Senin, 13 Februari 2017

Buku Kumpulan Khutbah Bisnis dan Keuangan Syariah Dikaji di UIN Raden Intan

Bandarlampung, Haedar Nashir - Sebagai penduduk muslim terbanyak di dunia, Indonesia memiliki potensi yang sangat besar dalam pengembangan ekonomi syariah. Tetapi sampai saat ini perkembangan ekonomi syariah belum memperlihatkan tren positif. Hal ini terlihat sejak tahun 1994 sampai dengan saat ini, pengguna jasa ekonomi syariah di Indonesia baru mencapai 5 % dari total umat Islam Indonesia.

Fakta ini disampaikan oleh salah satu Dewan Perbankan Syariah Provinsi Lampung Alamsyah saat menjadi keynote speaker pada acara bedah buku Kumpulan Khutbah Bisnis dan Keuangan Syariah kerja sama Otoritas Jasa Keuangan Provinsi Lampung dan MUI Provinsi Lampung di Aula Fakultas Syariah UIN Raden Intan Lampung, Selasa (12/12).

Buku Kumpulan Khutbah Bisnis dan Keuangan Syariah Dikaji di UIN Raden Intan (Sumber Gambar : Nu Online)
Buku Kumpulan Khutbah Bisnis dan Keuangan Syariah Dikaji di UIN Raden Intan (Sumber Gambar : Nu Online)

Buku Kumpulan Khutbah Bisnis dan Keuangan Syariah Dikaji di UIN Raden Intan

Padahal menurutnya, ekonomi syariah sangat penting bagi umat Islam dalam melakukan amaliah perekonomian sehingga sesuai dengan kaidah dan hukum dalam agama. Ketika semua hasil pergerakan ekonomi dilakukan sesuai dengan kaidah syari maka tentunya harta yang didapatkan akan berkah.

Haedar Nashir

"Mari Syiarkan Ekonomi Syariah dan Syariahkan Ekonomi Indonesia. Umat Islam wajib kaya. Karena ketika umat Islam tidak menguasai ekonomi ini merupakan sumber kemunduran umat Islam," ajaknya di depan peserta bedah buku yang terdiri dari para Ulama dan pengurus MUI Lampung serta Ormas Islam ini.

Dekan Fakultas Syariah UIN Raden Intan Lampung ini mengingatkan juga bahwa salah satu permasalahan saat ini yang dihadapi umat Islam adalah kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan. Hal ini merupakan target dari pihak luar untuk melemahkan umat Islam.

Haedar Nashir

"Satu keluarga miskin memiliki potensi 10 kali lipat menghasilkan keluarga miskin. Kefakiran akan mampu membuat orang menjadi kufur," tegasnya.

Awan PWNU Lampung ini mengingatkan agar para kiai lebih concern terhadap permasalahan ekonomi umat dengan memberikan motivasi kewirausahaan sehingga umat mampu lebih baik tingkat ekonominya.

"Setidaknya satu bulan sekali ada materi khutbah Jumat terkait dengan penguatan ekonomi umat. Karena permasalahan dan pembahasan yang dihadapi umat bukan hanya surga, neraka, pahala dan dosa tetapi persoalan ekonomi juga selalu dihadapi dalam kehidupan sehari-hari," katanya.

Selain Alamsyah, ada tiga narasumber lain yang mengisi materi pada acara tersebut. Ketiga pemateri tersebut adalah Kepala OJK Provinsi Lampung Indra Krisna, Ketua Umum MUI Provinsi Lampung KH Khairuddin Tahmid, dan Pakar Perbankan Syariah Ridwansyah. (Muhammad Faizin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Quote Haedar Nashir

Sabtu, 11 Februari 2017

GP Ansor Pringsewu Rekrut Kader Via Online

Jakarta, Haedar Nashir. Pengurus Harian GP Ansor Pringsewu akan menggunakan sistem online untuk merekrut calon anggota Ansor dan Banser. Sistem ini rencananya akan diberlakukan saat rekrutmen calon peserta PKD Ansor dan Diklatsar Banser Angkatan II yang akan diselenggarakan pada akhir Desember 2015 ini.

Sistem itu saat ini sedang dikerjakan. Targetnya pada awal Oktober sudah bisa diuji coba dan dipakai dalam rekrutmen.

GP Ansor Pringsewu Rekrut Kader Via Online (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Pringsewu Rekrut Kader Via Online (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Pringsewu Rekrut Kader Via Online

Menurut Sekretaris Bidang Pendidikan, Kaderisasi, dan Ideologi Henudin, "Sudah saatnya Ansor Pringsewu menerapkan program-programnya melalui teknologi supaya akses informasi lebih cepat dan mudah. Jangan sampai organisasi sebesar ini ketinggalan zaman dan tidak ngerti teknologi alias gaptek."

Haedar Nashir

Saat ? rapat koordinasi bidang kaderisasi di Sekretariat GP Ansor Ambarawa, Ahad (6/9) sore, Henudin menambahkan bahwa sistem ini akan menyatu pada web-blog GP Ansor Pringsewu. Ia berharap ketika calon peserta PKD Ansor dan Diklatsar Banser Angkatan II mendaftarkan diri, mereka secara tidak langsung dapat mengetahui informasi-informasi tentang ke-NUan, Ke-Ansoran, ke-Banseran, dan lain sebagainya.

“Sehingga ketika mereka digembleng pada kegiatan itu, mereka sudah memiliki pengetahuan tentang ke-NUan dan sebagainya.”

Haedar Nashir

Calon peserta yang akan mendaftarkan diri, kata Henudian, cukup masuk ke laman http://ansorpringsewu.blogspot.co.id kemudian pilih tab Registrasi, mengisi data secara lengkap berdasarkan form yang tersedia di sana. Setelah data lengkap maka calon peserta akan mendapat balasan melalui email ataupun kontak sesuai dengan data yang dikirim.

Jika peserta mengalami kesulitan, tersedia pula form manualnya dan peserta bisa mengunduhnya sendiri kemudian melengkapinya. Kemudian form langsung diserahkan ke Sekretariat PAC GP Ansor di masing-masing daerahnya untuk diverifikasi. Peserta yang sudah diverifikasi bisa mengikuti kegiatan PKD Ansor atau Diklatsar Banser Angkatan II. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Hadits, Fragmen, News Haedar Nashir

Jumat, 10 Februari 2017

Ilmu Fiqih, Senjata untuk Solusi Ragam Persoalan

Jakarta, Haedar Nashir. NU selalu membuka forum bahtsul masail ketika ada masalah yang berkembang di masyarakat untuk dicarikan solusinya. Forum tersebut tidak hanya pada Muktamar, Konbes, atau Munas, dan tidak hanya di tingkat pusat, tapi PWNU atau PCNU. Bahkan di tingkat Ranting.

Baru-baru ini, PBNU menggelar bahtsul masail perihal kewarganegaraan ganda yang diadakan di Gedung PBNU, Selasa (20/9) siang. Para kiai berdiskusi dengan pelbagai kalangan dengan latar belakang yang beragam untuk membahasnya. Senjata para kiai dalam berduskusi tersebut adalah ilmu fiqh. Kenapa ilmu fiqih?

Ilmu Fiqih, Senjata untuk Solusi Ragam Persoalan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ilmu Fiqih, Senjata untuk Solusi Ragam Persoalan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ilmu Fiqih, Senjata untuk Solusi Ragam Persoalan

Menurut Rais Aam PBNU KH Ma’ruf Amin, ilmu tersebut berupaya menyelesaikan masalah, baik di bidang ekonomi, sosial budaya, bahkan politik. “Penyelesaiannya kan fiqih. Solusinya itu fiqih,” katanya kepada Haedar Nashir beberapa waktu lalu ketika ditanya tentang fungsi ilmu fiqih. ?

Haedar Nashir

Fiqih itu cara berpikir secara kontekstual untuk menyelesaikan masalah. “Ilmu fiqih itu ilmu duniawi, ilmu untuk bisa menyelesaikan persoalan. Fiqih itu kan ijtihadi, istinbati, bagaimana membuat ijtihad dan istinbat dari nash-nash yang ada maupun dari pendapat-pendapat yang sudah ada,” jelasnya.

Haedar Nashir

Ketika tidak ada pendapat, lanjutnya, maka kita melakukan istinbat jama’i. Ketika ada pendapat, tapi sudah tidak relevan lagi, kita melakukan telaah ulang.

Rais Syuriyah PBNU KH Ahmad Ishomudin di gedung PBNU, Jakarta Rabu (21/9) mengatakan, di tangan orang yang menguasai perangkat ilmu fiqih, perbuatan mukallaf, apa saja yang dilakukan orang ada hukumnya. Semua perbuatan manusia ada hukumnya, termasuk garuk-garuk, hukumnya mubah atau boleh.

“Untuk menyatakan sesuatu perbuatan itu dilarang, harus bisa menunjukkan dalil yang melarang. Jika suatu perbuatan tidak ada dalil yang melarangnya maka hukumnya mubah dilakukan,” jelasnya.

Sumber hukum dalam Islam itu Al-Qur’an dan Sunah Nabi. Tetapi ada namanya ijma’ yang disepakati yang tidak boleh bertentangan dengan dua hukum pokok, Al-Qur’an dan Sunah. Jika tidak dijelaskan dalam ketiganya itu dilakukan dengan qiyas, menyamakan kasus hukum baru dengan lama yang ada nashnya karena ada alasan kesamaan hukum. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Hikmah, Halaqoh Haedar Nashir

Kamis, 09 Februari 2017

Pagar Nusa Kartasura Sahkan Anggota Baru

Sukoharjo, Haedar Nashir. Pencak Silat Nahdlatul Ulama (PSNU) Pagar Nusa Kartasura menggelar acara pengesahan anggota baru yang dilaksanakan di komplek Pesantren Al Fattah Krapyak Kec. Kartasura Sukoharjo Jawa Tengah.

Menurut Rosyid salah satu koordinator PN Kartasura, pengesahan anggota angkatan ketiga ini diikuti oleh 53 peserta.  "Turut kami undang pula saudara anggota Pagar Nusa  se-Solo Raya dan sekitarnya", ungkapnya kepada Haedar Nashir, Kamis (6/11).

Pagar Nusa Kartasura Sahkan Anggota Baru (Sumber Gambar : Nu Online)
Pagar Nusa Kartasura Sahkan Anggota Baru (Sumber Gambar : Nu Online)

Pagar Nusa Kartasura Sahkan Anggota Baru

Adapun tujuan pengesahan agar para anggota benar-benar mengerti terhadap  visi dan misi Pagar Nusa, yaitu ber-Aqidah ala Ahlussunnah wal Jama’ah dengan asas organisasi Pancasila, ungkapnya

Haedar Nashir

Selain itu, agar para anggota Pagar Nusa Solo Raya yang baru disahkan untuk terjalin silaturrahim lebih erat lagi, pungkasnya.

Haedar Nashir

Sementara dalam acara yang digelar semenjak pukul 20.00 hingga 04.30 tersebut, tampak digelar acara tasyakuran serta khataman al Quran. (Ahmad Rosyidi/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kyai, Ulama, Anti Hoax Haedar Nashir

Minggu, 05 Februari 2017

PDIP Berkomunikasi dengan NU dan Muhammadiyah Terkait Calon Gubernur DKI

Mataram, Haedar Nashir



Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto mengakui saat ini DPP PDIP masih terus melakukan komunikasi dan dialog untuk menjaring calon Gubernur DKI Jakarta, termasuk berkomunikasi dengan dua organisasi Islam terbesar di Indonesia, Nahdatul Ulama dan Muhammadiyah.?

"Dialog-dialog secara instens terus kami lakukan, termasuk dengan NU dan Muhammadiyah. Karena, kita tahu mereka merupakan organisasi yang berkeringat membentuk negeri ini, bersama PDIP," kata Hasto Kristiyanto seusai membuka Rapat Kerja DPD PDIP se-Nusa Tenggara Barat di Mataram, Selasa.

PDIP Berkomunikasi dengan NU dan Muhammadiyah Terkait Calon Gubernur DKI (Sumber Gambar : Nu Online)
PDIP Berkomunikasi dengan NU dan Muhammadiyah Terkait Calon Gubernur DKI (Sumber Gambar : Nu Online)

PDIP Berkomunikasi dengan NU dan Muhammadiyah Terkait Calon Gubernur DKI

Ia menjelaskan, dalam menjaring calon pemimpin, terlebih lagi DKI Jakarta, PDIP sangat terbuka menerima masukan dari siapapun. Baik itu dari partai politik (parpol) maupun organisasi lain, seperti NU dan Muhammadiyah. Hal ini dilakukan untuk mencari pemimpin atau kepala daerah yang bagus.

"Kami sangat menerima masukan dari organisasi keagamaan terbesar itu," ujarnya.?

Haedar Nashir

Untuk itu, kata dia, PDIP menghadapi pilkada DKI, pihaknya menggunakan sistem jemput bola," ucapnya.

Sementara itu, ditanya peluang Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini. Hasto mengakui masih terbuka ruang bagi Tri Rismaharini untuk bisa diusung menjadi calon Gubernur DKI Jakarta menantang petahana Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok.

"Ibu kota sebagai kebanggaan kita. Tentu saja PDIP akan membuka diri terhadap hadirnya pemimpin terbaik untuk membangun DKI. tentu saja setiap pemimpin yang memiliki karakter karena keberpihakan kepada wong cilik," jelasnya.?

Haedar Nashir

Namun demikian, meski berpeluang untuk dicalonkan menjadi Cagub DKI, keputusan akhir ada pada Ketua DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarno Putri, sebagai representase dari pemetaan politik. Hasil survei dan bagaimana suara dari struktur partai yang nanti menjadi penggerak.(Antara/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Amalan Haedar Nashir

Lelaki Ta’lim Muta’allim

Oleh: Umi Rahayu Fitriyanah

Matahari sore itu belum sepenuhnya kembali ke peraduan, ketika setiap santri khusyu mendengarkan penjelasan Pak Kiai tentang kitab Ta’limul Muta’allim. Kitab yang sudah sangat masyhur di kalangan pesantren dan mengkaji mengenai tata cara menuntut ilmu. Tidak hanya menuntut ilmu, tapi menuntut ilmu yang barokah dan bermanfaat bagi kehidupan dunia dan akhirat.

Lelaki Ta’lim Muta’allim (Sumber Gambar : Nu Online)
Lelaki Ta’lim Muta’allim (Sumber Gambar : Nu Online)

Lelaki Ta’lim Muta’allim

Dan Fatimah, gadis berjilbab putih dengan paras manis berada di antara ratusan santri tersebut yang sedang larut dalam kekhusyuan menyimak penjelasan Pak Kiai mengenai kitab itu.

Rabu itu hari sangat cerah, rutinitas pesantren berjalan dengan normal, dan seperti biasa Pak Kiai dengan penuh tawadhu memberikan penjelasan mengenai kitab Ta’lim Muta’allim, sesuai dengan jadwal pengajian kitab kuning setiap sore. Fatimah hanya menundukkan kepala, berusaha mencerna dengan baik setiap penjelasan Pak Kiai, mencernanya agar bisa menjadi asupan untuk akal dan hatinya.

Haedar Nashir

Namun, usahanya menyimak penjelasan Pak Kiai sore itu tampaknya sia-sia, ada hal yang mengganggu konsentrasi Fatimah saat mengaji sore itu. Penjelasan Pak Kiai tidak terlalu dihiraukannya, penjelasan panjang itu hanya berputar-putar di otak Fatimah, terus memaksa masuk ke telinganya, tapi tidak ke pikirannya.

“Para penuntut ilmu dianjurkan untuk menghormati ilmu, namun tidak hanya ilmu yang harus dihormati, tapi orang-orang yang mengajarkan ilmu juga agar mendapat keberkahan ilmu. Sayidina Ali karamallahu wajhah pernah berkata,”Aku adalah sahaya (budak) orang yang mengajarku walau hanya satu huruf. Jika dia mau silahkan menjualku, atau memerdekakan aku, atau tetap menjadikan aku sebagai budaknya. Itulah Sayidina Ali yang sangat menghormati ilmu”, tutur Pak Kiai.

Haedar Nashir

“Bahkan dalam satu bagian dalam kitab ini ada penjelasan bahwa para penuntut ilmu jangan mengetuk pintu rumah guru, tapi sebaliknya menunggu sampai keluar, itu merupakan salah satu bentuk penghormatan terhadap guru, orang yang memberikan kita ilmu”, kembali Pak Kiai memberikan penjelasan dengan sangat bersahaja setelah mengharokati kitab gundul Ta’lim Muta’allim dan memberi arti dengan bahasa Jawa. Dan lagi-lagi hanya tertangkap oleh telinga Fatimah, tidak dengan pikirannya. ?

Sosok itu, lelaki yang terpaut 2 tahun lebih tua dari usia Fatimah bermain dalam pikirannya. Pikiran yang entah datang dari mana, tapi penjelasan Pak Kiai sore itu memang mengingatkannya pada sosok Mas Ahmad, kakak kelasnya di sekolah dan di pesantren. Pikirannya tanpa diminta mengulang kejadian pagi itu. Fatimah teringat kejadian saat dia sedang mendapat giliran piket membersihkan halaman rumah Pak Kiai, ada sosok Mas Ahmad yang sedang berdiri di depan pintu rumah Pak Kiai, hanya berdiam. Tanpa mengucapkan sepatah katapun atau mengetuk pintu rumah Pak Kiai.

Setiap orang yang berlalu lalang di halaman depan rumah Pak Kiai pasti memiliki pertanyaan yang sama mengenai sikap Mas Ahmad pagi itu, tak terkecuali Fatimah. Namun, dia tidak membiarkan pikirannya bertanya-tanya terlalu lama, disapunya sampah dedaunan yang berguguran dan sudah mulai mengering. Kurang lebih satu jam sudah, Fatimah telah rampung menyapu halaman dan beberapa kewajiban piket lainnya, dan Mas Ahmad... ah iya, Fatimah sengaja lewat depan rumah Pak Kiai sewaktu akan kembali ke kamarnya padahal jalan yang lebih dekat tidak melewati halaman depan rumah Pak Kiai, dan ternyata Mas Ahmad masih berdiri di sudut itu.

Rasa penasaran pun mau tidak mau kembali menyelimuti pikirannya, hingga sosok Bu Nyai dalam balutan jilbab bermotif bunga membuka pintu, dan mempersilahkan Mas Ahmad masuk.

Ya, penjelasan Pak Kiai Rabu itu menjawab teka-teki yang bermain dalam pikiran Fatimah mengenai sikap Mas Ahmad pagi itu.

Ternyata Mas Ahmad sedang mengamalkan salah satu ajaran dalam kitab Ta’lim Muta’allim. Terbersit sebuah senyum manis di wajah ayu Fatimah menyadari Allah mengizinkannya menjadi saksi satu sosok orang yang mengamalkan kitab Ta’lim Mutallim. Mengagumkan. Fatimah membatin.

Tidak berhenti sampai situ, teman satu kamar Fatimah, Mba Zahra satu kelas dengan Mas Ahmad di sekolah. Mba Zahra pernah bercerita bahwa Mas Ahmad senantiasa menjaga wudhunya. Mas Ahmad selalu kembali berwudhu ketika merasa wudhunya batal.

Ah, lagi-lagi bagi Fatimah penjelasan Pak Kiai seolah menjadi pengiring tayangan ingatannya yang bergantian muncul mengenai Mas Ahmad.

“Imam Zarkhasi pernah sakit perut, namun beliau tetap mengulang-ulang belajarnya, dan berwudhu, sampai tujuh? belas kali pada malam itu, karena beliau tidak mau belajar kecuali dalam keadaan suci. Ilmu itu cahaya dan wudhu juga cahaya. Sedangkan cahaya ilmu tidak akan bertambah kecuali dengan berwudhu”, penjelasan Pak Kiai yang lagi-lagi Fatimah temukan dalam sikap Mas Ahmad. Cocok. Fatimah bersorak dalam hatinya.

Mas Ahmad putra sulung dari seorang Kiai besar di Cirebon, tapi dia tidak sombong. Sejauh yang Fatimah tahu, Mas Ahmad sangat baik. Tidak pernah membanggakan keturunan bahwa dirinya memang berasal dari keluarga Kiai yang notabene sangat dihormati oleh masyarakat. Diantara kebiasaan Mas Ahmad yang diketahui Fatimah adalah kenyataan bahwa Mas Ahmad sangat rajin, dia selalu menjadi orang pertama yang datang ketika akan mengaji. Mas Ahmad menyapu ruangan yang akan digunakan sebagai tempat mengaji para santri, menggelar karpet usang yang menjadi alas para santri mengaji, merapikan tempat duduk Pak Kiai, dan lain sebagainya. Alasannya sederhana, Mas Ahmad sangat menghormati ilmu, dan semua yang berkaitan dengan ilmu.

Mas Ahmad dengan gamblang mengaplikasikan setiap ilmu yang didapatnya dari kitab Ta’lim Muta’allim, dan hal-hal yang tadi terlintas dalam pikiran Fatimah mengenai Mas Ahmad yang selalu mengamalkan kitab Ta’lim Muta’allim, diyakini Fatimah baru sebagaian kecilnya saja yang Ia tahu. Batin Fatimahpun telah resmi menjulukinya sebagai “Lelaki Ta’lim Muta’allim”.

Dan kini... Mas Ahmad sedang melanjutkan mencari ilmu ke Madinah dengan beasiswa penuh, salah satu prestasi Mas Ahmad selain selalu menjadi juara kelas, selalu memenangkan banyak perlombaan mengenai agama ataupun ilmu umum, hafal Al-Qur’an, menjadi ketua pondok pesantren, dan masih banyak lagi prestasi Mas Ahmad yang selalu mengundang decak kagum siapapun yang mengetahuinya.

Fatimah percaya itu merupakan salah satu keberkahan yang Allah berikan kepada Mas Ahmad yang selalu menghormati ilmu dan mengamalkan kitab Ta’lim Muta’allim. Mas Ahmad... Sang Lelaki Ta’lim Muta’allim. Fatimah tersenyum lagi, dan kini dia kembali berkonsentrasi menyimak penjelasan Pak Kiai, pikirannya sudah kembali dari penjelajahan mengenai sosok Lelaki Ta’lim Muta’allim.? ? ? ? ? ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nusantara, Meme Islam, Ulama Haedar Nashir

Rabu, 01 Februari 2017

Seleksi Santri Berprestasi TK/TPQ, Bojong Peringkat Satu

Tegal, Haedar Nashir 

Hasil seleksi santri berpretasi TK/TPQ Muslimat NU Kabupaten Tegal, yang dilaksanakan pada 8 Seprtember 2012, bertempat di Gedung NU Slawi, menetapkan Sebagai santri terbaik diraih dari TK/TPQ Bojong. Hal itu diketahui pada saat halal bihalal Yayasan Pendidikan Muslimat NU (YPMNU) yang digelar, Sabtu (15/9).

Dalam kesempatan itu, hasil seleksi 10 terbaik santri TPQ Muslimat NU Kabupaten Tegal, yakni peringkat pertama diraih dari TPQ PAC Bojong yang bernama Atqiatul Maulidah, dan ranking dua dari TPQ yang sama atas nama M Yunar Arsyadani. Sementara peringkat ketiga dari Kecamatan Dukuhturi, atas nama Dewi Arum Maulida, disusul PAC Talang, PAC Jejeg, Balapulang, Suradadi, dua siswa dari PAC Tarub, dan peringkat ke 10 dari PAC Talang.

Seleksi Santri Berprestasi TK/TPQ, Bojong Peringkat Satu (Sumber Gambar : Nu Online)
Seleksi Santri Berprestasi TK/TPQ, Bojong Peringkat Satu (Sumber Gambar : Nu Online)

Seleksi Santri Berprestasi TK/TPQ, Bojong Peringkat Satu

Dalam seleksi tersebut, setelah seleksi yang dilakukan di tingkat kecamatan dan dilanjut ditingkat Kabupaten, para santri di uji masalah tartil quran, ghorib dan tajwid.

Haedar Nashir

Ketua PC Muslimat NU Kabupaten Tegal Hj Umi Azizah yang juga Ketua YPMNU Kabupate Tegal, menuturkan, bahwa seleksi yang dilakukan oleh YPMNU Kabupaten Tegal ini dilakukan sebagai ajang evaluasi bagi santri yang berumur dibawah 10 tahun. Ditingkat kabupaten pada seleksi tahun ini hanya diikuti oleh 14 anak cabang.

“Ini sebagai bahan evaluasi, sejauh mana pembelajaran yang dilakukan ditingkat TPQ. Namun demikian dari hasil seleksi ini, para santri hasilnya cukup membanggakan, karena para santri dari YPMNU telah banyak yang mengikuti seleksi di luar atau yang ngadain pemkab banyak yang masuk dan meraih prestasi,” kata Hj Umi Aziazah.

Dikatakanya, dengan kegiatan seleksi seperti ini, diharapkan pembelajaran yang dilakukan di tiap-tiap TPQ dapat semakin baik dan meningkat dalam mutu pendidikanya.

Haedar Nashir

Sementara, salah satu santri asal Bojong yang meraih peringkat dua, M Yunar Arsyadani yang pada saat acara halal bihalal tampil dihadapan par atamu undangan, merasa senang karena hasil pembelajaran yang dilakukan selama ini bisa memberikan nama baik daerah asalnya.

“Kami senang dan mudah-mudahan apa yang kami pelajari bermanfaat,” ungkapnya. 

Redaktur   : Mukafi Niam

Kontributor: Abdul Muiz TGL

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Doa, IMNU, Quote Haedar Nashir