Senin, 04 September 2017

PBNU Minta Warga Korban Lumpur Direlokasi Permanen

Sidoarjo, Haedar Nashir. Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi meminta agar warga yang menjadi korban banjir lumpur di Sidoarjo yang sampai saat ini belum bisa dihentikan direlokasi secara permanen. Upaya ini penting guna menghindari bencana susulan yang bisa datang kapan saja.

Menurut Mantan Ketua PWNU Jatim tersebut, masalah lingkungan memang penting, tapi yang paling penting adalah menyelamatkan manusianya. "Sungai, laut, dan udang memang penting diselamatkan. Tapi, yang paling penting adalah manusia dan lingkungan sekitarnya," kata Hasyim saat berdialog dengan pengungsi di Pasar Porong Baru, Sidoarjo, Senin.

Hal ini harus dilakukan dengan segera untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk saat musim hujan datang. "Saya dengar, penyumbatan pusat semburan lumpur baru bisa dilakukan akhir Desember. Nah, kalau Oktober sudah masuk musim penghujan, bagaimana?" tanyanya.

PBNU Minta Warga Korban Lumpur Direlokasi Permanen (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Minta Warga Korban Lumpur Direlokasi Permanen (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Minta Warga Korban Lumpur Direlokasi Permanen

Hasyim juga menyatakan kesediaan PBNU untuk menjadi mediator bagi warga dan pemerintah serta pemerintah dengan lapindo dalam upaya relokasi tersebut. Syaratnya, warga sudah punya kesepakatan bulat tentang hal-hal yang akan dikomplainkan tersebut.

"Masalahnya, kita sekarang berkejaran dengan waktu, dengan datangnya musim penghujan, dan dengan kekuatan tanggul (yang berkali-kali jebol)," jelasnya. Kunjungan ini merupakan kali ke dua setelah kunjungannya untuk melihat kondisi luapan Lumpur di dekat sumur migas Banjar Panji I.

Haedar Nashir

Rais Aam PBNU KH Sahal Mahfudz sebelumnya disela-sela Munas NU pada 28-30 Juli di Asrama Haji Sukolilo Surabaya juga telah mengunjungi korban lumpur dan berdialog dengan warga NU setempat. (mkf)

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir

Haedar Nashir Kiai, Santri, AlaSantri Haedar Nashir

Minggu, 03 September 2017

Mahasiswa Dakwah Unisnu Jepara Bahas Perfilman

Jepara, Haedar Nashir. Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Dakwah dan PMII Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Nahdlatul Ulama (Unisnu) Jepara mengadakan seminar perfilman dalam perspektif dakwah. Mereka membincang perihal membuat film berkualitas dalam mewarnai dunia perfilman nasional.

Mahasiswa Dakwah Unisnu Jepara Bahas Perfilman (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahasiswa Dakwah Unisnu Jepara Bahas Perfilman (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahasiswa Dakwah Unisnu Jepara Bahas Perfilman

Seminar dan Workshop Perfilman bertajuk “Membudidayakan Media Perfilman dengan Melek Media dan Melek Media Sosial” di aula lantai 3 Unisnu Jepara, Sabtu (21/2). Hadir sebagai narasumber pada forum ini peminat film indie Nur Huda Tauchid dan pegiat penulisan kreatif dari Institut Kesenian Jakarta (IKJ) Bagus Lutfi Sujiwo.

Ketua penyelenggara Ahmad Najib menyatakan, acara ini bertujuan memotivasi dan memberikan edukasi bagi mahasiswa dalam membuat film pendek maupun film indie.

Haedar Nashir

“Harapannya mahasiswa Dakwah yang tergabung dalam Garda Cinema dapat memproduksi film berkualitas,” ujar Najib.

Sementara Presiden BEM FDK Unisnu Eko Baharudin mengatakan, kegiatan ini menjadi awal yang baik untuk mengenalkan dunia perfilman di ranah kampus.

Haedar Nashir

Lebih lanjut Eko menekankan, unsur yang harus diperhatikan pada produksi film adalah bagaimana sebuah film itu mengandung nilai pendidikan, sosial keagamaan, budaya, dan ekonomi. (Syaiful Mustaqim/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir IMNU Haedar Nashir

Sabtu, 02 September 2017

Logo Muktamar ini Masih Akan Disempurnakan Lagi

Jakarta, Haedar Nashir. Rapat Harian Syuriyah dan Tanfidziyah PBNU bersama panitia Muktamar Ke-33 NU di Jakarta, Senin (9/3) sore, antara lain membahas logo pemenang sayembara yang ditetapkan dewan juri. Hasilnya, logo akan disempurnakan lagi sesuai masukan para kiai.

Dalam rapat tersebut sikap para kiai terbelah menjadi tiga. Sebagian menolak. Sebagian menerima. Sebagian lagi menerima dengan catatan.

Logo Muktamar ini Masih Akan Disempurnakan Lagi (Sumber Gambar : Nu Online)
Logo Muktamar ini Masih Akan Disempurnakan Lagi (Sumber Gambar : Nu Online)

Logo Muktamar ini Masih Akan Disempurnakan Lagi

Rais Syuriyah PBNU KH Mas Subadar menyatakan tidak setuju atas logo pemenang. Menurutnya, warna merah pada logo itu tidak perlu hadir. Karena, NU memunyai warna tersendiri.

Sementara Rais Aam PBNU KH A Musthofa Bisri menyetujui warna merah pada logo tersebut. “Saya pikir, warna merah itu perlu dilengkapi dengan warna putih agar semakin tampak aksentuasi ke-Indonesiaannya,” ujar Gus Mus.

Haedar Nashir

Haedar Nashir

Ketua PBNU H Saifullah Yusuf menolak keras logo pemenang sayembara. Menurutnya, logo ini belum mencirikan tema Muktamar. Di samping itu, kesan dari logo pemenang cenderung kurang etis.

“Kalau dilihat, logo ini terkesan erotis,” kata Gus Ipul. Ia lalu mengajukan sejumlah logo yang diperlihatkan kepada peserta rapat gabungan. Namun, logo yang diusulkan ditolak peserta rapat gabungan.

Menanggapi kesan erotis itu, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj menampik. “Kalau terkesan agak erotis, itu tergantung bagaimana isi kepala orang yang menafsirkan begitu,” kata Kang Said disambut tawa para hadirin.

“Menurut saya ini mengandung lafazh ‘Allah’. Ini sudah cukup bagus,” kata Kang Said.

Sementara Ketua Panitia Muktamar H Imam Aziz menyatakan akan menampung sejumlah masukan dari para kiai. “Kita akan sempurnakan logo ini dengan melibatkan pengurus PBNU dan pemenangnya,” kata Imam Aziz. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Hikmah Haedar Nashir

Jumat, 01 September 2017

Memasuki Ujung Ramadhan Harusnya Ingat Diri

Surabaya, Haedar Nashir

Sebelum memulai kajian rutin yang dilangsungkan di Mushala PWNU Jatim, Ustadz Maruf Khozin mengingatkan bahwa kini umat Islam tengah berada di penghujung Ramadhan. Ada banyak hal yang harus dilakukan agar kaum Muslimin tidak merugi karena akan berpisah dari bulan penuh kebajikan tersebut.

Memasuki Ujung Ramadhan Harusnya Ingat Diri (Sumber Gambar : Nu Online)
Memasuki Ujung Ramadhan Harusnya Ingat Diri (Sumber Gambar : Nu Online)

Memasuki Ujung Ramadhan Harusnya Ingat Diri

"Di penghujung Ramadhan kita harusnya mengingat diri," katanya, Kamis (15/6). Termasuk dalam hal ini adalah bagaimana kemampuan untuk menahan nafsu. Menurut anggota dewan pakar PW Aswaja NU Center Jatim tersebut, justru di akhir Ramadhan kemampuan melawan hawa nafsu ini dipertaruhkan, lanjutnya.

Sebagai perumpamaan yang terus berulang, pada setiap akhir Ramadhan ada kecenderungan dalam berbelanja dan godaan jelang hari raya malah kian tinggi. "Kita hanya memindah nafsu ke malam hari," kata alumnus Pesantren Ploso Kediri tersebut. Menurutnya, saat siang memang tidak banyak yang dilakukan kaum Muslimin. Akan tetapi kala memasuki malam, justru diperbudak dengan nafsu. "Dari mulai nafsu makan hingga berbelanja," sergahnya.

Haedar Nashir

Ustadz Maruf kemudian membeberkan kegemaran makan dengan porsi yang lebih kala berbuka. "Karena alasan puasa, kala berbuka kita justru makan dan minum yang lebih enak," ungkapnya. Hal tersebut tentu akan berpengaruh kepada kegemaran berbelanja yang justru berlebihan.

"Demikian kala persiapan menuju hari raya," katanya. Yang ramai justru mall dan tempat belanja. Kalau pada sepuluh awal Ramadhan jamaah masjid dan mushala demikian semarak hingga menutup jalan dan gang, tidak saat ini, lanjutnya.

Haedar Nashir

Dalam pandangan Ustadz Maruf, sapaan akrabnya, ini menjadi bukti bahwa kaum Muslimin masih belum mampu menghayati esensi puasa. "Berbeda dengan para ulama dan kiai yang menjalankan puasa tidak hanya saat Ramadhan, juga di bulan yang lain," tandasnya.

Di ujung penjelasannya, Ustadz Maruf mengajak kaum Muslimin untuk benar-benar menghayati hakikat puasa. "Apalagi kini telah memasuki 10 hari terakhir dari Ramadhan, mari tingkatkan ibadah, kendalikan nafsu kita," pungkasnya. (Ibnu Nawawi)



Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ahlussunnah, Sholawat Haedar Nashir

Penjelasan Mengenai Wakaf Uang

Dalam kesempatan kali ini, kami akan menjelaskan satu pertanyaan dari saudara A. Riduwan dari Lampung yang belum sempat kami jawab di bulan Ramadhan lalu, yakni soal wakaf uang.

Pada dasarnya pengertian wakaf adalah menahan harta yang bisa diambil manfaaatnya dengan tetap kekalnya dzat harta itu sendiri dan? mantasharrufkan kemanfaatannya di jalan kebaikan dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah swt. Konsekwensi dari hal ini adalah dzat harta-benda yang diwakafkan tidak boleh ditasharrufkan. Sebab yang ditasharrufkan adalah manfaatnya. Hal ini sebagaimana dikemukakan oleh penulis kitab Kifayah al-Akhyar sebagai berikut;? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? - ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?-? ? ? 1? ?. 256

“Definisi wakaf menurut syara’ adalah menahan harta-benda yang memungkinkan untuk mengambil manfaatnya beserta kekalnya dzat harta-benda itu sendiri, dilarang untuk mentasaharrufkan dzatnya. Sedang mentasharrufkan kemanfaatannya itu dalam hal kebaikan dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah swt” (Taqiyyuddin Abi Bakr bin Muhammad al-Husaini al-Hishni ad-Dimasyqi asy-Syafi’i, Kifayah al-Akhyar fi Halli Ghayah al-Ikhtishar, Surabaya-Dar al-‘Ilm, tt, juz, 1, h. 256).

Penjelasan Mengenai Wakaf Uang (Sumber Gambar : Nu Online)
Penjelasan Mengenai Wakaf Uang (Sumber Gambar : Nu Online)

Penjelasan Mengenai Wakaf Uang

Persoalannya bagaimana dengan wakaf uang? Dalam kasus ini setidaknya para ulama terbelah menjadi dua pendapat. Pendapat pertama menyatakan bahwa bahwa wakaf uang (waqf an-nuqud) secara mutlak tidak diperbolehkan.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? -? ? ? ? ? ? ? ?? ?-? ? ? 2? ?. 362

“Adapun wakaf sesuatu yang tidak bisa diambil manfaatnya kecuali dengan melenyapkannya seperti emas, perak, makanan, dan minuman maka tidak boleh menurut mayoritas fuqaha. Yang dimaksud dengan emas dan perak adalah dinar dan dirham dan yang bukan dijadikan perhiasan”. (Syaikh Nizham dan para ulama India, al-Fatawa al-Hindiyah, Bairut-Dar al-Fikr, tt, juz, 2, h. 362)

Haedar Nashir

Sedang pendapat kedua menyatakan bahwa wakaf uang diperbolehkan. Hal sebagaimana pandangan Ibnu Syihab az-Zuhri yang memperbolehkan wakaf dinar sebagaimana dinukil al-Bukhari.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?- ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?-? ? ? ? ? 1417?/1997? ?. 20-21)

“Telah dinisbatkan pendapat yang mensahkan wakaf dinar kepada Ibnu Syihab az-Zuhri dalam riwayat yang telah dinukil Imam Muhammad bin Isma’il al-Bukhari dalam kitab Shahihnya. Ia berkata, Ibnu Syihab az-Zuhri berkata mengenai seseorang yang menjadikan seribu dinar di jalan Allah (mewakafkan). Ia pun memberikan uang tersebut kepada budak laki-lakinya yang menjadi pedagang. Maka si budak pun mengelola uang tersebut untuk berdagang dan menjadikan keuntungannya sebagai sedekah kepada orang-orang miskin dan kerabat dekatnya. Lantas, apakah lelaki tersebut boleh memakan dari keuntungan seribu dinar tersebut jika ia tidak menjadikan keuntungannya sebagai sedekah kepada orang-orang miksin? Ibnu Syihab az-Zuhri berkata, ia tidak boleh memakan keuntungan dari seribu dinar tersebut” (Abu Su’ud Muhammad bin Muhammad Mushthafa al-‘Imadi al-Afandi al-Hanafi, Risalah fi Jawazi Waqf an-Nuqud, Bairut-Dar Ibn Hazm, cet ke-1, 1417 H/1997 M, h. 20-21).

Dengan mengacu kepada pendapat Ibnu Syihab az-Zuhri ini maka cara atau teknik mewakafkan uang adalah dengan menjadikannya sebagai modal usaha. Dan keuntungan yang diperoleh diberikan kepada mauquf ‘alaih atau pihak yang menerima manfaat dari harta wakaf.? ? ?

Haedar Nashir

Dari penjelasan singkat ini dapat dipahami bahwa wakaf uang termasuk bagian dari infak. Sebab, infak —sebagaimana telah dijelaskan— adalah menggunakan atau membelanjakan harta-benda untuk pelbagai kebaikan, seperti untuk pergi haji, umrah, menafkahi keluarga, menunaikan zakat, dan lain sebagainya. Termasuk di dalamnya adalah wakaf dengan pelbagai macamnya.

Sedang mengenai perbedaannya dengan zakat dan shadaqah hemat kami sudah sangat jelas sehingga tidak perlu diterangkan. Demikian penjelasan singkat ini semoga bermanfaat. Mohon maaf atas keterlambatan jawaban yang kami berikan. Dan jika anda punya harta-benda berlebih, segeralah diwakafkan karena itu termasuk shadaqah yang pahalanya selalu mengalir. (Mahbub Ma’afi Ramdlan) ? ? ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Fragmen, Syariah Haedar Nashir

Ekologi Pesantren ala Syekh Arsyad Al-Banjari

Mendung menggantung di atas langit Martapura, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan. Masih pagi, matahari masih belum di tempat tertingginya, tapi jalan menuju makam terkenal, makam Syekh Arsyad Al-Banjari sudah ramai dikunjungi peziarah.

Mungkin karena hari Sabtu, maka banyak pengunjung dari luar kota -setidaknya itu yang terlihat dari sejumlah plat kendaraan yang beriringan bersama kami menuju makam.

Ekologi Pesantren ala Syekh Arsyad Al-Banjari (Sumber Gambar : Nu Online)
Ekologi Pesantren ala Syekh Arsyad Al-Banjari (Sumber Gambar : Nu Online)

Ekologi Pesantren ala Syekh Arsyad Al-Banjari

Makam terletak di Desa Kalampaian, sekitar 35 menit berkendara angkot dari pasar Martapura. Menuju makam mesti melewati jalan kecil tidak terlalu lebar, peminta dan pedagang bunga untuk peziarah. Sepanjang jalan juga akan berpapasan dengan perkampungan, kebun limau dan “pehumaan”—sebutan lain bagi hamparan sawah.

Haedar Nashir

Saat hidup, Mohammad Arsyad adalah ulama berpengaruh tak hanya di Kalimantan, namun juga di Asia Tenggara.

Ihya’ul Mawat : Revolusi Agama dan Pangan

Setelah 35 tahun belajar di Makkah dan Madinah, sekembalinya ke Tanah Air di Kalimantan Selatan, Sultan Banjar memberikan lahan yang diubah menjadi pusat pendidikan pesantren. Kini tanah tersebut menjadi kampung yang dikenal sebagai kampung Dalam Pagar. Tak jauh dari dalam pagar, Arsyad bersama-sama warga juga membangun saluran irigasi pertanian yang dikenal sebagai Sungai Tuan.

Haedar Nashir

Konon Sungai Tuan yang kini tumbuh menjadi perkampungan ini dibuat Sang Syekh dengan cara menggoreskan tongkatnya sepanjang 8 kilometer dari hulu ke hilir, karena “karomah” yang melekat padanya, goresan tersebut “maujud” menjadi sungai yang berfungsi sebagai irigasi mengaliri tiap-tiap sawah dan kebun limau warga hingga saat ini.

Sungai Tuan dan Dalam Pagar, saling berdekatan jaraknya, dengan berkendara motor, dapat menyusuri kedua kampung yang saling terhubung satu sama lain ini, lebih mudah.

Inilah konsep “khas” Islam pesantren yang menyatukan kawasan masyarakat dengan kawasan pendidikan Islam. Bukti bahwa ideologi Islam pesantren yang karib dan intim dengan masyarakatnya. Bukti bahwa ulama dan santri adalah anak kandung rakyat, seperti .

Sebagai ulama dan santri yang merupakan anak kandung rakyat Kalimantan, Syekh Mohammad Arsyad Albanjari paham benar tentang problem yang dihadapi sehari-hari oleh rakyatnya. Tak hanya membangun irigasi pertanian, dalam kitab karyanya yang terkenal, “Sabilal Muhtadin” juga memberikan perhatian pada permasalahan ternak dan hasil bumi atau pertanian, bahkan terdapat bab khusus terkait zakat pertanian .

Revolusi agama dan pertanian ini dinamai Syekh Mohammad Arsyad Albanjari dengan gerakan “ihya’ul mawat” , gerakan menghidupkan lahan-lahan yang non-produktif/ lahan terlantar. Kesuksesan gerakan ini melekat, hingga sekarang, kawasan-kawasan ini adalah pemasok utama buah limau di Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan.

Ikatan terhadap Tanah & Air

“Rumah kita adalah sekolah pesantren ini dan santri adalah anak-anak kita ”

---Tuan guru Abdurrasyid, Pendiri Madrasah Wathaniyah, Kandangan, 1931--

“Agama tak bisa ditegakkan di ruang hampa tanpa tanah dan air, karena itulah mencintai agama berarti mencintai tanah dan air, kehilangan tanah berarti kehilangan agama dan sejarah”

---KH Said Aqil Siroj, Ketua PBNU, pada lawatan Bulan Februari 2013 di Samarinda—

Karena mencintai agama (Dalam Pagar) lah, para ulama dan santri Syikh Arsyad Albanjari juga mencintai pertanian mereka (Sungai Tuan). Kehilangan lahan pertanian dan pangan berarti juga kehilangan agama. Begitulah kira-kira jika ingin melukiskan hubungan antara perkampungan pesantren Dalam Pagar dan perkampungan pertanian Sungai Tuan, ibarat dua sisi mata uang yang tak terpisahkan.

Karena mencintai agama sekaligus mencintai Tanah-Air pula, para ulama dan santri yang dipimpin oleh Hadratussyaikh KH Hasyim Asyari, mengeluarkan Resolusi Jihad, agar umat Islam dan kekuatan pesantren melawan dan mengusir Belanda lewat peristiwa heroik 10 november 1945 lampau.

Sebagai anak kandung rakyat Kalimantan, Syekh Arsyad paham betul bagaimana medan perjuangan yang ia sedang hadapi. Ia bahkan diberikan julukan “Tuan Haji Besar” oleh Belanda karena pengetahuan dan pengasaannya yang komplit atas hampir semua disiplin ilmu, salah satunya adalah ilmu falak (Astronomi) dan ilmu hidrologi.

Penguasaannya atas astronomi atau ilmu falak terlihat dari salah satu buku karangannya yang berjudul Kitab Ilmu Falak dan prestasinya dalam membetulkan arah kiblat sebuah masjid di Betawi.

Kemudian penguasaannya atas ilmu hidrologi dapat dijumpai dalam karyanya yang terkenal, Sabilal Muhtadin, sebuah kitab fikih yang 40 persen dari isinya membahas secara rinci tentang air dan hidrologi yang tersebar diberbagai bab .

Pengetahuannya atas air dan hidrologi konon pernah diuji oleh belanda, saat ia bersama Syekh Abdusshomad Al-Palembangi ditangkap selama 3 hari, 3 malam oleh Belanda di Batavia, karena gerak gerik yang mencurigakan . Syekh Arsyad terbukti mampu menghitung kedalaman air sungai bahkan air laut. Pengetahuan ini pula yang ia terapkan dalam pembangunan irigasi pertanian sungai tuan.

Sebagai anak Kalimantan, negeri yang dijuluki sebagai negeri seribu sungai, menjadi latar belakang pemikiran “ekologi” Syekh Arsyad Albanjari yang menyebabkan pembahasan dan pengetahuannya mengenai air dan hidrologi sebegitu dalamnya dan menjadi perhatiannya dalam kitab Sabilal Muhtadin.

Karena kecintaannya pada tanah dan air, aktivitas ber”huma” atau bertani memiliki nilai ibadah, ikatan dan perlakuan atas tanah bukan semata fungsi ekonomis guna memenuhi kebutuhan makan dan minum melalui ladang dan sawah, akan tetapi juga fungsi spiritual dan bernilai ibadah.

Tasawuf dan Tantangan Kapitalisme Pertambangan di Kalimantan

Kini 70 persen dari 3,7 Juta luas Provinsi Kalimantan Selatan telah dikapling oleh Pertambangan Batubara, JATAM dan Walhi kalsel mencatat bahwa otonomi daerah membawa dampak buruk, salah satunya adalah obral perizinan tambang oleh pemerintah setingkat kabupaten dan kota akibat dari desentralisasi kewenangan. Kapitalisme dengan bentuk maskapai modal, perusahaan pertambangan kini semakin mudah melakukan negosiasi langsung dengan pemerintah daerah dan masyarakat, Walhi dan JATAM mencatat ada 625 ijin usaha pertambangan? kini dibumi Kalimantan Selatan.? ? ?

Masyarakat terbagi dua, yang pro dengan jual-beli tanah oleh perusahaan dan yang kontra jual-beli lahan. Pragmatisme menjalar cepat pada masyarakat, ikatan sosial menipis, konflik lahan atau konflik agraria merebak pada kampung-kampung dengan kawasan perkebunan dan pertambangan, bahkan konflik terjadi antar keluarga sendiri.

Pragmatisme membuat ikatan masyarakat mudah menjual tanah atau lahannya, ikatan atas tanah memudar drastis, hubungan terhadap tanah hanya sebagai hubungan ekonomis, seperti yang disabdakan kapitalisme.

Bumi Kalimantan memang tak bisa dipisahkan dari daya tarik sumber daya alamnya, seperti batubara. Jauh sebelum saat ini, kapitalisme yang bercokol dalam bentuk kolonialisme dan imperialisme VOC – Belanda sudah pernah datang beberapa dekade yang lampau.

Di Kalimantan Selatan, belanda melalui gubernurnya di Kalimantan, Neuwenhuyzen berhasil menjalankan politik adu domba (devide et impera) di Kesultanan Banjar, Mereka berhasil “memprovokasi” Sultan Tamjidullah untuk mendapatkan kekuasaan secara tidak sah dan memberikan konsesi pertambangan batubara pertama dalam sejarah Kalimantan, yaitu pertambangan batubara oranje nassau di pengaron dekat martapura . ?

Sejak interaksi pertamanya dengan Belanda di Batavia, Syekh Mohammad Arsyad Albanjari paham benar taktik belanda yang menggunakan “godaan materi dan kekuasaan”, selain karena ia dan sahabat karibnya Abdusshomad al-Palembangi yang memilih melanjutkan dan menambah belajar tasawuf pada mursyid terkenal Syekh Samman Almadani di Madinah, 5 tahun lagi setelah 30 tahun sebelumnya belajar di Kota Mekkah.

Tasawuf-lah yang membuat pandangan ulama Kalimantan ini menjadi anti-kolonial, dalam sebuah catatan, bahkan sahabat Arsyad Albanjari, Abdusshomad Al-Palembangi disebut sebagai yang paling anti-kolonial dengan menulis sebuah tulisan berjudul ; Nashihatul Muslimin wa Tadzkiratul Mukminin fi Fadha’il Jihad wa Karamatul Mujahidin Fisabilillah, sebuah naskah tentang pentingnya jihad melawan kolonialisme asing .

Mereka berdua ini adalah murid langsung dari Syekh Samman al Madani, sumber utama gerakan Tharekat Sammaniyah yang “masyhur” dikenal sebagai tarekat yang menginspirasi berbagai gerakan perlawanan atas kolonialisme Belanda di Nusantara . ?

Berkembangnya Tarekat Sammaniyah di Kalimantan Selatan berkaitan dengan pengisian mental pejuang dalam melawan penjajah. Seperti juga yang ditemukan di Banten melalui Nawawi al Bantani yang hidup satu abad sesudah Abdusshomad Al-Palembangi, Nawawi sempat berguru kepada murid-murid Abdusshomad al Palembangi? ? di Sulawesi Selatan tarekat ini dikenal dengan nama Tharekat Khalwatiyah Salman.

Di Banjar, Kalimantan Selatan, ada dua tokoh yang disebut-sebut bagian dari “jaringan” tarekat ini yaitu Muhammad Nafis AlBanjari dan Syaikh Muhammad Arsyad Albanjari.

Nafis AlBanjari—walaupun tidak langsung berguru dengan Syekh Samman, namun ia mengarang kitab yang sangat berkaitan dengan konsep Sammaniyah, berjudul Ad Durrun Nafis .

Tahun 1998 dulu, Tuan Guru Zaini Abdul Ghani yang biasa dikenal sebagai Guru IJAI menyelenggarakan haulan Syekh Samman yang ke 230 di kampung kelahiran Syekh Arsyad AlBanjari. Haulan dimulai dengan shalat maghrib, maulud, manakib, qasidah, tahlilan dan doa, saat itu sempat dilantunkan lima kasidah Syekh Samman selama 50 menit di selenggarakan di kompleks pengajian Musholla Ar-Raudhah, Sekumpul, Martapura, Kalimantan Selatan.

Ada sebuah konsep penting yang diajarkan oleh guru-guru pesantren yang ajarannya bersumber dari Syekh Arsyad Albanjari dan dari konsep tasawuf, yaitu ; “Alim dulu hanyar sugih”, “menjadi alim dulu baru menjadi kaya”,--ini adalah konsep meletakkan materi atau capital dibawah pengetahuan agama. Konsep ini relevan saat ini ketika laju “pragmatisme” melalui godaan menjual tanah dan lahan pada kepentingan asing atau Kapitalisme.

Karena kini banyak kawasan pertanian dan pangan yang direbut oleh pertambangan batubara, begitu juga di Kalimantan, menghancurkan lahan pertanian berarti juga menghancurkan “ideologi pesantren” yang sudah lama memilih pertanian sebagai “ideologi ekonominya”. ?

MERAH JOHANSYAH ISMAIL, adalah anggota Front Nahdliyin untuk Kedaulatan Sumberdaya Alam (FNKSDA) Dan Pengkampanye Nasional Energi, Jaringan Advokasi Tambang (JATAM).

?

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir AlaSantri Haedar Nashir

PCNU Cirebon: PMII Basis Gerakan NU di Kampus

Cirebon, Haedar Nashir. Dalam rangka memperkuat arah pergerakan dan tradisi ke-NU-an, Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cirebon bersilaturahmi ke kantor Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Cirebon.

PCNU Cirebon: PMII Basis Gerakan NU di Kampus (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Cirebon: PMII Basis Gerakan NU di Kampus (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Cirebon: PMII Basis Gerakan NU di Kampus

Dalam pertemuan pada Jum’at (2/1) siang tersebut, PMII berharap dukungan dan bimbingannya dari NU untuk menjalankan program keorganisasian di ranah mahasiswa.

“Dengan silaturahmi ini kami berharap ke depan antara PMII dan PCNU bisa saling bekerja sama melaksanakan program kerja yang manfaatnya untuk para mahasiswa di Cirebon,” kata Ketua PMII Cirebon, M. Yazidul Ulum.

Haedar Nashir

Yazid menambahkan, shilaturahmi ini juga bertujuan untuk pengenalan pengurus PMII Cirebon yang rencananya akan dilantik pada 10 Januari 2014 mendatang. “Ke depan tidak ada lagi pengurus cabang dan kader juga anggota PMII Cirebon yang tidak mengenal orang tuanya (NU-red),” terangnya.

Haedar Nashir

Silaturahmi PC PMII Cirebon ini diterima dengan baik oleh Rais Syuriah PCNU Kabupaten Cirebon, KH Usamah Manshur dan Ketua Tanfidziah PCNU Kabupaten Cirebon, KH Ali Murtadlo.

“Kami bangga dengan awal kepengurusan kali ini. Dan alhamdulillah kita bisa sharing bersama. Bagaimanapun PMII adalah basis gerakan NU di kampus. Sehingga antara NU dan PMII bisa saling bersinergi,” jelas Kiai Ali yang merupakan alumni PMII STIQ Jakarta.

Kiai Ali juga menambahkan bahwa saat ini PMII perlu memperkuat diri dari segi al-fikratul an-nahdliyah (pemikiran ke-NU-an) dan juga al-harakatul an-nahdliyah (gerakan ke-NU-an).

Hal senada disampaikan KH Usamah Manshur bahwa PMII merupakan anak kandung NU maka sudah selayaknya antara PMII dan NU saling bergandengan tangan menjaga, mempertahankan dan mengembangkan Ahlussunnah Wal-Jama’ah dan tradisi-tradisi NU dikalangan mahasiswa.

“Ada anekdot yang mengatakan bahwa PMII adalah anak hilang yang belum pulang kembali,” kata pengasuh Pondok Pesantren Annashuha ini.

Alhamdulillah, kata dia, dengan shilaturahmi ini anak yang dulu hilang kini sudah kembali. Terlepas PMII menjadi banom kembali atau tetap interdependen yang terpenting adalah tetap mengembangkan Aswaja annahdliyyah di kampus masing-masing juga di masyarakat.”

Dari data yang dihimpun, saat ini tercatat ada 1.500 anggota dan 200 kader PMII Cirebon terdapat berbagai kampus di Cirebon seperti IAIN Syekh Nurjati, Unswagati Cirebon, STAI Ma’had Ali Cirebon, STAI Bunga Bangsa Cirebon, STAI Cirebon, UNU Cirebon, dan STID Al Biruni Cirebon.? (Ayub Al Ansori/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nahdlatul Ulama, Bahtsul Masail Haedar Nashir