Senin, 06 November 2006

Cerita di Balik Disingkirkannya Nabi Yusuf AS oleh Saudara Tirinya

Nabi Yaqub AS ialah nabi besar dengan kesabaran luar biasa. Ia diuji Allah dengan keirihatian sebagian anak kepada sebagian lainnya. Namun di balik ujian itu, Allah ingin menyampaikan pelajaran penting kepada umat manusia pada umumnya lewat pengalaman keluarga Nabi Yaqub AS.

Nabi Ya’qub AS memiliki 12 anak dari beberapa istri. Mereka inilah yang kemudian menurunkan 12 keturunan Bani Israil. Dari kalangan mereka juga terlahir banyak rasulullah.

Cerita di Balik Disingkirkannya Nabi Yusuf AS oleh Saudara Tirinya (Sumber Gambar : Nu Online)
Cerita di Balik Disingkirkannya Nabi Yusuf AS oleh Saudara Tirinya (Sumber Gambar : Nu Online)

Cerita di Balik Disingkirkannya Nabi Yusuf AS oleh Saudara Tirinya

Alkisah Nabi Ya’qub AS menaruh perhatian dan kecintaannya sedikit berlebih kepada dua anak terakhirnya, Nabi Yusuf dan Bunyamin. Kecemburuan pun hadir di kalangan lainnya.

Haedar Nashir

Melihat ini, kakak-kakak dari keduanya tidak senang. Mereka mengatur siasat bagaimana caranya mengembalikan cinta dan perhatian sang bapak. Sebagian berpendapat, membunuh keduanya. Sebagian lain, membuang. Sebagian lagi, menjual Yusuf.

Mereka akhirnya sampai pada pilihan membuang Yusuf ke dalam sumur hingga pada gilirannya diambil dan dijual oleh musafir yang tengah lewat.

Haedar Nashir

Sejak itu, Nabi Ya’qub AS tidak pernah lagi melihat anak kesayangannya. Nabi Yusuf, dikabarkan tewas ditelan serigala. Sejak itu juga Nabi Ya’qub AS kerap menangis kehilangan. Karena itu juga, daya penglihatannya bisa dibilang rusak. Air mata dari dua sudut matanya membekas dua garis permanen.

Nabi Ya’qub AS terus saja menangis hingga Allah mempertemukan dirinya dan sang anak pada suatu ketika setelah berpisah selama 80 tahun. Allah mengungkapkan hikmah itu seperti dialog dalam kitab Al-Majalis Saniyah.

“Wahai Ya’qub, tahukah kau kenapa Aku jatuhkan sanksi dan Kupisahkan Yusuf darimu selama 80 tahun?” tanya Allah kepada Nabi Ya’qub.

“Tidak tahu, wahai Tuhanku,” jawabnya.

“Ingatkah, kau dulu pernah memanggang kambing muda. Sementara kau menikmatinya, tetanggamu tidak. Kau pun tidak berbagi kambing panggang itu kepada tetanggamu.” (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir PonPes, Pahlawan Haedar Nashir

Minggu, 29 Oktober 2006

Maqamat

Maqamat adalah istilah tasawuf untuk menyebut berbagai kedudukan pendakian rohani yang harus ditempuh salik  agar bisa wushul (sampai) kepada Allah. Maqamat adalah jamak dari kata maqam, yang berarti “tempat, kedudukan, dan derajat”. Di Nusantara, maqom digunakan juga untuk menyebut petilasan (jejak) dan kuburan (maqbaroh)

Para guru sufi memberikan jumlah yang berbeda dalam maqamat. Al-Kalabadzi menyebutkan ada 7 maqamat: taubat, zuhud, sabar, tawakkal, ridha, mahabbah, dan ma’rifat. Bu Nashra as-Sarraj juga menyebutkan ada 7; Abu Thalib al-Makki menyebutkan ada 9; al-Ghazali menyebutkan ada 10; Ibnu Arabi menyebutkan ada 15, dan lain-lain. Perbedaan tersebut juga terjadi dalam penentuan hierarki maqam, misalnya syukur lebih tinggi dari sabar, dan atau sebaliknya. 

Maqamat (Sumber Gambar : Nu Online)
Maqamat (Sumber Gambar : Nu Online)

Maqamat

Sebagian apa yang disebut seorang guru sebagai maqam, oleh guru lain disebut sebagai "hal" (keadaan tertentu) saja. Perbedaan-perbedaan ini dapat dijumpai dalam berbagai tarekat dan literatur sufi. Pada umumnya perbedaan ini, terutama dalam menentukan jumlah maqam, tergantung dari pengalaman pendakian sang sufi dn pencapin yng dirih. Pencapaian itu sendiri adalah anugrah dari Allah yang masing-masing salik memiliki kedudukan yang tidak sama, sehingga menyebabkan perbedaan dalam menteorisasikan maqamat.

Haedar Nashir

Tahapan-tahapan yang banyak disebut para guru sufi, di antaranya ada tujuh, yaitu: pertama, taubat adalah penyucian diri atau taubat dari semua dosanya dan memohon ampun kepada Allah. Tahap taubat ini juga mempunyai sub-sub tahapan. Seorang calon sufi harus taubat dari dosa-dosa besar yang dilakukannya. 

Selanjutnya ia akan bertaubat dari dosa-dosa kecil, kemudian dari perbuatan makruh dan selanjutnya dari perbuatan syubhat. Taubat yang dimaksud adalah taubat yang sebenarnya atau disebut taubah nasuha, yaitu penyesalan atas dosa-dosanya yang lampau dan betul-betul tidak berbuat dosa lagi walau sekecil apapun.

Kedua, zuhud adalah tidak terbelenggu  oleh dunia materi dan dunia ramai, meski dia mungkin pemilik dunia dan ad di keramaian. Ia harus mengasingkan diri di tengah keramaian; atau kalau tidak bias menyepi untuk beribadah dengan puasa, shalat, membaca al-Quran dan dzikir. Yang dicarinya ialah kebahagiaan rohani, makan dan minum untuk mempertahankan kelanjutan hidup, sedikit tidur dan banyak beribadat.

Haedar Nashir

Ketiga, wara’ adalah menjauhkan diri dari perbuatan-perbuatan shubhat atau tidak jelas kebaikannya, atau menjauhi makanan yang shubhat atau yang tidak jelas halal dan haramnya. 

Keempat, faqir adalah menjalani hidup dalam kefakiran, yaitu selalu membutuhkan Allah dalam kondisi apa pun. Salik tidak menunjukkan kekurangan apapaun yang bersifat materi, karena yang dihajati hanya Allah.

Kelima, sabar adalah meneguhkan hati dalam menjalankan perintah Tuhan, menjauhi larangan-Nya, dan  dalam menerima cobaan-cobaan berat dalam hidupnya, termasuk dalam pencapaian pendakian rohani.  

Keenam, tawakkal adalah berserah diri sepenuhnya kepada kehendak Tuhan. Ia tidak memikirkan hari apa yang akan terjadi pada dirinya esok hari, baginya cukup apa yang ada untuk hari ini. 

Ketujuh, ridla adalah menerima semua yang menimpa dirinya dalam dunia ini: senang, susah, gembira, sakit, dan lain-lain sejtiny datangnya dari Allah; dan rela terhadap pencapaian pendakian rohani yang dilakukan, dan dimana Allah mendudukkannya. Ia tidak mempunyai perasaan benci, yang ada hanyalah perasaan senang. Misalnya ketika bencana menimpa dirinya, ia malah semakin cinta kepada Tuhan karena merasa diperhatikan. Pada tahap ini ia telah merasa dekat sekali dengan Tuhan dan telah berada di ambang pintu untuk mencapai keintiman dengan Tuhan.

Maqamat di atas merupakan pintu masuk untuk menjadi seorang sufi sejati untuk mencapai tahapan selanjutnya. Ada  yang bermuara pada mahabah (cinta), ma’rifat (mengenal), ittihad, musyahadah, dan lain-lain. Ada juga yang dikembalikan untuk membimbing masyarakat sebagai imam, da’i, faqih, dan lain-lain.

Dan, ada yang ditarik Allah sampai menjadi majdzub, sehingga tindakannya banyak dilihat ganjil oleh awam; dan berbagai jenis lain muara sufi sesuai anugrah yang diberikan Allah. (Sumber: Ensiklopedia NU)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Sholawat Haedar Nashir

Minggu, 18 Juni 2006

PPWK Lakpesdam Upaya Cetak Pemimpin NU Masa Depan

Jakarta, Haedar Nashir



Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menyelenggarakan Pembukaan Daurah Ula Pendidikan dan Pengembangan Wawasan Keulamaan (PPWK) angkatan 1 di Pondok Pesantren Al-Tsaqafah, Jakarta, Selasa (18/4) sore.

Ketua Lakpesdam PBNU Rumadi Ahmad mengucapkan terima kasih kepada semua peserta yang sudah hadir. Ia sadar, peserta yang hadir ke sini adalah mereka yang memiliki komitmen dan khidmah yang tinggi untuk NU.

PPWK Lakpesdam Upaya Cetak Pemimpin NU Masa Depan (Sumber Gambar : Nu Online)
PPWK Lakpesdam Upaya Cetak Pemimpin NU Masa Depan (Sumber Gambar : Nu Online)

PPWK Lakpesdam Upaya Cetak Pemimpin NU Masa Depan

Ia menjelaskan, Pendidikan dan Pengembangan Wawasan Keulamaan (PPWK) adalah semacam lembaga pelatihan untuk mencetak pemimpin-pemimpin NU masa depan. “PPWK itu semacam Lemhanasnya NU. Kader PPWK dihatapkan menjadi Pengurus NU di masa depan, terutama syuriahnya," jelasnya.

PPWK, terang Rumadi, akan dilaksanakan dalam tiga kali daurah dan satu daurahnya diselenggarakan kurang lebih dalam lima hari. Ia menjelaskan setiap daurahnya memiliki topik yang berbeda-beda. "Daurah pertama sampai tanggal 22 April. Tema yang diangkat adalah tentang NU dan Kebangsaan. Soal negara, konstituisanilme akan dibahas di daurah pertama ini," jelasnya.

Daurah kedua membahas tentang tata kelola pemerintah yangg baik dan antikorupsi. Menurutnya, NU adalah penyokong negara ini. Maka dari itu, NU tidak boleh diam dalam hal bagaimana mengelola pemerintaham yang baik. "KPK juga akan siap memfasilitasi dalam daurah kedua ini sehingga semangat anti-korupsi bisa kita pahami," urainya.

Haedar Nashir

Daurah ketiga, imbuh Rumadi, membahas tentang bagaimana menjadikan NU sebagai gerakan sosial, tantangan NU, permasalahan media sosial, dan peran apa yg harus dilakukan oleh NU. Sementara, Kepala Madrasah Pendidikan dan Pengembangan Wawasan Keulamaan Marzuki Wahid menjelaskan, PPWK adalah amanat Muktamar NU di Jombang tahun 2015 silam yang baru bisa dutunaikan oleh Lakpesdam PBNU. "Ini amanah dari PBNU. Ini adalah bagian dari pelaksanaan dari amanah itu," katanya.

Haedar Nashir

Ia berharap, PPWK bisa diselenggarakan setiap tahunnya tetapi ia menyadari itu adalah hal yang tidak ringan. "Tapi tampaknya agak berat," cetusnya.

Peserta PPWK angakatan pertama berjumlah 30 orang dari delapan provinsi. Tujuh diantaranya adalah peserta perempuan.

Turut hadir pada kegiatan yang dirangkai sebagai Peringatan Hari Lahir (Harlah) Lakpesdam yang ke-32 acara tersebut KH Abdullah Syarwani, Ulil Abshar Abdalla, Muntajib Billah, dan Maria Ulfah. (Muchlishon Rochmat/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir News, Fragmen, IMNU Haedar Nashir

Minggu, 19 Maret 2006

Tgk H Sabri Hasan dan Tgk H Mustafa Sarong Pimpin NU Aceh Jaya

Calang, Haedar Nashir. Tgk H Sabri Hasan resmi terpilih sebagai rais syuriyah sedangkan Tgk H Mustafa Sarong terpilih sebagai ketua tanfidziyah periode 2014-2019 melalui konferensi cabang PCNU Aceh Jaya yang diselenggarakan Sabtu (24/05/2014) siang. 

Pemilihan yang bertempat di Dayah Darul Abrar, Gampong Baro, kecamatan Setia Bakti Kabupaten Aceh Jaya tersebut berlangsung selama satu hari, pada tahap pertama atau penjaringan bakal calon, sejumlah kandidat bermunculan.

Tgk H Sabri Hasan dan Tgk H Mustafa Sarong Pimpin NU Aceh Jaya (Sumber Gambar : Nu Online)
Tgk H Sabri Hasan dan Tgk H Mustafa Sarong Pimpin NU Aceh Jaya (Sumber Gambar : Nu Online)

Tgk H Sabri Hasan dan Tgk H Mustafa Sarong Pimpin NU Aceh Jaya

Dalam tahap tersebut, sempat muncul dua nama lain yakni Tgk H Syarwani dan Tgk Hammady sebagai bakal calon Rais Syuriyah, sebelum masuk tahap pemilihan kedua calon Rais Syuriyah mengundurkan diri dari pencalonan, maka terpilih Tgk H Sabri Hasan sebagai Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Aceh Jaya.

Haedar Nashir

Selanjutnya masuk ke tahap pemilihan Ketua Tanfidziyah, muncul beberapa nama bakal calon yaitu Tgk H Mustafa Sarong, Tgk Ralimuddin, Tgk Ibnu Hajar dan Tgk Muslim. Sebelum masuk tahap pemilihan ketua calon, ketiga bakal calon mengundurkan diri, maka terpilihlah Tgk H Mustafa Sarong secara aklamasi untuk ketua tanfidziyah PCNU Aceh Jaya.

"Tgk H Sabri Hasan dan Tgk H Mustafa Sarong  diharapkan dapat menjalankan  PCNU Aceh Jaya dengan benar dan sesuai serta dapat membumikan aqidah Ahlussunnah wal Jamaah di kabupaten Aceh Jaya ini,” ungkap Ketua Tanfidziyah PWNU Aceh Tgk H Faisal Ali usai pemilihan.

Haedar Nashir

Pemilihan Ketua Tandfiziah dan Rois Syuriah  diikuti oleh 8 kecamatan atau MWC NU, seluruh perwakilan yang ada di Aceh Jaya. (Indra/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Halaqoh, Nusantara Haedar Nashir

Senin, 23 Januari 2006

Buku Aswaja Karya KH Muhyiddin Abdusshomad Bakal Go Internasional

Jember, Haedar Nashir. Buku-buku tentang Aswaja karya Rais Syuriyah PCNU Jember, KH Muhyiddin Abdusshomad tak lama lagi akan go internasional menyusul keinginan sejumah ulama Thailand untuk menerjemahkan buku-buku tersebut kedalam bahasa mereka.

Keinginan itu terungkap saat pengasuh Pondok Pesantren Nurul Islam (Nuris), Antirogo, Jember, Gus Robith Qashidi mengadakan kunjungan muhibah ke Thailand, Malaysia dan Singapore tiga hari lalu.

Buku Aswaja Karya KH Muhyiddin Abdusshomad Bakal Go Internasional (Sumber Gambar : Nu Online)
Buku Aswaja Karya KH Muhyiddin Abdusshomad Bakal Go Internasional (Sumber Gambar : Nu Online)

Buku Aswaja Karya KH Muhyiddin Abdusshomad Bakal Go Internasional

“Di Thailand, tepatnya di Propinsi Krabi, salah seorang ulama yang juga pengasuh pesantren Muwaidah Islamiyah Eakapapsasa Sasanawich Islamic School, Kiai Takem menyatakan sangat tertarik untuk menerjemahkan buku-buku abah kedalam bahasa Thailand,” tukas Gus Robith di Nuris kepada Haedar Nashir, Senin (13/2).

Menurut putra sulung Kiai Muhyiddin tersebut, kaum muslimin Thailand mayoritas penganut Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja), sama dengan ajaran yang dipegang teguh oleh warga NU.

Haedar Nashir

Namun praktik pengamalan Aswaja mereka lebih banyak bersifat turun-temurun tanpa mengerti dasarnya, dan karena itu buku karya Kiai Muhyiddin tersebut sangat berarti untuk menyelami seluk-beluk Aswaja lebih dalam lagi.

“Lebih dari itu, kata mereka, buku-buku abah mudah dicerna karena beberapa di antaranya menggunakan metode dialog (tanya jawab) sehingga? bisa dipahami langsung, tidak perlu menunggu khatam berlembar-lembar,” lanjutnya.

Menjalin sinergi dalam hal pemantaban Aswaja dengan negara-negara tetangga, bagi Gus Robith cukup penting. Ini seiring dengan cita-cita NU untuk terus mengenalkan dan menegaskan Islam rahmatal lil alamin. Lebih-lebih karena dalam beberapa tahun terakhir, gerakan liberalisme dan radikalismne juga mengincar dan mengancam negara-negara rumpun melayu.

Dikatakan Gus Robith, kelompok wahabi dan syiah sudah lama menyusup di daerah konflik, khususnya Thailand selatan, sehingga harus diantisipasi bersama.

“Kami sepakat untuk menjadikan ajaran Aswaja sebagai benteng untuk menangkal penetrasi ajaran librealisme dan radikalisme di Indonesia? dan Thailand. Melalui program pertukaran santri atara pesantren Nuris dan sejumlah negara tetangga yang? telah dimulai sejak? tahun lalu, Nuris terus istiqamah untuk menyebarkan ajaran Aswaja ala NU di negara-negara tersebut,” jelasnya.

Haedar Nashir

Beberapa karya Kiai Muhyiddin yang hendak diterjemahkan kedalam bahasa Thailand adalah: Fiqh Tradisionalis, Hujjah NU, Hujjah Qoth’iyyah, Sholatlah Seperti Rasulullah (Dalil Keshahihan Shalat ala Aswaja), Syarah Aqidatul Awam, Argumen Amaliah di Bulan Sya’ban dan Ramadhan, dan Panduan Wisata Ziarah. (Aryudi A. Razaq/Fathoni) ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kyai, Pahlawan, Lomba Haedar Nashir