Sabtu, 14 Januari 2012

Wabup Tegal: Isi Tahun Baru Masehi seperti Tahun Baru Hijriyah

Tegal, Haedar Nashir -

Merayakan tahun baru Masehi bagi umat Islam tidaklah akan merusak akidah. Sejauh perayaan mendatangkan kebaikan dan kemaslahatan bagi diri dan masyarakat, tentu itu lebih baik.

"Maka, songsonglah tahun baru Masehi ini sebagaimana kita menyongsong tahun baru Hijriah. Semarakkanlah keduanya untuk kepentingan kemaslahatan umat manusia," ujar Wakil Bupati Tegal, Hj Umi Azizah saat muhasabah atau refleksi tahun baru 2018 yang digelar Pemerintah Kabupaten Tegal di Masjid Al Hajj komplek alun-alun Hanggawana Slawi, Ahad (31/12) malam.

Menurutnya, tradisi merayakan pergantian tahun Masehi dengan melakukan hal positif tidak masalah, karena Islam membolehkan mengambil suatu kebiasaan dalam masyarakat yang dianggap baik. Islam tidak melarang mengikuti tradisi yang baik dari bangsa dan agama lain sejauh tradisi itu adalah sesuatu yang mendatangkan kebaikan bagi umat. “Untuk apa Nabi kita menyuruh untuk belajar jauh-jauh ke negeri Cina, kalau bukan untuk menimba pengetahuan positif yang mereka miliki?,” katanya di hadapan undangan. 

Wabup Tegal:  Isi Tahun Baru Masehi seperti Tahun Baru Hijriyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Wabup Tegal: Isi Tahun Baru Masehi seperti Tahun Baru Hijriyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Wabup Tegal: Isi Tahun Baru Masehi seperti Tahun Baru Hijriyah

Sedangkan untuk mencegah aksi hura-hura, berpesta-pora menghabiskan uang untuk sesuatu yang tidak ada faedahnya, akan lebih baik jika momentum malam pergantian tahun dimanfaatkan dengan berkumpul dan bersilaturrahim dengan kerabat dan kolega. “Berzikir bersama, mengadakan pengajian, termasuk muhasabah atau tafakkur untuk melakukan refleksi atas apa yang telah dilakukan selama setahun ini. Semua itu adalah hal-hal yang positif yang patut kita lestarikan," tandas Ketua PC Muslimat NU Tegal.

Berkaitan dengan kinerja pemerintahan, kata Umi, pada tahun 2017 ini Pemerintah Kabupaten Tegal bekerjasama dengan Kementerian Sosial RI berhasil menghentikan secara permanen empat lokalisasi prostitusi di wilayah Pantura yang meliputi Wandan, Gang Sempit, Peleman dan Turunan Pengasinan. 

Haedar Nashir

Hal ini berarti Kabupaten Tegal sudah terbebas dari lokalisasi prostitusi, setelah sebelumnya tahun 2015 lalu kita menutup operasional lokalisasi prostitusi Karanggondang Lebaksiu. 

"Untuk itu, pada kesempatan yang baik ini sekaligus saya mengajak kepada para pemimpin dan pemuka agama, tokoh spiritual untuk terus membimbing umat dan jamaahnya, untuk sungguh-sungguh menjalankan ajaran agamanya dengan benar,” pintanya.

Tidak berhenti sampai di situ, juga membangun dan menjaga kerukunan hidup sesama umat beragama. Terus berusaha menjadi contoh atas sikap, tutur kata dan tindakan yang sejuk dan mencerdaskan. Berikan pula keteladanan dan kepemimpinan tanpa meninggalkan nilai budaya dan kearifan lokal, lanjutnya.

Umi juga mengajak untuk bekerja nyata dengan terus mencari persamaan, bukan mempertajam perbedaan. Saling memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa, bukan saling melemahkan. Kita padukan energi positif yang kita miliki untuk mewujudkan Kabupaten Tegal yang mandiri, unggul, berbudaya, religius dan sejahtera. 

"Mari, kita tumbuhkan budaya saling menghargai dan saling menghormati, agar hidup kita membawa berkah kebahagiaan, kedamaian dan kesejahteraan bagi umat manusia," pungkasnya

Haedar Nashir

Muhasabah juga dihadiri Bupati Tegal Enthus Susmono, Sekda Tegal dokter Widodo Joko Mulyono, anggota Forkompimda Tegal, Ketua PCNU Kabupaten Tegal H Akhmad Wasyari, Ketua RMI NU Kabupaten Tegal KH Syamsul Arifin, sejumlah Ulama, para Kepala OPD dan masyarakat Kabupaten Tegal. (Hasan/Ibnu Nawawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pahlawan, Kyai, Ahlussunnah Haedar Nashir

Kamis, 12 Januari 2012

Kepengurusan Baru, NU Sukoharjo Siap Jawab Tantangan Zaman

Sukoharjo, Haedar Nashir. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Sukoharjo menggelar Konferensi Cabang (Konfercab) ke-6 di Kantor PCNU setempat, Sabtu (15/8). Pada gelaran tersebut, antara lain menghasilkan duet nahkoda baru.

Kepengurusan Baru, NU Sukoharjo Siap Jawab Tantangan Zaman (Sumber Gambar : Nu Online)
Kepengurusan Baru, NU Sukoharjo Siap Jawab Tantangan Zaman (Sumber Gambar : Nu Online)

Kepengurusan Baru, NU Sukoharjo Siap Jawab Tantangan Zaman

Kiai Abdullah Faishol, yang sebelumnya mengemban amanah Katib Syuriyah didapuk untuk menjadi Rais Syuriyah baru menggantikan KH Ahmad Baidlowi. Sedangkan untuk posisi Ketua Tanfidziyah, masih dipercayakan kepada M Nagib Sutarno untuk kembali memimpin kepengurusan PCNU Sukoharjo selama 5 tahun mendatang.

Usai terpilih, Kiai Faishol mengatakan harapannya untuk NU Sukoharjo pada kepengurusan mendatang. “NU? harus tetap eksis dan mampu menjawab tantangan zaman, membangun kedamaian dan peradaban,” ujarnya, kepada Haedar Nashir, Ahad (16/8).

Haedar Nashir

Dosen IAIN Surakarta itu menambahkan, dengan komposisi kepengurusan yang terdiri dari para kiai, akademisi, pegiat sosial, profesional dan kader terbaik NU Sukoharjo mestinya dapat menjadikan kepengurusan kali ini lebih baik dibandingkan sebelumnya.

Haedar Nashir

Pihaknya juga akan memberikan perhatian besar pada program pengkaderan dan pendidikan untuk anggotanya. “Pengkaderan dan pendidikan akan menjadi skala prioritas pada program kepengurusan ini,” imbuh Kiai Faishol.

Harapan serupa juga disampaikan salah satu tokoh NU Sukoharjo Lasimin. Ia berharap NU semakin tampil dan disegani masyarakat, khususnya di daerah Kota Makmur. “Selamat untuk Pak Faishol dan Pak Tarno, Semoga NU bisa ikut berperan lebih dalam membangun bangsa ini,” kata dia. (Ajie Najmuddin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Internasional Haedar Nashir

Senin, 09 Januari 2012

Adakan Pelatihan Jurnalistik, MANU Luthful Ulum Maksimalkan Website

Pati, Haedar Nashir

Madrasah Aliyah Nahdlatul Ulama (MANU) Luthful Ulum Wonokerto Pasucen Trangkil, Pati, Jawa Tengah, Rabu (9/3) mengadakan pelatihan jurnalistik khusus untuk mengolah website dengan berita-berita yang kreatif dan inovatif. Pelatihan ini diadakan karena MANU Luthful Ulum ingin memaksimalkan fungsi website di www.manuluthfululum.com.?

Adakan Pelatihan Jurnalistik, MANU Luthful Ulum Maksimalkan Website (Sumber Gambar : Nu Online)
Adakan Pelatihan Jurnalistik, MANU Luthful Ulum Maksimalkan Website (Sumber Gambar : Nu Online)

Adakan Pelatihan Jurnalistik, MANU Luthful Ulum Maksimalkan Website

Mohammad Khoirun Niam Al-Hafidh, Pengurus Lakpesdam PCNU Pati mengisi acara jurnalistik ini. Menurut Niam, website sekolah harus diisi dengan berita dan opini yang menarik. Website ini harus menjadi ajang pengembangan bakat dan minat siswa-siswi, khususnya dalam bidang jurnalistik. Membuat laporan kegiatan menjadi menu utama website.?

“Siswa-siswi MANU Luthful Ulum haru bisa membuat laporan kegiatan yang berkaitan dengan apa saja, baik itu intrakurikuler maupun ekstrakurikuler khususnya kegiatan-kegiatan ilmiah, seperti seminar, bedah buku, pelatihan, dan lain-lain,” jelas Niam.

Selain itu, tambahnya, website juga diisi dengan kreativitas siswa-siswi, seperti cerpen, novel, puisi, prosa, makalah ilmiah, esai, artikel, dan lain-lain. Tidak ada batasan dalam berkarya, sehingga karya apapun asalkan memberikan informasi yang positif bisa dimasukkan dalam website untuk menambah wawasan dan memperluas cakrawala pemikiran.?

Haedar Nashir

Untuk memotivasi siswa-siswi MANU Luthful Ulum, Niam memberikan tips-tips sukses, seperti memulai dengan menulis diary untuk mendokumentasikan kegiatan harian, kemudian menulis puisi, cerpen, dan mencoba menulis esai.?

Ketekunan, lanjut Mas Niam, sangat dibutuhkan jika seseorang ingin menjadi penulis profesional. Kerja keras, kecerdasan, dan keunggulan yang disertai dengan ketekunan akan menjadikan kemampuan seseorang melesat dengan cepat, seperti busur yang sulit dihentikan.?

Dalam pelatihan ini, diumumkan dan dibagikan hadiah bagi para juara cerpen yang diraih oleh Diah Mawarni untuk juara 1, Novianta Awaluddiin juara 2, Dian Puspita Sari untuk juara 3, Niken Fitriana untuk juara harapan 1, Rita Apriliana untuk harapan 2, dan Puji Lestari untuk harapan 3. Siswa-siswi ini memenangkan perlombaan menyisihkan seluruh siswa-siswi yang mengirimkan karya cerpennya.?

Nur Alimah, Wakil Kepala Madrasah bidang kesiswaaan MANU Luthful Ulum mengatakan, madrasah ini terus mengadakan lomba-lomba untuk mengasah kreativitas siswa-siswinya supaya ke depan mereka menjadi kader-kader masa depan bangsa yang kompetitif dan produktif. (Jamal Ma’mur/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir

Haedar Nashir Doa Haedar Nashir

Rabu, 04 Januari 2012

Santri Pesantren Annajyiah Bahrul Ulum Belajar Jurnalistik

Jombang, Haedar Nashir. “Pak, kalau sudah bisa nulis berita apakah harus jadi wartawan media? celetuk santri perempuan pesantren Annajiah Bahrul Ulum Tambakberas Jombang saat mengikuti diklat jurnalistik santri beberapa waktu lalu.

Santri Pesantren Annajyiah Bahrul Ulum Belajar Jurnalistik (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Pesantren Annajyiah Bahrul Ulum Belajar Jurnalistik (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Pesantren Annajyiah Bahrul Ulum Belajar Jurnalistik

Kegiatan diklat jurnalistik dikalangan santri pesantren Bahrul Ulum Tambakberas bukan hal baru, hampir setiap tahun dilakukan. Baik untuk kalangan santri maupun pelajar di lingkungan madrasah yang ada di pesantren KH Wahab Hasbullah ini.

”Setiap tahun santriwati memiliki agenda kegiatan pelatihan, termasuk jurnalistik seperti ini,” ujar Dewi Widya Sari ketua pelaksana kegiatan yang juga santri senior di Annajiah ini menceritakan.

Haedar Nashir

Diklat jurnalistik tahun ini dikatakannya diperuntukkkan bagi santri kelas 1 dan II setingkat Madrasah Aliah. “Mereka diharapkan bias mengisi dan mengelola majalah yang dimiliki pesantren. Karena sekarang majalah yang pernah diterbitkan sekarang rencananya akan kembali diterbitkan lagi,” tandasnya, majalah pesantren Annajiah bahrul Ulum diterbitkan bersama mahasiswa Stikes dan pelajar SMK dibawah naungan Annajiah.

Pesantren Bahrul Ulum juga pernah memiliki Majalah dengan nama Ka’bah, yang terbit setiap satu tahun sekali. Sedangkan beberapa unit lembaga pendidikan juga memiliki Majalah tersendiri, Seperti Madrasah Mu’alimin Mu’alimat Atas (MMA) enam tahun menerbitkan majalah atau bulletin tahunan dengan Kharisma, begitu juga dengan MAN juga menerbitkan Majalah tahunan. Bahkan kedua lembaga ini kini juga memiliki web site www.mualliminenamtahun.net dan www.mantambakberas.com.

Haedar Nashir

Sementara itu, Haedar Nashir yang diminta memberikan materi Jurnalistik Dasar untuk menulis karya jurnalistik seseorang tidak harus menjadi wartawan. Karena karya jurnalistik bisa dipublikasikan diberbagai media. 

“Dan banyak orang bisa dengan mudah membuat beritanya sendiri lalu menyebarluaskannya di berbagai jejaring sosial dunia maya. Entah lewat blog atau di berbagai situs jejaring sosial seperti Facebook atau Youtube,” beber Ramadlan mengatakan.

Untuk publikasi, lanjutnya sesorang tidak perlu menunggu waktu lama agar tulisannya bisa dimuat dalam media cetak arus utama, saat ini, seseorang sudah bisa memublikasikan tulisannya secara independen. Semangat kemandirian yang difasilitasi dengan sangat baik oleh jaringan internet.

Jika tulisan-tulisan itu cukup kuat, maka peran pembentukan opini pun dapat pula direngkuhnya. Media jenis ini disebut sebagai “new media.” Kemudian melahirkan pula apa yang dikenal saat ini dengan konsep “citizen journalism” atau pewarta warga yang biasa dikirim seorang pada media media cetak maupun online.

"Dan banyak media menyediakan kolom untuk karya seperti ini," tandasnya. 

Dikatakannya, media kini terbagi menjadi beberpa macam, meliputi jurnalistik cetak (print journalism), elektronik (electronic journalism). Akhir-akhir ini juga telah berkembang jurnalistik secara tersambung (online journalism).’ Seperti Haedar Nashir, dan yang lainnya,” pungkasnya.

Redaktur: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Hadits, Makam Haedar Nashir

Minggu, 25 Desember 2011

Pesantren Kurang Perhatian Pada Karya Beraksara Pegon dan Jawi

Tangsel, Haedar Nashir - Kitab-kitab ulama Nusantara yang berbahasa Jawi, Sunda, ataupun Jawa kurang begitu mendapatkan tempat dan tidak banyak dikaji di pesantren-pesantren di Indonesia. Padahal, kitab-kitab seperti Majmuk karangan Syekh Soleh Darat dan Tafsir Al-Ibriz karya KH Bisri Mustafa adalah dua di antara karya penting ulama Nusantara yang ditulis menggunakan aksara Pegon.

Hal itu disampaikan Syafiq Hasyim saat menjadi narasumber dalam acara Peluncuran dan Bedah Buku Mahakarya Islam Nusantara: Kitab, Naskah, Manuskrip, dan Korespondensi Ulama Nusantara karya A Ginanjar Sya’ban di Aula Madya UIN Jakarta Ciputat Tangerang Selatan, Rabu (24/5).

Pesantren Kurang Perhatian Pada Karya Beraksara Pegon dan Jawi (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Kurang Perhatian Pada Karya Beraksara Pegon dan Jawi (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Kurang Perhatian Pada Karya Beraksara Pegon dan Jawi

Syafiq yang juga dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini menyesalkan hal tersebut bisa terjadi di Indonesia. Padahal, di Thailand Selatan karya-karya ulama Nusantara yang beraksara Jawi diajarkan dan dikaji di pondok-pondok. Bahkan, di dunia akademisi Indonesia, karya-karya beraksara Jawi tersebut kurang begitu mendapatkan perhatian.

“Di Thailand Selatan, kitab-kitab yang beraksara Jawi masih dibaca di pesantren-pesantren,” jelas Syafiq.

Haedar Nashir

“Ini mengorbankan mahakarya kita sendiri,” lanjutnya.

Haedar Nashir

Jika di Indonesia, imbuh Syafiq, biasanya yang membaca karya-karya tersebut adalah kiai-kiai yang ada di desa dan para orientalis. “Kiai-kiai di desa membacanya untuk orang-orang awam. Dan orientalis sebagai bahan penelitian,” urainya.

Dosen yang pernah menjadi Rais Syuriyah PCINU Jerman itu menduga, alasan kitab beraksara Jawi tidak diajarkan di pesantren-pesantren adalah agar santri bisa mempraktikkan ilmu-ilmu alat yang dipelajarinya seperti nahwu, sharaf, dan lainnya.

“Mungkin alasannya agar santri bisa membaca kitab kuning gundul dengan mempraktikkan ilmu nahwu, sharaf,” tandasnya. (Muchlishon Rochmat/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Doa Haedar Nashir

Pemimpin Agung Iran Dipilih dengan Metode Ahlul Halli

Jakarta, Haedar Nashir. Pemimpin Agung Iran yang disebut wilayatul fakih yang memiliki otoritas tertinggi agama dan politik di Iran dipilih melalui mekanisme ahlul halli wal aqdi.?

Pemimpin Agung ini memiliki kekuasaan yang lebih tinggi daripada presiden karena berhak menunjuk kepala militer, pemerintah sipil dan yudikatif. Sebelumnya yang berhak menduduki jabatan wali fakih hanya marja-e taqlid, peringkat tertinggi ulama dan otoritas pada hukum agama dalam ushul Islam Syiah. Pada 1989 konstitusi merubah ketentuan tersebut dan hanya mensyaratkan "cendekiawan" Islam.

Pemimpin Agung Iran Dipilih dengan Metode Ahlul Halli (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemimpin Agung Iran Dipilih dengan Metode Ahlul Halli (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemimpin Agung Iran Dipilih dengan Metode Ahlul Halli

Hafidz Alkaf dari Islamic Cultural Center (ICC), pusat kebudayaan Iran di Jakarta yang ditemui Haedar Nashir menjelaskan kalau berbicara syiah sebagai mazhab, tidak ada mekanisme memilih pemimpin. Ulama muncul karena kealimannya dan kemudian diterima oleh ulama yang lain yang kemudian diterima publik secara luas.

Haedar Nashir

Tetapi jika merujuk pada Iran sebagai sebuah negara yang dipimpin oleh seorang ulama dengan gelar wali fakih, mekanismenya ada dua. Pertama diterima masyarakat tanpa melalui prosedural. Masyarakat mendukung, para ulama mendukung, tiba-tiba muncul sebagai ulama nomor satu. Memang tidak sembarangan karena ia ulama besar seperti Imam Khomeini.?

Haedar Nashir

Mekanisme kedua adalah ahlul halli wal aqdi sebagaimana yang berlaku saat ini dalam pemilihan Ayatullah Ali Khamenei. Pemimpin Agung tersebut dipilih oleh Majles-e Khobregan atau Dewan Ahli yang terdiri dari sekitar 70-80 ulama kaliber mujtahid yang terdiri dari golongan sunni maupun syiah.?

“Dan setelah dipilih tidak ada masa jabatan tertentu. Selagi orang ini layak, maka terus pemimpin. Setiap tiga bulan sekali, mereka mengadakan rapat untuk mengevaluasi kinerja wali fakih, apakah masih layak apa tidak,” katanya.

Selama dua puluh lima tahun kepemimpinan Ali Khamenei, sidang selalu menghasilkan keputusan ia masih layak memimpin. Dari fisiknya, kesehatannya, ataupun dari sisi bahwa dia berada di jalan yang benar, tidak keluar dari jalur revolusi Islam. Sampai saat ini ia masih tetap zuhud dan wara’.?

“Ketika syarat-syarat itu sudah tidak ada, maka dipilih orang baru,” tandasnya.?

Lalu bagaimana mekanisme pemilihan Dewan Ahli? Hafidz Alkaf menjelaskan mereka dipilih melalui mekanisme pemilu yang dibagi per daerah pemilihan (dapil). Ulama-ulama dalam satu dapil yang memenuhi syarat diizinkan mencalonkan diri, lalu masyarakat nantinya akan memilih. Mereka yang terpilih akan menduduki jabatannya selama delapan tahun.?

Ia menjelaskan, mekanisme pertama seperti kemunculan Ayatullah Khomeini baik karena muncul dari akar rumput sehingga dukungan ke atas lebih kuat.?

“Cuma, masalahnya dari akar rumput kadang kita tidak tahu ada permainan apa tidak, lebih banyak menyita waktu dan dana. Juga cenderung rawan konflik,” tandasnya.?

Sementara itu kalau melalui mekanisme ahlul halli, kemungkinan terjadinya konflik bisa ditekan, dana bisa di tekan, energi bisa ditekan karena yang terkuras pikirannya hanya orang-orang tertentu saja.?

“Dampak buruknya, apakah orang-orang ahlul halli ini bisa dipertanggungjawabkan apa tidak. Kedua, sangat mungkin terjadi politik uang, karena orang yang berkepentingan, dia hanya perlu bernegosiasi dengan orang yang terbatas. Kalau akar rumput kan sulit.”

Ia menambahkan kemungkinan buruk lainnya, pilihan ahlul halli ternyata tidak disetujui akar rumput ada potensi terjadinya penentangan dari akar rumput terbuka.?

“Dua-duanya ada sisi baik dan buruknya,” katanya.?

Sementara itu, kalau berbicara organisasi keagamaan dalam lingkungan syiah, banyak organisasi seperti NU, misalnya ada Jamiatul Mudarisin yang terdiri dari para guru-guru pesantren. Mereka punya persatuan kerena anggotanya para ulama, akhirnya punya kekuatan di kalangan masyarakat sehingga pandangan politik mereka juga dipertimbangkan.?

“Masyarakat Iran kan relatif religius sehingga apa yang dikatakan ulama diikuti, apalagi ini bukan satu ulama. Satu kelompok besar ulama.”

Mekanisme kepemimpinan mereka dipilih oleh para anggota sendiri. “Mirip dengan yang dilakukan oleh NU sekarang, dari perwakilan wilayah dan cabang datang untuk memilih orang yang dianggap layak memilih pemimpin,” imbuhnya. (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Hadits, Nahdlatul Ulama Haedar Nashir

Jumat, 16 Desember 2011

Ansor NTB Siapkan Sejumlah Kegiatan Pra-Konferwil

Mataram, Haedar Nashir. Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Nusa Tenggara Barat (NTB) tengah mempersiapkan beberapa agenda menjelang diselenggarakannya Konfrensi Wilayah (Konferwil) VIII di Pulau Lombok, 10-20 April mendatang.

Ansor NTB Siapkan Sejumlah Kegiatan Pra-Konferwil (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor NTB Siapkan Sejumlah Kegiatan Pra-Konferwil (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor NTB Siapkan Sejumlah Kegiatan Pra-Konferwil

“Konfrensi kali ini dikemas dengan beberapa agenda penting yang menyakut tentang keberadaan organisasi dan mamfaat bagi masyarkat umum,” kata ketua panitia, Ismul Basar, usai rapat panitia, Jumat (13/3), di Mataram.

Agenda-agenda tersebut antara lain “Gerakan Pesantren Hijau” dan “Pengobatan Gratis” yang akan dipusatkan di Kabupaten Lombok Utara dan Kabupaten Lombok timur.

Haedar Nashir

Selain itu, kaderisasi juga sedang digencarkan, di antaranya Kursus Banser Lanjutan (Susbalan) yang akan berpusat di Kabupaten Lombok Utara dan Pelatihan Kepemimpinan Lanjut (PKL) di Pondok Pesantren Abhariah Jerneng Kabupaten Lombok Barat.

PW GP Ansor NTB menjadwalkan pula acara diskusi publik bertajuk “Talk Show Teologi Islam dan Peluralisme”. Konferwil VIII GP Ansor NTB rencananya berlangsung di Kota Mataram, ibu kota NTB. (Hadi/Mahbib)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Daerah, Budaya Haedar Nashir