Minggu, 12 Agustus 2012

NU Kota Pekalongan Gelar Konfercab, Sejumlah Tokoh Ramaikan Pencalonan

Pekalongan, Haedar Nashir. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Pekalongan dijadwalkan Ahad (29/10) akan menggelar Konferensi Cabang (Konfercab) untuk memilih rais dan ketua masa khidmah 2017-2022.

NU Kota Pekalongan Gelar Konfercab, Sejumlah Tokoh Ramaikan Pencalonan (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Kota Pekalongan Gelar Konfercab, Sejumlah Tokoh Ramaikan Pencalonan (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Kota Pekalongan Gelar Konfercab, Sejumlah Tokoh Ramaikan Pencalonan

Kegiatan yang akan berlangsung di Gedung Aswaja, Jalan Sriwijaya 2 Pekalongan dihadiri delegasi dari Pengurus Majelis Wakil Cabang (MWC) dan Ranting NU se-Kota Pekalongan. 

Meski sesuai Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga hasil Muktamar di Jombang Jawa Timur bahwa konferensi cabang dihadiri dan dipilih oleh utusan dari MWC, akan tetapi karena PCNU Kota Pekalongan hanya memilik 4 MWC, maka sesuai dengan aturan PCNU dapat mengundang Ranting NU sebagai peserta.

Ketua Panitia Konfercab H Muhtarom mengatakan, untuk memastikan ranting NU bisa menjadi peserta yang memiliki hak pilih, pihaknya sedang berkonsultasi ke PWNU Jawa Tengah.

"Karena NU Kota Pekalongan hanya terdapat 4 MWC, maka panitia berkonsultasi ke PWNU untuk dapat mengundang ranting sebagai peserta penuh," ujar Muhtarom yang juga Sekretaris PCNU Kota Pekalongan.

Haedar Nashir

Dikatakannya, ada empat komisi yang akan dibahas dalam konfercab, yakni bahtsul masail diniyah, program kerja, rekomendasi dan organisasi. Akan tetapi selain empat komisi yang akan dibahas, menurut Muhtarom ada satu hal yang ramai dibahas sebelum Konfercab, yakni figur yang menakhodai PCNU Kota Pekalongan lima tahun mendatang.

Meski dalam penentuan rais syuriyah tidak lagi menggunakan sistem voting, namun sistem baru yakni ahlul halli wal aqdi (Ahwa) tetap menjadi menarik bagi peserta konfercab.

Pasalnya, banyak figur yang dimunculkan selain rais sekarang yang masih menjabat KH Zaenuri Zainal Mustofa, beberapa kandidat rais berupaya dimunculkan antara lain KH Abdul Fatah Yasran, KH Zakaria Ansor dan KH Romadlon Abdul Jalil. 

Haedar Nashir

Sedang di jajaran Tanfidziyah yang masih menggunakan voting ada beberapa nama bermunculan antara lain KH Romadlon Abdul Jalil, H Salahudin, H Tubagus Surur, dan H Muhtarom.

Acara Konfercab yang bakal dibuka oleh PWNU Jawa Tengah juga akan diisi pameran foto-foto kegiatan PCNU selama lima tahun terakhir oleh Lembaga Talif Wan Nasr (LTN) NU Kota Pekalongan.  

Beberapa kegiatan sebelum Konfercab yang berhasil digelar  antara lain Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (PKPNU) angkatan ketiga, Muskercab  3, apel peringatan hari santri nasional, dan pembacaan 1 miliar sholawat nariyah. (Abdul Muiz/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pertandingan Haedar Nashir

Sabtu, 28 Juli 2012

Habib Syech: Keberhasilan Memerlukan Pengorbanan

Sleman, Haedar Nashir. Tidak ada orang yang berhasil tanpa berkorban. Semakin besar pengorbanan, semakin besar pula peluang untuk menuju keberhasilan. Kita mengetahui betapa Nabi Ibrahim as dengan tulus melakukan segala ? pengorbanan semata-mata untuk Allah SWT. Karenanya pantas, jika Nabi Ibrahim menyandang gelar Khalilullah.

Habib Syech: Keberhasilan Memerlukan Pengorbanan (Sumber Gambar : Nu Online)
Habib Syech: Keberhasilan Memerlukan Pengorbanan (Sumber Gambar : Nu Online)

Habib Syech: Keberhasilan Memerlukan Pengorbanan

Demikian ungkap Habib Syech bin Abdul Qadir Assegaf pada acara Dzikir dan Shalawat dalam rangka Walimatussafar Ibadah Haji di dusun Turgo Gede, Sleman, Yogyakarta, Selasa (25/8) malam. Habib Syech Mengajak para jamaah untuk mencontoh Nabi Ibrahim yang selalu ikhlas ketika Allah SWT mengujinya.

"Cobaan terberat bagi Nabi Ibrahim adalah ketika Allah mengujinya dengan perintah mengorbankan Ismail putranya. Sementara Ismail adalah anak yang telah lama dinantikan oleh Nabi Ibrahim. Namun demikian, Nabi Ibrahim tetap melaksanakan perintah Allah SWT, lantaran ketaqwaan Ibrahim kepada Tuhannya" kata Habib Syech.

Haedar Nashir

Demikian pula, lanjut Habib Syech, Ismail sebagai putra dengan legowo mentaati inatruksi ayahnya, lantaran mengetahui bahwa yang demikian itu adalah perintah Allah SWT. Padahal usia Ismail kala itu tergolong muda. Bahkan terbilang usia kanak-kanak. "Inilah bukti konkret, bahwa karunia Allah berupa anak yang sholeh lantaran orang tua yang selalu berdoa untuk anaknya," tegasnya.

Haedar Nashir

Habib Syech mengatakan, jika menginginkan keluarga yang indah dan baik, tirulah Nabi Ibrahim. Ketika menanti kehadiran putra tercintanya, Nabi Ibrahim dan istrinya selalu berdoa (rabbi habli mina al-sholihin) kepada Allah SWT. Ketangguhan Ibrahim sebagai suami dan ayah juga perlu dicontoh. Sementara kesabaran Siti Hajar sebagai istri juga penting dalam membangun keluarga yang baik. Karenanya, tidak heran jika Nabi Ibrahim dikaruniai putra seorang Ismail dengan kepribadian yang istimewa.

"Jika menginkan hadirnya anak yang sholeh tirulah juga Nabi Ibrahim, yang tidak pernah putus asa berdoa kepada Allah SWT. Sebab, Doa orang tua untuk anaknya adalah penting, supaya kedepannya tercetak generasi-generasi yang baik dan bermutu. ? Selain itu, yang tidak kalah penting juga adalah mendidik anak dengan baik, agar tidak salah langkah dalam mengambil jalan" terang Habib Syech

Habib Syech mengingatkan kepada kaum muda, bahwa satu kebaikan anak muda lebih baik dari seratus kebaikan yang dilakukan orang tua. ? Hal demikan karena usia muda adalah masa dimana berbagai persoalan semakin kompleks dan butuh langkah taktis untuk memutuskan sesuatu. (Anwar Kurniawan/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Tokoh Haedar Nashir

Kamis, 19 Juli 2012

GP Ansor Wonosobo “Genjot” Aswaja Ranting

Wonosobo, Haedar Nashir. Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Wonosobo, Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah menggenjot pemahaman Islam Ahlussunah wal-Jamaah di tingkat Ranting-ranting. Kegiatan tersebut akan digelar tiap dua minggu sekali secara bergiliran.

Ketua Pimpinan Anak Cabang (PAC) Kecamatan Wonosobo, Slamet Nurochman mengatakan, kegiatan rutin yang akan digelar tiap Jumat malam tersebut diformat dengan agenda mujahadah, kajian kitab kuning, dan diskusi.

GP Ansor Wonosobo “Genjot” Aswaja Ranting (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Wonosobo “Genjot” Aswaja Ranting (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Wonosobo “Genjot” Aswaja Ranting

Tujuannya, Slamet menerangkan, sebagai silaturahim antar-anggota dan pengurus, sehingga komunikasi lebih efektif dan up to date, “Dalam pertemuan itu, peserta bebas mengutarakan unek-unek, juga membicarakan program yang sedang dan akan dijalankan,” katanya kepada NU Online di kediamannya, Senin (13/5).

Haedar Nashir

Salamet menambahkan, kegiatan tersebut akan dipusatkan di masjid sebagai tindak lanjut Rakornas GP Ansor yang mewajibkan pengkaderan digelar di tiap-tiap masjid, “Kegiatan ini adalah turba (turun ke bawah) yang akan dimulai minggu depan. Pengurus PAC siap diterjunkan secara bergiliran,” tambahnya.

Upaya lain menggenjot Aswaja, sambung Slamet, dalam waktu dekat akan menggelar pelatihan kader NU. Kegiatan tersebut intinya adalah pemantapan pemahaman dan penanaman Aswaja An-Nahdhiyyah supaya melekat di hati kader, “Kita tak ingin kader sekadar cashing, tapi bisa berguna untuk kemajuan NU secara jamaah dan jamiyyah," pungkasnya.

Haedar Nashir

Redaktur? ? ? ? ? ? : Abdullah Alawi

Kontributor? ? : Budi BH

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Anti Hoax, Kajian, Daerah Haedar Nashir

Selasa, 10 Juli 2012

Kaderisasi IPNU di Indonesia Timur Butuh Perhatian

Makassar, Haedar Nashir. Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Sulawesi Selatan menilai, proses kaderisasi IPNU di Indonesia Timur hingga saat ini masih jauh tertinggal di banding daerah-daerah lain, khususnya di Pulau Jawa. Pimpinan Pusat mesti memberi perhatian lebih terhadap persoalan ini.

Kaderisasi IPNU di Indonesia Timur Butuh Perhatian (Sumber Gambar : Nu Online)
Kaderisasi IPNU di Indonesia Timur Butuh Perhatian (Sumber Gambar : Nu Online)

Kaderisasi IPNU di Indonesia Timur Butuh Perhatian

Demikian aspirasi yang akan disampaikan Ketua PW IPNU Sulsel Ramli Syamsuddin  pada rapat kerja nasional (Rakernas) yang bersamaan dengan peringatan Hari Lahir ke-60 IPNU di Aula Perpustakaan Nasional, Jakarta, 24-27 Februari 2014. Ramli menegaskan rencana tersebut pada rapat persiapan IPNU Sulsel menghadiri Rakernas, Ahad Malam.

Menurut dia, usia 20-25 tahun dalam proses kaderisasi menjadi tumpuan bagi kelanjutan generasi kepemimpinan NU maupun bangsa secara luas. Ramli juga menegaskan, IPNU Sulsel siap menjadi tuan rumah kegiatan kaderisasi nasional.

Haedar Nashir

IPNU Sulsel berharap, melalui forum Rakernas ini, IPNU dapat menghasilkan keputusan-keputusan startegis, mulai dari soal manajemen organisasi, penguatan basis data, penguatan sistem manajemen informasi, serta sinergitas program kerja dari pusat hingga ranting.

Haedar Nashir

Melalui pokok pikiran tersebut, IPNU Sulsel berharap, ke depan IPNU bisa jauh lebih baik dan mampu membuktikan pengabdiannya terhadap bangsa, sesuai dengan motonya, “Belajar Berjuang Bertaqwa”. (Andy/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ulama, Khutbah, Pahlawan Haedar Nashir

Kamis, 05 Juli 2012

Santri Seblak Sambut Haflah dengan Sepak Bola Api

Jombang, Haedar Nashir . Di semua pondok pesantren, berbagai kegiatan dihelat untuk menyambut akhir tahun pelajaran (haflah). Ini juga yang dijumpai di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Seblak, Diwek, Jombang, Jawa Timur. Sabtu (13/6), semua santri putra berkumpul di lapangan sepak bola. Malam itu mereka menggelar pertandingan sepak bola api.

Kegiatan ini adalah rangkaian akhir tahun pelajaran di pondok Seblak. “Acara ini sangat ditunggu para santri sebelum mereka liburan, bahkan tidak jarang juga ditonton oleh masyarakat sekitar, karena memang selalu ramai dari tahun ke tahun,” kata Ketua Pengurus Pondok Pesantren Seblak, Arif Wicaksono.

Santri Seblak Sambut Haflah dengan Sepak Bola Api (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Seblak Sambut Haflah dengan Sepak Bola Api (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Seblak Sambut Haflah dengan Sepak Bola Api

Seperti tahun lalu, pertandingan pun dimulai tepat pukul 19.30 WIB. Setiap tim terdiri dari lima pemain. “Aturan pertandingan sama dengan pertandingan futsal seperti biasa,” kata Fery Sriafandi, salah satu guru pondok. Jika sudah menang dua gol, maka tim yang kalah akan diganti tim lainnya.

Namun jika sampai tidak terjadi gol, pertandingan diakhiri dalam durasi 20 menit. “Itu untuk menjaga agar bola tetap diselimut kobaran api,” lanjut Fery.

Malam itu sengaja disiapkan enam kelapa yang sudah direndam minyak tanah sehari sebelumnya. “Tidak ada persiapan atau ritual khusus, cuma pemainnya sengaja kita ambil dari santri yang sudah SLTA,” imbuhnya. “Cuma anak-anak pasti tidak ada yang berani melakukan sundulan bola dengan kepalanya,” katanya lantas tertawa.

Haedar Nashir

Saat kick off dimulai, sorak sorai dari para santri di pinggir lapangan ramai terdengar. Baik santri putra maupun putri. Saat bola tidak sengaja keluar lapangan, para penonton pun semburat berlarian. “Ya jelas takut dengan kobaran apinya,” kata Nurul Yani, warga sekitar pondok yang mengaku datang sekeluarga untuk menonton.

Saat terjadi gol, justru ganti para penonton yang masuk ke lapangan untuk merayakan. Namun situasi kembali kondusif saat bola api sudah berada di dalam lapangan. Pertandingan pun dilanjutkan sampai terjadi gol berikutnya.

Malam itu, sampai terjadi lima kali pergantian tim. Artinya, sudah terjadi sepuluh gol. “Anak-anak ternyata antusias, meski awalnya masih takut untuk menendang bola api,” jelas Fery.

“Awalnya memang takut saat api berkobar dari bola, namun setelah ditendang tidak terasa panas,” kata Alifil Ma’luf, salah satu pemain. Siswa kelas X SMK Khoiriyah Haysim Seblak ini mengaku baru pertama kali ikut pertandingan sepak bola api. “Ternyata asyik juga main sepak bola api, tidak seperti yang saya takutkan selama ini,” ujarnya.

Haedar Nashir

Saking semangat, tim yang dipimpin Alifil menang sampai tiga babak. “Hanya satu babak yang kami cuma menang 1-0,” imbuhnya. Sedangkan tim lainnya maksimal menang di satu babak.

Hal senada juga diungkapkan Eko Santoso. Santri dari Nganjuk ini mengaku tidak ada pemain yang mengalami cedera. “Padahal teman-teman tidak ada persiapan khusus untuk ikut pertandingan ini,” katanya. “Apalagi puasa khusus, ya ini kan cuma bermain saja sebelum santri pulang masuk menikmati liburan,” ujarnya.

Pertandingan bola api ini akhirnya ditutup dengan makan bersama. “Menunya khas pondok, sambal terong dan tempe penyet,” ujar Fery. Masakan itu, lanjutnya, semua diolah para santri. Termasuk singkong rebus. “Agenda penutup itu untuk semakin mengakrabkan semua santri,” pungkasnya. (Mukani/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Anti Hoax, IMNU, Bahtsul Masail Haedar Nashir

Selasa, 03 Juli 2012

Dinilai Islam Ramah, Jepang Undang Santri NU dan Muhammadiyah

Jakarta, Haedar Nashir

Melalui program Jenesys 2017, pemerintah Jepang memilih santri, pemuda dan pelajar Indonesia ke Jepang selama 9 hari untuk memngenalkan Islam khas Indonesia. Pemerintah Jepang memilih dua puluh peserta yang terdiri dari santri, pelajar dan pemuda dari NU dan Muhammadiyah. Jepang memilih peserta dari dua ormas tersebut karena dinilai mengajarkan Islam ramah.

Dinilai Islam Ramah, Jepang Undang Santri NU dan Muhammadiyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Dinilai Islam Ramah, Jepang Undang Santri NU dan Muhammadiyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Dinilai Islam Ramah, Jepang Undang Santri NU dan Muhammadiyah

Para peserta tiba di Tokyo, Jepang sejak Rabu (11/1). Setibanya di negara tersebut, para peserta langsung mendapatkan kuliah umum dari Executive Managing Diretor dari Strategic International Management Associate (SIMA) Prof. Hideo Kimura.

Menurut Prof. Hideo Kimura program Japan East Asia Network Exchange For Students and Youths (Jenesys 2016) sangat bagus agar masyarakat kedua belah negara ini saling mengenal kebudayaan satu sama lain.

Haedar Nashir

“Saya yakin program ini sukses dan memberi keuntungan bagi kedua belah pihak,” tuturnya.

Haedar Nashir

Menurut pria pemilik lisensi pengajar pilot di perusahaan pesawat raksasa Amerika, Boeing, itu, Jepang telah maju tanpa meninggalkan identitas pribadinya sehingga dapat menjadi contoh bagi negara lain.

Kemajuan Jepang saat ini salah satunya telah berhasil membuat benang bercahaya yang terbuat dari sutra. Tak hanya itu Jepang juga telah berhasil membuat jarum suntik yang tidak sakit saat digunakan karena besar jarum yang sangat kecil. Bahkan diameter jarum sutik tersebut mencapai 0.18 mm, lebih kecil dari diameter rambut manusia dan tetap berlubang.

Wakil Sekretaris Jenderal PBNU H. Imam Pituduh mengatakan, dirinya sangat berantusias atas permintaan pemerintah Jepang tersebut. Menurutnya program tersebut diharapkan santri dan pemuda Nahdlatul ulama dapat menambah pengalaman dan belajar kebudayaan Jepang.

“Permintaannya kan kita disuruh mengenalkan keislaman khas NU yang sering dikenal dengan Islam Nusantar. Selain itu, tentu kami sangat antusias agar para santri dapat belajar berbagai hal di sana,” tutur koordinator peserta dari Nahdlatul Ulama tersebut.

Senada dengan Imam Pituduh, koordinator peserta dari Muhammadiyah Debby Affianty mengatakan, para peserta Muhammadiyah juga sangat antusias dalam mengikuti program tersebut. (Hasyim Habiby/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Sholawat Haedar Nashir

Selasa, 26 Juni 2012

Gubernur Sulut Dukung Program Merawat Kebinekaan NU

Manado, NU Onine 

Gubernur Sulawesi Utara Olly Dondokambey menghargai dan mendukung peran-peran yang selama ini telah dilakukan oleh Nahdlatul Ulama dalam menjaga keharmonisan hubungan antaragama. Apa yang dilakukan oleh NU selaras dengan program pemerintah.

Olly menjelaskan, Sulawesi Utara selama ini telah menjadi miniatur kebinekaan Indonesia. Jauh sebelum ada Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), di Sulut sudah memiliki Badan Kerjasama Antar Umat Beragama. 

Gubernur Sulut Dukung Program Merawat Kebinekaan NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Gubernur Sulut Dukung Program Merawat Kebinekaan NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Gubernur Sulut Dukung Program Merawat Kebinekaan NU

“Bagi kami, sangat-sangat penting agar seluruh masyarakat di Sulut mendengar peran NU seperti apa,” katanya saat memberikan sambutan dalam acara pra-Munas dan Konbes NU dengan tema NU dan Kebinekaan yang diselenggarakan di Manado, Sulawesi Utara, (11/11). 

Untuk mendukung kegiatan NU ini, pemerintah Sulut akan memberikan dukungan dana melalui APBD untuk menjalankan kegiatan-kegiatan organisasi dan dakwah sehingga aktifitas NU bisa sampai ke tingkat kecamatan.

Ia mengaku prihatin dengan banyaknya informasi hoaks yang menyebar dengan cepat melalui media sosial. Karena itulah, para pemimpin harus turun ke bawah untuk menyapaikan informasi yang benar.  

Haedar Nashir

“Banyak hal yang perlu kerjasama antara pemerintah dan tokoh agama agar ketenteraman dan kedamaian terus berjalan,” tandasnya.

Manado sendiri merupakan wilayah yang diapit oleh daerah konflik. Terakhir, konflik di Marawi, Filipina yang lokasinya sangat dekat dengan Sulut. Tapi karena peran tokoh agama, aparat keamanan dan masyarakat, serta pihak lainnya, maka konflik tersebut tidak meluas ke Manado. (Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir

Haedar Nashir AlaNu, Hadits Haedar Nashir