Selasa, 18 April 2017

Pendidikan Terpadu GP Ansor Polewali Mandar Bangkitkan Cinta NU dan NKRI

Polman, Haedar Nashir - Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Polewali Mandar (Polman) menggelar Diklat Terpadu Dasar (DTD) Angkatan ke-IV di masjid Raya Desa Sattoko Kecamatan Mapilli Kabupaten Polman, Sulawesi Barat (Sulbar). Selama tiga hari, Sabtu-Senin (23-25/7), 62 peserta menerima sejumlah materi penguatan ke-NU-an dan keindonesiaan.

Hadir pada kegiatan ini Instruktur PP GP Ansor Mas’ud Saleh, Annangguru Ustad Zainul Abidin, sejumlah PW GP Ansor, dan seluruh Kader GP Ansor Polman. Kegiatan pembukaan semakin ramai dan antusiasnya dengan pemerintah dan masyarakat setempat ikut menghadiri kegiatan tersebut.

Pendidikan Terpadu GP Ansor Polewali Mandar Bangkitkan Cinta NU dan NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)
Pendidikan Terpadu GP Ansor Polewali Mandar Bangkitkan Cinta NU dan NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)

Pendidikan Terpadu GP Ansor Polewali Mandar Bangkitkan Cinta NU dan NKRI

Ketua GP Ansor Polman Busra dalam sambutannyya menyampaikan bahwa DTD ini merupakan komitmen pengurus dalam melanjutkan jejang kaderisasi.

Haedar Nashir

“Khusus untuk kepengurusan kami, DTD ini merupakan yang ke-IV dan insya Allah kami akan terus melanjutkan kegiatan seperti ini guna mengajak para pemuda polman yang berlatarkan NU kultural untuk bergabung bersama barisan GP Ansor,” kata Busra.

Haedar Nashir

Sementaran Mas’ud Saleh menyampaikan kepada hadirin untuk menyayangi NU karena NU sayang kita.

“Bahwa NU lahir dalam semangat kebangsaan dan keislaman Indonesia sehingga citra Indonesia yang Islami dan keislaman yang indonesiawi? itulah yang diajarkan oleh NU, terlebih tradisi budaya masyarakat Sulawesi Barat sedari dulu bercirikan Islam Aswaja An-Nahdhiyah,” ungkap Mas’ud.

Ia mengajak segenap kader untuk konsisten dalam ber-NU, “Mari meraih ridha Allah SWT dan syafaat Nabi Muhammad SAW dengan cara menjadi kader NU yang istiqamah sebagaimana pesan Hadrattusyekh KH Hasyim Asy’ari,” tutup Mas’ud.

Peserta yang mengikuti DTD kali ini berasal dari berbagai kecamatan. Pendidikan ini berakhir pada senin dinihari dengan jumlah peserta yang dibaiat berjumlah 62 kader. (Sudianto/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Lomba, Doa Haedar Nashir

PWNU Sumbar Gelar Silaturrahmi dan Pembekalan

Padang, Haedar Nashir

Suasana memeriahkan Hari Lahir (Harlah) Nahdlatul Ulama ke-82 di Propinsi Sumatera Barat mulai terasa. Setidaknya, suasana tersebut diawali Pengurus Wilayah NU Sumbar dengan silaturrahim jajaran Pengurus Cabang NU se-Sumbar.

Selain silaturrahim, diadakan pembekalan untuk kalangan pengurus NU di tingkat kabupaten dan kota di Sumbar, Sabtu-Minggu, (5-6/1 ) di Gedung Bintang Sembilan, Padang. Pembekalang meliputi materi pengembangan pertanian, pendidikan serta pengembangan organisasi NU di Ranah Minang ini.

PWNU Sumbar Gelar Silaturrahmi dan Pembekalan (Sumber Gambar : Nu Online)
PWNU Sumbar Gelar Silaturrahmi dan Pembekalan (Sumber Gambar : Nu Online)

PWNU Sumbar Gelar Silaturrahmi dan Pembekalan

Sekdaprov Yohanes Dahlan berharap, agar NU betul-betul mengembangkan pendidikan di daerah ini. Kita tahu, bahwa kelahiran NU dilatar belakangi dengan masalah dakwah dan pendidikan. Maka sudah sewajarnya pendidikan menjadi agenda utama dalam mengembangkan organisasi di Sumbar ini.

Ketua PP Lembaga Pendidikan Ma’arif NU, Dr. H. Fathoni Rodli berharap, agar LP Ma’arif NU dikelola dengan basis manajemen, bukan lagi dengan berbasis kharismatik, seperti diawal NU lahir di nusantara ini. Dengan berbasis manajemen itulah, kita mampu memenej NU yang begitu besar, dengan berbagai dinamikanya.

“Dulu, betapa banyak tokoh Minangkabau ini yang berhasil dibidang pendidikan, politik serta sejumlah prestasi lainya ditingkat nasional. Namun, akhir-akhir ini jarang sekali kita mendengar, nama orang Minang yang menonjol di tingkat nasional. Ini merupakan tantangan kita bersama, termasuk juga NU Sumbar,“ kata Sekretaris Daerah Propinsi Sumatera Barat Yohanes Dahlan saat membuka pembekalan.

Acara pembekalan dihadiri jajaran PWNU Sumbar, seperti Rais Syuriyah Drs. H. Amiruddin, Wakil Rais Drs. H. Bagindo Letter, Wakil Ketua Drs. Zamhar Baheram, Ir. H. A. Khusnun Aziz, MM, Sekretaris Firdaus, SS, Ketua LP Ma’arif NU Sumbar, Drs. Ideal Alimuddin, M. Hi,.

Haedar Nashir

Sekretaris PWNU Sumbar, Firdaus, SS, menyebutkan, pembekalan pengurus PC NU Kabupaten/Kota se-Sumbar terkait dengan suasana Harlah NU ke-82 tahun. Peserta disamping dibekali dengan materi dari PP. LP. Ma’arif, juga materi dari konsultan pertanian. Diharapkan, peserta yang mengikuti memiliki wawasan pendidikan melalui program LP Ma’arif dan pertanian. Sehingga diharapkan mampu mengembangkan pertanian yang notabene banyak dimiliki oleh warga NU di berbagai nagari di Sumbar ini.

Terkait dengan suasana Harlah NU ke-82, direncanakan Istiqhosah NU 13-14 Januari 2008 di Pasaman Barat. Insya Allah Istighosah itu akan dihadiri Ketua Umum Tanfidziyah PBNU, KH. Dr. Hasyim Muzadi dan Prof. Dr. KH. Syaid Agil Siraj sebagai pemberi tausiyah. Rencananya kegiatan Istighosah dihadiri lebih kurang sepuluh ribu warga nahdiyin se Sumbar. Sehingga hal ini menunjukkan bahwa NU eksis di Sumbar dan memiliki agenda besar untuk memajukan kehidupan dan kemaslahatan warganya pada khususnya dan masyarakat Sumbar umumnya, kata Firdaus.

Haedar Nashir

Dari silaturrahmi tersebut, Wakil Lembaga Dakwah NU Sumbar Reza Fahmi berharap konsolidasi PW dan PC-NU Sumbar dipandang penting untuk dilakukan secara berkala. Mengingat NU merupakan sebuah ormas yang sesungguhnya telah melekat dalam kultur masyarakat Minang. Dimana nilai filosofis Adat Basandi Syarak dan Syarak Basandi Kitabullah sesungguhnya merupakan pengejawantahan dari nilai-nilai pemikiran NU.

“Sebuah hal yang tragis, apabila hingga hari ini masih ada di kalangan anggota nahdiyin yang malu untuk menyatakan diri sebagai warga NU. Justru sebaliknya warga NU Sumbar perlu bangga terhadap keberadaan dirinya sebagai anggota ormas Islam terbesar di tanah air,” kata Reza. (arm)



Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Hikmah Haedar Nashir

Minggu, 16 April 2017

Alumni PMII Jabar Siap Bangun Sekretariat dan Perguruan Tinggi

Bandung,Haedar Nashir

Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (IKA-PMII) Jawa Barat mengadakan kegiatan Reuni Alumni dan Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil). Salah satu buah dari pertemuan tersebut adalah perencanaan pembuatan gedung sekretariat 3 Lantai.

Alumni PMII Jabar Siap Bangun Sekretariat dan Perguruan Tinggi (Sumber Gambar : Nu Online)
Alumni PMII Jabar Siap Bangun Sekretariat dan Perguruan Tinggi (Sumber Gambar : Nu Online)

Alumni PMII Jabar Siap Bangun Sekretariat dan Perguruan Tinggi

Menurut Ketua Pelaksana kegiatan tersebut Muhtarom, biaya untuk pembangunan gedung dan pembelian tanah sudah terkumpul sebagian.

"Barusan, seperti yang kita dengar sudah terkumpul 150 meter dari (target) 500 meter untuk pembangunan gedung Ika PMII," katanya pada Reuni Alumni IKA-PMII, di kampus UNINUS, Jalan Soekarno Hatta, Bandung, Jawa Barat, Pada (21/8).

Haedar Nashir

Rencananya, gedung akan dibuat tiga lantai sebagai sentral dari kegiatan PMII seperti pelatihan, kaderisasi dan pusat komunikasi para alumni.

Haedar Nashir

"Di atas tanah 500 meter ini akan dibangun 3 lantai. Lantai pertama untuk aula, lantai kedua untuk kantor IKA dan lantai ketiga untuk kantor yayasan," jelasnya.

Setelah Muswil, lanjutnya, ke depan akan dimatangkan persiapan pembangunan perguruan tinggi yang akan dikelola oleh para alumni.

"Memang sekarang ada beberapa tanah yang diwakafkan ke yayasan untuk pembangunan perguruan tinggi, mudah - mudahan bisa terwujud," ujarnya.

Ketua Alumni IKA PMII Jabar Numan Abdul Hakim mengaharapkan agar para alumni bisa di garda terdepan menyelesaikan persoalan bangsa.

"PMII harus tampil, katakanlah, menjadi peniup peluitnya ketika tidak ada yang tidak beres baik itu sistem politik, sistem sosial dan sebagainya," ujarnya.

Dia juga mengimbau agar alumni PMII berkiprah di NU. "Kita berharap, (alumni) PMII tidak berhenti ketika dia punya jabatan saja, termasuk memikirkan NU sebagai organisasi sosial yang dibutuhkan kehadirannya oleh masyarakat," lanjutnya.

Tampak hadir pada kegiatan tersebut, Ketua Mabin PB IKA PMII KH Ahmad Bagdja, dan sekitar 350 alumni dari berbagai daerah di Jawa Barat. (Bakti Habibie/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir IMNU, Tokoh Haedar Nashir

Jumat, 14 April 2017

SDIT Harapan Umat Brebes Tak Gelar Upacara 17-an

Brebes, Haedar Nashir. Di saat anak-anak sekolah di berbagai tingkatan baik SD/MI, SMP/MTs maupun SMA/SMK/MA? berangkat upacara HUT ke-70 RI, ratusan anak di Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Harapan Umat Brebes, Jateng justru meliburkan siswanya. Terang saja, sekolah yang terletak di Jalan Yos Sudarso tersebut tidak mengadakan upacara 17-an.

Keberanian Kepala Sekolah tidak menggelar upacara mendapat reaksi keras dari para orang tua murid dan mendapat sorotan dari elemen masyarakat termasuk media sosial. Bahkan Dandim 0713/Brebes? dan Polres Brebes langsung mengadakan klarifikasi ke sekolah tersebut.

SDIT Harapan Umat Brebes Tak Gelar Upacara 17-an (Sumber Gambar : Nu Online)
SDIT Harapan Umat Brebes Tak Gelar Upacara 17-an (Sumber Gambar : Nu Online)

SDIT Harapan Umat Brebes Tak Gelar Upacara 17-an

Dandim 0713 Brebes, Letkol Inf Efdal Nazra mengatakan, setiap sekolah wajib melaksanakan upacara bendera dalam rangka HUT Kemerdekaan RI. Itu sebagai bentuk penghargaan dan penghormatan terhadap para pejuang yang rela mengorbankan jiwa dan raganya demi kemerdekaan Indonesia. Karena itu, sebagai penerus bangsa berkewajiban mengisi kemerdekaan sebaik mungkin.

Haedar Nashir

"Saya baru tahu ada sekolah yang tidak melaksanakan upacara bendera hari ini. Saya akan cek dulu, dan apa alasanya tidak melaksanakan upacara bendera itu," tandasnya.

Kepala Sekolah SD IT Harapan Umat Brebes, Ratoni saat dikonfirmasi mengakui kalau sekolahnya tidak melaksanakan upacara 17-an. Meski mengakui, tetapi dia membantah kalau upacara 17-an tidak dilaksanakan karena sebenarnya sudah dilakukan dengan menggabungkan upacara hari pramuka pada 14 Agustus lalu.

Haedar Nashir

Ketika didesak apa bukti-buktinya melaksanakan upacara 17-an antara lain pembacaan teks proklamasi, Ratoni tampak gelagapan tidak bisa menunjukan bukti-buktinya.? "Ini memang kebijakan sekolah kami. Tapi, bukan berarti kami tidak menghargai Hari Kemerdekaan RI. Sebab, kegiatan upacara itu sudah dilaksanakan pada 14 Agustus lalu bersamaan peringatan Hari Pramuka," bantahnya.

Ratoni yang biasa disapa Ahmad Fatoni ini juga beralasan kenapa tidak melaksanakan upacara 17-an karena siswanya banyak yang jauh seperti dari Losari, Larangan dan yang jaraknya jauh. Lagi pula tanggal 17 Agustus adalah tanggal merah yang artinya hari libur. Selain itu, sekolah juga tidak mendapat arahan dari Dinas Pendidikan, terkait kewajiban melaksanakan upacara bendara HUT Kemerdekaan RI. "Atas pertimbangan ini, kami berinisiatif meliburkan seluruh siswa," paparnya

Anggota DPRD Kabupaten Brebes, Pamor Wijaksono sangat menyayangkan dan menyesalkan tindakan sekolah tersebut. Kebijakan yang diterapkan itu dinilai salah. Apalagi, bagi siswa SD. Sebab, pendidikan nasionalisme sejak dini sangat penting. Karena itu, pihaknya meminta dinas terkait untuk mengambil langkah atas kejadian tersebut.

"Itu jelas salah, karena semua sekolah wajib melaksanakannya. Ini penting bagi penanaman nasionalisme pada anak-anak sebagai penerus bangsa," tandasnya. (Wasdiun/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ulama Haedar Nashir

Selasa, 11 April 2017

Memilih Susu Meninggalkan Arak

Diceritakan dalam kitabnya Ahmad Ad-Dardiri Ala Qishshati Mi’raj bahwasanya Rasulullah SAW dalam perjalanannya setelah menjalankan sholat bersama para Nabi di Baitul Maqdis merasa sangat haus. Sebelum ia ucapkan keadaannya tiba-tiba Jibril telah datang dengan membawa dua cawan yang berisi susu dan arak yang segar.

Nabipun segera mengambil cawan yang berisi susu dan meminumnya, seraya Jibril berkata Kau mengambil yang benar. Andaikan Kau ambil arak pastilah umatmu kelak akan hidup dalam kesesatan. Diriwayatkan pula dari sebagian perawi bahwa Jibril datang dengan membawa tiga macam minuman yaitu susu, madu dan khamar.

Pilihan Rasulullah SAW terhadap susu adalah pilihan yang tepat. Karena air susu adalah air yang sangat cocok untuk manusia dan disukai oleh segenap makhluk. Susu mengandung kesehatan, kekuatan, dan zat yang mengenyangkan. Demikian yang terurai dalam ayat 66 dalam surat An Nahl:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Memilih Susu Meninggalkan Arak (Sumber Gambar : Nu Online)
Memilih Susu Meninggalkan Arak (Sumber Gambar : Nu Online)

Memilih Susu Meninggalkan Arak

Dan sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum dari pada apa yang berada dalam perutnya (berupa) susu yang bersih antara tahi dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya

Menurut penafsiran sebagian ulama, susu dengan segala kebaikan kandungan zatnya bagaikan agama Islam yang penuh dengan kesempurnaan. Dan menurut ulama lain, susu diibaratkan sebagai Ahlussunnah wal Jama’ah. Sebagai kelompok mayoritas yang berpegang tegung pada ajaran Rasulullah SAW.

Haedar Nashir

Demikianlah posisi air susu yang keluar antara kencing dan darah. Seperti Ahlussunnah wa Jama’ah yang lahir dan berkembang diantara dua kutub besar Qadariyah dan Jabariyah. dalam konteks kekinian posisi air susu dapat diibaratkan sebagai anjuran untuk memosisikan diri di tengah tidak ekstrem kanan dan tidak pula ekstrem kirim. (red. Ulil H)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir

Haedar Nashir Cerita, News Haedar Nashir

Mbah Sahal: Banyak yang Bisa Dikritisi dari Saya

Pati, Haedar Nashir. Rais Am Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Sahal Mahfudh, Senin 17 Desember 2007 kemarin merayakan ulang tahunnya yang ke-70. Tidak seperti biasanya, kali ini, diadakan acara istimewa oleh para kerabat dekat. Ada potong tumpeng, bahkan ada yang sempat menyanyikan lagu selamat ulang tahun.

Saya belum pernah mengadakan acara seperti ini. Biasanya hanya selametan keluarga, baca manaqib, tahlilan dan selesai. Tetapi saya bahagia, kata Mbah Sahal saat menyambut para tamu di aula Pondok Pesantren Maslakul Huda Kajen, Margoyoso, Pati, Jawa Tengah.

Mbah Sahal: Banyak yang Bisa Dikritisi dari Saya (Sumber Gambar : Nu Online)
Mbah Sahal: Banyak yang Bisa Dikritisi dari Saya (Sumber Gambar : Nu Online)

Mbah Sahal: Banyak yang Bisa Dikritisi dari Saya

Sekitar seratus orang menghadiri acara ulang tahun Mbah Sahal. Sebagian besar tamunya adalah para pengurus NU, MUI dan para pengasuh pondok pesantren di lingkungan Kajen.

Di hari ulangtahunnya itu dua buku diterbitkan untuk Mbah sahal. Fiqh Sosial Kiai Sahal Mahfudh dan Pandu Ulama, Ayomi Umat: Kiprah Sosial 70-Tahun KH Sahal Mahfudh”. Buku yang kedua ini diterbitkan oleh MUI, berisi biografi singkat Mbah Sahal dan komentar para tokoh.

Sejumlah pejabat negara seperti Wakil Presiden Jusuf Kalla, Menteri Agama Maftuh Basyuni, Mendagri Mardiyanto, dan Meneg Koperasi dan UKM Suryadharma, dalam buku itu, memuji kiprah Mbah Sahal baik di NU maupun MUI. Kontan, dirinya merasa tidak nyaman.

Haedar Nashir

Dua buku yang terbit sekarang ini isinya kok ngalem-ngalem saya semua. Terlalu banyak memuja-muja malah nanti bisa jadi kultus individu. Masih banyak yang bisa dikiritisi tentang diri saya,"katanya.

Mbah Sahal kemudian berpaling dari aula yang terletak di lantai dua kompleks Pesantren Maslakul Huda. "Supaya bebas bicara dan mengkritik tidak sungkan-sungkan saya minta izin meninggalkan ruangan ini, katanya.

Haedar Nashir

KH Thalchah Hasan, Wakil Rais Am PBNU, dalam buku "Pandu Ulama, Ayomi Umat" itu mengungkapkan kekagumannya kepada sosok ketuanya. Mbah Sahal sering mendapat kritikan karena akhir-akhir ini dinilai pendiam. Namun menurut Kiai Thalchah, Mbah sahal adalah seorang yang alim dan wara atau menjaga diri dari hal-hal yang tidak layak diungkapkan.

"Wara’ ini sangat penting mendapatkan penekanan di sini. Selain itu, beliau berpenampilan sederhana sekali, bisa diterima oleh bermacam-macam orang, dan bisa hidup dengan berbagai golongan," kata Kiai Thachah. (nam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Cerita, Lomba, Pesantren Haedar Nashir

Mbah Sholeh Darat Simpul Ulama Nusantara

Semarang, Haedar Nashir?

Dekan Fakultas Ushuluddin dan Humaniora UIN Walisongo, Mukhsin mengungkapkan,? Mbah Sholeh mampu menjadi jangkar kebudayaan yang bisa kita nikmati sekarang ini. Ia menulis karya-karyanya, termasuk kitab tafsir Faidlur Rahman? menggunakan arab-pegon menjadi kekuatan tersendiri dalam menyampaikan gagasan dan keilmuan Islam.





Mbah Sholeh Darat Simpul Ulama Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
Mbah Sholeh Darat Simpul Ulama Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)

Mbah Sholeh Darat Simpul Ulama Nusantara

"Mbah Sholeh bisa menajamkan kebudayaan kita," kata Mukhsin saat mengisi diskusi? Intelektualisme Islam Nusantara, di Masjid Raya Baiturrahman, Semarang, Ahad (19/6).?





Haedar Nashir



Mbah Sholeh Darat yang hidup pada akhir abad 19 mampu menjadi simpul gerakan ulama Nusantara. Ia berguru kepada ulama lokal hingga Makkah.

Haedar Nashir



Pada zaman itu, Mbah Sholeh Darat tak hanya hidup sendiri. Banyak ulama seperti Syekh Yusuf al-Makassari, Syekh Mahfudz Termas dan Syekh Nawawi Banten. Mereka melanjutkan perjuangan yang telah dilakukan oleh pendahulu mereka.

Selain itu, ada hubungan kuat antara guru dan murid yang terus terjaga sehingga perjuangannya dapat dilanjutkan, misalnya Hadhratus Syeikh Hasyim Asyari dan KH Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyyah) yang keduanya merupakan murid Mbah Sholeh Darat.

Mukhsin menyebut, Mbah Sholeh sebagai salah satu peletak dasar pesantren di Nusantara. Disamping mengajar, Mbah Sholeh juga menuliskan gagasan-gagasan aslinya. Ia mampu meletakkan tradisi studi Islam dengan menyimpulkan jejaring pesantren yang nantinya berkembang di Nusantara dan menjadikan tafaqquh fi al-din sebagai jalan menguatkan intelektualisme.? (M Zulfa/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Lomba, Bahtsul Masail Haedar Nashir