Rabu, 29 Maret 2017

Numart Bangkitkan Perekonomian Warga NU di Sidoarjo

Sidoarjo, Haedar Nashir. Pasca diluncurkannya Numart oleh Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sidoarjo melalui Lembaga Perekonomian NU (LPNU) Sidoarjo beberapa watu lalu, kini pusat perbelanjaan swalayan Numart semakin dikunjungi pembeli.

Pasalnya, Numart tak hanya menjual aneka macam produk makanan maupun minuman dari kalangan pengusaha Nahdlatul Ulama, Numart juga menyediakan produk-produk kosmetik maupun perlengkapan rumah tangga.

Numart Bangkitkan Perekonomian Warga NU di Sidoarjo (Sumber Gambar : Nu Online)
Numart Bangkitkan Perekonomian Warga NU di Sidoarjo (Sumber Gambar : Nu Online)

Numart Bangkitkan Perekonomian Warga NU di Sidoarjo

Dengan kelengkapan produk yang dijual oleh Numart, para pembeli mengaku antusias berbelanja di Numart karena harga di Numart terbilang sangat murah dan produknya juga berbeda dengan swalayan lainnya.

Produk yang dipasarkan ini terdapat dari hasil buatan anggota Badan Otonom Nahdlatul Ulama Sidoarjo seperti Ansor, Muslimat dan Fatayat NU. Selain itu, pengelolah Numart juga membuka bagi pengusaha warga Nahdliyin lainnya untuk berjualan atau menitipkan di Numart.

Dengan adanya Numart ini omset penjualan setiap bulanya meningkat 50 persen hingga 75 persen. Dari hasil penjualan tersebut, pihak pengelolah Numart akan menyisahkan 10 persen yang diperuntukkan untuk sosial.

Haedar Nashir

"Numart akan bermanfaat bagi umat karena akan memberikan donasi kepada Numart setempat yang dibuka di banyak cabang. Donasi itu sendiri akan dicatat melalui perbankan, sehingga hasil Numart akan kembali ke masyarakat setempat dan disalurkan kepada fakir miskin dan kaum dhuafa," kata manajer Numart Sidoarjo, Guruh Sugeng Mulyono, Selasa (31/1).?

Haedar Nashir

Guruh menambahkan, tujuan Numart ini salah satunya untuk meningkatkan perekonomian dikalangan warga Nahdliyin. Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama Sidoarjo akan terus mengembangkan Numart di 18 kecamatan yang ada Sidoarjo dan bekerjasama dengan pengusaha dari kalangan Nahdliyin.

Diharapkan dengan adanya Numart ini perekonomian warga NU (Nahdliyin) di kabupaten Sidoarjo semakin maju karena persaingan usaha di bidang swalayan maupun minimarket semakin ketat.

Numart sendiri juga hadir di setiap acara NU dimanapun berada. Seperti pada saat acara Musker perdana PCNU Sidoarjo, yang digelar di pondok pesantren Al-Amanah, Junwangi, Krian pada hari Sabtu, 28 Januari 2017 lalu. Numart hadir di tengah-tengah warga Nahdliyin untuk memenuhi kebutuhan warga sekitar. (Moh Kholidun/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pertandingan, Pendidikan, Cerita Haedar Nashir

Minggu, 26 Maret 2017

Meneguhkan Islam Nusantara Untuk Peradaban Indonesia dan Dunia

Oleh KH Afifuddin Muhajir

Istilah Islam Nusantara agaknya ganjil didengar. Sama dengan Islam Malaysia, Islam Saudi, Islam Amerika, dan seterusnya, karena bukankah Islam itu satu, dibangun di atas landasan yang satu, yaitu Al-Quran dan Sunah. Memang betul Islam itu hanya satu dan memiliki landasan yang satu. Akan tetapi selain memiliki landasan nash-nash syariat (Al-Quran dan Sunah).

Meneguhkan Islam Nusantara Untuk Peradaban Indonesia dan Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)
Meneguhkan Islam Nusantara Untuk Peradaban Indonesia dan Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)

Meneguhkan Islam Nusantara Untuk Peradaban Indonesia dan Dunia

Islam juga memiliki acuan maqasidus syariah (tujuan syariat). Maqasidus syariah sendiri digali dari nash-nash syariah melalui sekian istiqro (penelitian).

Ulama kita zaman dahulu sudah terlalu banyak yang dilakukan. Di antaranya adalah melakukan penelitian dengan menjadikan nash-nash syariat, hukum-hukum yang digali daripadanya, ?illat-?illat dan hikmah-hikmahnya sebagai obyek penelitian. Dari penelitian itu diperoleh simpulan bahwa di balik aturan-aturan syariat ada tujuan yang hendak dicapai, yaitu terwujudnya kemaslahatan manusia di dunia dan akhirat.

Haedar Nashir

Kemaslahatan (ma?la?ah) semakna dengan kebaikan dan kemanfaatan. Namun, yang dimaksud dengan maslahat dalam konteks ini adalah kebaikan dan kemanfaatan yang bernaung di bawah lima prinsip pokok (al-kulliyatul khams), yaitu hifzhud din, hif?hul ?aql, hif?hun nafs, hifzhul mal, dan hifzh al-?ir?.

Ulama Ushul Fiqih membagi maslahat pada tiga bagian. Pertama, maslahat mu?tabarah, yaitu maslahat yang mendapat apresiasi dari syariat melalui salah satu nashnya seperti kearifan dan kebijakan dalam menjalankan dakwah islamiyah. Kedua, maslahat mulgoh, yaitu maslahat yang diabaikan oleh syariat melalui salah satu nashnya seperti menyamaratakan pembagian harta pusaka antara anak laki-laki dan anak perempuan. Ketiga, maslahat mursalah, yaitu kemaslahatan yang terlepas dari dalil, yakni tidak memiliki acuan nash khusus, baik yang mengapreasiasi maupun yang mengabaikannya seperti pencatatan akad nikah.

Haedar Nashir

Tujuan negara dalam Islam sejatinya sejalan dengan tujuan syariat, yaitu terwujudnya keadilan dan kemakmuran yang berketuhanan yang Maha Esa, negara yang memiliki dimensi kemaslahatan duniawi dan ukhrowi seperti tersebut sesungguhnya sudah memenuhi syarat untuk disebut negara khilafah, sekurang-kurangnya menurut konsep al-Mawardi. Dalam hal ini menurutnya, “? ? ? ? ? ? ? ? ?”, kepemimpinan negara diletakkan sebagai kelanjutan tugas kenabian dalam menjadi agama dan mengatur dunia.

Maqasidus syari?ah sekurang-kurangnya penting diperhatikan dalam dua hal:

1. Dalam memahami nushushus syariah, nash-nash syariat yang dipahami dengan memperhatikan maqasidus syari?ah akan melahirkan hukum yang tidak selalu tekstual tetapi juga kontekstual.

2. Dalam memecahkan persoalan yang tidak memiliki acuan nash secara langsung. Lahirnya dalil-dalil sekunder (selain Al-Quran dan Sunah) merupakan konsekuensi logis dari posisi maslahat sebagai tujuan syariat. Di antara dalil-dalil sekunder adalah al-Qiyas, Isti?san, Saddudz dzari?ah, ?Urf, dan Masla?ah Mursalah seperti disinggung di atas.

Al-Qiyas ialah memberlakukan hukum kasus yang memiliki acuan nash untuk kasus lain yang tidak memiliki acuan nash karena keduanya memiliki ?illat (alasan hukum) yang sama.

Isti?san ialah kebijakan yang menyimpang dari dalil yang lebih jelas atau dari ketentuan hukum umum karena ada kemaslahatan yang hendak dicapai.

Saddudz dzari?ah ialah upaya menutup jalan yang diyakini atau diduga kuat mengantarkan pada mafsadat.

?Urf adalah tradisi atau adat istiadat yang dialami dan dijalani oleh manusia baik personal maupun komunal. ?Urf seseorang atau suatu masyarakat harus diperhatikan dan dipertimbangkan di dalam menetapkan hukum sepanjang tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syariat. Mengabaikan ?urf yang sahih seperti tersebut bertentangan dengan cita-cita kemaslahatan sebagai tujuan (maqasidus) syari?ah.

Sebagian ulama mendasarkan posisi ?urf sebagai hujjah syar?iyyah pada firman Allah,

? ? ? ? ? ? ?

“Jadilah engkau pema’af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.” (al-A?raf: 199)

Dan sebagian yang lain mendasarkan pada hadis riwayat Ibn Mas?ud,

? ? ? ? ? ? ? ?

“Apa yang oleh kaum muslimin dipandang baik, maka baik pula menurut Allah.”

As-Sarakhsi mengungkapkan dalam kitab al-Mabsu?,

? ? ? ?

“Yang ditetapkan oleh ?urf sama dengan yang ditetapkan oleh nash.”

Pada titik ini perlu ditegaskan bahwa Islam bukanlah budaya karena yang pertama bersifat ilahiyah sementara yang kedua adalah insaniyah. Akan tetapi, berhubung Islam juga dipraktikkan oleh manusia, maka pada satu dimensi ia bersifat insaniyah dan karenanya tidak mengancam eksistensi kebudayaan.

Selain nususus syari?ah dan maqasidus syari?ah, Islam juga memiliki mabadi?us syari?ah (prinsip-prinsip syariat). Salah satu prinsip syariat yang paling utama sekaligus sebagai ciri khas agama Islam yang paling menonjol adalah al-wasa?hiyyah. Hal ini dinyatakan langsung oleh Allah swt dalam firman-Nya,

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu…” (al-Baqarah: 143)

Wasa?hiyyah yang sering diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan kata moderasi memiliki beberapa makna. Salah satu maknanya adalah al-waqi?iyyah (realistis). Realistis di sini tidak berarti taslim atau menyerah pada keadaan yang terjadi, akan tetapi berarti tidak menutup mata dari realitas yang ada dengan tetap berusaha untuk menggapai keadaan ideal.

Banyak kaidah fiqih yang mengacu pada prinsip waqi?iyyah, di antaranya:

?? ?

Kemudaratan harus dihilangkan.

? ? ? ? ? ? ?

Dalam kondisi sempit ada kelapangan, dan dalam kondisi lapang di situ ada kesempitan.

? ? ? ? ? ?

Menolak kerusakan didahulukan daripada mendatangkan kemaslahatan.

? ? ? ? ? ? ? ?

Turun ke  realitas yang lebih rendah ketika tak mungkin mencapai idealitas yang lebih tinggi.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Beradaptasilah dengan mereka selama kamu ada di kediaman mereka, dan hormatilah mereka selama kamu ada di kampung mereka.

Dakwah beberapa Wali Songo mencerminkan beberapa kaidah di atas. Secara terutama adalah Kalijaga dan Sunan Kudus. Sunan Kalijaga misalnya sangat toleran pada budaya lokal. Ia berkeyakinan bahwa masyarakat akan menjauh jika pendirian mereka diserang. Maka mereka harus didekati secara bertahap, mengikuti sambil mempengaruhi. Sunan Kalijaga berkeyakinan jika Islam sudah dipahami, dengan sendirinya kebiasaan lama hilang. Maka ajaran Sunan Kalijaga terkesan sinkretis (penyesuaian antara aliran-aliran) dalam mengenalkan Islam. Ia menggunakan seni ukir, wayang, gamelan, serta seni suara suluk sebagai sarana dakwah. Dialah pencipta baju takwa, perayaan sekatenan, grebeg maulud, layang kalimasada, lakon wayang Petruk jadi Raja. Lanskap pusat kota berupa keraton, alun-alun dengan dua beringin serta masjid diyakini sebagai karya Sunan Kalijaga.

Metode dakwah tersebut tidak hanya kreatif, tapi juga sangat efektif (wa yadkhuluna fi dinillahi afwaja). Sebagian besar adipati di Jawa memeluk Islam melalui Sunan Kalijaga. Di antaranya adalah Adipati Padanaran, Kartasura, Kebumen, Banyumas, serta Pajang (sekarang Kotagede, Yogyakarta). Sunan Kalijaga dimakamkan di Kadilangu, selatan Demak.

Demikian juga dengan metode Sunan Kudus yang mendekati masyarakatnya melalui simbol-simbol Hindu dan Budha. Hal itu terlihat dari arsitektur masjid Kudus. Bentuk menara, gerbang dan pancuran/padasan wudhu yang melambangkan delapan jalan Budha. Sebuah wujud kompromi yang dilakukan Sunan Kudus.

Ada cerita masyhur, suatu waktu ia memancing masyarakat untuk pergi ke masjid mendengarkan tablighnya. Untuk itu, ia sengaja menambatkan sapinya yang diberi nama Kebo Gumarang di halaman masjid. Orang-orang Hindu yang mengagungkan sapi, menjadi simpati. Apalagi setelah mereka mendengar penjelasan Sunan Kudus tentang surat Al-Baqarah yang berarti “Seekor Sapi”. Sampai sekarang, sebagian masyarakat tradisional Kudus, masih menolak untuk menyembelih sapi. Sunan Kudus juga menggubah cerita-cerita ketauhidan. Kisah tersebut disusunnya secara berseri, sehingga masyarakat tertarik untuk mengikuti kelanjutannya. Suatu pendekatan yang agaknya mencopy-paste kisah 1001 malam dari masa kekhalifahan Abbasiyah. Dengan begitulah Sunan Kudus mengikat masyarakatnya.

Perlu juga dikemukakan perbedaan prinsip antara fiqih ibadat (ritual) dan muamalat (sosial). Salah satu kaidah fiqih ibadat mengatakan “? ? ? ? ? ?”, Allah tidak boleh disembah kecuali dengan cara yang disyariatkan-Nya. Sebaliknya kaidah fiqih muamalat mengatakan, “? ? ? ? ?”, muamalat itu bebas sampai ada dalil yang melarang.

Paparan di atas dikemukakan untuk menjelaskan manhaj Islam Nusantara sebagaimana dibangun dan diterapkan oleh Wali Songo serta diikuti oleh ulama Ahlis Sunah di negara ini dalam periode berikutnya.

Islam Nusantara ialah paham dan praktik keislaman di bumi Nusantara sebagai hasil dialektika antara teks syariat dengan realita dan budaya setempat.

Satu lagi contoh penting dari bagaimana ulama Nusantara memahami dan menerapkan ajaran Islam adalah lahirnya Pancasila. Pancasila yang digali dari budaya bangsa Indonesia diterima dan disepakati untuk menjadi dasar negara Indonesia meskipun pada awalnya kaum muslimin keberatan dengan itu. Pasalnya yang mereka idealkan adalah Islam secara eksplisit yang menjadi dasar negara. Namun, akhirnya mereka sadar bahwa secara substansial Pancasila adalah sangat Islami. Sila pertama yang menjiwai sila-sila yang lain mencerminkan tauhid dalam akidah keislaman. Sedangkan sila-sila yang lain merupakan bagian dari representasi syariat.

Seandainya kaum muslimin ngotot dengan Islam formalnya dan kelompok lain bersikeras dengan sekulerismenya barang kali sampai saat ini negara Indonesia belum lahir. Itulah pentingnya berpegang pada kaidah “? ? ? ? ? ?”, menolak mudarat didahulukan daripada menarik maslahat.

Pemahaman, pengalaman, dan metode dakwah ulama Nusantara, sejauh ini telah memberikan kesan yang baik, yaitu Islam yang tampil dengan wajah semringah dan tidak pongah, toleran tapi tidak plin-plan, serta permai nan damai.

Saat ini, dunia Islam di Timur Tengah tengah dibakar oleh api kekerasan yang berujung pada pertumpahan darah. Ironisnya, agama Islam acapkali digunakan sebagai justifikasi bagi perusakan-perusakan tersebut. Maka cara berislam penuh damai sebagaimana di Nusantara ini kembali terafirmasi sebagai hasil tafsir yang paling memadai untuk masa kini.

Yang menjadi pekerjaan rumah bersama adalah bagaimana nilai-nilai keislaman yang telah dan sedang kita hayati ini, terus dipertahankan. Bahkan, kita harus berupaya ‘mengekspor’ Islam Nusantara ke seantero dunia, terutama ke bangsa-bangsa yang diamuk kecamuk perang tak berkesudahan, yaitu mereka yang hanya bisa melakukan kerusakan (fasad) tapi tidak kunjung melakukan perbaikan (sholah). Tugas kita adalah mengenalkan Allah yang tidak hanya menjaga perut hamba-Nya dari kelaparan, tapi juga menenteramkan jiwa dari segala kekhawatiran,

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

“Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan pemilik rumah ini (Ka’bah). Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan” (Quraisy: 3-4). Wallahu A’lam.

*) KH Afifuddin Muhajir, Katib Syuriyah PBNU. Ia merupakan guru utama fiqih dan ushul fiqih di Ma’had Aly Pesantren Salafiyah As-Syafi’iyyah, Sukorejo, Situbondo. Tulisan ini dikutip dari situs jejaring Ma’had Aly setempat. Ia baru saja meluncurkan karya Fathul Mujib sebagai syarah kitab Taqrib.

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Internasional, Tokoh Haedar Nashir

Sabtu, 25 Maret 2017

Ada Sahabat Nabi Masuk Surga Karena Surat Al-Ikhlas

Depok, Haedar Nashir. Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat KH Cholil Nafis menyebutkan, ada sahabat Nabi Muhammad yang masuk surga karena kecintaannya kepada surat Al-Ikhlas. Suatu saat ada sahabat yang selalu membaca surat pendek tersebut setiap kali menjadi imam salat. Lalu ada jamaah shalat yang bosan karena sahabat tersebut membaca surat itu. ?

“Terus ditanya Nabi Muhammad, ‘kenapa baca Qulhu (surat Al-Ikhlas) terus?’ Sahabat tersebut menjawab, ‘saya paling seneng yang ada di dalam Al-Qur’an itu surat Al-Ikhlas. ‘Karena Anda mencintai Al-Ikhlas, Allah mencintai Anda dan memasukkan anda ke surga’,” kata Kiai Cholil di Pesantren Cendekia Amanah Depok, Selasa (26/8).

Ada Sahabat Nabi Masuk Surga Karena Surat Al-Ikhlas (Sumber Gambar : Nu Online)
Ada Sahabat Nabi Masuk Surga Karena Surat Al-Ikhlas (Sumber Gambar : Nu Online)

Ada Sahabat Nabi Masuk Surga Karena Surat Al-Ikhlas

Di lain cerita, lanjut Kiai Cholil, ada juga sahabat yang mengaku tidak bisa membaca selain surat Al-Ikhlas. “Karena Anda mewajibkan baca Qulhu, maka Allah mewajibkan Anda untuk masuk surga,” jelasnya.

Oleh sebab itu, ia berpendapat kenapa orang-orang tua dulu seringkali baca surat Al-Ikhlas, terutama saat salat Tarawih. Karena meskipun surat pendek, tetapi manfaatnya sangat besar sekali.?

Haedar Nashir





Kenapa surat Al-Ikhlas dibaca tiga kali?

Kiai Cholil menerangkan, alasan mengapa surat Al-Ikhlas dibaca tiga kali saat tahlil, yaitu karena surat tersebut adalah sepertiga dari Al-Qur’an. Menurut dia, Al-Qur’an itu terbagi menjadi tiga yaitu hukum, janji, dan sifat Allah.

Haedar Nashir

“Asma sifat Allah ya Qulhu ini. Baca Qulhu sekali itu seperti baca sepertiga Al-Qur’an. Kalau baca tiga kali, sama dengan baca khatam Al-Qur’an,” ucapnya.

Ia mencotohkan, Ali bin Abi Thalib membaca surat Al-Ikhlas tiga kali sebagai mahar saat menikahi Fatimah binti Muhammad.?

“Sayyidina Ali bisa ngatamin Al-Qur’an dalam sekejap untuk Siti Fatimah sebagai maharnya, bisa. Apa? Baca Qulhu,” ceritanya. (Muchlison Rohmat/Abdullah Alawi)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kyai Haedar Nashir

Kamis, 23 Maret 2017

Makna Penyucian Jiwa

Oleh M Sadullah

--Jiwa adalah ruh. Dengan ruh, manusia bisa mengenal kebaikan dan juga bisa menangkap hal-hal yang baik bagi dirinya. Tidak hanya sebagai fungsi jasadinya saja, tetapi juga sebagai fungsi intelektual, penalaran, dan emosional. Oleh karena adanya sebuah ruh tersebut, fungsi-fungsi di atas dapat berkembang ke arah yang lebih baik.

Makna Penyucian Jiwa (Sumber Gambar : Nu Online)
Makna Penyucian Jiwa (Sumber Gambar : Nu Online)

Makna Penyucian Jiwa

Marilah kita membayangkan sebuah besi. Besi itu fisiknya kuat. Dapat dipakai untuk konstruksi bangunan, menopang jembatan, menahan beban ratusan ton pada setiap harinya, lalu lalang kendaraan dengan muatan yang sangat berat. Ketika besi dicampur dengan baja, maka akan menjadi sedemikian tahan untuk menerima beban yang sangat berat. 

Pertanyaannya, Apakah besi suatu saat akan berkarat dan berkurang fungsinya? Jawabannya adalah iya. Pengurangan fungsi dan kekuatan terjadi karena karat tersebut. Demikian pula dengan ruh kita, suatu saat akan mengalami sifat dan hal-hal yang mengganggu fungsi dan kegunaan utama ruh itu sendiri. Ketika hal tersebut terjadi, akan berakibat pada berkurangnya fungsi dalam menangkap kebaikan. Pada saat itulah kita membutuhkan upaya untuk menyucikan jiwa kita. 

Haedar Nashir

Terkait konsep tentang penyucian jiwa, hal ini telah difirmankan oleh Allah SWT melalui, “Qad aflaha man tazakka”(sungguh bahagialah orang yang dapat menyucikan dirinya). Pada ayat selanjutnya diterangkan, “wadzakarasma rabbihi fa shalla” (kemudian mengingat Allah, asma Allah dan kemudian shalat). 

Mengingat di sini dapat bermakna mengingat Asma Allah, bisa juga bermakna lebih meningkat lagi yaitu mengingat Allah.Atau dapat pula dimaknai dengan hadirnya hati di dalam menyebut asma Allah, yaitu lisan kita menyebut dan hati kita mengingat-Nya. Lebih tinggi lagi dari hal tersebut adalah menghadirkan kebaikan-kebaikan di dalam pikiran, hati, dan perbuatan kita sesuai dengan yang dikehendaki Allah SWT. Itulah tingkatan berdzikir yang sangat tinggi. 

Haedar Nashir

Berdzikir kepada Allah bisa berarti menyebut asma Allah, misalnya melafadzkan kata ”Allah, subhanallah, alhamdulillah, Allahu Akbar dan hauqalah. Demikian bacaan dzikir bisa kita pelajari, terutama yang ma’tsurat seperti yang telah diajarkan oleh Rasullullah SAW. 

Kita menyebut asma Allah saja, sudah terbimbing pelan, selanjutnya berangsur ke pikiran dan hati kita. Apabila kita dapat memasukkan asma Allah yang baik itu dalam memori kita, berarti kita menyertakan ingatan kita pada saat menyebut nama Allah, maka kita mencapai tahap yang nomer dua. Apabila kita berusaha atau mewujudkan kebaikan yang Allah berikan kepada kita menjadi perbuatan, ucapan dan sikap kita, maka kita mencapai tahap dzikir yang nomer tiga, yaitu tahap dzikir yang sangat tinggi.

Mengapa kita perlu menyucikan jiwa? Penyucian jiwa itu menjadi penting, karena iman dan kebaikan manusia itu mengalami  pasang surut. Oleh karena manusia itu hidup dalam pergaulan antar sesamanya, perasaan manusia tidak semuanya stabil terus menerus, melainkan kadang-kadang sedih, bergembira, bersemangat, kurang semangat, maka penyucian jiwa itu penting bagi kita. 

Prof M Adnan dalam bukunya, Ta’yid Al Islam, disana dikutip bahwa hati manusia itu bisa berkarat. Kemudian orang-orang bertanya, “Apa obat bagi hati yang berkarat itu?”. Jawabnya, “Membaca Al-Qur’an dan mengingat kematian”.  Apa maksud dari hati yang berkarat itu? Artinya, kalau suatu saat hati kita merasa sulit menerima nasihat, sulit melaksanakan kebaikan,  putus harapan, lemah harapan dan lain sebagainya, saat itulah hati kita diperlukan penyucian jiwa untuk menjaga kesetabilan jiwa kita.

Apakah dalam penyucian jiwa itu harus menyertakan jasad, akal dan kalbu? Jawabnya, “betul”. Dalam penyucian jiwa, Allah SWT memberikan modal kepada kita yang berupa akal pikiran dan panca indera. Tidak hanya itu saja, ternyata Allah SWT memberikan kepada kita semua berupa ruh. Karena dengan ruh tersebut yang paling peka dalam menangkap kebaikan, yang dibantu dengan akal dan panca indera. 

Menurut keterangan Sayid Naqib Al Athas yang dikutip dari Imam Ghazali, ada sesuatu yang disebut dengan jiwa. Didalam jiwa ternyata ada akal. Dimana akal tersebut tidak sendirian dalam membentuk jiwa kita. Ia berkaitan dengan kalbu dan nafs. Akal adalah satu jenis kecakapan yang ada dalam diri kita yang membuat kita sadar dan memiliki kecerdasan. 

Dengan kecerdasan tersebut maka kita dapat mempunyai penalaran. Dengan penalaran maka kita bisa menyusun abstraksi, dan pengetahuan yang makin lama terhimpun semakin banyak. Itulah kemampuan akal manusia. 

Dalam jiwa juga ada kalbu (qalbu). Ketika kita melihat sesuatu sebagai bimbingan dari Tuhan, cahaya dari Tuhan, misalnya ini baik, ini menyelamatkan, maka pada saat itulah sisi kalbu yang bekerja. Contohnya, kalau kawan kita terbaring di rumah sakit maka kita akan merasa bersyukur kepada Allah SWT dengan nikmat kesehatan yang kita miliki. 

Selain itu, ada nafs. Nafs ini sesuatu yang berurusan dengan badan. Contohnya adalah, kalau kita membutuhkan makan dan minum, maka kita merasakan haus dan lapar. 

Maka dari itu, disebut menyucikan jiwa apabila kita mengasah akal kita agar menjadi lebih cerdas, mengasah kalbu kita agar lebih peka dengan kebaikan, dan mengasah nafs kita agar peka terhadap gejala-gejala badaniyah yang kesemuanya kita arahkan dalam kebaikan. 

Mudah mudahan dengan tazkiyatun nafs atau penyucian jiwa ini kita semua mendapat berkahnya bulan Ramadhan, ibadah kita diterima oleh Allah, Amal kebaikan kita dilipat gandakan dan kualitas puasa kita lebih baik dari pada hari-hari sebelumnya. Wallahu A’lam.

M Sa’dullah, (Staf Pengajar di Pondok Pesantren Ath-Thohiriyyah, Purwokerto Banyumas dan Sekretaris LBM PCNU Banyumas).

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Hadits, Internasional Haedar Nashir

Kirab Hari Santri Dimulai dari Surabaya Menuju Jakarta

Surabaya, Haedar Nashir. H Abdul Halim Iskandar sebagai Ketua Panitia Daerah Kirab Hari Santri Nasional menandaskan siap mengawal kesuksesan kegiatan ini. Hal tersebut sebagai upaya untuk melanjutkan cita-cita para ulama dalam menjaga Ahlussunnnah wal Jamaah dan Nahdlatul Ulama dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Kirab Hari Santri Dimulai dari Surabaya Menuju Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)
Kirab Hari Santri Dimulai dari Surabaya Menuju Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)

Kirab Hari Santri Dimulai dari Surabaya Menuju Jakarta

Penegasan ini disampaikan Gus Halim, sapaan akrabnya saat memberikan sambutan atas nama panitia. "Hari santri sebagai langkah untuk meneguhkan panji-panji kebangsaan dan kebangsaan," katanya di area Tugu Pahlawan Surabaya, Ahad (18/10) pagi.

Ketua DPRD Jawa Timur ini juga mengingatkan kepada sejumlah pihak yang mempersoalkan keberadaan Hari Santri Nasional. "Santri itu tidak pernah berbuat ulah, tapi jangan diusik," katanya. Kalau kemudian ada yang melakukan itu, maka ia bersama elemen santri yang lain tidak segan-segan melakukan perlawanan, lanjutnya.

Haedar Nashir

"Kami sebagai santri hanya menunggu komando dari kiai," tandas Gus Halim. Kalau kemudian kiai memberikan aba-aba untuk menyerang mereka yang mempersoalkan Hari Santri Nasional, maka dengan segala kepatuhan akan melaksanakan perintah tersebut, lanjutnya.

Gus Halim juga mengemukakan sejumlah acara pendukung untuk semakin mengenalkan Hari Santri Nasional. "Tadi pagi ada fun run yang diikuti sepuluh ribu peserta," katanya. Besok (19/10) ada seminar nasional yang mengungkap resolusi jihad, serta 22 Oktober mendatang diselenggarakan teatrikal Resolusi Jihad.

Haedar Nashir

Dengan berpidato penuh semangat dan mengenakan pakaian ala Bung Tomo, Gus Halim tidak lupa mengucapkan terimakasih atas upaya berbagai kalangan sehingga 22 Oktober ditetapkan sebagai Hari Santri Nasional. (Ibnu Nawawi/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Lomba Haedar Nashir

Selasa, 21 Maret 2017

GP Ansor Pragaan Adakan Safari Khatmil Qur’an

Sumenep, Haedar Nashir?

Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda ? (GP) Ansor Kecamatan Pragaan menggelar safari ramadhan yang diisi dengan khatmil Qur’an secara bergantian di setiap ranting kecamatan Pragaan. Safari pertama kali dimulai di ranting Kaduarah Timur, Rabu (31/5) yang dimulai pukul 14.00 WIB.

GP Ansor Pragaan Adakan Safari Khatmil Qur’an (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Pragaan Adakan Safari Khatmil Qur’an (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Pragaan Adakan Safari Khatmil Qur’an

Safari tersebut merupakan agenda permanen tiap bulan Ramadhan. Pengurus baik Ranting dan PAC wajib hadir untuk mengikutinya.

Ketua PAC GP Ansor Pragaan Moh. Qudsi mengatakan, Safari Ramadhan diinstruksikan pengurus Pimpinan Cabang GP Ansor Sumenep.

Haedar Nashir

"Saya yakin PAC dan pengurus ranting GP Ansor yang barada di Kecamatan lainnya juga kompak dalam mengikuti Safari Ramadhan. Dikarenakan agenda ini murupakan instruksi langsung dari pengurus PC Sumenep," tambahnya Qudsi.

Ketua Ranting GP Ansor Kaduarah Timur Masduqi, yang ditunjuk sebagai tuan rumah Khatmil Qur’an mengaku senang dengan kegiatan tersebut.?

Haedar Nashir

"Kehadiran teman-teman semua merupakan kebanggaan bagi saya selaku tuan rumah," terangnya pungkasnya. (Zainal Arifin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nahdlatul Ulama Haedar Nashir

Senin, 20 Maret 2017

Al-Quran, Tafsir Bung Karno dan Pancasila

Bulan Juni adalah bulannya Bung Karno. Sang Proklamator lahir di tanggal 6 Juni dan wafat 21 Juni. 1 Juni juga menjadi Hari Lahir Pancasila, yang ditandai dengan pidato bersejarah Bung Karno di depan Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang isinya menjadi cikal-bakal Pancasila.

Di samping itu, bulan Juni 2017 ini bertepatan dengan bulan Ramadhan, di mana merupakan bulan suci Islam yang pada tanggal 17 Ramadhan menjadi hari diturunkannya Al-Quran (Nuzulul Qur’an). Dalam kalender hijriyah, di bulan Ramadhan ini pula Kemerdekaan RI tercapai, yakni tepatnya 9 Ramadhan 1364 H.

Momentum istimewa bagi Indonesia dan Islam ini dimanfaatkan tokoh muda nahdliyin yang sekaligus Wakil Bupati Trenggalek, Muchamad Nur Arifin untuk me-launching buku baru sekaligus buku perdananya yang berjudul “Bung Karno “Menerjemahkan” Al-Quran” diterbitkan oleh Penerbit Mizan. Arifin merupakan Pengurus Lesbumi PBNU dan Ketua Bidang Kominfo Ansor Jawa Timur.

Al-Quran, Tafsir Bung Karno dan Pancasila (Sumber Gambar : Nu Online)
Al-Quran, Tafsir Bung Karno dan Pancasila (Sumber Gambar : Nu Online)

Al-Quran, Tafsir Bung Karno dan Pancasila

Dalam bukunya ini, Arifin mengupas tuntas pemikiran Bung Karno tentang nilai-nilai dasar ideologi keindonesiaan. Namun berbeda dengan buku tentang Bung Karno yang lainnya, buku ini menggunakan perspektif tafsir Al Quran. Secara khusus buku ini memotret pemikiran Bung Karno tentang kebangsaan dan keislaman dalam bingkai ayat-ayat Al Quran. Ini kekhasan yang jarang kita temukan dalam buku-buku tentang pemikiran Bung Karno yang lainnya.

Buku ini dengan tegas menampilkan sosok Bung Karno yang nasionalis sekaligus religius. Pada diri dan pemikiran Bung Karno terkonvergensi keindonesiaan sekaligus keislaman. Bagi Bung Karno, bertuhan itu sekaligus berindonesia, dan berindonesia itu sekaligus berislam. Jadi, tak ada pengkotak-kotakan atas semua itu. Semuanya bersinergi membentuk sebuah filosofi, visi, dan nilai-nilai bersama. Semua nilai itu tercakup dalam Pancasila.

Haedar Nashir

?

Oleh karena itu, menurut Prof. Mahfud M.D, buku ini penting untuk menjelaskan kepada publik tentang keislaman gagasan-gagasan Bung Karno. “Sebab masih banyak yang salah paham seakan-akan Bung Karno adalah tokoh yang sangat sekular yang tak peduli pada agama. Padahal, pandangan dan langkah-langkahnya sangat agamis,” tuturnya.

Buku ini hadir pada saat yang tepat: saat keislaman dan keindonesiaan dipertentangkan, Pancasila versus Khilafah. Di tengah maraknya kalangan hingga ormas muslim radikal yang mempertentangkan Pancasila dan Islam sembari menawarkan gagasan khilafah atau syariat Islam bagi negeri ini.?

Buku ini menyuntikkan kembali kesadaran tentang betapa berharganya nilai-nilai kebangsaan dan keislaman kita. Bahwa semua itu sudah tuntas dirumuskan oleh para founding fathers kita. Tak ada lagi dikotomi antara Indonesia dan Islam. Keduanya lebur, sinergis, sekaligus beyond, seperti yang bisa kita lihat pada figur Bung Karno.

Haedar Nashir

?

Oleh karena itu, komentar Ketua Umum PBNU, KH. Said Aqil Siroj, “buku ini lahir pada waktu yang tepat untuk menjelaskan kepada rakyat Indonesia bahwa asas-asas bangsa ini, terutama Pancasila selaras dan koheren dengan pesan-pesan Al-Quran dan nilai-nilai Islam.”

Dalam satu subbab khusus, buku ini juga mengupas tentang titik temu Bung Karno dan Nahdlatul Ulama (NU): ijtihad kebangsaan Bung Karno bertemu dengan ijtihad keislaman NU di “terminal” bernama Pancasila. Sesuatu yang disebut oleh penulis buku ini sebagai sinergi yang apik: tokoh besar nasionalis bertemu dengan ormas besar religius dalam sebuah gagasan yang menyatukan kedua latar belakangnya tersebut, yakni nasionalisme-religius. Perpaduan yang memberikan kontribusi tak ternilai bagi Indonesia.

Identitas buku:

Judul : Bung Karno “Menerjemahkan” Al-Quran

Penulis : Muchamad Nur Arifin

Penerbit : Mizan

Terbit : Juni, 2017

Peresensi: Husen Jafar, peneliti dan esais, mengeloka komunitas @SejarahRI.

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Halaqoh, Pertandingan Haedar Nashir