Rabu, 26 Oktober 2011

Asyuro, Warga Pondok Pinang Baca 1000 Kali Surat Qul Hu

Jakarta Selatan, Haedar Nashir. Mengambil peringatan Asyuro yang jatuh pada 10 Muharram, warga desa Pondok Pinang Timur berkumpul di masjid Dakwatul Islamiyah. Tua,muda, pria, maupun wanita ikut meramaikan peringatan Asyuro dengan membaca seribu kali surat Al-Ikhlas, Rabu (13/11) malam.

Asyuro, Warga Pondok Pinang Baca 1000 Kali Surat Qul Hu (Sumber Gambar : Nu Online)
Asyuro, Warga Pondok Pinang Baca 1000 Kali Surat Qul Hu (Sumber Gambar : Nu Online)

Asyuro, Warga Pondok Pinang Baca 1000 Kali Surat Qul Hu

“Asyuro dilanjutkan dengan pembacaan tahlil dan kirim-kirim arwah buat warga yang lebih dahulu wafat,” kata salah seorang remaja yang ikut Asyuro, M Reihan, Rabu (13/11) malam.

Acara yang dimulai setelah Isya diakhiri dengan memakan ketupat sayur Betawi bersama yang dikirim warga sebagai bentuk kepedulian mereka terhadap peringatan keagamaan.

Haedar Nashir

“Saya nggak tahu apa fadhilatnya membaca 1000 kali surat Qul Hu. Saya hanya mengajak warga untuk meneruskan kegiatan orang-orang tua waktu saya kecil dahulu,” tutur sesepuh warga Pondok Pinang KH Hasbullah (85) di kediamannya usai acara.

Haedar Nashir

Tetapi warga sebaiknya memang tidak tahu fadhilatnya agar mereka ikhlas dan peringatan terus berjalan setiap tahunnya. Biar mereka tanya sendiri nanti di akhirat kepada Rasulullah. Kalau tahu sekarang, nanti mereka akan menagih di dunia, lanjut KH Hasbullah yang pernah menjadi sekretaris ranting NU Pondok Pinang tahun 1950an.

Untuk menandai jumlah bacaan, KH Hasbullah menggunakan sepuluh potong batang plastik alat korek kuping bersih. Sejak sore ia meminta cucunya mengguntingkan batang korek kuping. Setiap batangnya menandai 100 surat Al-Ikhlas.

Biasanya kita menggunakan apa saja untuk menandai jumlah bacaan. Kadang kami menggunakan pentol korek api. Kadang patahan sapu lidi.

1000 kali Qul Hu hanya amalan qauliyah pada 10 Muharram. Sedangkan amalan fi’liyahnya banyak. KH Hasbullah menyebutkan amalan sunah puasa, sembahyang, menyambung silaturahmi, mengunjungi orang alim, menjenguk orang sakit, bercelak mata, menyantuni anak yatim, mandi, potong kuku, dan memberikan belanja lebih bagi keluarga.

Ia lalu membaca sebuah syair yang ia hafal puluhan tahun, Sum Sholli Sil Zur Aliman ‘Ud Waktahil. Ro’sal Yatimimsah Tashoddaq Waghtasil. Wassi‘ Alal Iyal Qollim Zhufro. Wasurotal Ikhlasi Qul Alfan Tasil.

Sebenarnya membaca 1000 kali Qul Hu bisa dilakukan di rumah secara sendiri-sendiri. Tetapi dikerjakan berjamaah di masjid juga ada baiknya untuk mengajak warga beramal, tandas KH Hasbullah.

Dakwatul Islamiyah berada di gang H Midi kelurahan Pondok Pinang kecamatan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Meskipun terletak di Pondok Pinang, desa Pondok Pinang Timur terisolir oleh kompleks Pondok Indah dan gedung raksasa di sekitarnya. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ahlussunnah, Daerah Haedar Nashir

Jumat, 21 Oktober 2011

Sebelum Revisi, Seluruh Madrasah NU Diimbau Tak Gunakan Buku Kemenag

Jakarta, Haedar Nashir. Pengurus Pusat Lembaga Pendidikan Ma’aarif Nahdlatul Ulama menginstruksikan kepada seluruh madrasah yang ada di lingkungan Nahdlatul Ulama untuk tidak menggunakan Buku Ajar SKI Kelas VII MTs yang diterbitkan Kementerian Agama RI hingga mengalami revisi.

Imbauan ini dikeluarkan secara resmi LP Ma’arif NU menyusul beredarnya buku ajar tersebut yang memuat isu sentimen SARA yang dikhawatirkan memicu permusuhan. Pada halaman 13-14 tentang “Perbedaan Antara Kondisi Kepercayaan Masyarakat Makkah sebelum Islam dengan Masyarakat Sekarang”, buku itu dengan jelas menyebut umat Buddha dan Hindu sebagai penyembah berhala, dan kuburan wali sebagai berhala.

Sebelum Revisi, Seluruh Madrasah NU Diimbau Tak Gunakan Buku Kemenag (Sumber Gambar : Nu Online)
Sebelum Revisi, Seluruh Madrasah NU Diimbau Tak Gunakan Buku Kemenag (Sumber Gambar : Nu Online)

Sebelum Revisi, Seluruh Madrasah NU Diimbau Tak Gunakan Buku Kemenag

LP Ma’arif NU menilai, Surat Edaran Direktorat Jendral Pendidikan Islam Kemenag RI Nomor: SE/Dj.l/HK.00.7/133/2014 tertanggal 15 September 2014 tentang Perbaikan Redaksi Buku Pedoman Guru Mata Pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam Madrasah Tsanawiyah Kelas VII secara substansi masih tidak berbeda dengan redaksi sebelumnya.

LP Maarif NU menyontohkan, di antaranya pada redaksi "Berhala dilakukan oleh agama selain Islam yaitu Hindu dan Budha" hanya diubah menjadi "Berhala dilakukan oleh kepercayaan lain"; "Berhala sekarang adalah kuburan wali" menjadi "Berhala sekarang adalah kuburan yang dianggap kramat"; dan "Istilah dukun berubah menjadi paranormal atau guru spiritual" menjadi "Istilah dukun berubah menjadi paranormal."

Haedar Nashir

"Surat Edaran tersebut adalah gerakan elit yang tidak menyentuh pada penyelesaian substansi persoalan," kata Ketua PP LP Ma’arif NU HZ Arifin Junaidi dalam siaran pers yang diterima Haedar Nashir, Rabu (17/9).

Selain mendesak pemerintah untuk merevisi dan menarik peredaran buku sejarah Islam ini, LP Ma’arif juga meminta pemerintah, dalam hal hal ini Kemenag, untuk meninjau ulang seluruh buku ajar keagamaan lainnya.

Haedar Nashir

Lembaga yang menangani urusan pengajaran formal di lingkungan NU itu juga menyebut buku ajaran SKI Kelas VII MTs telah menyinggung perasaan warga NU sebagai pendiri mayoritas madrasah di Tanah Air. Data statistik 2008/2009 Kemenag mengungkapkan, hanya 9 persen dari 40,469 madrasah di Tanah Air yang berstatus negeri, sementara sisanya adalah swasta. (Mahbib Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nusantara, Amalan, Doa Haedar Nashir

Rabu, 19 Oktober 2011

Gus Sholah: NU Butuh Pemimpin Penata Organisasi

Jombang, Haedar Nashir. Pengasuh Pesantren Tebuireng Jombang KH Salahuddin Wahid mengatakan, NU butuh perbaikan organisasi agar menjadi kuat. Menurutnya NU adalah organisasi besar, namun karena tidak tertata dengan rapi, saat ini tampak tidak terlalu kuat.

Gus Sholah: NU Butuh Pemimpin Penata Organisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Sholah: NU Butuh Pemimpin Penata Organisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Sholah: NU Butuh Pemimpin Penata Organisasi

Demikian dikatakan adik kandung KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) saat ditemui di kediamannya, Pesantren Tebuireng, Kamis (19/2). Menurutnya yang paling mendesak dilakukan untuk NU ke dapan adalah perbaikan organisasi.

"Saya telah mengamati sejak tahun 1960an, NU itu besar. Tetapi tidak tertata dengan rapi sehingga tidak terlalu kuat," ujarnya.

Haedar Nashir

Untuk memperbaiki organisasi, diakuinya memang tidak mudah dilakukan. Menurut Gus Sholah perlu langkah langkah khusus untuk melakukan perbaikan organisasi tersebut.

Haedar Nashir

"Termasuk kalau perlu, NU harus belajar dari organisasi lain yang telah berhasil melakukan penataan organisasinya dengan baik," tambahnya.

Cucu pendiri NU KH Hasyim Asyari ini juga menilai, bahwa ghirah atau semangat untuk ber-NU, belakangan ini, semakin menurun. Maka ke depan, sosok ketua NU harus memiliki jiwa perjuangan terhadap jam’iyah, bukan memperjuangkan kepentingan pribadi.

"Kata kuncinya adalah memperjuangkan kepentingan NU, jangan memperjuangkan kepentingan person atau orang orang dari NU," tandasnya.

Terkait kesiapannya untuk dicalonkan menjadi Ketua Umum PBNU mendatang, mantan anggota Komnas HAM ini menyatakan, karena desakan berbagai pihak akhirnya dirinya bersedia untuk maju dicalonkan sebagai Ketua Umum PBNU dalam Muktamar NU ke 33 di Jombang Agustus mendatang.

"Dan saya sudah menyampaikan di beberapa forum yang dihadiri pengurus Wilayah maupun pengurus Cabang, saya bersedia dicalonkan sebagai ketua umum," pungkasnya. (Muslim Abdurrahman/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Sholawat Haedar Nashir

Senin, 17 Oktober 2011

Lesbumi Bojonegoro Gelar Roadshow Sastra Plataran

Bojonegoro, Haedar Nashir



Lembaga Seniman Budayawan Muslim Indonesia (Lesbumi) Kabupaten Bojonegororo menggelar roadshow Sastra Plataran untuk yang ketujuh kalinya, Kamis, (25/5) di Pendopo Kabupaten Bojonegoro.?

Lesbumi Bojonegoro Gelar Roadshow Sastra Plataran (Sumber Gambar : Nu Online)
Lesbumi Bojonegoro Gelar Roadshow Sastra Plataran (Sumber Gambar : Nu Online)

Lesbumi Bojonegoro Gelar Roadshow Sastra Plataran

Acara yang mengangkat tema Merajut Kebangsaan Meneguhkan NKRI ini dihadiri ratusan undangan.

Turut hadir dalam acara, Ketua PCNU Bojonegoro, Kholid Ubed, Bupati Bojonegoro, Suyoto, Kapolres Bojonegoro; Ketua FKUB, dan beberapa tamu undangan lainnya. Selain itu tampak juga beberapa seniman Bojonegoro yang tergabung dalam Kelompok Seniman Muda Bojonegoro (KSMB).

Roadshow Sastra Plataran ini diawali dengan tampilan dari Ikatan Seni Hadrah Indonesia (Ishari) Cabang Bojonegoro.?

Haedar Nashir

Dalam sambutannya, Fauzi, selaku Ketua Lesbumi Bojonegoro mengatakan bahwa selama ini sastra plataran telah rutin dilaksanakan setiap satu bulan sekali. Kegiatan yang dikemas dalam bentuk baca puisi ini menghadirkan puisi-puisi karya sastrawan ternama, seperti Gus Mus, WS Rendra, dan Emha Ainun Najib.

Di tempat yang sama, Kang Yoto--sapaan akrab Bupati Bojonegoro--juga sempat membacakan puisi dengan judul Ketika Kata Tak Lagi Menjadi Sakti. Selain itu, Kapolres Bojonegoro, ketua PD Muhammadiyah, Ketua FKUB juga turut serta membacakan puisi. Ketua PCNU Bojonegoro, Kholid Ubed juga tak mau kalah dengan ikut membacakan sebuah puisi berjudul Menjaga Indonesia.

Acara yang ditutup dengan lagu Padamu Negeri menjadi pelengkap dalam acara roadshow sastra plataran bulan ini. [Muhajir/Mukafi Niam]

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir

Haedar Nashir Ulama, AlaNu, Aswaja Haedar Nashir

Jumat, 30 September 2011

Berkah Pesantren, Allah Mudahkan Rezeki Orang Tua

Subang, Haedar Nashir. Allah akan memberikan kemudahan rezeki bagi orang tua yang sungguh-sungguh menyuruh anaknya mencari ilmu agama. Contohnya seorang warga Buntet, Astanajapura, Cirebon yang mempunyai enam anak.

Hal ini disampaikan KH Tb. Ahmad Rifqi, Pengasuh Darussalam Buntet Pesantren Cirebon kepada Haedar Nashir melalui sambungan telepon, Jumat (22/8)

Berkah Pesantren, Allah Mudahkan Rezeki Orang Tua (Sumber Gambar : Nu Online)
Berkah Pesantren, Allah Mudahkan Rezeki Orang Tua (Sumber Gambar : Nu Online)

Berkah Pesantren, Allah Mudahkan Rezeki Orang Tua

"Di Buntet itu, di Buntetnya bukan pesantrennya, ada orang tua yang mata pencahariannya mesantrenin anak,” terang putera KH Chowas Nuruddin itu.

Haedar Nashir

Kiai yang akrab disapa Kang Tus itu mengisahkan tentang kondisi ekonomi orang tua yang cukup memprihatinkan, namun ketika anaknya dikirim ke pesantren untuk menuntut ilmu, perlahan, tapi pasti, kondisi ekonominya mulai merangkak naik.

Haedar Nashir

"Orang tuanya tidak bekerja, serabutanlah, terus anak pertama dikirim ke pesantren Ploso, lho, kok rizqi jadi mudah. Anak kedua dipesantrenin lagi ke Sarang, malah tambah mudah rizqinya. Anak ketiga di pesantrenin lagi ke Kediri jadi haji itu orang. Jadi usahanya itu ya mesantrenin anak. Masya Allah, barokah Pesantren," paparnya.

Kang Tus melanjutkan, akhirnya keenam anak dari orang yang tidak disebutkan namanya itu semuanya dikirim ke Pesantren Ploso, Kediri dan Sarang untuk menuntut ilmu di sana. “Akhirnya tetangga-tetangganya ngikutin dia, anak-anaknya dipesantrenin," pungkasnya. (Aiz Luthfi/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Hadits Haedar Nashir

Jumat, 23 September 2011

Asad Said Ali: Toleransi Model Barat Tidak Cocok untuk Indonesia

Pacitan, Haedar Nashir. Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Asad Said Ali hadir dalam Apel Kesetiaan NKRI yang digelar oleh PWNU Jawa Timur di kawasan Pantai Pancer Door Pacitan, Ahad (8/1).?

Wakil Ketua Umum PBNU periode 2010-2015 mengatakan bahwa toleransi model barat tidak cocok di terapkan di NKRI. Mengapa demikian, karena toleransi tersebut tidak sejalan dengan sikap toleransi yang dimiliki NU.

Asad Said Ali: Toleransi Model Barat Tidak Cocok untuk Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Asad Said Ali: Toleransi Model Barat Tidak Cocok untuk Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Asad Said Ali: Toleransi Model Barat Tidak Cocok untuk Indonesia

"Toleransi model barat mengatakan semuanya bebas. Semua agama bebas. Termasuk menistakan agama orang lain, termasuk juga menghujat Allah. Itu toleransi model barat. Tapi kita beda, kita Pancasila tidak seperti itu. Kita adalah Bhinneka Tunggal Ika," katanya dihadapan 10 ribu kader NU Se-Jawa Timur yang mengikuti Apel

Negara, kata mantan Wakil Kepala BIN itu, harus hadir membikin aturan atau undang-undang yang kuat untuk mengatur rambu-rambu lalu lintas interaksi antar umat beragama, dan antar suku di Indonesia.

Haedar Nashir

"Negara yang namanya Pancasila sekarang ibarat rumah. Setelah 1998, karena liberasi politik, karena tekanan barat, sekali lagi karena tekanan barat, rumah kita menjadi pintunya dibuka. Kurang puas jendelanya dibuka, kurang puas lagi gentengnya dibuka. Maka sekarang kita masuk angin, kena flu," katanya?

Oleh karena itu, NU bersama Negara menyatakan siap mengawal toleransi dengan aturan yang disepakati bersama. NU siap membangun visi baru sesuai dengan sikap tasamuh atau toleransi yang dimiliki NU.

Hadir dalam Apel yang mengusung tema Meneguhkan persatuan umat Islam dan nasional itu, Wasekjen PBNU KH Abdul Munim DZ, Katib Syuriyah PBNU KH Luqman Harits Dimyathi, Ketua PWNU Jawa Timur KH Hasan Mutawakkil Alallah, Bupati Pacitan Indartato, Komandam Korem (Danrem) 081/Dhirotsaha Jaya Madiun Kolonel Infanteri Piek Budiakto, dan ratusan alim ulama lainya. (Zaenal Faizin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir

Haedar Nashir Ulama, Meme Islam, Kyai Haedar Nashir

Minggu, 18 September 2011

Pemutaran Video Sejarah PCINU Maroko Awali Konferensi

Rabat, Haedar Nashir. Penampilan santri berprestasi yang tengah mengikuti program kelas internasional di Universitas Ibnu Thofail kota Kenitra, membuka konferensi cabang ke-2 PCINU Maroko dengan menyanyikan himne Pelajar NU dan sholawatan di auditorim Institut Dar El-Hadith Al-Hasaniyah, Rabat, Maroko. Usai itu mereka menyaksikan pemutaran film dokumenter perihal sejarah berdirinya PCINU Maroko.

Pemutaran Video Sejarah PCINU Maroko Awali Konferensi (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemutaran Video Sejarah PCINU Maroko Awali Konferensi (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemutaran Video Sejarah PCINU Maroko Awali Konferensi

Anggota Majelis Ilmi Kota Kenitra Maroko, Ahmad ‘Aid Bahdah, berkesempatan membuka secara resmi forum bergengsi ini, Ahad (10/8).

Tampak hadir dalam pembukaan konferensi ini antara lain Dubes RI untuk Kerajaan Maroko H Tosari Widjaja, utusan direktur Institut Dar El-hadith Al-Hasaniyah, staf KBRI Rabat, Mustasyar PCINU Maroko H Husnul Amal, Prabowo Wiratmoko Jati, warga NU di Maroko, anggota Persatuan Pelajar Indonesia Maroko beserta, dan sejumlah tamu undangan.

Haedar Nashir

Ketua panitia konferensi ini Fairuz Ainun berharap agar PCINU ke depan dapat menciptakan sistem organisasi yang baik dan ke luar meningkatkan hubungan keagamaan dengan ulama Maroko.

Sementara H Tosari Widjaja mengimbau anggota PCINU Maroko untuk menangkap isyarat kelahiran PCINU bukan hanya sebagai wadah untuk kongko atau berdiskusi semata tanpa makna apapun.

Haedar Nashir

“Kelahiran PCINU Maroko berpijak dari sebuah amanah dari PBNU agar PCINU dapat menjadi duta-duta Islam Aswaja Indonesia untuk berbagai negara khususnya di Maroko,” kata H Tosari.

Forum konferensi ini akhirnya memberikan amanah kepada Alvian Zahasvan sebagai Rais Syuriyah dan Kusnadi El-Ghezwa sebagai Ketua PCINU Maroko untuk masa bakti 2014-2016.

Kusnadi dalam menyatakan visinya ke depan, menginginkan PCINU Maroko yang familiar, bermartabat dan bermuatan intelektual. Ia pun mengajak kepada semua pengurus dan anggota PCINU Maroko untuk bekerja sama sehingga program Go Internasional NU dapat terwujud. (Red. Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Tegal, AlaNu Haedar Nashir