Minggu, 24 Desember 2017

Pencetak Banyak Hafidzah

Hari itu, langit dan bumi pesantren Babakan-Ciwaringin-Cirebon tiba-tiba ‘basah’. Bukan karena hujan lebat yang menimbulkan genangan banjir, melainkan karena para keluarga, santri, dan masyarakat meneteskan tangis air mata. Salah seorang ulama perempuan yang hafizhah itu wafat meninggalkan semuanya.

Sosok ulama perempuan hafizhah itu tak lain, Nyai Hj Izzah Syathori Fuad Amin, salah seorang pengasuh pesantren Bapenpori (Balai Pendidikan Pondok Putri) al-Istiqomah, putri dari al-Maghfurlah KH Abdullah Syathori (sesepuh pesantren Dar al-Tauhid, Arjawinangun), dan istri mendiang KH Fuad Amin (sesepuh pesantren Raudlatut Tholibin, Babakan-Ciwaringin). Beliau dipanggil oleh-Nya, 3 September 2013.

Nyai Izzah adalah sosok yang istiqomah dalam mencerdaskan umat, melalui pengajian rutin; pengajian kitab kuning maupun al-Qur’an. Tak mengenal kata lelah dan bosan dalam hal mengajar ngaji kepada para santri maupun masyarakat luas. Ini terbukti, salah satunya saat upacara pemakaman mendiang. Tak seperti biasanya, ribuan orang berjejalan dan sesak memenuhi areal maqbarah Raudlatut Tholibin.

Tak tahu ada berapa kali sesi shalat jenazah saat itu, baik yang berlangsung di pelataran masjid maupun saat sudah dimakamkan. Saya begitu yakin, ini karomah dan keistimewaan dari seorang hamba yang begitu mencintai dan mengabdikan sepenuh hidupnya demi dan untuk kelestarian al-Qur’an.

Pencetak Banyak Hafidzah (Sumber Gambar : Nu Online)
Pencetak Banyak Hafidzah (Sumber Gambar : Nu Online)

Pencetak Banyak Hafidzah

Pengajian yang istiqomah dilakukan Nyai Izzah pun sederhana. Untuk pengajian jami’iyah rutin mingguan, beliau hadir di hadapan para ibu-ibu menjelaskan berbagai macam ilmu. Pengajian seperti ini berlangsung di Babakan dan Arjawinangun. Jamaah pun menyimak dan berikutnya menampung banyak pertanyaan bernada keluh kesah seputar kehidupan agama, sosial, dan ekonomi rumah tangganya.

Nyai Maryam Abdullah, salah seorang menantu mendiang pernah bercerita: “Sering kali saya menyaksikan setiap malam Jum’at, beliau (al-Marhumah) hendak pergi mengajar pengajian ibu-ibu di Arjawinangun, walaupun dalam kondisi hujan, dan sekalipun harus naik becak tetap dilakoninya. Sebagai pemimpin jami’iyah di Babakan dan Arjawinangun beliau dikenal sebagai sosok yang sangat cerdas dan memiliki karakter mobilisator.”

Sementara saat di pesantren, Nyai Izzah akan setia membimbing para santriwati. Mengaji al-Qur’an misalnya, para santriwati berbaris rapi, bergiliran menyetorkan bacaan al-Qur’annya. Saking banyaknya santriwati yang ingin belajar mengaji al-Qur’an kepada beliau, setiap sesi setoran bacaan, beliau sanggup menyimak tidak kurang dari enam orang sekaligus secara bersamaan, masing-masing tiga orang santriwati di baris sebelah kanan dan kiri.

Haedar Nashir

Tak hanya para santriwati, semua para Nyai yang ada di pesantren Babakan-Ciwaringin belajar mengaji al-Qur’an kepadanya. Beliaulah memang ulama perempuan paling otoritatif dalam bidang al-Qur’an baik di wilayah pesantren Babakan-Ciwaringin, pada khususnya, Cirebon dan Jawa Barat pada umumnya.

Jika ditelusuri jejak intelektualnya, Nyai Izzah sendiri mesantren dan belajar mengaji langsung kepada al-Maghfurlah KH Mahfudh Mas’ud, pimpinan pesantren Sunan Pandanaran, Yogyakarta. Ia pun mampu menghafal al-Qur’an (hafizhah) dalam waktu yang relatif singkat, hanya 9 bulan.

Demikianlah, maka pesantren Bapenpori al-Istiqomah, masyhur sebagai pesantren yang istiqomah mencetak para hafizhah, santriwati penghafal al-Qur’an. Putera-putrinya pun demikian, cerdas dan hafizh-hafizhah. Itu semua tak lain merupakan buah dari keberkahan, kecerdasan, dan keistiqomahan Nyai Izzah sebagai pengasuh dan pendidik di pesantren.

Haedar Nashir

Yang sangat mengesankan, banyak di antara kaum ibu yang awalnya buta huruf al-Qur’an atau bahkan lidahnya susah untuk melafadzkan ayat-ayat al-Qur’an tetapi akhirnya fasih dan hafal surat-surat penting

Saking istiqomahnya beliau dalam hal mengaji, saat hendak bepergian jauh pun beliau selalu mempertimbangkan agar tidak ketinggalan waktu mengaji. Setahu saya beliau juga orangnya ulet dan telaten dalam mengajar. Siapapun yang ingin mengaji kepada beliau mulai dari kalangan anak-anak sampai orang tua pasti dilayaninya dengan senang hati.

KH Thohari Shodiq, salah seorang pengasuh pesantren Raudlatut Tholibin, berkali-kali menegaskan bahwa Nyai Izzah adalah satu-satunya Nyai sepuh yang alim, terutama dalam hal kajian kitab kuning. Selain alim dalam kajian al-Qur’an.

Akhirnya, kita memanjatkan do’a, semoga Nyai Izzah berbahagia di bawah naungan surga-Nya. Demikian juga yang ditinggalkan, baik para santri, keluarga, dan masyarakat dapat tabah serta menimba keteladanan, keistiqomahan, dan keikhlasan dari seorang ulama perempuan yang hafizhah ini. Amin.

?

Mamang M. Haerudin

Ketua LP3M STID AL-Biruni Cirebon, khadim al-Ma’had pesantren Raudlatut Tholibin Babakan-Ciwaringin.

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pendidikan, Halaqoh Haedar Nashir

Rais ‘Aam: Cegah Kemunkaran Tak Harus dengan Kekerasan

Jakarta, Haedar Nashir 



Rais ‘Aam PBNU KH Ma’ruf Amin menegaskan, organisasi NU sejak didirikan hingga kini, tema pergerakan dan perjuangannya tidak lepas dari amar ma’ruf nahi munkar. Namun, amar ma’ruf nahi munkarnya NU dengan cara santun, lemah lembut atau layyinan.

“Saya sering bicara dengan Presiden dengan Kapolri, amar ma’ruf itu dilakukan dengan cara santun,” katanya di gedung PBNU, Jakarta, Senin (2/10) ketika ditanya bagaimana NU melakukakan amar maruf nahi munkar. 

Rais ‘Aam: Cegah Kemunkaran Tak Harus dengan Kekerasan (Sumber Gambar : Nu Online)
Rais ‘Aam: Cegah Kemunkaran Tak Harus dengan Kekerasan (Sumber Gambar : Nu Online)

Rais ‘Aam: Cegah Kemunkaran Tak Harus dengan Kekerasan

Menurut Kiai Ma’ruf, amar ma’ruf nahi munkar adalah bagian agama sehingga menjadi tugas umat Islam, termasuk warga NU. 

Cuma, kata dia, dalam menjalankannya bisa jadi dengan cara beda. Ada kelompok di luar NU yang melakukannya dengan cara berteriak-teriak atau demontrasi. Cara semacam itu tidak mutlak berhasil. 

“Tatapi dengan pendekatan yang santun, pendekatan kesadaran, dengan penuh toleran, itu justru banyak perubahan, dan memberikan manfaat, pengaruh yang besar. Itu yang dilakukan NU selama ini,” lanjutnya. 

Haedar Nashir

Sewaktu-waktu warga NU mungkin juga melakukan cara-cara yang tegas dengan terkontrol, tapi tidak harus selalu begitu. 

“Jadi, amar ma’ruf itu bagaimana memerintahkan kebaikan dan mencegah kemunkaran. Mencegah kemunkaran tidak harus dengan cara keras, dengan cara demonstrasi, tapi dengan santun, konstitusional, demokratis, tapi arahnya kita mencegah dan terjadi perubahan-perubahan,” jelasnya.  

Haedar Nashir

NU melakukan cara-cara seperti itu, sambungnya, sebagai upaya mencegah benturan-benturan antarkelompok, misalnya antara kelompok nasionalis dengan Islam dan kelompok-kelompok lain. 

“Ternyata yang bisa mengharamonisasikan kan NU,” pungkasnya. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Amalan, Halaqoh, Bahtsul Masail Haedar Nashir

LP Maarif NU Jatim Siarkan Kegiatan Unggulan di TV9

Sidoarjo, Haedar Nashir. Pengurus Wilayah Lembaga Pendidikan (LP) Ma’arif dan TV9 menandatangani nota kesepahaman (MoU) di bidang publikasi pendidikan di gedung Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat) LP Ma’arif NU Jatim, Waru, Sidoarjo, Senin (16/4).

LP Maarif NU Jatim Siarkan Kegiatan Unggulan di TV9 (Sumber Gambar : Nu Online)
LP Maarif NU Jatim Siarkan Kegiatan Unggulan di TV9 (Sumber Gambar : Nu Online)

LP Maarif NU Jatim Siarkan Kegiatan Unggulan di TV9

Penandatangan dilakukan bersamaan dengan acara Pengukuhan dan Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) PW LP Ma’arif NU Jawa Timur. Mengawali kepengurusan baru masa khidmat 2013-2018, Ketua PW LP Ma’arif NU Jatim Prof Dr H Abdul Haris berharap pengurus wilayah bisa meningkatkan citra pendidikan di lingkungan NU.

“Mulai sekarang setiap cabang Ma’arif (LP Ma’arif NU, red) bisa mengirim kegiatan unggulan dari berbagai jenjang pendidikan yang akan meningkatkan mutu dan citra sekolah Ma’arif, “ kata guru besar IAIN Sunan Ampel Surabaya itu dalam rilis yang diterima Haedar Nashir.

Haedar Nashir

Di hadapan peserta Rakerwil, Direktur TV9 HA Hakim Jayli mengatakan, pihaknya memiliki visi yang sama dengan PW LP Ma’arif Jatim, yakni memajukan pendidikan NU. “LP Ma’arif NU Jawa Timur adalah lembaga pertama di lingkungan NU yang menjalin kerja sama dengan TV 9,“ katanya.

Haedar Nashir

Dia berharap kerja sama ini dapat saling memberi kontribusi besar bagi kedua belah pihak “LP Ma’arif mempunyai sumber daya yang besar dengan jumlah sekolah atau madarasah yang mencapai hampir 10 ribu sekolah dan TV9 memberikan fasilitas media televisi yang profesional sehingga mampu meningkatkan publikasi yang efektif dan layak jual,” Ujar Hakim. (Mahbib Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Syariah, Hadits Haedar Nashir

Kisah Ibnu Khafif dan Antelop Liar

Dalam kitab Raudl al-Rayahin fi Hikayah al-Shalikhin karya Syeikh Afifuddin Abdullah bin As’ad al-Yafi’i (696-768 H), terdapat kisah ujian kesabaran Ibnu Khafif (w. 981 M) dan seekor antelop liar (semacam rusa). Diceritakan:

Kisah Ibnu Khafif dan Antelop Liar (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Ibnu Khafif dan Antelop Liar (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Ibnu Khafif dan Antelop Liar

?: ? ? ? ?, ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?, ?: ? ? ? ? ? ? ? ?

Aku memasuki kota Baghdad dengan tujuan menghadiri perkumpulan. Di kepalaku ada kesombongan kesufian, yaitu (berlagak) mempertajam kehendak, menguatkan mujahadah dan menyisihkan segala sesuatu yang selain Allah SWT. 

Aku tidak makan empat puluh hari lamanya, tidak pula bergabung dengan perkumpulan Junaid. Aku keluar dan tidak minum. Ketika aku hendak bersuci, aku melihat seekor antelop liar diatas sumur dan sedang minum. Aku sangat kehausan. 

Haedar Nashir

Ketika aku mendekati sumur, antelop liar itu melarikan diri. Ketika itu airnya telah berada di titik terbawah sumur (tidak dapat diambil lagi), aku berjalan pergi sembari berkata: 

“Wahai Tuanku, milikku disisiMU, telah berpindah ke antelop ini.”

Haedar Nashir

Kemudian aku mendengar seseorang berkata dari arah belakangku: 

“Kami mengujimu dan kau tidak sabar. Kembalilah, dan ambillah air. Sesungguhnya antelop itu datang ke sumur tanpa membawa sampan (untuk menyimpan air) dan tali (untuk menimba). Sedangkan kau datang membawa sampan dan tali.”

Maka aku kembali, ketika itu air sumur sudah melimpah, lalu kupenuhi sampanku. Aku pun minum darinya serta bersuci dengannya sampai Madinah, dan air itu tidak habis. Ketika aku pulang dari haji, aku memasuki perkumpulan (Imam Junaid al-Baghdadi). Ketika aku berhadapan dengannya, Ia berkata: “Andai saja kau bersabar sesaat lagi, akan bercucuran air dari bawah telapak kakimu.” (Afifuddin Abi al-Sa’adat Abdullah bin As’ad al-Yafi’i al-Yamani, Raudl al-Rayahin fi Hikayah al-Shalihin, Kairo: Maktabah Taufiqiyyah, tt, hlm 102).

Setelah mengalami ujian ketidak-sabaran, Imam Ibnu Khafif menyelam kedalam diri untuk menjernihkan hatinya. Ia, kemudian melakukan riyadloh (kontemplasi ketat) sekaligus bertaubat atas kegagalannya dalam menguatkan kesabarannya. 

Ketika kecongkakan hadir, meski dalam rupa yang mempesona sekalipun seperti penguatan mujahadah, ia akan menjadi celah masuknya bisikan setan. Imam al-Ghazali menyebutnya madakhil al-syaitan (pintu masuk setan), yang terbuka ketika prasangka atau perbuatan buruk dilakukan manusia.

Dari pengalamannya itu, Imam Ibnu Khafif membagi sabar dalam tiga tingkatan. Pertama, mutashabbirun, orang yang berkeinginan bersabar. Kedua, shabirun, orang yang bersabar. Ketiga, shabbarun, orang yang terus menerus bersabar atau kesabarannya tidak memiliki batas. (Abdul Karim Hawazin al-Qusyairi, Risalah al-Qusyairiyyah, Kairo: Muassasah Darul Sya’b, tt,hlm 326). 

Di saat kejadian itu terjadi, Ibnu Khafif masih sekedar mutashabbirun, kesabarannya sebatas hasrat menggebu yang belum berimbang. Karenanya, Ia mengeluh tidak mendapatkan air untuk diminum dan bersuci. Ia bahkan membuat antelop itu lari ketakutan, meninggalkan sumur karena Ibnu Khafif berjalan mendekatinya, tidak menunggu antelop itu menyelesaikan minumnya.

Untuk sesaat Ibnu Khafif diselimuti rasa takut tidak mendapatkan air untuk memenuhi kebutuhannya, hingga secara sengaja membuat antelop itu lari ketakutan. Latihan kesabarannya selama ini, 40 hari tidak makan dan lain sebagainya, diruntuhkan seketika oleh hawa nafsunya (egoisme).

Kemudian terdengar suara yang menggugah pikiran Imam Ibnu Khafif, bahwa kesabarannya tidaklah seberapa. Suara itu melucuti kepasrahan dan kesabarannya, membandingkannya dengan antelop liar. “Kau datang membawa sampan dan tali,” artinya ada persiapan untuk memenuhi sampannya dan menjadikannya bekal, tapi “antelop itu datang tanpa membawa sampan dan tali.” Hanya mengambil seperlunya saja, sisanya dipasrahkan pada kehendakNya.

Sentilan penuh makna juga diberikan Imam Abu Sulaiman al-Darani (140-215 H) yang mengatakan:

? ? ? ? ? ?, ? ? ? ? ?

“Demi Allah, (jika) kita tak bisa sabar atas hal yang kita cintai, bagaimana mungkin kita bisa sabar atas hal yang kita benci?” (Imam Abdul Karim Hawazin al-Qusyairi, Risalah al-Qusyairiyyah, hlm 325).

Mencintai adalah kerja keras, bukan perkara mudah. Berkali-kali jatuh dan tertatih-tatih, terbakar api cemburu dan kerinduan yang menyala-nyala. Jika dalam suka-lara dan kerja keras mencintai saja manusia tidak bisa sabar, bagaimana dengan hal yang dibenci. Apakah masih ada ruang untuk kesabaran?

Maka dari itu, kesabaran harus tetap tergenggam. Karena kita tidak tahu, apa yang akan terjadi ketika kita terus menggenggamnya. Ada banyak kemungkinan di depan kita. Tapi, sekali kita melepaskannya, kemungkinan itu lenyap. Seperti Imam Junaid al-Baghdadi yang membocorkan salah satu kemungkinan dari hasil kesabaran, dengan mengatakan: “Andai saja kau bersabar beberapa saat lagi, akan bercucuran air dari bawah telapak kakimu.”

Ya, kita memang tidak tahu apakah air itu akan benar-benar keluar dari bawah telapak kaki Imam Ibnu Khafif atau tidak, yang pasti selalu ada hasil dalam bersabar. Namun perlu diperhatikan, janganlah bersabar untuk mendapatkan hasil, itu salah. 

Sebab, penyesalan terbesar Ibnu Khafif bukan karena tidak diperolehnya keuntungan (hasil), tapi jiwanya kembali keruh setelah sekian lama ia berusaha menjernihkannya. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah, seberapa sabarkah kita? Wallahu a’lam...

Muhammad Afiq Zahara, Alumnus Pondok Pesantren al-Islah, Kaliketing, Doro, Pekalongan dan Pondok Pesantren Darussa’dah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen.

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pondok Pesantren, Kajian Sunnah Haedar Nashir

Sabtu, 23 Desember 2017

Warga Desa Kalijurang Gotong Royong 2 Kg Beras Bangun Gedung NU

Brebes, Haedar Nashir. Kaum Nahdliyin (warga NU) Desa Kalijurang Kecamatan Tonjong Brebes, akhirnya bisa membangun gedung Nahdlatul Ulama (NU) ranting setempat dengan gotong royong beras sebanyak 2 kilogram per kepala keluarga. Dalam waktu kurang dari satu tahun, gedung serba guna ? bisa berdiri kokoh.

Demikian disampaikan Ketua Pengurus Ranting (PR) NU ranting Kalijurang Kasbono melalui Ketua Pimpinan Ranting GP Ansor Kalijurang Mohamad Ali, sebelum acara Safari Jelajah Desa Hebat (Sajadah), di desa setempat, Selasa (14/6).

Warga Desa Kalijurang Gotong Royong 2 Kg Beras Bangun Gedung NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Warga Desa Kalijurang Gotong Royong 2 Kg Beras Bangun Gedung NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Warga Desa Kalijurang Gotong Royong 2 Kg Beras Bangun Gedung NU

Ali memaparkan, bangunan gedung serba guna NU dibangun diatas tanah seluas 986 meter persegi. Sedangkan luas bangunan 20 X 14 meter. “Hingga saat ini sudah menelan dana sekitar Rp 700 juta,” paparnya.

Tanah bangunan, sebagian dari wakaf H Tarhudin dan selebihnya pembelian seharga Rp 60 juta. “Alhamdulillah, dana pembangunan dan pembelian tanah hasil umpul-umpul kaum Nahdliyin yang masing-masing Kepala Keluarga menyumbang 2 Kilogram perbulan kurang dari setahun,” terangnya.

Haedar Nashir

Selain beras, adapula yang menyumbang material dan tenaga kerja. “Tukang aslinya yang dibayar tetap ada, tetapi puluhan Nahdliyin setiap hari sukarela kerja bakti,” ungkap Ali.

Gedung dibangun sejak Agustus 2015 dan selesai Februari 2016. “Bangunan belum seratus persen, tinggal pengkeramikan dan finishing lainnya,” kata Ali.

Meski belum diresmikan secara seremonial, tetapi gedung tersebut sudah laris digunakan antara lain untuk kegiatan NU dan badan otonomnya, Bulutangkis, bahkan resepsi pernikahan.?

Ke depan, gedung serba guna yang sekaligus sebagai kantor sekretariat PR NU Kalijurang tersebut, akan terus ditambah sarana dan prasarana lainnya. “Dari hasil kerja ikhlas dan nyata ini, ke depan kami akan mengembangkan Lembaga Zakat dan Infak NU (Lazisnu) ranting Kalijurang, sehingga main kokoh dalam pemberdayaan dana umat,” ujar Ali.

Haedar Nashir

Gedung dengan ornament sederhana namun tampak gagah ini merupakan satu-satunya gedung NU yang dimiliki Pengurus Ranting di Kabupaten Brebes. “Barangkali ini satu-satunya gedung yang dimiliki oleh Pengurus Ranting di Desa se-Kabupaten Brebes,” pungnya. (Wasdiun/Fathoni)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir IMNU, Nusantara, RMI NU Haedar Nashir

Bahaya Radikalisme Agama terhadap Ketahanan Pancasila

Oleh Muhammad Sahlan



Sebelum lebih jauh membahas radikalisasi tentunya penting diterangkan istilah radikalisasi secara singkat terlebih dahulu. Menurut Afif Muhammad, radikal berasal dari kata radic yang berarti akar, dan radikal sendiri adalah sesuatu yang mendasar atau hingga sampai ke akar-akarnya. Penyusunan predikat “radikal” dapat dikenakan pada pemikiran, yang kemudian ada istilah “pemikiran radikal”, dapat juga pada gerakan, yang kemudian disebut “gerakan radikal”. Dalam Tesaurus Bahasa Indonesia, radikal diartikan sebagai (a) fundamental, mendasar, primer, esensial, kardinal, vital, drastis; (b) ekstrim, fanatik, keras, militan, revolusioner; (c) liberal, maju, progresif, reformis, terbuka; (d) (kaum, orang) ekstrimis, reaksioner, revolusioner. Dengan demikian radikalisme dapat diartikan sebagai sebuah paham atau aliran keras yang ingin melakukan sebuah perubahan sosial atau politik dengan cara cepat, drastis, keras, dan ekstrem.

Dalam konteks radikalisme Islam, adalah upaya orang atau sekelompok orang Islam tertentu yang ingin menerapkan ideologi (syariat Islam) dengan cara cepat, keras, dan ekstrem tanpa melihat atau menerima ide-ide lain dengan berdalih agama. Hal ini bisa menjadi bencana besar bagi ketentraman manusia, jika ditilik kembali tentang definisi kebenaran menurut kelompok radikal. Pemahaman kebenaran dalam agama adalah berasal dari Tuhan. Sedangkan firman Tuhan ada dalam kitab suci. Kemudian, apabila kitab suci mempunyai beberapa tafsir yang berbeda, maka bagi radikalisme agama, paham kelompoknya-lah yang dianggap paling benar. Dengan demikian, jikalau terdapat beberapa kelompok orang ? yang berpaham agama secara radikal, kemungkinan berikutnya adalah terjadi sebuah clash atau benturan fisik yang mengakibatkan kekerasan dan perang saudara. Hal ini akan mengakibatkan zaman jahiliah terulang kembali oleh peperangan dan pembunuhan.

Bahaya Radikalisme Agama terhadap Ketahanan Pancasila (Sumber Gambar : Nu Online)
Bahaya Radikalisme Agama terhadap Ketahanan Pancasila (Sumber Gambar : Nu Online)

Bahaya Radikalisme Agama terhadap Ketahanan Pancasila

Dari pemaparan fakta-fakta radikalisme di Indonesia saat ini menunjukkan bagaimana bangsa Indonesia telah mengalami ancaman besar dari sisi pemuda, yang digadang-gadang sebagai “tulang punggung bangsa”. Merebaknya fenomena radikalisasi Islam di kalangan pemuda terutama terjadi di kampus-kampus besar merupakan sebuah kecolongan besar bagi masa depan bangsa, di mana mereka adalah calon-calon pemimpin masa depan. Jika hal ini terus terjadi kemungkinan besar Pancasila sebagai Philosophische Grondslag atau dasar negara akan segera tergantikan oleh syariat Islam atau khilafah melalui pemimpin-pemimpin yang berpaham fundamental. Dan kemungkinan buruk selanjutnya sesuai premis awal tentang radikalisme, Indonesia akan mengalami beberapa peperangan, benturan fisik, dan pembunuhan antaragama yang ada. Hal ini bisa terjadi karena kondisi masyarakat Indonesia yang beragam, banyak agama juga aliranya.

Pentingnya Semangat Pancasila sebagai Kontinuitas Pembangunan Bangsa

Seorang ahli sosial Indonesia, Ignas Kleden menyatakan bahwa kebudayaan adalah dialektika antara ketenangan dan kegelisahan, antara penemuan dan pencarian, antara integrasi dan disintegrasi, antara tradisi dan reformasi, yang dengan kata lain kedua hal tersebut akan selalu diperlukan. Misalkan jika tanpa tradisi atau integrasi, suatu kebudayaan akan menjadi tanpa identitas, sedangkan tanpa suatu reformasi atau disintegrasi suatu kebudayaan akan kehilangan kemungkinan berkembang dalam merespon jaman dan paksaan perubahan sosial.?

Haedar Nashir

Sebuah negara tidak akan menjadi lebih baik, lebih matang, dan lebih kuat dalam hal kebudayaan apabila setiap hasil kebudayaan yang ada atau kebudayaan masa lalu selalu diganti dengan sebuah kebudayaan baru dengan terus menerus. Kondisi ini telah dan masih terjadi di Indonesia seperti yang diungkapkan oleh Kleden, mengapa sejarah kebudayaan Indonesia modern pada hakikatnya adalah sejarah tanpa kontinuitas. Penyebabnya adalah setiap generasi selalu berusaha membangun sebuah tradisi baru dari nol (awal) dan bukan melakukan dilektika terhadap tradisi sebelumnya. Sikap (1) penolakan terhadap tradisi kebudayaan yang ada atau masa lalu atas dasar semangat modern dapat dilihat dari beberapa kasus misalnya, sering dikutipkanya pemikiran tokoh ekonom Barat daripada Hatta, sering dikutipnya pemikiran nasionalisme ahli Barat daripada Soekarno, sering dikutipnya pemikiran Islam transnasional daripada kiai-kiai yang ada di Indonesia, sering dikutipnya pemikiran kebudayaan Barat daripada (misalnya) pemikiran Ignas Kleden ini, dan masih banyak kasus-kasus penolakan tradisi lainya.

Sikap (2) konservatif alias selalu mempertahankan tradisi kebudayaan masa lalu, dapat dilihat dalam masyarakat yang tidak mau menerima semangat modern: materialis, rasional, dan individual yang memang perlu diserap di era saat ini. Konservatif terhadap tradisi akan berakibat juga dalam tersingkirnya masyarakat tertentu dari pertarungan global. Yang menjadi sebuah catatan dan poin penting adalah sikap masyarakat Indonesia seharusnya bisa berada dalam posisi moderat, dengan melanjutkan tradisi yang sudah ada, melakukan kritik terhadapnya, juga berinovasi.

Ditarik dalam konteks tema ini, Pancasila adalah sebuah hasil pemikiran tokoh pendiri Indonesia dalam merumuskan dasar negara dan pandangan hidup yang juga bisa disebut hasil kebudayaan bangsa Indonesia. Lebih dari itu Pancasila diciptakan sebagai dasar negara yang dimaksud sebagai fondasi negara yang kuat (ideologi), agar rumah kebangsaan yang bernama negara Indonesia dapat kokoh dan abadi, serta melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia. Kemudian dalam membangun negara dan peradaban tanpa didasari dengan semangat transendental (ketuhanan) dan prinsip-prinsip ruhiah yang kuat adalah ibarat membangun bangunan istana yang rapuh. Sehingga Pancasila merupakan sesuatu yang jelas pokok dan sakral, tidak bisa diubah dalam kondisi apapun. Oleh sebab itu upaya mengganti sebuah dasar negara dengan dasar yang lain sama saja menghancurkan negara Indonesia.

Dari sisi sejarah, pembentukan Pancasila melalui perdebatan cukup menegangkan. Perumusan Pancasila mengalami beberapa ketegangan antara tokoh dari umat muslim dan non-Muslim ? dalam menetapkan sila pertama Piagam Jakarta (cikal bakal Pancasila), ? yakni “ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya”. Akhirnya dengan usaha keras persuasi Soekarno terhadap perwakilan tokoh Islam di detik-detik awal kemerdekaan Indonesia, tujuh kata di belakang ketuhanan dihapus demi persatuan dan kesatuan mengingat Indonesia baru merdeka. Usaha ini juga jelas menggarisbawahi bahwa Indonesia bukan hanya terdiri dari warga Muslim—meskipun Islam adalah mayoritas—bahwa ada penganut agama-agama lain yang hidup di Indonesia. Mereka semua sebagai warga negara harus memiliki hak yang sama. Upaya untuk mengganti Pancasila dengan Khilafah misalnya, adalah upaya untuk mendiskreditkan pemeluk agama lain atau kelompok lain dalam negara baru yang dicita-citakan oleh kelompok tertentu.

Haedar Nashir

Kembali lagi pada gagasan yang diangkat oleh Kleden tentang kontinuitas tradisi, dengan melakukan kritik terhadap tradisi yang sudah ada, kemudian melakukan reformasi tradisi agar lebih baru dan maju merupakan sebuah upaya positif dalam urun pembangunan. Konsep ini memiliki kesamaan dengan usul fiqih yang menjadi doktrin organisasi kegamaan Islam Nahdlatuh Ulama (NU), al-mukhafadhatu ala-alqadimisshalih wa-alakhdu bil jadidi al-aslah yang artinya memelihara yang lama yang baik dan mengadopsi yang baru dan baik. Konsep “menjaga yang baik” di sini bisa disamakan dengan tetap bertradisi dengan mengkritik tradisi yang tidak kontekstual tentunya bentuk atau kemasanya saja, dan “mengambil yang lebih baik” di sini bisa disamakan dengan melakukan upaya perubahan mencari dan menemukan inovasi baru agar tetap eksis dalam perubahan zaman.

Pemahaman seperti Kleden dan NU tentang kebudayaan di atas dapat menjadi semangat positif dalam melanjutkan tradisi yang sudah ada (Pancasila). Mestinya dengan melakukan kritik dan tafsir ulang untuk disesuaikan dengan permasalahan yang ada. Bentuk konkrit sikap ini, misalnya adalah melanjutkan pemikiran-pemikiran yang telah digagas, semisal Ekonomi Kerakyatan oleh Hatta, Dawam Raharjo, Mobyarto, dsb; Kebudayaan oleh STA, Kleden, Pram, Rendra, Ronggowarsito (Jawa) dsb; Pendidikan oleh Ki Hajar Dewantara, Dr Soetomo, dsb; Filsafat oleh Suryomentaram (Jawa) dsb; Islam oleh Hasyim Asyari, A. Dahlan, Mustofa Bisri, dsb; dan bidang-bidang sosial lainya di mana sesuai dengan konteks sosial budaya Indonesia itu sendiri.

Oleh sebab itu, semangat Pancasila menjadi penting sebagai usaha warga negara dalam memajukan bangsa dan menolak gerakan radikalisme agama. Gerakan radikalisme dalam beberapa kasus juga ingin menyuarakan permasalahan sosial bangsa yang sudah sangat pelik. Lalu, mereka memberi solusi dengan ikut bergabung dalam gerakanya. Dan puncaknya adalah penerapan khilafah atau syariat Islam di dalam negara sebagai solusi atas tidak becusnya sistem demokrasi dan ideologi Pancasila. Namun, apakah sistem baru yang ditawarkan sudah teruji atau diterapkan dengan hasil sebuah kemakmuran bangsa? Tentunya, biaya “peperangan antar suku, agama, aliran” belum juga kegagalan yang diakibatkan, kepentingan global yang mendompleng dibaliknya, lebih baik dialihkan pada usaha kongkrit dalam mengembangkan tradisi yang sudah ada. Terakhir, sebagai negara yang sudah berusia 72 tahun, Indonesia haruslah sudah mandiri di segala bidang. Untuk itu, berusaha berdikari dengan Pancasila adalah suatu keharusan.

“Kita mesti berhenti membeli rumus-rumus asing. Diktat-diktat hanya boleh memberi metode, tetapi kita sendiri musti merumuskan keadaan” (Rendra, Sajak Sebatang Lisong).

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir RMI NU, Aswaja Haedar Nashir

Penjelasan tentang Takbir Intiqal dalam Shalat

AssalamuAlaikum wr. wb. Redaksi Bahtsul Masail yang dirahmati Allah SWT, pernah suatu ketika kami shalat di salah satu masjid yang imamnya ketika selesai membaca surat pendek beliau langsung rukuk lalu kemudian nanti sang imam sudah pada posisi ruku’ baru melafalkan takbir, sehingga ada sebagian makmum yang kebetulan posisinya berada dibelakang sang imam sudah mengikuti gerakan sang imam walau imam belum melafalkan takbir.

Tentunya dengan demikian shalat kali ini sangat tidak kompak kelihatannya karena ada sebagian makmum yang mengikuti karena melihat gerakan dan ada yang mengikuti karena mendengar lafal takbir.

Penjelasan tentang Takbir Intiqal dalam Shalat (Sumber Gambar : Nu Online)
Penjelasan tentang Takbir Intiqal dalam Shalat (Sumber Gambar : Nu Online)

Penjelasan tentang Takbir Intiqal dalam Shalat

Yang ingin kami tanyakan adalah:

1. Bagaimana hukum melafalkan takbir dalam perpindahan gerakan dalam shalat?

2. Apa hukum memanjangkan atau memendekkan lafal takbir oleh imam dalam shalat?

Haedar Nashir

Demikian pertanyaan kami. Sebelumnya kami ucapkan terima kasih atas jawabannya. Walaikumsalam wr. wb. (Zainal)

Jawaban

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Haedar Nashir

Saudaraku Zainal yang dimulyakan oleh Allah, beserta semua saudara Nahdliyyin dimanapun anda berada, pertanyaan seputar melafalkan takbir dan sistem pembacaannya merupakan pertanyaan yang sangat menarik, karena meskipun terkesan sepele, namun itulah fakta ibadah yang kita temui dalam keseharian kita.

Untuk menjawab pertanyaan saudaraku, Zainal, perlu kita bersama pahami terlebih dahulu tentang takbir yang mengiringi perpindahan gerakan shalat, atau yang biasa dikenal dengan takbir intiqâl.

Syekh Sulaiman al-Bujairami dalam kitab Al-Bujairimi ‘ala al-Khathib (Beirut: Dar al-Fikr, 1995), juz II, hal. 220 menyebutkan bahwa hukum takbir intiqal adalah sunnah muakkad:

? ? ? ? ? ? ?

“Bahwa takbir-takbir intiqâl itu telah disepakati oleh para ulama, sehingga kesunnahannya lebih kukuh (muakkad)”

Mengenai penempatan kapan kita melakukan takbir intiqâl, Mustafa al-Khan dan Musthafa al-Bagha, menjelaskannya dalam Al-Fiqh al-Manhaji ‘ala Madzhabi Imam al-Syafi’i (Surabaya: Al-Fithrah, 2000), Juz I, hal. 153

? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ?.? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ?

“Takbir saat perpindahan gerakan:

Telah kita ketahui bahwasanya takbiratul ihram adalah rukun shalat, dimana shalat tidak akan sah tanpanya. Apabila seseorang sudah masuk dalam shalat dan telah melaksanakan takbiratul ihram, disunnahkan bagimu melafalkan takbir setiap kali perpindahan gerak. Kecuali saat bangun dari rukuk, maka yang disunnahkan adalah ucapan: “Allah Maha Mendengar orang yang memuji-Nya, Ya Tuhanku, bagi-Mu segala puji”.” 

Pada saat melafalkan takbir tersebut, ada yang disunnahkan dengan dibarengi gerakan mengangkat keduatangan (raf’ul yadain), dan ada yang tidak. Tempat-tempat dimana kita disunnahkan mengangkat kedua tangan, dijelaskan olehSyekh Abdurrahman al-Jaziri dalam Al-Fiqh ‘alâ Madzâhib al-Arba’ah (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 2003), juz I, hal. 224.

? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Syafiiyyah berkata, termasuk sunnah hay-ât adalah mengangkat kedua tangan ketika takbiratul ihram, ketika hendak ruku, ketika berdiri dari ruku, dan ketika berdiri dari tasyahud awal.”

Selanjutnya, mengenai memanjangkan atau memendekkan bacaan takbir, Mustafa al-Khan dan Musthafa al-Bagha, menjelaskannya dalam Al-Fiqh al-Manhaji ‘ala Madzhabi Imam al-Syafi’i (Surabaya: Al-Fithrah, 2000), Juz I, hal. 131 menjelaskan: 

? ? ? ?: ….. (?) ? ? ? ? ?.

“Syarat sahnya takbiratul ihram ialah: .... membarengkan keseluruhan lafalnya dengan niat sebagaimana telah dituturkan sebelumnya”

Kutipan di atas menjelaskan bahwa pada saat melakukan takbiratul ihram, kita disyaratkan untuk membarengkan pengucapannya dengan niat, dan tentunya dengan gerakan mengangkat kedua tangan. Untuk takbir intiqâl, disamakan dengan takbiratul ihram. Sehingga panjang ataupun pendeknya pembacaan disesuaikan dengan gerakannya agar berjalan berbarengan.

Demikian jawaban yang bisa kami sampaikan, semoga bisa bermanfaat bagi penulis dan para pembaca. Wallahu a’lam bi-shawâb. 

Wassalamu ‘alaikum warahatullahi wabarakatuh.

(Muhammad Ibnu Sahroji)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Syariah Haedar Nashir