Senin, 11 Februari 2013

Pesantren Lahirkan Tradisi Keberagaman yang Inklusif dan Moderat

Ponorogo, Haedar Nashir. Menteri Agama (Menag) Lukman Hakim Saifuddin menyampaikan kekagumannya setiap kali berbicara tentang pesantren dan tradisi yang tumbuh didalamnya. Sebab, menurut pengalaman Menag, pesantren adalah satu-satunya lembaga pendidikan Islam yang unik, genuine, otentik, dan tidak mudah lekang di makan zaman.

Pesantren, lanjut Menag, sudah tumbuh sejak 7 abad yang lalu bersamaan dengan prosesi Islamisasi Nusantara. Dan hingga kini, pesantren tetap bertahan dan tidak tercerabut dari akar kulturalnya. Bahkan, Menag menegaskan, pesantren begitu dinamis, kreatif, inovatif dan memiliki daya adaptasi yang tinggi terhadap perkembangan masyarakat dan elemen kehidupan lainnya.

Pesantren Lahirkan Tradisi Keberagaman yang Inklusif dan Moderat (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Lahirkan Tradisi Keberagaman yang Inklusif dan Moderat (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Lahirkan Tradisi Keberagaman yang Inklusif dan Moderat

"Yang tak kalah penting lagi adalah saat pergumulan pesantren bersama dengan elemen bangsa melahirkan tradisi keberagaman yang inklusif dan moderat, yang menjadikan ciri khas keberagaman di Indonesia. Melalui pesantren inilah, watak ke Islaman dan ke Indonesiaan terbentuk seperti sekarang ini,” kata Menag saat berbicara dalam kesempatan menghadiri pertemuan akbar alumni Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo bersamaan dengan Peringatan 90 Tahun Pondok Gontor, Jumat (2/9).

Dikatakan Menag, lembaga pendidikan pesantren di Indonesia merupakan lembaga swadaya masyarakat yang tidak hanya menyelenggarakan pendidikan keagamaan Islam, akan tetapi juga melakukan pemberdayaan kepada masyarakat, dan bahkan pusat peradaban Islam.

Haedar Nashir

"Pesantren telah banyak memberikan kontribusi yang luar biasa dalam melakukan pelayanan pendidikan keagamaan Islam,” papar Menag yang juga berkisah suka dukanya saat menjadi santri Gontor.

Di luar kegiatan tersebut, Menag melanjutkan kunjungan kerjanya ke Pondok Pesantren Wali Songo Ngabar yang pimpinannya sekarang Kiai Syaiful Anwar merupakan sahabat Menag satu angkatan (marhalah) saat menimba ilmu di Pondok Gontor.

Bersama santri dan pimpinan pondok Ngabar, Menag melaksanakan Shalat Jumat dilanjutkan dengan memberikan nasehat dan motivasi bagi santri-santri Ngabar agar terus berkhidmat menimba ilmu.

Haedar Nashir

"Anak-anakku sekalian, inilah masa terbaik, kalian semua bisa berkesempatan belajar di pesantren. Lembaga pendidikan yang memiliki pengalaman bagaimana ilmu itu diajarkan, dan diamalkan," ujar Menag.

"Ilmu menjadikan manusia akan semakin baik dan arif. Orang yang ilmunya sempit, cenderung bersikap kurang bijak. Di pesantrenlah tempat kita menimba ilmu dan berbagi pengalaman,” pungkasnya. (Kemenag/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Sholawat Haedar Nashir

Jumat, 08 Februari 2013

Fitrah Manusia: Keseimbangan Antara Kehambaan dan Kekhalifahan

Oleh Suwendi

Di dalam Al-Quran, Allah SWT berfirman: (artinya) “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” (QS. Al-Rum [30]: 30). Ketika menafsirkan ayat di atas, Syekh Ahmad Musthafa al-Maraghi menyatakan bahwa yang dimaksud dengan “fitrah” adalah al-tahayyu liqubul al-haqq wa din al-tawhid? (kesiapan mental untuk menerima kebaikan dan agama yang esa). Menganut penafsiran ini, sesungguhnya manusia ketika lahir diliputi oleh potensi kebaikan-kebaikan. Ia dalam keadaan baik dan berpihak pada kebaikan serta kesucian. Ia memiliki hati suci dan tidak mau untuk dikotori. Inilah sesungguhnya potensi dasar yang dimiliki oleh manusia. Oleh karenanya, jika ada tekanan terhadap hak-hak kemanusiaan maka sesungguhya ia memiliki potensi untuk melakukan perlawanan. Namun demikian, potensi kesucian yang dimiliki manusia seringkali terkikis oleh gangguan dan rongrongan terutama dari luar dirinya. Kondisi lingkungan keluarga dan masyarakat sosial lainnya turut memberikan andil terhadap pengikisan potensi kefitrahan. Oleh karena itu, orang yang fitrah sesungguhnya adalah orang yang mampu membentengi diri dari godaan-godaan yang tidak baik.

Fitrah Manusia: Keseimbangan Antara Kehambaan dan Kekhalifahan (Sumber Gambar : Nu Online)
Fitrah Manusia: Keseimbangan Antara Kehambaan dan Kekhalifahan (Sumber Gambar : Nu Online)

Fitrah Manusia: Keseimbangan Antara Kehambaan dan Kekhalifahan

Memahami fitrah manusia sejatinya juga menyadari akan hakikat dirinya. Allah SWT telah memberi kepercayaan kepada manusia untuk memegang tugas kehambaan dan tugas kekhalifahan. Sebagai hamba, manusia diciptakan dengan tujuan untuk beribadah kepada Allah. Hal ini dinyatakan dalam firman-Nya: (artinya) ”Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku” (QS al-Dzariyat [51]: 56).

Fungsi kehambaan (abid) relasinya adalah dirinya secara personal kepada Tuhannya. Manusiamerupakan makhluk yang diciptakan oleh Tuhan (khaliq) sehingga berkewajiban untuk berterima kasiih kepada-Nya. Ia harus patuh, tunduk, tanpa reserve terhadap apapun yang diperintahkan oleh Tuhan. Siapa yang melanggar akan ketentuan itu dinyatakan sebagai orang yang mengingkari akan hakikat dirinya.

Haedar Nashir

Haedar Nashir

Dalam QS. al-Dzariyat [51]: 56di atas secara tegas dikatakan bahwa manusia merupakan yang diciptakan (makhluq) sedangkan Tuhan sebagai yang menciptakan (khaliq). Keterciptaan manusia ini membuat keharusan bagi manusia untuk beribadah, menyerahkan diri secara total kepada Tuhan. Penyerahan diri kepada Tuhan ini dalam banyak hal tidak mengedepankan validitas secara rasional.Oleh karena itu, jika dinyatakan dalam bentuk garis maka fungsi kehambaan ini dapat digambarkan dengan garis vertikal, di mana posisi Tuhan berada di atas sedangkan manusia berada di bawah.

Patut digarisbawahi bahwa bentuk-bentuk kehambaan ini memiliki muatan dan fungsi-fungsi sosial yang perlu diimplementasikan secara sosial. Sebab, yang membutuhkan penyembahan manusia bukanlah Tuhan, tetapi manusia itu sendiri. Tuhan bukanlah Dzat yang memiliki kebutuhan, oleh karenanya Dia tidak bersifat kurang (naqish). Akan tetapi, justeru manusialah yang membutuhkan akan makna sosial dari bentuk-bentuk kehambaan ini. Oleh karena itu, orang yang berhasil dalam beribadah adalah orang yang mampu memanivestasikan muatan dari praktek ibadah itu dalam ranah sosial.

Sebagai khalifah, manusia adalah makhluk yang diberi kepercayaan oleh Allah Swt. untuk memakmurkan bumi dan alam semesta ini. Relasinya adalah manusia dengan sesama manusia dan dengan alam. Firman Allah menyatakan: (artinya) ”Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi" (QS al-Baqarah [2]: 30).

Sebagaimana makna asal katanya, khalifah di sini dipahami sebagai wakil Tuhan untuk mengurus,mengelola,mengayomi, memakmurkan, dan memanfaatkan segala isi yang ada di muka bumi. Di samping itu, fungsi kekhalifahan ini juga menegaskan secara meyakinkan akan terbentuknya tatanan pranata sosial yang adil, demokratis, setara, dan mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan. Antara satu dengan yang lainnya memiliki relasi yang sama besar dan sama kuat. Diantara mereka tidaklah dianggap sebagai subordinasi. Oleh karena itu, secara historis-sosiologis kehidupan keduniaan harus didasarkan atas kevalidan secara rasional.Jika diwujudkan dalam bentuk gambar maka tugas kekhalifahan ini akan membentuk garis horizontal, ujung satu dengan yang lainnya adalah manusia yang memiliki relasi kesejajaran.

Dalam Islam, kedua fungsi di atas harus dapat disinergikan secara seimbang. Tuntutan kehambaan harus dapat diwujudkan secara seimbang dengan tuntutan kekhalifahan. Tidak dianggap sebagai orang yang baik (insan kamil) jika ia hanya mampu menjalankan fungsi-fungsi kehambaannya, sementara fungsi sosial-kemanusiaan terbengkalai. Demikian juga sebaliknya, bukanlah orang yang baik jika ia hanya mementingkan tugas-tugas kekhalifahan sementara tugas kehambaannya tidak diaktualisasikan. Dengan demikian, fitrah manusia adalah menjalankan tugas-tugasnya dengan sukses baik sebagai hamba Allah maupun sebagai khalifah di muka bumi secara seimbang.

Banyak sekali sindiran Allah Swt. kepada orang yang hanya memenuhi salah satu tugas dengan mengabaikan tugas lainnya. Misalnya dalam surat al-Mâ’ûn dilontarkan celaan kepada orang-orang yang mengerjakan shalat tetapi suka menghardik anak yatim dan tidak mau peduli kepada orang miskin. Orang seperti ini dijuluki pendusta agama (yukadzdzibu bid-dîn). (QS al-Mâ’ûn [107]: 1-7). Orang seperti ini hanya melakukan tugas kehambaan saja dalam bentuk ibadah mahdah, tetapi ibadah sosial dia lalaikan. Meski mengerjakan shalat dan menyembah Allah, dia akan mengalami celaka di akhirat nanti, sebab dia lupa akan makna shalatnya. Dia beribadah hanya secara formalistik, tetapi tidak secara substansialistik. Dalam kehidupan sehari-hari, dia shalat tetapi lisannya tidak dijaga, telinga tidak diperhatikan, mata berkeliaran ke mana-mana, kaki melangkah ke jalan yang tidak dibenarkan, pemikiran menyalahi aturan. Ini sindiran yang luar biasa dari Allah lewat surat al-Mâ’ûn ini.

Oleh karena itu, di dalam Islam, ritual ibadah selalu memiliki dua hal secara integral: formalistik dan substansialistik Tidak ada ibadah dalam Islam yang hanya dianjurkan secara aspek formalistik semata. Antara formalistik dan substansialistik harus dilakukan secara seimbang. Dalam kasus ibadah puasa, juga demikian. Hadis Nabi menyatakan: (artinya): “Betapa banyak orang yang berpuasa, dia tidak mendapat apa-apa dari puasanya kecuali lapar dan haus”. Orang yang melakukan ibadah puasa tidak mendapatkan balasan apapun disebabkan dirinya tidak mampu membangun harmoni dalam kehidupan sosialnya. Pikiran, gerakan, lisan, dan anggota tubuh lainnya tidak terjaga dari perilaku destruktif.

Begitu pula ibadah haji, Nabi SAW menyebutkan “Haji yang mabrur tidak ada balasan yang setimpal kecuali surga”. Ketika itu para sahabat menanyakan bagaimana haji yang mabrur itu, Rasulullah menjawab, “Dia suka memberi makan dan rajin menebarkan salam.”Artinya, seseorang yang telah melaksanakan haji baru disebut mabrur jika sekembalinya dari tanah suci dia peduli kepada sesamanya dan senantiasa menimbulkan kedamaian di sekelilingnya. Kalau tidak, maka hajinya mardud (tertolak) dan tidak ada surga baginya. Memberi makanan merupakan wujud dari solidaritas kita. Orang yang memiliki kepedulian yang baik dan solidaritas yang tinggi kepada sesamanya, sesungguhnya itu merupakan manifestasi dari amal ibadahnya.

Penulis adalah alumni Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon dan Pesantren Sabilussalam Ciputat.



Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Lomba, Nasional Haedar Nashir

Rabu, 06 Februari 2013

Ketum PBNU Ingatkan RMINU Berperan dalam Dua Hal

Jakarta, Haedar Nashir. Merujuk pada sebuah ayat dalam al-Quran, Ketau Umum PBNU KH Said Aqil Siroj mengimbau Rabithah Maahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMINU) atau asosiasi pesantren NU untuk berperan dalam dua hal utama.

Ketum PBNU Ingatkan RMINU Berperan dalam Dua Hal (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketum PBNU Ingatkan RMINU Berperan dalam Dua Hal (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketum PBNU Ingatkan RMINU Berperan dalam Dua Hal

"Pertama yatafaqqahu fiddin dan kedua liyunndziru qaumahun," katanya di hadapan para pengurus RMINU se-Indonesia di Pondok Pesantren Asshiddiqiyah, Kedoya, Kebonjeruk, Jakarta Barat,.Kamis (3/12) petang.

Menurut Kang Said, sapaan akrabnya, fungsi yatafaqqahu fiddin atau mencetak kader ulama mumpuni mesti selalu diaktualisasikan. Hal ini sesuai dengan redaksi yatafaqqahu yang menggunakan fiil mudlari (present continuous). "Jadi harus terus menerus pemahaman keislaman itu dikontekstualisasikan," imbuhnya dalam forum Raker dan Rakornas tersebut.

Haedar Nashir

Sedangkan fungsi yundziru qaumahaum berarti RMINU mendorong pesantren-pesantren untuk berperan sebagai "pengingat" kepada masyarakat demi kemaslahatan bersama. Peran kedua ini termasuk perluasan dari peran mendidik santri dalam hal pemahaman agama.

Haedar Nashir

Kiai asal Cirebon ini menyampaikan, pesantren merupakan esensi Nahdlatul Ulama. NU tanpa pesantren, katanya, tidak berarti apa-apa. "Tema Meneguhkan Islam Nusantara untuk Peradaban Indonesia dan Dunia pada Muktamar NU di Jombang dulu itu, Islam Nusantara yang dimaksud sebenarnya adalah Islam pesantren," tuturnya.

Kang Said mengingatkan bahwa hubungan antarpesantren harus bukan merupakan hubungan persaingan, melainkan relasi saling menunjang untuk memberi manfaat secara bersama-sama bagi umat. Ketum PBNU juga memotivasi para pengurus yang datang dari berbagai provinsi di Indonesia itu agar mempersiapkan generasi yang kuat, bukan generasi yang lemah.

Rapat kerja (Raker) dan rapat koordinasi nasional (Rakornas) RMINU berlangsung 3-5 Desember 2015 dengan mengusung tema "Meneguhkan Pesantren sebagai Basis Pendidikan dan Kemandirian Umat". (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Cerita, Habib Haedar Nashir

Jumat, 25 Januari 2013

Kuwu di Desa Ini Manfaatkan Dana Desa untuk Program Strategis

Brebes, Haedar Nashir. Dana desa (DD) senilai satu miliar rupiah pertahunnya dari program pemerintah yang dikomandoi Kementerian Desa PDTT turut membantu mewujudkan problem di desa Prapag Kidul, Kecamatan Losari, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah.

Kuwu di Desa Ini Manfaatkan Dana Desa untuk Program Strategis (Sumber Gambar : Nu Online)
Kuwu di Desa Ini Manfaatkan Dana Desa untuk Program Strategis (Sumber Gambar : Nu Online)

Kuwu di Desa Ini Manfaatkan Dana Desa untuk Program Strategis

Desa terluas dari 22 desa di Kecamatan Losari ini memberdayakan dana desa untuk program-program strategis di antaranya untuk normalisasi sungai, pembangunan saluran air, serta pengecoran dan pengaspalan jalan desa.

“Saya berusaha menyediakan jalan untuk pemberdayaan ekonomi warga lewat program pembangunan infrastruktur,” ujar Kepala Desa (Kuwu) Prapag Kidul Ella Sugiarto, Selasa (27/6) saat Haedar Nashir berkunjung ke kediamannya.

Ella menilai, desa yang dipimpinnya saat ini selain mempunyai potensi ekonomi di bidang kelautan, juga mempunyai sungai yang lebar dan cukup strategis untuk kebutuhan pengairan para petani.

Haedar Nashir

?

Desa ini terletak tepat di pantai utara Laut Jawa. Namun sebagian warga juga memanfaatkan lahan untuk pertanian. Sehingga daerah ini satu-satunya desa yang warganya mempunyai dua mata pencarian, petani dan nelayan di Kecamatan Losari.

“Saya menyusun program berdasarkan problem yang saat ini mendera warga. Jalan desa saya rapikan semua, termasuk sungai, setelah dikeruk ke depan dinormalisasi,” jelas Kades yang masih cukup muda ini.

Menurut pria bergelar sarjana ekonomi ini, pelaksanaan program dari dana desa membantu dalam pencairan dana desa tahap selanjutnya. Ia pun meminta dukungan seluruh masyarakat desa agar pemberdayaan ini setiap tahunnya dapat menyejahterakan warga.

Haedar Nashir

Program pembangunan saluran ini disambut baik oleh warga desa karena mereka selama ini hanya mengandalkan musim penghujan (sawah tadah hujan) untuk memulai aktivitas bertani.

Program ini memastikan petani di desa yang terletak 2,7 kilometer dari bibir pantai Laut Jawa ini dapat bertani sepanjang musim. Begitu juga program perapian infrastruktur jalan yang sangat membantu nelayan dalam distribusi pemasaran hasil laut. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nahdlatul, Tokoh Haedar Nashir

Jumat, 11 Januari 2013

Ziarahi Makam Mbah Hasyim, Mensos Teteskan Air Mata

Jombang, Haedar Nashir. Pecahnya perang 10 November 1945 di Surabaya yang akhirnya ditetapkan menjadi Hari Pahlawan, tidak lepas dari kiprah KH Hasyim Asy’ari, pendiri NU yang juga pendiri pesantren Tebuireng Jombang.

Jelang peringatan hari pahlawan, Menteri Sosial Khofifah Indar Parwansa didampingi Istri KH Salahudiin Wahid melakukan ziarah ke makam KH Hasyim Asyari di kompleks Pesantren Tebuireng Jombang, Sabtu (7/11).

Ziarahi Makam Mbah Hasyim, Mensos Teteskan Air Mata (Sumber Gambar : Nu Online)
Ziarahi Makam Mbah Hasyim, Mensos Teteskan Air Mata (Sumber Gambar : Nu Online)

Ziarahi Makam Mbah Hasyim, Mensos Teteskan Air Mata

Khofifah menyatakan, bahwa tokoh sentral yang menggerakkan pertempuran 10 November Surabaya adalah kakek KH Abdurrahman Wahid. "Itu makam KH Hasyim Asyari Pendiri NU, kakek Gus Dur. Beliaulah tokoh yang sangat berpengaruh menggerakkan di balik perjuangan? peristiwa 10 November di Surabaya," ujarnya.

Haedar Nashir

Pada peringatan hari pahlawan di Surabaya, Selasa 10 November mendatang, rencananya Presiden Jokowi untuk pertama kalinya akan menjadi Irup (Inspektur Upacara). Dalam peringatan hari pahlawan itu menurutnya yang perlu diketahui bersama sesungguhnya adalah tokoh yang sangat berpengaruh menggerakkan orang supaya berjihad, untuk mempertahankan kemerdekaan NKRI dan melawan penjajah Belanda, yang tak lain adalah KH Hasyim Asy’ari.

Haedar Nashir

Sementara itu, saat melakukan ziarah ke makam KH Hasyim Asy’ari, Khofifah yang juga ketua PP Muslimat NU ini tampak meneteskan air mata.? Mata perempuan ini sudah terlihat berkaca-kaca saat pembacaan tahlil dan doa. Air mata orang yang dikenal dekat dengan Gus Dur ini akhirnya jatuh juga saat menabur bunga di makam KH Hasyim Asy’ari. (Muslim Abdurrahman/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pahlawan, Cerita, Halaqoh Haedar Nashir

Rabu, 09 Januari 2013

Ranting NU se-Kecamatan Palasah Gelar Maulid Bergilir

Majalengka, Haedar Nashir. Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (NU) se-Kecamatan Palasah, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat menggelar maulid secara bergiliran dengan membaca barzanji, marhabanan dan Tabligh akbar yang diisi oleh Pengurus Cabang NU Majalengka.

Ranting NU se-Kecamatan Palasah Gelar Maulid Bergilir (Sumber Gambar : Nu Online)
Ranting NU se-Kecamatan Palasah Gelar Maulid Bergilir (Sumber Gambar : Nu Online)

Ranting NU se-Kecamatan Palasah Gelar Maulid Bergilir

Amin Syaefullah, Sekretaris MWC NU Palasah mengatakan, selama seminggu yang lalu, pengurus ranting NU di Kecamatan Palasah seperti Desa Pasir, Cisambeng, Trajaya, Palasah, Majasuka dan terakhir Tarikolot menggelar maulid bergilir yang dilaksanakan bersama dengan kelompok Majelis Talim Al-Amin.

Agenda ini, tambah Amin, selain wujud kecintaan terhadap Nabi Muhammad SAW, juga untuk menjaga tradisi dan memperkuat Ke NU an secara struktural dan kultural.

Haedar Nashir

“Kami melakukan kegiatan ini juga sebagai upaya memperkuat benteng-benteng ahlussunah wal jamaah,” tuturnya, Rabu, (14/1).

Haedar Nashir

Atas nama MWCNU Palasah, Amin ingin meyakinkan kembali agar masyarakat lebih percaya diri terhadap apa yang dilakukannya ini tidak bidah melainkan mengandung unsur ibadah.

“Karena dengan kita bersama-sama membaca kitab maulid, kita bisa bersilaturrahim sesama anggota, mengaji bersama, berarti kan unsur ibadahnya lebih banyak, bukan hanya sekadar kumpul-kumpul," jelasnya.

Amin berharap, ke depan agenda ini bisa berjalan setiap tahunnya sehingga bisa memperkokoh tradisi ahlussunnah wal jama’ah ditengah masyarakat Majalengka, khususnya di Kecamatan Palasah. (Aris Prayuda/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir AlaSantri Haedar Nashir

Selasa, 08 Januari 2013

Cabang-Cabang Ansor di Sumbar Keluarkan Deklarasi Tolak Paham Radikal

Pasaman Barat, Haedar Nashir. Tiga Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor di Sumatera Barat keluarkan Deklarasi Kebangsaan menolak semua bentuk paham radikal yang tidak sesuai dengan nilai-nilai yang sudah tumbuh sejak lama di tengah masyarakat Indonesia. Pernyataan tersebut disampaikan pada ? Deklarasi Kebangsaan Gerakan Pemuda Ansor yang diikuti Pimpinan Cabang Kabupaten Padang Pariaman, Kabupaten Pasaman dan Kabupaten Pasaman Barat, Minggu (16/7/2017) malam usai shalat Isya berjamaah di Masjid Al-Ikhlas Sidodadi Kecamatan Kinali, Kabupaten Pasaman Barat.?

Pernyataan yang dibacakan kader Ansor Padang Pariaman M. Fadly, menyebutkan, menyikapi perkembangan bangsa Indonesia belakangan ini, maka dengan ini Ansor menyatakanm, pertama, Gerakan Pemuda Ansor menolak semua bentuk paham radikal yang tidak sesuai dengan nilai-nilai yang sudah tumbuh sejak lama di tengah masyarakat Indonesia.

Kedua, menolak paham dan gerakan ISIS yang nyata-nyata tidak sesuai dengan nilai-nilai kemanusian dan agama Islam. Ketiga, mendukung pernyataan sikap Pengurus Besar Nahdlatul Ulama dan Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor tentang pembubaran ormas Hizbur Tahrir Indonesia (HTI) yang dinilai mengancam keutuhan NKRI.?

Cabang-Cabang Ansor di Sumbar Keluarkan Deklarasi Tolak Paham Radikal (Sumber Gambar : Nu Online)
Cabang-Cabang Ansor di Sumbar Keluarkan Deklarasi Tolak Paham Radikal (Sumber Gambar : Nu Online)

Cabang-Cabang Ansor di Sumbar Keluarkan Deklarasi Tolak Paham Radikal

Keempat, mendukung sikap Pemerintah ? Indonesia yang membubarkan organisasi atau kelompok yang nyata-nyata berlawanan dengan ideologi Pancasila dan mengancam keutuhan NKRI. Kelima, mendukung sikap TNI dan Polri yang tegas mengambilkan tindakan terhadap pihak-pihak yang dapat mengancam keutuhan NKRI.

Naskah pernyataan ditandatangani Ketua PC Padang Pariaman ? Zeki Aliwardana, Ketua PC Pasaman Asrial dan Ketua PC Pasaman Barat Djafrinal Effendi.

Menurut Zeki Ali Wardana, pernyataan sikap ini disampaikan sebagai bentuk kepedulian Ansor terhadap dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara. “Ansor tidak ingin negara ini dicabik-cabik oleh kelompok yang datang kemudian untuk menghancurkan dengan paham-paham yang bertentangan dengan Pancasila sehingga merongrong keutuhan NKRI. Karena Ansor amat menyadari negara dan bangsa Indonesia didirikan dan dipertahankan oleh para pendahulu dengan pengorbanan pikiran, fisik, tetesan darah para ulama, santri dan komponen bangsa Indonesia lainnya,” kata Zeki, ? yang juga mantan Sekretaris PMII Kota Pariaman ini.

Haedar Nashir

Djafrinal Effendi pun menambahkan, melalui deklarasi kebangsaan ini, kami ingin mengingatkan masyarakat untuk berhati-hati terhadap paham-paham yang cenderung radikal dan terindikasi merongrong keutuhan NKRI. Meski dibungkus dengan simbol-simbol Islam, namun targetnya jelas membawa kepentingan pihak luar sehingga ideologi bangsa Indonesia diganti sesuai dengan misinya.

“Setiap kader Ansor sudah dibekali wawasan kenapa harus menjaga empat pilar kebangsaan Indonesia. Yakni ideologi Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI dan UUD 1 945. Sejarah panjang dan kondisi yang dimiliki Indonesia, hanya cocok dengan konsep empat pilar tersebut,” kata Djafrinal, mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Sumatera Barat ini.?

Haedar Nashir

Menurut Ketua Ansor Pasaman Asrial Arfandi Hasan, generasi muda yang tingkat pengetahuan agamanya (Islam) minim lebih mudah dimasuki paham radikal. Jika bertemu dan diajak oleh orang berpaham radikal, bisa tergoda untuk mengikutinya. “Untuk itu, generasi muda perlu meningkatkan pengetahuan agama Islam-nya yang berpahamkan rahmatan lil’alamin, Islam yang moderat,” kata Asrial, mantan Camat ? Padang Gelugur Kabupaten Pasaman ini. ?

Dikatakan Asrial, ? deklarasi kebangsaan ini juga meningkatkan silaturrahmi dan konsolidasi Ansor sesama pimpinan dan kader Ansor di tiga cabang. Ke depan pertemuan ini diharapkan dapat ditingkatkan dengan jumlah cabang yang lebih banyak.?

(Armaidi Tanjung/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Tegal Haedar Nashir