Selasa, 06 Maret 2018

Pra Konferwil, IPNU-IPPNU Sulsel Gelar Dialog Publik

Makassar, Haedar Nashir. Pimpinan Wilayah IPNU-IPPNU Sulawesi Selatan mengadakan diskusi publik dengan tema ‘Pencegahan Dini Radikal-Terorisme Dikalangan Pelajar’ dalam rangka Pra Konferensi Wilayah (Konferwil) IPNU XIII dan IPPNU XII di Aula Tribun Timur, Jalan Cendrawasih Makassar.

Pra Konferwil, IPNU-IPPNU Sulsel Gelar Dialog Publik (Sumber Gambar : Nu Online)
Pra Konferwil, IPNU-IPPNU Sulsel Gelar Dialog Publik (Sumber Gambar : Nu Online)

Pra Konferwil, IPNU-IPPNU Sulsel Gelar Dialog Publik

Kegiatan tersebut menghadirkan pembicara Dr Ir H A Majdah M Zain Rektor Universitas Islam Makassar, Prof Dr HM Arfin Hamid Ketua ? Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Sulsel, Dr KH Afifiddin Harisah (Pimpinan Umum Pondok Pesantren Annahdlah Makassar).

Menurut Majdah, Potensi penularan gerakan radikalisme-terorisme di kalangan pelajar cukup tinggi di Indonesia, sehingga butuh perhatian yang cukup tinggi dari organisasi pelajar.?

Haedar Nashir

Sementara KH Afifuddin melihat, maraknya gerakan radikalisme di kalangan pelajar karena kondisi sosial yang tidak merata serta jauh dari keadilan, hal ini bisa memicu frustasi sosial sehingga pilihan untuk bergabung dengan gerakan radikal-teroris bisa menjadi opsi bagi pelajar.?

Ketua FKPT Sulsel Arfin Hamid berpendapat bahwa NKRI ‘Harga Mati’ sehingga gerakan radikal-teroris tidak bisa dibiarkan hidup di bumi Indonesia.?

Haedar Nashir

Tampak hadir Ketua IPNU Sulsel Ramli, Ketua IPPNU Sulsel Mirnawati, Ketua IPNU Makassar Muh Nur, Ketua IPPNU Makassar Azizah Dahlan, serta beberapa pengurus IPNU-IPPNU Sulsel dan perwakilan kampus yang ada di Makassar. (Muhammad Nur/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kajian Islam, RMI NU, Doa Haedar Nashir

Madrasah Huffadh Wisuda 29 Penghapal Qur’an

Yogyakarta, Haedar Nashir. Ba’da Ashar, Jum’at 14 Juni 2013, lantunan ayat-ayat suci sudah mulai menggema di area Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta yang menandai dimulainya rangkaian acara haul ke-54 Almarhum KH R. Abdul Qodir Munawwir dan Khataman Quran ke-12 Madrasah Huffadh Pondok Pesantren Al-Munawwir.

Madrasah Huffadh Wisuda 29 Penghapal Qur’an (Sumber Gambar : Nu Online)
Madrasah Huffadh Wisuda 29 Penghapal Qur’an (Sumber Gambar : Nu Online)

Madrasah Huffadh Wisuda 29 Penghapal Qur’an

Acara dibuka dengan sema’an Al-Qur’an di dua lokasi, yakni serambi masjid pondok dan aula Madrasah Huffadh pada Jum’at sore (14/6) oleh pengasuh, KH R. Muhammad Najib Abdul Qodir. Sema’an ini diisi oleh para huffadh alumni Madrasah Huffadh yang datang dari berbagai daerah, dan rencananya akan dikhatamkan sehari setelahnya, Sabtu (15/6), di pemakaman Dongkelan.

Keesokan harinya, Sabtu pagi (15/6), rencananya akan digelar Sarasehan dan Temu Alumni Madrasah Huffadh PP Al-Munawwir Krapyak dengan tema: “Syi’ar Al-Quran; Antara Harapan dan Tantangan.” Ba’da Ashar, acara dilanjutkan dengan ziarah menuju pemakaman keluarga besar Bani Munawwir di Dongkelan bersama segenap santri, diisi dengan khatmul Quran, tahlil dan doa bersama sebagai tanda birrul walidain.

Haedar Nashir

Malam harinya, ba’da isya, akan digelar wisuda 29 penghapal Al-Quran 30 juz bilghaib (terdiri dari 22 putra dan 7 putri) serta 50 wisudawan juz ‘Amma (putra). Selanjutnya disusul dengan Majlis Haul Almarhum KH R. Abdul Qodir Munawwir bersama KH Fathurrohman Thohir dari Pondok Pesantren Al-Ittihad Poncol Semarang sebagai pembicara.

Redaktur    : Mukafi Niam

Haedar Nashir

Kontributor: Zia Ul Haq

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Meme Islam, Pondok Pesantren, Kajian Islam Haedar Nashir

Minggu, 04 Maret 2018

Mahasiswa UIN Ar-Raniry Juara II Festival Film NU

Jombang, Haedar Nashir. Arziqi Mahlil dan Munzir, mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh berhasil meraih Juara II dalam festival film pendek dokumenter Muktamar ke-33 Nahdlatul Ulama (NU) yang berlangsung 1-5 Agustus 2015 di Jombang Jawa Timur.

Pengumuman juara festival film ini dipublikasikan melalui situs resmi NU (nu.or.id), Sabtu (1 agustus 2015), disebutkan, juara pertama diraih M. Iskandar Tri Gunawan dengan judul Bulan Sabit di Kampung Naga karya dan berhak menerima hadiah 20 juta, film ini mengungkap Islam pembawa misi rahmatan lil alamin, bukan hanya rahmatan lil muslimin. Untuk juara kedua dengan hadiah 15 juta dimenangkan oleh Arziqi Mahlil & Munzir dengan judul Dalae (dalail khairat), film ini menceritakan pemuda di desa berusaha melestarikan yang tumbuh dan berkembang Dalail di Aceh, sebaliknya dengan pemuda kota, sementara juara ke tiga Vedy Santoso dengan judul Al Ghoriib, ini mengisahkan seorang mualaf dari Jerman yang mondok di pesantren.

Mahasiswa UIN Ar-Raniry Juara II Festival Film NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahasiswa UIN Ar-Raniry Juara II Festival Film NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahasiswa UIN Ar-Raniry Juara II Festival Film NU

Arziqi Mahlil mengungkapkan, keikutsertaannya bersama Munzir pada festival film pendek dokumenter NU ini bersama yayasan Aceh Documentary, dari Aceh ada sekitar lima film yang ikut pada festival itu, dan semuanya masuk nominasi 15 karya terbaik film pendek Muktamar NU ke-33 tahun 2015.

Haedar Nashir

"Kami memilih tema tentang Dalae, ini menurut kami sangat penting, karena merupakan salah satu budaya di Aceh yang sangat kental dengan masyarakat, selama ini kami melihat budaya meudalae di Aceh sudah pudar, sudah jarang sekali, padahal budaya ini dapat mempersatukan masyarakat dan salah satu media dakwah," ujar Arziqi.

Ditambahkan, pembuatan film ini dilakukan di gampong Lamhui Kuta Cot Gli Aceh Besar dan diproduksi oleh Yayasan Aceh Documentary (ADC), ini dibawah bimbingan Adoc dalam ajang ADC pada tahun 2014.  

Haedar Nashir

"Kita berharap, dengan lahirnya karya film ini dapat menginspirasi para pemuda di Aceh untuk terus menggalakkan dalae di malam hari, selain sebagai nilai ibadah, ini juga dapat dijadikan sebagai ajang silaturrahmi dan pemersatu masyarakat di gampong-gampong," ujar Mahasiswa semester VIII jurusan Komunikasi UIN Ar-Raniry.

Hamzah Sahal, koordinator tim kreatif Muktamar ke-33 NU mengatakan, panitia menerima 69 karya film yang didaftarkan oleh peserta dari seluruh Indonesia, ke-69 judul film tersebut melibatkan tidak kurang 75 sutradara muda yang berasal dari 13 provinsi, Jawa Tengah, Tawa Timur, DI Jogjakarta dan Aceh paling banyak mengirimkan karya.

"Dewan juri memilih tiga film di atas sebagai juara karena cukup menarik secara ide, cukup matang dalam eksekusi gagasan, cukup dalam teknis penyajian," kata Sahal. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Anti Hoax, Warta, Pondok Pesantren Haedar Nashir

PBNU Minta Lesbumi Isi Kekosongan Dakwah Bilhikmah

Jakarta, Haedar Nashir. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj mengatakan, tema Islam Nusantara yang damai dan ramah harus gencar diperkenalkan NU ke dunia internasional. Islam Nusantara sangat relevan untuk saat ini ketika dunia Islam, khususnya Timur Tengah dalam keadaan kacau dan tidak dapat dikendalikan.

Menurut kiai yang akrab disapa Kang Said, setelah Muktamar NU Ke-33 di Jombang, Jawa Timur, yang mengangkat tema Islam Nusantara, pemimpin-pemimpin Islam mengucapkan selamat.

PBNU Minta Lesbumi Isi Kekosongan Dakwah Bilhikmah (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Minta Lesbumi Isi Kekosongan Dakwah Bilhikmah (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Minta Lesbumi Isi Kekosongan Dakwah Bilhikmah

“Dengan Islam Nusantara kita mendapatkan respon banyak. Habis muktamar, Menteri Wakaf Maghribi (Maroko), Sudan, dari Ankara (Turki), Afghanistan mengucapkan selamat atas suksesnya Islam Nusantara,” katanya saat pembukaan Rakernas Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) di gedung PBNU, Jakarta Rabu (27/1).

Haedar Nashir

Kang Said menambahkan, tema Islam Nusantara menarik karena ulama di Timur Tengah tidak didengar lagi oleh masyarakatnya karena ulama yang ilmu-ilmunya berbobot seperti Syiria, Irak, dan Mesir sedang mengalami krisis dalam negeri.

Ia meminta dengan semangat Islam Nusantara, Lesbumi NU berusaha menyelamatkan negara secara politik, seni, dan kebudayaannya. “Mari kita jaga air, laut, hutan, tambang, jangan sampai kekayaan kita dirampok kapitalis,” katanya pada Rakernas bertema “Berjuang dan berkhidmah untuk Islam Nusantara dan NKRI tersebut.? ?

Haedar Nashir

Kiai yang profesor ini peran Lesbumi sangat penting mengisi kekosongan dakwah bilhkimah yang mengedepankan nilai-nilai universal. “Dakwah dengan seni budaya lebih ampuh daripada pedang,” katanya. ?

Ia mengutip Dzu Nun Almishri yang berpendapat soal musik sebagai suara kebenaran universal bisa mengugah hati manusia menuju Allah. Barangsipa memdengarkannya dengan hak, akan memdapatkan hakikat, tapi kalau dengan syahwat, akan membawa kepada kezindiqan. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Olahraga Haedar Nashir

Sabtu, 03 Maret 2018

Mempertahankan al-Aqsa dari Ancaman Israel

Kawasan paling panas di Timur Tengah, Palestina kembali bergolak setelah Israel memasang detektor logam di pintu-pintu masuk Masjidil al-Aqsa. Masyarakat Palestina kemudian melakukan demonstrasi sedangkan dunia internasional menekan Israel untuk mencabut kembali detektor-detektor yang sebelumnya sudah dipasang. Sekalipun akhirnya peralatan tersebut dicopot kembali, Israel berencana memasang kamera pengintai canggih.?

Tindakan Israel untuk “mengokupasi” Masjidil al-Aqsa ini didasari alasan keamanan setelah ada dua orang polisi Israel yang ditembak oleh dua orang Palestina. Tampaknya Israel menggunakan memomentum ini sebagai kesempatan untuk menguasai kompleks yang sebelumnya berada di bawah otoritas Yordania.?

Alat pengintai canggih yang rencananya akan dipasang di kompleks Masjidil al-Aqsa ini juga tidak dapat diterima. Jika ini boleh dipasang, ini menunjukkan berlakunya otoritas Israel di wilayah tersebut. Sudah sejak lama Israel ingin menguasai sepenuhnya kompleks suci ini sebagai bagian dari Israel Raya. Salah satu targetnya adalah memindahkan ibukotanya ke Yerussalem dari sebelumnya di Tel Aviv.

Mempertahankan al-Aqsa dari Ancaman Israel (Sumber Gambar : Nu Online)
Mempertahankan al-Aqsa dari Ancaman Israel (Sumber Gambar : Nu Online)

Mempertahankan al-Aqsa dari Ancaman Israel

Tindakan yang dilakukan Israel tersebut tentu saja melanggar kebebasan untuk beribadah. Otoritas pengelolaan Masjid al-Aqsa saat ini harus sebagaimana yang berjalan sebelumnya. Untuk mencegah upaya Israel mengambil alih tempat suci ini, sudah selayaknya jika masyarakat internasional dilibatkan dalam upaya perlindungan kompleks yang dihormati oleh tiga agama ini.?

Strategi dalam memperjuangkan Palestina saat ini tampaknya harus diubah. Upaya meraih kemerdekaan dengan perjuangan fisik, bahkan sudah kalah sejak perang 1967. Semakin ke sini, kapasitas militer Israel semakin canggih, sementara pejuang Palestina hanya bisa berjuang dengan peralatan yang kapasitasnya jauh di bawah apa yang dimiliki Israel yang mendapat dukungan penuh dari Amerika Serikat dan beberapa sekutu lainnya dengan persenjataan tercanggih saat menghadapi ancaman. Korban-korban nyawa terus berjatuhan sedangkan kerusakan fisik yang ditimbulkan akibat peperangan juga bernilai sangat besar. Semakin lama, rakyat Palestina semakin menderita jika pendekatannya adalah militer.

Haedar Nashir

Belakangan, perjuangan melalui jalur diplomasi untuk memperjuangkan kemerdekaan Palestina lebih berhasil. Pengakuan eksistensi Palestina di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dengan dukungan penuh negara-negara Muslim dan negara lain yang menginginkan kemerdekaan Palestina menunjukkan kekalahan diplomasi Israel dan Amerika Serikat. Kemenangan lain Palestina atas Israel dan Amerika Serikat terjadi juga atas pengakuan Palestina oleh UNESCO. Diplomasi pula yang membuat beberapa negara memboikot barang-barang Israel yang diproduksi di daerah pendudukan yang dikuasai setelah perang 1967.?

Mengharapkan Amerika Serikat sebagai juru damai yang adil untuk kepentingan kedua belah pihak bagaikan pungguk merindukan bulan. Berbagai kepentingan menjadikan kebijakan resmi negeri adidaya ini lebih condong dalam melindungi Israel daripada memperjuangkan aspirasi Palestina. Poros kekuatan dunia yang kini semakin tersebar ke berbagai negara besar lain seperti India dan China serta perubahan sikap dari negara-negara Eropa Barat yang kini melihat persoalan secara lebih berimbang bisa dimanfaatkan untuk memperjuangkan kepentingan Palestina secara lebih intensif.?

Haedar Nashir

Tentu saja, perjuangan Palestina tersebut tidak bisa menyerahkan sepenuhnya pada negara-negara Timur Tengah sendiri yang hingga kini tak henti-hentinya dilanda konflik, apalagi hanya menyerahkan sepenuhnya kepada rakyat Palestina yang terus mengalami himpitan keras oleh Israel. Indonesia sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia dapat mengambil inisiatif dan peran penting membantu membantu Palestina dalam forum-forum internasional.

Indonesia pernah memiliki peran penting dalam diplomasi internasional saat era kepemimpinan Soekarno. Penyelenggaraan Konferensi Asia Afrika (KAA) menjadi pendorong kemerdekaan negara-negara di dua kawasan tersebut yang sebelumnya masih mengalami kolonialisasi. Para pemimpin Indonesia di masa kini atau masa mendatang bisa belajar langkah-langkah yang dilakukan oleh presiden pertama RI ini dalam memperjuangkan kepentingan negara-negara berkembang atau negera terbelakang di hadapan kepentingan negara-negara yang kuat yang tidak mau kehilangan gehemoni atas sumberdaya yang mereka miliki, sekalipun merugikan merugikan pihak lain. Bagi para pemimpin negara, kepentingan tertinggi mereka adalah kepentingan nasionalnya karena mereka dipilih oleh penduduk di negaranya. Karena itu, negara-negara Muslim tidak bisa sepenuhnya berpangku tangan dengan mengharapkan keadilan diberikan. Keadilan harus diperjuangkan?

Demikian pula, cita-cita negara Palestina yang damai dan sejahtera, tidak bisa hanya dengan mengandalkan kerelaan pihak lain untuk berkorban. Upaya tersebut harus diperjuangkan. Jika melihat situasi kekinian, maka pola perjuangan yang paling memungkinkan adalah melalui jalur diplomasi. Dan hal ini membutuhkan kebersamaan negara-negara Muslim untuk memiliki satu pandangan akan pentingnya Palestina dan Masjidil Aqsa sebagai salah satu tempat suci yang harus dijaga eksistensinya. ? (Ahmad Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Hikmah Haedar Nashir

Gus Mus Dituduh Liberal?

Kendal, Haedar Nashir. KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) dituding sejumlah pihak beraliran liberal. Berkaitan dengan itu, warga Nahdlatul Ulama (NU) di Kendal, Jawa Tengah, meminta pihak yang menuding Pj Rais Aam PBNU 2014-2015 sebagai sosok liberal menggunakan nalarnya dengan baik.

"Yang bilang Syaikhona Gus Mus itu liberal sebaiknya mikir! Lihat dari dekat dengan hati dan akal sebelum mengatakan beliau liberal," ujar Shuniyya Ruhama Habiballah, warga NU di Kendal, Selasa (11/8).

Gus Mus Dituduh Liberal? (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Mus Dituduh Liberal? (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Mus Dituduh Liberal?

KH Ahmad Mustofa Bisri hingga hari ini akrab dipanggil Gus Mus. Sapaan “gus” lazimnya diperuntukkan bagi putra kiai dan umumnya berusia muda. "Padahal beliau itu kiai sepuh disegani banyak orang, ilmunya seperti lautan tak bertepi. Sementara orang baru belajar agama Islam, baru tahu satu dua ayat dijerumuskan teman-temannya dengan sebutan ustadz. Liberal siapa?" kata dia.

Haedar Nashir

Menurutnya, Gus Mus yang dilahirkan di Rembang, Jawa Tengah, 10 Agustus 1944 selalu sumringah, bersikap melayani, tidak seperti ndoro yang selalu minta dilayani.

"Tidak peduli yang sowan itu pejabat atau penjahat, semua diterima dengan tangan terbuka. Tidak pernah menghakimi orang lain. Sementara yang baru saja belajar agama sudah berani menggantikan tugas Malaikat Rokib dan Malaikat Atid, bahkan tidak segan-segan mengambil alih tugas Malaikat Ridwan dan Malaikat Malik. Liberal siapa?" ujar Shuniyya lagi.

Haedar Nashir

Menurutnya, jika disowani, pengasuh Pondok Pesantren Raudlatuh Tholibin, Leteh, Rembang tersebut dengan senang hati diajak foto bersama karena ingin menyenangkan hati semua orang.

"Tidak ada sedikitpun umpatan dan cacian yang akan kita dengar dari lisan beliau yang mulia. Bandingkan saja dengan sebarisan orang yang mengharamkan foto narsis, mencaci, memaki, bahkan tidak segan-segan meneraka-nerakan orang lain. Di saat yang sama, fotonya dengan berbagai gaya dan pose bertebaran di mana-mana. Liberal siapa?" tuturnya lagi.

Pada Muktamar NU 33 di Jombang 2015, Gus Mus bahkan bersedia mencium kaki para peserta supaya tetap tenang.

"Kiai sepuh panutan umat kok mau-maunya menyatakan hal semacam itu. Sementara yang di sana, jangankan mencium tangan kiai, sowan saja entah mau entah tidak. Liberal siapa? Lihat saja, saat beliau begitu saja menolak jabatan tertinggi dari ormas Islam terbesar di dunia, padahal sudah pernah menjadi pejabat sementara saat Syaikhona Mbah Sahal Mahfudh Pati berpulang ke rofiqul a’la sebelum selesai tugasnya, dan didukung penuh oleh kiai sepuh yang lebih senior, beliau hanya tertunduk, menangis, merasa tidak pantas. Lha yang di sana itu, malah mengangkat dirinya sebagai pemimpin ini itu, imam ini itu, setidaknya dijerumuskan teman-temannya sendiri dalam jabatan itu, petentang-petenteng padahal ada yang jauh lebih pantas atas sebutan dan jabatan itu. Liberal siapa?" katanya lagi.

KH Ahmad Mustofa Bisri pada Senin (10/8) kemarin berulang tahun yang ke-71. Ucapan selamat dan doa datang dari berbagai kalangan. (Gatot Arifianto/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Makam Haedar Nashir

Jumat, 02 Maret 2018

Ansor Tangerang Rekrut 30 Banser Baru

Tangerang, Haedar Nashir. Menjelang dilaksanakannya Konfercab IV Nahdlatul Ulama Kota Tangerang 20 Mei 2015. Gerakan Pemuda Ansor Anak Cabang Kecamatan Jatiuwung menggelar Diklatsar Banser yang dilaksanakan di Pondok Pesantren Darussa’adah. Pelatihan yang diadakan selama 3 hari (15-17 Mei) diikuti oleh 30 peserta.

Tentunya kegiatan ini sebagai bentuk regenerasi Banser di Kota Tangerang. Selama 3 hari mereka dibekali pengetahuan baik itu mengenai keorganisasian, ke-NU-an sampai materi-materi kemiliteran. 

Ansor Tangerang Rekrut 30 Banser Baru (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Tangerang Rekrut 30 Banser Baru (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Tangerang Rekrut 30 Banser Baru

“Sudah pasti ketika mereka berhasil dan lulus mengikuti kegiatan Diklatsar, mereka siap diterjunkan untuk pengamanan Konfercab IV NU Kota Tangerang sebagai tugas pertama mereka,” ujar Hartono ketua PAC GP Ansor Kecamatan Jatiuwung.

Haedar Nashir

Hadir memberikan motivasi H. Ahmad Imron (Ketua PW Ansor Banten). Dalam kesempatan itu Imron menyampaikan mengenai sejarah Ansor dalam menghantarkan kemerdekaan Indonesia dan berharap kader-kader baru Banser ini menjadi kader yang rahmatan lil ‘alamin, yang siap siaga menjaga kedaulatan NKRI dari segala bentuk makar yang dilakukan oleh segelintir orang yang tidak menginginkan Pancasila dan UUD 1945. (atho al farhan/mukafi niam)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nusantara, RMI NU Haedar Nashir