Rabu, 04 Januari 2012

Santri Pesantren Annajyiah Bahrul Ulum Belajar Jurnalistik

Jombang, Haedar Nashir. “Pak, kalau sudah bisa nulis berita apakah harus jadi wartawan media? celetuk santri perempuan pesantren Annajiah Bahrul Ulum Tambakberas Jombang saat mengikuti diklat jurnalistik santri beberapa waktu lalu.

Santri Pesantren Annajyiah Bahrul Ulum Belajar Jurnalistik (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Pesantren Annajyiah Bahrul Ulum Belajar Jurnalistik (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Pesantren Annajyiah Bahrul Ulum Belajar Jurnalistik

Kegiatan diklat jurnalistik dikalangan santri pesantren Bahrul Ulum Tambakberas bukan hal baru, hampir setiap tahun dilakukan. Baik untuk kalangan santri maupun pelajar di lingkungan madrasah yang ada di pesantren KH Wahab Hasbullah ini.

”Setiap tahun santriwati memiliki agenda kegiatan pelatihan, termasuk jurnalistik seperti ini,” ujar Dewi Widya Sari ketua pelaksana kegiatan yang juga santri senior di Annajiah ini menceritakan.

Haedar Nashir

Diklat jurnalistik tahun ini dikatakannya diperuntukkkan bagi santri kelas 1 dan II setingkat Madrasah Aliah. “Mereka diharapkan bias mengisi dan mengelola majalah yang dimiliki pesantren. Karena sekarang majalah yang pernah diterbitkan sekarang rencananya akan kembali diterbitkan lagi,” tandasnya, majalah pesantren Annajiah bahrul Ulum diterbitkan bersama mahasiswa Stikes dan pelajar SMK dibawah naungan Annajiah.

Pesantren Bahrul Ulum juga pernah memiliki Majalah dengan nama Ka’bah, yang terbit setiap satu tahun sekali. Sedangkan beberapa unit lembaga pendidikan juga memiliki Majalah tersendiri, Seperti Madrasah Mu’alimin Mu’alimat Atas (MMA) enam tahun menerbitkan majalah atau bulletin tahunan dengan Kharisma, begitu juga dengan MAN juga menerbitkan Majalah tahunan. Bahkan kedua lembaga ini kini juga memiliki web site www.mualliminenamtahun.net dan www.mantambakberas.com.

Haedar Nashir

Sementara itu, Haedar Nashir yang diminta memberikan materi Jurnalistik Dasar untuk menulis karya jurnalistik seseorang tidak harus menjadi wartawan. Karena karya jurnalistik bisa dipublikasikan diberbagai media. 

“Dan banyak orang bisa dengan mudah membuat beritanya sendiri lalu menyebarluaskannya di berbagai jejaring sosial dunia maya. Entah lewat blog atau di berbagai situs jejaring sosial seperti Facebook atau Youtube,” beber Ramadlan mengatakan.

Untuk publikasi, lanjutnya sesorang tidak perlu menunggu waktu lama agar tulisannya bisa dimuat dalam media cetak arus utama, saat ini, seseorang sudah bisa memublikasikan tulisannya secara independen. Semangat kemandirian yang difasilitasi dengan sangat baik oleh jaringan internet.

Jika tulisan-tulisan itu cukup kuat, maka peran pembentukan opini pun dapat pula direngkuhnya. Media jenis ini disebut sebagai “new media.” Kemudian melahirkan pula apa yang dikenal saat ini dengan konsep “citizen journalism” atau pewarta warga yang biasa dikirim seorang pada media media cetak maupun online.

"Dan banyak media menyediakan kolom untuk karya seperti ini," tandasnya. 

Dikatakannya, media kini terbagi menjadi beberpa macam, meliputi jurnalistik cetak (print journalism), elektronik (electronic journalism). Akhir-akhir ini juga telah berkembang jurnalistik secara tersambung (online journalism).’ Seperti Haedar Nashir, dan yang lainnya,” pungkasnya.

Redaktur: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Hadits, Makam Haedar Nashir

Minggu, 25 Desember 2011

Pesantren Kurang Perhatian Pada Karya Beraksara Pegon dan Jawi

Tangsel, Haedar Nashir - Kitab-kitab ulama Nusantara yang berbahasa Jawi, Sunda, ataupun Jawa kurang begitu mendapatkan tempat dan tidak banyak dikaji di pesantren-pesantren di Indonesia. Padahal, kitab-kitab seperti Majmuk karangan Syekh Soleh Darat dan Tafsir Al-Ibriz karya KH Bisri Mustafa adalah dua di antara karya penting ulama Nusantara yang ditulis menggunakan aksara Pegon.

Hal itu disampaikan Syafiq Hasyim saat menjadi narasumber dalam acara Peluncuran dan Bedah Buku Mahakarya Islam Nusantara: Kitab, Naskah, Manuskrip, dan Korespondensi Ulama Nusantara karya A Ginanjar Sya’ban di Aula Madya UIN Jakarta Ciputat Tangerang Selatan, Rabu (24/5).

Pesantren Kurang Perhatian Pada Karya Beraksara Pegon dan Jawi (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Kurang Perhatian Pada Karya Beraksara Pegon dan Jawi (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Kurang Perhatian Pada Karya Beraksara Pegon dan Jawi

Syafiq yang juga dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini menyesalkan hal tersebut bisa terjadi di Indonesia. Padahal, di Thailand Selatan karya-karya ulama Nusantara yang beraksara Jawi diajarkan dan dikaji di pondok-pondok. Bahkan, di dunia akademisi Indonesia, karya-karya beraksara Jawi tersebut kurang begitu mendapatkan perhatian.

“Di Thailand Selatan, kitab-kitab yang beraksara Jawi masih dibaca di pesantren-pesantren,” jelas Syafiq.

Haedar Nashir

“Ini mengorbankan mahakarya kita sendiri,” lanjutnya.

Haedar Nashir

Jika di Indonesia, imbuh Syafiq, biasanya yang membaca karya-karya tersebut adalah kiai-kiai yang ada di desa dan para orientalis. “Kiai-kiai di desa membacanya untuk orang-orang awam. Dan orientalis sebagai bahan penelitian,” urainya.

Dosen yang pernah menjadi Rais Syuriyah PCINU Jerman itu menduga, alasan kitab beraksara Jawi tidak diajarkan di pesantren-pesantren adalah agar santri bisa mempraktikkan ilmu-ilmu alat yang dipelajarinya seperti nahwu, sharaf, dan lainnya.

“Mungkin alasannya agar santri bisa membaca kitab kuning gundul dengan mempraktikkan ilmu nahwu, sharaf,” tandasnya. (Muchlishon Rochmat/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Doa Haedar Nashir

Pemimpin Agung Iran Dipilih dengan Metode Ahlul Halli

Jakarta, Haedar Nashir. Pemimpin Agung Iran yang disebut wilayatul fakih yang memiliki otoritas tertinggi agama dan politik di Iran dipilih melalui mekanisme ahlul halli wal aqdi.?

Pemimpin Agung ini memiliki kekuasaan yang lebih tinggi daripada presiden karena berhak menunjuk kepala militer, pemerintah sipil dan yudikatif. Sebelumnya yang berhak menduduki jabatan wali fakih hanya marja-e taqlid, peringkat tertinggi ulama dan otoritas pada hukum agama dalam ushul Islam Syiah. Pada 1989 konstitusi merubah ketentuan tersebut dan hanya mensyaratkan "cendekiawan" Islam.

Pemimpin Agung Iran Dipilih dengan Metode Ahlul Halli (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemimpin Agung Iran Dipilih dengan Metode Ahlul Halli (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemimpin Agung Iran Dipilih dengan Metode Ahlul Halli

Hafidz Alkaf dari Islamic Cultural Center (ICC), pusat kebudayaan Iran di Jakarta yang ditemui Haedar Nashir menjelaskan kalau berbicara syiah sebagai mazhab, tidak ada mekanisme memilih pemimpin. Ulama muncul karena kealimannya dan kemudian diterima oleh ulama yang lain yang kemudian diterima publik secara luas.

Haedar Nashir

Tetapi jika merujuk pada Iran sebagai sebuah negara yang dipimpin oleh seorang ulama dengan gelar wali fakih, mekanismenya ada dua. Pertama diterima masyarakat tanpa melalui prosedural. Masyarakat mendukung, para ulama mendukung, tiba-tiba muncul sebagai ulama nomor satu. Memang tidak sembarangan karena ia ulama besar seperti Imam Khomeini.?

Haedar Nashir

Mekanisme kedua adalah ahlul halli wal aqdi sebagaimana yang berlaku saat ini dalam pemilihan Ayatullah Ali Khamenei. Pemimpin Agung tersebut dipilih oleh Majles-e Khobregan atau Dewan Ahli yang terdiri dari sekitar 70-80 ulama kaliber mujtahid yang terdiri dari golongan sunni maupun syiah.?

“Dan setelah dipilih tidak ada masa jabatan tertentu. Selagi orang ini layak, maka terus pemimpin. Setiap tiga bulan sekali, mereka mengadakan rapat untuk mengevaluasi kinerja wali fakih, apakah masih layak apa tidak,” katanya.

Selama dua puluh lima tahun kepemimpinan Ali Khamenei, sidang selalu menghasilkan keputusan ia masih layak memimpin. Dari fisiknya, kesehatannya, ataupun dari sisi bahwa dia berada di jalan yang benar, tidak keluar dari jalur revolusi Islam. Sampai saat ini ia masih tetap zuhud dan wara’.?

“Ketika syarat-syarat itu sudah tidak ada, maka dipilih orang baru,” tandasnya.?

Lalu bagaimana mekanisme pemilihan Dewan Ahli? Hafidz Alkaf menjelaskan mereka dipilih melalui mekanisme pemilu yang dibagi per daerah pemilihan (dapil). Ulama-ulama dalam satu dapil yang memenuhi syarat diizinkan mencalonkan diri, lalu masyarakat nantinya akan memilih. Mereka yang terpilih akan menduduki jabatannya selama delapan tahun.?

Ia menjelaskan, mekanisme pertama seperti kemunculan Ayatullah Khomeini baik karena muncul dari akar rumput sehingga dukungan ke atas lebih kuat.?

“Cuma, masalahnya dari akar rumput kadang kita tidak tahu ada permainan apa tidak, lebih banyak menyita waktu dan dana. Juga cenderung rawan konflik,” tandasnya.?

Sementara itu kalau melalui mekanisme ahlul halli, kemungkinan terjadinya konflik bisa ditekan, dana bisa di tekan, energi bisa ditekan karena yang terkuras pikirannya hanya orang-orang tertentu saja.?

“Dampak buruknya, apakah orang-orang ahlul halli ini bisa dipertanggungjawabkan apa tidak. Kedua, sangat mungkin terjadi politik uang, karena orang yang berkepentingan, dia hanya perlu bernegosiasi dengan orang yang terbatas. Kalau akar rumput kan sulit.”

Ia menambahkan kemungkinan buruk lainnya, pilihan ahlul halli ternyata tidak disetujui akar rumput ada potensi terjadinya penentangan dari akar rumput terbuka.?

“Dua-duanya ada sisi baik dan buruknya,” katanya.?

Sementara itu, kalau berbicara organisasi keagamaan dalam lingkungan syiah, banyak organisasi seperti NU, misalnya ada Jamiatul Mudarisin yang terdiri dari para guru-guru pesantren. Mereka punya persatuan kerena anggotanya para ulama, akhirnya punya kekuatan di kalangan masyarakat sehingga pandangan politik mereka juga dipertimbangkan.?

“Masyarakat Iran kan relatif religius sehingga apa yang dikatakan ulama diikuti, apalagi ini bukan satu ulama. Satu kelompok besar ulama.”

Mekanisme kepemimpinan mereka dipilih oleh para anggota sendiri. “Mirip dengan yang dilakukan oleh NU sekarang, dari perwakilan wilayah dan cabang datang untuk memilih orang yang dianggap layak memilih pemimpin,” imbuhnya. (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Hadits, Nahdlatul Ulama Haedar Nashir

Jumat, 16 Desember 2011

Ansor NTB Siapkan Sejumlah Kegiatan Pra-Konferwil

Mataram, Haedar Nashir. Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Nusa Tenggara Barat (NTB) tengah mempersiapkan beberapa agenda menjelang diselenggarakannya Konfrensi Wilayah (Konferwil) VIII di Pulau Lombok, 10-20 April mendatang.

Ansor NTB Siapkan Sejumlah Kegiatan Pra-Konferwil (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor NTB Siapkan Sejumlah Kegiatan Pra-Konferwil (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor NTB Siapkan Sejumlah Kegiatan Pra-Konferwil

“Konfrensi kali ini dikemas dengan beberapa agenda penting yang menyakut tentang keberadaan organisasi dan mamfaat bagi masyarkat umum,” kata ketua panitia, Ismul Basar, usai rapat panitia, Jumat (13/3), di Mataram.

Agenda-agenda tersebut antara lain “Gerakan Pesantren Hijau” dan “Pengobatan Gratis” yang akan dipusatkan di Kabupaten Lombok Utara dan Kabupaten Lombok timur.

Haedar Nashir

Selain itu, kaderisasi juga sedang digencarkan, di antaranya Kursus Banser Lanjutan (Susbalan) yang akan berpusat di Kabupaten Lombok Utara dan Pelatihan Kepemimpinan Lanjut (PKL) di Pondok Pesantren Abhariah Jerneng Kabupaten Lombok Barat.

PW GP Ansor NTB menjadwalkan pula acara diskusi publik bertajuk “Talk Show Teologi Islam dan Peluralisme”. Konferwil VIII GP Ansor NTB rencananya berlangsung di Kota Mataram, ibu kota NTB. (Hadi/Mahbib)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Daerah, Budaya Haedar Nashir

Sabtu, 26 November 2011

Lembaga Kajian Strategis Bangsa Bahas Kesalehan Nasional dan Ramadhan

Jakarta, Haedar Nashir - Lembaga Kajian Strategis Bangsa (LKSB) menggelar diskusi yang menautkan semangat kebangsaan dan Ramadhan di Gedung PBNU, Jakarta, Jumat (17/6) sore. Bersama sejumlah narasumber lembaga ini mencoba melihat perubahan-perubahan masyarakat di dalam dan di luar Ramadhan.

Direktur LKSB Abdul Ghafur yang membuka diskusi ini mengajak peserta diskusi untuk mensyukuri persatuan dan kesatuan negara Indonesia. Karena dalam sejarah pendirian republik ini, menurutnya, tidak bisa dipisahkan dari bulan Ramadhan seperti hari-hari menjelang proklamasi.

Lembaga Kajian Strategis Bangsa Bahas Kesalehan Nasional dan Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)
Lembaga Kajian Strategis Bangsa Bahas Kesalehan Nasional dan Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)

Lembaga Kajian Strategis Bangsa Bahas Kesalehan Nasional dan Ramadhan

“Karenanya Ramadhan bukan alasan bermalas-malasan. Tetapi Ramadhan membangun semangat kita,” kata Ghafur membuka diskusi.

Ia mengamati perubahan signifikan masyarakat Indonesia. Di bulan Ramadhan, masyarakat bisa menjadi saleh, cerdas spiritual, bahkan kepedulian sesama yang luar biasa. “Tetapi kenapa ketika di luar Ramadhan, kita meninggalkan nilai positif yang melekat pada diri kita saat Ramadhan?”

Haedar Nashir

Ia berharap kekuatan spiritual di bulan Ramadhan ini tetap hadir sepanjang tuhan di luar Ramadhan.

Haedar Nashir

Sementara Jenderal A Yani Basuki yang kini aktif di Lembaga Sensor Film menyoroti hadits keutamaan berpuasa. Menurutnya, puasa yang bermutu dapat mengantarkan mereka yang mengamalkannya sebagai manusia berkualitas.

Tampak hadir narasumber lainnya Wakil Ketua LKKNU Luluk Nurhamidah, Kiai Kusein Alcepu, dan rektor salah satu kampus Islam di Jakarta. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Syariah, Budaya, Nahdlatul Ulama Haedar Nashir

Kamis, 17 November 2011

Diklatama Pelajar NU Bondowoso Usung Kepedulian Lingkungan

Bondowoso, Haedar Nashir

Dewan Koordinasi Cabang (DKC) Corps Brigade Pembangunan (CBP) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Korps Pelajar Putri (KPP) Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kabupaten Bondowoso menyelenggarakan Pendidikan dan Latihan Pertama (Diklatama) selama tiga hari, 12-14 Februari 2016.

Diklatama Pelajar NU Bondowoso Usung Kepedulian Lingkungan (Sumber Gambar : Nu Online)
Diklatama Pelajar NU Bondowoso Usung Kepedulian Lingkungan (Sumber Gambar : Nu Online)

Diklatama Pelajar NU Bondowoso Usung Kepedulian Lingkungan

Kegiatan yang melibatkan kader anak cabang IPNU-IPPNU se-Kabupaten Bondowoso itu berlangsung di Aula MWCNU Cermee, Kecamatan Cermee, Kabupaten Bondowoso, dengan tema “Pelajar Berkarakter Kebangsaan, Peduli Lingkungan dan Berjiwa Kemanusiaan"

Marsudi, pejabat pemerintahan Kecamatan Cermee yang mewakili camat setempat mengaku bangga dan mendukung acara Diklatama ini. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi sarana mendidik mental generasi muda.

Haedar Nashir

“Di samping mendidik mental juga mendidik akhlak, nah itu memang yang diharapkan oleh bangsa ini, di mana ke depannya bangsa ini harus mempunyai karekter atau jiwa yang berakhlak mulia, saya kira begitu," ucapnya seraya berharap, agenda serupa bisa berlanjut ke tempat-tempat yang lain.

Sementara Aiptu Hadi Sugono dari Polsek Cermee menyambut positif acara ini. Menurutnya, Diklatama mampu mendidik para pemuda-pemudi agar lebih mamahami kehidupan atau situasi bencana, keamanan, narkoba, dan radikalisme.

Haedar Nashir

"Saya sangat berterima kasih kepada ormas NU ini dengan diadakan diklatama ini untuk menangkal kenakalan remaja, agar tidak terkena masalah hukum, terpengaruh globalisasi dan masih banyak yang lain," kata dia.

Diklatama dibuka Jumat lalu dan diikuti kurang lebih 30 peserta dari Dewan Koordinasi Anak Cabang (DKAC) CBP IPNU- KPP IPPNU Bondowoso. Turut hadir dalam acara pembukaan M Ainul Narjib dari Dewan Koordinasi Wilayah (DKW) CBP IPNU Jawa Timur, Iva Navulani dari DKW KPP IPPNU Jawa Timur, Ketua Tanfidiziah MWCNU Cermee H Mannan, Koramil Cermee Sugiaanto, Ketua PC IPNU Bondowoso Ahmad Juhadi, dan Ketua IPPNU Bondowoso Robiatul Adawiyah. (Ade Nurwahyudi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Habib, Daerah Haedar Nashir

Minggu, 30 Oktober 2011

Mahasiswa Thariqah Gelar Serangkaian Kegiatan di Malang

Malang, Haedar Nashir. Mahasiswa Ahlith Thariqah Al Mu’tabarah An Nahdliyyah atau MATAN Cabang Kota Malang menggelar serangkaian kegiatan dengan bertajuk “MATAN untuk bangsa”.

Kegiatan tersebut berisi rangkaian roadshow seminar, diskusi, dan sowan ke habaib dan masyayikh Kota Malang dengan bertujuan untuk memperkenalkan MATAN ke publik Kota Malang, terutama civitas akademika kampus dan para tokoh ulama di kota Malang.?

Mahasiswa Thariqah Gelar Serangkaian Kegiatan di Malang (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahasiswa Thariqah Gelar Serangkaian Kegiatan di Malang (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahasiswa Thariqah Gelar Serangkaian Kegiatan di Malang

Kegiatan tersebut juga merupakan langkah awal organisasi mahasiswa di bawah naungan Jamiyyah? Ahlith Thariqah Al Mu’tabarah An Nahdliyyahjamiyyah atau organisasi tarekat tarekat NU itu untuk mengubah pola pikir generasi muda khususnya yang kapitalistik, pragmatis, hedonis, dan transaksional yang berakibat, manusia tidak lagi berperan sebagai manusia (‘abdullah wa khalifatullah fil ardl). Dengan bertarekat diharapkan generasi muda lebih berperan bagai mesin dan mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan, yang mana akibat selanjutnya adalah tidak adanya rasa cinta dan kebanggaan terhadap tanah air dan lebih penting lagi, tidak adanya rasa cinta dan kebanggaan terhadap Nabi Muhammad SAW dan Islam.

Kegiatan MATAN Kota Malang yang dibuka pada 7 Desember 2012 ini diawali dengan seminar yang bertempat di aula Usman Mansur Universitas Islam Malang (UNISMA), dengan tema seminar, “Fitrah Nusantara Sebagai Isi Kandungan Bangsa”.?

Haedar Nashir

Seminar yang diisi oleh Habib Ismail Fajrie Alatas dan DR. Galih Wijil Pangarsa itu membahas mengenai potensi-potensi yang terkandung di bumi Nusantara ini baik itu potensi alamiah seperti laut, maupun potensi yang bersifat budaya, yang mana potensi-potensi itu bisa menjadi senjata untuk kebangkitan dan kemajuan Bangsa Indonesia.?

Tidak hanya potensi yang dibicarakan, namun juga hal-hal yang bisa melemahkan potensi-potensi itu, baik yang berasal dari dalam negeri maupun dari luar, sehingga peserta seminar diajak memetakan Indonesia.

Haedar Nashir

Setelah seminar itu, pengurus harian MATAN dan Habib Aji (panggilan akrab Habib Ismail Fajrie Alatas) langsung menuju ke kediaman Habib Abdul Qadir Mauladdawilah dan Habib Bagir Mauladdawilah di kelurahan Jagalan Kota Malang untuk bersilaturrahim dan memperkenalkan MATAN kepada beliau-beliau serta memohon doa, dukungan, dan bantuan dari beliau-beliau untuk MATAN Kota Malang. Dan beliau-beliau pun memberi respon yang positif atas kehadiran Habib Aji dan rombongan, termasuk dengan lahirnya MATAN dan gerakan-gerakan yang akan dilakukan oleh MATAN.?

Selanjutnya, Habib Aji dan seluruh PC. MATAN Kota Malang bergerak menuju maqam Al-Habib Abdul Qodir Bafaqih untuk berziarah dan “memperkenalkan” MATAN kepada beliau selaku salah satu wali agung yang ada di Kota Malang.

Ba’da shalat maghrib, rombongan langsung menuju ke Kota Batu untuk memenuhi undangan makan malam dari Habib Jamal Ba’agil. Dalam jamuan makan malam itu, tak lupa pula Habib Aji dan PC.MATAN Kota Malang memperkenalkan berdirinya MATAN Kota Malang dan mengharapkan kesediaan Habib Jamal untuk mendoakan MATAN dan membimbing MATAN Kota Malang, serta membantu MATAN Kota Malang, demi tersyiarnya Ahlussunnah wal jama’ah di dunia universitas yang sekarang ini mulai tersisih oleh paham-paham wahabi, liberalisme, dan hedonisme.

Keesokan harinya, acara dilanjutkan di kampus UIN Maliki Malang dan dimulai pukul 14.00 WIB dengan tema seminar “Mengambil Hikmah Pelajaran dari Sejarah dan Tradisi sebagai Pembentuk Identitas Lokal dan Universal Bangsa”. Sedangkan pemateri dalam seminar tersebut adalah DR. Agus Sunyoto, Prof. DR. Sutiman, dan Habib Ismail Fajrie Alatas.?

Dalam seminar itu, para pembicara menekankan pentingnya mengetahui dan mempelajari sejarah dan tradisi di era globalisasi ini. Sebab dua elemen itu merupakan pembentuk jati diri bangsa. Tanpa dua elemen itu, maka bangsa tidak memiliki jati diri sehingga mudah dipecah belah, dan tidak mempunyai karakter sebagai bangsa, serta tidak cinta terhadap bangsa sendiri. Sebagai dua elemen yang berbeda, tradisi dan sejarah merupakan rem bagi bangsa Indonesia agar tidak terseret dan tergilas oleh roda globalisasi, apalagi sekarang ini semakin marak gerakan purifikasi seperti wahabi yang berkoalisi dengan kaum kapitalis untuk menghapus sejarah dan tradisi dari Negeri ini, sehingga terbentuklah manusia satu dimensi.

Setelah acara di UIN Maliki Malang, Habib Aji dan PC. MATAN Kota Malang melanjutkan kegiatan hari itu dengan bersilaturrahim ke Habib Muhammad bin Idrus Al-Haddad di Sawahan Kota Malang. Dalam silaturrahim itu, Habib Aji memperkenalkan MATAN dan PC. MATAN Kota Malang kepada Habib Muhammad dengan harapan doa, restu, dukungan dan bantuan dari Habib Muhammad untuk gerakan MATAN Kota Malang, sehingga MATAN Kota Malang bisa mewujudkan visi organisasi.

Agenda selanjutnya pada malam hari itu adalah menghadiri undangan makan malam dari Rais JATMAN Kota Malang, KH. Abdurrahman Yahya dan orasi ilmiah di hadapan santri beliau, santri PP. Miftahul Huda Gading Kota Malang. KH. Abdurrahman yang sejak awal digagasnya MATAN di Kota Malang ini sangat mendukung dan membantu gerakan MATAN, sangat gembira dengan kehadiran Habib Aji di Kota Malang dan di Gading Pesantren. KH. Baidlowi Mushlich dalam sambutannya menyatakan bahwa keberadaan MATAN, dan mahasiswa yang berthariqah di era sekarang ini sangat penting.

Adapun Habib Aji dalam orasinya menekankan agar para santri tidak hanya menjadi ahli ekonomi yang baik, dokter yang baik, guru yang baik, dan lain-lain (pekerja yang baik), namun, para santri yang sebagian besar mahasiswa ini, harus menjadi manusia yang baik, manusia yang benar-benar manusia. Hal itu bisa dicapai salah satunya dengan cara berthariqah, karena berthariqah itu untuk memunculkan kemanusiaan sehingga menjadi manusia yang manusia, yaitu manusia yang baik dan bermanfaat.

Itu pula salah satu motivasi mengapa Maulana Habib Luthfi bin Yahya menggagas berdirinya MATAN di tengah organisasi-organisasi semacam HMI, PMII lebih sibuk berpolitik kampus dan demonstrasi sampai lupa mengembangkan intelektualitasnya, dan lupa meningkatkan spiritualitasnya, sehingga MATAN sangat terbuka, baik itu anggota HMI, PMII, atau lainnya dipersilahkan untuk ikut MATAN tanpa meninggalkan organisasi asalnya.

Di hari terakhir atau hari ketiga road show MATAN, acara selanjutnya adalah diskusi dengan tema,”Kritik Nalar Liberalisme Islam” yang bertempat di gedung PCNU Kota Malang, di mana dalam diskusi itu Habib Aji memaparkan secara detail bagaimana sebenarnya pemikiran kawan-kawan di Jaringan Islam Liberal. Yang mana mereka sibuk mengkritik islam tradisi khas pesantren, namun mereka lupa untuk mengkritisi liberalisme yang mereka gembor-gemborkan, dengan segala teori yang mereka paparkan, padahal banyak kritik (baca: kekurangan dan kelemahan) dalam teori-teori yang mereka jadikan rujukan ataupun hasil pemikiran-pemikiran mereka, sehingga nyatanya pemikiran mereka malah lebih banyak bersifat mendekonstruksi pemikiran yang sudah ada daripada merekonstruksinya.

Malam harinya, acara dilanjutkan dengan diskusi di Pesantren Mahasiswa Al Hikam Kota Malang, yang mana dalam kesempatan itu Habib Aji memaparkan secara singkat mengenai MATAN dan pentingnya berthariqah agar menjadi manusia yang benar-benar manusia, sehingga menjadi manusia yang berguna bagi Negara dan Agama.

Di hari terakhir itu pula, Habib Aji dan PC. MATAN Kota Malang melanjutkannya dengan bersilaturrahim ke KH. Mashduqi Mahfudz di Mergosono, Habib Agil bin Agil di Jl. Ir. Rais Kota Malang, dan Gus Luqman di Merjosari Kota Malang. Dalam kesempatan tersebut, Habib Aji dan PC. MATAN Kota Malang memperkenalkan MATAN dan PC MATAN Kota Malang kepada beliau-beliau dengan harapan doa, restu, dukungan dan bantuan sehingga MATAN Kota Malang bisa mewujudkan visi organisasi.

? ?

Redaktur ? ? ? : A. Khoirul Anam

Kontributor ? : Syukron Ma’mun

Keterangan foto: Pemateri di Universitas UIN Malik Maliki Malang Agus Sunyoto (Kanan), Habib Ismail Fajrie Alatas (Tengah) Dan Prof. Sutiman (Kiri). Tema seminar “Mengambil Hikmah Pelajaran Dari Sejarah dan Tradisi sebagai Pembentuk Identitas Lokal”

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kyai Haedar Nashir