Sabtu, 31 Juli 2010

KH Ahmad Sufyan: Entaskan Kemiskinan dengan Cara Sederhana

Situbondo, Haedar Nashir. Nahdlatul Ulama (NU) dan pondok pesantren merupakan alat perjuangan para kiai untuk mewujudkan kehidupan masyarakat yang sejahtera dan kebahagiaan yang abadi. Karena itu NU dan pesantren harus tetap dalam genggaman para ulama.

Adalah sebuah bencana besar jika NU tidak lagi menjadi tempat para ulama. Demikian penuturan KH Ahmad Sufyan, Rais Syuriah PCNU Situbondo saat menerima silaturahmi rombongan Lajnah Ta’lif wan Nasyr Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LTN PBNU).

KH Ahmad Sufyan: Entaskan Kemiskinan dengan Cara Sederhana (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Ahmad Sufyan: Entaskan Kemiskinan dengan Cara Sederhana (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Ahmad Sufyan: Entaskan Kemiskinan dengan Cara Sederhana

Kehadiran LTN PBNU ini didampingi beberapa Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kab. Situbondo, di sela-sela acara Pelatihan Manajemen Baitul Mal wat Tamwil (BMT) kerjasama Pengurus Besar Nahdlatul Ulama dengan Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal.

Haedar Nashir

Kiai Sufyan menambahkan bahwa salah satu ciri masyarakat pesantren adalah pola komunikasi dan strategi yang dibangun secara sederhana dan ringkas. Idealnya Nahdlatul Ulama pun mempertahankan pola tersebut dan tidak terbawa arus budaya yang berkembang di luar pondok pesantren.

“Kalau masalahnya sederhana, ya selesaikan dengan cara yang sederhana. Tidak perlu memperumit pembahasan atas masalah yang hakikinya sederhana,” papar kiai kharismatik ujung timur Pulau Jawa itu.

Haedar Nashir

Kiai Sufyan lantas mencontohkan satu kasus tentang program pengentasan kemiskinan di Indonesia. Menurut beliau perlu diidentifikasi dengan benar dan akurat kategori “orang miskin” sebagai obyek, proses “pengentasan kemiskinan” sebagai pola dan “orang yang mengentaskan” sebagai subyek.

“Faktanya yang dientaskan dari kemiskinan itu lebih sedikit dari yang mengentaskan kemiskinan. Jadinya malah ruwet padahal persoalannya sederhana,” paparnya menjelang pengajian rutin lailatul ijtima yang diselenggarakan setiap Senin malam.

Kiai Sufyan juga mengatakan bahwa PCNU Situbondo saat ini sedang memersiapkan diri menyelenggarakan konferensi cabang yang direncanakan berlangsung akhir Desember 2010.

“Situbondo sebentar lagi menyelenggarakan Konferensi Cabang. NU harus dijaga agar tetap menjadi tempat para ulama,” jelasnya kepada Haedar Nashir.. Sementara itu Ahmad Nur, Ketua Lakpesdam NU Kab. Situbondo menjelaskan bahwa dalam usia yang cukup lanjut, tidak berkurang keaktifan Kiai Sufyan dalam berpikir dan bertindak untuk kemaslahatan nahdliyyin.

“Anda bisa bayangkan, di setiap Senin malam beliau selalu terlihat energik menggelar pengajian interaktif, terjadi diskusi, karena itu pengajian berjalan cukup dinamis dan tidak membosankan,” kata alumnus Universitas Gadjah Mada Yogyakarta itu. (bil)Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir RMI NU, Halaqoh Haedar Nashir

Kamis, 29 Juli 2010

Liga Santri Nusantara Jatim 1 akan Dirangkai dengan Piala Bupati Ponorogo

Ponorogo, Haedar Nashir. Menjelang berlangsunya Liga Santri Nusantara Tahun 2016 yang akan digelar usai bulan Ramadhan, Panitia Pelaksana LSN Region Jawa Timur 1 melakukan rapat bersama Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kabupaten Ponorogo, Jum’at (17/6).

Pada rapat yang dihadiri Koordinator LSN Jawa Timur 1 Habib Mustofa, pengurus KONI dan PSSI Ponorogo itu berhasil menyepakati pelaksanaan kompetisi sepakbola antar pesantren itu akan dirangkaikan dengan Piala Bupati Ponorogo Tahun 2016. ?

Liga Santri Nusantara Jatim 1 akan Dirangkai dengan Piala Bupati Ponorogo (Sumber Gambar : Nu Online)
Liga Santri Nusantara Jatim 1 akan Dirangkai dengan Piala Bupati Ponorogo (Sumber Gambar : Nu Online)

Liga Santri Nusantara Jatim 1 akan Dirangkai dengan Piala Bupati Ponorogo

“Sesuai dengan arahan Bupati Ponorogo, kick off LSN Region Jatim 1 dan Piala Bupati Ponorogo akan digelar pada 27 Juli mendatang di Ponorogo,” jelas Kepala Dinas BUDPARPORA, Sapto Djatmiko di Kantornya Jl Pramuka No 19A Ponorogo.

Menurut Sapto, Bupati Ponorogo Ipong Muclissoni sangat mengapresiasi atas ditunjuknya Kota Reog Ponorogo sebagai tuan rumah gelaran Liga Santri Nusantara Region Jawa Timur 1 yang akan diikuti sebanyak 32 Peserta itu.

Haedar Nashir

“Bupati berharap besar kepada Panitia Liga Santri Nusantara untuk mengundang Menpora H Imam Nahrawi agar dapat hadir di Ponorogo dalam acara pembukaan liga santri nusantara dan piala Bupati Ponorogo yang rencananya akan diikuti oleh ribuan santri,” katanya.

Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) dan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Ponorogo menyambut baik perhelatan sepakbola antar pesantren ini. Mereka akan berperan aktif dalam mensukseskan LSN tahun 2016.

Haedar Nashir

“Kami akan mempersiapkan peralatan pertandingan sekaligus akan membentuk kepanitiaan lokal yang akan bersinergi dengan RMI NU, Banom NU dan Pihak pemerintah daerah serta kalangan professional,” jelas Dite perwakilan PSSI Ponorogo.

Liga Santri Nusantara region Jawa Timur 1 akan diikuti 32 Peserta, yang meliputi Ponorogo sebanyak 5 pesantren, Trenggalek (5), Pacitan (5), Magetan (5), Ngawi (5), Kabupaten Madiun (5), dan Kota Madiun 2 pesantren itu.

Sementara Itu pada selasa malam (14/6) lalu, Panitia Pelaksana juga melakukan rapat membahas teknis pelaksanaan LSN dan hal-hal terkait bersama pengurus Asosiasi Wasit dan Perangkat Pertandingan Professional Indonesia (AWAPPI).?

Rapat membahas tentang hal-hal teknis seperti, Kode disiplin liga santri nusantara, peraturan khusus bidang komersial, dan regulasi LSN. Selain itu, masing-masing divisi telah memaparkan tugas dan tanggungjawabnya. Tugas utama dari panitia lokal antara lain terus melakukan sosialisasi kepada kalangan pesantren dibawah naungan Asosiasi Pesantren NU (RMI). (Zaenal Faizin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Doa Haedar Nashir

Rabu, 21 Juli 2010

Pelajar NU Gondanglegi Gelar Lomba Se-Malang Raya

Malang, Haedar Nashir

Pimpinan Anak Cabang IPNU-IPPNU Kecamatan Gondanglegi menggelar? beragam lomba. Di antara lomba tersebut adalah kasidah al-banjari, pidato dan qiro’ah untuk memperebutkan tropi Wakil Bupati Malang.

Pelajar NU Gondanglegi Gelar Lomba Se-Malang Raya (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Gondanglegi Gelar Lomba Se-Malang Raya (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU Gondanglegi Gelar Lomba Se-Malang Raya

Kegiatan di gedung SMPNU Gondanglegi, Jl. Trunojoyo No. 203 Kecamatan Gondanglegi, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Ahad (16/10) diikuti ratusan pelajar tingkat SLTA atau sederajat se-Malang Raya, yakni Kabupaten Malang, Kota Malang dan Kota Batu.

Acara untuk memeriahkan Hari Santri 2016 ini dibuka Penasehat IPNU Gondanglegi Abdur Rosyid Asadullah. Dalam sambutan, ia menyampaikan apreasinya terhadap IPNU Gondanglegi yang bisa mengadakan kegiatan akbar ini. Ia berharap pelajar IPNU dan IPPNU bisa memotivasi pelajar-pelajar NU lainnya untuk lebih kreatif dan menarik tentunya bermanfaat bagi semua kalangan.

Haedar Nashir

Ketua IPNU Gondanglegi Hasanuddin, mengatakan festival ini adalah kegiatan positif bagi pelajar untuk menambah kekuatan mental, mengembangkan bakat dan menjadi media silaturahim antar pelajar se-Malang raya.

Hasan menambahkan, semangat Hari Santri harus digelorakan dengan kegiatan-kegiatan islami yang bermanfaat. Santri masa kini adalah pemimpin masa depan, modal pembelajaran yang ada di pesantren merupakan contoh nyata untuk pendidikan bangsa yang berkarakter dan menata akhlak pelajar untuk menjadi generasi bangsa yang madani.

Haedar Nashir

“Sebagai santri, marilah kita tunjukkan bahwa santri itu bisa menjadi garda terdepan dalam mengatasi berbagai problema yang ada di masyarakat khususnya serta kita tingkatkan pengetahuan dan wawasan kita untuk agama, bangsa dan negara,” harapnya.

Pada kesempatan itu hadir juara qori’ nasional tingkat pelajar tahun 1997 Muhammad Fariq Rifqiyanto dari Kabupaten Malang. Ia didaulat ketua tim juri lomba qori’ah.

Usai lomba, dilanjutkan dengan pembagian tropi oleh Ketua IPNU Gondanglegi. Berikut Pemenang Festival Lomba Peringatan Hari Santri Nasional, Juara 1 lomba Albanjari dari SMA Al-Munawwariyah Bululawang, Juara 1 lomba Pidato Ade Anggi Wahyuni dari MA Khoiruddin Gondanglegi, Juara 1 lomba Qiro’ah Atika Manazilul Amanah dari MA Raudlatul Ulum Putri Gondanglegi. (Muhammad Ansori/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kiai, Internasional Haedar Nashir

Kamis, 15 Juli 2010

Kiai Yacub: Pembimbing Haji Harus Bisa Jadi Contoh

Temanggung, Haedar Nashir. Rais Syuriah PCNU Temanggung KH Yacub Mubarok meminta kepada pengurus dan pembimbing manasik haji untuk bisa ngeladeni jamaah sak apik-apike (melayani jamaah sebaik-baiknya).

"Pengurus dan pembimbing manasik haji  tidak hanya memberi contoh, tapi juga bisa menjadi contoh bagi jamaah," pinta Kiai Yacub saat memberi tausiah dalam peresmian gedung baru Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) Babussalam NU Temanggung, Ahad (29/10) kemarin.

Kiai Yacub: Pembimbing Haji Harus Bisa Jadi Contoh (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Yacub: Pembimbing Haji Harus Bisa Jadi Contoh (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Yacub: Pembimbing Haji Harus Bisa Jadi Contoh

Ketua MUI Kabupaten Temanggung itu meminta kepada jamaah KBIH Babussalam NU Temanggung untuk sudi, mendermakan sedikit rizki yang dipunya untuk mengembangkan dan membesarkan KBIH tersebut. 

"Beramal, infak, sedekah atau zakat untuk KBIH NU tidak ada ruginya. Saya yakin Allah SWT memberikan ganti yang lebih besar," ucapnya.

Haedar Nashir

Kabid Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kanwil Kemenag Provinsi Jawa Tengah Sholikhin menuturkan, keberadaan KBIH sangat penting, KBIH bisa berperan membimbing jamaah haji, mulai dari tanah air hingga di tanah suci (Mekah dan Madinah). "KBIH menjadi mitra Kemenag,  ibaratnya sekeping mata uang yang tidak bisa terpisahkan. Kita saling membutuhkan," ucapnya.

Ketua KBIH Babussalam NU Temanggung KH Tajuddin Noor menuturkan,  pengurus periode ketiga masa bhakti 2014-2019 dibawah kepemimpinanya, telah menyusun program rencana strategis lima tahun. Kata dia, di tahun pertama tahun 2015; pembelian tanah seluas  ± 4.500 m2, ditahun kedua (2016) pembangunan miniartur kabah, lintasan sai, jamarot dan jalan masuk lokasi.

Selanjutnya, untuk rencana kerja  tahun ketiga (2017) pembangunan gedung pertemuan dan perkantoran dengan ukuran panjang 33 meter, lebar 13 meter yang dapat menampung ± 500 jamaah. Untuk tahun keempat (2018) pengadaan perlengkapan gedung pertemuan dan kantor sekretariat KBIH Babusssalam NU Temanggung (kursi untuk jamaah, sound sistem, meja kursi pangggung, mimbar, tiang bendera, dan perlengkapan kantor). 

Ada pun untuk program tahun kelima (2019) pembangunan halaman parkir lingkungan kantor dan gedung pertemuan.

"Rencana strategis lima tahun (2014-2019) seluruh kegiatanya telah direalisasikan di tahun ketiga (2017), dua tahun lebih cepat dari renacana strategis semula. Insyallah dua tahun kedepan di sisa akhir masa bhakti 2019 akan dilaksanakan pembangunan jalan masuk dan gapura dari jalan raya," ucapnya.

Haedar Nashir

Sekretaris KBIH Babussalam NU Temanggung H Rochmadi menambakan, dengan dibangunya gedung baru beserta perangkatnya, diharapkan KBIH Babussalam bisa menjadi tempat bimbingan manasik haji dalam satu kawasan yang terpadu.

"Pembangunan ini bisa terwujud, tidak lepas partisipasi (infak dan sedekah) dari para jamaah semuanya, baik jamaah yang sudah melaksanakan haji dan calon jamaah haji berangkat tahun depan (2018)," ucapnya. 

Dalam peresmian kemarin, selain Kabid Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kanwil Kemenag Provinsi Jawa Tengah Sholikhin, tampak hadir hadir, Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Temanggung  Saefudin,

Rais Syuriah PCNU Temanggung KH Yacub Mubarok, Ketua Tanfidziah PCNU  Temanggung KH Muhammad Furqon (Gus Furqon), Ketua KBIH Babussalam NU Temanggung KH Tajuddin Noor beserta sekretaris H Rochmadi, Ketua STAINU Temanggung Muh Baehaqi, dan ribuan jamaah. (Ahsan Fauzi/Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Internasional, Cerita Haedar Nashir

Selasa, 29 Juni 2010

Halaqah, RMINU Jateng Sebut 2 Tantangan Besar Pesantren

Salatiga, Haedar Nashir

Pengurus Pesantren Sunan Giri bekerja sama dengan Kantor Wilayah Kementrian Agama (Kanwil Kemenag) Jawa Tengah mengadakan halaqah pesantren dan wawasan kebangsaan serta workshop sistem manajemen pesantren (Simapes), Ahad (24/1/2016). Halaqah ini menghadirkan pembicara Kapolres Salatiga dan Komandan Kodim 0174 Salatiga keduanya berbicara mengenai penguatan pesantren dalam bingkai etika kehidupan bernegara dan implementasi nilai-nilai Pancasila.

Hadir perwakilan dari Rabithah Maahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMINU) Jawa Tengah KH Fadhlullah Turmudzi. Dia menyatakan bahwa RMI memfasilitasi dan meningkatkan ikhtiar pesantren melalui berbagai kegiatan, pelatihan, dan workshop.?

Halaqah, RMINU Jateng Sebut 2 Tantangan Besar Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Halaqah, RMINU Jateng Sebut 2 Tantangan Besar Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Halaqah, RMINU Jateng Sebut 2 Tantangan Besar Pesantren

Hal ini sesuai dengan Anggaran Rumah Tangga Nahdlatul Ulama Bab V tentang Perangngkat Organisasi Pasal 17 ayat C 2015 menjelaskan bahwa RMI bertugas melaksanakan kebijakan NU dalam pengembangan pondok pesantren dan pendidikan keagamaan. Pesantren ikut bersama membangun bangsa dan negara pada porsi masing-masing untuk mengantarkan akhlak santri dan meneladani sifat-sifat Nabi SAW.

"Dengan berbagai kegiatan tersebut, mutakhorrijin (alumni pesantren) diharapakan bisa berkiprah di masyarakat sebagaimana yang sudah disampaikan pendahulu kita," ungkap Gus Fad sapaan akrabnya.?

Haedar Nashir

Di samping itu, Gerakan Ayo Mondok tahun lalu perlu adanya tindak lanjut dari pengurus wilayah agar pesantren menjadi pilihan utama. Dengan demikian pesantren harus menyiapkan semuanya. Pesantren harus tahu tentang manajemen atau pengelolan yang baik.?

Terdapat dua langkah yang ditempuh pengurus RMINU Jateng. Pertama, memberikan pelatihan Simapes kepada pesantren. Kedua, menyelenggarakan gerakan Pesantrenku Bersih Pesantrenku Keren (PBPK). Ke depan pesantren harus menjadi percontohan dalam hal kebersihan. Semua itu tak lepas dari dukungan berbagai pihak termasuk pesantren itu sendiri.

Pesantren memiliki dua tantangan besar yang menghadang ke depan. Pertama, dalam hal kebangsaan. Dalam hal ini Nahdlatul Ulama yang didalamnya terdapat pesantren harus berani menaruh nyawa untuk mempertahankan Negara Kesatuan Rakyat Indonesia. Kedua, pesantren itu sendiri harus tetap eksis sebagai lembaga kaderisasi ulama bukan malah menjadi tempat untuk mengkafirkan dan membidahkan orang lain. Tantangan yang lain adalah pengembangan kemandirian ekonomi dan manajemen pesantren.?

Haedar Nashir

"Kami melibatkan pihak internal dan eksternal pesantren dalam workshop SIMAPES ini",” ungkap Kepala Seksi Pondok Pesantren Mukhtasit.?

Mukhtasit juga menegaskan, pesantren ke depan perlahan-lahan harus mampu mengimbangi perkembangan zaman dengan menata manajemen agar menjadi lebih baik. Acara ini dihadiri 50 santriwan-santriwati dari 15 pesantren di lingkungan Salatiga. (Zulfa/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kiai, Sejarah Haedar Nashir

Sabtu, 26 Juni 2010

Shalawat Nabi Bergema di Kampus IPB

Bogor, Haedar Nashir. Ribuan mahasiswa dan warga Bogor memadati gedung Graha Widya Wisuda (GWW), Institut Pertanian Bogor (IPB), yang berlokasi di kampus Darmaga dalam kegiatan bertema “Gebyar Shalawat Cinta Rasul Untuk Melestarikan Tradisi Rebana dan Meningkatkan Ukhuwah Islamiyah”  Ahad malam (23/12) lalu.

Kegiatan ini diprakarsai oleh Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) IPB dan didukung penuh oleh pihak Direktorat Kemahasiswaan IPB, serta melibatkan Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) Antara sebagai media partner.

Shalawat Nabi Bergema di Kampus IPB (Sumber Gambar : Nu Online)
Shalawat Nabi Bergema di Kampus IPB (Sumber Gambar : Nu Online)

Shalawat Nabi Bergema di Kampus IPB

Selain diisi dengan pembacaan maulid Nabi, tahlil dan simtud duror yang dipimpin oleh Al-Habib Hasan bin Abdul Qodir Al-Athas dari Keramat Empang, kegiatan yang melibatkan kalangan habaib dan alim ulama se-Bogor tersebut juga dirangkai dengan Festival Rebana se-Bogor Raya, yang dihelat pada Ahad siang, dengan menyertakan 15 tim. 

Haedar Nashir

“Sungguh di luar dugaan, IPB menyelenggarakan kegiatan seperti ini. Ini kegiatan Maulid Nabi pertama yang saya ikuti di IPB. Semoga ke depan kegiatan seperti ini dapat terus dilangsungkan di IPB,” ujar Habib Hasan.

Haedar Nashir

Pembina KMNU IPB Dr Ifan Haryanto dalam sambutannya mengatakan, kegiatan tersebut sebagai upaya untuk melestarikan dan menyebarkan ajaran serta kesenian tradisional Islam di tengah masyarakat. Islam sangat mengakar kuat di Indonesia karena faktor budaya, yang telah mendarah daging dan diwariskan secara turun temurun dari satu generasi ke genderasi berikutnya selama delapan abad.

“Tanpa adanya pendekatan kesenian dan kebudayaan, Islam tidak akan mengakar kuat di Indonesia. Sejak awal kehadirannya, Islam dapat beradaptasi sekaligus mampu hidup berdampingan dengan budaya-budaya lokal nusantara,” kata Ifan Haryanto.

Di sisi lain, Ifan Haryanto yang juga pengurus ISNU pusat ini mengatakan, perlu pendekatan baru dalam mengemas pesan-pesan dakwah, termasuk menyiarkan kesenian tradisional Islam. Bila pada puluhan tahun silam, dakwah hanya didominasi ustadz-ustadz tamatan pesantren dengan pendekatan sangat sederhana, namun saat ini perlu didomodifikasi. Pasalnya selain harus menyesuaikan dengan tuntutan masyarakat perkotaan, dakwah juga harus bisa memanfaatkan berbagai teknologi informasi yang ada.

“Hal inilah mengapa kegiatan Festival Rebana dan Maulid Nabi SAW di IPB  sangat penting, karena masyarakat kampus memegang peran sangat besar dalam mendorong perubahan di tengah masyarakat,” ungkap dia.

Direktur Kemahasiswaan IPB Dr. Rimbawan mengatakan, kegiatan tersebut sebagai syiar Islam yang perlu didukung penuh. “Kegiatan ini tidak hanya sekedar lomba atauu kreativitas mahasiswa, namun juga wujud syiar dan kepedulian terhadap pelestarian seni tradisional Islam,” terangnya.

Ia juga mengucapkan terimakasih dan selamat kepada panitia yang telah sukses menyelenggarakan acara ini. “IPB sangat mendukung minat dan bakat mahasiswanya. Alangkah senangnya, apabila minat dan bakat dibidang seni yang membawa kehalusan budi dapat meningkatkan daya ingat untuk selalu mensyukuri nikmat” tegas Rimawan.

Ketua KMNU IPB M Aldy K Khuluq menambahkan, festival dibuka secara simbolik oleh  Nunung Munawaroh, SAg selaku pembina KMNU IPB. Imengatakan bahwa geliat NU di IPB mulai terasa dari 5-6 tahun yang lalu, berkat Ahmad Fahir dan kawan-kawan yang rindu akan tradisi, KMNU mulai bercokol di IPB sampai saat ini. “Dulu, lebih dari 200 mahasiswa IPB tergabung dalam KMNU IPB”, tambahnya. 

Alhamdulillah, berkat KMNU, shalawat bisa bergema di kampus IPB,” kata Aldy K Khuluq.

Ketua Panitia Pelaksana Festival Rebana Choirul Anam mengatakan, Festival Rebana dimenangkanoleh tim An-Nur sebagai juara 1. Trofi, sertifikat dan hadiah berupa uang senilai Rp. 2.000.000,00 diserahkan oleh perwakilan dari Robithoh Al-Alawiyah Indonesia. Juara 2 diraih oleh tim Nurul Iman. Trofi, sertifikat serta hadiah berupa uang senilai Rp. 1.500.000,00 diserahkan oleh Direktur Kemahasiswaan IPB. 

Sedangkan juara 3 diraih oleh Al-Khidmah IPB. Trofi berikut sertifikat dan uang senilai Rp. 1.000.000,00 diserahkan oleh pembina KMNU yaitu Dr. Ir. Aji Hermawan, MM. Juara favorit diraih oleh tim En-Ha. Trofi berikut sertifikat dan uang senilai Rp. 750.000,00 diserahkan oleh ketua KMNU yakni Aldy Khusnul Khuluq. 

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Ahmad Fahir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pahlawan Haedar Nashir

Kamis, 24 Juni 2010

Peluang Santri Kembangkan Industri Kreatif Terbuka Lebar

Jombang, Haedar Nashir. Ratusan santri dan mahasiswa di Jombang mengaku tertarik untuk menjajaki dan mengembangkan gagasan industri kreatif. Antusiasme itu tampak dalam dialog bersama Ketua Pokja Industri Kreatif Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN), Irfan Wahid, yang berlangsung di Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, Ahad (19/3) sore.

Peluang Santri Kembangkan Industri Kreatif Terbuka Lebar (Sumber Gambar : Nu Online)
Peluang Santri Kembangkan Industri Kreatif Terbuka Lebar (Sumber Gambar : Nu Online)

Peluang Santri Kembangkan Industri Kreatif Terbuka Lebar

?

Ahmad Dika Maulana (17), misalnya, menceritakan pengalaman mengembangkan komunitas fotografer santri di lingkungan Pesantren Tebuireng. "Saya dan teman-teman juga bekerja sama dengan santri dari pesantren lain di Jombang," ujarnya.

?

Kepada Irfan Wahid, siswa Madrasah Aliyah Salafiyah Syafiiyah (MASS) Tebuireng itu meminta saran dan masukan untuk pengembangan komunitas fotografer yang dipimpinnya. Dia berharap, komunitas tersebut dapat berkembang lebih lanjut menjadi fotografer profesional.

Haedar Nashir

?

Lain lagi dengan Azmil (21), mahasiswi Fakultas Ekonomi Universitas Hasyim Asyari (Unhasy) Tebuireng itu berniat mengembangkan usaha yang dibutuhkan mahasiswa. Tapi, ia bingung harus membuka usaha apa. "Kira-kira usaha apa yang pas untuk mahasiswa?" Tanya dia.

?

Pertanyaan lain dilontarkan oleh Zulfia Ulfa (19). Dia punya ide mengembangkan usaha kuliner pisang cokelat. Tapi, dia bingung produk tersebut harus diberi nama apa.?

Haedar Nashir

?

"Saya ingin produk saya nanti menembus pasar ekspor. Tapi takut nama yang saya pilih nanti sulit diucapkan konsumen di luar negeri," ungkapnya dengan percaya diri.

?

Gus Ipang, sapaan akrab Irfan Wahid, kemudian membagikan tips berwirausaha kepada para santri. "Kuncinya, niat bisa dan pilih sesuatu yang berbeda, yang unik dan membuat orang memilih produk kita," katanya. Yang juga tidak kalah penting adalah membuka wawasan serta harus tekun dan jangan menyerah, lanjut pria yang dikenal luas sebagai konsultan branding ini.

?

Pada kesempatan tersebut, Gus Ipang juga mengkritik kaum muda yang senang mencari jalan pintas dan cenderung malas belajar. "Banyak orang menyerah sebelum melalukan. Ciri khas anak sekarang, mau enaknya doang. Maunya, sedikit-sedikit minta shortcut (menu pintas)," kritiknya.

Di era teknologi informasi, pemanfaatan aplikasi online untuk memasarkan sebuah produk, tidak bisa dihindarkan. Dengan sentuhan kreativitas, produk yang sama bisa berbeda nilai jualnya. "Dengan bantuan aplikasi, produk kuliner, jasa laundry, hingga jasa mengajar privat pun dapat lebih menarik pelanggan," saran putra sulung KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah) ini.

?

Irfan juga mengapresiasi komunitas fotografer santri yang sudah menjalin kerja sama dengan komunitas lain. "Semakin besar komunitas, akan membuat Anda lebih dikenal dan tahu potensi diri," sarannya.





Peluang terbuka lebar

Anggota KEIN ini menuturkan, pihaknya ingin mendorong kalangan santri agar menjadi wirausahawan dan memasuki sektor industri kreatif. Pasalnya, sektor ini semakin banyak menyerap tenaga kerja dan menjadi tren perekonomian global.

?

"Dari tiga subsektor saja (kuliner, fashion, dan kriya), industri kreatif telah mampu menyerap 14,9 juta tenaga kerja pada 2015. Angka ini terus meningkat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya," tuturnya.

?

Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS), Irfan mengatakan, pertumbuhan industri kreatif masih sangat menjanjikan. Di bidang animasi, misalnya, saat ini baru terpenuhi sekitar seratus animator. Padahal, kebutuhannya lebih dari 1.000 animator per tahun. "Pada 2015, nilai ekspor kuliner, fashion dan kriya mencapai 19,3 juta dolar," ungkapnya.

?

"Keinginan Presiden Jokowi agar pesantren dapat menjadi penopang ekonomi nasional begitu tinggi. Sebagai Ketua Pokja Industri Kreatif, saya mencoba mendorong hal itu melalui sektor industri kreatif dan wirausaha santri," pungkasnya. (Ibnu Nawawi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pendidikan Haedar Nashir