Sabtu, 13 Januari 2018

Yang Terbaik Ada di Tengah

Oleh KH Abdurrahman Wahid. Judul diatas diilhami oleh sabda Nabi Muhammad SAW: “ Sebaik-baik persoalan adalah yang berada ditengah “ (khairul-umûri ausâthuha). Ia juga mencerminkan Pandangan agama Budha tentang “jalan tengah” yang dicari dan diwujudkan oleh penganut agama tersebut. Walaupun demikian, judul itu dimaksudkan untuk mengupas sebuah buku karya, tokoh Syi’ah terkemuka Dr. Musa Al Asy’ari, “Menggagas Revolusi Kebudayaan Tanpa Kekerasan” –dalam sebuah diskusi di kampus Universitas Darul Ulum Jombang, beberapa waktu lalu, katakanlah sebagai sebuah resensi, yang juga menunjukan kecenderungan umum mengambil “jalan tengah” yang dimiliki bangsa kita, dan mempengaruhi kehidupan di negeri ini.

Dalam kenyataan hidup sehari-hari, sikap mencari jalan tengah ini, akhirnya berujung pada sikap mencari jalan sendiri di tengah-tengah tawaran penyelesaian berbagai persoalan yang masuk ke kawasan ini. Namun, sebelum menyimpulkan hal itu, terlebih dahulu penulis ingin melihat buku itu dari kacamata sejarah yang menjadi jalan hidup banyak peradaban dunia. Kalau kita tidak pahami masalah tersebut dari sudut ini, kita akan mudah menggangap “jalan tengah” sebagai sesuatu yang khas dari bangsa kita, padahal dalam kenyataannya tidaklah demikian.

Yang Terbaik Ada di Tengah (Sumber Gambar : Nu Online)
Yang Terbaik Ada di Tengah (Sumber Gambar : Nu Online)

Yang Terbaik Ada di Tengah

Bahwa bangsa kita cenderung untuk mencari sesuatu yang independen dari bangsa-bangsa lain, merupakan sebuah kenyataan yang tidak terbantahkan. Mr. Muhammad Yamin, umpamanya menggangap kerajaan Majapahit memiliki angkatan laut yang kuat dan menguasai kawasan antara pulau Madagaskar di lautan Hindia/Samudra Indonesia di Barat dan pulau Tahiti di tengah-tengah lautan Pasifik, dengan benderanya yang terkenal Merah Putih. Padahal, angkatan laut kerajaan tersebut hanyalah fatsal (pengikut) belaka dari Angkatan Laut Tiongkok yang menguasai kawasan perairan tersebut selama berabad-abad. Kita tentu tidak senang dengan klaim tersebut karena mengartikan kita lemah, tetapi kenyataan sejarah berbunyi lain, Australia yang menjadi dominion Inggris, secara hukum dan tata negara, memiliki indenpendensi sendiri terlepas dari negara induk.

Haedar Nashir

***

Penulis melihat, bahwa sejarah dunia penuh dengan penyimpangan-penyimpangan seperti itu. Umpamanya saja, seperti di tunjukan oleh Oswald Spengler dalam “Die Untergang des Abendlandes"(The Decline Of The West). Buku yang menggambarkan kejayaan peradaban Barat dalam abad ke 20 ini ternyata mulai mengalami keruntuhan (untergang). Filosof Spanyol kenamaan, Ortega Y Gasset, justru menunjuk kepada tantangan dari massa rakyat kebanyakan dalam peradaban modern terhadap karya-karya dan produk kaum elite, seperti tertuang dalam bukunya yang sangat terkenal “Rebellion of the Masses” (Pemberontakan Rakyat Kebanyakan).

Haedar Nashir

Kemudian itu semua, disederhanakan oleh Arnold Jacob Toynbee dalam karya momentumnya yang terdiri dari 2 jilid, “A Study of History”. Toynbee mengemukakan sebuah mekanisme sejarah dalam peradaban manusia, yaitu tantangan (challenges) dan jawaban (responses). Kalau tantangan terlalu berat, seperti tantangan alam di kawasan Kutub Utara, seperti yang dialami bangsa Eskimo, maka manusia tidak dapat memberikan jawaban memadai, jadi hanya mampu bertahan hidup saja. Sebaliknya, kalau tantangan harus dapat diatasi dengan kreatifitas, seperti tantangan banjir sungai yang merusak untuk beberapa bulan dan kemudian membawa kemakmuran melalui kesuburan tanah untuk masa selanjutnya, akan melahirkan peradaban tepi sungai yang sangat besar, seperti di tepian Nil, Tigris, Eupharat, Gangga, Huang Ho, Yang Tse Kiang, Musi dan Brantas. Lahirnya Pusat-pusat peradaban dunia ditepian sungai-sungai itu, merupakan bukti kesejahteraan yang tidak terbantah.

Jan Romein, seorang sejarawan Belanda, menulis bukunya “Aera Eropa” ia menggambarkan adanya PKU I (Pola Kemanusiaan Umum pertama, Eerste Algemeene menselijk Patron). PKU I itu, menurut karya Romein tersebut memperlihatkan diri dalam tradisionalisme yang dianut oleh peradaban dunia dan kerajaan-kerajaan besar waktu itu, berupa masyarakat agraris, birokrasi kuat dibawah kekuasaan raja yang moralitas yang sama di mana-mana. Dalam abad ke-6 sebelum masehi, terjadi krisis moral besar-besaran yang ditandai dengan munculnya nama-nama Lao Tze dan Konghucu, Budha Gautama, Zarathustra di Persia dan Akhnaton di Mesir. Mereka para moralis hebat ini mengembalikan dunia kepada tradisionalismenya, karena memperkuat “keseimbangan”.

Sebaliknya, para filsuf Yunani Kuno, membuat penimpangan pertama terhadap PKU kesatu itu, dengan mengemukakan rasionalitas sebagai ukuran perbuatan manusia yang terbaik. Penyimpangan-penyimpangan PKU I ini di ikuti oleh penyimpangan-penyimpangan lain oleh Eropa seperti kedaulatan hukum Romawi (Lex Romanum) pengorganisasian kinerja, Renaissance (Abad kebangkitan), Abad pencerahan (Aufklarung), Abad Industri dan Abad Ideologi. Dengan adanya penyimpangan itu, Eropa memaksa dunia untuk menemukan PKU II (Tweede Algemeene menselijk Patron), yang belum kita kenal bentuk finalnya.

***

Nah, kita menolak Theokrasi (negara agama) dan Sekularisme, dengan mengajukan alternatif ketiga berupa Pancasila. Kompromi politik yang dikembangkan kemudian (dan sampai sekarang belum juga berhasil) sebagai ideologi bangsa, menolak dominasi Agama maupun kekuasaan Anti Agama dalam kehidupan bernegara kita. Karena sekularisme di pandang sebagai penolakan kepada agama -dan bukannya sebagai pemisahan agama dari negara-, maka kita merasakan perlunya mempercayai Pancasila yang menggabungkan Sila pertama (Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa), dan sila-sila lain yang oleh banyak penulis dianggap sebagai penolakan atas agama.

Buku yang ditinjau penulis ini, sebenarnya adalah upaya dari jenis yang berupaya menyatukan “kebenaran Agama” dan illmu pengetahuan sekuler (dirumuskan sebagai kemerdekaan berpikir oleh pengarangnya). Jelas yang dimaksudkan adalah sebuah sintensa baru yang terbaik bagi kita dari dua hal yang saling bertentangan. Apakah ini merupakan sesuatu yang berharga, ataukah hanya berujung kepada sebuah masyarakat (dan negara) “ yang bukan-bukan”. Sederhana saja masalahnya, bukan?

*) Tulisan ini pernah dimuat di Kedaulatan Rakyat, 09 Oktober 2002.

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nusantara Haedar Nashir

Ikrar Kesetiaan NKRI dari Santri Indonesia Bergaung di Monas

Jakarta, Haedar Nashir. Sekitar 50.000 santri yang mengikuti apel akbar dan upacara memperingati Hari Santri Nasional 2016 berkomitmen untuk menjaga bangsa dan negara Indonesia. Untuk maksud ini, santri Indonesia berikrar setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Sabtu (22/10) di Lapangan Monas Jakarta.

Ikrar Kesetiaan NKRI dari Santri Indonesia Bergaung di Monas (Sumber Gambar : Nu Online)
Ikrar Kesetiaan NKRI dari Santri Indonesia Bergaung di Monas (Sumber Gambar : Nu Online)

Ikrar Kesetiaan NKRI dari Santri Indonesia Bergaung di Monas

Ikrar dibacakan oleh perwakilan seluruh Ormas Islam yang tergabung dalam Lembaga Persahabatan Ormas Islam (LPOI) sebagai rumah besar santri Indonesia dengan dipandu oleh Sekjen PBNU HA. Helmy Faishal Zaini.?

Anggota LPOI antara lain: Nahdlatul Ulama (NU), Syarikat Islam Indonesia (SII), Persatuan Islam (Persis), Al-Irsyad Al-Islamiyyah, Mathlaul Anwar, Al-Ittihadiyah, Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI), Ikatan DAI Indonesia (Ikadi), Azzikra, Al-Washliyah, Persatuan Tarbiyah Islamiyah (Perti), Persatuan Umat Islam (PUI), Himpunan Bina Mualaf.

Berikut isi ikrar kesetiaan NKRI dari santri Indonesia. Sebagai wujud dari semangat Resolusi Jihad NU 22 Oktober 1945 kami santri Indonesia berikrar:

1. Setia mempertahankan Pancasila sebagai dasar bernegara dan berbangsa yang final di Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Haedar Nashir

2. Setia menjaga keutuhan dan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Menghormati keberagaman suku agama ras dan budaya. Menjunjung tinggi persatuan dalam kebhinekaan serta ikut menciptakan perdamaian dunia.

3. Menolak segala bentuk terorisme, radikalisme dan paham ekstrim lainnya. Dan senantiasa bersiap-siaga melawan segala bentuk ancaman yang berpotensi memecah belah bangsa.

Ikrar kesetiaan NKRI tersebut dipandang penting sebagai komitmen bersama mengingat radikalisme global terus berupaya memecah belah harmoniasi kehidupan bangsa.?

Sebab itu, santri Indonesia sebagai pewaris perjuangan para ulama mempunyai peran penting dalam mewujudkan kondisi masyarakat yang ramah, damai, toleran dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. (Fathoni)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Aswaja Haedar Nashir

Jumat, 12 Januari 2018

Setelah Lebaran Usai, Lalu Apa Selanjutnya?

Puasa Ramadhan berakhir dengan masuknya 1 Syawal yang merupakan peringatan Idul Fitri, hari raya yang diperingati sangat meriah di Indonesia. Seluruh konsentrasi publik terfokus pada acara tersebut. Baju baru harus dibeli, rumah perlu ditata ulang atau dirapikan untuk menyambut tamu. Berbagai macam hidangan juga harus disiapkan. Tentu itu semua ada ongkosnya, beruntung ada tunjangan hari raya (THR) bagi karyawan. Pemerintah dengan segala daya upayanya berusaha agar perayaan tersebut berjalan dengan lancar, tanpa kurang satu apapun karena jika gagal akan menghadapi kritik pedas dari publik. Begitulah perhatian dari masyarakat dalam menyambut Idul Fitri.?

Kini Lebaran yang jatuh pada 6 Juni 2016 telah berlalu. Yang mudik ke kampung halamannya sudah mulai kembali ke rumahnya masing-masing. Ada kebahagiaan bisa bertemu orang tua dan sanak famili, tapi rasa capek karena perjalanan jauh tampaknya belum juga hilang, ongkos yang melebihi anggaran juga menjadi perhatian, badan yang melar karena kebanyakan mengkonsumsi makanan berlemak juga menjadi ingatan, dan masih ada sejumlah persoalan lain yang belum terselesaikan. Belum sempat istirahat kembali, kini kita harus mempersiapkan diri untuk kembali menjalani rutinitas sebagaimana biasanya untuk sebelas bulan ke depan.?

Dalam prinsip manajemen waktu, rehat dari sebuah aktfitas sangat penting sebagai sarana untuk melakukan evaluasi. Rutinitas yang terus-menerus menyebabkan kita bisa kehilangan perspektif yang lebih besar sehingga kita rentan terjebak semakin dalam pada persoalan yang sama. Karena terjebak rutinitas, kita tidak menyadari bahwa dunia luar sudah berubah atau kita baru tersadar bahwa kita ternyata telah menghabiskan banyak waktu untuk aktifitas tersebut dengan tingkat produktifitas yang rendah, sementara usia sudah semakin menua, padahal setiap harinya sudah disibukkan dengan berbagai tenggat yang tak ada habisnya.

Setelah Lebaran Usai, Lalu Apa Selanjutnya? (Sumber Gambar : Nu Online)
Setelah Lebaran Usai, Lalu Apa Selanjutnya? (Sumber Gambar : Nu Online)

Setelah Lebaran Usai, Lalu Apa Selanjutnya?

Dari perspektif itu, Lebaran merupakan rehat nasional karena hampir semua orang keluar dari rutinitas yang tiada habisnya tersebut. Lebaran menjadi sarana untuk refleksi, sebagaimana peringatan tahun baru, Masehi atau Hijriah, 17 Agustus, dan lainnya.

Toh, dengan sedemikian banyak momen untuk berefleksi, kita tetap saja tidak banyak berubah. Berefleksi bahkan juga sudah menjadi sebuah rutinitas tersendiri. Resolusi yang kita bikin segera saja terlupakan seminggu atau dua minggu kemudian. Kita, sebagai sebuah bangsa memang melakukan perbaikan, tapi kecepatan perbaikan tersebut tidak terjadi sebagaimana bangsa lain berubah. Berbagai indeks dalam bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan lainnya yang dirilis oleh lembaga-lembaga internasional setiap tahunnya menunjukkan bahwa kita berada dalam posisi medioker. Kita memang bukan yang terburuk, tetapi kita juga belum mampu menunjukkan prestasi gemilang di hadapan bangsa lain. Jika dilihat dari potensi yang kita miliki, seperti melimpahnya sumberdaya alam, jumlah penduduk yang besar, posisi geografis yang strategis, dan banyak faktor pendukung lainnya, seharusnya kita bisa mencapai prestasi jauh lebih baik daripada yang kita capai saat ini. Kita memang pandai dalam membuat rencana, tetapi lemah dalam implementasi dan evaluasi. ?

Haedar Nashir

Agama mengajarkan, jika hari ini sama dengan kemarin, maka kita termasuk golongan yang merugi, bahkan jika hari ini kita lebih dari kemarin, maka kita termasuk golongan yang celaka. Kebutuhan ? untuk berinovasi dan melakukan perbaikan-perbaikan dengan sungguh-sungguh semakin mendesak karena bangsa lain juga melakukan yang sama. Kalau tidak, kita akan menjadi pencundang. Dengan menyadari adanya keterdesakan bahwa orang lain, bangsa lain atau umat dari agama lain sudah bertindak lebih baik, hal ini akan memacu kita untuk bertindak lebih baik pula. Semoga pencapaian untuk setahun ke depan, kita jauh lebih baik daripada setahun sebelumnya. (Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Cerita, Nahdlatul Haedar Nashir

Haedar Nashir

Sandal Khusus Kamar Mandi

Kamar mandi, kamar kecil, toilet, WC, dan berbagai sebutan lainnya merupakan tempat khusus yang dipergunakan manusia untuk membersihkan diri dari kotoran. Sehingga kamar mandi dan sejenisnya selalu identik dengan najis. Oleh karena itu wajar sekali jika seseorang sering merasa ragu akan kesuciannya ketika selesai mandi, buang air besar maupun kecil.

Kebanyakan keraguan seseorang bersumber dari telapak kaki sebagai anggota badan yang langsung bersentuhan dengan lantai kamar mandi. Sehingga seringkali seseorang berjalan dengan berjinjit sangat hati-hati. Merasa seolah lantai kamar mandi itu tidak bebas dari najis, padahal tidak demikian, jika memang lantai kamar mandi telah disiram berulang-ulang dengan air yang suci.

Namun demikian, keraguan adalah keraguan yang ada dalam hati yang susah untuk dihilangkan. Untuk menyiasati hal ini sebaiknya seseorang menyeidakan satu sandal khusus untuk ke kamar mandi, agar telapak kaki tidak bersentuhan langsung dengan lantai kamar mandi yang dianggap najis. Mengenai hal ini Imam Nawawi dalam Kitab Al-Majmu’ Syarhul Muhaddzab pernah menjelaskan,

Sandal Khusus Kamar Mandi (Sumber Gambar : Nu Online)
Sandal Khusus Kamar Mandi (Sumber Gambar : Nu Online)

Sandal Khusus Kamar Mandi

? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Diperbolehkan berihthiyath (berhati-hati) dalam masalah ibadah dan yang lain sehingga tidak mengakibatkan waswas.

Penekanan Ihthiyath (kehati-hatian) lebih diutamakan pada masalah ini, dikarenakan bersuci dari najis adalah salah satu syarat sahnya shalat, jika saja ada najis yang mengenai pakaian seseorang, maka akan menjulur pada keabsahan shalat itu sendiri.

Sedangkan maksud dan tujuan dari memakai sandal sendiri adalah untuk menghindari keragu-raguan, najis dan kotoran itu sendiri. Maka jika terpenuhinya maksud tersebut adalah dengan memakai sandal, maka hal itu dianjurkan sebagai sarana terwujudnya maksud dan tujuan. Imam Nawawi melanjutkan penjelasannya, dalam kitab yang sama, 

Haedar Nashir

? ? ? ? ? ?

Diperbolehkan juga berhati-hati untuk terpenuhinya maksud dan tujuan.

Lebih baiknya seseorang menyediakan sandal khusus kamar mandi dan tidak dipakai kecuali hanya ketika hendak masuk kekamar mandi. Terlebih lagi jika kamar mandi tersebut tidak ada tempat cucian kaki, maka sandal khususu kamar mandi adalah solusinya. (Pen. Fuad H/Red. Ulil H)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir

Haedar Nashir Hikmah, Amalan Haedar Nashir

Pencak Silat NU Pagar Nusa Kian Semarak di Sekolah-madrasah NU

Jakarta, Haedar Nashir - Pengurus Pusat Pencak Silat NU Pagar Nusa memotret banyak perkembangan dunia persilatan NU di daerah-daerah terutama di lingkungan pendidikan NU. Pengurus Pagar Nusa melihat banyak sekolah dan madrasah di lingkungan LP Maarif NU menjadikan pencak silat NU Pagar Nusa sebagai kegiatan ekstrakulikuler para siswa baik putra maupun putri.

Demikian disampaikan Sekretaris Umum PP Pencak Silat NU Pagar Nusa H Nabil Haroen di hadapan ratusan pendekar pada pembukaan Kerjurnas II dan Festival Pencak Silat NU Pagar Nusa di Padepokan Silat Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Ahad (21/8) sore.

Pencak Silat NU Pagar Nusa Kian Semarak di Sekolah-madrasah NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Pencak Silat NU Pagar Nusa Kian Semarak di Sekolah-madrasah NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Pencak Silat NU Pagar Nusa Kian Semarak di Sekolah-madrasah NU

“Ada begitu banyak perkembangan menggembirakan di daerah-daerah. Minat orang-orang, khususnya di lingkungan Nahdlatul Ulama untuk menitipkan putra-putrinya pada gemblengan Pagar Nusa kian meningkat,” kata H Nabil pada upacara pembukaan Kejurnas II Pagar Nusa.

Menurut Nabil, lembaga-lembaga pendidikan di lingkungan LP Maarif NU dan sekolah-madrasah yang dikelola warga NU banyak yang mulai peduli untuk merintis dan mengembangkan pencak silat di lembaga mereka.

Haedar Nashir

Haedar Nashir

Sejak diresmikan menjadi salah satu Badan Otonom NU tahun 2004 pada Muktamar Ke-31 NU di Boyolali, Pagar Nusa terus melakukan pembenahan. Pengurus Pagar Nusa hingga kini terus mengonsolidasi diri, terus menempa diri agar bisa menjadi organisasi pendekar pencak silat yang mumpuni.

“Semua itu membuat permintaan akan pelatih pencak silat juga meningkat.”

Ia berharap Kejuaraan Nasional Kedua dan Festival Pencak Silat NU Pagar Nusa kali ini berlangsung lancar.

“Saya sampaikan selamat kepada pendekar sekalian yang telah menyedekahkan waktu untuk bisa menjalin tali kaasih di antara kita dalam perhelatan ini. Ahlan wa Sahlan. Selamat bertanding. Selamat beratraksi dalam festival,” tandas Nabil. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Humor Islam, Nusantara Haedar Nashir

Rabu, 10 Januari 2018

Cerita Rasulullah tentang Tiga Pria Terjebak dalam Gua

Sebagaimana tercatat dalam hadits riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim, Rasulullah pernah berkisah tentang tiga orang pria pada masa pra-Islam yang terjebak dalam sebuah gua. Cerita dimulai ketika hujan turun dan mereka berteduh dalam gua di suatu gunung.

“Bleg!” Tiba-tiba saja sebongkah batu besar jatuh menutup mulut gua dan mengurung ketiga laki-laki tersebut. Mereka tak cukup tenaga untuk menggeser batu raksasa itu. Yang paling bisa mereka lakukan hanyalah berdoa.

Cerita Rasulullah tentang Tiga Pria Terjebak dalam Gua (Sumber Gambar : Nu Online)
Cerita Rasulullah tentang Tiga Pria Terjebak dalam Gua (Sumber Gambar : Nu Online)

Cerita Rasulullah tentang Tiga Pria Terjebak dalam Gua

“Coba ingat-ingat amal baik kalian yang betul-betul tulus karena Allah, lalu berdoalah lewat perantara amal tersebut. Semoga Allah memberi jalan keluar,” kata salah seorang dari mereka.

Sesaat kemudian temannya mengadu kepada Allah dan mulai menyebutkan amal perbuatan baiknya.

Haedar Nashir

“Ya Allah ya Tuhanku, aku mempunyai dua orang tua yang sudah lanjut usia, juga seorang istri dan beberapa orang anak yang masih kecil. Aku menghidupi mereka dengan menggembalakan ternak. Apabila pulang dari menggembala, aku pun segera memerah susu dan aku dahulukan untuk kedua orang tuaku. Lalu aku berikan air susu tersebut kepada kedua orang tuaku sebelum aku berikan kepada anak-anakku. Pada suatu ketika, tempat penggembalaanku jauh, hingga aku pun baru pulang pada sore hari. Kemudian aku dapati kedua orang tuaku sedang tertidur pulas. Lalu, seperti biasa, aku segera memerah susu dan setelah itu aku membawanya ke kamar kedua orang tuaku. Aku berdiri di dekat keduanya serta tidak membangunkan mereka dari tidur. Akan tetapi, aku juga tidak ingin memberikan air susu tersebut kepada anak-anakku sebelum diminum oleh kedua orang tuaku, meskipun mereka, anak-anakku, telah berkerumun di telapak kakiku untuk meminta minum karena rasa lapar yang sangat. Keadaan tersebut aku dan anak-anakku jalankan dengan sepenuh hati hingga terbit fajar. Ya Allah, jika Engkau tahu bahwasanya aku melakukan perbuatan tersebut hanya untuk mengharap ridla-Mu, maka bukakanlah suatu celah untuk kami hingga kami dapat melihat langit!”

Doa tersebut terkabulkan. Allah subhanahu wa Taala membuka celah lubang gua tersebut. Namun, satu pun dari mereka bertiga belum ada yang bisa keluar dari celah tersebut.

Haedar Nashir

Salah seorang dari mereka berdiri sambil berkata, “Ya Allah ya Tuhanku, kepada putri pamanku aku pernah jatuh cinta layaknya seorang pria yang begitu menggebu-gebu menyukai wanita. Suatu ketika aku pernah mengajaknya untuk berbuat mesum, tetapi ia menolak hingga aku dapat memberinya uang seratus dinar. Setelah bersusah payah mengumpulkan uang seratus dinar, akhirnya aku pun mampu memberikan uang tersebut kepadanya. Ketika aku berada di antara kedua pahanya (telah siap untuk menggaulinya), tiba-tiba ia berkata; Hai hamba Allah, takutlah kepada Allah dan janganlah kamu membuka cincin (menggauliku) kecuali setelah menjadi hakmu. Lalu aku bangkit dan meninggalkannya. Ya Allah ya Tuhanku, sesungguhnya Engkau pun tahu bahwa aku melakukan hal itu hanya untuk mengharapkan ridhla-Mu. Oleh karena itu, bukakanlah suatu celah lubang untuk kami!”

Allah pun membukakan sedikit celah lagi untuk mereka bertiga. Tapi lagi-lagi mereka masih belum bisa keluar dari gua. Giliran seorang teman lagi yang berdiri lalu memanjatkan doa:

“Ya Allah ya Tuhanku, dulu aku pernah menyuruh seseorang untuk mengerjakan sawahku dengan cara bagi hasil. Ketika ia telah menyelesaikan pekerjaannya, ia pun berkata, Berikanlah hakku! Namun aku tidak dapat memberikan kepadanya haknya tersebut hingga ia merasa sangat jengkel. Setelah itu, aku pun menanami sawahku sendiri hingga hasilnya dapat aku kumpulkan untuk membeli beberapa ekor sapi dan menggaji beberapa penggembalanya. Selang berapa lama kemudian, orang yang haknya dahulu tidak aku berikan datang kepadaku dan berkata; Takutlah kamu kepada Allah dan janganlah berbuat zalim terhadap hak orang lain! Lalu aku berkata kepada orang tersebut, Pergilah ke sapi-sapi dan para penggembalanya itu dan ambillah semuanya untukmu! Orang tersebut menjawab, Takutlah kepada Allah dan jangan mengejekku! Kemudian aku katakan lagi kepadanya, Sungguh aku tidak bermaksud mengejekmu. Oleh karena itu, ambillah semua sapi itu beserta para pengggembalanya untukmu!’ Akhirnya orang tersebut memahaminya dan membawa pergi semua sapi itu. Ya Allah, sesungguhnya Engkau telah mengetahui bahwa apa yang telah aku lakukan dahulu adalah hanya untuk mencari ridla-Mu. Oleh karena itu, bukalah bagian pintu gua yang belum terbuka!

Akhirnya Allah pun membukakan sisanya hingga mereka dapat keluar dari dalam gua yang terhalang batu besar tersebut.

Hadits tersebut mengungkap pesan bahwa doa yang disertai tawasul melalui amal saleh memiliki faedah yang nyata. Memprioritaskan berbakti kepada kedua orang tua dibanding yang lain, keberanian untuk keluar dari godaan berat berbuat zina, dan kewajiban memenuhi hak buruh, sebagaimana dipaparkan dalam kisah tersebut adalah contoh dari sekian banyak kebajikan lain yang mampu menjadi “solusi” tatkala kita dalam situasi terdesak. Hanya saja, amal-amal baik apa pun tentu tak berarti apa-apa kecuali tujuan pokoknya hanya untuk mencari ridha Allah. Wallâhu a‘lam. (Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ubudiyah Haedar Nashir

Tingkatkan Kualitas Kader, IPPNU Demak Gelar Lakut

Demak, Haedar Nashir. Pengurus IPPNU Demak di akhir masa kepengurusannya terus menggalakkan kaderisasi serta memaksimalkan kualitas kadernya. Mereka melibatkan pengurus aktifnya yang ada di tingkat kecamatan pada Latihan Kader Utama di aula Masjid Besar Baitul Muttaqin Kauman Mranggen Demak, Jumat-Ahad (29-31/8).

“Kegiatan Lakut ini bertujuan mempersiapkan kader pada kepengurusan mendatang. Dengan materi Lakut ini, mereka diharapkan bisa mandiri dan professional,” ujar Ketua IPPNU Demak Fitriyah di tengah kaderisasi tingkat lanjut ini.

Tingkatkan Kualitas Kader, IPPNU Demak Gelar Lakut (Sumber Gambar : Nu Online)
Tingkatkan Kualitas Kader, IPPNU Demak Gelar Lakut (Sumber Gambar : Nu Online)

Tingkatkan Kualitas Kader, IPPNU Demak Gelar Lakut

Kaderisasi ini menghadirkan beberapa senior andal dan pengisi pelatihan yang professional. Program seperti ini, kata Fitriyah, merupakan kewajiban yang harus dilaksanakan di semua tingkatan.

Haedar Nashir

“Secara formal kaderisasi berbentuk pelatihan dan kegiatan lain sudah jalan. Hanya pada Lakut ini saya merasa lega karena sudah ada gambaran kader-kader penerus saat konferensi nanti,” jelas Fitriyah.

Haedar Nashir

Dalam pelaksanaan Lakut ini, IPPNU Demak menggandeng antara lain lembaga pendidikan di Demak, Ma’arif NU Demak, dan 14 PAC IPNU-IPPNU sekabupaten Demak. (A Shiddiq Sugiarto/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Halaqoh, Nahdlatul Ulama Haedar Nashir