Selasa, 04 Mei 2010

NU Wonosobo Gelar Apel Kebangsaan dan Pelantikan

Wonosobo, Haedar Nashir. “Mari kita kembali pada Islam yang ramah bukan pemarah, Islam yang merangkul bukan memukul, hentikan ekspresi yang kebablasan, saling mencaci dan memaki di antara anak bangsa,“?

NU Wonosobo Gelar Apel Kebangsaan dan Pelantikan (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Wonosobo Gelar Apel Kebangsaan dan Pelantikan (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Wonosobo Gelar Apel Kebangsaan dan Pelantikan

Demikian disampaikan oleh Sekjen PBNU, H.A. Helmy Faishal Zaini dalam pidatonya saat memimpin apel kebangsaan di alun-alun Wonosobo, Ahad (21/5).?

Ribuan warga Nahdliyin se-Kabupaten Wonosobo mengikuti gelar apel kebangsaan tersebut dengan penuh antusias. Mereka merupakan perwakilan Nahdliyin dari 15 kecamatan yang ada di Kabupaten Wonosobo.

Dalam orasi kebangsaannya ia menegaskan pentingnya sikap cinta tanah air. Kini Indonesia bisa melihat seberapa besar kecintaan rakyat pada negerinya. Indonesia tidak perlu takut terhadap berbagai ancaman musuh negeri karena rakyat selalu mendukung dan setia pada NKRI. Para pendiri bangsa sudah bersepakat termasuk ulama yang menjadi representasi umat Islam di Indonesia.

Haedar Nashir

Kegiatan apel kebangsaan ini berlangsung sejak Pukul 06.00 WIB dengan diawali istighotsah, dan pembacaan Al-Qur’an 30 Juz ? oleh Muslimat-Fatayat NU. Dalam kesempatan itu, dilakukan pula penandatanganan dan pembacaan bersama ikrar kebangsaan Warga Nahdlatul Ulama Kabupaten Wonosobo oleh Ketua Tanfidziyah PCNU Wonosobo Arifin Shidiq bersama Rais Syuriyah PCNU Wonosobo KH Abdul Halim. Apel kebangsaan ini dihadiri pula oleh Pengurus PWNU Jawa Tengah, Bupati Wonosobo H Eko Purnomo, Kapolres AKBP M. Ridwan, Dandim 0707 Dwi Hariyanto, Sekda Wonosobo H Eko Sutrisno Wibowo, serta seluruh organisasi sayap NU.

Bersamaan dengan kegiatan tersebut, juga dilaksanakan prosesi pelantikan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Wonosobo periode 2017-2022. Selain Pengurus PCNU, dilanjutkan dengan pelantikan Pengurus Cabang Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu), PC Pagar Nusa, MWCNU Wonosobo, MWCNU Kepil, serta beberapa lembaga NU lainnya. Red: Mukafi Niam?

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Daerah, Tegal, Pendidikan Haedar Nashir

Haedar Nashir

Senin, 03 Mei 2010

Ratusan Siswa dan Guru SMK Plus NU Sidoarjo Shalat Ghoib untuk KH Mas Subadar

Sidoarjo, Haedar Nashir - Sekitar 280 siswa kelas X dan XI beserta dewan guru SMK Plus NU Sidoarjo menunaikan shalat ghoib untuk pengasuh pesantren Raudlatul Ulum, Besuk Kabupaten Pasuruan KH Mas Subadar. Mereka melangsungkan shalat itu di aula sekolah setempat. Sebelum shalat ghoib, mereka membacakan surat Yasin.

"Kegiatan ini merupakan bentuk pembelajaran kepada para siswa agar mengikuti instruksi dari PBNU. Di samping itu, kami juga ingin mengenalkan ulama NU kepada para siswa SMK Plus NU terutama kepada siswa baru (kelas X)," kata Guru BK SMK Plus NU Sidoarjo M Zakariya, Senin (1/8).

Ratusan Siswa dan Guru SMK Plus NU Sidoarjo Shalat Ghoib untuk KH Mas Subadar (Sumber Gambar : Nu Online)
Ratusan Siswa dan Guru SMK Plus NU Sidoarjo Shalat Ghoib untuk KH Mas Subadar (Sumber Gambar : Nu Online)

Ratusan Siswa dan Guru SMK Plus NU Sidoarjo Shalat Ghoib untuk KH Mas Subadar

Menurutnya, Kiai Mas Subadar merupakan sosok ulama yang konsisten di NU dan telaten membimbing umat di garis bawah. Pihaknya juga turut berbelasungkawa atas wafatnya salah satu kiai NU ini.

"Semoga keluarga almarhum diberikan Allah kesabaran, ketabahan, dan mampu meneruskan perjuangan almarhum baik di pesantren maupun di masyarakat NU," ia berdoa.

Haedar Nashir

Haedar Nashir

Lebih lanjut Zakariya mengatakan, para siswa, dewan guru beserta karyawan SMK Plus NU Sidoarjo juga rutin setiap hari menunaikan shalat dhuha, zhuhur dan ashar berjamaah. Kegiatan ini dilakukan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. (Moh Kholidun/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ulama, Ahlussunnah, AlaSantri Haedar Nashir

Kamis, 29 April 2010

Al-Asyariyah Menang Tipis atas Darussalam

Bantul, Haedar Nashir

Kesebelasan Pondok Pesantren Al-Asyariyah berhasil menundukkan kesebelasan Pondok Pesantren Darussalam pada Liga Santri Nusantara 2016 dalam pertandingan sepakbola 8 besar seri nasional, Jumat (28/10) malam. Gol diciptakan M Raply pada menit ke-62.

Al-Asyariyah Menang Tipis atas Darussalam (Sumber Gambar : Nu Online)
Al-Asyariyah Menang Tipis atas Darussalam (Sumber Gambar : Nu Online)

Al-Asyariyah Menang Tipis atas Darussalam

Sampai peluit panjang ditiup wasit Haryadi, kedudukan tetap 1-0 atas keunggulan Al-Asyariyah dalam pertandingan berlangsung di Stadion Sultan Agung, Bantul, Yogyakarta itu.

Sejak awal pertandingan, dua kesebelasan bermain cepat dan keras. Beberapa kartu kuning terpaksa dikeluarkan wasit untuk pemain yang melakukan pelanggaran keras. Affan nomor punggung 9 dari Darussalam mendapat kartu kuning pertama pada menit ke-9.

Haedar Nashir

Sementara dari Al-Asyariyah mendapat kartu kuning pada menit ke-8 atas nama Al-Hamra H. Menit ke-40, M Raply mendapat hal serupa. Lalu pada menit ke-68 Al-Hamra kembali diganjar kartu kuning sehingga ia harus keluar lapangan karena akumulasi kartu.

Haedar Nashir

Dengan demikian, Al-Asyariyah maju ke babak selanjutnnya, semifinal esok hari di stadion yang sama, siang hari Sabtu (29/10). (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Cerita Haedar Nashir

Selasa, 06 April 2010

Muslimat NU Bekasi Bentuk Anak Cabang di Kecamatan Setu

Bekasi, Haedar Nashir. Dalam rangka memperkuat strategi perjuangan Muslimat NU di tingkat bawah, Pimpinan Cabang Muslimat NU Bekasi membentuk pimpinan anak cabang baru, tepatnya di Kecamatan Setu, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.

Muslimat NU Bekasi Bentuk Anak Cabang di Kecamatan Setu (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslimat NU Bekasi Bentuk Anak Cabang di Kecamatan Setu (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslimat NU Bekasi Bentuk Anak Cabang di Kecamatan Setu

Para pengurus baru Pimpinan Anak Cabang (PAC) Muslimat NU Kecamatan Setu masa bakti 2015-2020 secara resmi dikukuhkan, Rabu (29/4), di aula Masjid at-Taqwa cluster Prapanca II Grand Resident, Bekasi.

Dalam kesempatan itu, DR Ekawati dari Pimpinan Pusat Muslimat NU yang juga pengagas pembentukan PAC baru tersebut mengingatkan para hadirin akan visi dan misi Muslimat dan karakter khas yang membedakannya dari organisasi-organisasi perempuan yang ada.

Haedar Nashir

Disampaikan bahwa keberadaan Muslimat NU melalui proses yang cukup panjang dan merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan dengan sejarah NU plus sejarah perjuangan bangsa. Muslimat dilahirkan oleh NU untuk mengabdi kepada agama, bangsa dan negara dan menyelaraskan kiprah perjuangannya sejalan dengan perkembangan zaman.

“Muslimat NU hadir secara umum dipengaruhi oleh era kebangkitan bangsa dan sekaligus memberi inspirasi tentang pentingnya status perempuan sebagai mitra sejajar pria,” ujanrya.

Haedar Nashir

Hadir pula dalam acara pelantikan Vera Susanti, perwakilan dari Pengurus Cabang Kabupaten Bekasi, serta para tokoh masyarakat setempat. PAC Muslimat Kecamatan Setu diketuai oleh Hj Jauhariyah Hasan, alumni Pesantren Nur el-Kasyaf-Bekasi asuhan Almagfurlah KH Dawam Anwar (mantan Katib Syuriah PBNU era Gus Dur).

Vera Susanti berharap para pengurus baru memaksimalkan potensinya dan mengambil bagian secara aktif dalam gerakan pemberdayaan perempuan dan bukan hanya memenuhi kebutuhan praktis saja. “Muslimat harus mampu menjalankan peran yang strategis, yaitu menciptakan akses bagi masyarakat, khususnya terkait dengan hak dan kewajiban kaum perempuan sesuai dengan nilai-nilai agama,” tuturnya.

Acara pelantikan berlangsung dengan lancar dan khidmat, dimulai pukul 8.30 pagi sampai dengan 12.00 siang. Acara didahului dengan pembacaan rawi, pembacaan ayat suci al-Qur’an, dan menyanyikan lagu Indonesia Raya. (Neneng Hasanah/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pahlawan, Kajian Haedar Nashir

Sabtu, 03 April 2010

PWNU Aceh Sambut Kedatangan Ketum PBNU

Banda Aceh, Haedar Nashir. Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Provinsi Aceh mengelar rapat bersama pengurus di kantor PWNU setempat, Selasa (19/11) kemarin dalam rangka penyambutan kedatangan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj ke Aceh pada akhir bulan ini.

Rapat kali ini dihadiri beberapa sesepuh PWNU Aceh. Tgk. Asnawi, Sekretaris PWNU Aceh mengatakan, Ketum PBNU dijadwalkan akan menghadiri kunjungan ke Aceh pada Tanggal 29 November 2013 dalam rangkaian kegiatan diantaranya akan bertindak sebagai pemateri pada acara Seminar Internasional yang dilaksanakan oleh panitia Mubes ke-II PB Huda Aceh.

PWNU Aceh Sambut Kedatangan Ketum PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)
PWNU Aceh Sambut Kedatangan Ketum PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)

PWNU Aceh Sambut Kedatangan Ketum PBNU

Tgk. H. Faisal Ali, Ketua PWNU Aceh mengatakan, Ketum juga akan memberikan taushiyah kepada warga Nahdiyin di provinsi Aceh sehari setelah acara Huda.

Haedar Nashir

Selain membahas tentang penyambutan Ketum dalam rapat tersebut pengurus PWNU Aceh juga membahas tentang perkembangan lembaga pendidikan NU, kata Abu Faisal. (Tgk Muslem/Anam)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Halaqoh, Humor Islam Haedar Nashir

Jumat, 19 Maret 2010

Menag Ajak Pesantren Kembangkan Dakwah Lewat Internet

Lirboyo, Haedar Nashir. Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengajak masyarakat pesantren untuk memenuhi konten-konten internet dengan nilai-nilai baik yang diajarkan oleh para kiai pesantren. Sejalan dengan itu, Menag berharap masyarakat pesantren dapat melakukan inovasi strategi dakwah Islamiyah yang ramah di bumi Nusantara.?

Menag Ajak Pesantren Kembangkan Dakwah Lewat Internet (Sumber Gambar : Nu Online)
Menag Ajak Pesantren Kembangkan Dakwah Lewat Internet (Sumber Gambar : Nu Online)

Menag Ajak Pesantren Kembangkan Dakwah Lewat Internet

Menurutnya, dakwah ke depan tidak hanya dilakukan secara konvensional, tapi juga sudah harus memanfaatkan perangkat teknologi. demikian berita yang dilansir dari situs kemenag.go.id

“Saya berharap alumni pesantren jangan gagap teknologi. Umat yang mesti dilayani bukan cuma berada di masjid, tapi juga di dunia maya, internet, seperti facebook, twitter, dan lainnya,” harap Menag saat memberikan sambutan pada Penutupan Musyawarah Nasional (Munas) III Himpunan Alumni Santri Lirboyo (Himasal) dan Rakernas Lembaga Ittihadul Muballighin (LIM) di Aula Mu’tamar, Pesantren Lirboyo, Kediri, Senin (25/05) malam.

Haedar Nashir

Hadir pada kegiatan yang mengambil tema “Menjalin Ukhuwwah Demi Berkhidmah untuk Umat dan Bangsa”, para Pengasuh dan Pimpinan Pondok Pesantren Lirboyo, Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Marwan Jakfar, Kakanwil Kemenag Provinsi Jawa Timur, para pengurus cabang Himasal seluruh Indonesia, serta ribuan alumni dan santri Pesantren Lirboyo.

Haedar Nashir

“Penuhilah konten-konten di internet dengan hal-hal baik yang diajarkan para kiai pesantren. Hapus dahaga para pencari ilmu dan wacana keislaman dengan konten yang bermutu dan ajaran yang benar,” tuturnya sembari mengingatkan bahwa jangan sampai para pencari referensi justru mendapatkan asupan konten yang bertentangan dengan Islam rahmatan lil alamin.

Selain itu, Menag juga berharap para alumni pesantren mampu meneruskan semangat transformasi KH Hasyim Asy’ari dan para sesepuh pesantren. Upaya transformasi, menurut Menag sangat diperlukan dalam menghadapi era Masyarakat Akonomi ASEAN (MEA). ?

“Kita harus siap beradaptasi dengan tren pertumbuhan ekonomi. Industiaslisasi dan modernisasi semakin menggeliat dan kita tidak boleh diam,” katanya.

Selain membentengi masyarakat dari dampak buruk industriaslisasi dan modernisasi, Menag berharap pesantren juga dapat menyuplai kebutuhan SDM seiring pertumbuhan ekonomi.?

“Pesantren diharapkan tak cuma menghasilkan ahli doa dan ahli kitab kuning, tapi juga ilmuan, pengusaha, dan tenaga teknis yang salih dan berintegritas,” harap Menag.

Meski demikian, Menag menggarisbawahi bahwa proses modernisasi lembaga pesantren tidak boleh melunturkan karakter dan jati diri peantren itu sendiri sebagai lembaga tafaqquh fiddin dan lembaga pembentuk karakter bangsa.?

“Transformasi pesantren senantiasa memlihara dan mempertahankan karakter pesantren sesuai jargon almuhafadhatu ‘ala al-qadim al-shalih wa al akhdzu bi al jaded al ashlah,” terang Menag. (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kajian Haedar Nashir

Senin, 15 Maret 2010

Benarkah Peradaban Maju Dilihat dari Perkembangan Teknologi?

Bogor, Haedar Nashir. Di zaman modern seperti sekarang, di mana teknologi menjadi mercusuar dalam mengukur kemajuan sebuah bangsa, justru tidak banyak yang memahami bahwa inti dari kemajuan sebuah negara adalah bagaimana mereka mampu mempertahankan identitas kebangsaannya.

Hal itu dikemukakan oleh Kepala Unit Kerja (UKP) Pembinaan Ideologi Pancasila (PIP) Yudi Latif, Sabtu (26/7) saat mengisi Seminar Nasional dalam Program Pengenalan Studi dan Almamater (Propesa) Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Indonesia di Kampus Kemang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Benarkah Peradaban Maju Dilihat dari Perkembangan Teknologi? (Sumber Gambar : Nu Online)
Benarkah Peradaban Maju Dilihat dari Perkembangan Teknologi? (Sumber Gambar : Nu Online)

Benarkah Peradaban Maju Dilihat dari Perkembangan Teknologi?

Dalam seminar bertajuk Merajut Kebhinnekaan dalam Bingkai Politik Kebangsaan, Yudi Latif mengungkapkan teori tiga lapisan peradaban yang dikemukakan oleh Sejarawan Arnold Toynbee, yaitu lapisan terluar Ilmu dan Teknologi, ke dalam lagi ada Etika, dan lebih dalam ada agama atau spiritualitas.

“Jadi nilai-nilai agama atau spiritualitas menjadi inti dari sebuah peradaban atau kebuadayaan,” jelas penulis buku Negara Paripurna: Historisitas, Rasionalitas, dan Aktualitas Pancasila ini di hadapan sekitar 450 mahasiswa UNU Indonesia peserta Propesa.

Menurutnya, visi keagamaan inilah yang tertuang dalam prinsip agung bernama Pancasila yang dirancang oleh para pendiri bangsa. Meskipun Indonesia mendasarkan diri pada nilia-nilai agama, tetapi bangsa yang majemuk ini tidak menjadikan agama sebagai dasar negara secara formal, melainkan mengisi setiap sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Haedar Nashir

Visi keagamaan ini, menurut Yudi Latif, juga tidak menjadikan tradisi dan budaya lokal sebagai identitas bangsa tergusur, tetapi justru diperkuat berdasarkan keyakinannya masing-masing. Alasan inilah yang turut mempertegas kemajuan peradaban bangsa Indonesia yang mendasarkan diri pada nilai-nilai keagamaan yang moderat.

“Namun, masyarakat justru menilai bahwa kemajuan bangsa diukur dari perkembangan teknologi yang sesungguhnya hanya menjadi lapisan terluar dari sebuah peradaban,” ucap Doktor lulusan Australian National University (ANU) ini.

Tapi, ia sendiri menyadari hal ini menunjukkan ada perbedaan ukuran dalam menilai kemajuan peradaban sebuah negara.

Selain Yudi Latif, hadir di Seminar Nasional dalam rangka Propesa Unusia ini, Rektor Unusia Prof M. Maksum Mahfoedz, Wakil Rektor III Unusia KH M. Mujib Qulyubi, Guru Besar Sosiologi Unair Prof Musta’in Mashud, dan Ketua Umum DPP PKB A. Muhaimin Iskandar. (Fathoni)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Halaqoh, Nahdlatul Haedar Nashir