Rabu, 19 Oktober 2011

Gus Sholah: NU Butuh Pemimpin Penata Organisasi

Jombang, Haedar Nashir. Pengasuh Pesantren Tebuireng Jombang KH Salahuddin Wahid mengatakan, NU butuh perbaikan organisasi agar menjadi kuat. Menurutnya NU adalah organisasi besar, namun karena tidak tertata dengan rapi, saat ini tampak tidak terlalu kuat.

Gus Sholah: NU Butuh Pemimpin Penata Organisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Sholah: NU Butuh Pemimpin Penata Organisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Sholah: NU Butuh Pemimpin Penata Organisasi

Demikian dikatakan adik kandung KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) saat ditemui di kediamannya, Pesantren Tebuireng, Kamis (19/2). Menurutnya yang paling mendesak dilakukan untuk NU ke dapan adalah perbaikan organisasi.

"Saya telah mengamati sejak tahun 1960an, NU itu besar. Tetapi tidak tertata dengan rapi sehingga tidak terlalu kuat," ujarnya.

Haedar Nashir

Untuk memperbaiki organisasi, diakuinya memang tidak mudah dilakukan. Menurut Gus Sholah perlu langkah langkah khusus untuk melakukan perbaikan organisasi tersebut.

Haedar Nashir

"Termasuk kalau perlu, NU harus belajar dari organisasi lain yang telah berhasil melakukan penataan organisasinya dengan baik," tambahnya.

Cucu pendiri NU KH Hasyim Asyari ini juga menilai, bahwa ghirah atau semangat untuk ber-NU, belakangan ini, semakin menurun. Maka ke depan, sosok ketua NU harus memiliki jiwa perjuangan terhadap jam’iyah, bukan memperjuangkan kepentingan pribadi.

"Kata kuncinya adalah memperjuangkan kepentingan NU, jangan memperjuangkan kepentingan person atau orang orang dari NU," tandasnya.

Terkait kesiapannya untuk dicalonkan menjadi Ketua Umum PBNU mendatang, mantan anggota Komnas HAM ini menyatakan, karena desakan berbagai pihak akhirnya dirinya bersedia untuk maju dicalonkan sebagai Ketua Umum PBNU dalam Muktamar NU ke 33 di Jombang Agustus mendatang.

"Dan saya sudah menyampaikan di beberapa forum yang dihadiri pengurus Wilayah maupun pengurus Cabang, saya bersedia dicalonkan sebagai ketua umum," pungkasnya. (Muslim Abdurrahman/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Sholawat Haedar Nashir

Senin, 17 Oktober 2011

Lesbumi Bojonegoro Gelar Roadshow Sastra Plataran

Bojonegoro, Haedar Nashir



Lembaga Seniman Budayawan Muslim Indonesia (Lesbumi) Kabupaten Bojonegororo menggelar roadshow Sastra Plataran untuk yang ketujuh kalinya, Kamis, (25/5) di Pendopo Kabupaten Bojonegoro.?

Lesbumi Bojonegoro Gelar Roadshow Sastra Plataran (Sumber Gambar : Nu Online)
Lesbumi Bojonegoro Gelar Roadshow Sastra Plataran (Sumber Gambar : Nu Online)

Lesbumi Bojonegoro Gelar Roadshow Sastra Plataran

Acara yang mengangkat tema Merajut Kebangsaan Meneguhkan NKRI ini dihadiri ratusan undangan.

Turut hadir dalam acara, Ketua PCNU Bojonegoro, Kholid Ubed, Bupati Bojonegoro, Suyoto, Kapolres Bojonegoro; Ketua FKUB, dan beberapa tamu undangan lainnya. Selain itu tampak juga beberapa seniman Bojonegoro yang tergabung dalam Kelompok Seniman Muda Bojonegoro (KSMB).

Roadshow Sastra Plataran ini diawali dengan tampilan dari Ikatan Seni Hadrah Indonesia (Ishari) Cabang Bojonegoro.?

Haedar Nashir

Dalam sambutannya, Fauzi, selaku Ketua Lesbumi Bojonegoro mengatakan bahwa selama ini sastra plataran telah rutin dilaksanakan setiap satu bulan sekali. Kegiatan yang dikemas dalam bentuk baca puisi ini menghadirkan puisi-puisi karya sastrawan ternama, seperti Gus Mus, WS Rendra, dan Emha Ainun Najib.

Di tempat yang sama, Kang Yoto--sapaan akrab Bupati Bojonegoro--juga sempat membacakan puisi dengan judul Ketika Kata Tak Lagi Menjadi Sakti. Selain itu, Kapolres Bojonegoro, ketua PD Muhammadiyah, Ketua FKUB juga turut serta membacakan puisi. Ketua PCNU Bojonegoro, Kholid Ubed juga tak mau kalah dengan ikut membacakan sebuah puisi berjudul Menjaga Indonesia.

Acara yang ditutup dengan lagu Padamu Negeri menjadi pelengkap dalam acara roadshow sastra plataran bulan ini. [Muhajir/Mukafi Niam]

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir

Haedar Nashir Ulama, AlaNu, Aswaja Haedar Nashir

Jumat, 30 September 2011

Berkah Pesantren, Allah Mudahkan Rezeki Orang Tua

Subang, Haedar Nashir. Allah akan memberikan kemudahan rezeki bagi orang tua yang sungguh-sungguh menyuruh anaknya mencari ilmu agama. Contohnya seorang warga Buntet, Astanajapura, Cirebon yang mempunyai enam anak.

Hal ini disampaikan KH Tb. Ahmad Rifqi, Pengasuh Darussalam Buntet Pesantren Cirebon kepada Haedar Nashir melalui sambungan telepon, Jumat (22/8)

Berkah Pesantren, Allah Mudahkan Rezeki Orang Tua (Sumber Gambar : Nu Online)
Berkah Pesantren, Allah Mudahkan Rezeki Orang Tua (Sumber Gambar : Nu Online)

Berkah Pesantren, Allah Mudahkan Rezeki Orang Tua

"Di Buntet itu, di Buntetnya bukan pesantrennya, ada orang tua yang mata pencahariannya mesantrenin anak,” terang putera KH Chowas Nuruddin itu.

Haedar Nashir

Kiai yang akrab disapa Kang Tus itu mengisahkan tentang kondisi ekonomi orang tua yang cukup memprihatinkan, namun ketika anaknya dikirim ke pesantren untuk menuntut ilmu, perlahan, tapi pasti, kondisi ekonominya mulai merangkak naik.

Haedar Nashir

"Orang tuanya tidak bekerja, serabutanlah, terus anak pertama dikirim ke pesantren Ploso, lho, kok rizqi jadi mudah. Anak kedua dipesantrenin lagi ke Sarang, malah tambah mudah rizqinya. Anak ketiga di pesantrenin lagi ke Kediri jadi haji itu orang. Jadi usahanya itu ya mesantrenin anak. Masya Allah, barokah Pesantren," paparnya.

Kang Tus melanjutkan, akhirnya keenam anak dari orang yang tidak disebutkan namanya itu semuanya dikirim ke Pesantren Ploso, Kediri dan Sarang untuk menuntut ilmu di sana. “Akhirnya tetangga-tetangganya ngikutin dia, anak-anaknya dipesantrenin," pungkasnya. (Aiz Luthfi/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Hadits Haedar Nashir

Jumat, 23 September 2011

Asad Said Ali: Toleransi Model Barat Tidak Cocok untuk Indonesia

Pacitan, Haedar Nashir. Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Asad Said Ali hadir dalam Apel Kesetiaan NKRI yang digelar oleh PWNU Jawa Timur di kawasan Pantai Pancer Door Pacitan, Ahad (8/1).?

Wakil Ketua Umum PBNU periode 2010-2015 mengatakan bahwa toleransi model barat tidak cocok di terapkan di NKRI. Mengapa demikian, karena toleransi tersebut tidak sejalan dengan sikap toleransi yang dimiliki NU.

Asad Said Ali: Toleransi Model Barat Tidak Cocok untuk Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Asad Said Ali: Toleransi Model Barat Tidak Cocok untuk Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Asad Said Ali: Toleransi Model Barat Tidak Cocok untuk Indonesia

"Toleransi model barat mengatakan semuanya bebas. Semua agama bebas. Termasuk menistakan agama orang lain, termasuk juga menghujat Allah. Itu toleransi model barat. Tapi kita beda, kita Pancasila tidak seperti itu. Kita adalah Bhinneka Tunggal Ika," katanya dihadapan 10 ribu kader NU Se-Jawa Timur yang mengikuti Apel

Negara, kata mantan Wakil Kepala BIN itu, harus hadir membikin aturan atau undang-undang yang kuat untuk mengatur rambu-rambu lalu lintas interaksi antar umat beragama, dan antar suku di Indonesia.

Haedar Nashir

"Negara yang namanya Pancasila sekarang ibarat rumah. Setelah 1998, karena liberasi politik, karena tekanan barat, sekali lagi karena tekanan barat, rumah kita menjadi pintunya dibuka. Kurang puas jendelanya dibuka, kurang puas lagi gentengnya dibuka. Maka sekarang kita masuk angin, kena flu," katanya?

Oleh karena itu, NU bersama Negara menyatakan siap mengawal toleransi dengan aturan yang disepakati bersama. NU siap membangun visi baru sesuai dengan sikap tasamuh atau toleransi yang dimiliki NU.

Hadir dalam Apel yang mengusung tema Meneguhkan persatuan umat Islam dan nasional itu, Wasekjen PBNU KH Abdul Munim DZ, Katib Syuriyah PBNU KH Luqman Harits Dimyathi, Ketua PWNU Jawa Timur KH Hasan Mutawakkil Alallah, Bupati Pacitan Indartato, Komandam Korem (Danrem) 081/Dhirotsaha Jaya Madiun Kolonel Infanteri Piek Budiakto, dan ratusan alim ulama lainya. (Zaenal Faizin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir

Haedar Nashir Ulama, Meme Islam, Kyai Haedar Nashir

Minggu, 18 September 2011

Pemutaran Video Sejarah PCINU Maroko Awali Konferensi

Rabat, Haedar Nashir. Penampilan santri berprestasi yang tengah mengikuti program kelas internasional di Universitas Ibnu Thofail kota Kenitra, membuka konferensi cabang ke-2 PCINU Maroko dengan menyanyikan himne Pelajar NU dan sholawatan di auditorim Institut Dar El-Hadith Al-Hasaniyah, Rabat, Maroko. Usai itu mereka menyaksikan pemutaran film dokumenter perihal sejarah berdirinya PCINU Maroko.

Pemutaran Video Sejarah PCINU Maroko Awali Konferensi (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemutaran Video Sejarah PCINU Maroko Awali Konferensi (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemutaran Video Sejarah PCINU Maroko Awali Konferensi

Anggota Majelis Ilmi Kota Kenitra Maroko, Ahmad ‘Aid Bahdah, berkesempatan membuka secara resmi forum bergengsi ini, Ahad (10/8).

Tampak hadir dalam pembukaan konferensi ini antara lain Dubes RI untuk Kerajaan Maroko H Tosari Widjaja, utusan direktur Institut Dar El-hadith Al-Hasaniyah, staf KBRI Rabat, Mustasyar PCINU Maroko H Husnul Amal, Prabowo Wiratmoko Jati, warga NU di Maroko, anggota Persatuan Pelajar Indonesia Maroko beserta, dan sejumlah tamu undangan.

Haedar Nashir

Ketua panitia konferensi ini Fairuz Ainun berharap agar PCINU ke depan dapat menciptakan sistem organisasi yang baik dan ke luar meningkatkan hubungan keagamaan dengan ulama Maroko.

Sementara H Tosari Widjaja mengimbau anggota PCINU Maroko untuk menangkap isyarat kelahiran PCINU bukan hanya sebagai wadah untuk kongko atau berdiskusi semata tanpa makna apapun.

Haedar Nashir

“Kelahiran PCINU Maroko berpijak dari sebuah amanah dari PBNU agar PCINU dapat menjadi duta-duta Islam Aswaja Indonesia untuk berbagai negara khususnya di Maroko,” kata H Tosari.

Forum konferensi ini akhirnya memberikan amanah kepada Alvian Zahasvan sebagai Rais Syuriyah dan Kusnadi El-Ghezwa sebagai Ketua PCINU Maroko untuk masa bakti 2014-2016.

Kusnadi dalam menyatakan visinya ke depan, menginginkan PCINU Maroko yang familiar, bermartabat dan bermuatan intelektual. Ia pun mengajak kepada semua pengurus dan anggota PCINU Maroko untuk bekerja sama sehingga program Go Internasional NU dapat terwujud. (Red. Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Tegal, AlaNu Haedar Nashir

Sabtu, 17 September 2011

Peringatan Maulid Nabi dalam Sukoharjo Bersholawat

Sukoharjo. NU.Online

Pengasuh Pesantren Al-Qur’any Solo, KH Abdul Karim Ahmad Mustofa, menyampaikan pentingnya memperingati hari kelahiran Baginda Rasul Allah Muhammad SAW. Ia juga mengajak warga nahdliyin untuk senantiasa melakukan tradisi amaliyah NU seperti, dzikir tahlil, maulid nabi, ziarah kubur, puji-pujian setelah sholat dan lain-lain. 

Peringatan Maulid Nabi dalam Sukoharjo Bersholawat (Sumber Gambar : Nu Online)
Peringatan Maulid Nabi dalam Sukoharjo Bersholawat (Sumber Gambar : Nu Online)

Peringatan Maulid Nabi dalam Sukoharjo Bersholawat

Hal ini disampaikan dalam mauidhoh hasanah dalam acara Sukoharjo Berdzikir & Bersholawat, di sepanjang jalan Slamet Riyadi, depan Masjid Agung Baiturrahmah Sukoharjo, Jumat (11/1) malam. 

Sementara itu Habib Syeck yang piawai melantunkan sholawat itu, juga memimpin nyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Sholawat yang dendangkan diantaranya Padang Bulan, Ya Hannana, Syiiran, Allahu Allah, Thalaal Badru, Shollatun Bissalam, Yaa Habib, Laa Illahaillalah, Subhanallah,  dan lain-lain. Semua lagu dan sholawatan mampu dihafal oleh jamaah. 

Bupati Sukoharjo H Wardoyo Wijaya dalam sambutannya menyambut baik acara yang digagas NU bekerjasama dengan Pemkab Sukoharjo, dan beberapa majelis taklim. 

Haedar Nashir

Haedar Nashir

“Pemerintah Kabupaten Sukoharjo mendukung penuh kegiatan Sukoharjo Bersholawat dan berdzikir 2013, dengan mengambil thema Menjaga NKRI bersama NU, dan saya berharap acara ini diadakan secara rutin,” katanya yang disambut tepuk tangan hadirin.

Tampak hadir diantaranya, Ketua PCNU Sukoharjo H M Nagib Sutarno, Wakil bupati Sukoharjo H Haryanto, Camat Sukoharjo Gondang Rejono, Syuriah NU Sukoharjo ; KH Adib Zein, KH Ahmad Baidlowi, KH Khoirul Anwar, para pengurus MWC NU se Kabupaten Sukoharjo, pengurus  Muslimat NU, Fatayat NU, Pagar Nusa dan tak ketinggalan Banser NU Kabupaten Sukoharjo. 

Redaktur   : Mukafi Niam

Kontributor: Cecep Choirul Sholeh

   

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Cerita, Khutbah, Daerah Haedar Nashir

Rabu, 14 September 2011

Gus Mus: Anak Muda Jangan Berhenti Belajar

Semarang, Haedar Nashir. Kalangan anak muda bebas untuk berfikir apa pun, asal tidak berhenti belajar, kata Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatuth Thalibin, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, KH. Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus).

"Saya sendiri dengan anak-anak muda juga mengatakan silakan anda berfikir ’segila’ apa pun, asal tidak berhenti belanjar," katanya pada acara seminar dan bedah buku "Allah dalam Al-Kitab dan Alquran" yang diselenggarakan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Rayon Tarbiyah di IAIN Walisongo Semarang, Rabu.

Ia mengatakan, orang yang berhenti belajar biasanya akan menjadi masalah, karena mereka merasa menjadi yang paling benar, paling alim, dan seterusnya. "Saya bersyukur anak muda melebihi yang tua dalam semangat berfikir, mencari tahu, dan semangat mencari titik temu," katanya.

Gus Mus: Anak Muda Jangan Berhenti Belajar (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Mus: Anak Muda Jangan Berhenti Belajar (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Mus: Anak Muda Jangan Berhenti Belajar

Khusus buku yang ditulis Frans Donald, kata dia, yang cukup menarik adalah semangatnya dalam kebangsaan, karena buku ini dipersembahkan untuk bangsa Indonesia.

Selain itu, kata dia, semangat berfikir, berdialog, memfitrikan perbedaan sehingga merupakan hal yang luar biasa. "Saya harap para sesepuh bisa mengerti dan memahami bahwa anak muda perlu mendapat semangat untuk terus mencari dan berfikir," katanya dan menambahkan bahwa perlunya peningkatan semangat membaca di kalangan anak muda supaya pengetahuannya bertambah luas sehingga tidak mudah kagetan.

Sementara itu, menurut Frans Donald penulis buku "Allah dalam Alkitab dan Alquran", hasrat penulisan buku ini karena dirinya ingin menginspirasikan semangat "perdamaian bangsa" melalui perdamaian agama yang bukan berbicara berdasar wacana sosial seperti soal gotong royong /penanggulangan bencana.

Haedar Nashir

Ia mengatakan, pada kajian ini justru ingin mengajak saudara Islam-Kristen untuk sekiranya bisa betul-betul bergandengan tangan, dan betul-betul bersahabat dengan didasari oleh pemahaman teologi yang selaras dalam hal hakikat.

Sebenarnya sudah sangat jelas bahwa Injil dan Alquran adalah kabar gembira dari Allah melalui malaikat-Nya kepada para nabi dan rosul untuk disampaikan kepada semua umat manusia.

Menurut dia, sebagai orang yang mengaku umat Allah, seharusnya berupaya benar-benar menjadi insan-insan yang beragama tauhid sejati, bukan cuma berorganisasi pada kotak agama saja.

"Bagi orang yang mencari kebenaran, sudah sepatutnya kembali pada ajaran agama tauhid yang sejati, yang hakiki dari Allah. Dan jangan berpecah belah hanya karena beda bingkai/baju atau kepentingan golongan," katanya. (ant/kut)

Haedar Nashir



Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Habib, Pendidikan, News Haedar Nashir