Senin, 25 Desember 2017

Mahasiswa Unwaha Kunjungi Sekolah Terpencil di Jombang

Jombang, Haedar Nashir?



Puluhan mahasiswa dan mahasiswi Universitas KH Wahab Chasbullah (Unwaha) Tambakberas Jombang punya cara tersendiri untuk memperingati Hari Pendidikan Nasional tiap 2 Mei. Mereka mengunjungi SDN Pojokklitih 3, Dusun Nampu, Desa Klitih, Kecamatan Plandaan, Kabupaten Jombang. Mereka melakukan bakti sosial (baksos) di lingkungan warga sekitar, Sabtu (29/4) lalu.

Mahasiswa Unwaha Kunjungi Sekolah Terpencil di Jombang (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahasiswa Unwaha Kunjungi Sekolah Terpencil di Jombang (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahasiswa Unwaha Kunjungi Sekolah Terpencil di Jombang

"Sambang Sekolah merupakan salah satu program kami yang setiap peringatan Hardiknas yang diselenggarakan di sekolah-sekolah dalam lingkup Kabupaten Jombang, terutama di pelosok-pelosok. Kini Pojokklitih yang kami kunjungi," jelas Anisa, ketua panitia.

Menurutnya, kegiatan dengan tema Living For Care, Care For Sharing ini sangat mengesankan. Sepanjang perjalanan terasa menantang karena harus melewati 2 bukit dan 1 sungai tanpa jembatan penyemberang, jalan berlumpur serta licin. Perjalanan terasa lama dan penuh tantangan.

"Banyak teman-teman yang terjatuh dikarenakan lumpur yang licin dan juga medan yang terjal," tambahnya.

Ia menambahkan, dipilihnya SDN Pojokklitih 3, berawal dari info di media sosial yang mengangkat keadaan di sana dan karena semangat guru dan murid di sana memang patut diacungi jempol. Lokasi sekolah yang jauh dari keramaian, akses jalan yang sulit serta signal yang susah didapat. Setiap hari para guru harus jalan kaki sekitar 4 km atau sekitar 1,5 jam perjalanan.

Haedar Nashir

Tim juga membawa bantuan berupa 3 kardus air mineral, 2 kardus tas donasi, 2 karung baju hasil donasi dan konsumsi. Semua bantuan akan diberikan kepada siswa-siswi dan warga sekitar yang membutuhkan bantuan.

Haedar Nashir

"Perjuangan guru di sini sungguh luar biasa, daerahnya sangat plosok, mereka (guru, red) harus jalan kaki 4 km setiap hari. Ini masalah yang harus diangkat sebelum Hardiknas besok," papar mahasiswi jurusan bahasa Inggris ini.

Sementara itu, Purwandi, Kepala SDN Pojok Klitih mengaku senang atas kunjungan dari mahasiswa Unwaha yang bersusah payah melewati bukit dan sungai untuk berkunjung ke sekolahnya. SDN Pojokklitih 3 hanya memiliki 17 murid, tempat yang jauh dan terpencil membuat sekolah ini jarang disoroti oleh pemerintah. Para guru dan siswa-siswi juga kesulitan bila harus berurusan dengan internet, signal bagaikan oase di SDN Pojokklitih 3.

Dikatakan dia, setiap anak memiliki hak yang sama dalam hal pendidikan. Meski dalam kondisi yang jauh dari keramaian, namun urusan pendidikan patut diperjuangkan. "Terima kasih atas kunjungannya, ya beginilah kondisi sekolahan kami, sederhana tapi patut untuk dipejuangkan. Semua anak di sini memiliki hak sama mengenai pendidikan walaupun hanya berjumlah 17 siswa. Kalau bukan kita yang bergerak siapa lagi?" bebernya.

Ia menyayangkan di Kabupaten Jombang masih ada sekolah yang susah dijangkau seperti sekolahnya. Semangat Hardiknas seharusnya bisa menjawab ini, tidak hanya diperingati secara rutin tapi tidak ada hasil yang nyata bagi masyarakat kecil. Guru-guru dan murid mengharap ada jembatan yang dapat mempermudah akses ke sekolah.

"Kami kesulitan akses jalan, internet dan signal disini, semoga pemerintah mendengar suara kami," pungkasnya. (Syamsul Arifin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Jadwal Kajian, Hadits, Kajian Sunnah Haedar Nashir

Minggu, 24 Desember 2017

Khofifah Usul Foto Wajah Pemerkosa Dipublikasikan, Termasuk di Medsos

Gorontalo, Haedar Nashir



Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa mengatakan saatnya ada hukuman sosial bagi pelaku pemerkosaan terhadap anak, misalnya dengan mempublikasikan foto pelaku ke khalayak.

Khofifah Usul Foto Wajah Pemerkosa Dipublikasikan, Termasuk di Medsos (Sumber Gambar : Nu Online)
Khofifah Usul Foto Wajah Pemerkosa Dipublikasikan, Termasuk di Medsos (Sumber Gambar : Nu Online)

Khofifah Usul Foto Wajah Pemerkosa Dipublikasikan, Termasuk di Medsos

"Saya pernah menyampaikan sebelumnya dan hal ini sudah dilakukan di berbagai negara. Foto wajah pelaku harus di-publish, termasuk di media sosial," tukasnya di Gorontalo, Rabu.

Menurut Mensos, hukuman sosial seperti itu akan menjerakan banyak pelaku, sekaligus mencegah terjadinya pemerkosaan terhadap anak-anak di Indonesia.

"Jika pelaku akan melakukan lagi hal yang sama, dia akan berpikir lagi karena bukan hanya dia yang menanggung malu tapi juga seluruh kerabat dan keluarganya. Social punishment ini berat bagi pelaku," ujarnya.

Selain itu, juga bisa dilakukan dengan hukum kebiri. Di beberapa negara, lanjutnya, kebiri dilakukan dengan mengoleskan zat kimia untuk mengurangi hasrat seksual para pelaku tersebut.

Haedar Nashir

Zat kimia tersebut memiliki masa berlaku yang bervariasi 10 hingga 20 tahun, sehingga dianggap efektif untuk menekan jumlah pemerkosaan terhadap anak.

"Ini tidak hanya menjerakan pelaku, tapi kelak mereka selesai menjalani hukuman tidak menjadi residivis," tambahnya.

Ia menyebut sejak Februari 2015, dirinya menyatakan Indonesia sudah darurat kekerasan anak.

Namun, kata dia, saat itu banyak yang memberikan tanggapan bahwa pernyataan dirinya tersebut berlebihan.

Haedar Nashir

"Dibilang ah lebay. Tapi ketika kita menemukan kasus Angelina, kita memperbincangkan kembali masalah ini. Demikian pula saat terjadi kasus Ananda dan Yuyun, dibahas lagi. Jadi sebetulnya kita sedang tidak serius untuk melindungi anak-anak bangsa," tandasnya. (Antara/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Daerah, Pahlawan Haedar Nashir

Pencetak Banyak Hafidzah

Hari itu, langit dan bumi pesantren Babakan-Ciwaringin-Cirebon tiba-tiba ‘basah’. Bukan karena hujan lebat yang menimbulkan genangan banjir, melainkan karena para keluarga, santri, dan masyarakat meneteskan tangis air mata. Salah seorang ulama perempuan yang hafizhah itu wafat meninggalkan semuanya.

Sosok ulama perempuan hafizhah itu tak lain, Nyai Hj Izzah Syathori Fuad Amin, salah seorang pengasuh pesantren Bapenpori (Balai Pendidikan Pondok Putri) al-Istiqomah, putri dari al-Maghfurlah KH Abdullah Syathori (sesepuh pesantren Dar al-Tauhid, Arjawinangun), dan istri mendiang KH Fuad Amin (sesepuh pesantren Raudlatut Tholibin, Babakan-Ciwaringin). Beliau dipanggil oleh-Nya, 3 September 2013.

Nyai Izzah adalah sosok yang istiqomah dalam mencerdaskan umat, melalui pengajian rutin; pengajian kitab kuning maupun al-Qur’an. Tak mengenal kata lelah dan bosan dalam hal mengajar ngaji kepada para santri maupun masyarakat luas. Ini terbukti, salah satunya saat upacara pemakaman mendiang. Tak seperti biasanya, ribuan orang berjejalan dan sesak memenuhi areal maqbarah Raudlatut Tholibin.

Tak tahu ada berapa kali sesi shalat jenazah saat itu, baik yang berlangsung di pelataran masjid maupun saat sudah dimakamkan. Saya begitu yakin, ini karomah dan keistimewaan dari seorang hamba yang begitu mencintai dan mengabdikan sepenuh hidupnya demi dan untuk kelestarian al-Qur’an.

Pencetak Banyak Hafidzah (Sumber Gambar : Nu Online)
Pencetak Banyak Hafidzah (Sumber Gambar : Nu Online)

Pencetak Banyak Hafidzah

Pengajian yang istiqomah dilakukan Nyai Izzah pun sederhana. Untuk pengajian jami’iyah rutin mingguan, beliau hadir di hadapan para ibu-ibu menjelaskan berbagai macam ilmu. Pengajian seperti ini berlangsung di Babakan dan Arjawinangun. Jamaah pun menyimak dan berikutnya menampung banyak pertanyaan bernada keluh kesah seputar kehidupan agama, sosial, dan ekonomi rumah tangganya.

Nyai Maryam Abdullah, salah seorang menantu mendiang pernah bercerita: “Sering kali saya menyaksikan setiap malam Jum’at, beliau (al-Marhumah) hendak pergi mengajar pengajian ibu-ibu di Arjawinangun, walaupun dalam kondisi hujan, dan sekalipun harus naik becak tetap dilakoninya. Sebagai pemimpin jami’iyah di Babakan dan Arjawinangun beliau dikenal sebagai sosok yang sangat cerdas dan memiliki karakter mobilisator.”

Sementara saat di pesantren, Nyai Izzah akan setia membimbing para santriwati. Mengaji al-Qur’an misalnya, para santriwati berbaris rapi, bergiliran menyetorkan bacaan al-Qur’annya. Saking banyaknya santriwati yang ingin belajar mengaji al-Qur’an kepada beliau, setiap sesi setoran bacaan, beliau sanggup menyimak tidak kurang dari enam orang sekaligus secara bersamaan, masing-masing tiga orang santriwati di baris sebelah kanan dan kiri.

Haedar Nashir

Tak hanya para santriwati, semua para Nyai yang ada di pesantren Babakan-Ciwaringin belajar mengaji al-Qur’an kepadanya. Beliaulah memang ulama perempuan paling otoritatif dalam bidang al-Qur’an baik di wilayah pesantren Babakan-Ciwaringin, pada khususnya, Cirebon dan Jawa Barat pada umumnya.

Jika ditelusuri jejak intelektualnya, Nyai Izzah sendiri mesantren dan belajar mengaji langsung kepada al-Maghfurlah KH Mahfudh Mas’ud, pimpinan pesantren Sunan Pandanaran, Yogyakarta. Ia pun mampu menghafal al-Qur’an (hafizhah) dalam waktu yang relatif singkat, hanya 9 bulan.

Demikianlah, maka pesantren Bapenpori al-Istiqomah, masyhur sebagai pesantren yang istiqomah mencetak para hafizhah, santriwati penghafal al-Qur’an. Putera-putrinya pun demikian, cerdas dan hafizh-hafizhah. Itu semua tak lain merupakan buah dari keberkahan, kecerdasan, dan keistiqomahan Nyai Izzah sebagai pengasuh dan pendidik di pesantren.

Haedar Nashir

Yang sangat mengesankan, banyak di antara kaum ibu yang awalnya buta huruf al-Qur’an atau bahkan lidahnya susah untuk melafadzkan ayat-ayat al-Qur’an tetapi akhirnya fasih dan hafal surat-surat penting

Saking istiqomahnya beliau dalam hal mengaji, saat hendak bepergian jauh pun beliau selalu mempertimbangkan agar tidak ketinggalan waktu mengaji. Setahu saya beliau juga orangnya ulet dan telaten dalam mengajar. Siapapun yang ingin mengaji kepada beliau mulai dari kalangan anak-anak sampai orang tua pasti dilayaninya dengan senang hati.

KH Thohari Shodiq, salah seorang pengasuh pesantren Raudlatut Tholibin, berkali-kali menegaskan bahwa Nyai Izzah adalah satu-satunya Nyai sepuh yang alim, terutama dalam hal kajian kitab kuning. Selain alim dalam kajian al-Qur’an.

Akhirnya, kita memanjatkan do’a, semoga Nyai Izzah berbahagia di bawah naungan surga-Nya. Demikian juga yang ditinggalkan, baik para santri, keluarga, dan masyarakat dapat tabah serta menimba keteladanan, keistiqomahan, dan keikhlasan dari seorang ulama perempuan yang hafizhah ini. Amin.

?

Mamang M. Haerudin

Ketua LP3M STID AL-Biruni Cirebon, khadim al-Ma’had pesantren Raudlatut Tholibin Babakan-Ciwaringin.

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pendidikan, Halaqoh Haedar Nashir

Rais ‘Aam: Cegah Kemunkaran Tak Harus dengan Kekerasan

Jakarta, Haedar Nashir 



Rais ‘Aam PBNU KH Ma’ruf Amin menegaskan, organisasi NU sejak didirikan hingga kini, tema pergerakan dan perjuangannya tidak lepas dari amar ma’ruf nahi munkar. Namun, amar ma’ruf nahi munkarnya NU dengan cara santun, lemah lembut atau layyinan.

“Saya sering bicara dengan Presiden dengan Kapolri, amar ma’ruf itu dilakukan dengan cara santun,” katanya di gedung PBNU, Jakarta, Senin (2/10) ketika ditanya bagaimana NU melakukakan amar maruf nahi munkar. 

Rais ‘Aam: Cegah Kemunkaran Tak Harus dengan Kekerasan (Sumber Gambar : Nu Online)
Rais ‘Aam: Cegah Kemunkaran Tak Harus dengan Kekerasan (Sumber Gambar : Nu Online)

Rais ‘Aam: Cegah Kemunkaran Tak Harus dengan Kekerasan

Menurut Kiai Ma’ruf, amar ma’ruf nahi munkar adalah bagian agama sehingga menjadi tugas umat Islam, termasuk warga NU. 

Cuma, kata dia, dalam menjalankannya bisa jadi dengan cara beda. Ada kelompok di luar NU yang melakukannya dengan cara berteriak-teriak atau demontrasi. Cara semacam itu tidak mutlak berhasil. 

“Tatapi dengan pendekatan yang santun, pendekatan kesadaran, dengan penuh toleran, itu justru banyak perubahan, dan memberikan manfaat, pengaruh yang besar. Itu yang dilakukan NU selama ini,” lanjutnya. 

Haedar Nashir

Sewaktu-waktu warga NU mungkin juga melakukan cara-cara yang tegas dengan terkontrol, tapi tidak harus selalu begitu. 

“Jadi, amar ma’ruf itu bagaimana memerintahkan kebaikan dan mencegah kemunkaran. Mencegah kemunkaran tidak harus dengan cara keras, dengan cara demonstrasi, tapi dengan santun, konstitusional, demokratis, tapi arahnya kita mencegah dan terjadi perubahan-perubahan,” jelasnya.  

Haedar Nashir

NU melakukan cara-cara seperti itu, sambungnya, sebagai upaya mencegah benturan-benturan antarkelompok, misalnya antara kelompok nasionalis dengan Islam dan kelompok-kelompok lain. 

“Ternyata yang bisa mengharamonisasikan kan NU,” pungkasnya. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Amalan, Halaqoh, Bahtsul Masail Haedar Nashir

LP Maarif NU Jatim Siarkan Kegiatan Unggulan di TV9

Sidoarjo, Haedar Nashir. Pengurus Wilayah Lembaga Pendidikan (LP) Ma’arif dan TV9 menandatangani nota kesepahaman (MoU) di bidang publikasi pendidikan di gedung Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat) LP Ma’arif NU Jatim, Waru, Sidoarjo, Senin (16/4).

LP Maarif NU Jatim Siarkan Kegiatan Unggulan di TV9 (Sumber Gambar : Nu Online)
LP Maarif NU Jatim Siarkan Kegiatan Unggulan di TV9 (Sumber Gambar : Nu Online)

LP Maarif NU Jatim Siarkan Kegiatan Unggulan di TV9

Penandatangan dilakukan bersamaan dengan acara Pengukuhan dan Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) PW LP Ma’arif NU Jawa Timur. Mengawali kepengurusan baru masa khidmat 2013-2018, Ketua PW LP Ma’arif NU Jatim Prof Dr H Abdul Haris berharap pengurus wilayah bisa meningkatkan citra pendidikan di lingkungan NU.

“Mulai sekarang setiap cabang Ma’arif (LP Ma’arif NU, red) bisa mengirim kegiatan unggulan dari berbagai jenjang pendidikan yang akan meningkatkan mutu dan citra sekolah Ma’arif, “ kata guru besar IAIN Sunan Ampel Surabaya itu dalam rilis yang diterima Haedar Nashir.

Haedar Nashir

Di hadapan peserta Rakerwil, Direktur TV9 HA Hakim Jayli mengatakan, pihaknya memiliki visi yang sama dengan PW LP Ma’arif Jatim, yakni memajukan pendidikan NU. “LP Ma’arif NU Jawa Timur adalah lembaga pertama di lingkungan NU yang menjalin kerja sama dengan TV 9,“ katanya.

Haedar Nashir

Dia berharap kerja sama ini dapat saling memberi kontribusi besar bagi kedua belah pihak “LP Ma’arif mempunyai sumber daya yang besar dengan jumlah sekolah atau madarasah yang mencapai hampir 10 ribu sekolah dan TV9 memberikan fasilitas media televisi yang profesional sehingga mampu meningkatkan publikasi yang efektif dan layak jual,” Ujar Hakim. (Mahbib Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Syariah, Hadits Haedar Nashir

Kisah Ibnu Khafif dan Antelop Liar

Dalam kitab Raudl al-Rayahin fi Hikayah al-Shalikhin karya Syeikh Afifuddin Abdullah bin As’ad al-Yafi’i (696-768 H), terdapat kisah ujian kesabaran Ibnu Khafif (w. 981 M) dan seekor antelop liar (semacam rusa). Diceritakan:

Kisah Ibnu Khafif dan Antelop Liar (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Ibnu Khafif dan Antelop Liar (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Ibnu Khafif dan Antelop Liar

?: ? ? ? ?, ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?, ?: ? ? ? ? ? ? ? ?

Aku memasuki kota Baghdad dengan tujuan menghadiri perkumpulan. Di kepalaku ada kesombongan kesufian, yaitu (berlagak) mempertajam kehendak, menguatkan mujahadah dan menyisihkan segala sesuatu yang selain Allah SWT. 

Aku tidak makan empat puluh hari lamanya, tidak pula bergabung dengan perkumpulan Junaid. Aku keluar dan tidak minum. Ketika aku hendak bersuci, aku melihat seekor antelop liar diatas sumur dan sedang minum. Aku sangat kehausan. 

Haedar Nashir

Ketika aku mendekati sumur, antelop liar itu melarikan diri. Ketika itu airnya telah berada di titik terbawah sumur (tidak dapat diambil lagi), aku berjalan pergi sembari berkata: 

“Wahai Tuanku, milikku disisiMU, telah berpindah ke antelop ini.”

Haedar Nashir

Kemudian aku mendengar seseorang berkata dari arah belakangku: 

“Kami mengujimu dan kau tidak sabar. Kembalilah, dan ambillah air. Sesungguhnya antelop itu datang ke sumur tanpa membawa sampan (untuk menyimpan air) dan tali (untuk menimba). Sedangkan kau datang membawa sampan dan tali.”

Maka aku kembali, ketika itu air sumur sudah melimpah, lalu kupenuhi sampanku. Aku pun minum darinya serta bersuci dengannya sampai Madinah, dan air itu tidak habis. Ketika aku pulang dari haji, aku memasuki perkumpulan (Imam Junaid al-Baghdadi). Ketika aku berhadapan dengannya, Ia berkata: “Andai saja kau bersabar sesaat lagi, akan bercucuran air dari bawah telapak kakimu.” (Afifuddin Abi al-Sa’adat Abdullah bin As’ad al-Yafi’i al-Yamani, Raudl al-Rayahin fi Hikayah al-Shalihin, Kairo: Maktabah Taufiqiyyah, tt, hlm 102).

Setelah mengalami ujian ketidak-sabaran, Imam Ibnu Khafif menyelam kedalam diri untuk menjernihkan hatinya. Ia, kemudian melakukan riyadloh (kontemplasi ketat) sekaligus bertaubat atas kegagalannya dalam menguatkan kesabarannya. 

Ketika kecongkakan hadir, meski dalam rupa yang mempesona sekalipun seperti penguatan mujahadah, ia akan menjadi celah masuknya bisikan setan. Imam al-Ghazali menyebutnya madakhil al-syaitan (pintu masuk setan), yang terbuka ketika prasangka atau perbuatan buruk dilakukan manusia.

Dari pengalamannya itu, Imam Ibnu Khafif membagi sabar dalam tiga tingkatan. Pertama, mutashabbirun, orang yang berkeinginan bersabar. Kedua, shabirun, orang yang bersabar. Ketiga, shabbarun, orang yang terus menerus bersabar atau kesabarannya tidak memiliki batas. (Abdul Karim Hawazin al-Qusyairi, Risalah al-Qusyairiyyah, Kairo: Muassasah Darul Sya’b, tt,hlm 326). 

Di saat kejadian itu terjadi, Ibnu Khafif masih sekedar mutashabbirun, kesabarannya sebatas hasrat menggebu yang belum berimbang. Karenanya, Ia mengeluh tidak mendapatkan air untuk diminum dan bersuci. Ia bahkan membuat antelop itu lari ketakutan, meninggalkan sumur karena Ibnu Khafif berjalan mendekatinya, tidak menunggu antelop itu menyelesaikan minumnya.

Untuk sesaat Ibnu Khafif diselimuti rasa takut tidak mendapatkan air untuk memenuhi kebutuhannya, hingga secara sengaja membuat antelop itu lari ketakutan. Latihan kesabarannya selama ini, 40 hari tidak makan dan lain sebagainya, diruntuhkan seketika oleh hawa nafsunya (egoisme).

Kemudian terdengar suara yang menggugah pikiran Imam Ibnu Khafif, bahwa kesabarannya tidaklah seberapa. Suara itu melucuti kepasrahan dan kesabarannya, membandingkannya dengan antelop liar. “Kau datang membawa sampan dan tali,” artinya ada persiapan untuk memenuhi sampannya dan menjadikannya bekal, tapi “antelop itu datang tanpa membawa sampan dan tali.” Hanya mengambil seperlunya saja, sisanya dipasrahkan pada kehendakNya.

Sentilan penuh makna juga diberikan Imam Abu Sulaiman al-Darani (140-215 H) yang mengatakan:

? ? ? ? ? ?, ? ? ? ? ?

“Demi Allah, (jika) kita tak bisa sabar atas hal yang kita cintai, bagaimana mungkin kita bisa sabar atas hal yang kita benci?” (Imam Abdul Karim Hawazin al-Qusyairi, Risalah al-Qusyairiyyah, hlm 325).

Mencintai adalah kerja keras, bukan perkara mudah. Berkali-kali jatuh dan tertatih-tatih, terbakar api cemburu dan kerinduan yang menyala-nyala. Jika dalam suka-lara dan kerja keras mencintai saja manusia tidak bisa sabar, bagaimana dengan hal yang dibenci. Apakah masih ada ruang untuk kesabaran?

Maka dari itu, kesabaran harus tetap tergenggam. Karena kita tidak tahu, apa yang akan terjadi ketika kita terus menggenggamnya. Ada banyak kemungkinan di depan kita. Tapi, sekali kita melepaskannya, kemungkinan itu lenyap. Seperti Imam Junaid al-Baghdadi yang membocorkan salah satu kemungkinan dari hasil kesabaran, dengan mengatakan: “Andai saja kau bersabar beberapa saat lagi, akan bercucuran air dari bawah telapak kakimu.”

Ya, kita memang tidak tahu apakah air itu akan benar-benar keluar dari bawah telapak kaki Imam Ibnu Khafif atau tidak, yang pasti selalu ada hasil dalam bersabar. Namun perlu diperhatikan, janganlah bersabar untuk mendapatkan hasil, itu salah. 

Sebab, penyesalan terbesar Ibnu Khafif bukan karena tidak diperolehnya keuntungan (hasil), tapi jiwanya kembali keruh setelah sekian lama ia berusaha menjernihkannya. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah, seberapa sabarkah kita? Wallahu a’lam...

Muhammad Afiq Zahara, Alumnus Pondok Pesantren al-Islah, Kaliketing, Doro, Pekalongan dan Pondok Pesantren Darussa’dah, Bulus, Kritig, Petanahan, Kebumen.

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pondok Pesantren, Kajian Sunnah Haedar Nashir

Sabtu, 23 Desember 2017

Warga Desa Kalijurang Gotong Royong 2 Kg Beras Bangun Gedung NU

Brebes, Haedar Nashir. Kaum Nahdliyin (warga NU) Desa Kalijurang Kecamatan Tonjong Brebes, akhirnya bisa membangun gedung Nahdlatul Ulama (NU) ranting setempat dengan gotong royong beras sebanyak 2 kilogram per kepala keluarga. Dalam waktu kurang dari satu tahun, gedung serba guna ? bisa berdiri kokoh.

Demikian disampaikan Ketua Pengurus Ranting (PR) NU ranting Kalijurang Kasbono melalui Ketua Pimpinan Ranting GP Ansor Kalijurang Mohamad Ali, sebelum acara Safari Jelajah Desa Hebat (Sajadah), di desa setempat, Selasa (14/6).

Warga Desa Kalijurang Gotong Royong 2 Kg Beras Bangun Gedung NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Warga Desa Kalijurang Gotong Royong 2 Kg Beras Bangun Gedung NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Warga Desa Kalijurang Gotong Royong 2 Kg Beras Bangun Gedung NU

Ali memaparkan, bangunan gedung serba guna NU dibangun diatas tanah seluas 986 meter persegi. Sedangkan luas bangunan 20 X 14 meter. “Hingga saat ini sudah menelan dana sekitar Rp 700 juta,” paparnya.

Tanah bangunan, sebagian dari wakaf H Tarhudin dan selebihnya pembelian seharga Rp 60 juta. “Alhamdulillah, dana pembangunan dan pembelian tanah hasil umpul-umpul kaum Nahdliyin yang masing-masing Kepala Keluarga menyumbang 2 Kilogram perbulan kurang dari setahun,” terangnya.

Haedar Nashir

Selain beras, adapula yang menyumbang material dan tenaga kerja. “Tukang aslinya yang dibayar tetap ada, tetapi puluhan Nahdliyin setiap hari sukarela kerja bakti,” ungkap Ali.

Gedung dibangun sejak Agustus 2015 dan selesai Februari 2016. “Bangunan belum seratus persen, tinggal pengkeramikan dan finishing lainnya,” kata Ali.

Meski belum diresmikan secara seremonial, tetapi gedung tersebut sudah laris digunakan antara lain untuk kegiatan NU dan badan otonomnya, Bulutangkis, bahkan resepsi pernikahan.?

Ke depan, gedung serba guna yang sekaligus sebagai kantor sekretariat PR NU Kalijurang tersebut, akan terus ditambah sarana dan prasarana lainnya. “Dari hasil kerja ikhlas dan nyata ini, ke depan kami akan mengembangkan Lembaga Zakat dan Infak NU (Lazisnu) ranting Kalijurang, sehingga main kokoh dalam pemberdayaan dana umat,” ujar Ali.

Haedar Nashir

Gedung dengan ornament sederhana namun tampak gagah ini merupakan satu-satunya gedung NU yang dimiliki Pengurus Ranting di Kabupaten Brebes. “Barangkali ini satu-satunya gedung yang dimiliki oleh Pengurus Ranting di Desa se-Kabupaten Brebes,” pungnya. (Wasdiun/Fathoni)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir IMNU, Nusantara, RMI NU Haedar Nashir