Minggu, 25 Juni 2017

Alasan Bela Ulama Tidak Boleh Digunakan Merusak Pihak Lain

Jakarta, Haedar Nashir?

Alasan membela ulama, membela agama, dan membela Allah tidak boleh digunakan untuk merusak pihak lain. Hal tersebut diungkapkan oleh Rais Syuriah PBNU Kiai Ahamd Ishomudin pada “Silaturahim Ustadzah Majelis Taklim An Nisaa NU se-DKI Jakarta” di Gedung Langen Palikrama Pegadaian, Jakarta Pusat, Kamis (13/4) sore.

“Orang teriak Allahu akbar lalu lemparkan batu. Apa jadinya Islam kalau modelnya begitu,” kata kiai yang disapa Gus Ishom pada kegiatan yang dihadiri sedikitnya 250 ustadzah.

Alasan Bela Ulama Tidak Boleh Digunakan Merusak Pihak Lain (Sumber Gambar : Nu Online)
Alasan Bela Ulama Tidak Boleh Digunakan Merusak Pihak Lain (Sumber Gambar : Nu Online)

Alasan Bela Ulama Tidak Boleh Digunakan Merusak Pihak Lain

Ia menegaskan semestinya seorang ustad/ustadzah mengajarkan kepada umat dengan pandangan kasih sayang, bukan dengan kebencian. Kasih sayang dan juga kelembutan telah dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad SAW.

Gus Ishom juga mengingatkan hadirin agar setiap akan menulis di akun media sosial dipikirkan apakah tulisan tersebut akan menyinggung pihak lain atau tidak, walaupun pihak lain tersebut adalah non-muslim.

“Non-muslim adalah saudara yang harus dihormati hak-haknya. Sehingga walaupun berbeda keyakinan, mereka memiliki hak seperti kita. Jangan menganggap non-muslim sebagai musuh,” kata Gus Ishom.

Haedar Nashir

Ketua Panitia Ita Rahmawati mengungkapkan, silaturahim bertema “Satukan Langkah Membangun Negeri, Menjaga NKRI” diadakan untuk memberi pemahaman kepada para ustadzah agar menyampaikan informasi yang benar saat melakukan dakwah kepada jamaah, termasuk kaitannya dengan Pilkada DKI Jakarta putaran kedua yang akan dihelat tidak lama lagi.

“Para ustadzah harus membantu menciptakan suasana yang kondusif, jangan saling menjelekkan. Mayoritas masyarakat Jakarta adalah kaum muslim, kalau sesama umat muslim ada perpecahan tentu akan merugikan umat muslim sendiri,” kata Ita.

Ia juga mengatakan dalam Pilkada DKI Jakarta putaran kedua nanti, masyarakat harus memilih sesuai dengan hati nurani.

“Pilihlah calon gubernur dan wakil gubernur sesuai hati nurani. Tidak usah takut dengan anggapan bahwa memilih gubernur non muslim akan masuk neraka. Karena urusan masuk syurga atau neraka adalah urusan manusia dengan Allah SWT,” pungkasnya. (Kendi Setiawan/Abdullah Alawi)

Haedar Nashir

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Santri, Pesantren, Warta Haedar Nashir

Sabtu, 24 Juni 2017

IPNU: Kualitas Pendidikan Nasional Belum Membanggakan

Jakarta, Haedar Nashir. Ketua Umum Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Ahmad Syauqi menilai, pendidikan di Indonesia masih jauh dari ideal. Kondisi ini, antara lain, diindikasikan oleh kualitas sumber daya manusia yang belum memuaskan.

IPNU: Kualitas Pendidikan Nasional Belum Membanggakan (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU: Kualitas Pendidikan Nasional Belum Membanggakan (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU: Kualitas Pendidikan Nasional Belum Membanggakan

“Kualitas pendidikan nasional belum bisa dibanggakan. SDM (sumber daya manusia) yang menjadi standar pengukuran kualitas pendidikan nasional justru menjadi persoalan,” katanya di Jakarta, Rabu (21/11).

Menurut dia, persoalan tersebut tak hanya terjadi di jenjang pendidikan dasar dan menengah, tapi juga pendidikan tinggi. “Dari 160.000 dosen yang ada di Indonesia, hampir 54% masih belum bergelar S2 dan S3. Sementara guru, dari 2,7 juta guru, 1,5 juta di antaranya belum bergelar S1,” tuturnya.

Haedar Nashir

Hal ini diperunyam lagi oleh SDM hasil pendidikan nasional yang secara umum tetap rendah. Laporan United Nation Development Program (UNDP) menyatakan, indeks pembangunan manusia Indonesia tahun 2011 berada di peringkat 124 dari 187 negara.

Haedar Nashir

“Posisi ini merosot dari posisi sebelumnya di peringkat 108 pada tahun 2010. Di bandingkan beberapa negara ASEAN, Indonesia masih jauh ketinggalan,” imbuhnya.

Syauqi berharap, permasalahan ini dapat segera ditangani, termasuk sejumlah faktor yang melatarbelakanganinya, seperti ketidakmerataan akses pendidikan, desentralisasi pedidikan yang kurang terarah, dan porsi anggaran yang belum jujur.

Pihaknya sepakat menjadikan persoalan ini sebagai fokus pembicaraan pada Kongres XVII IPNU di Palembang, Sumatera Selatan, akhir November nanti. Dengan mendatangkan sejumlah pakar, 3000 pelajar Nahdliyin dari berbagai daerah di Indonesia akan menyoroti pendidikan nasional bertema “Pendidikan Untuk Semua, Menuju Kemandirian Bangsa”. 

Redaktur : A. Khoiriul Anam

Penulis    : Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Halaqoh Haedar Nashir

Senin, 19 Juni 2017

Bupati Brebes: Shalat Awal Waktu Bentuk Disiplin

Brebes, Haedar Nashir. Bupati Brebes Hj Idza Priyanti mengajak masyarakatnya untuk menunaikan shalat di awal waktu. Dengan Shalat di awal waktu mampu membentuk budaya hidup disiplin di berbagai segi kehidupan.

Bupati Brebes: Shalat Awal Waktu Bentuk Disiplin (Sumber Gambar : Nu Online)
Bupati Brebes: Shalat Awal Waktu Bentuk Disiplin (Sumber Gambar : Nu Online)

Bupati Brebes: Shalat Awal Waktu Bentuk Disiplin

Bupati menyampaikan pesan tersebut saat kembali dari menunaikan ibadah umroh Senin malam, (11/1).

Menurutnya, kedisiplinan amat penting untuk mencapai kesuksesan.Terbukti negara-negara yang menerapkan budaya disiplin telah maju dan rakyatnya sejahtera.

Haedar Nashir

Dirinya juga akan membuat surat edaran terkait imbauan kepada PNS, atau pekerja pabrik ketika datang waktu shalat untuk menghentikan sementara pekerjaannya guna menunaikan shalat fardlu ain di awal waktu.

“Saya akan membuat surat imbauan terkait, shalat di awal waktu,” ucapnya.

Haedar Nashir

Dia yakin, dengan shalat diawal akan mendatangkan keberkahan. Bila kita mengutamakan shalat, shalat pula yang menjadikan amalan mendapat penilaian pertama kali ketika dihisab. “Jangan khawatir akan keduniaan karena Allah SWT menjamin apa pun bila warganya beriman dan bertakwa. Insya Allah barokah,” tuturnya.

Saat turun dari bis yang mengangkut rombongan umroh bersama 38 warga masyarakat Brebes, bupati disambut hangat oleh keluarga, dan beberapa pejabat pemerintah kabupaten Brebes.

Dia menambahkan, umroh bukan perjalanan wisata. Namun perjalanan religi dalam upaya mendekatkan diri kepada Allah SWT. Haji kecil ini diperlukan disamping ziarah ke raudlah juga melakukan aktivitas peribadatan lainnya.

“Saya sangat bangga dengan banyaknya warga Brebes yang melakukan perjalanan umroh, hampir setiap minggu ada yang berangkat ke tanah suci,” ungkapnya.

Ini menandakan, sambungnya, masyarakat Brebes sudah tambah sejahtera dan keimanannya makin meningkat. “Mudah-mudahan Brebes makin aman, nyaman, sejahtera di bawah perlindungan Allah SWT, baldatun toyibatun warobun ghofur,” pungkasnya.

Perjalanan Umrah Bupati Brebes yang didampingi suami Drs Kompol H Warsidin MH dipandu Pengasuh Pondok Pesantren Al Hikmah I KH Labib Sodiq Suhaemi. Bupati melakukan perjalanan Umrah sejak 3 hingga 11 Januari. Tugas pokok dan fungsi selama itu dipegang Wakil Bupati Narjo SH. (wasdiun/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Meme Islam Haedar Nashir

FKB Ancam Duduki Istana

Jakarta, Haedar Nashir. Fraksi Kebangkitan Bangsa (FKB) DPR RI mulai geram atas penganan kasus luapan lumpur Lapindo di Sidoarjo, Jawa Timur, yang hingga kini belum tuntas. FKB memberikan batas waktu dua minggu kepada pemerintah untuk menetapkan sebagai bencana nasional. Jika tidak, mereka mengancam akan menduduki Istana Negara.

"Jika dalam dua minggu pemerintah tidak mengambil langkah-langkah tersebut, kami dari FKB akan memimpin langsung demo ke Istana bersama korban Lapindo," ujar Wakil Ketua FKB Marwan Jafar di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Selasa (6/3).

Ketua FKB Ida Fauziah menegaskan, penetapan kasus semburan lumpur Lapindo sebagai bencana nasional tidak akan menghilangkan tanggung jawab Lapindo untuk membayar ganti rugi kepada warga.

FKB Ancam Duduki Istana (Sumber Gambar : Nu Online)
FKB Ancam Duduki Istana (Sumber Gambar : Nu Online)

FKB Ancam Duduki Istana

Penetapan semata-mata dimaksudkan agar penyelesaian kasus lumpur itu lebih cepat dan efektif. "Usulan agar bencana Lapindo menjadi bencana nasional tidak akan sedikit pun memberikan ruang kepada Lapindo lari dari tanggung jawab tapi kita lihat Timnas tidak efektif karena itu pemerintah harus ambil alih," urainya.

Sementara itu, Sekreteris FKB Helmy Faisal Zaini meminta agar kasus ini juga ditangani secara hukum. Jika kasus tersebut terus dibiarkan, Lapindo tidak akan bertanggung jawab atas kelalaiannya dalam pengeboran.

Haedar Nashir

"Maling ayam di kampung saja dihukum, masa ada orang yang nyata-nyata telah melanggar prosedur pengeboran tapi dibiarkan saja," kata Helmy.

Sekretaris Tim Pemantau Lumpur Lapindo FKB Aryo Widjanarko meminta pemerintah merelokasi korban lumpur ke tempat yang layak. Selain itu juga merelokasi infrastruktur yang rusak akibat luapan lumpur Lapindo. "Pemerintah harus melihat sisi sosial masyarakat Lapindo. Jangan dibiarkan terbengkalai," tandasnya.

Di tempat terpisah, Khofifah Indar Parawansa menyatakan siap mendukung upaya yang ditempuh warga untuk menuntut ganti rugi yang dibayarkan secara cash and carry.

Haedar Nashir

"Saya rasa masyarakat inilah yang lebih tahu di mana mencari tempat yang lebih nyaman bagi kehidupan mereka. Resettlement (pemukiman kembali) bukan solusi yang solutif," ujar Khofifah yang juga Ketua Umum Pimpinan Pusat Muslimat Nahdlatul Ulama.

Menurut Khofifah, masyarakat lebih baik diberi keleluasaan di mana mereka akan berdomisili sesuai dengan sumber nafkah mereka selama ini. "Saya rasa itu akan lebih wise, karena ada tradisi masyarakat kita berpola rumah terbuka. Petani, misalnya, butuh rumah yang dekat dengan lahan pertanian. Petambak juga butuh yang dekat tambak," urainya.

Mengenai persyaratan sertifikat tanah yang diperlukan untuk memperoleh ganti rugi, Khofifah menganggap perlu diberikan kebijakan khusus yakni tidak harus mempunyai sertifikat. Sebab, katanya, banyak masyarakat Indonesia yang belum akrab dengan sertifikat tanah.

"Solusinya boleh petok D (surat tanah warga yang diarsip di kantor desa), boleh juga kesaksian. Mungkin bisa dilokalisir oleh Bupati dengan melibatkan RT/RW setempat bahwa ini milik si A, luas sekian, sehingga kalau dikompensasikan ganti ruginya sekian," terang Khofifah. (dtc/rif)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Tokoh Haedar Nashir

Ki Ageng Anggawa, Tokoh di Balik Berdirinya Tegal

Tegal, Haedar Nashir 

Haul atau peringatan tahunan Ki Ageng Anggawana digelar Ahad (18/11) di Masjid Kasepuhan Ki Ageng Anggawana Desa Kalisoka Kecamatan Dukuhwaru Kab Tegal telah digelar. Turut hadir dalam kesempatan itu Plt Bupati Tegal Moch Hery Sulistyawan, melalui staf ahli bupati Masykur Sholeh, Camat Dukuhwaru Noor Alini Agustini, dan jajaran Muspika Kecamatan Dukuhwaru. 

Ki Ageng Anggawa, Tokoh di Balik Berdirinya Tegal (Sumber Gambar : Nu Online)
Ki Ageng Anggawa, Tokoh di Balik Berdirinya Tegal (Sumber Gambar : Nu Online)

Ki Ageng Anggawa, Tokoh di Balik Berdirinya Tegal

Ki Ageng Anggawana merupakan tokoh sentral di daerah Tegal. Penyebaran Islam di tanah Tegal tidak lepas dari perjuangannya liku–liku untuk mengembangkan Islam sangatlah ia rasakan sehingga membuat kelompok–kelompok diskusi dan padepokan–padepokan untuk mencari jalan keluar terhadap persoalan yang ada.

Riwayat singkat Ki Ageng Anggawana itu dibacakan oleh KH Maktub Efendi “Kita harus mengambil hikmah,” kata Maktub yang merupakan putra daerah kelahiran Kalisoka yang sekarang berdomisili di Jakarta.

Haedar Nashir

Menurutnya Ki Ageng Anggawana sangat berjasa dalam menyebarkan agama Islam di Tanah Tegal. Ia berada di balik semua sisik melik perkembangan Islam di Tegal.

Taushiyah dalam kegiatan haul itu disampaikan oleh Wakil Wali Kota Tegal, Habib Ali Zainal Abidin. Dalam tausiyahnya dia menuturkan agar tetap berpedoman terhadap ulama, karena satu-satunya pewaris keselamatan dunia akhirat adalah ulama. Al Ulama’u warosatul anbiya ulama adalah pewaris nabi. 

Haedar Nashir

“Kiai itu berkedudukan mulia, maka sudah meninggal pun banyak orang yang berdatangan berziarah,haul ini adalah bentuk kepatuhan menghargai sesepuh yang telahg berjasa besar dalam mengemban amanah,“ tuturnya. 

Lebih lanjut Habib Ali berpesan, hidup tidak harus kaya tetapi harus ada berkah karena kalau sudah berkah maka akan dilapangkan dunia akhiratnya, kuncinya ibadalah untuk mendapatkan itu semua dengan bersyukur. Tetapi tidak cukup dikatakan saja oleh lidah kita perlu tindakan tepat yaitu dengan menjalankan tuntunan Gusti Allah subhanahu wata’ ala . 

“Dadi yen urip pengin selamet dunia akhetrate kudua merek maring ulama aja tinggal maring ulama. jadi kalau mau hidup selamat dunia dan akhirat harus dekat dengan ulama jangan menjauh dari ulama. Insya Allah.” tukasnya. 

Ketua Panitia Torikin mengatakan kegiatan haul ini berkat adanya kerjasama dari berbagai kalangan antara Muspida Kabupaten Tegal dan Muspika Kecamatan Dukuhwaru serta Warga masyarakat.

Kegiatan haul Ki Ageng Anggawana diawali dengan kegiatan Santunan Yatim dan Yatim Piatu dari anak yatim yang berada di desa Kalisoka dan sekitarnya. Sebanyak 100 lebih anak yatim piatu, sebelum acara santunan dimulai, diarak mengelilingi Desa Kalisoka dan sekitarnya.

“Segenap semua pihak kami ucapkan banyak terima kasih,“ pintanya. 

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Abdul Muiz TGL 

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Daerah, Kiai, Ulama Haedar Nashir

Minggu, 18 Juni 2017

PMII Unsuri Sidoarjo Siap Bentengi Kadernya dari Radikalisme

Sidoarjo, Haedar Nashir. Maraknya gerakan radikalisme yang masuk di Indonesia, membuat beberapa kalangan muda terutama aktivis yang tergabung dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) untuk turut andil dalam membentengi generasi penerus bangsa dari ancaman gerakan garis keras.

PMII Unsuri Sidoarjo Siap Bentengi Kadernya dari Radikalisme (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Unsuri Sidoarjo Siap Bentengi Kadernya dari Radikalisme (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Unsuri Sidoarjo Siap Bentengi Kadernya dari Radikalisme

Ketua Rayon PMII Univeritas Sunan Giri (Unsuri) Sidoarjo, Fakultas Ekonomi Manajemen, Bakri Irwan kepada Haedar Nashir menyatakan siap membentengi kadernya dari serangan-serangan yang bersifat kekerasan tersebut.

"Langkah pertama yang akan kami lakukan dalam membentengi kader PMII yakni dengan memberikan paham-paham Islam Nusantara, melakukan kajian-kajian ataupun membedah radikalisme itu sendiri," ungkap Bakri, Ahad (28/6).

Haedar Nashir

Pria yang baru mendapatkan amanah menjadi Ketua Rayon PMII Unsuri itu juga akan melakukan terobosan-terobosan baru untuk mencetak para kadernya, sehingga menjadi kader yang benar-benar militan.

Haedar Nashir

"Kami ingin menciptakan iklim pergerakan yang berbasis intelektualitas, spiritualitas, sosial, serta berpegang teguh pada prinsip idealisme pergerakan yang berlandaskan Ahlu Sunnah wal Jamaah (Aswaja) sebagai manhajul fikr," tegasnya.

Menurutnya, dengan mencetak kader yang berintelektual tinggi, berakhlakul karimah serta berpegang teguh pada prinsip idealisme pergerakan, merupakan tanggung jawab yang harus dia jalankan pada estafet kepemimpinan selama kurang lebih setahun (satu periode 2015-2016) kedepan.

"Kami akan terus membangun sistem pengkaderan yang berkesinambungan, membangun sistem organisasi yang profesional, melakukan evalauasi demi menjaga kesolidan antara kader dengan pengurus, berinteraksi sesama kader yang lain sehingga tidak mengakibatkan putus hubungan," paparnya.

Pemilihan Ketua Rayon PMII Unsuri Fakultas Ekonomi Manejemen yang digelar di kampus Unsuri gedung C, Jumat (26/6) lalu dihadiri beberapa pengurus PMII lainnya terdiri dari Rayon Nusantara, Rayon Al-Azhar, Komisariat Unsuri dan komisariat PMII perjuangan Unitomo. (Moh Kholidun/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ulama Haedar Nashir

Tiga Jenis Puasa Menurut Imam Al-Ghazali

Ramadhan sudah mendatangi kita. Otomatis kewajiban puasa pun mesti dilakukan bagi orang yang memenuhi persyaratan. Puasa menjadi pembeda bulan Ramadhan dengan bulan lainnya. Bulan ini menjadi mulia dengan sendirinya karena terdapat kewajiban puasa di dalamnya.

Ibadah puasa tentu berbeda dengan ibadah lainnya. Ia sangat bersifat rahasia. Tidak ada yang mengetahui kelangsungan puasa seseorang, kecuali pelakunya dan Allah SWT. Meskipun ada orang yang terlihat makan sahur dan buka puasa bersama kita, itu bukan jaminan bahwa dia telah berpuasa seharian. Bisa saja di waktu siang dia makan tanpa sepengetahuan orang.

Tiga Jenis Puasa Menurut Imam Al-Ghazali (Sumber Gambar : Nu Online)
Tiga Jenis Puasa Menurut Imam Al-Ghazali (Sumber Gambar : Nu Online)

Tiga Jenis Puasa Menurut Imam Al-Ghazali

Karenanya, puasa dikatakan amanah. Sebuah amanah haruslah dilangsungkan dan dikerjakan. Terlebih lagi yang memberi amanah itu Allah SWT. Pemberian amanah puasa ini tentu bukan tanpa maksud. Ada banyak hikmah dan rahasia di dalamnya.

Tidak semua orang mengerti tujuan dari ibadah puasa. Makanya, tak heran bila ada yang puasa, tetapi dia tidak mengerti dan menerima dampak positif dari ibadah yang dilakukan. Oleh sebab itu, al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin membagi tiga tingkatan puasa:

Haedar Nashir

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Haedar Nashir

Artinya, “Ketahuilah bahwa puasa ada tiga tingkatan: puasa umum, puasa khusus, dan puasa paling khusus. Yang dimaksud puasa umum ialah menahan perut dan kemaluan dari memenuhi kebutuhan syahwat. Puasa khusus ialah menahan telinga, pendengaran, lidah, tangan, kaki, dan seluruh anggota tubuh dari dosa. Sementara puasa paling khusus adalah menahan hati agar tidak mendekati kehinaan, memikirkan dunia, dan memikirkan selain Allah SWT. Untuk puasa yang ketiga ini (shaumu khususil khusus) disebut batal bila terlintar dalam hati pikiran selain Allah SWT dan hari akhir.”

Tiga tingkatan ini disusun berdasarkan sifat orang yang mengerjakan puasa. Ada orang puasa hanya sekadar menahan diri dari makan dan minum, tetapi perbuatan maksiat tetap dilakukannya. Inilah puasa orang awam. Pada umumnya, mereka mendefenisikan puasa sebatas menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa secara dzahir.

Hal ini berbeda dengan tingkatan kedua, yaitu puasanya orang-orang shaleh. Mereka lebih maju dibandingkan orang awam, sebab mereka paham bahwa puasa tidak hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga menahan diri dari melakukan dosa. Percuma berpuasa, bila masih terus melakukan maksiat. Karenanya, kelompok ini menilai maksiat menjadi pembatal puasa.

Selanjutnya puasa paling khusus. Puasa model ini hanya dikerjakan oleh orang-orang tertentu. Hanya sedikit orang yang sampai pada tahap ini. Pasalnya, selain menahan lapar dan haus dan menahan diri untuk tidak bermaksiat, mereka juga? memfokuskan pikirannya untuk selalu mengingat Allah SWT. Bahkan, pikiran selain Allah SWT dan pikiran terhadap dunia dianggap merusak dan membatalkan puasa.

Dari tingkatan ini, kita mengetahui bahwa ibadah puasa merupakan kesempatan terbesar untuk melatih diri kita supaya lebih baik dari sebelumnya. Semoga puasa kita tidak bersifat formalitas, tetapi juga bermanfaat dan berdampak positif. Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Olahraga, Pertandingan Haedar Nashir