Selasa, 28 Juni 2011

Generasi Muda Butuh Contoh Nyata Bukan Retorika

Probolinggo, Haedar Nashir. Generasi muda saat ini membutuhkan contoh yang nyata dari para pendidik (guru) dan orang tua mereka. Pendidikan yang baik bagi mereka bukan hanya retorika belaka namun juga perlu pemantapan akhlak agar moral bangsa ini tidak semakin tergerus.

Generasi Muda Butuh Contoh Nyata Bukan Retorika (Sumber Gambar : Nu Online)
Generasi Muda Butuh Contoh Nyata Bukan Retorika (Sumber Gambar : Nu Online)

Generasi Muda Butuh Contoh Nyata Bukan Retorika

Hal tersebut ditegaskan oleh A’wan PWNU Provinsi Jawa Timur H Hasan Aminuddin ketika menghadiri halal bihalal sekaligus pelantikan pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Krejengan, Senin (7/8) sore.?

“Jadilah seorang guru bagi dirimu sendiri sebelum kamu menggurui orang lain. Artinya bahwa setiap guru dan orang tua harus mampu menjadi contoh bagi anak didik saat ini,” katanya.

Oleh karena itu Hasan menghimbau kepada seluruh tenaga pendidik untuk bersama-sama menyikapi keprihatinan nasional saat ini. Dimana kecerdasan intelektual generasi muda saat ini tidak seimbang dengan akhlaknya. ?

Haedar Nashir

“Kecerdasan ini bukanlah kebetulan namun juga disebabkan oleh peningkatan lulusan sarjana di generasi sebelumnya yaitu orang tua mereka sendiri. Namun ? kecenderungan ini sayangnya tidak diimbangi peningkatan akhlaknya,” tegasnya.

Menurut Hasan, halal bihalal yang istiqomah dilaksanakan di Indonesia ini merupakan salah satu wadah untuk semakin mempererat tali silaturahim. Tingginya animo masyarakat terhadap kegiatan ini merupakan wujud dari sinergitas antara umaro dan ulama sehingga mampu untuk mensukseskan kegiatan yang merupakan salah satu budaya asli Indonesia ini.

“Saya harapkan hal ini dilakukan secara istiqomah, dengan mengerjakan segala sesuatu dengan berjamaah maka hasilnya akan maksimal. Inilah pembelajaran moral bagi para generasi muda kita,” ungkapnya.

Haedar Nashir

Kegiatan ini dihadiri oleh sejumlah pengurus seperti Katib PCNU Kota Kraksaan KH Wasik Hannan, Ketua PCNU Kota Kraksaan H Nasrullah Ahmad Suja’i serta sejumlah pengurus lembaga dan badan otonom (banom) NU. (Syamsul Akbar/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pertandingan, Habib, Warta Haedar Nashir

Kamis, 16 Juni 2011

Sambut Berkah Ramadhan, Ansor Kencong Gelar Khitanan Massal

Banyuwangi, Haedar Nashir



Ansor Kencong, Banyuwangi melaksanakan kegiatan khitanan massal yang diperuntukkan bagi masyarakat kurang mampu dan anak yatim piatu, pada Sabtu (10/6) di kecamatan Umbulsari tepatnya di dusun Tegal Wangi. Tak kurang dari 115 anak terdaftar dalam kegiatan ini, yang tersebar dari seluruh wilayah Cabang Kencong. 

Sambut Berkah Ramadhan, Ansor Kencong Gelar Khitanan Massal (Sumber Gambar : Nu Online)
Sambut Berkah Ramadhan, Ansor Kencong Gelar Khitanan Massal (Sumber Gambar : Nu Online)

Sambut Berkah Ramadhan, Ansor Kencong Gelar Khitanan Massal

Kegiatan khitan massal ini dilaksanakan sebanyak 2 tahap. H Deny Prasetya selaku ketua pelaksana menjelaskan jika 115 anak dikhitan di satu waktu mungkin bisa memakan waktu dari pagi hingga pagi lagi. 

Sejak pukul 13.00 WIB, persiapan tempat sudah dilaksanakan oleh petugas masing masing, karena selain Ansor dan Banser, panitia juga menggandeng pondok pesantren di sekitar Cabang NU Kencong. 

“Jadi syiar dan kepanitiaan didesain sedemikian rupa sehingga santri dan anggota Ansor bisa berkolaborasi mensukseskan kegiatan ini,” kata Qomarul Huda.

Ketua PC GP Ansor Kencong Yasin Yusuf Ghozali menjelaskan, bulan Ramadhan merupakan bulan yang penuh berkah sehingga harus digunakan untuk berlomba-lomba dalam.kebaikan, salah satunya dengan berhidmad di Ansor dan Banser sekaligus melaksanakan misi sosial kemasyarakatan seperti khitanan massal ini. 

Haedar Nashir

Mas Yusuf, panggilan akrab ketua Ansor Kencong ini menambahkan kegiatan ini merupakan bukti nyata bahwa Ansor, Banser sangat peduli dengan masyarakat. 

“Kami dengan anggota memang telah mencanangkan beberapa kegiatan serupa di bulan yang akan datang, namun bukan lagi khitan massal, santunan anak yatim dan beasiswa bagi kaum duafa. Insyaallah dengan doa dan dukungan dari semua kalangan Ansor mampu menjawab problematika sosial di tataran Cabang Kencong,” tandas Yusuf mengakhiri sambutannya. Red: Mukafi Niam

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ubudiyah, Pertandingan Haedar Nashir

Kamis, 09 Juni 2011

Miras yang Dijual Bebas

Kepentingan bisnis dan kepentingan moral dan agama tak selalu berjalan seiring.  Bagi kalangan bisnis, keuntungan adalah tujuan nomor satu sedangkan hal lainnya, bukan urusannya. Selama sudah membayar kewajibannya membayar pajak –itupun kalau dibayar dengan benar-, hal lain bukan lagi urusannya. Berbeda dengan kepentingan moral dan agama yang mengutamakan nilai-nilai kebaikan masyarakat di atas kepentingan lain, termasuk keuntungan material. Idealnya dua kepentingan ini bisa berjalan beriringan, tetapi dunia memang tak selalu ideal.

Pertarungan kepentingan inilah yang saat ini sedang terjadi di DPRD Surabaya. Komisi B dalam rapatnya baru-baru ini menyetujui rancangan peraturan daerah (raperda) penjualan minuman keras atau minuman beralkohol dijual bebas di minimarket. Keputusan tersebut merupakan buah dari relaksasi Peraturan Kementerian Perdagangan Nomor 6/M-DAG/PER/1/2015 tentang Pelaksanaan Pengendalian Peredaran dan Penjualan Minuman Beralkohol Golongan A. Dalam peraturan lama, regulasi minuman keras diatur oleh pemerintah pusat. Peraturan baru memberi hak pemerintah daerah untuk mengatur peredaran miras ini.  

Miras yang Dijual Bebas (Sumber Gambar : Nu Online)
Miras yang Dijual Bebas (Sumber Gambar : Nu Online)

Miras yang Dijual Bebas

“Pertarungan” dalam pemasaran minuman keras ini memang “keras”. Saat Kementerian Perdagangan dipimpin oleh Rahmat Gobel, ia merevisi aturan sebelumnya yang membebaskan miras dijual di minimarket dengan alasan untuk menyelamatkan generasi muda.  Saat itu, miras dengan gampang dibeli siapa saja di minimarket, tak peduli anak belum cukup umur. Yang penting bisa membayar. Masyarakat pun menjadi resah. Kondisi inilah yang direspon oleh Rahmat Gobel dengan membuat aturan yang lebih ketat bahwa minuman keras hanya bisa dijual di lokasi tertentu yang tidak semua orang bisa menjangkaunya. Sayangnya ia menjadi salah satu menteri yang terkena resuffle. Menteri Perdagangan yang baru Thomas T Lembong kemudian melakukan revisi ulang aturan tersebut yang membuka pintu bagi daerah untuk mengatur tempat penjualan minuman keras pada pedagang eceran. Aturan baru ini mengambil momentum Paket Kebijakan Ekonomi yang dikeluarkan pada September 2015.

Bagi bangsa dengan keyakinan dan tradisi beragam, perubahan aturan ini terlihat benar. Ada daerah-daerah dengan mayoritas keyakinan non-Muslim atau tradisi yang memang sudah akrab dengan minuman keras. Sayangnya, para pengambil kebijakan dan pembuat aturan di DPRD tidak sepenuhnya bisa dipercaya akan membela kepentingan rakyat yang diwakili di atas kepentingan bisnis. Peluang pemanfaatan aturan ini terbuka lebar dengan kemungkinan adanya kongkalikong penguasa dan pebisnis. 

 

Haedar Nashir

Jika upaya yang dilakukan DPRD Surabaya ini berhasil, mungkin saja daerah lain segera menyusul. Apa yang terjadi di Surabaya ini merupakan bentuk dari uji coba perubahan peraturan. Para pebisnis minuman keras tentu akan berusaha memperluas pasarnya, seluas-luasnya. Masyarakat didorong untuk mengkonsumsi miras sebanyak-banyaknya. Dari situlah keuntungan mereka juga akan meningkat setinggi-tingginya. Tapi yang jadi korban adalah masyarakat. Warga NU dan masyarakat pada umumnya tentu saja menolak kebijakan ini demi kepentingan yang lebih besar. Apa yang dilarang oleh ajaran agama, pasti mengandung kebaikan. Dalam Islam, mabuk merupakan salah satu dosa besar, yang bisa mengarah pada dosa besar lainnya. Saat seseorang menjadi mabuk dan kehilangan akal, ia akan lebih mudah melakukan tindakan melanggar hukum lainnya. Salah satu bentuk penolakan ini disampaikan oleh Ikatan Pelajar NU Surabaya.

Keberadaan sebuah bisnis harus dilihat dampaknya dalam masyarakat. Para ekonom menyebutnya sebagai eksternalitas. Bisnis yang menimbulkan dampak negatif bagi publik (eksternalitas negatif) dan hanya memberi keuntungan kepada segelintir orang harus dicegah perkembangannya. Dalam hal ini, bisnis minuman beralkohol masuk kategori ini. Dampak buruk, baik kesehatan, kriminalitas atau nilai-nilai agama harus menjadi perhatian serius para pengambil kebijakan, bukan hanya kepentingan jangka pendek dan berupa keuntungan uang semata. 

Para pemangku kepentingan di Surabaya, termasuk didalamnya ulama, aktivis, pendidik, dan lainnya harus menentang kebijakan ini. Para anggota DPRD yang telah dipercaya oleh masyarakat untuk mewakili kepentingannya harus menjadi garda terdepan agar rancangan tersebut tidak menjadi peraturan daerah. (Mukafi Niam) 

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir

Haedar Nashir AlaSantri, Anti Hoax Haedar Nashir

Minggu, 05 Juni 2011

Pesantren Tebuireng Dirikan Pusat Kajian Pemikiran KHM Hasyim Asyari

Jombang, Haedar Nashir - Didorong keprihatinan melihat perkembangan situasi kebangsaan, Pesantren Tebuireng mendirikan Pusat Kajian Pemikiran KH Hasyim Asyari. Lahirnya pusat kajian yang bernaung di bawah Universitas Hasyim Asyari (Unhasy) ini juga dimaksudkan untuk melestarikan dan mengembangkan pemikiran pendiri Nahdlatul Ulama (NU) yang saat ini mulai dilupakan.

Pengasuh Pesantren Tebuireng KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah) mengungkapkan, sekitar 20 tahun lalu, ada tokoh NU yang menilai pemikiran KHM Hasyim Asyari telah kadaluarsa alias out of date dan dianggap terlalu sederhana. "Waktu itu saya menjawab, Mbah Hasyim membuat rumusan Ahlussunnah wal Jama’ah untuk konsumsi masyarakat. Jadi dibuat sangat sederhana, supaya mudah dipahami. Dan, alhamdulillah, itu mudah dipahami," ungkapnya saat meresmikan pendirian pusat kajian tersebut, Sabtu (5/2).

Pesantren Tebuireng Dirikan Pusat Kajian Pemikiran KHM Hasyim Asyari (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Tebuireng Dirikan Pusat Kajian Pemikiran KHM Hasyim Asyari (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Tebuireng Dirikan Pusat Kajian Pemikiran KHM Hasyim Asyari

Fakta bahwa pemikiran Mbah Hasyim mudah diterima, menurut Gus Sholah, dibuktikan dengan jumlah anggota NU yang sangat besar. "Jadi, dari segi ilmu komunikasi, rumusan yang sederhana itu justru suatu keunggulan," tegas kiai yang juga menjabat Rektor Unhasy Tebuireng itu.

Haedar Nashir

Jasa Mbah Hasyim yang mulai dilupakan, terutama terkait dengan proses memadukan keislaman dan keindonesiaan. Baik pada proses penyusunan rumusan dasar negara, pembentukan Kementerian Agama, hingga sinkronisasi pendidikan nasional dan pendidikan Islam. "Pak Wahid Hasyim yang berperan dalam proses-proses itu, adalah mewakili pemikiran Mbah Hasyim," ungkap salah satu putra KHA Wahid Hasyim ini.

Gus Sholah menambahkan, sikap NU sebagai ormas Islam pertama yang menerima Pancasila secara resmi pada 1984 juga bagian dari sentuhan dan jasa Mbah Hasyim. Sebab, sikap NU itu didasarkan pada dokumen tentang hubungan Islam dan Pancasila yang ditulis oleh KH Ahmad Siddiq, yang merupakan salah satu murid Mbah Hasyim.

Haedar Nashir

Lebih lanjut, Gus Sholah menuturkan bahwa proses akomodasi substansi syariah Islam ke dalam sejumlah UU, seperti UU Perkawinan dan UU Peradilan Agama, yang dipelopori oleh KH Bisri Syansuri dan KH Wahab Chasbullah, juga tidak bisa dilepaskan dari peran Mbah Hasyim. Sebab, keduanya juga murid beliau.

"Jadi, saya mengambil kesimpulan bahwa yang memadukan Islam dan Indonesia adalah Mbah Hasyim. Seandainya Kiai Ahmad Siddiq, Kiai Bisri Syansuri dan Kiai Wahab Chasbullah bukan murid Mbah Hasyim, mungkin akan lain ceritanya," tandasnya.

Perpaduan Islam dan Indonesia itu, menurut Gus Sholah, saat ini sedang ada yang coba merenggangkannya. "Kalau sampai upaya untuk melonggarkan sendi-sendi itu terjadi, saya khawatir bangsa kita akan mengalami lagi turbulensi," ungkapnya.

Untuk itulah, peresmian pusat kajian ini juga diisi dengan penyampaian Pesan Kebangsaan Pesantren Tebuireng. Dokumen berisi enam poin penting itu dibacakan langsung oleh Gus Sholah di akhir acara.

Hadir dalam acara tersebut, mantan Menteri Agama KH Tolchah Hasan, mantan Rektor UIN Jakarta Masykuri Abdillah. Juga Wakil Rektor Unhasy Haris Supratno dan Wakil Pengasuh Pesantren Tebuireng KH Abdul Hakim Mahfudz. (Ibnu Nawawi/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Halaqoh, Fragmen Haedar Nashir