Minggu, 29 Maret 2015

NU, Imlek, dan Indonesia

Lebih dari 30-an tahun umat agama Kong Hu Cu mengalami diskriminasi. Hak mereka untuk bebas beragama dan berkeyakinan dilarang oleh pemerintah Orde Baru melalui Inpres Nomor 14 Tahun 1967. Perayaan Imlek (Guo Xin Nian) selain juga Cap Go Meh, Ceng Beng, Sembahyang Rebut, dan lainnya dianggap sebagai sebuah afinitas budaya pada negeri leluhurnya, Tiongkok, yang akan mengancam budaya bangsa Indonesia.

Padahal jelas, pada pasal 29 ayat 2 UUD 1945 dinyatakan “Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk  agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.” Atas dasar itu, beruntunglah sosok presiden Abdurrahman Wahid yang biasa disapa Gus Dur dengan penuh keyakinan mencabut Inpres itu melalui Keppres RI Nomor 6 Tahun 2000.

Bukan tanpa alasan, Gus Dur paham betul bahwa masyarakat Indonesia di hadapan Negara adalah sama dan setara kedudukannya. Tak peduli ia beretnis dan beragama apa. Lebih daripada itu bahwa agama Islam dan lainnya adalah agama universal. Islam sendiri punya visi rahmatan lil’alamin, sebagai agama yang bercita-cita mewujudkan tatanan kehidupan berbangsa dan beragama yang penuh kasih sayang dan harmoni.

NU, Imlek, dan Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
NU, Imlek, dan Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

NU, Imlek, dan Indonesia

Harlah NU dan Imlek

31 Januari merupakan hari lahir (harlah) Nahdlatul Ulama (NU). Kini, usianya mencapai 88 tahun (1926-2014). Pada harlah NU tahun ini, juga bertepatan dengan tahun baru Imlek. Dua momen ini betapa penting. NU sebagai ormas terbesar di Indonesia, mengemban amanat dalam menjaga harmonisasi umat beragama. Komitmen itulah yang dipegang oleh Gus Dur, sebagai orang yang pernah menjadi pimpinan tertinggi NU dan presiden RI, untuk memenuhi hak beragama dan berkeyakinan bagi umat Kong Hu Cu dan umat-umat agama lain yang rentan mendapat perlakuan diskriminatif.

Sejak berdirinya NU meyakini bahwa bangsa ini merdeka berkat persatuan dan kesatuan seluruh komponen bangsa, bukan hanya hasil jerih payah umat agama tertentu saja. Karena itu NU berkomitmen dalam mengusung kerja-kerja kemanusiaan berdasarkan prinsip yang kukuh dipedomaninya; tasamuh (toleran), tawazun (seimbang), tawassuth (moderat) dan ‘itidal (tegak lurus).

Haedar Nashir

Baik harlah NU maupun tahun baru imlek, paling tidak kita bisa memaknai bahwa keduanya merupakan pengingat untuk kita, masyarakat bangsa, untuk kembali pada khitthah ‘Bhinneka Tunggal Ika’ dan kembali bangkit menjadi bangsa yang bersatu dan maju di bawah payung empat pilar kebangsaan; Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika.

Kasus-kasus kekerasan dan intoleransi atas nama apapun, apalagi atas nama agama, tak ada ampun dan sudah seharusnya dihentikan. Karena kalau tidak, ia akan semakin membahayakan dan berujung pada radikalisme dan terorisme. Kesadaran itu dapat bermuara pada titik temu yang satu mana kala kita menyadari bahwa Indonesia menjadi milik bersama, karena itu sesama masyarakat bangsa perlu menumbuhkan kesadaran moral untuk saling menghargai dan mengasihi.

Apalagi harlah NU dan Imlek tahun ini, dirayakan di saat bangsa tengah dikepung oleh berbagai tindak koruptif dan inkonstitusional. Sudah seharusnya umat beragama, para tokoh dan pemeluknya bersatu padu untuk membangun sebuah kesadaran moral dan solidaritas kebangsaan yang kuat, agar nasib dan masa depan bangsa tak tergadaikan. Jangan lagi kita habiskan energi untuk mengurusi hal-hal parsial tak ada guna, sementara praktik politik manipulatif dan korupsi lekang dari perhatian kita. Ditambah jelang hajat demokrasi akbar April 2014 mendatang, sederet problem sosial kemanusiaan yang lain juga tak berangsur membaik; kemiskinan, pengangguran, kriminalitas, dan lainnya semakin mewabah secara endemik. Kenyataan ini yang juga semakin berpeluang untuk dijadikan ajang untuk menarik simpati rakyat.

Merayakan Indonesia

Sebagaimana perayaan tahun baru Islam (hijriyah) dan tahun baru masehi, tahun baru Imlek merupakan perayaan masyarakat bangsa. Merayakan Imlek berarti merayakan Indonesia. Sungguh tak berdasar jika turut bahagia atas kebahagiaan umat agama lain dianggap sebagai sebuah sikap merusak agama dan keyakinan. Karena justru, agama menjadi spirit dan perekat untuk membingkai persaudaraan.

Haedar Nashir

Spirit persaudaraan itu senada dengan spirit perdamaian dan kebangsaan. Spirit ini  dapat juga kita ilhami dalam lima ajaran Konfusius, yakni Jen (kebajikan dari segala kebajikan), Chun-tzu (hubungan ideal antara sesama manusia), Li (kesopanan), Te (kebajikan atau kekuatan untuk memerintah), dan Wen (seni perdamaian). Lima ajaran Confucius ini sejatinya adalah ajaran universal yang juga terdapat pada agama-agama lain, tak terkecuali Islam.

Mari bersaudara, merajut kembali bhinneka tunggal ika, setia menjaga NKRI, selamat harlah NU yang ke 88, selamat tahun baru Imlek, Gong Xi Fat Cai!

 

Mamang M. Haerudin, Khadimul-Ma’had di pesantren Raudlatut Tholibin, Babakan-Ciwaringin dan Ketua LP3M STID Al-Biruni Cirebon

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Olahraga, Hadits Haedar Nashir

Sabtu, 28 Maret 2015

Wahyu Saputro-Khotimatus Saadah Pimpin Pelajar NU Kudus

Kudus, Haedar Nashir

Konferensi Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kabupaten Kudus telah menetapkan ketua baru masa khidmah 2016-2018.

Wahyu Saputro-Khotimatus Saadah Pimpin Pelajar NU Kudus (Sumber Gambar : Nu Online)
Wahyu Saputro-Khotimatus Saadah Pimpin Pelajar NU Kudus (Sumber Gambar : Nu Online)

Wahyu Saputro-Khotimatus Saadah Pimpin Pelajar NU Kudus

Pada sidang pemilihan secara terpisah di aula SMK NU Maarif, Sabtu (13/8) itu, M Wahyu Saputro terpilih menjadi ketua IPNU Kudus dan Khotimatus Saadah sebagai ketua IPPNU.

?

Dalam pemilihan yang dipimpin PW IPNU-IPPNU Jawa Tengah, M Wahyu Saputro memperoleh 53 suara mengungguli calon lain M Tausiul Ilma yang memperoleh 51 suara dan Saiful Huda (Bae) yang meraih hanya 2 suara. Sementara Khotimatus Saadah meraih 69 suara lebih unggul dari dua calon lain Nurul Afifah (23 suara) dan Asri Awaliyah (9 suara).

?

Haedar Nashir

Setelah terpilih, keduanya menyatakan kesediaannya mengemban amanah badan otonom NU beranggotakan para pelajar ini tiga tahun mendatang. Kendati tidak menyangka mendapat kepercayaan, Wahyu Saputro menegaskan kesiapannya memimpin pelajar NU Kudus.

"Ini adalah sebuah amanah yang harus dijalankan, semoga mendapat ridha dari Allah SWT," ujarnya.

?

Haedar Nashir

Kader terbaik dari Kecamatan Jati ini akan berusaha memperbaiki sistem pendirian komisariat di madrasah, sekolah dan pesantren guna menyiapkan kader sejak dini. Di samping itu, Wahyu juga akan membenahi sistem kaderisasi dari tingkatan cabang, anak cabang, ranting, hingga komisariat.

?

"Kita akan menginventarisir kader-kader di madrasah-sekolah dan pesantren untuk dijadikan cikal bakal pendirian komisariat," katanya.

?

Langkah lainnya, imbuh pria yang biasa disapa Yoyok ini, akan melakukan pendekatan kepada kepala madrasah/sekolah terutama wakil kepala kesiswaan dalam rangka mewujudkan pendirian komisariat.

?

"IPNU akan bersinergi LP Maarif, kepala madrasah/sekolah NU. Tanpa kekuatan sinergis tidak bisa berjalan program-program IPNU-IPPNU," ujarnya menyadari.

?

Senada dengan Yoyok, Khotimatus Saadah menyatakan siap mengemban amanah dan akan menjalin kerja sama dalam mengembangkan organisasi dengan visi keterpelajaran. "Doakan saja semoga kami amanah menjalankan mandat konferensi," ujarnya singkat.

?

Untuk melengkapi kepengurusan, ketua terpilih dibantu tim formatur yang terdiri dari ketua terpilih, ketua lama, dan 9 ketua Pimpinan Anak Cabang se-Kudus. (Qomaru Adib/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nasional, AlaSantri Haedar Nashir

NU harus Mengarah pada Pendidikan Berbasis Sistem, bukan Figur

Jakarta, Haedar Nashir. Dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan di lingkungan Nahdlatul Ulama, sudah saatnya NU mengembangkan pendidikan yang berbasis pada sistem, bukan lagi pada figur yang memimpin.

Demikian dituturkan oleh Wakil Rais Aam PBNU KH Tolhah Hasan dalam acara rapat koordinasi Lembaga Pendidikan Maarif NU yang diselenggarakan di hotel Sofyan, Selasa (14/8).

NU harus Mengarah pada Pendidikan Berbasis Sistem, bukan Figur (Sumber Gambar : Nu Online)
NU harus Mengarah pada Pendidikan Berbasis Sistem, bukan Figur (Sumber Gambar : Nu Online)

NU harus Mengarah pada Pendidikan Berbasis Sistem, bukan Figur

Dikatakan oleh Mantan Menteri Agama ini bahwa keberadaan pesantren sebagai sistem pendidikan yang banyak dikelola oleh warga NU masih sangat menggantungkan diri pada figur kiai yang memimpinnya.

“Jika kiai memiliki kharisma yang tinggi, maka santrinya akan sangat banyak, tetapi belum tentu hal ini bisa bertahan jika pengelola pesantren tersebut sudah berganti,” tuturnya.

Banyak sekali contoh pesantren yang dulu sangat besar dan disegani tetapi belakangan ini mengalami penyusutan karena pergantian kepemimpinan yang oleh masyarakat kualitasnya dianggap tidak sama dengan pendahulunya. Hal sebaliknya juga terjadi, meskipun pesantrennya baru, tetapi kiainya dianggap memiliki kelebihan tertentu, maka dengan segera, akan terjadi peningkatan jumlah santri.

Dalam pendidikan yang sudah mengandalkan sistem manajemen modern, maka kualitas pendidikan dan pengajaran ditentukan oleh kurikulum dan kelengkapan sarana dan prasarana pembelajaran yang ada seperti adanya guru yang berkualitas, laboratorium, peralatan yang memadai dan lainnya.

Haedar Nashir

“Jadi ketika kepala sekolah ganti, hal ini tidak akan berpengaruh terhadap jumlah siswa yang ada di sekolah tersebut,” paparnya.

Haedar Nashir

Pendiri Universitas Islam Malang ini juga menuturkan bahwa pengelola lembaga pendidikan saat ini tak boleh main-main dengan kualitas sekolahnya agar tetap bias eksis di masyarakat.

“Jika kualitas sekolah sudah menjadi kebutuhan, maka ikatan primordial akan berkurang dibandingkan dengan mutu sekolah,” katanya.

Untuk membangun sekolah yang baik, tiga modal pokok yang harus dipenuhi adalah aspek financial, intelektual dan jaringan.

Kiai Tolhah menuturkan bahwa saat ini ia tengah berupaya mengambangkan SMK berbasis pesantren atau pesantren teknologi untuk menyiapkan para generasi muda NU agar bisa terjun ke bidang tersebut. (mkf)



Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir IMNU Haedar Nashir

Jumat, 20 Maret 2015

Perkuat Peran KPI, NU Jatim Bentuk Nusantara Media Watch

Surabaya, Haedar Nashir. Salah satu fungsi keberadaan media adalah sebagai pemberi informasi berdasarkan kenyataan, jujur dan berimbang. Namun tidak sedikit media yang justru kehilangan ruh pengabdiannya.

"Karena itu masyarakat harus mengawasi media dari segala bentuk penyimpangan informasi dan pelanggaran penyiaran," kata Ahmad Najib AR, Jumat (1/4). Dalam pandangan Ketua Lembaga Talif wan Nasyr Nahdlatul Ulama (LTN NU) Jawa Timur ini, masyarakat harus mengawasi media dari kooptasi pemodal dan propaganda berbagai pihak yang menyalahgunakan.

Perkuat Peran KPI, NU Jatim Bentuk Nusantara Media Watch (Sumber Gambar : Nu Online)
Perkuat Peran KPI, NU Jatim Bentuk Nusantara Media Watch (Sumber Gambar : Nu Online)

Perkuat Peran KPI, NU Jatim Bentuk Nusantara Media Watch

Di lain pihak, keberadaan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) sebagai pengambil kebijakan dalam pemantauan media dinilai kurang optimal. "KPI masih terlalu lunak terhadap pelanggaran media dan cenderung permisif terhadap program dan konten media," kata Gus Najib, sapaan akrabnya. Demikian pula sejumlah lembaga sosial masyarakat yang fokus dalam pengawasan juga masih belum efektif dalam menyuarakan aspirasi masyarakat terkait penyimpangan media.

"Dan pada saat yang sama, perkembangan media publik yang sangat pesat tidak sebanding dengan organ pemantau yang ada," kata alumnus Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya ini.

Sebagai solusi, PW LTN NU Jatim sebagai lembaga yang memiliki tugas antara lain mengawasi mutu siaran, mengajak pemilik dan pengelola media menjaga fungsinya. "Kami juga mengajak masyarakat mengawasi media dari segala bentuk penyimpangan informasi dan pelanggaran penyiaran," katanya.

Haedar Nashir

Sebagai bentuk tanggung jawab, PW LTN NU Jatim meluncurkan Nusantara Media Watch atau Samawat. "Keberadaan Samawat nantinya bersinergi dengan struktural NU beserta badan otonom dan lembaga yang ada di semua tingkatan dan membangun jaringan seluas-luasnya dengan lembaga yang fokus dalam bidang pemantauan media," jelasnya.

Tidak berhenti sampai di situ, kiprah yang dilakukan Samawat nantinya juga akan mengarah pada evaluasi terhadap berbagai regulasi yang telah ada. "Kami juga akan memantau dan mengkritisi sejumlah perundangan, peraturan, dan regulasi pemerintah, baik tingkat pusat maupun daerah, terkait media dan penyiaran," kata dia.

Samawat juga memantau konten buku pelajaran sekolah, diktat perkuliahan, dan buku bacaan umum. "Demikian juga ada pemantauan terhadap produk pembelajaran dan informasi, baik berbentuk CD, aplikasi dan digital," jelasnya.

Untuk memperkuat kelembagaan, Samawat menjalin komunikasi dan koordinasi dengan Kemenkominfo, KPI, PWI, AJI, Ombudsmen, dan lembaga lain yang menjadi stakeholder pemerintah dalam dunia media dan penyiaran.

Haedar Nashir

"Samawat juga melakukan pembinaan media literacy kepada masyarakat khususnya nahdliyyin melalui kegiatan seminar, workshop, training, dan sejenisnya," terang dia.

Gus Najib berharap lembaga ini dengan segala niatan tulusnya mendapat dukungan dari banyak kalangan. "Semoga bukan sekedar angan, tapi terealisir sesuai harapan," pungkasnya. (Ibnu Nawawi/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir AlaNu, Tokoh Haedar Nashir

Senin, 09 Maret 2015

Pembeda Mahasiswa dan Kambing Itu Buku

Bandung Barat,Haedar Nashir. Media massa memainkan peranan penting dalam kehidupan umat manusia. Bukan hanya pada kehidupan sekarang. Jauh di masa lalu, literatur sudah memiliki peranan yang sangat menentukan gerak kehidupan politik, sosial dan kebudayaan.

Pembeda Mahasiswa dan Kambing Itu Buku (Sumber Gambar : Nu Online)
Pembeda Mahasiswa dan Kambing Itu Buku (Sumber Gambar : Nu Online)

Pembeda Mahasiswa dan Kambing Itu Buku

"Karena itu aktivis pergerakan harus mengenal dekat media massa. Harus bisa juga memainkan peranan sebagai jurnalis, syukur-syukur bisa membuat media sendiri untuk kepentingan pergerakan. Lebih hebat lagi kalau nanti memiliki media besar," ujar Faiz Manshur, inisiator Gerakan Kewargaan (Civic-Islam) di hadapan peserta Seminar Nasional: Pelatihan Kader Lanjut Organisasi Pergerakan Mahasiswa Islam (PMII) se-Jabar Barat, Jumat 4/12/2015 di Balai Diklat Lembang Kabupaen Bandung Barat.

Menurut Faiz, tradisi menulis harus diperkuat di kalangan aktivis pergerakan. Sebab jika aktivis tidak mampu menulis itu akan menyiksa pikiran karena dalam urusan pergerakan sosial atau politik akan selalu butuh media massa sebagai alat pergerakan.

Haedar Nashir

"Sejarah pergerakan semenjak zaman nabi-nabi hingga masa nation-state berlanjut era demokrasi sekarang ini selalu lekat dengan literatur. Berdirinya Indonesia juga tak lepas dari peran jurnalis seperti Mas Marcokartodikromo, Tirto Adhi Soerjo, dan lain sebagainya. Bahkan organisasi NU bisa tampil sebagai kekuatan civil-society juga karena peran para jurnalis," ujarnya memotivasi.

Haedar Nashir

Pada kelompok NU, Faiz mengisahkan bahwa salah seorang jurnalis seperti Mahbub Djunaidi sangat menonjol dalam memajukan NU. Sekalipun saat itu media massa hanya dibaca segelintir orang, tapi kecermelangan pemikiran Mahbub, menjadikan NU memiliki wibawa yang besar di pentas nasional. Demikian juga apa yang dilakukan Gus Dur atau Gus Mus dengan karya-karyanya terbukti mampu menjadikan NU menjadi garda depan gerakan intelektual dan yang lebih penting lagi mereka mampu mendorong generasi selanjutnya tertarik dalam urusan jurnalistik. "Jadi kalau ada aktivis NU tidak suka menulis, barangkali itu kader yang tidak ingin NU maju," ujarnya.

Aktivis dan Kambing

Faiz Manshur juga menyarankan agar para aktivis jangan sebatas jadi aktivisme yang hobi bergiat organisasi tapi melupakan tanggung jawab intelektual dengan menggumuli bacaan. Hobi membaca pun tidak menjadikan syarat untuk menjadi penulis yang mahir lebih-lebih jika aktivis itu tidak mau membaca karya bermutu.

"Pasti lebih repot. Jangan sembarang membaca karena sekarang bacaan banyak yang sekadar informasi instan yang tidak memiliki gizi untuk perbaikan kualitas pemikiran," terangnya.

Terkait dengan urusan membaca ini secara khusus, Faiz Manshur, menekankan kepada para aktivis mahasiswa karena bacaan dan karya tulis itulah yang akan menjadi nilai lebih dirinya sebagai sosok di masyarakat.

"Ciri-ciri aktivis yang baik itu bangun pagi terus mandi. Habis mandi tengok kandang kambing. Lalu lihatlah di kandang itu. Ada buku enggak? Kalau tidak, maka jangan sampai kamarmu tidak ada buku. Sebab yang membedakan mahasiswa dengan kambing itu buku," ujarnya disambut tawa peserta. (Yus Makmun/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Meme Islam, Quote Haedar Nashir

Minggu, 08 Maret 2015

UNU Kalbar Mulai Sosialisasi Penerimaan Mahasiswa Baru

Jakarta, Haedar Nashir. Setelah melakukan penerimaan dosen, Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Kalbar bersiap-siap membuka pendaftaran mahasiswa. Sebagai langkah awal, pihak UNU Kalbar mengadakan kunjungan sosialisasi ke Kemenag Kalbar untuk diteruskan ke madrasah-madrasah aliyah.

UNU Kalbar Mulai Sosialisasi Penerimaan Mahasiswa Baru (Sumber Gambar : Nu Online)
UNU Kalbar Mulai Sosialisasi Penerimaan Mahasiswa Baru (Sumber Gambar : Nu Online)

UNU Kalbar Mulai Sosialisasi Penerimaan Mahasiswa Baru

"Kita baru saja diterima oleh Kepala Kanwil Kemenag Syahrul Yadi. Kita mengharapkan UNU Kalbar bisa tersosialisasi lewat jaringan madrasah aliyah di bawah naungan Kemenag Kalbar," kata Rektor UNU Kalbar Dr Agung Hartoyo usai pertemuan di Kantor Kemenag Kalbar, Kamis (12/3).

UNU Kalbar berencana membuka pendaftaran perdana mahasiswa baru pada awal April. Menjelang pembukaan itu, pihak UNU Kalbar akan melakukan sosialisasi dulu. “Sasaran utamanya Kemenag dan Dinas Pendidikan. Karena dua lembaga itu memiliki jaringan sekolah tingkat atas atau sederajat," papar dosen FKIP Untan ini.

Haedar Nashir

Sementara Syahrul Yadi menyambut baik kehadiran UNU. Ia menyatakan kesiapannya untuk mendukung dan membantu sosialisasi UNU ke seluruh madrasah di Kalbar.

"Setelah sosialisasi ke Kemenag, kita juga berencana audiensi ke Kepala Dinas Pendidikan Kalbar. Cuma, jadwalnya belum ditentukan. Setelah itu, ke lembaga lain dan ke sekolah-sekolah tingkat atas," kata Ketua ISNU Kalbar ini.

Haedar Nashir

Agung didampingi Pembantu Rektor (Purek) II Dr Andi Usman, Purek III Dr Rahmat Syahputra, Dekan Fakultas Teknik Dr Muhammad Rifat, dan Kepala Biro Administrasi Umum Keuangan dan Kemahasiswaan Rosadi Jamani.

Sementara Rosadi menambahkan, sosialisasi yang terjadwal pada 20 Maret ini akan berlangsung di SMA 2 Sungai Raya.

"Dalam waktu dekat ini, kita berusaha mencari waktu yang pas untuk kesediaan Kepala Dinas Pendidikan Kalbar menerima audiensi pengurus UNU. Mudah-mudahan Pak Kadis punya waktu untuk menerima sosialisasi pengurus UNU," harap Rosadi. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Halaqoh, Olahraga Haedar Nashir

Selasa, 24 Februari 2015

Pelajar NU Semin Selenggarakan MTQ Tingkat Kecamatan

Gunung Kidul, Haedar Nashir. Dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, Pimpinan Anak Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kecamatan Semin Kabupaten Gunung Kidul menggelar lomba tilawatul Qur’an, Ahad (3/1). Perlombaan ini melibatkan 326 santri TPA dan TPQ sekecamatan setempat di Kompleks SMP Pembangunan Semin.

Pelajar NU Semin Selenggarakan MTQ Tingkat Kecamatan (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Semin Selenggarakan MTQ Tingkat Kecamatan (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU Semin Selenggarakan MTQ Tingkat Kecamatan

Sebanyak 12 macam lomba difasilitasi pelajar NU Semin. Masing-masing perlombaan, peserta memperebutkan trofi juara 1-3 dan juara umum.

Ketua Panitia MTQ Alan Nursaid mengucapkan banyak terimakasih kepada para donatur yang sudah membantu terlaksananya kegiatan MTQ baik itu bantuan moral maupun bantuan material. Ia juga berterima kasih kepada rekan dan reknita panita yang telah meluangkan waktu dan tenaga untuk menyukseskan acara MTQ sekecamatan Semin.

Haedar Nashir

“Musabaqoh ini merupakan acara tahunan yang diselenggarakan oleh IPNU dan IPPNU Semin yang kebetulan pada tahun ini bebarengan dengan bulan Maulid Nabi Muhammad SAW,” kata Ketua IPNU Semin Azis Yulianto.

Haedar Nashir

Rais Syuriyah MWCNU Semin KH Mustajib Muhyi mengapresiasi atas terlaksananya kegiatan ini. Ia berharap IPNU dan IPPNU Semin kelak menjadi generasi yang akan meneruskan estafet organisasi dan perjuangan MWCNU Semin. (Khairul Rasyid/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pondok Pesantren, Pahlawan Haedar Nashir