Sabtu, 03 Maret 2018

Mempertahankan al-Aqsa dari Ancaman Israel

Kawasan paling panas di Timur Tengah, Palestina kembali bergolak setelah Israel memasang detektor logam di pintu-pintu masuk Masjidil al-Aqsa. Masyarakat Palestina kemudian melakukan demonstrasi sedangkan dunia internasional menekan Israel untuk mencabut kembali detektor-detektor yang sebelumnya sudah dipasang. Sekalipun akhirnya peralatan tersebut dicopot kembali, Israel berencana memasang kamera pengintai canggih.?

Tindakan Israel untuk “mengokupasi” Masjidil al-Aqsa ini didasari alasan keamanan setelah ada dua orang polisi Israel yang ditembak oleh dua orang Palestina. Tampaknya Israel menggunakan memomentum ini sebagai kesempatan untuk menguasai kompleks yang sebelumnya berada di bawah otoritas Yordania.?

Alat pengintai canggih yang rencananya akan dipasang di kompleks Masjidil al-Aqsa ini juga tidak dapat diterima. Jika ini boleh dipasang, ini menunjukkan berlakunya otoritas Israel di wilayah tersebut. Sudah sejak lama Israel ingin menguasai sepenuhnya kompleks suci ini sebagai bagian dari Israel Raya. Salah satu targetnya adalah memindahkan ibukotanya ke Yerussalem dari sebelumnya di Tel Aviv.

Mempertahankan al-Aqsa dari Ancaman Israel (Sumber Gambar : Nu Online)
Mempertahankan al-Aqsa dari Ancaman Israel (Sumber Gambar : Nu Online)

Mempertahankan al-Aqsa dari Ancaman Israel

Tindakan yang dilakukan Israel tersebut tentu saja melanggar kebebasan untuk beribadah. Otoritas pengelolaan Masjid al-Aqsa saat ini harus sebagaimana yang berjalan sebelumnya. Untuk mencegah upaya Israel mengambil alih tempat suci ini, sudah selayaknya jika masyarakat internasional dilibatkan dalam upaya perlindungan kompleks yang dihormati oleh tiga agama ini.?

Strategi dalam memperjuangkan Palestina saat ini tampaknya harus diubah. Upaya meraih kemerdekaan dengan perjuangan fisik, bahkan sudah kalah sejak perang 1967. Semakin ke sini, kapasitas militer Israel semakin canggih, sementara pejuang Palestina hanya bisa berjuang dengan peralatan yang kapasitasnya jauh di bawah apa yang dimiliki Israel yang mendapat dukungan penuh dari Amerika Serikat dan beberapa sekutu lainnya dengan persenjataan tercanggih saat menghadapi ancaman. Korban-korban nyawa terus berjatuhan sedangkan kerusakan fisik yang ditimbulkan akibat peperangan juga bernilai sangat besar. Semakin lama, rakyat Palestina semakin menderita jika pendekatannya adalah militer.

Haedar Nashir

Belakangan, perjuangan melalui jalur diplomasi untuk memperjuangkan kemerdekaan Palestina lebih berhasil. Pengakuan eksistensi Palestina di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dengan dukungan penuh negara-negara Muslim dan negara lain yang menginginkan kemerdekaan Palestina menunjukkan kekalahan diplomasi Israel dan Amerika Serikat. Kemenangan lain Palestina atas Israel dan Amerika Serikat terjadi juga atas pengakuan Palestina oleh UNESCO. Diplomasi pula yang membuat beberapa negara memboikot barang-barang Israel yang diproduksi di daerah pendudukan yang dikuasai setelah perang 1967.?

Mengharapkan Amerika Serikat sebagai juru damai yang adil untuk kepentingan kedua belah pihak bagaikan pungguk merindukan bulan. Berbagai kepentingan menjadikan kebijakan resmi negeri adidaya ini lebih condong dalam melindungi Israel daripada memperjuangkan aspirasi Palestina. Poros kekuatan dunia yang kini semakin tersebar ke berbagai negara besar lain seperti India dan China serta perubahan sikap dari negara-negara Eropa Barat yang kini melihat persoalan secara lebih berimbang bisa dimanfaatkan untuk memperjuangkan kepentingan Palestina secara lebih intensif.?

Haedar Nashir

Tentu saja, perjuangan Palestina tersebut tidak bisa menyerahkan sepenuhnya pada negara-negara Timur Tengah sendiri yang hingga kini tak henti-hentinya dilanda konflik, apalagi hanya menyerahkan sepenuhnya kepada rakyat Palestina yang terus mengalami himpitan keras oleh Israel. Indonesia sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia dapat mengambil inisiatif dan peran penting membantu membantu Palestina dalam forum-forum internasional.

Indonesia pernah memiliki peran penting dalam diplomasi internasional saat era kepemimpinan Soekarno. Penyelenggaraan Konferensi Asia Afrika (KAA) menjadi pendorong kemerdekaan negara-negara di dua kawasan tersebut yang sebelumnya masih mengalami kolonialisasi. Para pemimpin Indonesia di masa kini atau masa mendatang bisa belajar langkah-langkah yang dilakukan oleh presiden pertama RI ini dalam memperjuangkan kepentingan negara-negara berkembang atau negera terbelakang di hadapan kepentingan negara-negara yang kuat yang tidak mau kehilangan gehemoni atas sumberdaya yang mereka miliki, sekalipun merugikan merugikan pihak lain. Bagi para pemimpin negara, kepentingan tertinggi mereka adalah kepentingan nasionalnya karena mereka dipilih oleh penduduk di negaranya. Karena itu, negara-negara Muslim tidak bisa sepenuhnya berpangku tangan dengan mengharapkan keadilan diberikan. Keadilan harus diperjuangkan?

Demikian pula, cita-cita negara Palestina yang damai dan sejahtera, tidak bisa hanya dengan mengandalkan kerelaan pihak lain untuk berkorban. Upaya tersebut harus diperjuangkan. Jika melihat situasi kekinian, maka pola perjuangan yang paling memungkinkan adalah melalui jalur diplomasi. Dan hal ini membutuhkan kebersamaan negara-negara Muslim untuk memiliki satu pandangan akan pentingnya Palestina dan Masjidil Aqsa sebagai salah satu tempat suci yang harus dijaga eksistensinya. ? (Ahmad Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Hikmah Haedar Nashir

Gus Mus Dituduh Liberal?

Kendal, Haedar Nashir. KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) dituding sejumlah pihak beraliran liberal. Berkaitan dengan itu, warga Nahdlatul Ulama (NU) di Kendal, Jawa Tengah, meminta pihak yang menuding Pj Rais Aam PBNU 2014-2015 sebagai sosok liberal menggunakan nalarnya dengan baik.

"Yang bilang Syaikhona Gus Mus itu liberal sebaiknya mikir! Lihat dari dekat dengan hati dan akal sebelum mengatakan beliau liberal," ujar Shuniyya Ruhama Habiballah, warga NU di Kendal, Selasa (11/8).

Gus Mus Dituduh Liberal? (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Mus Dituduh Liberal? (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Mus Dituduh Liberal?

KH Ahmad Mustofa Bisri hingga hari ini akrab dipanggil Gus Mus. Sapaan “gus” lazimnya diperuntukkan bagi putra kiai dan umumnya berusia muda. "Padahal beliau itu kiai sepuh disegani banyak orang, ilmunya seperti lautan tak bertepi. Sementara orang baru belajar agama Islam, baru tahu satu dua ayat dijerumuskan teman-temannya dengan sebutan ustadz. Liberal siapa?" kata dia.

Haedar Nashir

Menurutnya, Gus Mus yang dilahirkan di Rembang, Jawa Tengah, 10 Agustus 1944 selalu sumringah, bersikap melayani, tidak seperti ndoro yang selalu minta dilayani.

"Tidak peduli yang sowan itu pejabat atau penjahat, semua diterima dengan tangan terbuka. Tidak pernah menghakimi orang lain. Sementara yang baru saja belajar agama sudah berani menggantikan tugas Malaikat Rokib dan Malaikat Atid, bahkan tidak segan-segan mengambil alih tugas Malaikat Ridwan dan Malaikat Malik. Liberal siapa?" ujar Shuniyya lagi.

Haedar Nashir

Menurutnya, jika disowani, pengasuh Pondok Pesantren Raudlatuh Tholibin, Leteh, Rembang tersebut dengan senang hati diajak foto bersama karena ingin menyenangkan hati semua orang.

"Tidak ada sedikitpun umpatan dan cacian yang akan kita dengar dari lisan beliau yang mulia. Bandingkan saja dengan sebarisan orang yang mengharamkan foto narsis, mencaci, memaki, bahkan tidak segan-segan meneraka-nerakan orang lain. Di saat yang sama, fotonya dengan berbagai gaya dan pose bertebaran di mana-mana. Liberal siapa?" tuturnya lagi.

Pada Muktamar NU 33 di Jombang 2015, Gus Mus bahkan bersedia mencium kaki para peserta supaya tetap tenang.

"Kiai sepuh panutan umat kok mau-maunya menyatakan hal semacam itu. Sementara yang di sana, jangankan mencium tangan kiai, sowan saja entah mau entah tidak. Liberal siapa? Lihat saja, saat beliau begitu saja menolak jabatan tertinggi dari ormas Islam terbesar di dunia, padahal sudah pernah menjadi pejabat sementara saat Syaikhona Mbah Sahal Mahfudh Pati berpulang ke rofiqul a’la sebelum selesai tugasnya, dan didukung penuh oleh kiai sepuh yang lebih senior, beliau hanya tertunduk, menangis, merasa tidak pantas. Lha yang di sana itu, malah mengangkat dirinya sebagai pemimpin ini itu, imam ini itu, setidaknya dijerumuskan teman-temannya sendiri dalam jabatan itu, petentang-petenteng padahal ada yang jauh lebih pantas atas sebutan dan jabatan itu. Liberal siapa?" katanya lagi.

KH Ahmad Mustofa Bisri pada Senin (10/8) kemarin berulang tahun yang ke-71. Ucapan selamat dan doa datang dari berbagai kalangan. (Gatot Arifianto/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Makam Haedar Nashir

Jumat, 02 Maret 2018

Ansor Tangerang Rekrut 30 Banser Baru

Tangerang, Haedar Nashir. Menjelang dilaksanakannya Konfercab IV Nahdlatul Ulama Kota Tangerang 20 Mei 2015. Gerakan Pemuda Ansor Anak Cabang Kecamatan Jatiuwung menggelar Diklatsar Banser yang dilaksanakan di Pondok Pesantren Darussa’adah. Pelatihan yang diadakan selama 3 hari (15-17 Mei) diikuti oleh 30 peserta.

Tentunya kegiatan ini sebagai bentuk regenerasi Banser di Kota Tangerang. Selama 3 hari mereka dibekali pengetahuan baik itu mengenai keorganisasian, ke-NU-an sampai materi-materi kemiliteran. 

Ansor Tangerang Rekrut 30 Banser Baru (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Tangerang Rekrut 30 Banser Baru (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Tangerang Rekrut 30 Banser Baru

“Sudah pasti ketika mereka berhasil dan lulus mengikuti kegiatan Diklatsar, mereka siap diterjunkan untuk pengamanan Konfercab IV NU Kota Tangerang sebagai tugas pertama mereka,” ujar Hartono ketua PAC GP Ansor Kecamatan Jatiuwung.

Haedar Nashir

Hadir memberikan motivasi H. Ahmad Imron (Ketua PW Ansor Banten). Dalam kesempatan itu Imron menyampaikan mengenai sejarah Ansor dalam menghantarkan kemerdekaan Indonesia dan berharap kader-kader baru Banser ini menjadi kader yang rahmatan lil ‘alamin, yang siap siaga menjaga kedaulatan NKRI dari segala bentuk makar yang dilakukan oleh segelintir orang yang tidak menginginkan Pancasila dan UUD 1945. (atho al farhan/mukafi niam)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nusantara, RMI NU Haedar Nashir

Selasa, 27 Februari 2018

Guru Nahdlatul Ulama Diimbau Produktif Menulis

Semarang, Haedar Nashir. Para guru yang bernaung di bawah lembaga pendidikan Nahdlatul Ulama diminta produktif menulis dan mempublikasikan karyanya di jurnal dan media massa. "Kalau guru sudah mulai aktif menulis, maka pendidikan Indonesia akan lebih maju," tegas Ketua Tanfidziyah PCNU Kota Semarang H Anasom saat membuka lokakarya "Guru Nahdlatul Ulama Menulis" di Auditorium MA NU Nurul Huda Mangkang Kulon Semarang, Kamis (28/9).

Guru Nahdlatul Ulama Diimbau Produktif Menulis (Sumber Gambar : Nu Online)
Guru Nahdlatul Ulama Diimbau Produktif Menulis (Sumber Gambar : Nu Online)

Guru Nahdlatul Ulama Diimbau Produktif Menulis

Kegiatan yang diprakarsai oleh Pengurus Cabang Lembaga Pendidikan Ma’arif NU Kota Semarang dengan UIN Walisongo Semarang ini menghadirkan narasumber Syamsul Maarif (Kapuslitbit LP2M UIN Walisongo), M Rikza Chamami (Dosen), dan Asikin Khusnan (Pengawas Sekolah). Peserta berjumlah 60 guru Nahdlatul Ulama yang memiliki konsentrasi di bidang tulis menulis dari SD/MI hingga SMA/MA.

Menulis, lanjut Anasom, merupakan tradisi para ulama dalam menyebarkan ilmu-ilmunya. Jadi para ulama bisa panjang umur dan terkenang sampai sekarang karena karya tulisnya masih dipelajari oleh para santri. "Maka tradisi menulis harus dikembangkan di semua komponen guru NU agar gagasan-gagasan itu dapat tersampaikan secara luas.

Di tengah kesibukan administratif para guru sekolah perlu menyisihkan waktu dalam menulis. "Jangan sampai guru hanya sibuk menulis jurnal sekolah dan menulis rapot saja" singgung Anasom. Potensi menulis itu sangat bermanfaat untuk guru. Sebab dengan menulis, guru akan dapat point untuk administrasi kepangkatan dan akan dapat koin berupa honor menulis.

Guru juga tidak hanya bisa menulis untuk jurnal ilmiah dan koran saja, tetapi bisa menulis buku ajar yang manfaatnya sangat besar. Bahkan ada seorang guru yang aktif menulis buku ajar dengan honor hingga seratus juga. "Itu yang perlu ditiru oleh guru-guru NU Kota Semarang" pungkasnya.

Haedar Nashir

Ketua LP Maarif Cabang Kota Semarang H Asikin Khusnan MSI sangat berharap para guru mampu mendisiplinkan diri dalam menulis karya ilmiah. "Menulis dari mulai yang terkecil dengan best practice pengalaman mengajar di kelas" kata Asikin.

Dari pelatihan ini, Asikin berkomitmen akan menindaklanjuti dengan pembuatan Jurnal Ilmiah Online khusus guru yang dapat menampung gagasan-gagasan para guru. "Kalau LP Maarif sudah punya jurnal ilmiah akan mempermudah kenaikan pangkat guru dan melahirkan iklim akademik di lingkungan sekolah" tegasnya. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir

Haedar Nashir Kyai, Amalan Haedar Nashir

Pengumuman Seleksi Beasiswa ke Australia

Jakarta, Haedar Nashir. Sebagai tindak lanjut pendaftaran program beasiswa ke Australia, PBNU mengumumkan nama calon yang berhak mengikuti ujian yang diselenggarakan pada hari Jum’at, 11 Mei 2012 di gedung PBNU pukul 14.00 membawa kelengkapan administrasi. Materi ujian adalah ke-NU-an dan Test Potensi Akademik (TPA)

Formulir aplikasi harap didownload di http://australiaawardsindo.or.id dan diisi dengan tinta hitam serta dikumpulkan pada waktu ujian.

Pengumuman Seleksi Beasiswa ke Australia (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengumuman Seleksi Beasiswa ke Australia (Sumber Gambar : Nu Online)

Pengumuman Seleksi Beasiswa ke Australia

Kelengkapan administrasi yang harus dibawa 

Haedar Nashir

1. Copy akte kelahiran (x3)

2. Copy KTP (x3)

Haedar Nashir

3. Curriculum Vitae (x3)

4. Hasil test IELTS or TOEFL, maksimal tahun 2011 (1 x asli dan 2 x copy)

5. Copy ijazah Universitas (x3)

6. Copy transkrip akademik (x3)

7. Pemohon untuk tingkat Masters harus menyertakan dokumen-dokumen S1;

8. Pemohon PhD harus menyertakan dokumen-dokumen S2

9. Pemohon PhD harus mendapat reverensi dari pembimbing di S2

10. Pemohon PhD harus menyertakan desain riset (halaman 7 formulir aplikasi) 

Dokumen tambahan yang disyaratkan jika lolos dalam interview

1. Pas Foto (3cm x 4cm);

2. Terjemah dalam bahasa Inggris ijazah universitas

3. Terjemah dalam bahasa Inggris transkrip akademik

4. Publikasi ilmiah (jika ada)

5. Terjemah dalam bahasa Inggris akte kelahiran

Berikut peserta beasiswa S2 yang berhak mengikuti test

1. Mohamad Dliyaul Haq, Pati 

2. M. Dhuha Aniqul Wafa, Rembang 

3. Nooriyah Noorunnisa, Jepara 

4. Asiyah Lulu’ul Husna, Ngoro Jombang 

5. Mohammad Isna Wahyudi, Sleman Yogyakarta

6. Hj. Neneng Retna Kurnia, Batam Indonesia 

7. Nur Utami Fauziyah, Rogojampi-  Banyuwangi 

8. Mohammad Nadhir Muamar Cibiru Bandung 

9. Mohammad Ibrahim Hamadani, Jakarta Pusat 

10. Achmad Fawaid Paiton Probolinggo 

11. Airin Islahiatin,  Gresik 

12. Sulasmi Yogyakarta 

13. Abdul Wafi, Pamekasan 

14. Mohammad Ikhwanuddin Malang 

15. Ashari Tuban 

16. Alim Syariati, Ternate Maluku Utara  

17. Lia Rosida NTB 

18. Fatikhatul Khoeriyah Lampung Timur  

19. Ahmad Tajudin Arafat Kudus 

20. Aida Hidayah Demak 

21. Neneng Bisyaroh Sidoarjo 

22. Hamam Faizin Sleman 

23. Endang Istianti Cengkareng Jakarta Barat 

24. Muhammad Fadlullah Ponorogo

25. Nurhidayatulloh Sleman, DIY 

26. Akhmad Qowi Rais Demak 

27. Khairul Akhmad Lombok Tengah

28 Yuyun Wardatul ‘Uyun Malang 

29. Mohammad Juahari Sofi Demak 

30. Rosidah Dharmasraya- Sumatra Barat 

31. Fiki Dzakiyati Pekalongan 

32. Yunita Ratnasari Banyuwangi 

33. Muhammad Nur Arifin Jepara 

34. Lu’luatul Fuadiyah Kendal 

35. Wahyu Dwi Warsitasari Trenggalek 

36. Abd. Latif, Malang

37. Mochammad Ichsan Malang 

38. Yeni Seprihatin Metro, Lampung 

39. Karyadi Ngadirego Semarang 

40. Fatriyatun Ni’mah Gresik 

41. Umi Nadziroh Grobogan 

42. Fatkhur Rahman Lamongan 

43. Siti Maspuah Fitrianingsih Rembang Jawa Tengah 

44. Ajar Pradika Ananta Tur Kebumen 

45. Ahmad Jamalul Fuad Tuban 

46. Asmar Riska Noor Viana Jombang 

47. Mokh. Afifuddin Pasuruan 

48. Hendra Hidayat Kota Depok 

49. Atik Muttaqin Sleman Yogyakarta 

50. Mohammad Kholis Khamdy Tambora Jakarta Barat 

51. Moh. Nurul Shobah Tanah Abang Jakarta Pusat, 

52. Isye Rahman Ciampea Bogor 

53. Siti Chalimatus Sa’diyah Lamongan 

54. Abu Ali Al-Khusain Demak Jawa Tengah 

55. Mohammad Shohibussirri Ciputat Kota Tang-Sel 

56. Afroni Pemalang 

57. Dwi Ike Kurniawati Gresik

58. Ahmad Yusuf Purnama Pandeglang  

59. Imas Istiani, Kuningan Jawa Barat  

60. Vina Risa, Lemah Abang Sindanglaut Cirebon 

61. Akhmad Munir Jember 

62. Abdur Rofik Pemalang 

63. Rika Susanti Depok, Sleman 

64. Abdur Rosyid Jombang 

65. Tantri Sundari Tulungagung 

66. Faza Nailul Muziya Lamongan 

67. Ahmad Nurul Furqon  Kp Rambutan Ciracas Jakarta Timur 

68. Ratih Febrina Dwiyanti Probolinggo 

69. Hartanti  Panggungharjo Sewon Bantul 

70. M. Tolkhah Adityas Turi, Sleman 

71. Mohamad Wildan Albi Magelang 

72. Hasna Wihdatun Nikmah Mranggen Demak 

73. Hernalia Citra Dewi Cileungsi Bogor 

74. Siti Aisyah Farhatin Gunungputri Bogor 

75. Ade Rizki NurbaetyKlapa Nunggal-Kab. Bogor

76. Hidayatur Rohmah Pasuruan

77. Lailiyatus Sa’diyah Gendeng, Yogyakarta 

78. Izzatin Kamala Pati Jawa Tengah 

79. Nur Azizah Ulya Pati

80. Khuslan Shodiq Solokuro Lamongan 

81. Emha Paisal Umari. Oebobo, Kota Kupang

82. Naillul Hana Laweyan Solo 

83. Ahmad Nurcholies Kadupandak Banten 

84. Imma Rohmawati Bandung

85. Komarudin A Banyuwangi 

86. Nurul Prihantini Kedungrojo Plumpang Tuban 

87. Etika Madang Raya Oku Timur Sum-sel

88. Imam Azro’i Rembang Jawa Tengah 

89. Devi Tamlikho, Karangrejo, Tulungagung 

90. M. Happy Nur Tsani Kedungbanteng Purwekerto Kab. Banyumas 

91. M. Syafaudin Montong 

92. Lina Hasnawati  Mranggen Demak 

93. Lia Arief Muftiah Semarang 

94. Abdul Somad Ciwaringin Cirebon 

95. Rohmad Saleh Sukaadana Timur Lampung Timur 

96. Heru Supatra Wringin Semarang 

97. Dewi Rini Anggraeni Kebon Jeruk Jakarta Barat 

98. Mufty Shulthony Cisarua Bogor 

99. Kharis Mudakir Yogyakarta 

100. Sigit Santoso Sukoharjo 

101. Mohammad Ana Zamzami Sumbergempol,Tulungagung 

102. Faida Guluk-Guluk Sumenep 

103. Ulfatuzzuhroh Tegalsari, Banyuwangi

104. Muhamad Ibrahim Hamdani Jakarta Pusat 

105. Zuli Ngafifah Garum Blitar 

106. Siti Aisyah Farhatin Gunungputri Bogor 

107. Suparzan Pemenang Lombok Utara

108. Ahmad Faisal Serang Banten 

109. Lina Machwiyyah Sragen 

110. Fajar Hamzah Makasar 

111. Muhamad Nurcholis Ngawi 

112. Agus Ahmad Suaidi Salatiga 

113. Abra Puspa Ghani Talattov Pejaten Timur Jakarta 

114. Dwi Prapti Asih Cilegon Banten 

115. Muhammad Shofin Soegito Pisangan Barat Ciputat Tangerang 

116. Desy Tahmila Pratama Cilangkap Cipayung Jakarta Timur 

117. Ana Ainiyatul Farihah Banyakan Kediri 

118. Febri Falasifa Karawaci Baru Tangerang Banten 

119. Imam Muhtarom Pejaten Barat Pasar Minggu JakSel 

120. Maimun Syah Cadek Permai Aceh Besar

121. Maslihatul Bisriyah UIN Malang 

Peserta test beasiswa S3

1. Rachmat Hidayat Jember

2. Muhidin Purwakarta Jawa Barat  

3. Andrian Aziz Widodo Rawalumbu, Bekasi 

4. Muhammad Yunus Manyaran Gresik 

5. Mohammad Hasan Basri Palengaan Pamekasan 

6. Yenni Luthfiana Ngering, Gempol Kab.Pasuruan 

7. Moch. Saefullah Tuban

8. Farnia Sari Pisangan kec. Ciputat Timur 

9. Achmad Badrun Kurnia Tembelang Jombang 

10. Dian Ferricha Blitar 

11. Nur Akhlis Pare Kediri 

12. Habib Sulton Asnawi Seputih Jaya, Bandar Lampung

13. Haryadi Nganjuk 

14. Salamet Herianto Sumenep

15. Mohammad Hadi Makmur Sumbersari Jember 

16. Linda Dwi Erianti Sumbersari Jember 

17. Mohammad Chusnul Khitam Lamongan  

18. Wakhit HasimTelon, Cirebon 

19. Irul Hidayati Krian Sidoarjo 

20. Kamarudin Sumenep 

21. Siti Nurul Hidayah Trenggalek 

22. Syariati Alim Ternate Maluku Utara 

23. Suci HanifahKaliuarang Jogjakarta

24. Siti Aimah Banyuwangi 

25. Muhammad Hatta Banda Aceh 

26. Mohammad Ahmad Fulka Sa’dibih Widang Kab. Tuban 

27. Ahmad Nuttaqin Abdul Hamid Arjawinangun Cirebon 

28. Naeli Rosyidah Banyumas 

29. Suci Hanifah Harjobinangun, Pakem 

30. Sutomo Malang

31. Agus Ihwan Mahmudi PKT Bontang 

32. Fahrur Rozi Kroya Cilacap 

33. Mohamad Syukron Mantri Jeron Yogyakarta 

34. Nur Habibi, Kebon Jeruk 

35. Fatkhullah Munadi Pemurus Luar Banjarmasin 

36. Ahmad Anfasul Marom Bojonegoro 

37. Ahmad Zayadi Probolinggo 

38. Haryono Yogyakarta 

39. Zaenal Arifin Pogalan Trenggalek 

40. Misbahul MunirKarangsari Tuban 

41. Uswah Hasan Wonosobo

42. Yusuf Suharto Jombang

43. Hatta Abdul Malik Semarang

44. Ibnu Fikri Kendal 

45. Jisman Majid Ternate Maluku  

46. Ali Ashari Malang

47. Abdul Gofur Indramayu

48. Anis Fuadhah Ponggok Blitar

49. Hasan Demak 

50. Fatkhur RazhiSurabaya 

51  Jisman Majid Ternate  Maluku Utara

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir IMNU Haedar Nashir

Senin, 26 Februari 2018

Konfercab PMII Semarang Teguhkan Aswaja di Kampus

Semarang, Haedar Nashir. Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota Semarang mengadakan konferensi cabang (Konfercab), 23-24 Agustus 2014, di Gedung Serbaguna PCNU Kota Semarang, Jawa Tengah. Konfercab ke-36 ini akan diawali dengan seminar nasional.

Siswoyo selaku ketua panitia menyampaikan, tema konfercab yang diangkat kali ini adalah "Meneguhkan Gerakan Ahlussunah wal Jamaah dalam Dunia Kampus". Sementara forum seminar akan menghadirkan dosen Universitas Diponegoro, Hasyim Asyari; Dr. Arja Imroni, Sekretaris PWNU Jateng; dan Kapolrestabes Semarang.

Konfercab PMII Semarang Teguhkan Aswaja di Kampus (Sumber Gambar : Nu Online)
Konfercab PMII Semarang Teguhkan Aswaja di Kampus (Sumber Gambar : Nu Online)

Konfercab PMII Semarang Teguhkan Aswaja di Kampus

Forum konfercab juga akan menyinggung berbagai permasalahan baik pada lingkup lokal, nasional, maupun global. PMII didorong untuk menunjukkan partisipasinya dalam penyelesaian persoalan di masyarakat.

Haedar Nashir

“Tidak hanya peran dan fungsi PMII yang harus berjalan dengan baik, pergantian pengurus juga wajib berjalan dengan periodik, tidak mengalami panjangnya masa kepengurusan,” tambah Siswoyo.

Haedar Nashir

Karena itu, konfercab ini juga menjadi ajang pergantian pengurus. Dari banyak perguruan tinggi di Semarang, hanya tujuh Pengurus Komisariat (PK) PMII yang akan menentukan ketua baru cabang mereka.

Ketujuh PK PMII tersebut antara lain PK PMII Sultan Agung (Unissula), PK PMII Galang Sewu (Polines), PK PMII Diponegoro (Undip), PK PMII Al-Ghozali (Unnes), PK PMII IKIP PGRI (Universitas PGRI), dan PK PMII Wahid Hasyim (Unwahas). Perwakilan dari masing-masing komisariat ini nanti yang akan memilih pemimpin baru menggantikan Ahmad Junaidi. (Mukhamad Zulfa/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pemurnian Aqidah, PonPes Haedar Nashir

Tgk H Faisal Kembali Pimpin PWNU Aceh

Banda Aceh, Haedar Nashir. Peserta Konferensi Wilayah Nahdlatul Ulama XIII NU Aceh akhirnya bermusyawarah mufakat untuk meminta kembali Tgk H Faisal Ali sebagai Ketua PWNU Aceh periode 2015-2015. Untuk Rais Syuriyahnya, mereka meminta Tgk H Nuruzzahri Yahya.

Keinginan itu mencuat dalam pandangan dari pengurus cabang-cabang NU seanterao Aceh pasca penyampaian Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) PWNU Aceh periode 2009-2014.

Tgk H Faisal Kembali Pimpin PWNU Aceh (Sumber Gambar : Nu Online)
Tgk H Faisal Kembali Pimpin PWNU Aceh (Sumber Gambar : Nu Online)

Tgk H Faisal Kembali Pimpin PWNU Aceh

Konferwil NU Aceh itu berlangsung secara akrab penuh kebersamaan, walaupun sebelumnya muncul beberapa nama kandidat ketua PWNU Aceh.

Haedar Nashir

Konferwil XIII NU Aceh itu diikuti oleh 23 kabupaten dan kota di Provinsi Aceh. Forum ini berlangsung di Asrama Haji Banda Aceh sejak Jum’at-Ahad (17-19/4).

Forum ini dibuka oleh Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siraj. Hadir pada malam pembukaan konferwil itu Gubernur Aceh Zaini Abdullah, Wali Nanggroe Malik Mahmud Al-Haytar, sejumlah kepala dinas, unsur OKP dan ormas di Aceh, pimpinan dayah, dan undangan lainnya.

Haedar Nashir

Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal Marwan Jakfar pada saat sambutan menutup Konferwil XIII NU Aceh berharap agar warga nadhlyin di Aceh menjadikan Aswaja sebagai pedoman dasar dan menjadi khittah perjuangan organisasi tersebut.

“Warga NU harus ikut serta dalam mengawasi program-program pemerintah terutama program di Kementerian Desa PDTT,” kata Marwan.

Marwan di hadapan 5.000 waga NU Aceh mengatakan bahwa kiprah NU sebagai organisasi sosial masyarakat dalam segala aspek kehidupan dari keagamaaan, ekonomi, politik, pendidikan, sosial-budaya, menunjukkan kemajuan yang sangat bagus.?

Penutupan Konferwil itu dihadiri oleh Wakil Gubernur Aceh Muzakkir Manaf, Walikota Banda Aceh Hj Illiza Sa’aduddin Djamal, pimpinan dayah, kepala dinas, dan pejabat-pejabat di Aceh lainnya. (Muhadzier/Alhafiz K)

Foto: Tgk. Faisal Ali saat berada di ruang redaksi Haedar Nashir. Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Hadits, Humor Islam Haedar Nashir