Rabu, 25 Oktober 2017

Delegasi NU Fasilitasi Upaya Perdamaian Afghanistan

Kabul,Haedar Nashir. Rencana hengkangnya NATO dari Afghanistan telah menimbulkan ketegangan sendiri ketika masing-masing kekuatan perjuangan yang bertikai saling mengancam.?

Delegasi NU Fasilitasi Upaya Perdamaian Afghanistan (Sumber Gambar : Nu Online)
Delegasi NU Fasilitasi Upaya Perdamaian Afghanistan (Sumber Gambar : Nu Online)

Delegasi NU Fasilitasi Upaya Perdamaian Afghanistan

Hingga saat ini setiap minggu ratusan korban tewas akibat bom bunuh diri dan serangan roket. Karena itulah beberapa kelompok moderat termasuk di antaranya ? High Peace Council meminta keterlibatan Indonesia, Iran, dan Mesir untuk melakukan mediasi di antara kelompok yang bertikai.

Rencananya pertemuan dilakukan bulan Februari 2013 tetapi karena keterlibatan Iran, Pakistan dan Mesir yang dianggap ikut bertikai ditolak oleh beberapa milisi, akhirnya pertemuan digagalkan. Kemudian pertemuan dilanjutkan lagi mulai 4-5 Juni 3013, tanpa kehadiran negara lain kecuali Indonesia sendirian yang diwakili oleh Nahdlatul Ulama (NU), yang melakukan pembicaraan dengan ulama dan pimpinan setempat.

Haedar Nashir

Dalam perundingan yanag dihadiri oleh hampir semua faksi yang terdiri dari para ulama, pemuda dan kaum intelektual yang berasal dari berbagai suku itu, mereka sepakat untuk membangun persatuan di antara faksi yang ada. Dengan demikian mereka membutuhkan toleransi di antara kepentingan mereka sendiri. Disitulah NU mengambil peran penting dengan memperkenalkan prisnip tawasuth, tawasun dan tasamuh.?

Delegasi NU yang terdiri dari H As’ad Said Ali, wakil ketua umum PBNU, KH Saifuddin Amsir, Rais Syuriyah, H Abdul Mun’im DZ, wakil sekjen dan Adnan Anwar, wakil Sekjen PBNU.?

Haedar Nashir

Pertemuan yang diselenggarakan di pusat Kota Kabul yang mencekam itu dihadiri sekitar 50 orang, dan berlangsung khidmat. Pertemuan ini sendiri merupakan kelanjutan pertemuan ulama NU dan ulama Afghan di Jakarta 2010 yang lalu.

Pertemuan ini juga dihadiri oleh Dubes RI untuk Afghanistan H Anshori Tajudin yang juga ikut memfasilitasi perundingan ini. ?

Dalam amanatnya di depan peserta konferensi itu As’ad Said Ali mengatakan bahwa dalam menghadapi globalisasi, umat Islam harus merespon secara proporsional, jangana sampai larut sehingga menjadi kelompok yang tasahul, menggampangkana semua hal sehingga melanggar norma agama. dan juga jangan sampai menjadi tasyaddud, menolak secara mentah-mentah dengan cara ekstrem bahkan dengan kekerasan. Karena itulah perlu diambil jalan tawasuth, tawazun.

Dihadapan para aktivis Afghan itu, As’ad mengatakan bahwa jihad mempunyai pengertian yang luas, tidak hanya qital (perang) tetapi juga membangun masyarakat dan mengendalikan hawa nafsu. NU sendiri pernah mengeluarkan fatwa jihad tetapi sangat jelas batas wilayahnya dan batas waktunya. Jihad tidak bisa dilakukan di sembarang tempat, kalau hal itu dilakukan menjadi terorisme itu yang harus dihindarkan. ?

Perrnyataan itu disampaikan berkaitan dengan munculnya dua fatwa yang bertentangan di Afghnaistan tentang keharusan melakukan jihad di mana saja dengan cara apa saja termasuk bunuh diri. Di sisi lain terdapat ulama yang mengharamkan bom bunuh diri. NU memberikan jalan tengah.

Pandangan NU itu semakin menarik perhatian mereka apalagi setelah KH Saifudddin Amsir berbicara tentang sikap tasamuh (toleran) umat Islam Indonesia yang terdiri dari berbagai agama, suku, bahasa dan pulau tetapi bisa menyatu, karena bangsa Indonesia memiliki Pancasila. Dijelaskan bahwa Pancasila merupakan cerminan ajaran Al Quran tetapi dibahasakan dengan budaya setempat sehingga bisa diterima oleh kelompok non Muslim sekalipun. Mestinya bangsa Afghanistan yang hampir seluruhnya Muslim ini bisa lebih mudah bersatu, karena akidah meraka sama. Hanya saja perlu modal tasamuh yang tinggi.

Beberapa kesepakatan dicapai antara lain, pertama, menjalin persaudaraan dan perdamaian,? kedua, menyelamatkan Afghanistan dari penghancuran kelompok imperialis, ketiga, melaksanakan perdamaian dan rekonsiliasi untuk menyatukan negara, keempat, sebagai pemimpin spiritual para ulama berkewajiban menjaga keutuhan bangsa, kelima, menghilangkan diskriminasi, dan sukuisme serta segala bentuk kekerasan terhadap kelompok lain.

Hasil pertemuan Jakarta dan perundingan di Kabul ini akan terus di sosialisasikan pada ulama dan kelompok milisi di seluruh propinsi. Diharapkan akan lahir sikap tasamuh di kalangan mereka sehingga menghindari terjadinya perang saudara.

Para ulama Afghan menilai bahwa ulama Indonesia memiliki pemikiran yang jauh ke depan dan maju, dan ini yang perlu dipelajari oleh para ulama Afghanistan sekarang ini.?

Kehadiran delagasi NU ini mendapatkan liputan media yanag sangat besar sehingga tersiar di berbagai televisi dan media cetak termasak media online, sehingga gemanya di lingkungan para petinggi dan rakyat Afghanistan juga besar.?

Antusiame maysrakat begitu tinggi karena mendengar Indonesia mereka selalu ingat Soekarno dan Gus Dur yang penuh heroisme dan penuh pesona.?

Redaktur: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Halaqoh, Ahlussunnah, AlaSantri Haedar Nashir

Mushaf Fami Bisyauqin di Masjid Agung Solo

Solo, Haedar Nashir. Perpustakaan Masjid Agung Solo menyimpan sejumlah kitab. Kitab-kitab itu ada yang dibuat pada tahun 1800-an sampai tahun 1960-an. Beberapa kitab, ditulis tangan langsung para ulama dan kiai pendiri masjid tersebut.

Mushaf Fami Bisyauqin di Masjid Agung Solo (Sumber Gambar : Nu Online)
Mushaf Fami Bisyauqin di Masjid Agung Solo (Sumber Gambar : Nu Online)

Mushaf Fami Bisyauqin di Masjid Agung Solo

Sekretaris Takmir Masjid Agung Solo, Abdul Basyid mengatakan, ada sejumlah kitab yang pada umumnya bertuliskan Arab tanpa harokat (arab gundul), antara lain berupa kitab Ihya Ulumuddin, kumpulan hadis-hadis nabi, dan Al-Quran kuno.

Di masjid itu, terdapat Mushaf Al-Qur’an FamÄ« Bisyauqin. FamÄ« Bisyauqin yang berarti “mulutku dalam kerinduan” ini merupakan koleksi perpustakaan wakaf Sri Susuhunan Paku Buwono X pada tahun 1857. Mushaf ini berasal dari Sayyid Ibrahim Abdullah al-Jufri. Adapun tahun pembuatan dan penulisnya tidak diketahui secara pasti.

Haedar Nashir

Mushaf Al-Qur’an kuno FamÄ« Bisyauqin ini terdiri dari tujuh jilid. Penentuan masing-masing jilid mengikuti tujuh manzil (batas berhenti dan memulai bacaan) dalam membaca Al-Qur’an. Dalam tradisi membaca Al-Qur’an, metode tujuh manzil sangat populer, yaitu membaca dan mengkhatamkan Al-Qur’an dalam tujuh hari. Dimulai pada hari Jum’at dan khatam pada hari Kamis.

Haedar Nashir

Dari tujuh jilid, saat ini yang masih tersimpan di Perpustakaan Masjid Agung Surakarta hanya lima jilid, sementara dua jilid yang lain tidak ditemukan, yaitu jilid 3 dan 7. Iluminasi yang terdapat dalam mushaf ini hanya terdapat pada halaman Surah al-Fatihah dan awal Surah Al-Baqarah. Motifnya adalah bunga, dengan dominasi warna merah, biru, hijau, dan emas, dengan bingkai garis hitam.

Al-Qur’an ini dijilid dengan kulit. Ukurannya, panjang 31,8 cm. dan lebar 19,6 cm. Area tulisan, panjang 19,6 cm. dan lebar 11,7 cm. Ketebalan setiap jilid rata-rata 2,5 cm. Satu halaman mushaf berisi 13 baris tulisan, kecuali pada awal setiap jilid yang hanya berisi sembilan baris, dan pada halaman akhir dengan menyesuaikan pada sisa ayat yang tersisa. Al-Qur’an ini ditulis dengan menggunakan tinta Cina.

Sistem penulisan pada mushaf ini menggunakan rasm imla’i, yaitu sistem penulisan huruf Arab dengan mengacu pada kaidah-kaidah penulisan bahasa Arab, kecuali pada lafal-lafal tertentu yang masih tetap merujuk pada sistem rasm usmani. Penomoran ayat ditandai dengan tanda bulat berwarna merah dengan titik di tengah tanpa disertai nomor urut ayat.

Al-Qur’an FamÄ« Bisyauqin ini memuat tiga macam qiraat, yaitu qiraat riwayat Imam Qalun dari Imam Nafi’, qiraat Imam ad-Duri dari Imam Abu ‘Amr, dan qiraat riwayat Imam Hafs dari Imam ‘Asim. Tulisan ayat utama dalam Al-Qur’an ini berdasarkan riwayat Qalun dari Imam Nafi’. Sementara untuk kedua qiraat lainnya, ditulis dipinggir halaman dengan tinta merah untuk qiraat Imam ad-Duri dari Imam Abu ‘Amr, dan tinta hijau untuk qiraat Imam Hafs dari Imam ‘Asim.

Redaktur      : Abdullah Alawi

Kontributor  : Ajie Najmuddin

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Makam, Pendidikan, Hikmah Haedar Nashir

Selasa, 24 Oktober 2017

Belajar Mengaji

Saat mengaji kitab nahwu "Qathrunnada wa Ballusshoda" di Masjid Al-Munawwarah Pesantren Ciganjur, Gus Dur bercerita tentang seorang santri yang sedang belajar mengaji Al-Quran. Kali ini ia sedang belajar surat Al-Qurais.

Pak Ustadz menyuruhnya membaca. "Ayo dimulai nak...!"

Belajar Mengaji (Sumber Gambar : Nu Online)
Belajar Mengaji (Sumber Gambar : Nu Online)

Belajar Mengaji

Santri mulai membaca. "Bismillahirrahmanirrahim. Liilafiquraisyin iila fihim rihlatas syitaai wasshoifi."

Haedar Nashir

Pak Ustadz spontan menyuruh santri menghentikan bacaannya. "Wasshoifffff," katanya.

"Wasshoifi," kata satri.

Haedar Nashir

"Wasshoifff, kalau waqof dimatikan. Wasshoifff," kata ustadz.

Santri tetap tidak paham. "Wasshoifi". Masih ada ada bunyi "fi" di belakang.

Akhirnya pak ustadz tidak sabar. Saat santri membaca "Wasshoif," ia langsung menutup mulut santri dengan tangan kananannya. "Nah begitu, wasshoiff," katanya.

Tapi, kata Gus Dur, ketika mulut santri itu dilepaskan, tetap saja masih ada bunyi "fi". (Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir IMNU Haedar Nashir

Senin, 23 Oktober 2017

Ansor Pikatan Sosialisasikan Pemanfaatan Lahan Pekarangan

Probolinggo, Haedar Nashir. Ranting GP Ansor Desa Pikatan Kecamatan Gending Kab Probolinggo menggelar sosialisasi pemanfaatan lahan pekarangan rumah untuk kebun gizi keluarga untuk masyarakat,? Senin (21/1)? ?

Dalam sosialisasi pemanfaatan lahan pekarangan rumah tersebut juga dikupas tentang kiat-kiat untuk memperoleh tambahan penghasilan seperti wirausaha individu maupun kelompok. Contohnya, pemenuhan kebutuhan lauk pauk yang diharapkan bisa diperoleh di lingkungan sekitar rumah sendiri.

Ansor Pikatan Sosialisasikan Pemanfaatan Lahan Pekarangan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Pikatan Sosialisasikan Pemanfaatan Lahan Pekarangan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Pikatan Sosialisasikan Pemanfaatan Lahan Pekarangan

Kegiatan yang dihadiri oleh segenap pengurus Pimpinan Ranting GP Ansor Desa Pikatan ini dibuka secara resmi oleh Ketua Pimpinan Anak Cabang (PAC) GP Ansor Kecamatan Gending Muslimin Saba’.

Haedar Nashir

Ketua Pimpinan Ranting GP Ansor Desa Pikatan Mahmud Yunus mengatakan kegiatan ini digelar sebagai upaya untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat Nahdliyin melalui pemanfaatan lahan pekarangan rumah sebagai kebun gizi keluarga.

Semoga melalui kegiatan ini masyarakat dapat termotivasi untuk bercocok tanam dengan cara membuat kebun gizi yang hasilnya dapat membantu meringankan beban kebutuhan hidup sehari-hari,” ujarnya.

Haedar Nashir

Sementara Ketua PAC GP Ansor Kecamatan Gending Muslimin Saba’ mengungkapkan kegiatan ini merupakan salah langkah yang dilakukan oleh GP Ansor untuk mendukung program pemerintah berupa pemanfaatan lahan pekarangan rumah dengan menanam berbagai macam sayur-sayuran organik yang dapat menciptakan pangan yang aman, memberikan nilai ekonomis yang tinggi dan meningkatkan status bergizi bagi gizi keluarga.

“Hal ini juga sebagai upaya untuk pemenuhan pangan rumah tangga dalam pola konsumsi pangan yang beragam, bergizi dan aman serta peningkatan kesejahteraan keluarga dan masyarakat,” ungkapnya.

Menurut Muslimin, kegiatan tersebut merupakan salah satu agenda sosialisasi atas keberperanan GP Ansor pada masyarakat petani. Sehingga petani mampu memanfaatkan lahan pekarangan secara intensif dengan beraneka ragam komoditas untuk kebun gizi keluarga.

“Selama ini kami sudah menjalin komunikasi yang baik dengan petugas pertanian kecamatan. Namun kami tetap berharap semoga Dinas Pertanian dapat membantu kesuksesan program tersebut,” pungkasnya.

Kontributor: Syamsul Akbar

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ahlussunnah Haedar Nashir

Surat Cinta untuk Kang Said: Catatan atas Seminar Sidogiri

Oleh M. Imaduddin

Sebenarnya saya bukan orang yang layak untuk memberi catatan atas seminar "Solusi Dinamika Islam Kekinian di Indonesia dan Dunia" di Pondok Pesantren Sidogiri, Pasuruan, Jawa Timur pada Ahad, 24 Januari 2016 yang lalu.

Surat Cinta untuk Kang Said: Catatan atas Seminar Sidogiri (Sumber Gambar : Nu Online)
Surat Cinta untuk Kang Said: Catatan atas Seminar Sidogiri (Sumber Gambar : Nu Online)

Surat Cinta untuk Kang Said: Catatan atas Seminar Sidogiri

Tapi sebagai warga NU dan kebetulan juga diberi amanah menjadi bagian dari lembaga PBNU dan upaya mencegah beredarnya fitnah terhadap Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj atau Kang Said, serta kecintaan saya yang amat besar kepada organisasi yang didirikan oleh Hadratussyekh KH Muhammad Hasyim Asyari, maka saya terpaksa memberi catatan atas pertemuan di Sidogiri kemarin.

Setelah melihat video dialog, maka saya menyimpulkan:

Haedar Nashir

Haedar Nashir

Pertama, pertemuan kemarin adalah sebuah forum penuh nasihat dari para ulama dan bukanlah "pengadilan" untuk Kang Said. Tidak ada maksud sedikit pun dari para ulama untuk mengadili Kang Said, apalagi menjatuhkan beliau. Inilah tradisi NU, tradisi ulama. Tradisi saling mengingatkan, saling menasihati, tawashaw bil haq.

Kritik atau nasihat yang disampaikan ulama NU di Sidogiri kemarin kepada Kang Said bukanlah bentuk kebencian, tetapi karena rasa sayang kepada beliau. Hal ini tampak dari komentar para ulama yang penuh dengan etika dan sopan santun. Tidak ada satu pun hujatan, makian, dan kata-kata kasar kepada Kang Said pada pertemuan itu.

Hal ini berbeda dari beberapa orang yang–disebut ulama–selama ini tanpa tabayun terlebih dahulu mencaci maki, menghujat, dan mengeluarkan ujaran kebencian kepada beliau hanya karena berbeda pandangan dari Kang Said. Kritik mereka kepada Kang Said didasari oleh kebencian, bukan dilandasi oleh kasih sayang.

Kedua, menyimak jawaban-jawaban Kang Said dalam dialog tersebut, tampak adanya gap keilmuan yang teramat jauh dengan para pengkritiknya. Semua yang disampaikan Kang Said baik dalam bukunya maupun ceramah-ceramahnya yang menurut banyak orang kontroversial ternyata memiliki landasan dalil, baik dari Al-Qur’an, Sunnah, maupun aqwal ulama. Bacaan Kang Said terhadap ilmu-ilmu dan pemikiran cendekiawan-cendekiawan muslim dari berbagai disiplin ilmu, baik klasik maupun kontemporer ternyata tak sebanyak yang dibaca dan dikaji oleh para pengkritiknya.

Ditambah lagi dengan cara pandang Kang Said dalam memahami teks-teks klasik tersebut amat jauh berbeda dari para pengkritiknya. Jika para pengkritiknya memahami teks-teks klasik apa adanya dan dalam konteks dimana teks itu bicara, maka Kang Said memahaminya secara kontekstual dan aktual. Pemahaman para ulama berabad-abad yang lalu beliau kembangkan dan kontekstualisasikan dengan kondisi kekinian. Inilah bedanya Kang Said dari para pengkritiknya.

Kesalahan Kang Said, kalau memang beliau harus disalahkan, menurut saya adalah Kang Said ketika menyampaikan ceramah atau menulis kadang beliau lupa bahwa dirinya adalah ketua umum PBNU. Artinya, beliau memimpin para ulama se-Indonesia yang memiliki tingkat pemahaman yang berbeda-beda. Apa yang dimaksud oleh Kang Said tidak seperti yang dipahami oleh sebagian warga Nahdliyin. Sehingga muncul tuduhan-tuduhan kepada beliau, mulai dari tuduhan liberal hingga agen Syiah.

Inilah menurut saya kelebihan yang menjadi kekurangan Kang Said. "Kami ini sayang kepada Antum. Tolong jangan buat pernyataan-pernyataan kontroversial lagi, yang membingungkan umat. Maksud Antum seperti itu, tapi umat memahami tidak seperti yang Antum maksud..." demikian kurang lebih nasihat Habib Taufiq Assegaf kepada beliau.

Alhasil, kami semua cinta kepada Kang Said...

M Imaduddin, Wakil Sekretaris PP LDNU & Sekretaris PC GP Ansor Jaktim

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pahlawan, AlaNu Haedar Nashir

120 Peserta Ikuti Lakmud IPNU-IPPNU Sunan Ampel

Surabaya, Haedar Nashir. Sekitar 120 peserta mengikuti Latihan Kader Muda (Lakmud) yang digelar Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPNU dan IPPNU) UIN Sunan Ampel Surabaya, Jawa Timur.

Kegiatan yang diselenggarakan di kantor PCNU Mojokerto pada Jumat-Ahad, (8-10/11) dibuka Ketua IPNU Sunan Ampel 2013-2014 M. Ishomuddin selaku, tepat pukul 21.00 WIB Jumat (8/11) .

120 Peserta Ikuti Lakmud IPNU-IPPNU Sunan Ampel (Sumber Gambar : Nu Online)
120 Peserta Ikuti Lakmud IPNU-IPPNU Sunan Ampel (Sumber Gambar : Nu Online)

120 Peserta Ikuti Lakmud IPNU-IPPNU Sunan Ampel

“Peserta aslinya ada 170 lebih karena banyak calon kader yang ikut UKM dan IPNU ini adalah organisasi Ekstra maka mereka lebih memilih mengikuti pelatihan UKM yang berlangsung bareng dengan LAKMUD 2013 ini,” kata Ketua Panitia Lakmud, Taufiq.

Haedar Nashir

Menurut Taufiq, kegiatan Lakmud ini berbarengan dengan pengkaderan 4 organisasi intra kampus. Salah satunya adalah UKM IQMA. UKM ini sudah dianggap saudara sendiri oleh IPNU-IPPNU karena rutinitasnya dan kegiatan-kegiatannya adalah amaliyah warga Nahdliyin. Kegiatan-kegiatan tersebut adalah diba’iyah, berzanji, rebana, sholawatan, istighosah.

Haedar Nashir

Taufiq menambahkan, pada kegiatan tersebut peserta mendapat materi Keaswajaan, Ke-NU-an, Ke-IPNU/IPPNU-an, Managemen Organisasi dan Analisis Wacana. Selain itu, ada beberapa kegiatan berupa pengayaan seperti tes, nightmare, diskusi panel, RTL dan juga debat Ilmiah. Untuk meningkatkan semangat para peserta diadakan juga outbond dan lomba-lomba kecil. (Ali Ibrohim/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kyai, News Haedar Nashir

IPNU Jakarta Dorong Sejarah Perjuangan Santri Masuk Kurikulum

Jakarta, Haedar Nashir. Keputusan Presiden No 22 Tahun 2015 mengenai ketetapan Hari Santri Nasional yang ditetapkan pada tanggal 22 Oktober 15 dengan langsung ditandatangani dan dibacakan oleh Presiden Joko Widodo harus dijadikan sebagai momentum yang sebaik-baiknya.

IPNU Jakarta Dorong Sejarah Perjuangan Santri Masuk Kurikulum (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU Jakarta Dorong Sejarah Perjuangan Santri Masuk Kurikulum (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU Jakarta Dorong Sejarah Perjuangan Santri Masuk Kurikulum

Momentum yang sangat baik ini, membuat PW IPNU DKI Jakarta mendorong agar sejarah perjuangan para ulama dan santri juga bisa dimasukkan dalam mata pelajaran sejarah menjadi sebuah kurikulum pendidikan sekolah.

Ada beberapa alasan, menurut IPNU DKI Jakarta diantaranya sebagai berikut:?

Haedar Nashir

Pertama sejarah mencatat, dalam masa peperangan menegakkan kemerdekaan, ada sebanyak 20 Batalyon dari 64 Batalyon yang dipimpin oleh para kiai pesantren. Inilah peran besar kaum santri dalam perjuangan kemerdekaan RI yang termotivasi dari fatwa Resolusi Jihad KH Hasyim Asyari pada tanggal 22 Oktober 1945 (Haedar Nashir, 15/10).

Haedar Nashir

Kedua, resolusi jihad pada tanggal 22 oktober 1945, juga menjadi pemicu semangat santri dalam mempertahankan kemerdekan dan menginspirasi perlawanan para ulama serta santri melawan NICA pada tanggal 10 November.?

Ketiga, kontribusi santri dalam membentuk dan mempertahankan bangsa ini tidak bisa dilupakan begitu saja, peranan santri terhadap bangsa ini sangat ? lah besar. Meskipun pada akhirnya, setelah kemerdekaan peranan santri terus terlupakan. Apalagi pada masa orde baru, santri sangat dipinggirkan, tidak mendapat perhatian oleh pemerintah dianggap kaum yang marjinal, sangat dipinggirkan oleh pemerintahan orde baru.?

Keempat, setelah masa orde baru berakhir, memasuki masa reformasi Peranan ? para santri masih terus berlanjut dengan mempromosikan moderasi islam di tengah budaya dan etnik yang masif menciptakan perdamaian di negara ini.?

Oleh karena besarnya peranan santri dan ulama terhadap bangsa ini, Pengurus PW IPNU DKI Jakarta mengusulkan kepada Kemendikbud RI agar sejarah perjuangan dan peranan ulama serta santri dimasukan kedalam kurikulum pendidikan pada mata pelajaran sejarah.?

Ketua IPNU DKI Jakarta, Muhammad Said mengatakan, sejarah perjuangan santri dan ulama banyak yang dikaburkan oleh sejarahwan, bahkan tidak masuk dalam buku pelajaran sejarah SD, SMP dan SMA. Seharusnya sejarah perjuangan santri bisa masuk kedalam pelajaran sejarah, agar para pelajar SMP dan SMA bisa mengambil hikmah dari sejarah tersebut.?

"Besar harapan kami, dari PW IPNU DKI Jakarta agar sejarah perjuangan santri dan peristiwa resolusi jihad NU bisa dimasukan ke dalam kurikulum mata pelajaran sejarah di sekolah," ucap Said.?

Sementara itu, Ketua Departemen Kaderisasi IPNU DKI Jakarta, Adam menuturkan, dengan memasukan sejarah perjuangan santri ke dalam kurikulum, maka pelajar-pelajar Indonesia bisa menjadi pelajar yang mempunyai jiwa kepahlawanan tinggi dan kecintaan yang sangat dalam terhadap negara ini.

“Sebagaimana para santri, sehingga menjadi aset negara yang bisa mewujudkan cita-cita bangsa," ujar Adam. (Kowi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Berita, Amalan Haedar Nashir