Jumat, 03 September 2010

Idy: Saya Tak Bisa Bekerja Sendiri

Jakarta, Haedar Nashir. Ketua umum terpilih Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Idy Muzayyad meminta kepada seluruh kader IPNU untuk membantu mengembangkan organisasi kader NU. “Saya sebagai mandataris tidak bisa kerja sendirian. Makanya saya sebagai pengurus akan membentuk tim yang solid. Untuk itu konsolidasi organisasi dan pembinaan-pembinaan ke dalam akan terus diinternsifkan,” tuturnya kepada Haedar Nashir beberapa waktu lalu.

Dikatakannya upaya untuk memaksimalkan seluruh potensi IPNU, diluar struktur formal yang jumlahnya 33 orang, nanti akan dibentuk tim-tim ad hoc. Mereka akan menangani bidang-bidang khusus “Biar semuanya bisa bekerja dan mengekspresikan potensinya masing-masing,” tambahnya.

IPNU merupakan organisasi yang memiliki jaringan sangat luas sampai ke tingkat ranting atau desa. Berdasarkan hasil kongres lalu, terdapat 348 cabang dan 30 propinsi. Namun bukan berarti IPNU memiliki segalanya, jaringan dan SDM yang dimiliki perlu diberdayakan dengan membangun kemitraan stategis dengan fihak lainnya.

Idy: Saya Tak Bisa Bekerja Sendiri (Sumber Gambar : Nu Online)
Idy: Saya Tak Bisa Bekerja Sendiri (Sumber Gambar : Nu Online)

Idy: Saya Tak Bisa Bekerja Sendiri

?

“Kita kan punya kekuatan SDM dan jaringan ke bawah, tapi dengan itu saja kan kita belum mampu berjalan ke bawah. Makanya kita nantinya akan menjalin kemitraan dengan lembaga yang memiliki resources yang bisa disinergikan,” katanya.

Haedar Nashir

Salah satu kerjasama yang sudah berhasil digalang adalah pengawasan subsidi BBM untuk pendidikan dengan melibatkan sejumlah kader IPNU di beberapa daerah. Kerjasama ini sekaligus bisa dimanfaatkan untuk mengkonsolidasikan IPNU di seluruh cabang yang terlibat selain membantu pemerintah mengawasi subsidi BBM.

Namun, Mantan wartawan salah satu harian di Jogja tersebut mengingatkan bahwa kerjasama yang dijalin harus dalam bidang pendidikan dan pemberdayaan pelajar. “Semua kemitraan dengan fihak manapun harus mengacu pada hal ini. Kita sebagai obyek sekaligus subyek. Jadi IPNU kan organisasi kader, artinya pencetak generasi penerus, penerus NU, para ulama. Dalam lingkup bangsa kan penerus bangsa,” tegasnya. (mkf)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nahdlatul Haedar Nashir

Minggu, 29 Agustus 2010

PBNU Selenggarakan Lokakarya Pembinaan PTNU

Jakarta, Haedar Nashir. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU)  menggelar Lokakarya Pembinaan Perguruan Tinggi NU di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Kamis (2/8). Tema yang diambil, “Akselerasi Pengembangan Mutu dan Pembekalan Panduan Teknis bagi Perencanaan Perguruaan Tinggi (PT) NU ke depan”.

Lokakarya diikuti kurang lebih 200 utusan PTNU se-Indonesia, baik jajaran pimpinan PTNU yang sudah eksis maupun panitia pendirian PTNU baru. Turut hadir pula, jajaran PWNU terkait, PP Lajnah Pendidikan Tinggi NU (LPTNU), PP Lembaga Pendidikan Ma’arif NU, dan PP Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) NU.

PBNU Selenggarakan Lokakarya Pembinaan PTNU (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Selenggarakan Lokakarya Pembinaan PTNU (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Selenggarakan Lokakarya Pembinaan PTNU

Acara yang dibuka Waketum PBNU H As’ad Said Ali ini akan mendiskusikan berbagai hal seputar pendidikan tinggi, seperti penjaminan dan perbaikan mutu, manajemen sumber daya manusia, manajemen kewirausahaan, serta starategi dan perencanaan pndirian PTNU.

Haedar Nashir

Ketua panitia penyelenggara A Hanief Saha Ghafur mengatakan, kegiatan ini merupakan wujud silaturrahim nasional PT di lingkungan Nahdliyin. Tujuan utamanya, memperkuat pembinaan manajemen mutu dan kewirausahaan PTNU yang sudah ada, serta mengembangkan kapasitas dan panduan teknis bagi panitia pendirian PTNU baru dalam menyusun perencanaan ke depan.

Menurutnya, perguruan tinggi ke depan dihadapkan kepada berbagai tantangan dari berbagai arah, dari persoalan mutu akademik, kelangkaan sumberdaya, mengecilnya peluang sumber dana, persaingan ketat, manajemen dan tata kelola yang belum mapan.

Haedar Nashir

“Pengelola perguruan tinggi dituntut menemukan strategi baru dan jalan alternative untuk keluar dari krisis yang mendera,” pintanya.

Redaktur : A. Khoirul Anam

Penulis     : Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Tokoh Haedar Nashir

Minggu, 22 Agustus 2010

Hadirilah, Peluncuran Buku "Fragmen Sejarah NU"

Jakarta, Haedar Nashir. NU lahir sebelum republik ini lahir, yaitu tahun 1926. Selama sembilan puluh satu tahun berdiri, tentu NU banyak mewarnai perkembangan republik ini; baik sebelum kemerdekaan, masa Orde Lama, Order Baru, bahkan masa Reformasi. Maka tak heran jika banyak buku-buku yang membahas tentang sejarah dan kiprah NU.?

Salah satu buku baru yang membahas tentang sejarah NU akan diluncurkan pada Kamis, (16/3) di Museum Kebangkitan Nasional Jakarta. Buku berjudul Fragmen Sejarah NU yang diterbitkan oleh Pustaka Compass tersebut ditulis oleh Abdul Munin DZ, seorang intelektual NU dan juga pernah menjabat sebagai Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama.?

Hadirilah, Peluncuran Buku Fragmen Sejarah NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Hadirilah, Peluncuran Buku Fragmen Sejarah NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Hadirilah, Peluncuran Buku "Fragmen Sejarah NU"

Peluncuran buku tersebut akan mengundang beberapa tokoh seperti KH Asad Said Ali, Purwo Santoso, Hj. Khofifah Indar Parawansa, H. Choirul Anam, Hanif Dhakiri, Yaqut Cholil Qoumas, KH Mashum Mahfudz, KH Masyhuri Malik, A.S Hikam, H Enceng Sobirin, Ahmad Muqowwam, H Mulawrman, Zastrouw Al-Ngatawi, Jazilul Fawaid, Ahmad Baso, dan lainnya.

Rencananya, ada beberapa narasumber yang akan mengisi acara tersebut, termasuk di antaranya adalah Meneri Ketenagakerjaan Republik Indonesia Hanif Dhakiri. Acara peluncuran buku ini terbuka untuk umum. (Muchlishon Rochmat/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir

Haedar Nashir

Haedar Nashir Bahtsul Masail, Hikmah Haedar Nashir

Jumat, 20 Agustus 2010

IPNU Didorong Lakukan Penyiapan Internal dan Kesiapan Mental

Bandung, Haedar Nashir. Isu radikalisme masih terus berlangsung mengemuka di jagat Indonesia, khususnya di dunia pelajar. Begitupun narkoba yang marak disalahgunakan oleh pelajar Indonesia. Hal tersebut mendesak Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) untuk segera menyikapi dan melakukan langkah kongkrit bersama di seluruh tingkatan pimpinan.

“Ada sesuatu yang mendesak yang harus kita sikapi bersama berkaitan dengan isu-isu terkini yang berkaitan dengan dunia kepelajaran sebagaimana segmen garapan IPNU,” kata Ketua Umum Pimpinan Pusat IPNU Asep Irfan Mujahid dalam sambutannya saat pembukaan Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) 2017 IPNU di Grand Hotel Asrilia,  Bandung, Sabtu (18/11).

IPNU Didorong Lakukan Penyiapan Internal dan Kesiapan Mental (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU Didorong Lakukan Penyiapan Internal dan Kesiapan Mental (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU Didorong Lakukan Penyiapan Internal dan Kesiapan Mental

“Tidak ada pilihan lain kecuali kita segera berkumpul mengkosolidir diri menyatukan gagasan bagaimana merespons berbagai hal tersebut,” lanjutnya.

Sementara itu, Ketua Presidium Majelis Alumni IPNU Hilmi Muhammadiyah menyampaikan, bahwa tujuan berkumpulnya perwakilan dari setiap wilayah dalam agenda Rapimnas tidak lain guna mempererteguh komitmen terhadap NKRI dan Islam Ahlussunnah wal Jamaah.

“Memperkuat komitmen terhadap NKRI dan menjaga pengamalan agama Islam tetap pada haluannya,” katanya.

Sementara itu, Deputi II Bidang Kepemudaan Kementerian Pemuda dan Olahraga Asrorun Niam Soleh menyampaikan, bahwa selain dua isu di atas, ada yang lebih penting bagi IPNU, yakni penyiapan internal dan mental.

Haedar Nashir

“Tantangan bersifat luar, mulai kontestasi ideologi dan sejenisnya. Tetapi, pada saat yang lain ada tantangan yang membutuhkan penyiapan internal dan kesiapan mental kita,” katanya.

Menurutnya, saat ini hal-hal yang bersifat ritus dan formal dalam organisasi dan pembelajaran tidak lagi menjadi hal yang terpenting. Lebih penting dari itu, menurutnya, melakukan hal-hal yang bersifat substansial.

“Tren sekarang tidak lagi mengedepankan prinsip-prinsip formalisme di dalam konsolidasi, termasuk juga dalam transmisi ilmu pengetahuan. Sampai kemudian brain washing terjadi itu tidak melalui ruang-ruang yang bersifat formal. Karenanya, sebagai kids zaman now, menjadi penting melakukan adaptasi di tengah perubahan sosial saat ini,” kata Sekretaris Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia itu.

“Pendekatan substansialis jauh lebih penting daripada pendekatan formalisme semata,” lanjutnya.

Haedar Nashir

Lebih jauh, pendekatan substansialis yang Mas Niam, begitu ia akrab disapa, sampaikan adalah tentang penyampaian empat prinsip dasar Nahdlatul Ulama bagaimana bisa diterima oleh pelajar.

“Bagaimana menerjemahkan tasamuh, tawazun, tawasuth, i’tidal tanpa tathorruf, tanpa perlu berlebihan” ungkapnya.

IPNU, menurutnya harus fokus pada hal-hal bersifatsubjektif kepelajaran. Tidak harus terbawa arus sehingga membuatnya tenggelam. “IPNU hadir untuk menjawab tantangan zamannya dengan target grup khusus,” tegas Katib Syuriah PBNU itu.

Rapimnas 2017 IPNU dibuka secara simbolis dengan memainkan angklung oleh Deputi II Kemenpora Asrorun Niam Soleh, Ketua Presidium Majelis Alumni IPNU Hilmi Muhammadiyah, dan Ketua Umum IPNU Asep Irfan Mujahid. (Syakirnf/Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Tegal, Daerah Haedar Nashir

Jumat, 13 Agustus 2010

Masyarakat Cari Caleg Bertanggung Jawab

Jakarta, Haedar Nashir. Masyarakat Indonesia kini tengah mencari calon legislatif (caleg) yang amanah dan bertanggung jawab terhadap tugas-tugasnya sebagai wakil rakyat. Masyarakat sudah letih dengan kinerja wakil rakyat yang jauh dari harapan.

Demikian dikatakan oleh Katib Am PBNU KH Malik Madani ketika dihubungi Haedar Nashir, Selasa (7/5) siang.

Masyarakat Cari Caleg Bertanggung Jawab (Sumber Gambar : Nu Online)
Masyarakat Cari Caleg Bertanggung Jawab (Sumber Gambar : Nu Online)

Masyarakat Cari Caleg Bertanggung Jawab

“Kita mengharapkan warga negara yang ingin mencalonkan diri nanti memiliki komitmen dan kesadaran tanggung jawab yang tinggi dalam menjalankan tugas dan amanah yang dibebankan kepadanya,” tegas KH Malik Madani.

Haedar Nashir

Tanggung jawab dan amanah itu, lanjut KH Malik Madani, merupakan satu masail yang dibahas dalam Sidang Komisi Bahtsul Masail Diniyyah Al-Waqi‘Iyyah pada Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama, Munas dan Konbes NU di Pesantren Kempek Cirebon, Jawa Barat, September 2012 lalu.

Haedar Nashir

Komitmen caleg, sambung KH Malik, sering dipertanyakan warga. Lewat aneka media yang berkembang, warga Indonesia lebih mudah memantau calegnya setelah terpilih. Namun, mereka kerap kali dikecewakan wakilnya yang kerap mungkir dari janji yang diumbar saat masa kampanye.

Masalah ini dinilai penting sehingga NU memasukkannya dalam draf pembahasan dengan tajuk “Memilih Calon”. Pembahasan ini bagian dari kontribusi NU dalam mengawal aturan pemilihan wakil rakyat yang berlaku, kata KH Malik Madani. 

Putusan Munas dan Konbes NU itu hanya bersifat seruan moral. NU tidak punya hak untuk melarang warga negara yang memenuhi persyaratan teknis untuk mencalonkan diri. Karena, pencalonan itu menjadi hak warga negara, tambah Kiai Malik.

Selebihnya, NU menyerahkan kepada KPU dan partai yang bersangkutan untuk menyeleksi bakal calon legislatif baik secara prosedur maupun integritas. Masyarakat pun tentunya harus mencermati benar calon legislatif yang akan mewakili aspirasi mereka, tandas KH Malik.

Penulis: Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Syariah, Daerah Haedar Nashir

Gadis Palestina Pecahkan Rekor Dokter Termuda Dunia

Jakarta, Haedar Nashir. Eqbal Mahmoud, seorang gadis asal Palestina tercatat memecahkan rekor Guinnness Book sebagai dokter termuda di dunia. Eqbal yang belum genap berusia 20 tahun itu telah menyandang gelar dokter dari Weill Cornell Medical College di Qatar, yang merupakan salah satu perguruan tinggi kedokteran terbaik di dunia.

Ini adalah rekor kedua yang dipecahkan oleh Eqbal. Sebelumnya, gadis manis ini memecahkan rekor sebagai mahasiswi termuda di dunia, di mana ia masuk ke bangku fakultas kedokteran di Weill Cornell Medical College di Qatar ketika masih berusia 13 tahun.

Gadis Palestina Pecahkan Rekor Dokter Termuda Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)
Gadis Palestina Pecahkan Rekor Dokter Termuda Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)

Gadis Palestina Pecahkan Rekor Dokter Termuda Dunia

Apa rencana Eqbal setelah ia lulus dan menjadi dokter lulusan salah satu perguruan tinggi kedokteran bergengsi di dunia itu? Apakah ia akan melanjutkan kehidupannya di Qatar yang bergelimpang kemakmuran?

Haedar Nashir

Tidak, ternyata. Eqbal mengatakan ia akan kembali dan pulang ke kampung halamannya di Palestina meskipun kondisi tanah airnya sedang dilanda konflik berkepanjangan. 

"Sekarang sudah tiba saatnya untuk memulai perjuangan dengan nyata. Saya akan kembali pulang ke negara saya. Saya akan pulang membawa ilmu dan prestasi, bukan membawa senjata," kata Eqbal sebagaimana dilansir surat kabar al-Arab (25/5). 

Haedar Nashir

Dikatakan Eqbal, selain nanti akan menjadi dokter di kampung halamannya, ia juga ingin menjadi tenaga pendidik bagi anak-anak di sana. 

"Saya tidak meminta sesuatu, tetapi saya harus berbuat dan memberi sesuatu," kata Eqbal.

Ditambahkannya, salah satu mimpi besarnya adalah membantu anak-anak Palestina untuk mendapatkan pendidikan, ilmu pengetahuan dan layanan kesehatan yang layak.

Eqbal juga memiliki rencana lain untuk melanjutkan jenjang pendidikannya ke tingkat yang lebih tinggi. Rencananya, Eqbal hendak melanjutkan program spesialis dokter anak.

Penulis; Ahmad Syifa

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Sejarah, Nasional Haedar Nashir

Sabtu, 31 Juli 2010

KH Ahmad Sufyan: Entaskan Kemiskinan dengan Cara Sederhana

Situbondo, Haedar Nashir. Nahdlatul Ulama (NU) dan pondok pesantren merupakan alat perjuangan para kiai untuk mewujudkan kehidupan masyarakat yang sejahtera dan kebahagiaan yang abadi. Karena itu NU dan pesantren harus tetap dalam genggaman para ulama.

Adalah sebuah bencana besar jika NU tidak lagi menjadi tempat para ulama. Demikian penuturan KH Ahmad Sufyan, Rais Syuriah PCNU Situbondo saat menerima silaturahmi rombongan Lajnah Ta’lif wan Nasyr Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LTN PBNU).

KH Ahmad Sufyan: Entaskan Kemiskinan dengan Cara Sederhana (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Ahmad Sufyan: Entaskan Kemiskinan dengan Cara Sederhana (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Ahmad Sufyan: Entaskan Kemiskinan dengan Cara Sederhana

Kehadiran LTN PBNU ini didampingi beberapa Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kab. Situbondo, di sela-sela acara Pelatihan Manajemen Baitul Mal wat Tamwil (BMT) kerjasama Pengurus Besar Nahdlatul Ulama dengan Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal.

Haedar Nashir

Kiai Sufyan menambahkan bahwa salah satu ciri masyarakat pesantren adalah pola komunikasi dan strategi yang dibangun secara sederhana dan ringkas. Idealnya Nahdlatul Ulama pun mempertahankan pola tersebut dan tidak terbawa arus budaya yang berkembang di luar pondok pesantren.

“Kalau masalahnya sederhana, ya selesaikan dengan cara yang sederhana. Tidak perlu memperumit pembahasan atas masalah yang hakikinya sederhana,” papar kiai kharismatik ujung timur Pulau Jawa itu.

Haedar Nashir

Kiai Sufyan lantas mencontohkan satu kasus tentang program pengentasan kemiskinan di Indonesia. Menurut beliau perlu diidentifikasi dengan benar dan akurat kategori “orang miskin” sebagai obyek, proses “pengentasan kemiskinan” sebagai pola dan “orang yang mengentaskan” sebagai subyek.

“Faktanya yang dientaskan dari kemiskinan itu lebih sedikit dari yang mengentaskan kemiskinan. Jadinya malah ruwet padahal persoalannya sederhana,” paparnya menjelang pengajian rutin lailatul ijtima yang diselenggarakan setiap Senin malam.

Kiai Sufyan juga mengatakan bahwa PCNU Situbondo saat ini sedang memersiapkan diri menyelenggarakan konferensi cabang yang direncanakan berlangsung akhir Desember 2010.

“Situbondo sebentar lagi menyelenggarakan Konferensi Cabang. NU harus dijaga agar tetap menjadi tempat para ulama,” jelasnya kepada Haedar Nashir.. Sementara itu Ahmad Nur, Ketua Lakpesdam NU Kab. Situbondo menjelaskan bahwa dalam usia yang cukup lanjut, tidak berkurang keaktifan Kiai Sufyan dalam berpikir dan bertindak untuk kemaslahatan nahdliyyin.

“Anda bisa bayangkan, di setiap Senin malam beliau selalu terlihat energik menggelar pengajian interaktif, terjadi diskusi, karena itu pengajian berjalan cukup dinamis dan tidak membosankan,” kata alumnus Universitas Gadjah Mada Yogyakarta itu. (bil)Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir RMI NU, Halaqoh Haedar Nashir