Selasa, 19 Februari 2013

Peringati Hardiknas, Madrasah NU Raih 4 Piala

Sukoharjo, Haedar Nashir. Dalam rangka memperingati hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) tanggal 2 Mei mendatang, Madrasah Ibtidaiyah Walisongo Desa Kalangan, Kecamatan Bendosari, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, mengirimkan delegasinya untuk mewakili lomba tingkat MI tingkat Kecamatan yang bertempat di MTs Negeri Bendosari Sukoharjo.

Peringati Hardiknas, Madrasah NU Raih 4 Piala (Sumber Gambar : Nu Online)
Peringati Hardiknas, Madrasah NU Raih 4 Piala (Sumber Gambar : Nu Online)

Peringati Hardiknas, Madrasah NU Raih 4 Piala

“Lomba antar MI ini diadakan sebagai salah satu rangkaian acara peringatan hardiknas tanggal 2 Mei mendatang,” ujar Ghozali salah satu staf pengajar saat dikonfirmasi Haedar Nashir, Rabu (30/4).

Dalam lomba yang digelar akhir pekan kemarin ini, lanjut Ghozali, MI Walisongo bisa membawa pulang empat piala sekaligus. Adapun piala tersebut berasal dari cabang lomba kaligrafi putra (juara 1), kaligrafi putri (juara 1), tahfidz juz amma putri (juara 1), dan pidato bahasa Indonesia (juara 2).

Haedar Nashir

Kami berharap dengan perolehan piala ini bisa semakin memotivasi para siswa agar dapat mengembangkan minat serta bakat yang dimiliki dan menjadi daya tarik bagi masyarakat untuk dapat mengarahkan anaknya agar bersekolah di madrasah yang bernaung di yayasan Ma’arif NU ini, pungkasnya. (Ahmad Rosyidi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nahdlatul, Meme Islam Haedar Nashir

Haedar Nashir

Jumat, 15 Februari 2013

Bentuk Laskar, Muslimat NU Jombang Berjuang Lawan Narkoba

Jombang, Haedar Nashir. Peredaran narkotika dan obat terlarang atau Narkoba kian memprihatinkan. Di desa terpencil sekalipun, obat berbahaya tersebut mudah dijumpai, bahkan dikonsumsi kalangan pelajar. Peran ibu sangat penting untuk meminimalisir bahkan menghentikan peredarannya.

Bentuk Laskar, Muslimat NU Jombang Berjuang Lawan Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)
Bentuk Laskar, Muslimat NU Jombang Berjuang Lawan Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)

Bentuk Laskar, Muslimat NU Jombang Berjuang Lawan Narkoba

"Dalam rangka hari kemerdekaan, kita mengingat perjuangan para pahlawan Indonesia," kata Nyai Hj Mundjidah Wahab, Rabu (10/8).?

Ketua PC Muslimat NU Jombang ini kemudian menceritakan bagaimana sejumlah kiai yang terhimpun dalam Nahdlatul Ulama ikut berjuang demi meraih kemerdekaan Indonesia dengan melawan penjajah.

Akan tetapi, setelah kemerdekaan diraih, tantangan bagi bangsa ini adalah melawan narkoba. "Peran ini yang sekarang diemban Muslimat NU yakni kita berjuang melawan dan berupaya agar Indonesia merdeka dari narkoba," katanya saat melantik Laskar Anti Narkoba (LAN) di Desa Pucangro, Gudo, Jombang, Jatim.

Haedar Nashir

Bagi perempuan yang kini menjadi Wakil Bupati Jombang tersebut, kiprah Muslimat NU ini sangat mulia. Tidak semata dalam pandangan agama, juga manfaatnya bagi kehidupan, khususnya keluarga dan lingkungan. "Kita para ibu Muslimat NU berjuang agar generasi penerus bangsa bebas narkoba. Mengapa saya katakan berjuang, karena gerakan ini tidak ada gajinya," terangnya.

Perempuan sekarang, tambahnya, apalagi sebagai ibu harus pinter, ikut berkumpul atau berorganisasi sehingga wawasan jadi lebih luas. Ketua PAC Muslimat NU Godo ini kemudian mengemukakan bahwa pengetahuan terhadap narkoba juga harus dimiliki para perempuan.?

"Saya dulu membayangkan narkoba itu paling hanya beredar dan dinikmati kalangan warga perkotaan semata," katanya. Akan tetapi kenyataannya anak-anak desa memiliki ketergantungan kepada narkoba. Demikian pula jenis narkoba pun sudah demikian bervariasi.

Inilah pentingnya pengetahuan terhadap narkoba juga harus dimiliki para ibu dan kaum perempuan karena sudah beredar narkoba berupa permen dan mainan yang bisa dikonsumsi anak usia TK maupun SD.?

Diharapkan, keberadaan LAN yang sudah terbentuk di berbagai kecamatan dan desa mampu meminimalisir bahkan menghentikan peredaran narkoba di masyarakat, pungkasnya. (Ibnu Nawawi/Fathoni)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Warta, Quote, Kajian Sunnah Haedar Nashir

Kamis, 14 Februari 2013

Sekjen PBNU Sebut Tiga Modal Fatayat dalam Berorganisasi

Jakarta, Haedar Nashir



Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama A. Helmy Faishal Zaini mengatakan, tidak ada manfaatnya berorganisasi kalau tidak melaksanakan tiga hal sebagaimana yang disebutkan dalam Surat Annisa ayat 114.?

Sekjen PBNU Sebut Tiga Modal Fatayat dalam Berorganisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Sekjen PBNU Sebut Tiga Modal Fatayat dalam Berorganisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Sekjen PBNU Sebut Tiga Modal Fatayat dalam Berorganisasi

Pertama, membantu fakir miskin. Baginya, salah satu program yang harus diperhatikan Fatayat NU adalah bagaimana membantu orang-orang yang membutuhkan. “Di dalam Annisa disebutkan dengan kata bishodaqotin,” jelasnya pada Tasyakuran Harlah NU Ke-67 dengan tema Memperteguh Islam Nusantara Melalui Penguatan Organisasi Perempuan di Jakarta, Jumat (28/4) sore.

Kedua, mengajak kepada kebaikan dan melarang kemungkaran. Di dalam mengajak maupun melarang, jelas Helmy, harus menggunakan cara-cara yang baik dan beradab. “Jangan sampai nahi munkar dengan cara-cara kekerasan,” ujarnya.

“Yang ketiga islahin bainan nas,” ucapnya.

Haedar Nashir

Menurut dia, yang ketiga ini sangat lah penting, yaitu Fatayat NU harus bertransformasi dan berubah ke arah yang lebih baik lagi. Ia menegaskan, apa pun yang dilakukan oleh Fatayat NU, seharusnya berorientasi kepada kebaikan-kebaikan bersama.

Oleh karena itu, tiga hal tersebut seharusnya menjadi modal dan bekal Fatayat NU dalam menjalankan organisasinya.?

Ia mengaku senang dengan beberapa kegiatan Fatayat NU yang sudah mengarah ke sana. Namun demikian, ia meminta Fatayat NU untuk terus aktif dalam kegiatan-kegiatan yang bermanfaat bagi semua. (Muchlishon Rochmat/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir

Haedar Nashir Olahraga Haedar Nashir

Senin, 11 Februari 2013

Pesantren Lahirkan Tradisi Keberagaman yang Inklusif dan Moderat

Ponorogo, Haedar Nashir. Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin menyampaikan kekagumannya setiap kali berbicara tentang pesantren dan tradisi yang tumbuh didalamnya. Sebab, menurut pengalaman Menag, pesantren adalah satu-satunya lembaga pendidikan Islam yang unik, genuine, otentik, dan tidak mudah lekang di makan zaman.

Pesantren, lanjut Menag, sudah tumbuh sejak 7 abad yang lalu bersamaan dengan prosesi Islamisasi Nusantara. Dan hingga kini, pesantren tetap bertahan dan tidak tercerabut dari akar kulturalnya. Bahkan, Menag menegaskan, pesantren begitu dinamis, kreatif, inovatif dan memiliki daya adaptasi yang tinggi terhadap perkembangan masyarakat dan elemen kehidupan lainnya.

Pesantren Lahirkan Tradisi Keberagaman yang Inklusif dan Moderat (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Lahirkan Tradisi Keberagaman yang Inklusif dan Moderat (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Lahirkan Tradisi Keberagaman yang Inklusif dan Moderat

"Yang tak kalah penting lagi adalah saat pergumulan pesantren bersama dengan elemen bangsa melahirkan tradisi keberagaman yang inklusif dan moderat, yang menjadikan ciri khas keberagaman di Indonesia. Melalui pesantren inilah, watak ke Islaman dan ke Indonesiaan terbentuk seperti sekarang ini,” kata Menag saat berbicara dalam kesempatan menghadiri pertemuan akbar alumni Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo bersamaan dengan Peringatan 90 Tahun Pondok Gontor, Jumat (2/9).

Dikatakan Menag, lembaga pendidikan pesantren di Indonesia merupakan lembaga swadaya masyarakat yang tidak hanya menyelenggarakan pendidikan keagamaan Islam, akan tetapi juga melakukan pemberdayaan kepada masyarakat, dan bahkan pusat peradaban Islam.

Haedar Nashir

"Pesantren telah banyak memberikan kontribusi yang luar biasa dalam melakukan pelayanan pendidikan keagamaan Islam,” papar Menag yang juga berkisah suka dukanya saat menjadi santri Gontor.

Di luar kegiatan tersebut, Menag melanjutkan kunjungan kerjanya ke Pondok Pesantren Wali Songo Ngabar yang pimpinannya sekarang Kiai Syaiful Anwar merupakan sahabat Menag satu angkatan (marhalah) saat menimba ilmu di Pondok Gontor.

Bersama santri dan pimpinan pondok Ngabar, Menag melaksanakan Shalat Jumat dilanjutkan dengan memberikan nasehat dan motivasi bagi santri-santri Ngabar agar terus berkhidmat menimba ilmu.

Haedar Nashir

"Anak-anakku sekalian, inilah masa terbaik, kalian semua bisa berkesempatan belajar di pesantren. Lembaga pendidikan yang memiliki pengalaman bagaimana ilmu itu diajarkan, dan diamalkan," ujar Menag.

"Ilmu menjadikan manusia akan semakin baik dan arif. Orang yang ilmunya sempit, cenderung bersikap kurang bijak. Di pesantrenlah tempat kita menimba ilmu dan berbagi pengalaman,” pungkasnya. (Kemenag/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Sholawat Haedar Nashir

Jumat, 08 Februari 2013

Fitrah Manusia: Keseimbangan Antara Kehambaan dan Kekhalifahan

Oleh Suwendi

Di dalam Al-Quran, Allah SWT berfirman: (artinya) “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” (QS. Al-Rum [30]: 30). Ketika menafsirkan ayat di atas, Syekh Ahmad Musthafa al-Maraghi menyatakan bahwa yang dimaksud dengan “fitrah” adalah al-tahayyu liqubul al-haqq wa din al-tawhid? (kesiapan mental untuk menerima kebaikan dan agama yang esa). Menganut penafsiran ini, sesungguhnya manusia ketika lahir diliputi oleh potensi kebaikan-kebaikan. Ia dalam keadaan baik dan berpihak pada kebaikan serta kesucian. Ia memiliki hati suci dan tidak mau untuk dikotori. Inilah sesungguhnya potensi dasar yang dimiliki oleh manusia. Oleh karenanya, jika ada tekanan terhadap hak-hak kemanusiaan maka sesungguhya ia memiliki potensi untuk melakukan perlawanan. Namun demikian, potensi kesucian yang dimiliki manusia seringkali terkikis oleh gangguan dan rongrongan terutama dari luar dirinya. Kondisi lingkungan keluarga dan masyarakat sosial lainnya turut memberikan andil terhadap pengikisan potensi kefitrahan. Oleh karena itu, orang yang fitrah sesungguhnya adalah orang yang mampu membentengi diri dari godaan-godaan yang tidak baik.

Fitrah Manusia: Keseimbangan Antara Kehambaan dan Kekhalifahan (Sumber Gambar : Nu Online)
Fitrah Manusia: Keseimbangan Antara Kehambaan dan Kekhalifahan (Sumber Gambar : Nu Online)

Fitrah Manusia: Keseimbangan Antara Kehambaan dan Kekhalifahan

Memahami fitrah manusia sejatinya juga menyadari akan hakikat dirinya. Allah SWT telah memberi kepercayaan kepada manusia untuk memegang tugas kehambaan dan tugas kekhalifahan. Sebagai hamba, manusia diciptakan dengan tujuan untuk beribadah kepada Allah. Hal ini dinyatakan dalam firman-Nya: (artinya) ”Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku” (QS al-Dzariyat [51]: 56).

Fungsi kehambaan (abid) relasinya adalah dirinya secara personal kepada Tuhannya. Manusiamerupakan makhluk yang diciptakan oleh Tuhan (khaliq) sehingga berkewajiban untuk berterima kasiih kepada-Nya. Ia harus patuh, tunduk, tanpa reserve terhadap apapun yang diperintahkan oleh Tuhan. Siapa yang melanggar akan ketentuan itu dinyatakan sebagai orang yang mengingkari akan hakikat dirinya.

Haedar Nashir

Haedar Nashir

Dalam QS. al-Dzariyat [51]: 56di atas secara tegas dikatakan bahwa manusia merupakan yang diciptakan (makhluq) sedangkan Tuhan sebagai yang menciptakan (khaliq). Keterciptaan manusia ini membuat keharusan bagi manusia untuk beribadah, menyerahkan diri secara total kepada Tuhan. Penyerahan diri kepada Tuhan ini dalam banyak hal tidak mengedepankan validitas secara rasional.Oleh karena itu, jika dinyatakan dalam bentuk garis maka fungsi kehambaan ini dapat digambarkan dengan garis vertikal, di mana posisi Tuhan berada di atas sedangkan manusia berada di bawah.

Patut digarisbawahi bahwa bentuk-bentuk kehambaan ini memiliki muatan dan fungsi-fungsi sosial yang perlu diimplementasikan secara sosial. Sebab, yang membutuhkan penyembahan manusia bukanlah Tuhan, tetapi manusia itu sendiri. Tuhan bukanlah Dzat yang memiliki kebutuhan, oleh karenanya Dia tidak bersifat kurang (naqish). Akan tetapi, justeru manusialah yang membutuhkan akan makna sosial dari bentuk-bentuk kehambaan ini. Oleh karena itu, orang yang berhasil dalam beribadah adalah orang yang mampu memanivestasikan muatan dari praktek ibadah itu dalam ranah sosial.

Sebagai khalifah, manusia adalah makhluk yang diberi kepercayaan oleh Allah Swt. untuk memakmurkan bumi dan alam semesta ini. Relasinya adalah manusia dengan sesama manusia dan dengan alam. Firman Allah menyatakan: (artinya) ”Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi" (QS al-Baqarah [2]: 30).

Sebagaimana makna asal katanya, khalifah di sini dipahami sebagai wakil Tuhan untuk mengurus,mengelola,mengayomi, memakmurkan, dan memanfaatkan segala isi yang ada di muka bumi. Di samping itu, fungsi kekhalifahan ini juga menegaskan secara meyakinkan akan terbentuknya tatanan pranata sosial yang adil, demokratis, setara, dan mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan. Antara satu dengan yang lainnya memiliki relasi yang sama besar dan sama kuat. Diantara mereka tidaklah dianggap sebagai subordinasi. Oleh karena itu, secara historis-sosiologis kehidupan keduniaan harus didasarkan atas kevalidan secara rasional.Jika diwujudkan dalam bentuk gambar maka tugas kekhalifahan ini akan membentuk garis horizontal, ujung satu dengan yang lainnya adalah manusia yang memiliki relasi kesejajaran.

Dalam Islam, kedua fungsi di atas harus dapat disinergikan secara seimbang. Tuntutan kehambaan harus dapat diwujudkan secara seimbang dengan tuntutan kekhalifahan. Tidak dianggap sebagai orang yang baik (insan kamil) jika ia hanya mampu menjalankan fungsi-fungsi kehambaannya, sementara fungsi sosial-kemanusiaan terbengkalai. Demikian juga sebaliknya, bukanlah orang yang baik jika ia hanya mementingkan tugas-tugas kekhalifahan sementara tugas kehambaannya tidak diaktualisasikan. Dengan demikian, fitrah manusia adalah menjalankan tugas-tugasnya dengan sukses baik sebagai hamba Allah maupun sebagai khalifah di muka bumi secara seimbang.

Banyak sekali sindiran Allah Swt. kepada orang yang hanya memenuhi salah satu tugas dengan mengabaikan tugas lainnya. Misalnya dalam surat al-Mâ’ûn dilontarkan celaan kepada orang-orang yang mengerjakan shalat tetapi suka menghardik anak yatim dan tidak mau peduli kepada orang miskin. Orang seperti ini dijuluki pendusta agama (yukadzdzibu bid-dîn). (QS al-Mâ’ûn [107]: 1-7). Orang seperti ini hanya melakukan tugas kehambaan saja dalam bentuk ibadah mahdah, tetapi ibadah sosial dia lalaikan. Meski mengerjakan shalat dan menyembah Allah, dia akan mengalami celaka di akhirat nanti, sebab dia lupa akan makna shalatnya. Dia beribadah hanya secara formalistik, tetapi tidak secara substansialistik. Dalam kehidupan sehari-hari, dia shalat tetapi lisannya tidak dijaga, telinga tidak diperhatikan, mata berkeliaran ke mana-mana, kaki melangkah ke jalan yang tidak dibenarkan, pemikiran menyalahi aturan. Ini sindiran yang luar biasa dari Allah lewat surat al-Mâ’ûn ini.

Oleh karena itu, di dalam Islam, ritual ibadah selalu memiliki dua hal secara integral: formalistik dan substansialistik Tidak ada ibadah dalam Islam yang hanya dianjurkan secara aspek formalistik semata. Antara formalistik dan substansialistik harus dilakukan secara seimbang. Dalam kasus ibadah puasa, juga demikian. Hadis Nabi menyatakan: (artinya): “Betapa banyak orang yang berpuasa, dia tidak mendapat apa-apa dari puasanya kecuali lapar dan haus”. Orang yang melakukan ibadah puasa tidak mendapatkan balasan apapun disebabkan dirinya tidak mampu membangun harmoni dalam kehidupan sosialnya. Pikiran, gerakan, lisan, dan anggota tubuh lainnya tidak terjaga dari perilaku destruktif.

Begitu pula ibadah haji, Nabi SAW menyebutkan “Haji yang mabrur tidak ada balasan yang setimpal kecuali surga”. Ketika itu para sahabat menanyakan bagaimana haji yang mabrur itu, Rasulullah menjawab, “Dia suka memberi makan dan rajin menebarkan salam.”Artinya, seseorang yang telah melaksanakan haji baru disebut mabrur jika sekembalinya dari tanah suci dia peduli kepada sesamanya dan senantiasa menimbulkan kedamaian di sekelilingnya. Kalau tidak, maka hajinya mardud (tertolak) dan tidak ada surga baginya. Memberi makanan merupakan wujud dari solidaritas kita. Orang yang memiliki kepedulian yang baik dan solidaritas yang tinggi kepada sesamanya, sesungguhnya itu merupakan manifestasi dari amal ibadahnya.

Penulis adalah alumni Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon dan Pesantren Sabilussalam Ciputat.



Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Lomba, Nasional Haedar Nashir

Rabu, 06 Februari 2013

Ketum PBNU Ingatkan RMINU Berperan dalam Dua Hal

Jakarta, Haedar Nashir. Merujuk pada sebuah ayat dalam al-Quran, Ketau Umum PBNU KH Said Aqil Siroj mengimbau Rabithah Maahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMINU) atau asosiasi pesantren NU untuk berperan dalam dua hal utama.

Ketum PBNU Ingatkan RMINU Berperan dalam Dua Hal (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketum PBNU Ingatkan RMINU Berperan dalam Dua Hal (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketum PBNU Ingatkan RMINU Berperan dalam Dua Hal

"Pertama yatafaqqahu fiddin dan kedua liyunndziru qaumahun," katanya di hadapan para pengurus RMINU se-Indonesia di Pondok Pesantren Asshiddiqiyah, Kedoya, Kebonjeruk, Jakarta Barat,.Kamis (3/12) petang.

Menurut Kang Said, sapaan akrabnya, fungsi yatafaqqahu fiddin atau mencetak kader ulama mumpuni mesti selalu diaktualisasikan. Hal ini sesuai dengan redaksi yatafaqqahu yang menggunakan fiil mudlari (present continuous). "Jadi harus terus menerus pemahaman keislaman itu dikontekstualisasikan," imbuhnya dalam forum Raker dan Rakornas tersebut.

Haedar Nashir

Sedangkan fungsi yundziru qaumahaum berarti RMINU mendorong pesantren-pesantren untuk berperan sebagai "pengingat" kepada masyarakat demi kemaslahatan bersama. Peran kedua ini termasuk perluasan dari peran mendidik santri dalam hal pemahaman agama.

Haedar Nashir

Kiai asal Cirebon ini menyampaikan, pesantren merupakan esensi Nahdlatul Ulama. NU tanpa pesantren, katanya, tidak berarti apa-apa. "Tema Meneguhkan Islam Nusantara untuk Peradaban Indonesia dan Dunia pada Muktamar NU di Jombang dulu itu, Islam Nusantara yang dimaksud sebenarnya adalah Islam pesantren," tuturnya.

Kang Said mengingatkan bahwa hubungan antarpesantren harus bukan merupakan hubungan persaingan, melainkan relasi saling menunjang untuk memberi manfaat secara bersama-sama bagi umat. Ketum PBNU juga memotivasi para pengurus yang datang dari berbagai provinsi di Indonesia itu agar mempersiapkan generasi yang kuat, bukan generasi yang lemah.

Rapat kerja (Raker) dan rapat koordinasi nasional (Rakornas) RMINU berlangsung 3-5 Desember 2015 dengan mengusung tema "Meneguhkan Pesantren sebagai Basis Pendidikan dan Kemandirian Umat". (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Cerita, Habib Haedar Nashir