Minggu, 22 Januari 2012

Tarawih Keliling, Ansor Dakwahkan Islam Moderat ke Desa-desa

Brebes, Haedar Nashir - Pimpinan Anak Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Wanasari, Brebes, Jawa Tengah, menyelenggarakan Tarling ataupun Tarawih Keliling. Selain bernilai ibadah, kegiatan ini juga menjadi wahana silaturahim dan syiar Ahlussunnah wal Jama’ah pengurus GP Ansor setempat di desa-desa.

Tarling dilaksanakan dari tanggal 5 Ramadhan sampai dengan 21 Ramadhan. Pada hari ke-9 Ramadhan, Tarling bertempat di Masjid Nurul Hidayah Desa Lengkong, Wanasari, Brebes.

Tarawih Keliling, Ansor Dakwahkan Islam Moderat ke Desa-desa (Sumber Gambar : Nu Online)
Tarawih Keliling, Ansor Dakwahkan Islam Moderat ke Desa-desa (Sumber Gambar : Nu Online)

Tarawih Keliling, Ansor Dakwahkan Islam Moderat ke Desa-desa

Bayu Rohmawan, Ketua PAC GP Ansor Wanasari menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan agenda rutin setiap bulan Ramadhan. Pihaknya menyiapkan para dai yang mengisi kultum (kuliah Tujuh menit) dalam rangkaian shalat tarawih berjamaah ini.

Haedar Nashir

Para dai tersebut, tambahnya, sudah melewati Kursus Dai Muda Aswaja yang digelar GP Ansor Wanasari sebelum bulan puasa tiba. Mereka didorong untuk punya misi dakwah Islam yang toleran (tasamuh), seimbang (tawazun), moderat (moderat), tegak lurus (i’tidal) dan amar maruf nahi munkar sesuai dengan prinsip Nahdlatul Ulama.

“Kami berharap misi dakwah GP Ansor bisa dipahami oleh masyarakat serta menambah ukhuwah anggota GP Ansor dengan masyarakat,” terang Bayu.

Haedar Nashir

Kegiatan ini diikuti seluruh pengurus PAC GP Ansor Kecamatan Wanasari dan untuk tahun 2016 ini dilaksanakan di 9 Desa di Kecamatan wanasari antara lain Desa Glonggong, Wanasari, Lengkong, Kupu,Dumeling,Siasem, Klampok, Siwungkuk dan Desa Sawojajar. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Daerah Haedar Nashir

Kamis, 19 Januari 2012

Masjid dan Pesantren Adalah Aset NU

Jepara, Haedar Nashir. Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) kabupaten Jepara KH Asyhari Syamsuri menyatakan keberadaan masjid dan pesantren merupakan aset NU yang tidak boleh ditinggalkan karena keduanya merupakan modal yang luar biasa. 

Hal itu disampaikannya dalam Rapimda Lembaga Ta’mir Masjid Nahdlatul Ulama (LTMNU) yang dilaksanakan di Gedung NU, Jalan Pemuda No.51, Ahad (10/3). 

Masjid dan Pesantren Adalah Aset NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Masjid dan Pesantren Adalah Aset NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Masjid dan Pesantren Adalah Aset NU

Menurutnya, dari 2 tempat itu organisasi NU kian berkembang. Masjid jelasnya selain sebagai tempat peribadatan juga tempat kajian Islam sedangkan pesantren merupakan pusat kajian ilmu keagamaan bagi santri. 

Haedar Nashir

Kiai Asyhari yang juga kepala SMKN 3 Jepara melansir jumlah masjid versi LTMNU Cabang Jepara sebanyak 662 dan 80% merupakan masjid basis NU. Meski demikian ia menyayangkan ada beberapa rumah Allah yang kini dikuasai kelompok lain. 

“Semisal di desa Slagi kecamatan Pakis Aji ada sebuah tempat ibadah yang dulunya kental dengan tradisi NU—kini sudah berubah drastis,” keluhnya. 

Haedar Nashir

Sementara itu, Haryono Wibowo, staf ahli Bupati bidang pembangunan, kemasyarakatan dan SDM mewakili Bupati Jepara memberikan apresiasi kegiatan yang diikuti ratusan peserta dari Imam, Khatib, Takmir Masjid dan tamu undangan dari Banom NU. 

Haryono mengatakan forum tersebut juga terkait dengan kegiatan rutin safari Jum’at yang dilaksanakan Bupati bersama Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD). Pihaknya sebelum melaksanakan pelaksanaan shalat Jum’at terlebih dahulu meninjau MI di sekitar lokasi kunjungan. 

“Kami—Bupati bersama SKPD melakukan komunikasi pada pihak madrasah terkait kegiatan-kegiatan, kondisi, rencana dan permasalahan yang dihadapi sehingga melalui forum itu terjalinlah komunikasi timbal balik antara Pemkab dan lembaga yang terkait,” katanya. 

Dari forum Safari Jum’at lanjut Haryono akan banyak informasi masuk kemudian ditindaklanjuti. Tujuannya, masih menurut dia tidak lain untuk menjalin kerukunan agama muaranya tidak ada letupan ormas dan memberikan ekses positif ditengah-tengah masyarakat. 

Kiai Asyhari Syamsuri juga menghimbau kepada warga NU agar tetap membentengi masjid agar tidak diambil alih oleh kelompok-kelompok lain. 

Kegiatan yang menggandeng PT Sinde Budi Sentosa dihadiri KH Masdar Farid Mas’udi, Rais Syuriyah PBNU, KH Abdul Manan A Ghani, Ketua LTM-PBNU, serta rombongan LTM PBNU. 

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Syaiful Mustaqim      

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Warta Haedar Nashir

Selasa, 17 Januari 2012

Survei IPNU Temukan, 50 Persen Pelajar Pakai Smartphone Sejak SD

Surabaya, Haedar Nashir



Lembaga Penelitian dan Survei Pelajar-Pemuda PW Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Jawa Timur menyatakan 50 persen pelajar menggunakan "smartphone" sejak sekolah dasar (SD) dan 44 persen memakai sejak SMP serta 3 persen sejak SMA.

Survei IPNU Temukan, 50 Persen Pelajar Pakai Smartphone Sejak SD (Sumber Gambar : Nu Online)
Survei IPNU Temukan, 50 Persen Pelajar Pakai Smartphone Sejak SD (Sumber Gambar : Nu Online)

Survei IPNU Temukan, 50 Persen Pelajar Pakai Smartphone Sejak SD

"Itu hasil dari survei yang kami lakukan pada 113 siswa dari 400-an sekolah swasta Surabaya-Sidoarjo pada Februari 2016," kata Direktur Lembaga Penelitian dan Survei PW IPNU Jatim Abdullah Muhdi di sela peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-62 IPNU di Surabaya, Rabu.

Didampingi Ketua PW IPNU Jatim Haikal Atiq Zamzami, ia mengemukakan hal itu dalam peringatan Harlah ke-62 IPNU yang dihadiri Kasi Pendidikan Madrasah Kemenag Jatim H Supandi MPd, Guru Besar FISIP Unair Kacung Maridjan, dan Sekretaris PWNU Jatim Akhmad Muzakki.

Dalam acara yang dihadiri 60-an pengurus IPNU se-Jatim yang dimeriahkan dengan peluncuran lembaga penelitian/riset, lembaga penanggulangan NAPZA dan radikalisme, Majalah PASTI, laman IPNU Jatim, dan dialog pendidikan itu, ia menilai hasil itu cukup mengejutkan, karena 97 persen pelajar memanfaatkan alat komunikasi super canggih itu.

"Itu mengejutkan karena mereka masih tergolong SD, meski kami menemukan 59 persen penggunaannya masih positif yakni untuk berkomunikasi dengan orang tua, namun anak SD itu sangat tidak mandiri, karena itu kontrol isi chat/obrolan dari orang tua itu perlu," katanya.

Haedar Nashir

Apalagi, pihaknya menemukan ada prestasi pelajar yang merosot gara-gara smartphone, meski penggunaan smartphone terbagi dalam 59 persen untuk komunikasi, 11 persen musik, 8 persen browsing, 1 persen video, 3 persen abstain, dan 18 persen lainnya, termasuk untuk "game".

Terkait aplikasi yang digunakan pelajar, ia mengatakan 65 persen untuk Line, 2 persen FaceBook/Twitter, 17 persen Google, 7 persen Youtube, 6 persen BBM/WhatsApp, dan 3 persen abstain. "Jadi, FB, WA, dan twitter tak diminati pelajar," katanya.

Haedar Nashir

Menurut dia, IPNU berkepentingan dengan serangkaian survei pelajar/pemuda bukan sekadar untuk pendataan. "Dengan hasil survei itu, maka orang tua dan sekolah bisa bersikap solusi yang harus dilakukan, sedang bagi kami juga penting untuk merancang program," katanya.

Dalam kaitan solusi itu, Ketua IPNU Jatim Haikal Atiq Zamzami mengatakan siap bekerja sama dengan pihak sekolah, dinas pendidikan, Kemenag, pesantren, perguruan tinggi, dan para orang tua untuk melakukan diskusi guna mencari solusi yang tepat, karena organisasi pelajar (IPNU) lebih pas berbicara dengan pelajar.

"Kami sendiri memiliki Majalah Pasti untuk pelajar dan santri berprestasi, laman khusus pelajar dan santri, dan lembaga penanggulangan radikalisme dan NAPZA. Jadi, kami melakukan gerakan yang sistematis dan serius untuk pelajar dan santri," katanya.

Dalam dialog pendidikan Harlah ke-62 IPNU itu, Sekretaris PW NU Jatim Prof Akhmad Muzakki menilai IPNU memang merupakan kader andalan NU untuk masa depan, karena generasi masa depan yang dibutuhkan bangsa Indonesia adalah generasi berkarakter dan organik (bukan karbitan).

"Kalau hanya pintar bisa kita lakukan dengan mesin pencari internet, tapi kalau karakter itu memerlukan proses. Saran saya, IPNU harus melakukan diversifikasi kader, agar jangan sampai kader IPNU ke dunia politik saja, seperti kader dokter anak di Sidoarjo atau kader jurnalis di Surabaya," katanya.

Senada dengan itu, Prof Kacung Maridjan menyatakan bonus demografi akan dinikmati bangsa Indonesia pada 2035 atau 2045 bila tercetak kader-kader yang terdidik dan kreatif. "Bangsa ini masih mayoritas SMP dan perlu generasi kreatif lebih banyak. Itu kuncinya," katanya.

Sementara itu, Kasi Pendidikan Madrasah Kanwil Kemenag Jatim H Supandi mengaku 95 persen dari 19.155 madrasah (MI/MTs/MA) dan 211.000-an guru serta 3 jutaan siswa adalah pelajar NU, namun umumnya belum mengetahui IPNU. "Itulah tantangan sekarang," katanya. (Antara/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Hadits, Olahraga, Sholawat Haedar Nashir

Sabtu, 14 Januari 2012

Wabup Tegal: Isi Tahun Baru Masehi seperti Tahun Baru Hijriyah

Tegal, Haedar Nashir -

Merayakan tahun baru Masehi bagi umat Islam tidaklah akan merusak akidah. Sejauh perayaan mendatangkan kebaikan dan kemaslahatan bagi diri dan masyarakat, tentu itu lebih baik.

"Maka, songsonglah tahun baru Masehi ini sebagaimana kita menyongsong tahun baru Hijriah. Semarakkanlah keduanya untuk kepentingan kemaslahatan umat manusia," ujar Wakil Bupati Tegal, Hj Umi Azizah saat muhasabah atau refleksi tahun baru 2018 yang digelar Pemerintah Kabupaten Tegal di Masjid Al Hajj komplek alun-alun Hanggawana Slawi, Ahad (31/12) malam.

Menurutnya, tradisi merayakan pergantian tahun Masehi dengan melakukan hal positif tidak masalah, karena Islam membolehkan mengambil suatu kebiasaan dalam masyarakat yang dianggap baik. Islam tidak melarang mengikuti tradisi yang baik dari bangsa dan agama lain sejauh tradisi itu adalah sesuatu yang mendatangkan kebaikan bagi umat. “Untuk apa Nabi kita menyuruh untuk belajar jauh-jauh ke negeri Cina, kalau bukan untuk menimba pengetahuan positif yang mereka miliki?,” katanya di hadapan undangan. 

Wabup Tegal:  Isi Tahun Baru Masehi seperti Tahun Baru Hijriyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Wabup Tegal: Isi Tahun Baru Masehi seperti Tahun Baru Hijriyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Wabup Tegal: Isi Tahun Baru Masehi seperti Tahun Baru Hijriyah

Sedangkan untuk mencegah aksi hura-hura, berpesta-pora menghabiskan uang untuk sesuatu yang tidak ada faedahnya, akan lebih baik jika momentum malam pergantian tahun dimanfaatkan dengan berkumpul dan bersilaturrahim dengan kerabat dan kolega. “Berzikir bersama, mengadakan pengajian, termasuk muhasabah atau tafakkur untuk melakukan refleksi atas apa yang telah dilakukan selama setahun ini. Semua itu adalah hal-hal yang positif yang patut kita lestarikan," tandas Ketua PC Muslimat NU Tegal.

Berkaitan dengan kinerja pemerintahan, kata Umi, pada tahun 2017 ini Pemerintah Kabupaten Tegal bekerjasama dengan Kementerian Sosial RI berhasil menghentikan secara permanen empat lokalisasi prostitusi di wilayah Pantura yang meliputi Wandan, Gang Sempit, Peleman dan Turunan Pengasinan. 

Haedar Nashir

Hal ini berarti Kabupaten Tegal sudah terbebas dari lokalisasi prostitusi, setelah sebelumnya tahun 2015 lalu kita menutup operasional lokalisasi prostitusi Karanggondang Lebaksiu. 

"Untuk itu, pada kesempatan yang baik ini sekaligus saya mengajak kepada para pemimpin dan pemuka agama, tokoh spiritual untuk terus membimbing umat dan jamaahnya, untuk sungguh-sungguh menjalankan ajaran agamanya dengan benar,” pintanya.

Tidak berhenti sampai di situ, juga membangun dan menjaga kerukunan hidup sesama umat beragama. Terus berusaha menjadi contoh atas sikap, tutur kata dan tindakan yang sejuk dan mencerdaskan. Berikan pula keteladanan dan kepemimpinan tanpa meninggalkan nilai budaya dan kearifan lokal, lanjutnya.

Umi juga mengajak untuk bekerja nyata dengan terus mencari persamaan, bukan mempertajam perbedaan. Saling memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa, bukan saling melemahkan. Kita padukan energi positif yang kita miliki untuk mewujudkan Kabupaten Tegal yang mandiri, unggul, berbudaya, religius dan sejahtera. 

"Mari, kita tumbuhkan budaya saling menghargai dan saling menghormati, agar hidup kita membawa berkah kebahagiaan, kedamaian dan kesejahteraan bagi umat manusia," pungkasnya

Haedar Nashir

Muhasabah juga dihadiri Bupati Tegal Enthus Susmono, Sekda Tegal dokter Widodo Joko Mulyono, anggota Forkompimda Tegal, Ketua PCNU Kabupaten Tegal H Akhmad Wasyari, Ketua RMI NU Kabupaten Tegal KH Syamsul Arifin, sejumlah Ulama, para Kepala OPD dan masyarakat Kabupaten Tegal. (Hasan/Ibnu Nawawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pahlawan, Kyai, Ahlussunnah Haedar Nashir

Kamis, 12 Januari 2012

Kepengurusan Baru, NU Sukoharjo Siap Jawab Tantangan Zaman

Sukoharjo, Haedar Nashir. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Sukoharjo menggelar Konferensi Cabang (Konfercab) ke-6 di Kantor PCNU setempat, Sabtu (15/8). Pada gelaran tersebut, antara lain menghasilkan duet nahkoda baru.

Kepengurusan Baru, NU Sukoharjo Siap Jawab Tantangan Zaman (Sumber Gambar : Nu Online)
Kepengurusan Baru, NU Sukoharjo Siap Jawab Tantangan Zaman (Sumber Gambar : Nu Online)

Kepengurusan Baru, NU Sukoharjo Siap Jawab Tantangan Zaman

Kiai Abdullah Faishol, yang sebelumnya mengemban amanah Katib Syuriyah didapuk untuk menjadi Rais Syuriyah baru menggantikan KH Ahmad Baidlowi. Sedangkan untuk posisi Ketua Tanfidziyah, masih dipercayakan kepada M Nagib Sutarno untuk kembali memimpin kepengurusan PCNU Sukoharjo selama 5 tahun mendatang.

Usai terpilih, Kiai Faishol mengatakan harapannya untuk NU Sukoharjo pada kepengurusan mendatang. “NU? harus tetap eksis dan mampu menjawab tantangan zaman, membangun kedamaian dan peradaban,” ujarnya, kepada Haedar Nashir, Ahad (16/8).

Haedar Nashir

Dosen IAIN Surakarta itu menambahkan, dengan komposisi kepengurusan yang terdiri dari para kiai, akademisi, pegiat sosial, profesional dan kader terbaik NU Sukoharjo mestinya dapat menjadikan kepengurusan kali ini lebih baik dibandingkan sebelumnya.

Haedar Nashir

Pihaknya juga akan memberikan perhatian besar pada program pengkaderan dan pendidikan untuk anggotanya. “Pengkaderan dan pendidikan akan menjadi skala prioritas pada program kepengurusan ini,” imbuh Kiai Faishol.

Harapan serupa juga disampaikan salah satu tokoh NU Sukoharjo Lasimin. Ia berharap NU semakin tampil dan disegani masyarakat, khususnya di daerah Kota Makmur. “Selamat untuk Pak Faishol dan Pak Tarno, Semoga NU bisa ikut berperan lebih dalam membangun bangsa ini,” kata dia. (Ajie Najmuddin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Internasional Haedar Nashir

Senin, 09 Januari 2012

Adakan Pelatihan Jurnalistik, MANU Luthful Ulum Maksimalkan Website

Pati, Haedar Nashir

Madrasah Aliyah Nahdlatul Ulama (MANU) Luthful Ulum Wonokerto Pasucen Trangkil, Pati, Jawa Tengah, Rabu (9/3) mengadakan pelatihan jurnalistik khusus untuk mengolah website dengan berita-berita yang kreatif dan inovatif. Pelatihan ini diadakan karena MANU Luthful Ulum ingin memaksimalkan fungsi website di www.manuluthfululum.com.?

Adakan Pelatihan Jurnalistik, MANU Luthful Ulum Maksimalkan Website (Sumber Gambar : Nu Online)
Adakan Pelatihan Jurnalistik, MANU Luthful Ulum Maksimalkan Website (Sumber Gambar : Nu Online)

Adakan Pelatihan Jurnalistik, MANU Luthful Ulum Maksimalkan Website

Mohammad Khoirun Niam Al-Hafidh, Pengurus Lakpesdam PCNU Pati mengisi acara jurnalistik ini. Menurut Niam, website sekolah harus diisi dengan berita dan opini yang menarik. Website ini harus menjadi ajang pengembangan bakat dan minat siswa-siswi, khususnya dalam bidang jurnalistik. Membuat laporan kegiatan menjadi menu utama website.?

“Siswa-siswi MANU Luthful Ulum haru bisa membuat laporan kegiatan yang berkaitan dengan apa saja, baik itu intrakurikuler maupun ekstrakurikuler khususnya kegiatan-kegiatan ilmiah, seperti seminar, bedah buku, pelatihan, dan lain-lain,” jelas Niam.

Selain itu, tambahnya, website juga diisi dengan kreativitas siswa-siswi, seperti cerpen, novel, puisi, prosa, makalah ilmiah, esai, artikel, dan lain-lain. Tidak ada batasan dalam berkarya, sehingga karya apapun asalkan memberikan informasi yang positif bisa dimasukkan dalam website untuk menambah wawasan dan memperluas cakrawala pemikiran.?

Haedar Nashir

Untuk memotivasi siswa-siswi MANU Luthful Ulum, Niam memberikan tips-tips sukses, seperti memulai dengan menulis diary untuk mendokumentasikan kegiatan harian, kemudian menulis puisi, cerpen, dan mencoba menulis esai.?

Ketekunan, lanjut Mas Niam, sangat dibutuhkan jika seseorang ingin menjadi penulis profesional. Kerja keras, kecerdasan, dan keunggulan yang disertai dengan ketekunan akan menjadikan kemampuan seseorang melesat dengan cepat, seperti busur yang sulit dihentikan.?

Dalam pelatihan ini, diumumkan dan dibagikan hadiah bagi para juara cerpen yang diraih oleh Diah Mawarni untuk juara 1, Novianta Awaluddiin juara 2, Dian Puspita Sari untuk juara 3, Niken Fitriana untuk juara harapan 1, Rita Apriliana untuk harapan 2, dan Puji Lestari untuk harapan 3. Siswa-siswi ini memenangkan perlombaan menyisihkan seluruh siswa-siswi yang mengirimkan karya cerpennya.?

Nur Alimah, Wakil Kepala Madrasah bidang kesiswaaan MANU Luthful Ulum mengatakan, madrasah ini terus mengadakan lomba-lomba untuk mengasah kreativitas siswa-siswinya supaya ke depan mereka menjadi kader-kader masa depan bangsa yang kompetitif dan produktif. (Jamal Ma’mur/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir

Haedar Nashir Doa Haedar Nashir

Rabu, 04 Januari 2012

Santri Pesantren Annajyiah Bahrul Ulum Belajar Jurnalistik

Jombang, Haedar Nashir. “Pak, kalau sudah bisa nulis berita apakah harus jadi wartawan media? celetuk santri perempuan pesantren Annajiah Bahrul Ulum Tambakberas Jombang saat mengikuti diklat jurnalistik santri beberapa waktu lalu.

Santri Pesantren Annajyiah Bahrul Ulum Belajar Jurnalistik (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Pesantren Annajyiah Bahrul Ulum Belajar Jurnalistik (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Pesantren Annajyiah Bahrul Ulum Belajar Jurnalistik

Kegiatan diklat jurnalistik dikalangan santri pesantren Bahrul Ulum Tambakberas bukan hal baru, hampir setiap tahun dilakukan. Baik untuk kalangan santri maupun pelajar di lingkungan madrasah yang ada di pesantren KH Wahab Hasbullah ini.

”Setiap tahun santriwati memiliki agenda kegiatan pelatihan, termasuk jurnalistik seperti ini,” ujar Dewi Widya Sari ketua pelaksana kegiatan yang juga santri senior di Annajiah ini menceritakan.

Haedar Nashir

Diklat jurnalistik tahun ini dikatakannya diperuntukkkan bagi santri kelas 1 dan II setingkat Madrasah Aliah. “Mereka diharapkan bias mengisi dan mengelola majalah yang dimiliki pesantren. Karena sekarang majalah yang pernah diterbitkan sekarang rencananya akan kembali diterbitkan lagi,” tandasnya, majalah pesantren Annajiah bahrul Ulum diterbitkan bersama mahasiswa Stikes dan pelajar SMK dibawah naungan Annajiah.

Pesantren Bahrul Ulum juga pernah memiliki Majalah dengan nama Ka’bah, yang terbit setiap satu tahun sekali. Sedangkan beberapa unit lembaga pendidikan juga memiliki Majalah tersendiri, Seperti Madrasah Mu’alimin Mu’alimat Atas (MMA) enam tahun menerbitkan majalah atau bulletin tahunan dengan Kharisma, begitu juga dengan MAN juga menerbitkan Majalah tahunan. Bahkan kedua lembaga ini kini juga memiliki web site www.mualliminenamtahun.net dan www.mantambakberas.com.

Haedar Nashir

Sementara itu, Haedar Nashir yang diminta memberikan materi Jurnalistik Dasar untuk menulis karya jurnalistik seseorang tidak harus menjadi wartawan. Karena karya jurnalistik bisa dipublikasikan diberbagai media. 

“Dan banyak orang bisa dengan mudah membuat beritanya sendiri lalu menyebarluaskannya di berbagai jejaring sosial dunia maya. Entah lewat blog atau di berbagai situs jejaring sosial seperti Facebook atau Youtube,” beber Ramadlan mengatakan.

Untuk publikasi, lanjutnya sesorang tidak perlu menunggu waktu lama agar tulisannya bisa dimuat dalam media cetak arus utama, saat ini, seseorang sudah bisa memublikasikan tulisannya secara independen. Semangat kemandirian yang difasilitasi dengan sangat baik oleh jaringan internet.

Jika tulisan-tulisan itu cukup kuat, maka peran pembentukan opini pun dapat pula direngkuhnya. Media jenis ini disebut sebagai “new media.” Kemudian melahirkan pula apa yang dikenal saat ini dengan konsep “citizen journalism” atau pewarta warga yang biasa dikirim seorang pada media media cetak maupun online.

"Dan banyak media menyediakan kolom untuk karya seperti ini," tandasnya. 

Dikatakannya, media kini terbagi menjadi beberpa macam, meliputi jurnalistik cetak (print journalism), elektronik (electronic journalism). Akhir-akhir ini juga telah berkembang jurnalistik secara tersambung (online journalism).’ Seperti Haedar Nashir, dan yang lainnya,” pungkasnya.

Redaktur: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Hadits, Makam Haedar Nashir