Rabu, 15 Februari 2012

KNPI Apresiasi GP Ansor Way Kanan Tingkatkan Kemandirian Pemuda

Way Kanan, Haedar Nashir. Ketua DPD KNPI Way Kanan, Lampung, Andi Oktoviandi, di Blambangan Umpu, Ahad (19/3) menyatakan, Gerakan Pemuda Ansor memberikan bukti sebagai organisasi, bukan sekadar nama.

"Kami mengapresiasi berbagai kegiatan dari Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Way Kanan yang telah menyelenggarakan sejumlah kegiatan, baik kaderisasi, diskusi lintas iman, bakti sosial khitanan massal dan penyembuhan alternatif, penghijauan pesantren, bimbingan belajar pasca ujian nasional atau BPUN hingga kegiatan kewirausahaan melalui kegiatan bekam (hijamah)," ujar dia lagi.

KNPI Apresiasi GP Ansor Way Kanan Tingkatkan Kemandirian Pemuda (Sumber Gambar : Nu Online)
KNPI Apresiasi GP Ansor Way Kanan Tingkatkan Kemandirian Pemuda (Sumber Gambar : Nu Online)

KNPI Apresiasi GP Ansor Way Kanan Tingkatkan Kemandirian Pemuda

Hal tersebut, ujar Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Kabupaten Way Kanan itu menambahkan, telah mencerminkan pelayanan kepemudaan melalui pemberdayaan dan pengembangan pemuda.

"Upaya-upaya tersebut merupakan kontribusi yang sangat besar dalam rangka meningkatkan karakter dan kemandirian pemuda di Bumi Ramik Ragom (beragam) ini," ujar Andi lagi.

Haedar Nashir

Ia mengharapkan, Gerakan Pemuda Ansor selalu bisa berkoordinasi dan bersinergi dengan DPD KNPI Way Kanan dalam berbagai kegiatan pemberdayaan dan pengembangan pemuda.

"Terus membangun kemitraan lintas sektor, baik dengan pemerintah, swasta dan masyarakat. Lalu mewujudkan kemandirian organisasi dengan peningkatan kewirausahaan terpadu," kata dia lagi.

Harapan lain, ialah meningkatkan kesetiakawanan sosial dengan berbagai kegiatan bakti sosial dan kegiatan amal.

"Lalu meningkatkan dan mengembangkan organisasi dengan komitmen bersama dari seluruh pengurus dan anggota organisasi dalam rangka meningkatkan peran aktif pemuda dan organisasi kepemudaan dalam pembangunan nasional dan pembangunan daerah menuju Way Kanan Maju dan Berdaya Saing 2021," kata Andi lagi. (Erli Badra/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir

Haedar Nashir Humor Islam, Hikmah Haedar Nashir

Kamis, 26 Januari 2012

Dialog Senyap Lintas Iman

Oleh ? Muhammad Milkhan



Zamir Hassan adalah seorang aktivis sosial sekaligus pendiri Muslims Against Hunger, sebuah jaringan komunitas relawan yang telah berkembang diseluruh dunia, guna membantu orang-orang yang membutuhkan bantuan makanan tanpa memadang latar belakang ras, suku dan agama. Di tahun 2011 Zamir Hassan juga memprakarsai lahirnya ‘Hungervan’, sebuah proyek penanggulangan kemiskinan dengan mendirikan dapur umum setiap hari dari satu tempat ke tempat lainnya. Dengan mobil Van, Zamir Hassan bersama relawan-relawan yang lain mendatangi para tunawisma dan siapapun yang tidak mampu membeli makanan sehat dan layak konsumsi di kota New York dan kota-kota sekitarnya. Para relawan yang tergabung dalam komunitas ini berasal dari berbagai latar belakang agama dan lapisan masayarakat yang berbeda. Mereka bersama-sama berkumpul dan bekerja secara suka rela guna memecahkan ikatan kemiskinan yang masih membelenggu sebagian warga Amerika.?

Dialog Senyap Lintas Iman (Sumber Gambar : Nu Online)
Dialog Senyap Lintas Iman (Sumber Gambar : Nu Online)

Dialog Senyap Lintas Iman

Dalam sebuah pertemuan kecil bersama Zamir Hassan di komplek Islamic Cultural Center di kota New York awal bulan mei 2016, saya mendapatkan pelajaran yang sangat berharga dari pengalamannya selama ini melayani masyarakat miskin di kota metropolis dunia, sekelas New York. Bahwa dialog yang paling efektif adalah dialog tanpa kata-kata. Hal ini benar-benar membuat saya takjub, ia melakukan dialog lintas iman sekaligus dialog multikutur melalui makanan. Tanpa memandang suku, ras dan agama, siapapun boleh bergabung untuk menjadi relawan, demikian juga siapapun berhak menerima donasi makanan. Dialog yang cukup manjur dan efektif untuk memupuk toleransi antarumat manusia tanpa memandang asal-usul agar hidup rukun dan saling mengasihi.

Dialog senyap lewat makanan ala Zamir Hassan bersama teman-teman relawannya tentu penting untuk mendapat perhatian yang lebih, di tengah gejolak sentimen antaragama dan beberapa kejadian intoleran yang semakin marak di sekeliling kita. Pentingnya dialog lintas iman sebagai jalur komunikasi antarsesama makhluk tuhan untuk merengkuh kedamaian duniawi dan ukhrawi dapat dilakukan dengan berbagai macam cara, termasuk dengan model ala zamir Hasan. Sebab praktik dialog agama yang sebenarnya bukanlah dengan memberikan penjelasan (teologis) bagi masalah semacam kerusuhan sosial (yang bernuansa agama), melainkan meleburkan dirinya didalam relaitas dan tatanan sosial yang tidak adil dengan sikap kritis. (Ahmad Gaus A.F, Kompas; 1998)

Agama yang kerap dijadikan dalih kepentingan segelintir golongan seringkali mendapatkan tuduhan sebagai penghambat kemajuan manusia dan mempertinggi fanatisme semata tanpa memiliki efek yang positif bagi manusia. Sifat fanatisme terhadap agama hanya melahirkan tindakan yang tidak toleran, pengacuhan, pengabaian, takhayul dan kesia-sian. Bahwa agama sebenarnya memiliki ciri khas sosiologis sebagai pemersatu aspirasi manusia yang paling sublime; sebagai sejumlah besar moralitas, sumber tatanan masyarakat dan perdamaian batin individu; sebagai sesuatu yang memuliakan dan yang membuat manusia lebih beradab. (Thomas E O’dea, 1987; 2)

Haedar Nashir

Penting juga bagi kita untuk mengingat pesan toleransi Nabi Muhammad di awal lahirnya Islam. Pesan itu tersirat dari peristiwa hijrahnya pemeluk Islam awal dari kota Makkah menuju Abisinia guna menghindari ancaman intimidasi dari kafir Quraisy. Waktu itu Nabi Muhammad menyarankan supaya para sahabat untuk pergi berpencar agar terhindar dari serangan kafir Quraisy. Ketika para sahabat bertanya kepada Muhammad kemana mereka sebaiknya pergi, Muhammad menyarankan supaya mereka pergi ke Abisinia yang rakyatnya menganut agama Kristen. “Tempat itu diperintah oleh raja dan tak ada orang yang dianiaya di situ. Itu bumi jujur; sampai nanti Allah membukakan jalan buat kita semua.” (Hussein Haikal, 1989, cet.10)

Hijrahnya sebagian sahabat ke Abisinia atas saran dari Nabi Muhammad, adalah pesan toleransi yang harus selalu kita ingat, bahwa agama tidak pernah menjadi penghalang bagi siapapun untuk saling tolong-menolong dalam kesusahan. kafir Quraisy yang khawatir akan kehilangan pengaruh sebab hadirnya Islam, kemudian melakukan tindakan di luar peri kemanusian dengan menganiaya sebagian sahabat Nabi. Batin dan akal sehat para pemuka kafir Quraisy telah buta, demi mempertahankan kedudukan mereka dari ancaman Muhammad. Muhammad sadar betul, iman yang kuat terhadap sebuah agama tidak akan pernah menyarankan pemeluknya untuk berbuat aniaya. Raja Najasyi adalah penganut agama Kristen yang taat, oleh sebab itu Muhammad yakin para sahabat akan benar-benar mendapatkan perlindungan yang baik dalam pelukan seorang penganut agama yang taat. Toleransi awal yang ditunjukkan oleh raja Najasyi merupakan kontribusi besar bagi umat Islam di awal kehadirannya. Muhammad dan raja Najasyi benar-benar telah memberi teladan bagi umat manusia, pentingnya dialog lintas iman demi menciptakan kedamaian dunia.

Kini, di tahun 2017, ribuan tahun setelah pesan toleransi yang dicontohkan oleh Nabi itu terjadi. Kembali kita melihat betapa pentingnya untuk mengingat kembali, bahwa perbedaan agama tidak bisa dijadikan dalih bagi siapapun untuk saling membenci. Zamir Hassan beserta para relawan adalah orang yang taat dalam beragama, bukti tindakan nyata dari perilaku seorang pemeluk agama yang saleh telah mereka tunjukkan kehadapan masyarakat luas. Banyak orang bergabung bersama Zamir Hassan untuk menjadi relawan Muslims Against Hunger untuk membantu siapapun yang kelaparan tanpa memandang latar belakang suku, ras bahkan agama. Mereka bertemu, saling bertegur sapa dalam dialog lintas iman yang senyap namun mujarab. Mungkin.

Penulis adalah pegiat di Bilik Literasi Colomadu dan Penggiat Gusdurian Klaten, aktif sebagai Pengurus Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Klaten

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kiai, Santri Haedar Nashir

Rabu, 25 Januari 2012

Muktamar NU Diharapkan Perhatikan Persoalan Intoleransi

Jombang, Haedar Nashir. Nahdlatul Ulama (NU) merupakan ormas Islam besar di Indonesia yang meyakini NKRI sebagai harga mati. Itu menjadi stempel yang diamini sejumlah pihak. Karena itu, harapan NU pada Muktamar Ke-33 untuk memerhatikan persoalan intoleransi, mengemuka dari sejumlah pihak.

Muktamar NU Diharapkan Perhatikan Persoalan Intoleransi (Sumber Gambar : Nu Online)
Muktamar NU Diharapkan Perhatikan Persoalan Intoleransi (Sumber Gambar : Nu Online)

Muktamar NU Diharapkan Perhatikan Persoalan Intoleransi

"NU selama ini dikenal sebagai organisasi masyarakat sipil Islam moderat. Kesungguhannya ini dipertegas dalam Muktamar kali ini melalui jargon Islam Nusantara. Hal ini tentu melegakan mengingat banyak yang berkeliaran ingin menghancurkan keberagaman selama ini terbangun," ujar Ketua Umum Aliansi Bhinneka Tunggal Ika Nia Sjarifudin di Jombang, Jawa Timur, Ahad (2/8).

Untuk diketahui, saat pembukaan Muktamar NU ke-33 berlangsung di Alun-alun Jombang, puluhan aktivis dan tokoh lintas agama berkumpul. Mereka menggelar silaturahmi dan dialog kultural di De Nala Foodcourt, 500 meter dari arena pembukaan. Acara refleksi kebangsaaan berlangsung mulai pukul 19.30 - 22.00 WIB, Sabtu (1/8), tersebut mengambil tema "Meneguhkan Indonesia Sebagai Rumah Bersama".

Haedar Nashir

Harapan sebagaimana Nia terhadap NU juga disampaikan oleh Bhikkhu Wirya dari Mahavihara Buddha Trowulan. Dia mengharapkan NU mampu merumuskan rekomendasi konkrit agar kesatuan dan persatuan bangsa ini tetap terjaga.

"Islam Nusantara diusung pada Muktamar ke 33 ini tentu diharapkan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi bangsa seperta pada Muktamar di Situbondo yang menegaskan Pancasila dan UUD 45 sebagai fondasi yang tidak boleh diganggu gugat," katanya.?

Haedar Nashir

Selama ini praktek intoleransi kerap menimpa kelompok minoritas. Pengusiran, pelarangan ibadah, pengrusakan dan diskriminasi kerap diterima sekte atau kelompok Penghayat/kepercayaan.

Berkaitan dengan intoleransi beragama yang ditumbuhkan kelompok-kelompok tertentu, Cendekiawan NU yang juga pengasuh Pesantren Darut Tauhid Cirebon KH Husein Muhammad, mendukung Muktamar NU kali ini memberi perhatian khusus pada persoalan intoleransi.

"Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh keprihatinan atas situasi intoleransi yang terus marak di Indonesia. Berbagai praktik kekerasan berbasis agama dan keyakinan menunjukkan lemahnya komitmen pemerintah," ujar Aan Anshori, kordinator acara kegiatan itu.

Acara diisi dengan pembacaan puisi yang menegaskan bahwa Indonesia ialah negara yang dalam konstitusinya menghargai keberagaman.

Sebagai penutup acara, peserta konsolidasi jaringan lintas iman menyanyikan lagu Indonesia Raya bersama-sama pengunjung Foodcourt. (Gatot Arifianto/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ulama, Meme Islam Haedar Nashir

Selasa, 24 Januari 2012

Jihad dan Tawuran

Kalau sekadar memakai senjata tajam mulai dari ? parang, golok, anak panah, bambu runcing, senjata api, meriam dan sejenisnya, ini namanya bukan perang di jalan Allah, tetapi tawuran antardesa. Perang di jalan-Nya selain memerlukan itu semua, juga membutuhkan pikiran matang.

Perang di jalan Allah disebut jihad. Maksudnya perang akan disebut jihad sejauh praktik perang itu dimaksudkan untuk menegakkan agama Allah sebagai syiar. Perang seperti ini sangat dibutuhkan. Agama menganjurkan jihad. Karena, jihad merupakan ibadah.

Jihad dan Tawuran (Sumber Gambar : Nu Online)
Jihad dan Tawuran (Sumber Gambar : Nu Online)

Jihad dan Tawuran

Hanya saja seseorang yang maju ke medan perang memiliki pelbagai motif. Ada yang maju karena berani, jaga harga diri, atau karena riya. Lalu siapa di antara mereka yang masuk dalam kategori mujahid?

Ketika ditanya demikian, Rasulullah SAW menjawab dengan sabdanya seperti di bawah ini,

Haedar Nashir

Ù…Ù? قاتل لتكوÙ? كلمة الله Ù‡Ù? العلÙ? ا فهو فÙ? سبÙ? Ù„ الله

“Siapa saja yang maju ke medan perang dengan niat agar agama Allah menjadi naik (syiar) maka ia telah berjuang di jalan Allah.”

Haedar Nashir

Namun demikian, para ulama memberikan sejumlah catatan perihal peperangan, jihad, dan perjuangan di jalan Allah. Keputusan untuk perang di jalan Allah harus dilewati dengan sejumlah pertimbangan pikiran. Artinya ulama harus berkumpul terlebih dahulu untuk memutuskan bahwa umat Islam telah wajib untuk melakukan jihad di jalan Allah.

Salah satu contohnya ialah fatwa Resolusi Jihad NU pada November 1945. Fatwa Resolusi Jihad NU ini didasarkan pada pikiran matang ulama. Keputusan fatwa ini tidak didasarkan pada nafsu amarah.

Dalam kitab Dalilul Falihin (syarah Riyadlus Shalihin), M bin Alan Ash-shiddiqy menjelaskan hadis di atas sebagai berikut,

Ø£Ù? القتال فÙ? سبÙ? Ù„ الله قتال Ù…Ù? شؤه القوة العقلÙ? Ø© لا القوة الغضبÙ? Ø© أو الشهواÙ? Ù? Ø©

“Bahwa perang di jalan Allah adalah perang yang didasarkan pada kekuatan pikiran, bukan kekuatan amarah atau kekuatan nafsu.”

Dengan demikian umat Islam tidak boleh memutuskan sendiri perihal perang di jalan Allah. Mereka harus menunggu keputusan dan kebijaksanaan para kiai agar para kiai mengerahkan segala pikiran dan pertimbangannya atas kenyataan yang ada.

Selagi para kiai belum mengeluarkan fatwa jihad, umat Islam tidak boleh memutuskan bahwa dirinya akan maju ke medan perang. Karena, keputusannya didasarkan pada amarah dan nafsu belaka.

Kalau saja salah dalam mengambil keputusan, mereka justru mengamuk dan kalap di tengah masyarakat yang damai, seperti anak-anak yang sedang tawuran. Bukannya kalimat Allah (Islam) menjadi harum, mereka justru mencemarkan nama Islam dari dalam. Wallahu A‘lam. (Alhafiz Kurniawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Bahtsul Masail, Sholawat, Syariah Haedar Nashir

Minggu, 22 Januari 2012

Tarawih Keliling, Ansor Dakwahkan Islam Moderat ke Desa-desa

Brebes, Haedar Nashir - Pimpinan Anak Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Wanasari, Brebes, Jawa Tengah, menyelenggarakan Tarling ataupun Tarawih Keliling. Selain bernilai ibadah, kegiatan ini juga menjadi wahana silaturahim dan syiar Ahlussunnah wal Jama’ah pengurus GP Ansor setempat di desa-desa.

Tarling dilaksanakan dari tanggal 5 Ramadhan sampai dengan 21 Ramadhan. Pada hari ke-9 Ramadhan, Tarling bertempat di Masjid Nurul Hidayah Desa Lengkong, Wanasari, Brebes.

Tarawih Keliling, Ansor Dakwahkan Islam Moderat ke Desa-desa (Sumber Gambar : Nu Online)
Tarawih Keliling, Ansor Dakwahkan Islam Moderat ke Desa-desa (Sumber Gambar : Nu Online)

Tarawih Keliling, Ansor Dakwahkan Islam Moderat ke Desa-desa

Bayu Rohmawan, Ketua PAC GP Ansor Wanasari menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan agenda rutin setiap bulan Ramadhan. Pihaknya menyiapkan para dai yang mengisi kultum (kuliah Tujuh menit) dalam rangkaian shalat tarawih berjamaah ini.

Haedar Nashir

Para dai tersebut, tambahnya, sudah melewati Kursus Dai Muda Aswaja yang digelar GP Ansor Wanasari sebelum bulan puasa tiba. Mereka didorong untuk punya misi dakwah Islam yang toleran (tasamuh), seimbang (tawazun), moderat (moderat), tegak lurus (i’tidal) dan amar maruf nahi munkar sesuai dengan prinsip Nahdlatul Ulama.

“Kami berharap misi dakwah GP Ansor bisa dipahami oleh masyarakat serta menambah ukhuwah anggota GP Ansor dengan masyarakat,” terang Bayu.

Haedar Nashir

Kegiatan ini diikuti seluruh pengurus PAC GP Ansor Kecamatan Wanasari dan untuk tahun 2016 ini dilaksanakan di 9 Desa di Kecamatan wanasari antara lain Desa Glonggong, Wanasari, Lengkong, Kupu,Dumeling,Siasem, Klampok, Siwungkuk dan Desa Sawojajar. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Daerah Haedar Nashir

Kamis, 19 Januari 2012

Masjid dan Pesantren Adalah Aset NU

Jepara, Haedar Nashir. Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) kabupaten Jepara KH Asyhari Syamsuri menyatakan keberadaan masjid dan pesantren merupakan aset NU yang tidak boleh ditinggalkan karena keduanya merupakan modal yang luar biasa. 

Hal itu disampaikannya dalam Rapimda Lembaga Ta’mir Masjid Nahdlatul Ulama (LTMNU) yang dilaksanakan di Gedung NU, Jalan Pemuda No.51, Ahad (10/3). 

Masjid dan Pesantren Adalah Aset NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Masjid dan Pesantren Adalah Aset NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Masjid dan Pesantren Adalah Aset NU

Menurutnya, dari 2 tempat itu organisasi NU kian berkembang. Masjid jelasnya selain sebagai tempat peribadatan juga tempat kajian Islam sedangkan pesantren merupakan pusat kajian ilmu keagamaan bagi santri. 

Haedar Nashir

Kiai Asyhari yang juga kepala SMKN 3 Jepara melansir jumlah masjid versi LTMNU Cabang Jepara sebanyak 662 dan 80% merupakan masjid basis NU. Meski demikian ia menyayangkan ada beberapa rumah Allah yang kini dikuasai kelompok lain. 

“Semisal di desa Slagi kecamatan Pakis Aji ada sebuah tempat ibadah yang dulunya kental dengan tradisi NU—kini sudah berubah drastis,” keluhnya. 

Haedar Nashir

Sementara itu, Haryono Wibowo, staf ahli Bupati bidang pembangunan, kemasyarakatan dan SDM mewakili Bupati Jepara memberikan apresiasi kegiatan yang diikuti ratusan peserta dari Imam, Khatib, Takmir Masjid dan tamu undangan dari Banom NU. 

Haryono mengatakan forum tersebut juga terkait dengan kegiatan rutin safari Jum’at yang dilaksanakan Bupati bersama Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD). Pihaknya sebelum melaksanakan pelaksanaan shalat Jum’at terlebih dahulu meninjau MI di sekitar lokasi kunjungan. 

“Kami—Bupati bersama SKPD melakukan komunikasi pada pihak madrasah terkait kegiatan-kegiatan, kondisi, rencana dan permasalahan yang dihadapi sehingga melalui forum itu terjalinlah komunikasi timbal balik antara Pemkab dan lembaga yang terkait,” katanya. 

Dari forum Safari Jum’at lanjut Haryono akan banyak informasi masuk kemudian ditindaklanjuti. Tujuannya, masih menurut dia tidak lain untuk menjalin kerukunan agama muaranya tidak ada letupan ormas dan memberikan ekses positif ditengah-tengah masyarakat. 

Kiai Asyhari Syamsuri juga menghimbau kepada warga NU agar tetap membentengi masjid agar tidak diambil alih oleh kelompok-kelompok lain. 

Kegiatan yang menggandeng PT Sinde Budi Sentosa dihadiri KH Masdar Farid Mas’udi, Rais Syuriyah PBNU, KH Abdul Manan A Ghani, Ketua LTM-PBNU, serta rombongan LTM PBNU. 

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Syaiful Mustaqim      

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Warta Haedar Nashir

Selasa, 17 Januari 2012

Survei IPNU Temukan, 50 Persen Pelajar Pakai Smartphone Sejak SD

Surabaya, Haedar Nashir



Lembaga Penelitian dan Survei Pelajar-Pemuda PW Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Jawa Timur menyatakan 50 persen pelajar menggunakan "smartphone" sejak sekolah dasar (SD) dan 44 persen memakai sejak SMP serta 3 persen sejak SMA.

Survei IPNU Temukan, 50 Persen Pelajar Pakai Smartphone Sejak SD (Sumber Gambar : Nu Online)
Survei IPNU Temukan, 50 Persen Pelajar Pakai Smartphone Sejak SD (Sumber Gambar : Nu Online)

Survei IPNU Temukan, 50 Persen Pelajar Pakai Smartphone Sejak SD

"Itu hasil dari survei yang kami lakukan pada 113 siswa dari 400-an sekolah swasta Surabaya-Sidoarjo pada Februari 2016," kata Direktur Lembaga Penelitian dan Survei PW IPNU Jatim Abdullah Muhdi di sela peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-62 IPNU di Surabaya, Rabu.

Didampingi Ketua PW IPNU Jatim Haikal Atiq Zamzami, ia mengemukakan hal itu dalam peringatan Harlah ke-62 IPNU yang dihadiri Kasi Pendidikan Madrasah Kemenag Jatim H Supandi MPd, Guru Besar FISIP Unair Kacung Maridjan, dan Sekretaris PWNU Jatim Akhmad Muzakki.

Dalam acara yang dihadiri 60-an pengurus IPNU se-Jatim yang dimeriahkan dengan peluncuran lembaga penelitian/riset, lembaga penanggulangan NAPZA dan radikalisme, Majalah PASTI, laman IPNU Jatim, dan dialog pendidikan itu, ia menilai hasil itu cukup mengejutkan, karena 97 persen pelajar memanfaatkan alat komunikasi super canggih itu.

"Itu mengejutkan karena mereka masih tergolong SD, meski kami menemukan 59 persen penggunaannya masih positif yakni untuk berkomunikasi dengan orang tua, namun anak SD itu sangat tidak mandiri, karena itu kontrol isi chat/obrolan dari orang tua itu perlu," katanya.

Haedar Nashir

Apalagi, pihaknya menemukan ada prestasi pelajar yang merosot gara-gara smartphone, meski penggunaan smartphone terbagi dalam 59 persen untuk komunikasi, 11 persen musik, 8 persen browsing, 1 persen video, 3 persen abstain, dan 18 persen lainnya, termasuk untuk "game".

Terkait aplikasi yang digunakan pelajar, ia mengatakan 65 persen untuk Line, 2 persen FaceBook/Twitter, 17 persen Google, 7 persen Youtube, 6 persen BBM/WhatsApp, dan 3 persen abstain. "Jadi, FB, WA, dan twitter tak diminati pelajar," katanya.

Haedar Nashir

Menurut dia, IPNU berkepentingan dengan serangkaian survei pelajar/pemuda bukan sekadar untuk pendataan. "Dengan hasil survei itu, maka orang tua dan sekolah bisa bersikap solusi yang harus dilakukan, sedang bagi kami juga penting untuk merancang program," katanya.

Dalam kaitan solusi itu, Ketua IPNU Jatim Haikal Atiq Zamzami mengatakan siap bekerja sama dengan pihak sekolah, dinas pendidikan, Kemenag, pesantren, perguruan tinggi, dan para orang tua untuk melakukan diskusi guna mencari solusi yang tepat, karena organisasi pelajar (IPNU) lebih pas berbicara dengan pelajar.

"Kami sendiri memiliki Majalah Pasti untuk pelajar dan santri berprestasi, laman khusus pelajar dan santri, dan lembaga penanggulangan radikalisme dan NAPZA. Jadi, kami melakukan gerakan yang sistematis dan serius untuk pelajar dan santri," katanya.

Dalam dialog pendidikan Harlah ke-62 IPNU itu, Sekretaris PW NU Jatim Prof Akhmad Muzakki menilai IPNU memang merupakan kader andalan NU untuk masa depan, karena generasi masa depan yang dibutuhkan bangsa Indonesia adalah generasi berkarakter dan organik (bukan karbitan).

"Kalau hanya pintar bisa kita lakukan dengan mesin pencari internet, tapi kalau karakter itu memerlukan proses. Saran saya, IPNU harus melakukan diversifikasi kader, agar jangan sampai kader IPNU ke dunia politik saja, seperti kader dokter anak di Sidoarjo atau kader jurnalis di Surabaya," katanya.

Senada dengan itu, Prof Kacung Maridjan menyatakan bonus demografi akan dinikmati bangsa Indonesia pada 2035 atau 2045 bila tercetak kader-kader yang terdidik dan kreatif. "Bangsa ini masih mayoritas SMP dan perlu generasi kreatif lebih banyak. Itu kuncinya," katanya.

Sementara itu, Kasi Pendidikan Madrasah Kanwil Kemenag Jatim H Supandi mengaku 95 persen dari 19.155 madrasah (MI/MTs/MA) dan 211.000-an guru serta 3 jutaan siswa adalah pelajar NU, namun umumnya belum mengetahui IPNU. "Itulah tantangan sekarang," katanya. (Antara/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Hadits, Olahraga, Sholawat Haedar Nashir