Rabu, 09 Januari 2013

Ranting NU se-Kecamatan Palasah Gelar Maulid Bergilir

Majalengka, Haedar Nashir. Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (NU) se-Kecamatan Palasah, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat menggelar maulid secara bergiliran dengan membaca barzanji, marhabanan dan Tabligh akbar yang diisi oleh Pengurus Cabang NU Majalengka.

Ranting NU se-Kecamatan Palasah Gelar Maulid Bergilir (Sumber Gambar : Nu Online)
Ranting NU se-Kecamatan Palasah Gelar Maulid Bergilir (Sumber Gambar : Nu Online)

Ranting NU se-Kecamatan Palasah Gelar Maulid Bergilir

Amin Syaefullah, Sekretaris MWC NU Palasah mengatakan, selama seminggu yang lalu, pengurus ranting NU di Kecamatan Palasah seperti Desa Pasir, Cisambeng, Trajaya, Palasah, Majasuka dan terakhir Tarikolot menggelar maulid bergilir yang dilaksanakan bersama dengan kelompok Majelis Talim Al-Amin.

Agenda ini, tambah Amin, selain wujud kecintaan terhadap Nabi Muhammad SAW, juga untuk menjaga tradisi dan memperkuat Ke NU an secara struktural dan kultural.

Haedar Nashir

“Kami melakukan kegiatan ini juga sebagai upaya memperkuat benteng-benteng ahlussunah wal jamaah,” tuturnya, Rabu, (14/1).

Haedar Nashir

Atas nama MWCNU Palasah, Amin ingin meyakinkan kembali agar masyarakat lebih percaya diri terhadap apa yang dilakukannya ini tidak bidah melainkan mengandung unsur ibadah.

“Karena dengan kita bersama-sama membaca kitab maulid, kita bisa bersilaturrahim sesama anggota, mengaji bersama, berarti kan unsur ibadahnya lebih banyak, bukan hanya sekadar kumpul-kumpul," jelasnya.

Amin berharap, ke depan agenda ini bisa berjalan setiap tahunnya sehingga bisa memperkokoh tradisi ahlussunnah wal jama’ah ditengah masyarakat Majalengka, khususnya di Kecamatan Palasah. (Aris Prayuda/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir AlaSantri Haedar Nashir

Selasa, 08 Januari 2013

Cabang-Cabang Ansor di Sumbar Keluarkan Deklarasi Tolak Paham Radikal

Pasaman Barat, Haedar Nashir. Tiga Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor di Sumatera Barat keluarkan Deklarasi Kebangsaan menolak semua bentuk paham radikal yang tidak sesuai dengan nilai-nilai yang sudah tumbuh sejak lama di tengah masyarakat Indonesia. Pernyataan tersebut disampaikan pada ? Deklarasi Kebangsaan Gerakan Pemuda Ansor yang diikuti Pimpinan Cabang Kabupaten Padang Pariaman, Kabupaten Pasaman dan Kabupaten Pasaman Barat, Minggu (16/7/2017) malam usai shalat Isya berjamaah di Masjid Al-Ikhlas Sidodadi Kecamatan Kinali, Kabupaten Pasaman Barat.?

Pernyataan yang dibacakan kader Ansor Padang Pariaman M. Fadly, menyebutkan, menyikapi perkembangan bangsa Indonesia belakangan ini, maka dengan ini Ansor menyatakanm, pertama, Gerakan Pemuda Ansor menolak semua bentuk paham radikal yang tidak sesuai dengan nilai-nilai yang sudah tumbuh sejak lama di tengah masyarakat Indonesia.

Kedua, menolak paham dan gerakan ISIS yang nyata-nyata tidak sesuai dengan nilai-nilai kemanusian dan agama Islam. Ketiga, mendukung pernyataan sikap Pengurus Besar Nahdlatul Ulama dan Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor tentang pembubaran ormas Hizbur Tahrir Indonesia (HTI) yang dinilai mengancam keutuhan NKRI.?

Cabang-Cabang Ansor di Sumbar Keluarkan Deklarasi Tolak Paham Radikal (Sumber Gambar : Nu Online)
Cabang-Cabang Ansor di Sumbar Keluarkan Deklarasi Tolak Paham Radikal (Sumber Gambar : Nu Online)

Cabang-Cabang Ansor di Sumbar Keluarkan Deklarasi Tolak Paham Radikal

Keempat, mendukung sikap Pemerintah ? Indonesia yang membubarkan organisasi atau kelompok yang nyata-nyata berlawanan dengan ideologi Pancasila dan mengancam keutuhan NKRI. Kelima, mendukung sikap TNI dan Polri yang tegas mengambilkan tindakan terhadap pihak-pihak yang dapat mengancam keutuhan NKRI.

Naskah pernyataan ditandatangani Ketua PC Padang Pariaman ? Zeki Aliwardana, Ketua PC Pasaman Asrial dan Ketua PC Pasaman Barat Djafrinal Effendi.

Menurut Zeki Ali Wardana, pernyataan sikap ini disampaikan sebagai bentuk kepedulian Ansor terhadap dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara. “Ansor tidak ingin negara ini dicabik-cabik oleh kelompok yang datang kemudian untuk menghancurkan dengan paham-paham yang bertentangan dengan Pancasila sehingga merongrong keutuhan NKRI. Karena Ansor amat menyadari negara dan bangsa Indonesia didirikan dan dipertahankan oleh para pendahulu dengan pengorbanan pikiran, fisik, tetesan darah para ulama, santri dan komponen bangsa Indonesia lainnya,” kata Zeki, ? yang juga mantan Sekretaris PMII Kota Pariaman ini.

Haedar Nashir

Djafrinal Effendi pun menambahkan, melalui deklarasi kebangsaan ini, kami ingin mengingatkan masyarakat untuk berhati-hati terhadap paham-paham yang cenderung radikal dan terindikasi merongrong keutuhan NKRI. Meski dibungkus dengan simbol-simbol Islam, namun targetnya jelas membawa kepentingan pihak luar sehingga ideologi bangsa Indonesia diganti sesuai dengan misinya.

“Setiap kader Ansor sudah dibekali wawasan kenapa harus menjaga empat pilar kebangsaan Indonesia. Yakni ideologi Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI dan UUD 1 945. Sejarah panjang dan kondisi yang dimiliki Indonesia, hanya cocok dengan konsep empat pilar tersebut,” kata Djafrinal, mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Sumatera Barat ini.?

Haedar Nashir

Menurut Ketua Ansor Pasaman Asrial Arfandi Hasan, generasi muda yang tingkat pengetahuan agamanya (Islam) minim lebih mudah dimasuki paham radikal. Jika bertemu dan diajak oleh orang berpaham radikal, bisa tergoda untuk mengikutinya. “Untuk itu, generasi muda perlu meningkatkan pengetahuan agama Islam-nya yang berpahamkan rahmatan lil’alamin, Islam yang moderat,” kata Asrial, mantan Camat ? Padang Gelugur Kabupaten Pasaman ini. ?

Dikatakan Asrial, ? deklarasi kebangsaan ini juga meningkatkan silaturrahmi dan konsolidasi Ansor sesama pimpinan dan kader Ansor di tiga cabang. Ke depan pertemuan ini diharapkan dapat ditingkatkan dengan jumlah cabang yang lebih banyak.?

(Armaidi Tanjung/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Tegal Haedar Nashir

Rabu, 19 Desember 2012

Menag: Proses Hukum Tak Seperti Balik Telapak Tangan

Jakarta, Haedar Nashir



Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin meminta para demonstran memahami prosedur hukum terhadap Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang masih sedang berjalan.

Menag: Proses Hukum Tak Seperti Balik Telapak Tangan (Sumber Gambar : Nu Online)
Menag: Proses Hukum Tak Seperti Balik Telapak Tangan (Sumber Gambar : Nu Online)

Menag: Proses Hukum Tak Seperti Balik Telapak Tangan

"Tentu proses hukum kan tidak bisa seperti membalik telapak tangan ya, perlu ada tahapan yang harus dilampaui, ada pemeriksaan, penyelidikan, penyidikan, sampai lalu dibawa ke pengadilan," kata Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin di Gerbang Wisma Negara Jakarta, Jumat.

Ia juga menegaskan bahwa bukan berarti pemerintah tidak menghormati dan menempuh jalur hukum.

"Proses hukum ini sudah berlangsung, bahkan Polri kemarin sudah mengatakan sudah dilayangkan undangan kepada yang bersangkutan, Senin mendatang," katanya.

Haedar Nashir

Menurut Menag, beberapa saksi sudah dipanggil dan dimintai keterangan.

"Pemerintah sadar menengahi sengketa apakah yang bersangkutan sudah menodai agama atau tidak, itu hukum yang jawab. Kita harus komitmen tunduk dan patuhi hasil hukum. Apapun keputusan hakim melalui pengadilan, kita harus tunduk dan menghormatinya," katanya.

Ia juga mengatakan, unjuk rasa besar yang digelar 4 November 2016 tidak akan mempengaruhi proses hukum yang sedang berjalan.

Menag berharap para hakim tetap memiliki kearifan dan indenpendensi selain juga integritas yang ada dalam diri untuk mengatasi dugaan penistaan agama yang dilakukan Ahok.

"Tentu, hakim haruslah merdeka sehingga betul-betul nanti saat mengambil putusan, adalah putusan berdasarkan fakta-fakta, berdasarkan fakta hukum dan juga, sejumlah keterangan para saksi, baik saksi yang ikut menyaksikan peristiwa itu, maupun saksi ahli sehingga kemudian betul-betul objektif untuk memenuhi rasa keadilan kita semua," katanya. (Antara/Mukafi Niam)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Fragmen, Nahdlatul, Daerah Haedar Nashir

Selasa, 13 November 2012

Saatnya Kembalikan Basis Pengkaderan IPNU-IPPNU ke Pesantren

Surabaya, Haedar Nashir. Rencana perbaikan program kaderisasi dan penyusunan kurikulum pengkaderan dari Pimpinan Cabang IPNU Surabaya langsung direspon dengan cepat oleh Pimpinan Anak Cabang, Ranting dan Komisariat IPNU yang ada di Surabaya.

Salah satunya adalah Pimpinan Komisariat IPNU Pondok pesantren Nyai Hj Ashfiyah yang dengan cepat merespon hal tersebut dengan melaksanakan salah satu program pendidikan anggota yaitu Masa Kesetiaan Anggota (Makesta).

Saatnya Kembalikan Basis Pengkaderan IPNU-IPPNU ke Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Saatnya Kembalikan Basis Pengkaderan IPNU-IPPNU ke Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Saatnya Kembalikan Basis Pengkaderan IPNU-IPPNU ke Pesantren

Agenda ini berlangsung pada tanggal 25-27 Januari 2013 lau di auditorium STAI Ar-Rosyid Surabaya. Kegiatan yang diikuti sekitar 35 peserta yang berasal dari para santri-santriwati pesantren ini terselenggara atas inisiatif para pengurus PK IPNU Pesantren Nyai Hj Ashiyah serta dukungan dari pengurus PAC IPNU-IPPNU Sambikerep, serta para alumni Pondok pesantren yang pernah berproses di IPNU maupun IPPNU.

Haedar Nashir

Acara Masa kesetiaan anggota, merupakan pintu gerbang awal yang harus dilalui calon anggota sebelum memasuki organisasi IPNU dan IPPNU, hal ini dilakukan untuk memberikan bekal pengetahuan tentang IPNU-IPPNU dan dasar-dasar keorganisasian bagi calon anggota.

Haedar Nashir

“Sudah lama kami menyiapkan secara matang kegiatan, ini dengan harapan agar nantinya proses kaderisasi di tubuh PC IPNU Surabaya khususnya, yang selama ini masih sangat kurang menyentuh lembaga pendidikan seperti pesantren bisa kembali bergairah untuk menengok kembali pesantren sebagai basis kader untuk IPNU maupun IPPNU,” kata Ketua PK IPNU Pesantren Nyai Hj Ashfiyah, Kholid Affandi.

Acara ini dihadiri langsung oleh Mundir, Ketua PC IPNU Surabaya, para senior serta alumni PAC IPNU-IPPNU Sambikerep dan perwakilan dari pengurus Pondok Pesantren.

Selama proses pendidikan, para peserta ? yang rata-rata masih duduk di bangku aliyah dan mahasiswa semester awal, mengaku sangat senang karena banyak menerima pengetahuan baru di forum ini.

“Saya sangat senang mengikuti forum-forum seperti ini, karena mendapat banyak wacana-wacana baru yang bisa saya jadikan bekal awal untuk memasuki dunia mahasiswa,” kata Wafiq Azizah, salah satu peserta yang juga mahasiswi semester awal STAI Arrosyid di sela-sela acara penutupan kegiatan.

Acara Makesta ini diakhiri dengan proses pembai’atan atau pengambilan sumpah setia kepada organisasi yang dipimpin langsung oleh ketua PAC IPNU, dilanjutkan dengan pembagian sertifikat dan kenang-kenangan dari panitia untuk peserta.

Redaktur ? ? : A. Khoirul Anam

Kontributor: Harun Rosyid

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Halaqoh, Nahdlatul Ulama Haedar Nashir

Kamis, 01 November 2012

NU Persoalkan Liberalisasi di Berbagai Sektor

Jakarta, Haedar Nashir. Nahdlatul Ulama merasakan sejumlah dampak buruk liberalisasi yang diterapkan di sektor ekonomi, kebudayaan, dan politik.

Pengalaman selama ini menunjukkan, meski berangkat dari keinginan luhur, liberalisasi telah membuahkan kemiskinan, konflik sosial, dan dekadensi kebudayaan bagi banyak orang.

NU Persoalkan Liberalisasi di Berbagai Sektor (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Persoalkan Liberalisasi di Berbagai Sektor (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Persoalkan Liberalisasi di Berbagai Sektor

Menghadapi keresahan ini, Panitia Munas dan Konbes NU 2012 telah menyiapkan serangkaian seminar menjelang puncak acara pada 14-17 September nanti di Pesantren Kempek Cirebon. Isu yang diangkat meliputi sejumlah persoalan aktual di tanah air.

Haedar Nashir

Salah satunya adalah seminar “Dampak Liberalisasi di Bidang Politik, Pertahanan, dan Keamanan” yang digelar Ahad (9/9) mendatang di Jakarta. Sebelumnya, seminar “Mengawal Entitas Kebudayaan Indonesia di Tengah Liberalisasi dan Keterbukaan Informasi dan Komunikasi” diadakan di Surabaya, Jumat, sehari lebih awal.

Seperti dijelaskan Panduan Munas dan Konbes NU 2012, liberalisasi telah menimbulkan banyak mudarat. Di sektor politik, liberalisasi kerap menciptakan konflik sosial, terutama tiap menjelang pergantian pemimpin. Di bidang kebudayaan, gempuran informasi yang tak terbatas mengancam hilagnnya jati diri budaya bangsa.

Haedar Nashir

“Dalam upaya memperbaiki kehidupan berbangsa di tengah kegalauan globalisasi ini, NU mengajak untuk kembali membangun karakter dan jati diri bangsa ini,” seru Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj.

Panitia baru-baru ini juga telah menyelenggarakan agenda serupa bertajuk “Dampak Liberalisasi Pertanian dan Pangan” di Makasar, Senin (3/9) lalu. Forum seminar ini mempersoalkan penindasan sekelompok elit yang mewakili kepentingan kapitalisme global terhadap para petani.

Redaktur: Mukafi Niam

Penulis ? : Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Bahtsul Masail, Pendidikan Haedar Nashir

Sabtu, 27 Oktober 2012

Media Islam harus dengan Modal Besar

Jakarta, Haedar Nashir. Eksistensi media sekarang ini tidak terlepas dari ketergantungan modal yang kuat. Modal yang besar akan menjadikan kelangsungan semua media juga media Islam itu juga kuat. Karena itu sulit jika hanya dengan semangat idealisme atau ideologi, sebuah media akan bertahan tanpa dibarengi dengan orientasi bisnis, yang akan menghidupi media itu sendiri.



Media Islam  harus dengan Modal Besar (Sumber Gambar : Nu Online)
Media Islam harus dengan Modal Besar (Sumber Gambar : Nu Online)

Media Islam harus dengan Modal Besar

Ada beberapa perbandingan sederhana terhadap kelangsungan media Islam tersebut. Misalnya majalah Panji Masyarakat, Umat, Sabili dan lain-lain. Panji dan Ummat sudah tutup. Tinggal Sabili, yang mungkin mengalami kesulitan dana. Demikian pula media Islam yang lain. “Jadi, tanpa modal yang kuat sulit akan berkembang sekarang ini,”kata mantan wartawan Majalah Ummat Ahmad Baso di Jakarta, Rabu.

Namun, anggota Komnas HAM itu menilai apakah media itu dalam arti Islam simbolis atau substantive, di mana eksistensinya itu tidak bisa diukur apakah oplahnya besar atau kecil, bahkan sudah tutup. Besar kecilnya oplah dan jumlah pembaca itu tidak mencerminkan bahwa media itu diterima atau tidak oleh masyarakat. Yang pasti katanya, kelangsungan media itu tetap akan tergantung terhadap kuatnya modal.

Haedar Nashir

Oleh sebab itu, jika tetap harus memperjuangkan idealisme atau ideologi, sebaiknya membuat media berdasarkan segmentasi. Yaitu ada yang hanya berorientasi ideology dan idealisme, umum, bisnis, ekonomi, hiburan dan lain-lain. Katanya, “Dengan segmentasi tersebut, maka media yang satu secara pendanaan bisa membantu media yang lain. Sehingga saling menghidupi dan bukan saling mematikan. Media NU pun harus demikian.”

Haedar Nashir

Dan, segmentasi itu bukan berarti menghalalkan segala cara. Misalnya dengan memasukkan berbagai jenis iklan. Seperti iklan rokok, minuman keras, perjudian, prostitusi dll. “Sebagai satu perbandingan, saya kira media Islam mana pun tidak bisa disejajarkan dengan Kompas, Majalah Tempo, Jawa Pos dll. Media ini eksis karena modal yang kuat,” tutur pengurus Lakpesdam NU ini.(amf)Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Hikmah, AlaSantri, Anti Hoax Haedar Nashir

Jumat, 26 Oktober 2012

Semarak Maulid dari Kampung

Jepara, Haedar Nashir. Bait-bait shalawat dilantunkan Suwandi, pemimpin jalannya mauludan. Lalu jamaah menirukan persis seperti yang ia lantunkan.

Semarak Maulid dari Kampung (Sumber Gambar : Nu Online)
Semarak Maulid dari Kampung (Sumber Gambar : Nu Online)

Semarak Maulid dari Kampung

Ya Rabbi shalli ala Muhammad

Ya Rabbi shalli ala Muhammad

Ya Rabbi shalli alaihi wasallim

Haedar Nashir

Ya Rabbi alaihi wasallim

Haedar Nashir

Begitulah semarak peringatan maulid Nabi yang dilakukan di musholla Baitur Rohman desa Margoyoso kecamatan Kalinyamatan mulai Sabtu malam (12/1) hingga 12 hari kedepan. Tidak hanya di musholla, langgar, masjid, majlis taklim dan pesantren melakukan hal serupa. Waktunya bisa siang hari, sehabis maghrib maupun setelah isyak. 

Adapun yang mereka baca adalah shalawat nabi sekaligus maulid al-barjanzi, ad-dibai, simtuth durar dan lain sebagainya. Bagi kelompok yang memiliki alat musik rebana kemeriahan 12 hari mauludan semakin membahana. 

Kiai Khoirul Kamal mewakili nadhir musholla mengungkapkan kegiatan mauludan yang dilaksanakan selama 12 hari di bulan Rabiul Awwal merupakan agenda untuk merayakan kelahiran Nabi Muhammad SAW. “Siapa orangnya yang mengagungkan datangnya maulid nabi kelak akan disyafaati oleh kanjeng Nabi,” jelas Kamal sembari mengutip hadits. 

Kegiatan diawali dengan pembacaan shalawat, maulid, mahallul qiyam dan doa. Setelah itu jamaah diberi jadah, penganan yang dibawa oleh jamaah.

“Di musholla kami yang membawa penganan dibagi setiap malam ada 5 orang plus 2 orang yang membawa teko isi minuman. Itu kami lakukan agar penganan bisa dibagi rata untuk semua jamaah,” papar H Sururil Anwar, sekretaris Musholla. 

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Syaiful Mustaqim

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Humor Islam Haedar Nashir