Rabu, 23 Februari 2011

PCNU: Kaji Ulang Semua Izin Tambang Pasir di Lumajang!

Jakarta, Haedar Nashir. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Lumajang menilai pentingnya mengaji ulang setiap kebijakan penambangan pasir di daerah setempat. Kajian tersebut tak hanya pada aktivitas yang ilegal, tapi juga penambangan yang telah mendapatkan izin resmi.

PCNU: Kaji Ulang Semua Izin Tambang Pasir di Lumajang! (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU: Kaji Ulang Semua Izin Tambang Pasir di Lumajang! (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU: Kaji Ulang Semua Izin Tambang Pasir di Lumajang!

Sikap ini mencuat menyusul aktivitas penambangan pasir di Pesisir Watu Pecak, Lumajang, Jawa Timur, yang berujung pada tragedi pembunuhan terhadap aktivis penolak tambang bernama Salim alias Kancil di Desa Selok Awar-awar, Pasirian, Lumajang.

Menurut Ketua PCNU Lumajang Syamsul Huda, di samping aspek keselamatan lingkungan, kajian ulang juga diperlukan untuk mencegah timbulnya konflik di masyarakat yang sebagaimana yang terjadi sepekan lalu. Apalagi, ia juga menengarai adanya indikasi pelanggaran terhadap pemberian izin tambang yang selama ini ada.

Haedar Nashir

“Saya mencium ada indikasi (pelanggaran itu) sehingga tambang hanya dinikmati oleh segelintir orang saja,” tutur Syamsul saat dihubungi Haedar Nashir, Jumat (2/10), usai rapat koordinasi terkait peristiwa pembunuhan terhadap Salim “Kancil” (52) dan penganiayaan terhadap Tosan (51).

PCNU Lumajang memandang, segenap eksplorasi lingkungan mesti mempertimbangkan segi maslahat dan mudaratnya, di samping peraturan tertulis mengenai hal itu. PCNU Lumajang berharap ada penataan ulang terkait aksi penambangan di kabupaten yang berbatasan dengan Samudera Hindia di sisi selatan ini. (Mahbib Khoiron)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pondok Pesantren, Internasional Haedar Nashir

Jumat, 18 Februari 2011

Ngaji Pasaran di Era Hadlaratussyekh KH Hasyim Asy’ari

Sudah menjadi semacam tradisi yang turun temurun sampai sekarang, pada bulan Ramadhan di beberapa pesantren besar ramai didatangi orang-orang untuk ikut mengaji kitab tertentu. Tradisi ini dalam kalangan pesantren, biasa disebut ngaji pasanan atau pasaran.

Tak terkecuali pesantren besar macam Tebuireng Jombang, sejak zaman dahulu, ketika bulan Puasa tiba, para santri dari berbagai pelosok Tanah Air berduyun-duyun ke Tebuireng untuk ikut mengaji kitab Shahih Bukhari kepada Hadratussyaikh, KH Hasyim Asy’ari, yang memang juga dikenal sebagai salah seorang ulama ahli hadits.

Salah satu tokoh NU dan mantan Menteri Agama RI, KH Saifuddin Zuhri, mengatakan bahwa ketika KH Hasyim Asy’ari membaca kitab Shahih Bukhari, membaca dengan cermat tetapi cepat, seolah sedang membaca kitab karangannya sendiri.

Ngaji Pasaran di Era Hadlaratussyekh KH Hasyim Asy’ari (Sumber Gambar : Nu Online)
Ngaji Pasaran di Era Hadlaratussyekh KH Hasyim Asy’ari (Sumber Gambar : Nu Online)

Ngaji Pasaran di Era Hadlaratussyekh KH Hasyim Asy’ari

“Orang yang pernah melihat sendiri, cara Hadratussyaikh membaca Al-Bukhari mengatakan bahwa beliau sebenarnya telah hafal seluruh isi kitab ini. Seolah-olah sedang membaca kitab karangannya sendiri!” (Zuhri, 1974 : 152)

Aboebakar Atjeh dalam buku Sejarah Hidup KH. A. Wahid Hasyim (2015) mepaparkan sedikit gambaran suasana ngaji pasanan di Tebuireng kala Hadratussyaikh masih hidup. Menurut dia, pada zaman itu, lumrahnya di Bulan Ramadhan pesantren menjadi sepi, sebab para santri diliburkan untuk diberikan kesempatan pulang ke kampungnya masing-masing.

Haedar Nashir

Namun, sebaliknya di Tebuireng, suasana justru bertambah ramai, karena kedatangan oleh para santri yang ingin menghabiskan Ramadhan bersama sang guru tercinta.

“Ia (Hadratussyaikh, red) selama bulan puasa memberi kuliah istimewa mengenai ilmu hadist karangan Al-Bukhari dan Muslim. Kedua kitab hadist yang penting ini harus khatam dalam sebulan puasa itu dan oleh karena itu, jadilah bulan ini suatu bulan yang penting bagi kiai-kiai bekas muridnya di seluruh Jawa. Dalam bulan puasa, bekas murid-muridnya yang sudah memimpin pesantren di mana-mana, biasanya memerlukan datang tetirah ke Tebuireng, tidak saja untuk melanjutkan hubungan silaturahmi dengan gurunya, tetapi juga untuk mengikuti seluruh kuliah istimewa mengenai hadist Al-Bukhari dan Muslim guna mengambil berkah atau tabaruk,” (Atjeh, 105-106).

Pengajian tersebut biasanya diselenggarakan di pendopo masjid. Tempat ini dalam kesehariannya juga digunakan untuk mengajar para santri. Biasanya beliau mengajar bahkan sampai tengah malam. Sebagai tempat duduk, digunakan alas sepotong kasur yang ditutupi dengan sepotong tikar atau sepotong kulit biri-biri, dan di sampingnya terdapat sebuah bangku untuk meletakkan beberapa kitab.

Sampai sekarang, tradisi pengajian Kitab Shahih Al-Bukhari di Tebuireng pada bulan Ramadhan masih berjalan. Setelah Hadratusyaikh wafat, pengajian ini dilanjutkan oleh Kiai Idris Kamali dan Kiai Syamsuri, dan kemudian dilanjutkan Gus Ishom Hadzik. Sempat vakum beberapa tahun, akhirnya dari berbagai pertimbangan ditunjukklah Kiai Habib Ahmad, seorang alumni pondok Tebuireng, yang pernah mendapatkan ijazah kitab ini dari Kiai Syamsuri.? (Ajie Najmuddin)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir

Haedar Nashir Berita, Internasional Haedar Nashir

Sabtu, 05 Februari 2011

Ansor Jombang Deklarasi Kader Pelopor Anti Narkoba

Jombang, Haedar Nashir. Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Jombang menggelar pertemun internal dengan kadernya dari seluruh Pimpinan Anak Cabang (PAC) se-Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Mereka dipertemukan pada Seminar Anti Narkoba HIV/AIDS & Deklarasi Kader Pelopor Anti Narkoba di Gedung Pertemuan Bung Tomo Pemkab Jombang, Sabtu (29/11).

Ansor Jombang Deklarasi Kader Pelopor Anti Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Jombang Deklarasi Kader Pelopor Anti Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Jombang Deklarasi Kader Pelopor Anti Narkoba

Acara ini berawal dari pemikiran PC GP Ansor Jombang bahwa sebagai pemuda nahdliyin harus mejadi pelopor di setiap lini kehidupan bermasyarakat, terlebih keterlibatan dalam pencegahan barang haram seperti narkoba.

“Kota yang mempunyai ratusan pesantren seperti Jombang ini, sudah seharusnya menjadi percontohan dengan kebersihannya dari narkoba. Maka seluruh kader Ansor juga harus menjadi pelopor pemberantasan narkoba ini,” kata Zulfikar Damam Ikhwanto, ketua PC GP Ansor Jombang.

Haedar Nashir

Kegiatan yang juga dalam rangka konsolidasi gerakan Ansor Jombang ini dibuka oleh Wakil Bupati Jombang Munjidah Wahab. Dalam sambutannya, ketua Badan Narkotika Kabupaten Jombang ini mengapresiasi terobosan yang dilakukan Ansor.

Haedar Nashir

“Selain menjadi pelopor anti narkoba, pemuda Ansor harus melakukan gerakan-gerakan pendidikan dan pelatihan perekonomian untuk kesejahteraan masyarakat ,” terang mantan Ketua Muslimat cabang Jombang ini.

Sementara Muslimin Abdilla, Sekretaris Tanfidiyah PCNU Jombang yang juga hadir dalam kegiatan tersebut mendorong Ansor untuk memperkuat organisasi. “PCNU berharap seluruh banomnya terus berbenah menata organisasi dan anggotanya. Salah satu langkah yang bisa diambil memperkuat akidah, sosial dan ekonomi anggota dan masyarakat, ” papar Muslimin.

Selain ratusan kader Ansor yang hadir dalam forum ini, Kasat Reserce Narkoba Polres Jombang AKP Hariyono dan dokter Imam Ali Affandi juga diundang mengisi materi seminar anti narkoba yang spesifik menjelaskan tentang HIV/AIDS dan berbagai hal tentang narkoba. (Romza/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nasional, Sholawat Haedar Nashir

Jumat, 04 Februari 2011

Kisah Pilu Satu Keluarga asal Indonesia Gabung ISIS di Suriah

Ain Issa, Haedar Nashir - Nurshardrina Khairadhania memberitahu keluarganya begitu sebuah konten di internet memikat hatinya. Gadis 17 tahun itu meyakinkan ke orang tua, saudara perempuan, bibi, paman, dan sepupunya bahwa mereka harus pindah ke Suriah untuk bergabung dengan ISIS.

Mimpi tentang perubahan nasib pun terpampang di depan mata mereka, mulai dari pendidikan gratis, pelayanan kesehatan, hingga prospek perbaikan ekonomi. Yang terpenting, tentu saja, adalah kesempatan hidup dalam apa yang mereka anggap sebagai masyarakat Islam ideal yang ditopang kekuasaan. Ajakan Nurshardrina berhasil. Lebih dari 20 anggota keluarga akhirnya berangkat ke sana.

Kisah Pilu Satu Keluarga asal Indonesia Gabung ISIS di Suriah (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Pilu Satu Keluarga asal Indonesia Gabung ISIS di Suriah (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Pilu Satu Keluarga asal Indonesia Gabung ISIS di Suriah

Dalam waktu yang relatif singkat, mimpi-mimpi itu hancur ketika apa yang dijanjikan informasi di internet itu ternyata tak ada. Sebaliknya, yang terpampang justru adalah para gadis dipaksa menikah dengan pejuang ISIS, para pria didorong maju di medan pertempuran, serta kebrutalan dan ketidakadilan lainnya.

Haedar Nashir

Hanya beberapa bulan setelah tinggal di sana, mereka berusaha untuk melarikan diri. Selama waktu itu pula Nur, sapaan akrab Nurshardrina Khairadhania, berpisah dengan orang-orang tersayangnya satu persatu. Neneknya meninggal dunia dan pamannya terbunuh dalam serangan udara.

"ISIS menyebarkan hanya yang bagus-bagus di internet," kata perempuan berhijab itu kepada AP, sebagaimana dikutip Haedar Nashir, Jumat (6/8).

Nurshardrina Khairadhania kini berusia 19 tahun. Ajakan Nur kepada keluarga besarnya untuk bergabung dengan ISIS di Raqqa, Suriah, dua tahun lalu, masih segar di ingatannya. Sungguh ia kecewa berat dengan realitas yang dihadapinya sekarang.

Haedar Nashir

Kini Nur tinggal bersama ibunya, dua saudara perempuan, tiga bibi, dan dua sepupu perempuan beserta ketiga anak mereka di Ain Issa, sebuah kamp milik pasukan pengungsi Kurdi yang berusaha mengusir ISIS dari Raqqa. Ayahnya dan empat saudara sepupu yang masih hidup berada dalam tahanan di utara sana. Saat para pria diinterogasi pasukan Kurdi terkait kemungkinan ada hubungan dengan ISIS, para wanita menunggu di sebuah tenda yang panas nan pengap, sambil berharap keluarga itu bisa bersatu lagi dan pulang ke rumah mereka di Jakarta.

Keluarga Nur hanyalah sebagian kecil di antara ribuan orang dari Asia, Eropa, Afrika, Amerika Utara dan Timur Tengah yang mengejar impian "masyarakat Islam" baru yang dipromosikan ISIS lewat video propaganda, blog online dan media sosial lainnya. Saat mereka tiba di sana, pemandangan yang tampak adalah fenomena pemenggalan kepala secara brutal, penculikan, dan perbudakan perempuan oleh ISIS.

Semula Nur dan saudara perempuannya mengira pemandangan mengerikan semacam itu hanyalah kampanye murahan orang-orang yang tak suka dengan "khilafah Islam" yang baru lahir.

"Saya takut melihatnya. Pertama kali saya kira itu adalah kelompok lain... Pembenci ISIS," kisah Nur.

Masih terngiang di benaknya, beberapa bulan setelah para ekstremis menyatakan "kekhalifahan" di wilayah jajahan mereka di Suriah dan Irak pada musim panas 2014, Nur menyodorkan janji manis yang ada di blog ISIS kepada keluarganya: saudaranya yang berusia 21 tahun dapat melanjutkan pendidikan komputernya secara gratis. Sepupunya yang janda, Difansa Rachmani (32), bisa memperoleh perawatan kesehatan gratis untuk dirinya dan ketiga anaknya yang salah satunya menderita autisme.

Pamannya juga diharapkan bisa lepas dari lilitan utang yang ia keluarkan untuk menyelamatkan bisnis montir mekaniknya di Jakarta—bahkan bisa membuka bisnis baru serupa di Raqqa dengan bayangan permintaan bakal tinggi untuk keperluan senjata bom mobil yang biasa digunakan pasukan ISIS.

Keluarga itu pun menjual rumah, mobil, dan perhiasan emas mereka.? Dana pun berhasil terkumpul 38.000 dollar AS atau sekitar setengah miliar rupiah dan digunakan untuk perjalanan ke Turki lalu ke Suriah.

Tapi begitu sampai di Turki, pertengkaran pertama dimulai soal bagaimana atau apakah perlu menyelinap ke Suriah. Tujuh kerabat nekat mengambil keputusan sendiri dan akhirnya ditahan pihak berwenang Turki saat mencoba melewati perbatasan secara ilegal. Mereka dideportasi kembali ke Indonesia dan merasa selalu diawasi karena sisa keluarga mereka tinggal di wilayah ISIS.

Kisah tentang keluarga yang tercerai berai pun dimulai. Setelah tiba di wilayah kelompok ISIS pada Agustus 2015, keluarga tersebut dipencar lagi: para pria diperintahkan untuk mengikuti kelas pendidikan Islam, dan akhirnya dipenjara selama berbulan-bulan karena menolak pelatihan dan pengabdian militer. Setelah dibebaskan, mereka hidup dalam persembunyian demi menghindari rekrutmen paksa atau hukuman penjara baru. Sementara itu, para wanita dan anak perempuan dikirim ke asrama wanita.

Nur kaget dengan kehidupan di asrama yang dikelola ISIS. Para wanita kerap cekcok, bergosip, saling curi dan terkadang malah bertengkar dengan pisau. Nama Nur dan saudara perempuannya yang berumur 21 tahun dan sepupunya yang janda karena cerai, masuk ke dalam daftar calon istri pejuang ISIS. Para wanita harus siap ketika anggota milisi itu mengajukan permintaan istri, bahkan meski tanpa menemui mereka terlebih dahulu.

"Ini gila! Kami tidak tahu siapa mereka. Kami tidak tahu latar belakang mereka. Mereka ingin menikah dan menikah," katanya.

"ISIS cuma pengen tiga hal: wanita, kekuasaan, dan uang," kata Nur dan sepupunya, Rachmani, serentak.

"Mereka bertingkah seperti Tuhan," Nur menambahkan. "Mereka membuat hukum sendiri... Mereka sangat jauh dari Islam. "

Di sebuah pusat keamanan yang dikelola pasukan Kurdi di Kobani, utara Raqqa, sepupu Nur yang berusia 18 tahun mengaku bahwa tinggal di bawah ekstremis seperti hidup dalam "penjara".

"Kami (tidak) ingin pergi ke Suriah untuk perang," kata pria itu yang tak mau disebut namanya karena alasan keamanan. "Kami hanya ingin hidup di negara Islam. Tapi ini sungguh bukan negara Islam. Ini ketidakadilan, Muslim memerangi sesama Muslim." (Red: Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Halaqoh, Berita, Warta Haedar Nashir

Rabu, 12 Januari 2011

Sistem Pesantren di Indonesia Jadi Inspirasi Madrasah di Pakistan

Islamabad, Haedar Nashir. Dalam seminar internasional tentang The Role of Islamic Boarding School and Madrasah in Establishing Islamic Environment to a Nation, Jumat (6/5) yang digelar di International Islamic University (IIU) Islamabad, Rektor IIU, Prof Dr Masoom Yasinzai mengatakan, Indonesia memiliki contoh di mana lembaga pendidikan Pesantren (di Pakistan: Madrasah) telah lama mengintegralkan kurikulum pendidikannya antara ilmu-ilmu agama dengan social sciences, selain juga dengan keterampilan hidup bermasyarakat bahkan entrepreneurship.?

“Madrasah yang berkembang di Pakistan masih terlalu tradisional dan hanya terfokus pada pengkajian ilmu-ilmu syariat (baca; agama),” sambung sang Rektor. Lebih lanjut Rektor menjelaskan bahwa selama ini masih banyak umat Islam yang baru memahami Islam sebatas aturan beribadah dan tidak sebagai faktor pendorong kemajuan peradaban, sehingga Madrasah atau sebagian Universitas Islam hanya menekuni bidang ilmu-ilmu terkait ibadah dan tidak menjamah bidang muamalat.?

Sistem Pesantren di Indonesia Jadi Inspirasi Madrasah di Pakistan (Sumber Gambar : Nu Online)
Sistem Pesantren di Indonesia Jadi Inspirasi Madrasah di Pakistan (Sumber Gambar : Nu Online)

Sistem Pesantren di Indonesia Jadi Inspirasi Madrasah di Pakistan

“Padahal kandungan al-Qur’an hanya memuat 10 persen aspek ibadah dan 80 persennya adalah muamalat,” kritik sang Rektor. Kondisi seperti ini merefleksikan potret umat Islam yang cukup tertinggal dari sisi peradaban saat ini karena menurutnya telah terjadi penggerusan pengamalan beragama umat Islam dari konsep ideal Islam yang dikandungnya. ?

Rektor berharap melalui sharing penerapan tentang sistem pendidikan Pesantren atau Madrasah, masyarakat Pakistan dapat menggali lebih banyak dari pengalaman Indonesia. Kalangan akademisi dan Pemerintah Indonesia diharapkan untuk lebih proaktif mempromosikan sistem pendidikan di Pesantren Indonesia kepada masyarakat Pakistan sehingga bisa menginspirasi hadirnya kurikulum yang integratif dan sesuai dengan misi diturunkannya al-Qur’an sebagai kitab yang mendorong kemajuan di segala bidang.

Haedar Nashir

Hal senada juga disampaikan oleh Dubes RI untuk Pakistan, Iwan Suyudhie Amri, dengan menyetir sejarah awal berdirinya Pesantren Indonesia yang awalnya masih belum dimasukkan ke dalam Sistem Pendidikan Nasional. Dubes RI menyampaikan bahwa seiring dengan perkembangan waktu, Pemerintah Indonesia telah mengakui Pesantren, karena dengan kesadarannya Pesantren telah melakukan evolusi kurikulum dari semata mengajarkan ilmu-ilmu agama juga mengembangkan ilmu-ilmu umum.?

Selain itu menurutnya juga peran yang dimainkan oleh Pondok Pesantren dalam membangun karakter bangsa sangatlah besar. Dubes RI juga menyambut baik tawaran Rektor IIUI untuk lebih mempromosikan sistem Pesantren Indonesia di Pakistan, menggali potensi kerjasama antar Madrasah, selain juga akan terus mengupayakan jalinan kerjasama pendidikan antara Perguruan-Perguruan Tinggi di kedua negara.?

“Peran lembaga pendidikan termasuk pesantren/madrasah dalam memperkuat pilar kesatuan dengan memahami perbedaan sebagai suatu hal yang alamiah diperoleh melalui pendekatan-pendekatan yang inklusif,” tambah Dubes Iwan.?

Lebih jauh pakar pendidikan IIUI, Prof Dr Zafar Iqbal Chaudhary yang didaulat sebagai pembicara, membahas peran Pesantren di Indonesia dalam proses national building. “Pendidikan Pesantren Indonesia adalah model terbaik untuk ditiru karena telah memberikan kontribusi banyak bagi kemajuan negara di segala bidang,” tegasnya. Menurut Zafar, di Pakistan terdapat sekitar 20.000 madrasah/pesantren, namun belum seluruhnya meliliki standar yang memadai seperti yang ada pada Pesantren di Indonesia.?

“Berkembangnya paham Islam moderat dan menghargai local wisdom juga muncul dari pendidikan hasil Pesantren di Indonesia,” tambah Zafar. “Harus diakui bahwa dunia Islam harus banyak menimba pengalaman dari perkembangan positif ini,” kata Za’far menutup paparannya.?

Haedar Nashir

?

Seminar internasional ini berlangsung lancar dihadiri oleh para dosen IIUI, pejabat dan staf KBRI Islamabad, mahasiswa asing baik dari berbagai negara seperti China, Afrika, Negara-negara Arab, Pakistan, Afghanistan, Thailand, Maladewa, Tajikistan dan lain-lain. Acara ini terselenggara atas kerjasama antara Alumni Pondok Modern Gontor Ponorogo yang belajar di IIUI dengan Fakultas Social Science serta Fakultas Pendidikan Jarak Jauh IIU.?

Menurut Firman dan Ikmal, acara yang digelar dalam rangka peringatan Harlah ke-90 Pondok Modern Gontor ini, mendapatkan apresiasi dari banyak pihak. Salah seorang mahasiswa asal China mengaku kagum dengan perkembangan Islam di Indonesia yang tersebar melalui lembaga pondok Pesantren. Lain lagi dengan Quli Baliy, mahasiswa asal Afrika ? yang terlihat aktif menyimak jalannya seminar mengungkapkan keinginannya untuk melihat langsung sistem pembelajaran di Pesantren Indonesia yang baru saja ia ketahui.?

Para mahasiswa Indonesia yang hadir pun berharap kepada kalangan akademisi maupun pemerintah untuk dapat meneruskan hasil seminar dengan agenda yang lebih nyata semisal pengupayaan saling kunjung, saling sharing atau studi banding antara pimpinan-pimpinan Pesantren/Madrasah dari kedua negara. Mengingat Indonesia dan Pakistan dengan total populasi sebesar 440 juta jiwa dan mayoritasnya adalah muslim, diyakini dapat memberikan kontribusi positif bagi kemajuan Islam di tengah merebaknya berbagai isu negatif yang dialamatkan kepada umat Islam seperti radikalisme, terorisme dan anti modernitas yaitu diantaranya dengan cara mengaktifkan interaksi ? antar tokoh-tokoh Islam yang berada di Pesantren atau Madrasah. (Muladi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ulama, Ahlussunnah Haedar Nashir

Kamis, 06 Januari 2011

Menengok Eksotisme Maroko dalam Balutan Tiga Budaya

Negeri Maghrib (matahari terbenam), ketika kita mendengar kalimat ini pastinya akan tertuju ke Afrika Utara, tepatnya Kerajaan Maroko. Yah Maroko..., sebuah negara Islam yang bermadzhab Maliki tulen di ujung barat dunia Islam. Agama Islam di negeri ini dikembangkan dengan menghargai tradisi lokal, seperti yang dilakukan oleh para dai atau Walisongo ketika menyebarkan Islam di tanah Jawa.

Kini Maroko dikenal sebagai negara Arab yang gaul dengan nuansa Eropanya yang kuat, tetapi tak mau kehilangan akar tradisi Arab dan Islam. Kebebasan berpendapat dan tradisi berpikir sangat terbuka di negeri Ibnu Batutah ini. Pemerintah tidak memaksa rakyatnya untuk berpola pikir secara kaku atau seragam. 

Menengok Eksotisme Maroko dalam Balutan Tiga Budaya (Sumber Gambar : Nu Online)
Menengok Eksotisme Maroko dalam Balutan Tiga Budaya (Sumber Gambar : Nu Online)

Menengok Eksotisme Maroko dalam Balutan Tiga Budaya

Barangkali salah satunya adalah karena faktor penguasa Maroko saat ini, Raja Muhammad VI, seorang lulusan Eropa yang berpikiran modern. Ia bertekad untuk memodernkan Maroko, namun tetap melandaskannya kepada ajaran Islam. Wajar, jika berbagai aliran Islam banyak berkembang di negeri ini. 

Haedar Nashir

Maroko juga dijuluki dengan “Negeri Tiga Budaya”. Dikarenakan tercampurnya akulturasi tiga budaya yang kental, yaitu budaya Timur Tengah, Eropa, dan Afrika. Letak geografis Maroko yang berada di benua Afrika menjadikan Maroko berbudaya Afrika, Kebudayaan Arab Timur Tengah yang diadopsi di sini menjadikan Maroko bernuansa Negeri Timur Tengah dan letak Maroko yang berdekatan dengan Eropa, membuatnya sangat eksotis dengan nuansa Eropanya.

Dari sisi pariwisata, Maroko merupakan negeri eksotis yang kaya dengan obyek wisatanya, ada Gurun Sahara yang merupakan gurun terluas di Afrika, kemudian multaqol bahrain (pertemuan dua laut) antara laut Pasifik dan laut Mediterania, dimana tempat ini digambarkan dalam Firman Tuhan, Al-Qur’an Surat Al-Rahman ayat 19-20, ada juga kota bersejarah, Fez yang disebut kota budaya dan tentunya masih banyak yang lainnya. Maka tak heran, jika Maroko merupakan salah satu negara favorit wisatawan dunia yang sering mereka kunjungi.

Haedar Nashir

Buku yang ditulis oleh kader-kader muda NU ini, mengungkap keeksotisan Maroko dari berbagai sisi; kebudayaan, religiusitas keagamaan, sejarah ulama, pariwisata dan peluang beasiswa yang diberikan kepada pelajar-pelajar dunia, termasuk Indonesia. 

Selain versi cetak, terdapat versi ebook yang  dapat didownload di: wayangforce.co.id, getthescoop.com dan qbaca.com

Judul Buku : Maroko Negeri Eksotis di Ujung Barat Dunia Islam

Penulis: Muannif Ridwan, Hafidzul Umam, Kusnadi El Ghezwa dkk.

Editor: Ardian Syam

Penerbit: Jentera Pustaka

Cetakan: I, Januari 2014

Tebal: 295 Halaman

ISBN: 978-602-14169-8-3

Peresensi: Muannif Ridwan

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Fragmen Haedar Nashir

Sabtu, 01 Januari 2011

Pendidikan Anak Tanggung Jawab Orang Tua, Sekolah Hanya Bantu

Jember, Haedar Nashir

Wakil Sekretaris PCNU Jember Mochammad Eksan menyambut baik “imbauan” Mendikbud RI Anis Baswedan agar para orang tua sebisa mungkin dapat mengantarkan anaknya pada hari pertama masuk sekolah tahun ajaran baru mendatang.

Menurutnya, imbauan tersebut menunjukkan pentingnya keberadaan dan peran orang tua terhadap pendidikan anak-anaknya. Saat ini, katanya, muncul kesan seolah-olah pendidikan hanya tugas dan tanggung jawab guru. Sedangkan orang hanya bersifat membantu.

Pendidikan Anak Tanggung Jawab Orang Tua, Sekolah Hanya Bantu (Sumber Gambar : Nu Online)
Pendidikan Anak Tanggung Jawab Orang Tua, Sekolah Hanya Bantu (Sumber Gambar : Nu Online)

Pendidikan Anak Tanggung Jawab Orang Tua, Sekolah Hanya Bantu

“Anggapan? itu keliru. Yang benar adalah orang tua mempunyai tangung jawab atas pendidikan anaknya. Sedangkan sekolah hanya membantu,” ujarnya kepada Haedar Nashir menyikapi Surat Edaran Mendikbud RI tersebut di Jember, Sabtu (16/7).

Haedar Nashir

Pengasuh Pesantren Nuris 2 Jember itu menambahkan, orang tua mengantarkan anaknya ke sekolah akan memberikan kesan yang lain terhadap si anak. Sang anak? merasa diperhatikan, dan? itu akan mempengaruhi psikologinya dalam menjalani proses pendidikan. Kondisi tersebut tentu sangat beda jika sang anak hanya di antarkan oleh pembantu atau saudaranya. “Dari kondisi itu semangat belajar anak bisa? terbangun lebih meningkat,” jelasnya.

Dalam pandangannya, dewasa ini budaya dan dunia pergaulan yang begitu terbuka mempunyai risiko tersendiri bagi perkembangan psikologi dan pembentukan karakter anak. Karenanya, hal tersebut membutuhkan campur tangan? dan pengawasan langsung yang lebih intensif dari orang tua. Sebab jika tidak, bukan mustahil karakter anak akan terbangun jauh dari yang diharapkan. “Jadi saya menangkap semangat dari SE Menteri itu adalah agar orang tua bisa berperan lebih dalam proses pendidikan anak-anaknya. Tidak sekadar mengantar. Lalu selesai,” turutnya.

Haedar Nashir

Hal yang sama juga diungkapkan Wakil Ketua Pimpinan Cabang Lembaga Pendidikan Ma’arif Kabupaten Jember, Suroto Bawani. Menurutnya, orang tua tidak cukup hanya membiayai pendidikan dan memberikan uang belanja kepada anaknya. Namun yang juga penting adalah memberikan perhatian sekaligus melakukan pengawasan terhadap anaknya.

“Tugas orang tua sangat berat. Bukan hanya dari sisi keuangan, tapi juga bagaimana menjadikan anak itu cakap sekaligus berakhlak mulia. Sebab, anak adalah amanah dan kelak akan dimintai pertanggungjawabannya di hadapan Allah,” urainya. (Aryudi A. Razaq/Mahbib)Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Berita, Sejarah, Hadits Haedar Nashir