Selasa, 07 November 2017

Karnaval Batik Lasem Ramaikan Haul Para Syekh

Rembang, Haedar Nashir. Karnaval batik Lasem yang rencananya digelar Jum‘at mendatang (18/10) turut meramaikan haul para syekh Rembang Jawa Tengah. Batik tulis Lasem akan dipamerkan dalam pesta rakyat.

Batik tulis lasem adalah batik asli asal kota Rembang ? yang menjadi kebanggaan warga kota Lasem. Batik-batik ini akan dipamerkan dengan produk-produk yang dimodifikasi dari barang bekas.

Karnaval Batik Lasem Ramaikan Haul Para Syekh (Sumber Gambar : Nu Online)
Karnaval Batik Lasem Ramaikan Haul Para Syekh (Sumber Gambar : Nu Online)

Karnaval Batik Lasem Ramaikan Haul Para Syekh

Karnaval Batik Lasem sengaja digelar sebagai ajang perkenalan masyarakat tentang batik tulis asal Kecamatan Lasem.

Haedar Nashir

Ketua Panitia Pandu mengatakan pihaknya bekerjasama dengan SMK Umar Fatah untuk membuat kostum modifikasi yang akan dipamerkan. Perpaduan produk barang bekas dan batik diolah menjadi aksesoris.

Haedar Nashir

Hingga kini, lanjut pandu, sudah ada sekitar 50 kostum batik yang sudah terkumpul dan siap dipamerkan pada 18 Oktober mendatang.

Menurut pandu, adanya ide untuk mengangkat batik tulis Lasem melalui acara haul tahunan yang biasa dikunjungi para peziarah dari berbagai daerah di pulau Jawa.

“Batik tulis Lasem yang sudah dimodifikasi dengan suatu bentuk dan barang tidak kalah menarik dengan busana atau pun produk lain merk luar negeri. Menurut pandu harga dari batik tulis Lasem sendiri cukup relatif terjangkau, apalagi masyarakat Lasem masih aktif dalam memproduksi batik tulis,” kata Pandu.

Kali ini, kata Pandu, hasil karya anak SMK akan dipamerkan. Mereka generasi penerus yang akan melanjutkan para perajin batik tulis Lasem pada tahun-tahun berikutnya. Batik tulis Lasem sangat pantas dipakai kalangan muda, dewasa, dan orang tua. Tak heran jika komunitas pecinta seni dan sejarah mempunyai inisiatif untuk memamerkan hasil karya masyarakat Lasem. (Ahmad Asmu’i/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Warta, Hikmah Haedar Nashir

Senin, 06 November 2017

Gus Mus: Kalau Tidak Moderat, Bukan Islam!

Tangerang Selatan, Haedar Nashir - Mustasyar PBNU KH A. Mustofa Bisri menjelaskan, pada dasarnya Islam itu moderat. Dengan demikian, kalau tidak moderat, maka itu bukanlah Islam.

“Moderat itulah Islam. Jadi bukan Islam moderat. Islam itu memang moderat. Jangan Islam moderat, lalu Islam apalagi. Kalau tidak moderat, tidak Islam,” kata kiai akrab disapa Gus Mus di Pondok Cabe, Kamis (11/5) malam.

Gus Mus: Kalau Tidak Moderat, Bukan Islam! (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Mus: Kalau Tidak Moderat, Bukan Islam! (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Mus: Kalau Tidak Moderat, Bukan Islam!

Gus Mus mengatakan, Allah melarang segala sesuatu yang berlebih sebagaimana yang tertera dalam Al-Quran. Bahkan, Nabi Muhammad mengatakan, sebaik-baiknya sesuatu adalah yang di tengah-tengah.

“Semua yang ekstrem-ekstrem itu dilarang di Qur’an, wa la tusrifu (jangan berlebih-lebihan),” jelas Pengasuh Pondok Pesantren Roudlatut Thalibin Leteh, Rembang. ?

Haedar Nashir

Namun permasalahannya, saat ini baik yang ekstrem kanan maupun kiri juga mengaku yang moderat.

Terkait hal itu, Gus Mus mengumpamakan moderat itu dengan mengukur kedalaman air di sungai. Standar ukurannya bukan dengan menggunakan tubuh sendiri-sendiri.

Haedar Nashir

“Jangan pakai tubuh (untuk mengukur kedalaman air di sungai). Kalau kita jangkung, kita akan mengatakan ini dangkal sekali. Kalau kita cebol kita akan mengatakan ini dalam sekali. Jadi, pakai apa?” tanyanya.

Menurut penulis buku Membuka Pintu Langit itu, banyak orang yang mengukur sesuatu dengan diri sendiri, bukan dengan ukuran yang pasti dan telah disepakati. “Katanya Qur’an yang dijadikan ukuran. Tapi tidak mau perbedaan,” tutup Gus Mus. (Muchlishon Rochmat/Abdullah Alawi)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir AlaSantri Haedar Nashir

Pesantren Didorong Aktif Tengahi Konflik di Masyarakat

Bandung, Haedar Nashir - Pesantren For Peace yang mempunyai misi menyebarkan perdamaian antarumat beragama dan antarormas kembali menggelar kegiatan Pendidikan HAM dan Penyelesaian Konflik di Pondok Pesantren Mahasiswa Universal (PPMU), Jalan Cipadung, Kota Bandung, Jawa Barat, Sabtu (20/8).

Koodinator Pesantren for Peace Idris Hemay mengatakan, kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan peran pesantren dalam membangun perdamaian karena menurutnya beberapa pesantren masih tidak tanggap terhadap penyelesaian konflik.

Pesantren Didorong Aktif Tengahi Konflik di Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Didorong Aktif Tengahi Konflik di Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Didorong Aktif Tengahi Konflik di Masyarakat

“Di Pulau Jawa ini dari hasil penelitian yang kami lakukan, bahwa ada beberapa pesantren yang masih cenderung pasif ketika ada konflik terjadi. Nah, dari sini kita mendorong pesantren lebih aktif dalam penyelesaian konflik,” ujar Idris Hemay.

Haedar Nashir

Dia pun mengungkapkan, di Pulau Jawa khususnya konflik yang besar ada di Jawa Barat seperti dalam kasus Jamaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) yang diserang pihak ormas dan Penghancuran Gereja Pasundan di Bandung.

“Dari konflik yang terjadi tersebut, bagaimana (elemen pesantren) bisa menengahi konflik,? menyelesaikan secara damai,? di samping itu tentu secara umum Pesantren for Peace ini bertujuan untuk membangun Islam yang moderat, damai dan ramah di Indonesia,” jelasnya dalam kegiatan yang berlangsung sehari penuh atas dengan dukungan kerja sama antara Center for the Study Of Religion and Culture (CSRC) UIN Jakarta dan Konrad-Adenauer-Stiftung (KAS) dan Uni Eropa yang sebelumnya diadakan di 5 Wilayah di Pulau Jawa.

Haedar Nashir

Pengasuh Pondok Pesantren Mahasiswa Universal (PPMU), Kiai Tatang Astarudin mengatakan bahwa dirinya sudah menerapkan dalam kehidupan sehari-hari. Di pesantrennya tinggal para santri dari berbagai daerah dan berbagai macam karakter.

“Selalu saya katakan kepada istri, dan kepada mahasantri yang lain, ayo kita cari sejuta alasan untuk tetap saling menyayangi. Kalau dia marah boleh jadi dia sedang tidak punya uang, kalau telat mungkin dia sibuk di kampus,” kata Kiai Tatang.

Kiai Tatang pun meyakini bahwa keagungan universalitas Islam tidak akan luntur hanya karena memaklumi dan menyayangi mereka yang berbeda. “Maka mulai dari kita untuk menebar kebahagian, kedamaian dengan cara mencari titik-titik kesamaan,” paparnya.

Kegiatan ini dihadiri dari perwakilan 30 pesantren dan beberapa organisasi dari tingkat kampus sampai daerah. Kegiatan ini terbagi 3 sesi, bulan Agustus, November, dan Februari 2017. (Bakti Habibie/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Sejarah Haedar Nashir

Mahasiswa UIM Diwajibkan Ambil Matakuliah Aswaja 6 Semester

Makassar, Haedar Nashir

Rektor Universitas Islam Makassar (UIM) Majdah M Zain mengatakan komitmennya untuk menjadikan kampus yang ia pimpin sebagai kampus qur’ani dan menanamkan nilai Ahlussunnah wal Jama’ah an-Nahdliyah yang menjunjung tinggi moderasi (tawasuth dan i’tidal), toleransi (tasamuh), keseimbangan (tawazun), dan amar ma’ruf nahi munkar.

Majdah menyampaikan hal itu saat melantik pengurus Forum Komunikasi Mahasiswa Pascasarjana Universitas Islam Makassar (FKM-UIM), Sabtu, 23/4), di Auditorium KH Muhyiddin Zain UIM, Makassar, Sulawesi Selatan.

Mahasiswa UIM Diwajibkan Ambil Matakuliah Aswaja 6 Semester (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahasiswa UIM Diwajibkan Ambil Matakuliah Aswaja 6 Semester (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahasiswa UIM Diwajibkan Ambil Matakuliah Aswaja 6 Semester

Sebagai kampus milik NU, katanya, UIM ingin seluruh aktivitas pembelajaran tidak terlepas dari nilai-nilai qurani. “Salah satu implementasinya saat ini, seluruh mahasiswa UIM wajib mengambil mata kuliah Ahlusunnah wal Jama’ah (Aswaja) selama 6 semester yang terintegrasi dalam Mata Kuliah Pendidikan Agama Islam dibina oleh Lembaga Kajian Aswaja dan Kampus Qurani,” ujarnya.

Haedar Nashir

"Olehnya itu, saya berpesan kepada semua pengurus FKM Pascasarjana UIM untuk senantiasa mengembangkan nilai-nilai qurani sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat dan saat ini sudah harus menyusun program yang riil dan mudah terealisasi," tambahnya.

Haedar Nashir

Direktur Program Pascasarjana (PPs) UIM Nurul Fuadi dalam sambutannya berterima kasih kepada seluruh mahasiswa Pascasarjana UIM yang terdiri dari Prodi Manajemen Pendidikan Islam, Agribisnis, dan Agroteknologi yang telah menginisiasi terbentuknya Forum Komunikasi Mahasiswa Pascasarjana UIM.

"Sebagai wadah silaturahmi mahasiswa Pascasarjana UIM, tentunya sebagai pengelola PPs UIM menyambut baik gagasan mahasiswa yang membentuk forum silaturrahim ini," tambahnya.

Tampak hadir Wakil Rektor II Saripuddin Muddin, Wakil Rektor II Dr Abd Rahim Mas P Sanjata, Asdir II PPs UIM KH M Amin Harun, Dekan Fakultas Pertanian La Sumange, Ketua Prodi PPs Manajemen Pendidikan Islam Afifuddin Harisah, Ketua Prodi PPs Agribisnis dan Agroteknologi Helda Ibrahim, serta ratusan mahasiswa Pascasarjana UIM. (Andy Muhammad Idris/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Tegal Haedar Nashir

Lajnah Falakiyah Rukyat Awal Rajab

Jakarta, Haedar Nashir. Lajnah Falakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU) akan melaksanakan rukyatul hilal untuk menentukan awal bulan Rajab 1433 H. Rukyat dilaksanakan Senin (21/5) sore, bertepatan dengan 29 Jumadal Tsaniyah 1433 H.

Rukyatul hilal atau observasi bulan sabit akan dilaksanakan di sedikitnya 90 titik strategis di seluruh Indonesia.

Lajnah Falakiyah Rukyat Awal Rajab (Sumber Gambar : Nu Online)
Lajnah Falakiyah Rukyat Awal Rajab (Sumber Gambar : Nu Online)

Lajnah Falakiyah Rukyat Awal Rajab

“Dari sudut derajatnya sih sudah dapat dirukyat, nanti kita lihat hasil rukyatnya,” kata KH A. Ghazalie Masroeri, Ketua Pengurus Pusat LFNU dihubungi Haedar Nashir di Jakarta, Senin (21/1).

Haedar Nashir

Data hisab dalam almanak PBNU yang diterbitkan oleh LFNU menunjukkan, ijtima’ atau konjungsi telah terjadi pada hari ini, pukul 06.42 WIB. Untuk markaz Jakarta, hilal pada saat matahari terbenam nanti sudah berada di ketinggian 3,27 derajat dengan posisi miring ke utara, dan akan berada di ufuk selama 18 menit 20 detik.

Dengan pertimbangan waktu ijtima’ dan posisi hilal tersebut diperkirakan tanggal bulan tanggal 1 rajab 1433 akan jatuh pada hari Selasa 22 Mei 2012 besok, dan umat Islam sudah bisa menjalankan puasa sunnah Rajab. Namun ketentuan awal bulan Rajab masih menunggu hasil rukyat nanti sore.

Haedar Nashir

Penulis: A. Khoirul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir AlaNu Haedar Nashir

Tamparan Petani Desa untuk Pejuang Formalisasi Syariat

Oleh Ahmad Naufa Khoirul Faizun



Foto yang ditampilkan di halaman ini adalah hasil jepretan Muhammad Fatichin di pesawahan Desa Kalipucung Timur, Batang, Jawa Tengah, pada 11 April 2016. Sekilas, foto ini terlihat biasa dan tak ada yang istimewa, yaitu: para petani melaksanakan shalat dzuhur berjamaah di pematang sawah.

Tamparan Petani Desa untuk Pejuang Formalisasi Syariat (Sumber Gambar : Nu Online)
Tamparan Petani Desa untuk Pejuang Formalisasi Syariat (Sumber Gambar : Nu Online)

Tamparan Petani Desa untuk Pejuang Formalisasi Syariat

Namun, di balik apa yang tampak ini, betapa agama Islam yang dibawa oleh Kanjeng Nabi Muhammad SAW 15 abad lalu di Makkah, telah membumi dan dilaksanakan oleh umat Islam sampai di pelosok desa. Pengaruh Islam begitu terasa, dan telah berakulturasi dengan adat dan budaya masyarakat.

Haedar Nashir

Belakangan, Islam ini mulai dikoyak dengan ide khilafah (Negara Islam). Mungkin mereka berpikir, butuh polisi syariat untuk menilang orang-orang yang enggan atau belum melaksanakan shalat pada waktunya. Padahal, tindakan pemaksaan seperti itu justru akan merendahkan kualitas ibadah seseorang: tidak berangkat dari kesadaran.

Haedar Nashir

Mereka lantang meneriakkan anti-Pancasila dan anti-demokrasi. Padahal, seharusnya mereka sadar, hanya demokrasi lah yang memungkinkan mereka bersuara tanpa kehilangan nyawa. Andai mereka berteriak ketika era Orde Baru dulu, tentu mereka sudah habis tanpa sisa, seperti beberapa aktivis Komunis yang mencoba menggulingkan negara.

Kemapanan Islam di Nusantara juga dikoyak oleh beberapa organisasi yang mengimpor Islam dari Timur Tengah. Dengan serta merta, tanpa pemahaman ideologis, metodologis dan historis yang memadahi, mereka menghakimi sesama muslim dengan ungkapan provokatif: bid’ah dan sesat.

Namun, sepertinya kita tak perlu khawatir dengan tingkah-polah mereka, karena dalam sejarahnya paham-paham yang mencerabut akar-budaya Nusantara selalu akan tergerus dan tidak laku. Meski demikian kita mesti waspada kepada gerakan mereka, oleh karena mereka memiliki jaringan internasional dengan biaya yang besar. Televisi, radio sampai buku dan majalah menjadi media mereka dalam mencerabut Islam dari akar-budaya Nusantara.

Sekali lagi, foto ketaatan petani ini mengingatkan, menegur, dan memberi teladan kepada kita, bahwa "orang kecil" pun memiliki kebesaran dan harga diri dalam melaksanakan ajaran Tuhan. Mereka bekerja, memakan hasil keringat sendiri, beribadah dan jauh dari ingar-bingar korupsi yang marak di parlemen, pemerintahan, sampai sekolahan. Mereka memiliki kemuliaan yang dewasa ini banyak hilang: kemandirian dan ketaatan kepada Tuhan.

Mereka para petani itu juga menjadi "tulang punggung bangsa", kata pendiri NU, KH Hasyim Asyari. Keberadaannya belum sepenuhnya diperhatikan pemerintah, utamanya upaya protektif akan keberadaan cukong dan pemborong. Pemerintah lewat Kementan dan Bulog mesti kerja lebih keras lagi, akar nasib petani bisa menjadi tuan-rumah di negeri sendiri. Beruntung, tahun lalu Indonesia telah mengekspor beras kelas khusus/organik 148 ton yang artinya ada peningkatan yang signifikan.

Dengan tenaga, keringat, doa dan keringat para petani, nasi putih dan harum tersaji di meja makan kita, meja makan restoran mewah, warung-warung angkringan sampai meja makan istana negara. Semoga pemerintah kedepan bisa lebih memperhatikan petani. Juga, nasib petani bisa sejahtera sebagai pilar kemandirian sebuah negara. Amin.

Penulis adalah kader IPNU dan seorang anak petani desa.



Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kajian, Bahtsul Masail, Santri Haedar Nashir

IPNU-IPPNU Karanganyar Peringati Harlah dengan Tumpengan

Karanganyar, Haedar Nashir

Para pengurus IPNU-IPPNU Kabupaten Karanganyar menggelar syukuran harlah ke-62 IPNU dan ke-61 IPPNU. Syukuran sederhana dengan doa bersama dan dilanjutkan pemotongan nasi tumpeng simbolis di kantor PCNU Karanganyar Jl. Gatot Subroto Karanganyar, Ahad (28/2).

IPNU-IPPNU Karanganyar Peringati Harlah dengan Tumpengan (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Karanganyar Peringati Harlah dengan Tumpengan (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Karanganyar Peringati Harlah dengan Tumpengan

Ketua IPNU Karanganyar Muhammad Ilham Subkhan mengungkapkan peringatan harlah merupakan upaya untuk mengingat perjuangan dan mendoakan para pendiri IPNU-IPPNU.

?

"Kami selenggarakan acara harlah ini dengan sederhana, yang terpenting esensinya tercapai, yaitu mendoakan para pendiri IPNU dan semangat juangnya," ungkap Ilham.

Ia juga berharap semoga harlah ini sebagai momentum kebangkitan pelajar NU di Karanganyar sehingga keberadaanya semakin diperhitungkan.

Haedar Nashir

Selanjutnya Ketua PCNU Karanganyar H Khuzaini Hasan dalam tausiyahnya meminta kepada pelajar NU untuk terus belajar, tapi belajar dengan guru yang jelas sanadnya.

"Putra-putriku yang ada di jajaran pengurus harus terus belajar, tapi belajar kepada guru yang jelas gurunya," jelas Khuzaini.

Haedar Nashir

"Kalau belajar tanpa guru atau guru yang tidak jelas, itu bisa berbahaya dan kita bisa tersesat," tambahnya.

Selain itu, ia berpesan kepada pengurus IPNU-IPPNU untuk berani menyuarakan paham Aswaja an-Nahdiyyah di daerah Karanganyar, karena sebagian dari masyarakat Karanganyar belum mengenal NU. (Ahmad Rosyidi/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nasional Haedar Nashir