Sabtu, 30 Juli 2016

PBB: 146 Ribu Orang Rohingya Lari ke Bangladesh

Kutupalong, Haedar Nashir - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) melaporkan perkembangan terkini tentang praktik kekerasan yang terjadi di Rakhine State, Myanmar, yang berakibat pada eksodus etnis Rohingya ke Bangladesh.

Menurut PBB, sebagaimana dilansir AP, Kamis (7/9), sekitar 146.000 orang telah meninggalkan Myanmar menuju Bangladesh sejak meletusnya kekerasan meletus di sana 25 Agustus.

PBB: 146 Ribu Orang Rohingya Lari ke Bangladesh (Sumber Gambar : Nu Online)
PBB: 146 Ribu Orang Rohingya Lari ke Bangladesh (Sumber Gambar : Nu Online)

PBB: 146 Ribu Orang Rohingya Lari ke Bangladesh

Jurubicara PBB Stephane Dujarric, Rabu, mengatakan bahwa Program Pangan Dunia meminta 11,3 juta dollar AS untuk membantu gelombang para pengungsi itu, juga mereka yang tengah tinggah di tenda-tenda pengungsian. PBB sudah menyediakan makanan untuk puluhan ribu orang, termasuk perempuan dan anak-anak yang menderita kelaparan dan kekurangan gizi.

Haedar Nashir

Eskalasi kekerasan oleh militer Myanmar terhadap Muslim Rohingya belum berakhir menyusul tragedi penyerangan terhadap polisi di wilayah perbatasan dan aparat pemerintah lainnya sejak 25 Agustus. Pemerintah Myanmar menyebut militan Rohingya atau ARSA sebagai teroris Bengali.

Peristiwa Agustus itu memicu serangan balasan dari tentara Myanmar. Atas nama pemburuan para teroris, mereka menembaki warga sipil dan membakar ribuan rumah tinggal warga Rohingya. Situasi ini memperburuk keadaan dan memicu lebih dari seratus ribu warga melarikan diri dari tanah air mereka.

Haedar Nashir

Muslim Rohingya telah melarikan diri sejak serangan pemberontak terhadap polisi perbatasan dan pasukan pemerintah lainnya pada 25 Agustus memicu pembalasan oleh tentara Myanmar. Tentara dan polisi telah dituduh melakukan tembakan tanpa pandang bulu, namun pemerintah mengatakan pasukannya berusaha keras untuk tidak merugikan warga sipil yang tidak bersalah.

Dujarric juga mengatakan, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres sedang "melanjutkan kontak diplomatiknya terkait dengan situasi di Myanmar." (Red: Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Berita, Santri Haedar Nashir

Selasa, 26 Juli 2016

ISIS dalam Jargon Politik

Jargon adalah istilah khusus yang dipergunakan di bidang kehidupan (lingkungan) tertentu. Setiap era perjalanan hidup umat manusia mempunyai ciri khas bahasa yang terjawantah pada jargon-jargon yang menjadi buah bibir masyarakat di kurun masa itu. Contohnya pada era tahun 1960an  ada dua blok (kubu) raksasa di dunia yakni blok Amerika Serikat dan blok Uni Sovyet (Rusia). Hampir setiap hari kedua blok melakukan ”perang urat saraf”, saling mengancam dan saling menghardik mengenai berbagai isu di dunia, meskipun realitanya masing-masing pihak tak pernah terlibat dalam perang frontal. Jadi cuma terlibat dalam ”perang kata-kata” Oleh karenanya, situasi saling bermusuhan yang terselubung ini dinamakan dengan ”perang dingin” (cold war).

Menghadapi salah satu isu di era pasca perang dingin terkini, kita tak perlu latah menyebut ISIS dengan istilah “ISIS dan ideologi transnasional”. Akan menjadi promosi gratis dan membesarkannya. Bagi kalangan muda kampus akan terdengar gagah dan memiliki kategori akademik yang bisa membuat tertipu atau terbius. Namanya memang diciptakan mereka untuk menarik sensasi/ perhatian dan  memenangkan gerakan mereka dalam publikasi media sekaligus gazwatul fikri, dan agar mendapatkan pengikut sebanyak-banyaknya sebagai martir,  padahal dijadikan tumbal dengan bahasa mereka menjadi pengantin bidadari ke surga, jargon yang meninabobokan

Istilah transnasional hanya diperlukankan kita untuk memudahkan kategori dan kepentingan analisa. Karena istilah transnasional bisa juga disematkan kepada gerakan Pan Islamisme atau Globalisasi yang punya nilai plus minus (relative). Pan Islamisme pernah berjasa, dipakai untuk membangkitkan kemerdekaan di banyak negara dari cengkeraman penjajah- Kita juga berhutang budi dari bangsa lain, sedikitnya 3 anggota Wali Songo berasal dari Palestina yang berhasil dengan damai menyebarkan Islam di nusantara. Makanya bangsa Indonesia wajib membalas, membantu Palestina agar damai dan merdeka.

Belajar dari cara pengalaman rezim orde baru menjatuhkan mental lawan dan menyebut gerakan radikal dengan istilah antara lain GPK (Gerakan Pengacau Keamanan), yang membuat onar di masyarakat, sehingga tidak mendapat simpati masyarakat. Maka kita menyebut ISIS jangan dengan jargon yang mereka buat yang berlabel mentereng dan ikut-ikutan latah justru mengangkat dan mengorbitkan mereka, berarti kita telah terpedaya irama permainannya.  Di masyarakat lebih baik sebut saja ISIS yang sebenarnya, hanya merupakan Gerombolan Arab Badui. Untuk mengecilkan namanya dan agar mereka mendapat penilaian negative sesuai cara keji gerakannya. Tapi kita tidak boleh lengah, tetap serius mewaspadai pergerakannya yang masiv dan terstruktur,.Sebenarnya cara kemunculannya hampir sama dengan gerombolan yang telah merampas kekuasaan Raja Syarif  Abdullah di Hijaz ayah Raja Hussen Yordania.

ISIS dalam Jargon Politik (Sumber Gambar : Nu Online)
ISIS dalam Jargon Politik (Sumber Gambar : Nu Online)

ISIS dalam Jargon Politik

Maaf, tentu berbeda dengan Badui Banten yang memiliki kearifan lokal, kalau mereka tidak maju hanya karena tidak tahu tentang Islam dan pengetahuan modern. Sedangkan ISIS  tidak tahu Islam  tapi tidak mau belajar malah sok tahu bahkan dengan cara gampang menafsirkan dengan hawa nafsu politik pribadinya.

Begitu juga sama halnya rezim baru di negara Arab lainnya merupakan kemunculan regenerasi Fir’aunic masa lampau, kebangkitan kekuasaan system militer totaliter yang sekuler.

Begitupun istilah Khilafah Islam atau pun Islamic State yang digembar-gemborkan sebenarnya paling ideal seperti masa Nabi Muhammad SAW dan Khulafaur Rasyidin, tetapi oleh mereka dibawa kepada pengertian sistem monarki kepentingan klan Islam, tidak sesuai dengan nama Islam yang disematkan oleh mereka sendiri yang sebenarnya rahmatan lil ‘alamin. Jadi yang mereka usung Khilafah Islam gadungan. Kita jangan salah gebuki Khilafah Islam nya, mestinya pencuri wacana itu yang telah merebut dari hati ummat Islam. Dan kita kembalikan Khilafah Islam dalam pengertian yang benar dalam bingkai NKRI, Pancasila dan Konstitusi UUD.

Haedar Nashir

Lalu bagaimana tindakan kita dan pemerintah terhadap ISIS? Sepatutnya kita mencontoh cara Rasulullah menghadapi kekasaran badui (penulis tidak menggunakan lagi kata ISIS), yaitu dengan cara sabar, santun, bijak dan cerdas. Dalam batas terterntu selain melakukan pembinaan/ pendidikan kita juga meneladani Khalifah Abubakar bin Shiddiq bertindak tegas terhadap pemberontak yang melawan simbol negara  yang syah. (Contoh kedua cerita dalam sejarah dalam seri tulisan tersendiri)

Haedar Nashir

Dalam percaturan global kita perlu mewaspadai peran negara besar dan zionis yang secara tidak langsung aktif di belakang metamorfosa berdirinya ISIS untuk mencari jalan mencampuri urusan dalam negeri orang lain dengan alasan kemudian ingin membantu memerangi ISIS. Aneh, kecurigaan kita beralasan, karena begitu cepat mereka mendapat persenjataan modern dan terlatih, kemampuan organisasi pergerakan, dan dana yang begitu besar dan keberhasilan ekspansi penguasaan wilayah yang semakin meluas ditopang oleh kebencian membara tanpa memiliki rasa kemanusiaan sedikitpun? Mereka dicekoki ideologi macam apa itu. Yang jelas Islam tidak mengenalnya sama sekali. Berpegang Al-Qur’an, kita jangan gentar secuil pun, Innallaha ma’ana, Dan bukankah Allah SWT telah  menjamin pertolongan-Nya, asal kita mau bekerja keras dengan ikhlas, segala kebathilan pasti lenyap di muka bumi.

Abdullah Hamid, Pengelola Pokjar Lasem Universitas Terbuka

 

 

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Humor Islam, Hikmah, News Haedar Nashir

Jumat, 22 Juli 2016

Hati-hati, Wahabi Palsukan Kitab Sunni

Kudus, Haedar Nashir. Umat Islam diajak  berhati-hati terhadap kelompok Wahabi yang belakangan ini menyebarkan ajarannya dengan cara memalsukan kitab-kitab Sunni. Dalam kitab dipalsukan itu  terdapat amalan-amalan sunnah Nabi dilencengkan menjadi “haram”.

Demikian taushiyah yang disampaikan ulama kharismatik asal Kudus KH Sya’roni Ahmadi al-Hafidz dalam acara walimatut tasmiyah putra wakil Rais MWCNU Gebog KH Ahmad Asnawi sekaligus peringatan haul ayahandanya di Madrasah diniyah Darussalam Padurenan Gebog Kudus, Jum’at  (7/6) siang.

Hati-hati, Wahabi Palsukan Kitab Sunni (Sumber Gambar : Nu Online)
Hati-hati, Wahabi Palsukan Kitab Sunni (Sumber Gambar : Nu Online)

Hati-hati, Wahabi Palsukan Kitab Sunni

KH Sya’roni yang juga Mustasyar PBNU itu mengatakan, upaya yang dilakukan kaum Wahabi yang mengharamkan amalan sunnah Nabi seperti peringatan haul maupun ziarah kubur sangat menyesatkan ummat Islam.

Haedar Nashir

“Umat Islam harus mengerti supaya  hati-hati terhadap kitab-kitab yang dipalsukan oleh Wahabi tersebut,” tegasnya.

Saat menerangkan tentang haul, Mbah Sya’roni, sapaan akrabnya, menjelaskan peringatan itu adalah sunnah Nabi. Ia mengutip sebuah kitab Na’jul Balaghah karangan ulama Sunni menceritakan bahwa setiap tahun sekali Nabi Muhammad melakukan ziarah kubur kepada makam sahabat-sahabatnya yang gugur dalam perang Uhud.

Haedar Nashir

“Sekarang kitab itu telah digubah atau dipalsu Wahabi dengan menyebutkan  ziarah kubur haram. Saya memiliki kitab yang palsu  tersebut. Kitab tadi saya taruh di madrasah qudsiyah dan saya tulisi jangan baca kitab ini karena ada ajaran yang melenceng,”tutur Mbah Sya’roni.

Di depan ratusan tamu undangan yang hadir  itu, Mbah Sya’roni menegaskan juga  tasmiyatul maulud (meresmikan nama anak) merupakan sunnah Nabi. “Pengertian sunnah adalah ucapan, perbuatan dan pengakuan Nabi atas kebenaran perbuatan orang lain,” ujarnya.

Untuk mencetak anak yang sholeh, ulama kharismatik ini mendorong orang tua untuk selalu mendo’akan dan mendidiknya. “Berdo’a dan mendidik ini harus dilakukan bersamaan.  Jangan hanya berdo’a saja tetapi tidak mendidiknya, begitu pula sebaliknya,” tegasnya. 

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Qomarul Adib

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir AlaSantri Haedar Nashir

Kamis, 21 Juli 2016

Wahabi Menyusup di Kurikulum Madrasah Kemenag

Jakarta, Haedar Nashir. Guru Madrasah Tsanawiyah (MTs) di Demak, Jawa Tengah, menyampaikan keberatan atas penyusupan materi wahabi dalam Kurikulum 2013 yang diterbitkan oleh Kementerian Agama (Kemenag). Salah satu keberatan disampaikan terkait adanya kalimat yang menyebutkan makam wali yang diziarahi umat Islam sebagai berhala.

Wahabi Menyusup di Kurikulum Madrasah Kemenag (Sumber Gambar : Nu Online)
Wahabi Menyusup di Kurikulum Madrasah Kemenag (Sumber Gambar : Nu Online)

Wahabi Menyusup di Kurikulum Madrasah Kemenag

Kalimat itu terdapat dalam buku pedoman untuk guru SKI Kelas VII MTs (Kurikulum 2013) yang diterbitkan oleh Kemenag RI Tahun 2014. BAB I tentang Kearifan Nabi Muhammad SAW, pada buku pedoman itu memerintahkan guru untuk meminta peserta didik agar mendiskusikan tentang perbandingan antara kondisi kepercayaan Mekkah dengan kondisi kepercayaan sekarang.

Lalu disebutkan bahwa “Masih ada yang menyembah berhala, memercayai benda-benda, dan selalu meminta kepada benda-benda.” Berikutnya pada poin lain disebutkan bahwa “Berhala sekarang adalah kuburan para Wali,”.

Haedar Nashir

Kepala MTs Irsyaduth Thullab, Tedunan, Wedung, Demak, Faiq Aminuddin dalam suratnya kepada Haedar Nashir mengatakan, pemberian contoh yang menyebutkan berhala sekarang adalah makam atau kuburan para wali tentu tidak sesuai dengan ajaran yang dianut oleh warga NU.

“Tidak tepatlah bila buku ini dijadikan sebagai buku pegangan semua guru MTs se-Indonesia karena ada banyak MTs yang berada di bawah naungan LP Maarif NU. Sungguh sangat disayangkan adanya kalimat yang menyatakan bahwa kuburan wali adalah berhala. Maka sudah seharusnya buku ini perlu segera dikaji ulang dan direvisi,” katanya.

Haedar Nashir

Pandangan negatif mengenai makam wali ini mengingatkan masyarakat mengenai adanya upaya kelompok wahabi di Saudi Arabia untuk membongkar makam Nabi Muhammad SAW. Sumber Haedar Nashir dari lingkungan pejabat kementerian agama mengungkapkan, selain pernyataan negatif mengenai makam wali tersebut penyusupan materi wahabi sebetulnya lebih banyak lagi.

“Misalnya ada pembahasan mengenai menjenguk orang sakit, gambar yang ditampilkan adalah foto Abu Bakar Ba’asyir. Lalu pada bagian lain disebutkan bahwa sumber hukum Islam hanya Al-Qur’an dan Hadits, tidak menyebutkan adanya Ijma dan Qiyas. Dua contoh ini untungnya sudah diedit, nah yang soal makam wali itu yang lolos sensor,” kata sumber yang tidak mau disebutkan namanya.

Ditambahkan, penyusupan materi wahabi dalam kurikulum madrasah itu masih sangat mungkin ditemukan. “Sekarang baru empat minggu pelajaran dimulai, dan buku itu baru mulai digunakan tahun ajaran ini. Di bagian lain mungkin ditemukan lagi,” tambahnya. (Alhafiz Kurniawan/Anam)

Foto: Guru SKI di MTs Irsyaduth Thullab, Tedunan, Demak, menunjukkan buku Kemenag yang disusupi ajaran wahabi.

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Aswaja, Pesantren, Amalan Haedar Nashir

Jumat, 01 Juli 2016

NU Sukoharjo Pasang Strategi Anti-Islam Radikal

Sukoharjo. Haedar Nashir. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kabupaten Sukoharjo diimbau pasang strategi antisipasi gerakan Islam radikal di Sukoharjo dan Solo Raya. 

Pernyataan itu disampaikan Katib PC NU Sukoharjo Abdullah Faishol dalam diskusi di Sekretariat PCNU Sukoharjo Jl Jend Sudirman, Ngaglik, Sukoharjo, Jawa Tengah, Ahad malam (21/7).

NU Sukoharjo Pasang Strategi Anti-Islam Radikal (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Sukoharjo Pasang Strategi Anti-Islam Radikal (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Sukoharjo Pasang Strategi Anti-Islam Radikal

“Sukoharjo merupakan salah satu kabupaten yang memiliki kantong-kantong gerakan Islam radikal. Untuk mengantisipasinya, PCNU Sukoharjo harus bangun strategi,” papar dosen IAIN Solo tersebut. 

Haedar Nashir

Dikatakan, penyebaran gerakan Islam radikal di wilayah Sukoharjo meliputi, Kecamatan Grogol, Gatak, Baki, Polokarto, Weru, Bulu, dan Mojolaban.

Institusi yang diduga kuat sebagai basis diantaranya pondok Ibnu Taimiyah, Darul Salafy, Darul Hijrah, Al-Ukhuwah, Ulul Albab, Al-Madinah, Izkarima, Darusahadah, lembaga pendidikan Mutiara Insan, Al-Manar dan lain-lain. 

Haedar Nashir

Lebih lanjut dipaparkan Abdullah Faishol, gerakan Islam radikal di wilayah Solo Raya  sangat beragam, ada yang mengusung gerakan Islam transnasional dan ada juga gerakan organisasi Islam di tingkat lokal. “Walaupun beranega ragam, tetapi kesamaanya adalah meraka anti terhadap tradisi NU,” kata Faishol.   

Sekretaris PCNU Sukoharjo Lasimin mengatakan, di akhir tahun 2013 ini, setidaknya ada 200 orang narapidana terorisme yang memasuki masa bebas tahanan. Persoalannya adalah, bagaimana kondisi masyarakat, apakah masih menerima mantan napi teroris ini atau mereka sudah tobat dan tidak melakukan kekerasan lagi atau justru sebaliknya mengulangi lagi.   

Dari diskusi tersebut, salah satu peserta diskusi yang juga ketua Lazis, Sugeng Widodo, mengusulkan adanya pelatihan kader yang sisitematis yang dilakukan oleh PCNU Sukoharjo. “PCNU Sukoharjo seharusnya menyelenggarakan pengkaderan,” pintanya.

Selain pelatihan pengkaderan, penguatan ekonomi umat dan pengajian rutin ala NU bersama Habib Syekh  menjadi pilihan alternatif yang perlu menjadi perhatian NU Sukoharjo. 

Tampak hadir diantaranya, KH Ahmad Baidlowi, Syuriyah. H M.Nagib Sutarno, Tanfidziyah. Lasimin Sekretaris, jajaran pengurus MWC NU se Sukoharjo. 

Redaktur    : Abdullah Alawi 

Kontributor: Cecep Choirul Sholeh           

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir RMI NU Haedar Nashir