalamah.

Dalam kesempatan tersebut, Bupati Brebes Hj Idza Priyanti SE mengajak kepada seluruh warga Brebes untuk selalu meningkatkan keimanan dan ketakwaan. Termasuk meneladani pemimpin umat Nabi Muhammad SAW. Dia menjelaskan, kalau Kabupaten Brebes dalam tahun 2014 menjadi tuan rumah penyelenggaraan MTQ tingkat Provinsi Jateng dan Musyawarah Jamiatul Ahlit Thoriqoh Muktabaroh An Nahdliyah (JATMAN) tingkat Jateng.

Kegiatan keagamaan, kata Bupati, menjadi agenda yang tidak terputus bagi Pemkab Brebes. “Semoga dengan ikhtiar peningkatan ketakwaan kepada Allah SWT, akan membawa Brebes menjadi daerah yang baldatul toyibatun warobun ghofur, rakyat sejahtera dalam lindungan Allah SWT,” pungkas Bupati. (Wasdiun/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Anti Hoax Haedar Nashir

Penampilan Pagar Nusa NU Gadingrejo Pukau Peserta Perkemahaan Maarif

Pringsewu, Haedar Nashir. Anggota pencak silat Pagar Nusa NU menunjukkan kebolehannya di hadapan peserta Perkemahan Maarif Cabang (Permacab) Ke-1 yang digelar di kompleks Gedung NU Pringsewu, Ahad (11/10). Atraksi diawali dengan penampilan salah satu anggota Pagar Nusa dengan tangan kosong dan menggunakan alat bantu tongkat serta pedang.

Penampilan Pagar Nusa NU Gadingrejo Pukau Peserta Perkemahaan Maarif (Sumber Gambar : Nu Online)
Penampilan Pagar Nusa NU Gadingrejo Pukau Peserta Perkemahaan Maarif (Sumber Gambar : Nu Online)

Penampilan Pagar Nusa NU Gadingrejo Pukau Peserta Perkemahaan Maarif

Sementara pada penampilan kedua, dua orang pendekar melakukan atraksi silat saling menyerang dan bertahan menggunakan pedang.

Penampilan terakhir, lima orang anggota melakukan atraksi yang cukup mendebarkan dengan memecahkan tumpukan genting menggunakan kekuatan tangan kosong dan tenaga dalam.

Haedar Nashir

Menurut pembina Pagar Nusa Rois, penampilan ini merupakan bentuk partisipasi Pagar Nusa dalam Permacab perdana ini. "Kami juga ingin lebih mengenalkan bela diri pencak silat Pagar Nusa di kabupaten Pringsewu khususnya kepada para generasi muda," ungkapnya.

Haedar Nashir

Rois menambahkan, pada Permacab ini anggota Pagar Nusa bimbingannya yang berpusat di Desa Parerejo kecamatan Gadingrejo mengirimkan dua regu yang berjumlah 24 orang putra dan putri. (Muhammad Faizin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pendidikan Haedar Nashir

Dilantik, IPNU-IPPNU Kota Makassar Diminta Siapkan Jadi Pemimpin

Makasar, Haedar Nashir?



Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama Kota ?Makassar dikukuhkan di Aula Kantor Departemen Agama Kota Makassar, Sulawesi Selatan pada Ahad (25/12).?

Dilantik, IPNU-IPPNU Kota Makassar Diminta Siapkan Jadi Pemimpin (Sumber Gambar : Nu Online)
Dilantik, IPNU-IPPNU Kota Makassar Diminta Siapkan Jadi Pemimpin (Sumber Gambar : Nu Online)

Dilantik, IPNU-IPPNU Kota Makassar Diminta Siapkan Jadi Pemimpin

Pada pelantikan tersebut, ?Rais Syuriah PCNU Kota Makassar AGH. Baharuddin HS mengatakan, ?hadirnya IPNU-IPPNU sebagai pelanjut perjuangan yang diharapkan, untuk menjadi benteng Ahlussunna wal-Jamaah dan menjaga keutuhan NKRI ini.?

Semua kader IPNU dan IPPNU Kota Makassar harus mempersiapkan diri untuk menjadi pemimpin masa depan. "Kalian harus betul-betul fokus belajar dan belajar agar dapat menjadi pemimpin di masa yang akan datang," katanya.

Haedar Nashir

Dia melanjutkan, ?Pemerintah Kota Makassar mengharapkan IPNU-IPPNU dapat bersinergi untuk merealisasikan program-program kepemudaan.?

PC IPNU dan IPPNU Kota Makassar dapat melakukan pembinaan secara berkelanjutan, dengan meningkatkan kualitas kader ditambah memiliki jiwa sosial yang tinggi. "Karena pemuda adalah calon pemimpin masa yang akan datang," pungkasnya.?

?Sementara Ketua PC IPNU Kota Makassar Aswad mengatakan, IPNU-IPPNU adalah organisasi kader yang memiliki tugas dan tanggung jawab untuk menyiapkan generasi muda NU dimasa yang akan datang?.

Aswad menambahkan, untuk melihat NU diperkirakan 10 sampai 20 tahun ke depan akan tercermin dan terpatri di wajah kader-kader IPNU-IPPNU.?

Haedar Nashir

Oleh karena itu, tentu sangat membutuhkan perhatian banyak pihak, terkhusus bagi orang kita di NU. "Kaderisasi harus terus dilanjutkan, untuk mempersiapkan NU di masa mendatang," tambahnya.?

Pelantikan dihadiri Mantan Wasekjen PP IPPNU Rizal Syarifuddin, Ketua PW IPNU Sulsel Andy Muhammad Idris, Ketua GP Ansor Makassar Agus Salim Said, Sekretaris KNPI Makassar Irwan Ade, dan beberapa tokoh NU dan kader IPNU-IPPNU Makassar. (Benny Ferdiansyah/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Makam Haedar Nashir