Rabu, 25 Oktober 2017

Gus Dur Sang Petarung Kelas Dunia

Jadilah manusia agung

Bagai seorang syahid,

Seorang imam, bangkit, berdiri

Di antara rubah, serigala, tikus, domba

Gus Dur Sang Petarung Kelas Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Dur Sang Petarung Kelas Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Dur Sang Petarung Kelas Dunia

Di antara nol-nol, bagai yang satu

Syair intelektual pejuang bernama Ali Syari’ati dalam puisi “Satu yang Diikuti Nol-nol yang Tiada Habis-habisnya”, tak biasanya menjadi senjata untuk membangkitkan kesadaran manusia yang terlelap, bahkan mati jiwanya di alam dunia. Dibangkitkan kembali menjadi sejatinya manusia. Manusia adalah segalanya, manusia selalu menarik untuk dibedah untuk mencari jawab tentang arti kepastian. Pisau filsafat pembentukan manusia, dalam pandangan Syari’ati menyasar bahwa hanya manusia yang dibaptis Tuhan untuk menggerakkan jagat semesta, laksanakan amanah-Nya. Malaikat jauh sebelumnya sudah memprediksi kelakuan manusia, sebagai biang tengkar angkara murka di bumi. Tapi Tuhan sangat tahu yang tidak diketahui barisan malaikat. Karena itu, manusia punya darah juang pengetahuan, daya perang dan iman sejati untuk melaksanakan misi besar menjadi khalifah di bumi, bukan khalifah di syurga. Maka, maha benar deklarasi manusia yang dikaruniai dengan keberanian, strategi perang nafsu, keutamaan, kearifan dan kebijaksanaan di jagat semesta.

Haedar Nashir

Penyair besar Jalaluddin Rumi berkata bahwa amanah dan karunia itu adalah kehendak. Kehendak terbesar manusia yaitu membuktikan dirinya ada, ada untuk menjadi wakil Tuhan di bumi manusia, demikian petuah wali Nusantara bernama Syaikh Siti Jenar. Disanalah awal kisah misteri dosa Nabi Adam as, tragedi dosa yang melahirkan keluarga manusia agung sepanjang sejarah, puncak hamba yang memimpin sebaik-baik umat yakni Nabi Muhammad saw. Manusia terbesar yang diakui kawan dan lawan sampai detik ini, sebagaimana sering disampaikan Karen Armstrong dalam karyanya Muhammad: Prophet for our time. Puncak hamba yang menjadi teladan akhlak mulia dan kepemimpinan Indonesia, sebagaimana dicontohkan Presiden KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Gus Dur berjuang membela kemanusiaan tanpa syarat apapun tak peduli resiko bahaya dan taruhannya. Membela kearifan lokal di seluruh penjuru negeri yang bertransformasi dalam wujud dasar negara Pancasila, Konstitusi UUD 1945 dan NKRI. Gus Dur yang selalu setia terhadap visi kebangsaan yang diperjuangkannya setiap waktu.

GD: Lahir, Berjuang dan Syahid

Haedar Nashir

Kita semua seyogyanya bersaksi, bahwa biografi Gus Dur disimpulkan dengan tiga kata,’ ia lahir, berjuang, dan syahid. Gus Dur masuk geng manusia ideal, sosok khalifah Tuhan yang telah bergerak di jalan puncak penghambaan yang sulit, terjal dengan memikul beban-beban amanah. Sampai ia menuju ke ujung tapal batas dan membentuk diri jadi khalifah serta penggerak amanah Tuhan. Gus Dur bernyawa manusia ‘theomorphis’, manusia yang berjalan dan bergerak dengan berakhlak sebagaimana akhlak Tuhan. Tipologi ‘manusia menuhan’ dengan segala risiko terbesar yang dialami hidupnya dalam perjalanan dari alam menuju Sang Pencipta alam.

Adalah filsuf Jerman, Dilthey yang mengatakan manusia adalah makhluk yang senang bercerita dan membangun hidupnya atas dasar kisah yang diimaninya. Tanpa cerita, hidup kita carut-marut. Dengan cerita dan kisah, kita susun pernak-pernik hidup kita yang berserakan dan centang perenang dalam narasi-narasi besar (grand narratives), yaitu untuk pengorganisasian hidup (Zusammenhang des Lebens), yang dipercayai juga oleh Hannah Arendt, pemikir besar abad kedua puluh. Narasi kisah Nabi Muhammad adalah salah satunya. Kita mendengarkan kisah beliau, menyampaikannya kepada yang lain. Bahkan manusia terkadang rela ‘bertempur’ melawan kekuatan hitam, yang menyampaikan cerita atau kisah yang berbeda tentang sang tokoh yang puja-puji.

Izinkan kami Gus, untuk menulismu, menceritahkan cerita dan kisahmu, titah pengorbananmu, setia demi Islam, Indonesia dan dunia yang lebih baik. Karena dengan jujur kami tak pernah bersentuhan secara langsung dengan Gus Dur, seperti halnya Soekarno kecil tak pernah dapatkan kehangatan kasih sayang langsung dari tokoh besar bernama HOS Cokroaminoto. Tak seperti kader-kadermu dan santrimu yang setiap hari engkau ajarkan kehidupan, ‘5 jurus dewa mabuk’ dan seluk beluk perlawanan serta gemerlap dunia malam para konspirator serta kisah hikmah dari kitab al-Hikam.

Dari geng kader-kader terbaikmu, yang kujadikan ‘shogun’ dalam ‘jalan ronin diriku’. Kami menimba jejak-jejak muliamu, samurai ilmumu, akar-akar kepemimpinanmu, jurus politikmu dan masuk dalam alam pikiranmu, ilhammu, kesetiaan visi geopolitikmu berjuang demi Islam dan Indonesia. Islammu, Islamku, Islam Kita. Indonesia, negeri tercinta kita. Hidupmu engkau abdikan sepanjang sejarah, dengan terang benderang, teguh, berani saat melakukan pembelaan dan pemihakan terhadap orang-orang tertindas dan dilemahkan, antara lain kelompok minoritas dan kaum marjinal: Ahmadiyah, Syiah, etnis Tionghoa, dan orang-orang yang hancur hatinya di setiap waktu subuh menghadapmu.

Apakah sebuah perubahan besar dalam sejarah dunia sosial politik tidak ditentukan oleh kekuatan pribadi, poros individu sebagai agen sejarah? Baik secara teoritis maupun dalam kenyataannya, perubahan besar terdorong oleh agregasi berbagai faktor yang membentuk kekuatan besar untuk memfasilitasi sebuah kejatuhan dan kemunculan geng politik baru yang ditindas dan disingkirkan. Sebagaimana yang dialami NU (Nahdlatul Ulama) yang memang tidak diharapkan oleh kekuatan tertentu di bumi Indonesia. Postulasi bersifat teroritis ini juga berlaku misalnya untuk perubahan politik Indonesia tahun 1980 sampai akhir 2002. Tanpa krisis keuangan pertengahan 1997 yang merembes kepada krisis ekonomi dan akumulasi gelombang massa aksi mahasiswa dan rakyat yang berujung pada krisis kebangsaan sosial politik. Jatuhnya rezim penguasa Orde Baru yang mendominasi pentas politik dan ekonomi negeri ini selama lebih tiga puluh tahun bisa jatuh bagai ‘istana kertas’. Oleh pakar geopolitik, dibuat mudah bahwa keruntuhan rezim Soeharto lebih merupakan permainan hitam (black game) kekuatan-kekuatan ekonomi politik tingkat tinggi, tingkat supra negara-bangsa.

Sudah pasti dalam postulat pengetahuan perubahan sejarah manapun, ada postulasi teroritis bahwa peran strategis politik pribadi-pribadi besar tertentu sebagai agen sejarah yang merubah sejarah. Adalah Thomas Carlyle, ahli sejarah dari Inggris abad ke-19 yang berfatwa “ sejarah, pada dasarnya merupakan sejarah orang-orang hebat” dan Gus Dur adalah sebuah contoh utama. Sejarawan Inggris itu adalah pencinta the great man theory. Hal tersebut sangat kontras dengan kaum materialis, yang mengatakan bahwa perubahan sejarah yaitu teknologi dan distribusi barang dan jasa sebagai sumber perubahan sosial. Bahkan kaum idealis bersabda bahwa ide dan gagasanlah yang mencipta perubahan sosial. Postulat the great man theory membumikan jejak pahlawan sebagai epicentrum dari segala perubahan sejarah dunia.

Kehadiran pahlawan adalah prototype manusia besar yang merubah dan membalik sejarah. “And I said: the great man always acts like a thunder. He storms the skies, while others are waiting to be stormed”, ucap Thomas Carlyle saat menggoreskan postulat teoritis tentang ‘manusia besar’ dalam panggung sejarah manusia. Saya katakan bahwa manusia besar selalu seperti halilintar yang membelah langit, dan manusia yang lain hanya menunggu dia seperti kayu bakar.

Dan sosok Gus Dur adalah sebuah contoh utama di bumi Indonesia. Dari segenap pergerakan pemikiran dan tindakannya dilipat dalam hasrat untuk mendirikan ‘Republik bumi di syurga’. Dengan menjadikan kemanusiaan sebagai tujuan pertama dan utama, maka pemikiran apapun takkan jadi ideologi yang tertutup dan mendebarkan bagi nyawa manusia. Gus Dur adalah katalis perubahan, pengamal cinta kemanusiaan tanpa batas seperti yang diteladaninya dari Nabi Muhammad saw.

Pertarungan Serigala Politik

Masihkah kita semua, melupakan perlakuan rezim Orde Baru yang hegemonik terhadap siapapun yang berani berkata beda dengan penguasa tiran. Sejarah politik Orde Baru, sejak decade 1980-an penuh dengan warna-warni pertempuran negara dengan ‘manusia-manusia hebat’. Pembangkangan sipil terhadap negara, muncul dan menjamur di setiap sudut kota dan desa. Megawati Soekarno Putri dengan PDI dan ‘people powernya’, Gus Dur dengan kekuatan besar NU sebagai pemilik sah negeri ini dan melalui Forum Demokrasinya melakukan protes sosial dari negara yang abai mewujudkan keadilan sosial yang tak tentu arah.

Situasi itu membentuk semangat dan kondisi pikiran Gus Dur untuk melancarkan perang posisi (war of position) untuk bertarung hadapi hegemoni Orde Baru atas nama tunggalnya Pancasila. Melalui Rapat Akbar NU tahun 1991 dan front-front sipil tafsir epistemologi ideologi Pancasila tahun 1984. Sasaran operasinya adalah menolak tunduk pencalonan kembali Soeharto sebagai Presiden pada Pemilu 1992.

Inilah jurus politik Gus Dur yang membuat Republik ini pernah geger, melawan dengan caranya berhadapan dengan penindasan penguasa Orde Baru. Gus Dur, dan NU setia abadi pada ideologi negara bangsa, bukan kepada penguasa. Peran besar Gus Dur melahirkan gelombang kejut dan tekanan besar terhadap negara. Berbaris, menyemai dan mencipta budaya perlawanan elemen massa kota yang terkonsolidir pada pelbagai lembaga swadaya masyarakat (LSM) serta kekuatan rakyat di perkotaan yang digalang dan gerakkan mahasiswa di penjuru negeri. Menjalani target operasi, mengalami penderitaan dan ketidakpastian zaman, Gus Dur mengirimkan semangat dan harapan di setiap sudut jiwa manusia. Penderitaan demi kesetiaan tujuan bersama pengikutnya, yang mengingatkan kita kepada perjuangan Alexander, Yesus, Nabi Muhammad saw, Mao Zedong, Lenin, Castro, dan Nelson Mandela.? ?

Dalam kamus politik seperti yang kita ketahui, untuk menjadi manusia-manusia hebat sebagai tokoh politik Indonesia menjulang tinggi ke langit, seseorang mesti melalui 7 (tujuh) tangga yaitu laras senjata, bakat, kharisma (silsilah), kemampuan organisasi, manipulasi politik, pengetahuan kuasa dan kapital besar. Ibu Megawati adalah contoh politisi yang mengandalkan karisma ayahnya dan massa pengikut Soekarno. KH. Zainul Arifin, Ali Moertopo, Sarwo Edhie Wibowo, LB Moerdani, Subhan ZE, Akbar Tanjung jadi teladan baik dari jalur kemampuan berorganisasi baik sipil maupun militer. Nah, Gus Dur ini menjulang namanya sebagai tokoh politik, yang menggabungkan dan melewati jurus-jurus kekuasaan yaitu karisma, bakat, pengetahuan dan kekuatan besar NU (Nahdlatul Ulama). Kekuatan kharisma setara dengan charity (kedermawanan) dipandang filsuf politik Max Weber (1864-1920) sebagai kualitas diri, karakter yang memiliki kekuatan supranatural, berasal dari dukungan ilahi sebagai teladan hidup.

Atas dasar inilah Gus Dur diperlakukan sebagai pemimpin politik. Bagaimana mungkin Soeharto yang dipersenjatai laras senjata dan uang besar dari para konspirator, tumbang dengan tersenyum tanpa dendam kepadanya. Gus Dur dalam pandangan pakar strategi militer Joseph Nye berhasil menggabungkan kekuatan lembut (softpower) dan kekuatan berat (hardpower) untuk mendapatkan kekuatan cerdik yang memungkinkannya mengubah jalannya politik serta menciptakan perubahan arah baru Indonesia. Misalnya perubahan militer kembali dalam barak sejarah yang dipeloporinya, keputusan mengangkat Baharuddin Lopa sebagai Jaksa Agung, pemberantasan korupsi Soeharto, memeriksa Akbar Tanjung, Arifin Panigoro dan konglomerat hitam, menaikkan gaji pegawai negeri sipil dan lainnya. Totalitas perjuangan Gus Dur jadi Presiden RI harus dibayar dengan kejatuhannya, seperti pernyataannya bahwa pelengserannya merupakan konspirasi politik dan tindakan yang inkonstitusional.

Tetapi, Gus Dur tidak dendam, tidak punya musuh politik. Soeharto adalah patner politik utamanya, bukan musuh politik yang banyak disalahpahami. Kemanusiaan haruslah di atas segalanya, walaupun resikonya kekuasaan Gus Dur dijatuhkan sekalipun oleh kekuatan hitam. Tanpa pertumpahan darah, tanpa benci dan dendam atas nama kebaikan negeri. Kekuatan spiritual Gus Dur di atas rata-rata pemimpin negeri manapun, sebagaimana contoh perebutan kuasa politik di Mesir, darah dan air mata ditumbangkan demi politik kepentingan semata. Biarlah sejarah yang mencatat, semoga tak ada presiden yang di jatuhkan di tengah jalan seperti yang disampaikan Kapolri Jenderal Sutarman, mantan ajudannya di Istana Negara. Sebuah ‘simphoni hitam’ kehidupan yang mendebarkan, di tengah kekuatan anak negeri yang porak-poranda, bergejolak atas nama dendam dan kebebasan.

Dari semua penulis buku yang memaparkan tentang Gus Dur dan NU, dari Greg Barton sampai Greg Fealy mestinya menulis kembali kualitas kepemimpinan dan visi geopolitiknya terhadap penataan ulang sistem dunia yang tak adil, dikendalikan superpower Amerika Serikat dan gengnya dalam group 5 Eyes (UKUSA). Visi geopolitiknya itulah yang menjadikan Gus Dur harus ditumbangkan oleh para konspirator dunia, pasca menggalang kekuatan dunia yaitu Brazil, dan Venezuela di Amerika Latin, serta menggalang Poros Jakarta, Beijing Cina dan New Delhi India. Kemudian pernyataan politik luar negeri perdananya yaitu mengumumkan rencana pembukaan hubungan dagang dengan Israel. Akar-akar kepemimpinan dan pertarungan geopolitiknya Gus Dur diperoleh dari kuasa pengetahuan dunia, sejarah Nusantara, Wali Songo, Soekarno dan transformasi jurus politik otentiknya sendiri. Sampai detik ini Gus Dur menjadi ‘sejarah hidup’ kekuatan pemain dunia baru yang terkonsolidir dalam BRIC (Brazil, Russia, India and China) sebagai kekuatan ekonomi yang dominan nanti di tahun 2050

Sayang sekali seperti halnya senior Gus Dur yaitu Soekarno yang dijatuhkan, karena tidak disenangi kelas menengah yang nyaman, yang hidup kebanyakan berpesta, berfoya foya dalam gemerlap malam di Amerika Serikat. Kaum muda itu memandang Amerika sebagai ladang dan medan kebebasan, sementara memandang Soekarno adalah anak manis ideologi komunis. Yang sejatinya, Soekarno bukanlah komunis, beliau berhasrat memerdekakan bangsanya 150%. Bahkan visi dan cita-cita geopolitiknya memang edan dan gila yaitu ingin memajukan Indonesia menjadi negara nomor satu di dunia ini. Soekarno jadi ‘target operasi imperialisme dan kolonial baru’. Soekarno dan Gus Dur menyadari itu, risiko bahaya dan perjuangannya menjadi martir, jadi panah sejarah yang hidup sampai saat ini bukan hanya di Republik Indonesia, Gus Dur diberhentikan di tengah jalan. Tapi merka jadi pedoman dan bintang penuntun negara-negara tertindas dunia Asia Afrika dan Amerika Latin, sebagaimana negara Iran yang dikomandoi Ayatullah Ali Khamenei belajar bangkit dari Soekarno dengan Pancasila-nya.

Di sanalah letak kebenaran kepemimpinan Soekarno dan Gus Dur. Keduanya pernah bergerak, yang satu menggalang kekuatan Asia-Afrika, satunya lagi menggalang Amerika Latin. Soekarno menggalang kekuatan New Emerging Forces (NEFO), melempar gagasan non-alignment, Non Blok. Sungguh, Soekarno dan Gus Dur sadar dan tahu benar struktur penguasa dunia, takkan menjadi baik dan damai bumi manusia ini, jika di atasnya hanya bercokol dan berkuasa dua kekuatan apalagi hanya satu kekuatan saja. Manusia Soekarno dan Gus Dur adalah ‘target imperalisme dan kolonial baru’, karenanya, keduanya harus dirobohkan. Propaganda hitam dan opini diproduksi, dikembangkan bangsa-bangsa neo-liberal melalui juru dakwah intelektual tukang dan penjual negara untuk melengserkannya.

Bahkan terlebih ketika Soekarno gelorakan propaganda ‘berdikari’ ke seluruh penjuru negeri, juga ke belahan alam raya ini. Ingat, ingatlah Soekarno slogan yang sangat terkenal, “Nanti… ketika Banteng Indonesia, bersatu dengan Lembu Nandi dari India, Spinx dari Mesir, dan Barongsai dari China, saat itulah imperialisme akan mati!. Visi geopolitik Soekarno itulah yang dimodifikasi oleh Gus Dur, dengan memfatwakan semangat dan harapan sampai ke ujung dunia, spirit berdiri di atas kaki sendiri. Tekad tanpa ketergantungan kepada pihak mana pun dan bersiasat menyiasati angin globalisasi dengan bekal senjata akumulasi pengetahuan (modified capitalism), kecerdasan geopolitik. sebuah wasiat dan petuah dari pendiri bangsa salah satunya Soekarno, Tan Malaka, dan ayahnya KH. Wahid Hasyim. Bagaimana kancil bisa menang menyiasati singa dan serigala yang ganas, menghadapi kekuatan fasisme militer Jepang.

Sang visioner Gus Dur ingin berwasiat kepada kita semua sebagaimana pendahulu Nusantara, Raja Kertanegara yang menolak tunduk kepada imperium Jenghis Khan melalui Kubilai Khan, cucunya dan penjajah negeri selama berabad-abad lamanya di bumi Indonesia. Gus Dur menggelorakan negeri ini bukan bangsa tempe, bangsa kita adalah bangsa yang tak mau kalah, bangsa besar, keagungan, kemenangan, penaklukan, tak kenal takut, bangsa agung, bangsa paling berani dan bangsa paling gila dan edan di dunia. Sebagaimana disaksikan sendiri pelaut Italia, Diogo Do Couto, yang datang ke Nusantara tahun 1526 dalam karyanya yang berjudul Decadas da Asia, “ ……for he will permit no person to stand above him, nor would a javan carry carry any weight or burthen on his head, even if they should threaten him with death”.

Detik ini kita mesti bisa membayangkan, seandainya jika negara-negara besar seperti Indonesia, Cina, India, Mesir, Amerika Latin bersatu padu, mau apa Amerika Serikat dan geng Baratnya? Justru dalam keadaan terpecah, justru dalam keadaan tidak berdikari, neo-kolonialisme sangat merajalela melalui militer, investasi dan aparatus ideologi liberalnya. Lihatlah konflik dan titik merah berkobar di Timur Tengah, situasi tersebut diperparah dengan ketidak-kompakan, kesatuan di antara bangsa Arab sendiri. Negara-negara di luar Indonesia membutuhkan Soekarno, dan petarung sekaliber Gus Dur.? Karenanya, dalam panah semangat dan hasrat untuk menghidupkan kembali visi kebangkitan kesadaran Nusantara saat ini, semangat dan darah juang Gus Dur harus dihidupkan kembali dalam konteks kekinian di tengah prahara globalisasi.

Gus Dur mesti jadi ruh sejarah bangsa ini untuk maju dan bersatu padu di masa kini dan masa depan. Kita semua mesti menoleh dan memilih siapa tokoh penggerak bangsa, maka lihatlah di buku-buku sejarah, Nusantara, biografi dan autobiografi semua tokoh Indonesia. Gus Dur pasti sangat berpengaruh paling besar terhadap Ke-Islam-an dan Ke-Indonesia-an sebagaimana para petinggi negeri menyampaikannya dari mulai Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono, Megawati, Prabowo Subianto, Akbar Tanjung, Jenderal Sutarman dan lainnya. Semoga pemimpin negeri kita Tahun 2014 tak kehilangan bimbingan Gus Dur, yakni 9 (Sembilan) nilai dasar pergerakan Gus Dur yaitu ketauhidan, keadilan, kemanusiaan, kesetaraan, pembebasan, kesederhanaan, persaudaraan, ksatriaan, dan kearifan lokal. Jaring-jaring pemikiran Gus Dur antara lain pribumisasi Islam terpatri pada Islam sebagai etika sosial bagi kemanusiaan.

Dengan visi itu, mengapakah kita tidak datang lagi Di Bawah Bendera Revolusinya Bung Karno dan Visi Kemanusiaan Gus Dur, agar rakyat Indonesia terselamatkan dari kehancuran bangsa, kooptasi kapital asing, banjir bandang globalisasi demi mencapai kedamaian, keadilan sosial, kemajuan martabat negeri tercinta di tengah pergaulan dunia yang dipenuhi para serigala. Di titik pijak inilah Gus Dur bagi PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) dan kaum muda NU adalah warga pergerakan, Gus Dur sebagai paradigma, weltanschauung. Pengetahuan Gus Dur terdiri dari semua ragam warna pemikiran dunia baik Islam, Timur dan Barat. Dari humanisme, marxisme, zarathustra Nietzsche sampai hikmah al Hikam Ibn Atha’illah. Dari nasionalisme, pluralisme, demokrasi, de-ideologi Islam, filsafat, toleransi, kebudayaan, kesetaraan gender sampai jurus-jurus politik tingkat dewa. Langkah Gus Dur merujuk pergerakannya pada buku ilmiah, film, kitab, hikmah tasawuf, kisah tokoh dunia, cerita silat, film dan riang gembira bergumul, bertarung dalam palung sejarah, power struggle. ?

Akhirnya, penulis bisa bersaksi bahwa Gus Dur adalah manusia “menuhan”, sang petarung kebaikan, yang hatinya dipenuhi keikhlasan berjuang demi negerinya dan sistem dunia yang lebih baik. Kesadarannya menjulang tinggi ke langit, tetapi amal bakti pertarungan hidupnya demi negeri menggores aktivisme di bumi manusia. Mewujudkan kesadaran sejarah human social life, seperti halnya peristiwa Isra’ Mi’raj Sang Nabi Muhammad SAW. Bergerak menemui Tuhan dan kembali menemui manusia. Gus Dur setia membela martabat kehormatan manusia tanpa pembeda dan pembatas, siapapun, dimanapun dari ujung bumi Sumatera, Papua sampai ujung dunia. Membela yang tertindas dan orang yang hancur hatinya. Kepemimpinan Gus Dur bukanlah kekuasaan yang berasal dari laras senjata, seperti dipandang sah oleh Nicollo Machiavelli, Jenghis Khan, Attila The Hun, Mussolini, Hitler dan Mao Zedong. Tapi bisa dari banyak cara, yakni pemilihan, demokrasi, musyawarah, kebaikan dan keikhlasan berjuang, mengabdi untuk negeri. Gus Dur sudah pernah memulai ‘pertarungan’ melawan blok sejarah yang tak adil. Akankah kita lanjutkan semangat dan visi abadinya sebagai petarung besar sampai ke ujung dunia? Membentuk cerita dan kisah Indonesia yang bagus dan lembut untuk dirapalkan oleh generasi muda pasca Gus Dur.

Jejak-jejakmu merahimi kebangkitan”, adalah mantra dan do’a yang dirapalkan dalam lukisan hidup yang dilukis dan dirupakan sebagaimana jejak tradisi perjuangan leluhurmu. Ada ruh Hadrussyaikh Sang Kiai Hasyim Asy’ari dan ayah-ibumu yang mulia. Berjuang tanpa henti demi setia kepada Islam dan Indonesia, rela mati demi kebaikan negeri. Di belakang lukisan leluhurmu, ada warisan jejak darah dan air mata rakyat Indonesia yang berjuang demi Tanah Air. Kami pernah menghadap dengan benar, bersujud di ruang pribadimu dan terharu di atas sajadah sembahyangmu di markas besar PBNU. Merapalkan kembali mantra itu di kedalaman jiwa, demi kebaikan bangsa.

Pendamlah dirimu dalam bumi kekosongan, Gus. Selamat “bersatu” bersama Tuhan dan tertawa bareng Ibn Atha’illah ya, Gus. Gitu aja kok repot!

Jakarta, 06 Januari 2014

DINNO BRASCO, Ketua Pengurus Besar PB PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia)

Periode 2011-2014

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Humor Islam Haedar Nashir

Delegasi NU Fasilitasi Upaya Perdamaian Afghanistan

Kabul,Haedar Nashir. Rencana hengkangnya NATO dari Afghanistan telah menimbulkan ketegangan sendiri ketika masing-masing kekuatan perjuangan yang bertikai saling mengancam.?

Delegasi NU Fasilitasi Upaya Perdamaian Afghanistan (Sumber Gambar : Nu Online)
Delegasi NU Fasilitasi Upaya Perdamaian Afghanistan (Sumber Gambar : Nu Online)

Delegasi NU Fasilitasi Upaya Perdamaian Afghanistan

Hingga saat ini setiap minggu ratusan korban tewas akibat bom bunuh diri dan serangan roket. Karena itulah beberapa kelompok moderat termasuk di antaranya ? High Peace Council meminta keterlibatan Indonesia, Iran, dan Mesir untuk melakukan mediasi di antara kelompok yang bertikai.

Rencananya pertemuan dilakukan bulan Februari 2013 tetapi karena keterlibatan Iran, Pakistan dan Mesir yang dianggap ikut bertikai ditolak oleh beberapa milisi, akhirnya pertemuan digagalkan. Kemudian pertemuan dilanjutkan lagi mulai 4-5 Juni 3013, tanpa kehadiran negara lain kecuali Indonesia sendirian yang diwakili oleh Nahdlatul Ulama (NU), yang melakukan pembicaraan dengan ulama dan pimpinan setempat.

Haedar Nashir

Dalam perundingan yanag dihadiri oleh hampir semua faksi yang terdiri dari para ulama, pemuda dan kaum intelektual yang berasal dari berbagai suku itu, mereka sepakat untuk membangun persatuan di antara faksi yang ada. Dengan demikian mereka membutuhkan toleransi di antara kepentingan mereka sendiri. Disitulah NU mengambil peran penting dengan memperkenalkan prisnip tawasuth, tawasun dan tasamuh.?

Delegasi NU yang terdiri dari H As’ad Said Ali, wakil ketua umum PBNU, KH Saifuddin Amsir, Rais Syuriyah, H Abdul Mun’im DZ, wakil sekjen dan Adnan Anwar, wakil Sekjen PBNU.?

Haedar Nashir

Pertemuan yang diselenggarakan di pusat Kota Kabul yang mencekam itu dihadiri sekitar 50 orang, dan berlangsung khidmat. Pertemuan ini sendiri merupakan kelanjutan pertemuan ulama NU dan ulama Afghan di Jakarta 2010 yang lalu.

Pertemuan ini juga dihadiri oleh Dubes RI untuk Afghanistan H Anshori Tajudin yang juga ikut memfasilitasi perundingan ini. ?

Dalam amanatnya di depan peserta konferensi itu As’ad Said Ali mengatakan bahwa dalam menghadapi globalisasi, umat Islam harus merespon secara proporsional, jangana sampai larut sehingga menjadi kelompok yang tasahul, menggampangkana semua hal sehingga melanggar norma agama. dan juga jangan sampai menjadi tasyaddud, menolak secara mentah-mentah dengan cara ekstrem bahkan dengan kekerasan. Karena itulah perlu diambil jalan tawasuth, tawazun.

Dihadapan para aktivis Afghan itu, As’ad mengatakan bahwa jihad mempunyai pengertian yang luas, tidak hanya qital (perang) tetapi juga membangun masyarakat dan mengendalikan hawa nafsu. NU sendiri pernah mengeluarkan fatwa jihad tetapi sangat jelas batas wilayahnya dan batas waktunya. Jihad tidak bisa dilakukan di sembarang tempat, kalau hal itu dilakukan menjadi terorisme itu yang harus dihindarkan. ?

Perrnyataan itu disampaikan berkaitan dengan munculnya dua fatwa yang bertentangan di Afghnaistan tentang keharusan melakukan jihad di mana saja dengan cara apa saja termasuk bunuh diri. Di sisi lain terdapat ulama yang mengharamkan bom bunuh diri. NU memberikan jalan tengah.

Pandangan NU itu semakin menarik perhatian mereka apalagi setelah KH Saifudddin Amsir berbicara tentang sikap tasamuh (toleran) umat Islam Indonesia yang terdiri dari berbagai agama, suku, bahasa dan pulau tetapi bisa menyatu, karena bangsa Indonesia memiliki Pancasila. Dijelaskan bahwa Pancasila merupakan cerminan ajaran Al Quran tetapi dibahasakan dengan budaya setempat sehingga bisa diterima oleh kelompok non Muslim sekalipun. Mestinya bangsa Afghanistan yang hampir seluruhnya Muslim ini bisa lebih mudah bersatu, karena akidah meraka sama. Hanya saja perlu modal tasamuh yang tinggi.

Beberapa kesepakatan dicapai antara lain, pertama, menjalin persaudaraan dan perdamaian,? kedua, menyelamatkan Afghanistan dari penghancuran kelompok imperialis, ketiga, melaksanakan perdamaian dan rekonsiliasi untuk menyatukan negara, keempat, sebagai pemimpin spiritual para ulama berkewajiban menjaga keutuhan bangsa, kelima, menghilangkan diskriminasi, dan sukuisme serta segala bentuk kekerasan terhadap kelompok lain.

Hasil pertemuan Jakarta dan perundingan di Kabul ini akan terus di sosialisasikan pada ulama dan kelompok milisi di seluruh propinsi. Diharapkan akan lahir sikap tasamuh di kalangan mereka sehingga menghindari terjadinya perang saudara.

Para ulama Afghan menilai bahwa ulama Indonesia memiliki pemikiran yang jauh ke depan dan maju, dan ini yang perlu dipelajari oleh para ulama Afghanistan sekarang ini.?

Kehadiran delagasi NU ini mendapatkan liputan media yanag sangat besar sehingga tersiar di berbagai televisi dan media cetak termasak media online, sehingga gemanya di lingkungan para petinggi dan rakyat Afghanistan juga besar.?

Antusiame maysrakat begitu tinggi karena mendengar Indonesia mereka selalu ingat Soekarno dan Gus Dur yang penuh heroisme dan penuh pesona.?

Redaktur: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Halaqoh, Ahlussunnah, AlaSantri Haedar Nashir

Mushaf Fami Bisyauqin di Masjid Agung Solo

Solo, Haedar Nashir. Perpustakaan Masjid Agung Solo menyimpan sejumlah kitab. Kitab-kitab itu ada yang dibuat pada tahun 1800-an sampai tahun 1960-an. Beberapa kitab, ditulis tangan langsung para ulama dan kiai pendiri masjid tersebut.

Mushaf Fami Bisyauqin di Masjid Agung Solo (Sumber Gambar : Nu Online)
Mushaf Fami Bisyauqin di Masjid Agung Solo (Sumber Gambar : Nu Online)

Mushaf Fami Bisyauqin di Masjid Agung Solo

Sekretaris Takmir Masjid Agung Solo, Abdul Basyid mengatakan, ada sejumlah kitab yang pada umumnya bertuliskan Arab tanpa harokat (arab gundul), antara lain berupa kitab Ihya Ulumuddin, kumpulan hadis-hadis nabi, dan Al-Quran kuno.

Di masjid itu, terdapat Mushaf Al-Qur’an FamÄ« Bisyauqin. FamÄ« Bisyauqin yang berarti “mulutku dalam kerinduan” ini merupakan koleksi perpustakaan wakaf Sri Susuhunan Paku Buwono X pada tahun 1857. Mushaf ini berasal dari Sayyid Ibrahim Abdullah al-Jufri. Adapun tahun pembuatan dan penulisnya tidak diketahui secara pasti.

Haedar Nashir

Mushaf Al-Qur’an kuno FamÄ« Bisyauqin ini terdiri dari tujuh jilid. Penentuan masing-masing jilid mengikuti tujuh manzil (batas berhenti dan memulai bacaan) dalam membaca Al-Qur’an. Dalam tradisi membaca Al-Qur’an, metode tujuh manzil sangat populer, yaitu membaca dan mengkhatamkan Al-Qur’an dalam tujuh hari. Dimulai pada hari Jum’at dan khatam pada hari Kamis.

Haedar Nashir

Dari tujuh jilid, saat ini yang masih tersimpan di Perpustakaan Masjid Agung Surakarta hanya lima jilid, sementara dua jilid yang lain tidak ditemukan, yaitu jilid 3 dan 7. Iluminasi yang terdapat dalam mushaf ini hanya terdapat pada halaman Surah al-Fatihah dan awal Surah Al-Baqarah. Motifnya adalah bunga, dengan dominasi warna merah, biru, hijau, dan emas, dengan bingkai garis hitam.

Al-Qur’an ini dijilid dengan kulit. Ukurannya, panjang 31,8 cm. dan lebar 19,6 cm. Area tulisan, panjang 19,6 cm. dan lebar 11,7 cm. Ketebalan setiap jilid rata-rata 2,5 cm. Satu halaman mushaf berisi 13 baris tulisan, kecuali pada awal setiap jilid yang hanya berisi sembilan baris, dan pada halaman akhir dengan menyesuaikan pada sisa ayat yang tersisa. Al-Qur’an ini ditulis dengan menggunakan tinta Cina.

Sistem penulisan pada mushaf ini menggunakan rasm imla’i, yaitu sistem penulisan huruf Arab dengan mengacu pada kaidah-kaidah penulisan bahasa Arab, kecuali pada lafal-lafal tertentu yang masih tetap merujuk pada sistem rasm usmani. Penomoran ayat ditandai dengan tanda bulat berwarna merah dengan titik di tengah tanpa disertai nomor urut ayat.

Al-Qur’an FamÄ« Bisyauqin ini memuat tiga macam qiraat, yaitu qiraat riwayat Imam Qalun dari Imam Nafi’, qiraat Imam ad-Duri dari Imam Abu ‘Amr, dan qiraat riwayat Imam Hafs dari Imam ‘Asim. Tulisan ayat utama dalam Al-Qur’an ini berdasarkan riwayat Qalun dari Imam Nafi’. Sementara untuk kedua qiraat lainnya, ditulis dipinggir halaman dengan tinta merah untuk qiraat Imam ad-Duri dari Imam Abu ‘Amr, dan tinta hijau untuk qiraat Imam Hafs dari Imam ‘Asim.

Redaktur      : Abdullah Alawi

Kontributor  : Ajie Najmuddin

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Makam, Pendidikan, Hikmah Haedar Nashir

Selasa, 24 Oktober 2017

Belajar Mengaji

Saat mengaji kitab nahwu "Qathrunnada wa Ballusshoda" di Masjid Al-Munawwarah Pesantren Ciganjur, Gus Dur bercerita tentang seorang santri yang sedang belajar mengaji Al-Quran. Kali ini ia sedang belajar surat Al-Qurais.

Pak Ustadz menyuruhnya membaca. "Ayo dimulai nak...!"

Belajar Mengaji (Sumber Gambar : Nu Online)
Belajar Mengaji (Sumber Gambar : Nu Online)

Belajar Mengaji

Santri mulai membaca. "Bismillahirrahmanirrahim. Liilafiquraisyin iila fihim rihlatas syitaai wasshoifi."

Haedar Nashir

Pak Ustadz spontan menyuruh santri menghentikan bacaannya. "Wasshoifffff," katanya.

"Wasshoifi," kata satri.

Haedar Nashir

"Wasshoifff, kalau waqof dimatikan. Wasshoifff," kata ustadz.

Santri tetap tidak paham. "Wasshoifi". Masih ada ada bunyi "fi" di belakang.

Akhirnya pak ustadz tidak sabar. Saat santri membaca "Wasshoif," ia langsung menutup mulut santri dengan tangan kananannya. "Nah begitu, wasshoiff," katanya.

Tapi, kata Gus Dur, ketika mulut santri itu dilepaskan, tetap saja masih ada bunyi "fi". (Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir IMNU Haedar Nashir

Senin, 23 Oktober 2017

Ansor Pikatan Sosialisasikan Pemanfaatan Lahan Pekarangan

Probolinggo, Haedar Nashir. Ranting GP Ansor Desa Pikatan Kecamatan Gending Kab Probolinggo menggelar sosialisasi pemanfaatan lahan pekarangan rumah untuk kebun gizi keluarga untuk masyarakat,? Senin (21/1)? ?

Dalam sosialisasi pemanfaatan lahan pekarangan rumah tersebut juga dikupas tentang kiat-kiat untuk memperoleh tambahan penghasilan seperti wirausaha individu maupun kelompok. Contohnya, pemenuhan kebutuhan lauk pauk yang diharapkan bisa diperoleh di lingkungan sekitar rumah sendiri.

Ansor Pikatan Sosialisasikan Pemanfaatan Lahan Pekarangan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Pikatan Sosialisasikan Pemanfaatan Lahan Pekarangan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Pikatan Sosialisasikan Pemanfaatan Lahan Pekarangan

Kegiatan yang dihadiri oleh segenap pengurus Pimpinan Ranting GP Ansor Desa Pikatan ini dibuka secara resmi oleh Ketua Pimpinan Anak Cabang (PAC) GP Ansor Kecamatan Gending Muslimin Saba’.

Haedar Nashir

Ketua Pimpinan Ranting GP Ansor Desa Pikatan Mahmud Yunus mengatakan kegiatan ini digelar sebagai upaya untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat Nahdliyin melalui pemanfaatan lahan pekarangan rumah sebagai kebun gizi keluarga.

Semoga melalui kegiatan ini masyarakat dapat termotivasi untuk bercocok tanam dengan cara membuat kebun gizi yang hasilnya dapat membantu meringankan beban kebutuhan hidup sehari-hari,” ujarnya.

Haedar Nashir

Sementara Ketua PAC GP Ansor Kecamatan Gending Muslimin Saba’ mengungkapkan kegiatan ini merupakan salah langkah yang dilakukan oleh GP Ansor untuk mendukung program pemerintah berupa pemanfaatan lahan pekarangan rumah dengan menanam berbagai macam sayur-sayuran organik yang dapat menciptakan pangan yang aman, memberikan nilai ekonomis yang tinggi dan meningkatkan status bergizi bagi gizi keluarga.

“Hal ini juga sebagai upaya untuk pemenuhan pangan rumah tangga dalam pola konsumsi pangan yang beragam, bergizi dan aman serta peningkatan kesejahteraan keluarga dan masyarakat,” ungkapnya.

Menurut Muslimin, kegiatan tersebut merupakan salah satu agenda sosialisasi atas keberperanan GP Ansor pada masyarakat petani. Sehingga petani mampu memanfaatkan lahan pekarangan secara intensif dengan beraneka ragam komoditas untuk kebun gizi keluarga.

“Selama ini kami sudah menjalin komunikasi yang baik dengan petugas pertanian kecamatan. Namun kami tetap berharap semoga Dinas Pertanian dapat membantu kesuksesan program tersebut,” pungkasnya.

Kontributor: Syamsul Akbar

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ahlussunnah Haedar Nashir

Surat Cinta untuk Kang Said: Catatan atas Seminar Sidogiri

Oleh M. Imaduddin

Sebenarnya saya bukan orang yang layak untuk memberi catatan atas seminar "Solusi Dinamika Islam Kekinian di Indonesia dan Dunia" di Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan, Jawa Timur pada Ahad, 24 Januari 2016 yang lalu.

Surat Cinta untuk Kang Said: Catatan atas Seminar Sidogiri (Sumber Gambar : Nu Online)
Surat Cinta untuk Kang Said: Catatan atas Seminar Sidogiri (Sumber Gambar : Nu Online)

Surat Cinta untuk Kang Said: Catatan atas Seminar Sidogiri

Tapi sebagai warga NU dan kebetulan juga diberi amanah menjadi bagian dari lembaga PBNU dan upaya mencegah beredarnya fitnah terhadap Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj atau Kang Said, serta kecintaan saya yang amat besar kepada organisasi yang didirikan oleh Hadratussyekh KH Muhammad Hasyim Asyari, maka saya terpaksa memberi catatan atas pertemuan di Sidogiri kemarin.

Setelah melihat video dialog, maka saya menyimpulkan:

Haedar Nashir

Haedar Nashir

Pertama, pertemuan kemarin adalah sebuah forum penuh nasihat dari para ulama dan bukanlah "pengadilan" untuk Kang Said. Tidak ada maksud sedikit pun dari para ulama untuk mengadili Kang Said, apalagi menjatuhkan beliau. Inilah tradisi NU, tradisi ulama. Tradisi saling mengingatkan, saling menasihati, tawashaw bil haq.

Kritik atau nasihat yang disampaikan ulama NU di Sidogiri kemarin kepada Kang Said bukanlah bentuk kebencian, tetapi karena rasa sayang kepada beliau. Hal ini tampak dari komentar para ulama yang penuh dengan etika dan sopan santun. Tidak ada satu pun hujatan, makian, dan kata-kata kasar kepada Kang Said pada pertemuan itu.

Hal ini berbeda dari beberapa orang yang–disebut ulama–selama ini tanpa tabayun terlebih dahulu mencaci maki, menghujat, dan mengeluarkan ujaran kebencian kepada beliau hanya karena berbeda pandangan dari Kang Said. Kritik mereka kepada Kang Said didasari oleh kebencian, bukan dilandasi oleh kasih sayang.

Kedua, menyimak jawaban-jawaban Kang Said dalam dialog tersebut, tampak adanya gap keilmuan yang teramat jauh dengan para pengkritiknya. Semua yang disampaikan Kang Said baik dalam bukunya maupun ceramah-ceramahnya yang menurut banyak orang kontroversial ternyata memiliki landasan dalil, baik dari Al-Qur’an, Sunnah, maupun aqwal ulama. Bacaan Kang Said terhadap ilmu-ilmu dan pemikiran cendekiawan-cendekiawan muslim dari berbagai disiplin ilmu, baik klasik maupun kontemporer ternyata tak sebanyak yang dibaca dan dikaji oleh para pengkritiknya.

Ditambah lagi dengan cara pandang Kang Said dalam memahami teks-teks klasik tersebut amat jauh berbeda dari para pengkritiknya. Jika para pengkritiknya memahami teks-teks klasik apa adanya dan dalam konteks dimana teks itu bicara, maka Kang Said memahaminya secara kontekstual dan aktual. Pemahaman para ulama berabad-abad yang lalu beliau kembangkan dan kontekstualisasikan dengan kondisi kekinian. Inilah bedanya Kang Said dari para pengkritiknya.

Kesalahan Kang Said, kalau memang beliau harus disalahkan, menurut saya adalah Kang Said ketika menyampaikan ceramah atau menulis kadang beliau lupa bahwa dirinya adalah ketua umum PBNU. Artinya, beliau memimpin para ulama se-Indonesia yang memiliki tingkat pemahaman yang berbeda-beda. Apa yang dimaksud oleh Kang Said tidak seperti yang dipahami oleh sebagian warga Nahdliyin. Sehingga muncul tuduhan-tuduhan kepada beliau, mulai dari tuduhan liberal hingga agen Syiah.

Inilah menurut saya kelebihan yang menjadi kekurangan Kang Said. "Kami ini sayang kepada Antum. Tolong jangan buat pernyataan-pernyataan kontroversial lagi, yang membingungkan umat. Maksud Antum seperti itu, tapi umat memahami tidak seperti yang Antum maksud..." demikian kurang lebih nasihat Habib Taufiq Assegaf kepada beliau.

Alhasil, kami semua cinta kepada Kang Said...

M Imaduddin, Wakil Sekretaris PP LDNU & Sekretaris PC GP Ansor Jaktim

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pahlawan, AlaNu Haedar Nashir

120 Peserta Ikuti Lakmud IPNU-IPPNU Sunan Ampel

Surabaya, Haedar Nashir. Sekitar 120 peserta mengikuti Latihan Kader Muda (Lakmud) yang digelar Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPNU dan IPPNU) UIN Sunan Ampel Surabaya, Jawa Timur.

Kegiatan yang diselenggarakan di kantor PCNU Mojokerto pada Jumat-Ahad, (8-10/11) dibuka Ketua IPNU Sunan Ampel 2013-2014 M. Ishomuddin selaku, tepat pukul 21.00 WIB Jumat (8/11) .

120 Peserta Ikuti Lakmud IPNU-IPPNU Sunan Ampel (Sumber Gambar : Nu Online)
120 Peserta Ikuti Lakmud IPNU-IPPNU Sunan Ampel (Sumber Gambar : Nu Online)

120 Peserta Ikuti Lakmud IPNU-IPPNU Sunan Ampel

“Peserta aslinya ada 170 lebih karena banyak calon kader yang ikut UKM dan IPNU ini adalah organisasi Ekstra maka mereka lebih memilih mengikuti pelatihan UKM yang berlangsung bareng dengan LAKMUD 2013 ini,” kata Ketua Panitia Lakmud, Taufiq.

Haedar Nashir

Menurut Taufiq, kegiatan Lakmud ini berbarengan dengan pengkaderan 4 organisasi intra kampus. Salah satunya adalah UKM IQMA. UKM ini sudah dianggap saudara sendiri oleh IPNU-IPPNU karena rutinitasnya dan kegiatan-kegiatannya adalah amaliyah warga Nahdliyin. Kegiatan-kegiatan tersebut adalah diba’iyah, berzanji, rebana, sholawatan, istighosah.

Haedar Nashir

Taufiq menambahkan, pada kegiatan tersebut peserta mendapat materi Keaswajaan, Ke-NU-an, Ke-IPNU/IPPNU-an, Managemen Organisasi dan Analisis Wacana. Selain itu, ada beberapa kegiatan berupa pengayaan seperti tes, nightmare, diskusi panel, RTL dan juga debat Ilmiah. Untuk meningkatkan semangat para peserta diadakan juga outbond dan lomba-lomba kecil. (Ali Ibrohim/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kyai, News Haedar Nashir