Rabu, 25 Januari 2012

Muktamar NU Diharapkan Perhatikan Persoalan Intoleransi

Jombang, Haedar Nashir. Nahdlatul Ulama (NU) merupakan ormas Islam besar di Indonesia yang meyakini NKRI sebagai harga mati. Itu menjadi stempel yang diamini sejumlah pihak. Karena itu, harapan NU pada Muktamar Ke-33 untuk memerhatikan persoalan intoleransi, mengemuka dari sejumlah pihak.

Muktamar NU Diharapkan Perhatikan Persoalan Intoleransi (Sumber Gambar : Nu Online)
Muktamar NU Diharapkan Perhatikan Persoalan Intoleransi (Sumber Gambar : Nu Online)

Muktamar NU Diharapkan Perhatikan Persoalan Intoleransi

"NU selama ini dikenal sebagai organisasi masyarakat sipil Islam moderat. Kesungguhannya ini dipertegas dalam Muktamar kali ini melalui jargon Islam Nusantara. Hal ini tentu melegakan mengingat banyak yang berkeliaran ingin menghancurkan keberagaman selama ini terbangun," ujar Ketua Umum Aliansi Bhinneka Tunggal Ika Nia Sjarifudin di Jombang, Jawa Timur, Ahad (2/8).

Untuk diketahui, saat pembukaan Muktamar NU ke-33 berlangsung di Alun-alun Jombang, puluhan aktivis dan tokoh lintas agama berkumpul. Mereka menggelar silaturahmi dan dialog kultural di De Nala Foodcourt, 500 meter dari arena pembukaan. Acara refleksi kebangsaaan berlangsung mulai pukul 19.30 - 22.00 WIB, Sabtu (1/8), tersebut mengambil tema "Meneguhkan Indonesia Sebagai Rumah Bersama".

Haedar Nashir

Harapan sebagaimana Nia terhadap NU juga disampaikan oleh Bhikkhu Wirya dari Mahavihara Buddha Trowulan. Dia mengharapkan NU mampu merumuskan rekomendasi konkrit agar kesatuan dan persatuan bangsa ini tetap terjaga.

"Islam Nusantara diusung pada Muktamar ke 33 ini tentu diharapkan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi bangsa seperta pada Muktamar di Situbondo yang menegaskan Pancasila dan UUD 45 sebagai fondasi yang tidak boleh diganggu gugat," katanya.?

Haedar Nashir

Selama ini praktek intoleransi kerap menimpa kelompok minoritas. Pengusiran, pelarangan ibadah, pengrusakan dan diskriminasi kerap diterima sekte atau kelompok Penghayat/kepercayaan.

Berkaitan dengan intoleransi beragama yang ditumbuhkan kelompok-kelompok tertentu, Cendekiawan NU yang juga pengasuh Pesantren Darut Tauhid Cirebon KH Husein Muhammad, mendukung Muktamar NU kali ini memberi perhatian khusus pada persoalan intoleransi.

"Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh keprihatinan atas situasi intoleransi yang terus marak di Indonesia. Berbagai praktik kekerasan berbasis agama dan keyakinan menunjukkan lemahnya komitmen pemerintah," ujar Aan Anshori, kordinator acara kegiatan itu.

Acara diisi dengan pembacaan puisi yang menegaskan bahwa Indonesia ialah negara yang dalam konstitusinya menghargai keberagaman.

Sebagai penutup acara, peserta konsolidasi jaringan lintas iman menyanyikan lagu Indonesia Raya bersama-sama pengunjung Foodcourt. (Gatot Arifianto/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ulama, Meme Islam Haedar Nashir

Selasa, 24 Januari 2012

Jihad dan Tawuran

Kalau sekadar memakai senjata tajam mulai dari ? parang, golok, anak panah, bambu runcing, senjata api, meriam dan sejenisnya, ini namanya bukan perang di jalan Allah, tetapi tawuran antardesa. Perang di jalan-Nya selain memerlukan itu semua, juga membutuhkan pikiran matang.

Perang di jalan Allah disebut jihad. Maksudnya perang akan disebut jihad sejauh praktik perang itu dimaksudkan untuk menegakkan agama Allah sebagai syiar. Perang seperti ini sangat dibutuhkan. Agama menganjurkan jihad. Karena, jihad merupakan ibadah.

Jihad dan Tawuran (Sumber Gambar : Nu Online)
Jihad dan Tawuran (Sumber Gambar : Nu Online)

Jihad dan Tawuran

Hanya saja seseorang yang maju ke medan perang memiliki pelbagai motif. Ada yang maju karena berani, jaga harga diri, atau karena riya. Lalu siapa di antara mereka yang masuk dalam kategori mujahid?

Ketika ditanya demikian, Rasulullah SAW menjawab dengan sabdanya seperti di bawah ini,

Haedar Nashir

Ù…Ù? قاتل لتكوÙ? كلمة الله Ù‡Ù? العلÙ? ا فهو فÙ? سبÙ? Ù„ الله

“Siapa saja yang maju ke medan perang dengan niat agar agama Allah menjadi naik (syiar) maka ia telah berjuang di jalan Allah.”

Haedar Nashir

Namun demikian, para ulama memberikan sejumlah catatan perihal peperangan, jihad, dan perjuangan di jalan Allah. Keputusan untuk perang di jalan Allah harus dilewati dengan sejumlah pertimbangan pikiran. Artinya ulama harus berkumpul terlebih dahulu untuk memutuskan bahwa umat Islam telah wajib untuk melakukan jihad di jalan Allah.

Salah satu contohnya ialah fatwa Resolusi Jihad NU pada November 1945. Fatwa Resolusi Jihad NU ini didasarkan pada pikiran matang ulama. Keputusan fatwa ini tidak didasarkan pada nafsu amarah.

Dalam kitab Dalilul Falihin (syarah Riyadlus Shalihin), M bin Alan Ash-shiddiqy menjelaskan hadis di atas sebagai berikut,

Ø£Ù? القتال فÙ? سبÙ? Ù„ الله قتال Ù…Ù? شؤه القوة العقلÙ? Ø© لا القوة الغضبÙ? Ø© أو الشهواÙ? Ù? Ø©

“Bahwa perang di jalan Allah adalah perang yang didasarkan pada kekuatan pikiran, bukan kekuatan amarah atau kekuatan nafsu.”

Dengan demikian umat Islam tidak boleh memutuskan sendiri perihal perang di jalan Allah. Mereka harus menunggu keputusan dan kebijaksanaan para kiai agar para kiai mengerahkan segala pikiran dan pertimbangannya atas kenyataan yang ada.

Selagi para kiai belum mengeluarkan fatwa jihad, umat Islam tidak boleh memutuskan bahwa dirinya akan maju ke medan perang. Karena, keputusannya didasarkan pada amarah dan nafsu belaka.

Kalau saja salah dalam mengambil keputusan, mereka justru mengamuk dan kalap di tengah masyarakat yang damai, seperti anak-anak yang sedang tawuran. Bukannya kalimat Allah (Islam) menjadi harum, mereka justru mencemarkan nama Islam dari dalam. Wallahu A‘lam. (Alhafiz Kurniawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Bahtsul Masail, Sholawat, Syariah Haedar Nashir

Minggu, 22 Januari 2012

Tarawih Keliling, Ansor Dakwahkan Islam Moderat ke Desa-desa

Brebes, Haedar Nashir - Pimpinan Anak Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Wanasari, Brebes, Jawa Tengah, menyelenggarakan Tarling ataupun Tarawih Keliling. Selain bernilai ibadah, kegiatan ini juga menjadi wahana silaturahim dan syiar Ahlussunnah wal Jama’ah pengurus GP Ansor setempat di desa-desa.

Tarling dilaksanakan dari tanggal 5 Ramadhan sampai dengan 21 Ramadhan. Pada hari ke-9 Ramadhan, Tarling bertempat di Masjid Nurul Hidayah Desa Lengkong, Wanasari, Brebes.

Tarawih Keliling, Ansor Dakwahkan Islam Moderat ke Desa-desa (Sumber Gambar : Nu Online)
Tarawih Keliling, Ansor Dakwahkan Islam Moderat ke Desa-desa (Sumber Gambar : Nu Online)

Tarawih Keliling, Ansor Dakwahkan Islam Moderat ke Desa-desa

Bayu Rohmawan, Ketua PAC GP Ansor Wanasari menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan agenda rutin setiap bulan Ramadhan. Pihaknya menyiapkan para dai yang mengisi kultum (kuliah Tujuh menit) dalam rangkaian shalat tarawih berjamaah ini.

Haedar Nashir

Para dai tersebut, tambahnya, sudah melewati Kursus Dai Muda Aswaja yang digelar GP Ansor Wanasari sebelum bulan puasa tiba. Mereka didorong untuk punya misi dakwah Islam yang toleran (tasamuh), seimbang (tawazun), moderat (moderat), tegak lurus (i’tidal) dan amar maruf nahi munkar sesuai dengan prinsip Nahdlatul Ulama.

“Kami berharap misi dakwah GP Ansor bisa dipahami oleh masyarakat serta menambah ukhuwah anggota GP Ansor dengan masyarakat,” terang Bayu.

Haedar Nashir

Kegiatan ini diikuti seluruh pengurus PAC GP Ansor Kecamatan Wanasari dan untuk tahun 2016 ini dilaksanakan di 9 Desa di Kecamatan wanasari antara lain Desa Glonggong, Wanasari, Lengkong, Kupu,Dumeling,Siasem, Klampok, Siwungkuk dan Desa Sawojajar. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Daerah Haedar Nashir

Kamis, 19 Januari 2012

Masjid dan Pesantren Adalah Aset NU

Jepara, Haedar Nashir. Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) kabupaten Jepara KH Asyhari Syamsuri menyatakan keberadaan masjid dan pesantren merupakan aset NU yang tidak boleh ditinggalkan karena keduanya merupakan modal yang luar biasa. 

Hal itu disampaikannya dalam Rapimda Lembaga Ta’mir Masjid Nahdlatul Ulama (LTMNU) yang dilaksanakan di Gedung NU, Jalan Pemuda No.51, Ahad (10/3). 

Masjid dan Pesantren Adalah Aset NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Masjid dan Pesantren Adalah Aset NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Masjid dan Pesantren Adalah Aset NU

Menurutnya, dari 2 tempat itu organisasi NU kian berkembang. Masjid jelasnya selain sebagai tempat peribadatan juga tempat kajian Islam sedangkan pesantren merupakan pusat kajian ilmu keagamaan bagi santri. 

Haedar Nashir

Kiai Asyhari yang juga kepala SMKN 3 Jepara melansir jumlah masjid versi LTMNU Cabang Jepara sebanyak 662 dan 80% merupakan masjid basis NU. Meski demikian ia menyayangkan ada beberapa rumah Allah yang kini dikuasai kelompok lain. 

“Semisal di desa Slagi kecamatan Pakis Aji ada sebuah tempat ibadah yang dulunya kental dengan tradisi NU—kini sudah berubah drastis,” keluhnya. 

Haedar Nashir

Sementara itu, Haryono Wibowo, staf ahli Bupati bidang pembangunan, kemasyarakatan dan SDM mewakili Bupati Jepara memberikan apresiasi kegiatan yang diikuti ratusan peserta dari Imam, Khatib, Takmir Masjid dan tamu undangan dari Banom NU. 

Haryono mengatakan forum tersebut juga terkait dengan kegiatan rutin safari Jum’at yang dilaksanakan Bupati bersama Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD). Pihaknya sebelum melaksanakan pelaksanaan shalat Jum’at terlebih dahulu meninjau MI di sekitar lokasi kunjungan. 

“Kami—Bupati bersama SKPD melakukan komunikasi pada pihak madrasah terkait kegiatan-kegiatan, kondisi, rencana dan permasalahan yang dihadapi sehingga melalui forum itu terjalinlah komunikasi timbal balik antara Pemkab dan lembaga yang terkait,” katanya. 

Dari forum Safari Jum’at lanjut Haryono akan banyak informasi masuk kemudian ditindaklanjuti. Tujuannya, masih menurut dia tidak lain untuk menjalin kerukunan agama muaranya tidak ada letupan ormas dan memberikan ekses positif ditengah-tengah masyarakat. 

Kiai Asyhari Syamsuri juga menghimbau kepada warga NU agar tetap membentengi masjid agar tidak diambil alih oleh kelompok-kelompok lain. 

Kegiatan yang menggandeng PT Sinde Budi Sentosa dihadiri KH Masdar Farid Mas’udi, Rais Syuriyah PBNU, KH Abdul Manan A Ghani, Ketua LTM-PBNU, serta rombongan LTM PBNU. 

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Syaiful Mustaqim      

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Warta Haedar Nashir

Selasa, 17 Januari 2012

Survei IPNU Temukan, 50 Persen Pelajar Pakai Smartphone Sejak SD

Surabaya, Haedar Nashir



Lembaga Penelitian dan Survei Pelajar-Pemuda PW Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Jawa Timur menyatakan 50 persen pelajar menggunakan "smartphone" sejak sekolah dasar (SD) dan 44 persen memakai sejak SMP serta 3 persen sejak SMA.

Survei IPNU Temukan, 50 Persen Pelajar Pakai Smartphone Sejak SD (Sumber Gambar : Nu Online)
Survei IPNU Temukan, 50 Persen Pelajar Pakai Smartphone Sejak SD (Sumber Gambar : Nu Online)

Survei IPNU Temukan, 50 Persen Pelajar Pakai Smartphone Sejak SD

"Itu hasil dari survei yang kami lakukan pada 113 siswa dari 400-an sekolah swasta Surabaya-Sidoarjo pada Februari 2016," kata Direktur Lembaga Penelitian dan Survei PW IPNU Jatim Abdullah Muhdi di sela peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-62 IPNU di Surabaya, Rabu.

Didampingi Ketua PW IPNU Jatim Haikal Atiq Zamzami, ia mengemukakan hal itu dalam peringatan Harlah ke-62 IPNU yang dihadiri Kasi Pendidikan Madrasah Kemenag Jatim H Supandi MPd, Guru Besar FISIP Unair Kacung Maridjan, dan Sekretaris PWNU Jatim Akhmad Muzakki.

Dalam acara yang dihadiri 60-an pengurus IPNU se-Jatim yang dimeriahkan dengan peluncuran lembaga penelitian/riset, lembaga penanggulangan NAPZA dan radikalisme, Majalah PASTI, laman IPNU Jatim, dan dialog pendidikan itu, ia menilai hasil itu cukup mengejutkan, karena 97 persen pelajar memanfaatkan alat komunikasi super canggih itu.

"Itu mengejutkan karena mereka masih tergolong SD, meski kami menemukan 59 persen penggunaannya masih positif yakni untuk berkomunikasi dengan orang tua, namun anak SD itu sangat tidak mandiri, karena itu kontrol isi chat/obrolan dari orang tua itu perlu," katanya.

Haedar Nashir

Apalagi, pihaknya menemukan ada prestasi pelajar yang merosot gara-gara smartphone, meski penggunaan smartphone terbagi dalam 59 persen untuk komunikasi, 11 persen musik, 8 persen browsing, 1 persen video, 3 persen abstain, dan 18 persen lainnya, termasuk untuk "game".

Terkait aplikasi yang digunakan pelajar, ia mengatakan 65 persen untuk Line, 2 persen FaceBook/Twitter, 17 persen Google, 7 persen Youtube, 6 persen BBM/WhatsApp, dan 3 persen abstain. "Jadi, FB, WA, dan twitter tak diminati pelajar," katanya.

Haedar Nashir

Menurut dia, IPNU berkepentingan dengan serangkaian survei pelajar/pemuda bukan sekadar untuk pendataan. "Dengan hasil survei itu, maka orang tua dan sekolah bisa bersikap solusi yang harus dilakukan, sedang bagi kami juga penting untuk merancang program," katanya.

Dalam kaitan solusi itu, Ketua IPNU Jatim Haikal Atiq Zamzami mengatakan siap bekerja sama dengan pihak sekolah, dinas pendidikan, Kemenag, pesantren, perguruan tinggi, dan para orang tua untuk melakukan diskusi guna mencari solusi yang tepat, karena organisasi pelajar (IPNU) lebih pas berbicara dengan pelajar.

"Kami sendiri memiliki Majalah Pasti untuk pelajar dan santri berprestasi, laman khusus pelajar dan santri, dan lembaga penanggulangan radikalisme dan NAPZA. Jadi, kami melakukan gerakan yang sistematis dan serius untuk pelajar dan santri," katanya.

Dalam dialog pendidikan Harlah ke-62 IPNU itu, Sekretaris PW NU Jatim Prof Akhmad Muzakki menilai IPNU memang merupakan kader andalan NU untuk masa depan, karena generasi masa depan yang dibutuhkan bangsa Indonesia adalah generasi berkarakter dan organik (bukan karbitan).

"Kalau hanya pintar bisa kita lakukan dengan mesin pencari internet, tapi kalau karakter itu memerlukan proses. Saran saya, IPNU harus melakukan diversifikasi kader, agar jangan sampai kader IPNU ke dunia politik saja, seperti kader dokter anak di Sidoarjo atau kader jurnalis di Surabaya," katanya.

Senada dengan itu, Prof Kacung Maridjan menyatakan bonus demografi akan dinikmati bangsa Indonesia pada 2035 atau 2045 bila tercetak kader-kader yang terdidik dan kreatif. "Bangsa ini masih mayoritas SMP dan perlu generasi kreatif lebih banyak. Itu kuncinya," katanya.

Sementara itu, Kasi Pendidikan Madrasah Kanwil Kemenag Jatim H Supandi mengaku 95 persen dari 19.155 madrasah (MI/MTs/MA) dan 211.000-an guru serta 3 jutaan siswa adalah pelajar NU, namun umumnya belum mengetahui IPNU. "Itulah tantangan sekarang," katanya. (Antara/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Hadits, Olahraga, Sholawat Haedar Nashir

Sabtu, 14 Januari 2012

Wabup Tegal: Isi Tahun Baru Masehi seperti Tahun Baru Hijriyah

Tegal, Haedar Nashir -

Merayakan tahun baru Masehi bagi umat Islam tidaklah akan merusak akidah. Sejauh perayaan mendatangkan kebaikan dan kemaslahatan bagi diri dan masyarakat, tentu itu lebih baik.

"Maka, songsonglah tahun baru Masehi ini sebagaimana kita menyongsong tahun baru Hijriah. Semarakkanlah keduanya untuk kepentingan kemaslahatan umat manusia," ujar Wakil Bupati Tegal, Hj Umi Azizah saat muhasabah atau refleksi tahun baru 2018 yang digelar Pemerintah Kabupaten Tegal di Masjid Al Hajj komplek alun-alun Hanggawana Slawi, Ahad (31/12) malam.

Menurutnya, tradisi merayakan pergantian tahun Masehi dengan melakukan hal positif tidak masalah, karena Islam membolehkan mengambil suatu kebiasaan dalam masyarakat yang dianggap baik. Islam tidak melarang mengikuti tradisi yang baik dari bangsa dan agama lain sejauh tradisi itu adalah sesuatu yang mendatangkan kebaikan bagi umat. “Untuk apa Nabi kita menyuruh untuk belajar jauh-jauh ke negeri Cina, kalau bukan untuk menimba pengetahuan positif yang mereka miliki?,” katanya di hadapan undangan. 

Wabup Tegal:  Isi Tahun Baru Masehi seperti Tahun Baru Hijriyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Wabup Tegal: Isi Tahun Baru Masehi seperti Tahun Baru Hijriyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Wabup Tegal: Isi Tahun Baru Masehi seperti Tahun Baru Hijriyah

Sedangkan untuk mencegah aksi hura-hura, berpesta-pora menghabiskan uang untuk sesuatu yang tidak ada faedahnya, akan lebih baik jika momentum malam pergantian tahun dimanfaatkan dengan berkumpul dan bersilaturrahim dengan kerabat dan kolega. “Berzikir bersama, mengadakan pengajian, termasuk muhasabah atau tafakkur untuk melakukan refleksi atas apa yang telah dilakukan selama setahun ini. Semua itu adalah hal-hal yang positif yang patut kita lestarikan," tandas Ketua PC Muslimat NU Tegal.

Berkaitan dengan kinerja pemerintahan, kata Umi, pada tahun 2017 ini Pemerintah Kabupaten Tegal bekerjasama dengan Kementerian Sosial RI berhasil menghentikan secara permanen empat lokalisasi prostitusi di wilayah Pantura yang meliputi Wandan, Gang Sempit, Peleman dan Turunan Pengasinan. 

Haedar Nashir

Hal ini berarti Kabupaten Tegal sudah terbebas dari lokalisasi prostitusi, setelah sebelumnya tahun 2015 lalu kita menutup operasional lokalisasi prostitusi Karanggondang Lebaksiu. 

"Untuk itu, pada kesempatan yang baik ini sekaligus saya mengajak kepada para pemimpin dan pemuka agama, tokoh spiritual untuk terus membimbing umat dan jamaahnya, untuk sungguh-sungguh menjalankan ajaran agamanya dengan benar,” pintanya.

Tidak berhenti sampai di situ, juga membangun dan menjaga kerukunan hidup sesama umat beragama. Terus berusaha menjadi contoh atas sikap, tutur kata dan tindakan yang sejuk dan mencerdaskan. Berikan pula keteladanan dan kepemimpinan tanpa meninggalkan nilai budaya dan kearifan lokal, lanjutnya.

Umi juga mengajak untuk bekerja nyata dengan terus mencari persamaan, bukan mempertajam perbedaan. Saling memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa, bukan saling melemahkan. Kita padukan energi positif yang kita miliki untuk mewujudkan Kabupaten Tegal yang mandiri, unggul, berbudaya, religius dan sejahtera. 

"Mari, kita tumbuhkan budaya saling menghargai dan saling menghormati, agar hidup kita membawa berkah kebahagiaan, kedamaian dan kesejahteraan bagi umat manusia," pungkasnya

Haedar Nashir

Muhasabah juga dihadiri Bupati Tegal Enthus Susmono, Sekda Tegal dokter Widodo Joko Mulyono, anggota Forkompimda Tegal, Ketua PCNU Kabupaten Tegal H Akhmad Wasyari, Ketua RMI NU Kabupaten Tegal KH Syamsul Arifin, sejumlah Ulama, para Kepala OPD dan masyarakat Kabupaten Tegal. (Hasan/Ibnu Nawawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pahlawan, Kyai, Ahlussunnah Haedar Nashir

Kamis, 12 Januari 2012

Kepengurusan Baru, NU Sukoharjo Siap Jawab Tantangan Zaman

Sukoharjo, Haedar Nashir. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Sukoharjo menggelar Konferensi Cabang (Konfercab) ke-6 di Kantor PCNU setempat, Sabtu (15/8). Pada gelaran tersebut, antara lain menghasilkan duet nahkoda baru.

Kepengurusan Baru, NU Sukoharjo Siap Jawab Tantangan Zaman (Sumber Gambar : Nu Online)
Kepengurusan Baru, NU Sukoharjo Siap Jawab Tantangan Zaman (Sumber Gambar : Nu Online)

Kepengurusan Baru, NU Sukoharjo Siap Jawab Tantangan Zaman

Kiai Abdullah Faishol, yang sebelumnya mengemban amanah Katib Syuriyah didapuk untuk menjadi Rais Syuriyah baru menggantikan KH Ahmad Baidlowi. Sedangkan untuk posisi Ketua Tanfidziyah, masih dipercayakan kepada M Nagib Sutarno untuk kembali memimpin kepengurusan PCNU Sukoharjo selama 5 tahun mendatang.

Usai terpilih, Kiai Faishol mengatakan harapannya untuk NU Sukoharjo pada kepengurusan mendatang. “NU? harus tetap eksis dan mampu menjawab tantangan zaman, membangun kedamaian dan peradaban,” ujarnya, kepada Haedar Nashir, Ahad (16/8).

Haedar Nashir

Dosen IAIN Surakarta itu menambahkan, dengan komposisi kepengurusan yang terdiri dari para kiai, akademisi, pegiat sosial, profesional dan kader terbaik NU Sukoharjo mestinya dapat menjadikan kepengurusan kali ini lebih baik dibandingkan sebelumnya.

Haedar Nashir

Pihaknya juga akan memberikan perhatian besar pada program pengkaderan dan pendidikan untuk anggotanya. “Pengkaderan dan pendidikan akan menjadi skala prioritas pada program kepengurusan ini,” imbuh Kiai Faishol.

Harapan serupa juga disampaikan salah satu tokoh NU Sukoharjo Lasimin. Ia berharap NU semakin tampil dan disegani masyarakat, khususnya di daerah Kota Makmur. “Selamat untuk Pak Faishol dan Pak Tarno, Semoga NU bisa ikut berperan lebih dalam membangun bangsa ini,” kata dia. (Ajie Najmuddin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Internasional Haedar Nashir