Rabu, 29 Januari 2014

Ansor Padangpariaman Tingkatkan Kewaspadaan Terhadap Aksi Teror

Padangpariaman, Haedar Nashir

Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Padangpariaman mengecam tindakan pemboman yang terjadi di kawasan Sarinah, Thamrin, Jakarta Pusat, Kamis (14/1/2016). Apapun alasannya, tindakan pemboman yang menewaskan jiwa manusia adalah tindakan tidak berprikemanusiaan dan menodai kemuliaan jiwa dan agama.

Hal itu diungkapkan Ketua Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Padangpariaman Zeki Aliwardana, Jumat (15/1/2016), di Sekretariat PC GP Ansor Padangpariaman, Jl Raya Lubuk Alung-Pariaman, Kelok, Punggungkasiak. Menurut Zeki, aksi pemboman tersebut membuktikan adanya kelompok radikal yang ingin merongrong keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Ansor Padangpariaman Tingkatkan Kewaspadaan Terhadap Aksi Teror (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Padangpariaman Tingkatkan Kewaspadaan Terhadap Aksi Teror (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Padangpariaman Tingkatkan Kewaspadaan Terhadap Aksi Teror

"Menyikapi peristiwa ledakan bom tersebut, Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor Yaqut Cholil Qaumas sudah menyampaikan instruksinya kepada pengurus Ansor hingga ke tingkat Pimpinan Cabang agar meningkatkan kewaspadaan terhadap adanya tindakan aksi-aksi teror yang dilakukan oleh kelompok radikal. Meski ledakan bom terjadi di Jakarta, namun tidak tertutup kemungkinan terjadi pula di luar Jakarta. Selain itu, rekrutmen kelompok radikal ini bisa terjadi dimana saja di seluruh Indonesia," kata Zeki Aliwardana mengutip instruksi dari PP GP Ansor.

Dikatakan Zeki Aliwardana, terkait dengan himbauan dari PP GP Ansor tersebut, Ansor dan Banser Padangpariaman menginstruksikan kepada pengurus dan kadernya untuk meningkatkan kewaspadaan di tengah-tengah masyarakat. "Jika ada hal-hal yang mencurigakan, kita akan segera berkoordinasi dengan aparat keamanan," tutur Zeki didampingi Sekretarisnya Alva Anwar.

Haedar Nashir

Ledakan bom ini membuktikan, kata Zeki, kelompok radikal masih menjadi ancaman bagi bangsa Indonesia. Ansor yang selalu menyerukan Islam rahmatan lilalamin jelas mengutuk aksi ledakan bom ini. Apapun alasannya, aksi pemboman ini harus diusut tuntas oleh aparat keamanan.?

Menurutnya, di Kabupaten Padangpariaman sendiri memang sudah ada Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) ? yang sudah tersebar dari Aceh hingga Papua. Gafatar dinyatakan sesat karena anggotanya tidak wajib shalat lima waktu, tidak wajib puasa Ramadhan, syahadat mereka berbeda, yang bukan kelompok mereka dianggap kafir.

Haedar Nashir

"Kelompok ini menjalankan aksinya dengan program sosial kemasyarakatan. Selanjutnya anggota yang direkrut mulai diarahkan sesuai dengan misi dan visi organisasi ini. Untuk itu, Ansor ? Padangpariaman menghimbau masyarakat agar selalu waspada terhadap adanya kelompok/komunitas atau organisasi yang muncul di tengah masyarakatnya. Apakah organisasi tersebut legal, tidak dilarang, bukan sesat, atau tidak sesuai dengan tradisi dan keyakinan yang sudah lama hidup di masyarakat tersebut," kata Zeki, mantan Sekretaris Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota Pariaman ini menambahkan. (Armaidi Tanjung/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Budaya, Hikmah, Fragmen Haedar Nashir

Selasa, 07 Januari 2014

Dahlan Iskan: Jadi Santri Tak Perlu Minder, Saya Juga Santri

Jember, Haedar Nashir. Santri tidak perlu berkecil hati dalam menghadapi persiangan di luar. Sebab, santri mempunyai potensi untuk maju asal ada kemauan. Demikian dikemukakan Dahlan Iskan dalam acara silaturrahmi dengan para santri dan kiai di pondok pesantren Nuris, Antirogo, Jember, Jawa Timur.

Menurutnya, predikat santri justru harus dijadikan pendorong untuk menuai sukses dalam setiap usahanya. “Saya dulu juga santri. Pendidikan saya juga ditempuh di lembaga (pendidikan) agama,” ujarnya pada acara yang berlangsung Ahad (20/7) itu.

Dahlan Iskan: Jadi Santri Tak Perlu Minder, Saya Juga Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
Dahlan Iskan: Jadi Santri Tak Perlu Minder, Saya Juga Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

Dahlan Iskan: Jadi Santri Tak Perlu Minder, Saya Juga Santri

Dahlan memberikan testimoni bahwa santri juga bisa berbuat banyak. Ia mencontohkan dirinya yang merintis usaha di bidang media mulai dari nol. Ketika dirinya diminta mengelola sebuah koran lokal (cikal bakal Jawa Pos), banyak yang mencibir dan meremehkan kemampuannya.

Haedar Nashir

“Banyak yang bilang, bisa apa orang seperti saya, yang hanya lulusan pendidikan agama,? ? bisa apa. Tapi dari cibiran itu, justru saya kian bersemangat. Ruh jihad saya muncul untuk membuktikan bahwa saya juga bisa,” cerita alumni sebuah pesantren di Magetan tersebut.

Haedar Nashir

Akhirnya, seperti diketahui, Dahlan berhasil memimpin Jawa Pos, dan tahun-tahun berikutnya terus berkembang menjadi bisnis media cetak dan elektronik yang menjanjikan.

Dalam kesempatan itu, Meneg BUMN tersebut juga menyinggung soal Pilpres. Menurutnya, yang terbaik bagi bangsa Indonesia pasca Pilpres ini adalah melakukan rekonsiliasi. “Jadi rekonsiliasi adalah syarat mutlak untuk membangun bangsa kedepan yang lebih baik lagi,” harapnya.

Kehadiran Dahlan di pondok pesantren asuhan KH Muhyiddin Abdusshomad itu, disambut antusias oleh segenap santri, para kiai dan para pengurus NU. (Aryudi Arazaq/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Habib, Sholawat Haedar Nashir

Senin, 23 Desember 2013

Kembalilah pada Karakter dan Jati Diri Bangsa

Jakarta, Haedar Nashir. Arus deras globalisasi telah menghasilkan dampak positif dan negatif dalam kehidupan bangsa Indonesia. Kenyataan ini harus disiasati agar umat Islam tidak hanyut yang mengakibatkan hilangnya identitas sebagai bangsa.

Kembalilah pada Karakter dan Jati Diri Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)
Kembalilah pada Karakter dan Jati Diri Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)

Kembalilah pada Karakter dan Jati Diri Bangsa

“Dalam upaya memperbaiki kehidupan berbangsa di tengah kegalauan globalisasi ini, NU mengajak untuk kembali membangun karakter dan jati diri bangsa ini,” seru Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj dalam acara halal bihalal dan peluncuran Munas dan Konbes NU, Selasa (4/9), di Jakarta.

Menurutnya, kondisi ini juga menuntut adanya keterbukaan budaya. Namun, di era globalisasi kemampuan umat beragama dalam beradaptasi akan selalu dibutuhkan.

Haedar Nashir

“NU sejak lama sudah lama punya prinsip pertahankan budaya, petahankan tradisi, pertahankan jati diri, tapi juga ambil ilmu-ilmu yang semakin maju,” tandasnya.

Haedar Nashir

Dalam acara yang dirangkai dengan Halal Bialal ini, Kang Said menjelaskan tentang relevansi tema Munas dan Konbes NU yang digelar di Cirebon, 14-17 September 2012 mendatang. Tema tersebut adalah Kembali ke Khittah Indonesia 1945, Meningkatkan Khidmat NU Menuju Indonesia yang Berdaulat, Adil dan Makmur.

“Yang tiada lain adalah kembali pada semangat Proklamasi, kembali kepada nilai-nilai Pancasila dan kembali berpegang pada amanat pembukaan Undang-Undang Dasar 1945,” tuturnya.

Dengan kembali ke nilai dasar, demikian Kang Said, kita akan selamat dari gelombang globalisasi. Bahkan sebaliknya, mengendalikan globalisasi untuk menciptakan negara yang berdaulat, adil dan makmur sebagaimana dicita-citakan 67 tahun lalu. 

“Perlu kita segarkan dan tegaskan kembali saat ini,” pungkasnya.

Redaktur : A. Khoirul Anam

Penulis    : Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pertandingan Haedar Nashir

Sabtu, 21 Desember 2013

PP LP Ma’arif Diminta Kaji Ujian Nasional

Jakarta, Haedar Nashir. Lembaga Pendidikan Ma’arif NU di tingkat pusat diminta melakukan kajian ulang atas undang-undang yang mengatur pelaksanaan ujian nasional. Penetapan standar tinggi kelulusan sekolah akan mengorbankan banyak pihak, terutama siswa sendiri.

PP LP Ma’arif Diminta Kaji Ujian Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)
PP LP Ma’arif Diminta Kaji Ujian Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)

PP LP Ma’arif Diminta Kaji Ujian Nasional

Permintaan disampaikan pengurus LP Ma’arif dari Solokuro, Kabupaten Lamongan saat bersilaturrahim ke PBNU. PP Maarif NU yang diwakili oleh Sri Mulyati, Wakil Ketua PP LP Maarif NU, didampingi beberapa pengurus PP LP Ma’arif menyambut ke para tamu di ruang pertemuan lantai 5 kantor PBNU Jakarta, Senin (19/11).

Aturan yang ada saat ini dinilai akan menyulitkan alumni lembaga pendidikan di bawah ma’arif untuk memasuki jenjang pendidikan di level perguruan tinggi. “Lagi-lagi pelajar menjadi korban akibat kebijakan tersebut,” kata Aryoto Alwan, seorang perwakilan dari Selokuro.

Haedar Nashir

Aryoto, pendidik yang juga pandai berbahasa Jerman ini mengusulkan agar lembaga sebesar Maarif NU melakukan advokasi nasib para pelajar di daerah pada level kebijakan Kemendiknas. Kebijakan itu diharapkan agar memberi nafas bagi karir pendidikan pelajar di daerah.

Aryoto yang datang bersama rombongan satu bus, menyepakati isu tersebut yang nantinya dibahas dalam Rakernas PP LP Maarif NU pertengahan Desember mendatang.

Haedar Nashir

Redaktur: A. Khoirul Anam

Penulis   : Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ulama, RMI NU Haedar Nashir

Kamis, 12 Desember 2013

Kembali Pimpin Fatayat Bulakamba, Eva Gerakkan Koperasi hingga Ranting

Brebes, Haedar Nashir - Eva Trisnawati dari Desa Kluwut kembali menerima amanah menggerakkan Pimpinan Anak Cabang (PAC) Fatayat NU Bulakamba Kabupaten Brebes masa khidmah periode 2016-2021. Eva dipilih dalam Konferensi Anak Cabang (Konferancab) Fatayat NU di Madrasah TPQ Muslimat NU Kluwut, Bulakamba, Kamis (4/2).

Eva terpilih dalam persidangan yang dipimpin Ketua Fatayat NU Brebes Mukminah. Eva pada periode ini bertekad mengembangkan Fatayat lebih maju lagi terutama dalam peningkatan ekonomi keluarga.

Kembali Pimpin Fatayat Bulakamba, Eva Gerakkan Koperasi hingga Ranting (Sumber Gambar : Nu Online)
Kembali Pimpin Fatayat Bulakamba, Eva Gerakkan Koperasi hingga Ranting (Sumber Gambar : Nu Online)

Kembali Pimpin Fatayat Bulakamba, Eva Gerakkan Koperasi hingga Ranting

Kalau program yang dilaksanakan pada periode sebelumnya adalah program Baitul Mal wat Tamil (BMT), kini ia akan mengembangkannya hingga ke tingkat ranting (desa). Koperasi simpan pinjam ini, menurut Eva, sangat menolong para anggotanya yang membutuhkan permodalan dalam pengembangan Usaha Mikro Kecil dan Menengah.

“Fatayat beranggotakan ibu-ibu muda yang masih sangat produktif, jadi ketika menggiatkan UMKM pun, banyak yang sukses,” kata Eva.

Haedar Nashir

Selain itu, dirinya juga akan lebih meningkatkan kualitas wanita dalam berbagai bidang. Ia bermaksud melakukan peningkatan pengetahuan dan pemberdayaan wanita dalam bidang ekonomi, sosial, kesehatan, dan pendidikan.

“Kami pun tak segan-segan membantu pemerintah kabupaten Brebes dalam hal pemberdayaan wanita seperti Keluarga Berencana maupun Taman Pendidikan Al-Quran,” terangnya.

Haedar Nashir

Terkait dengan banyaknya keluarga muda yang tergiur dengan ajakan ke berbagai aliran, Eva menegaskan Fatayat akan lebih mengintensifkan pengajian rutin.

“Pengajian rutin seperti jamiyahan Raboan, Kamisan, Jumatan maupun Kliwonan meski kelihatannya sepele tetapi mampu menepis berbagai ajakan aliran-aliran di luar Aswaja NU seperti Gafatar, ISIS dan sebentuknya,” kata Eva.

Konferancab Fatayat NU Kecamatan Bulakamba antara lain menetapkan program kerja lima tahun ke depan, laporan pertanggungjawaban pengurus, dan pemilihan pengurus baru. (Wasdiun/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nasional, Ulama Haedar Nashir

Kisah Dua Ajengan dari Tanah Pasundan

Subang, Haedar Nashir?

Diantara ulama nusantara yang lahir di tanah pasundan adalah KH Ahmad Zakariya atau lebih dikenal dengan sebutan Mama Rende Bandung dan KH Tubagus Ahmad Bakri atau Mama Sempur Purwakarta. Kedua ulama karismatik ini punya kisah menggelitik sebagaimana diungkapkan KH Nawawi, Pabuaran, Subang.

Kisah Dua Ajengan dari Tanah Pasundan (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Dua Ajengan dari Tanah Pasundan (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Dua Ajengan dari Tanah Pasundan

"Waktu mesantren di Mekkah, Mama Rende seniornya Mama Sempur," ungkap Kiai Nawawi beberapa waktu yang lalu.

Suatu hari, kata Kiai Nawawi, Mama Sempur hendak mempelajari sebuah kitab, namun sayangnya ia tidak mempunyai kitab tersebut. Hingga akhirnya Mama Sempur sowan kepada Mama Rende. "Di sana Mama Sempur menemukan kitab yang dicari, akhirnya Kitab tersebut dipinjam oleh Mama Sempur," tambah mantan Rais PCNU Subang itu.?

Suatu hari, kata dia, Mama Rende hendak membaca kitab ini, ia baru ingat bahwa kitabnya masih dipinjam oleh Mama Sempur, hingga akhirnya Mama Rende mengajak santrinya bernama Mansur untuk silaturahim ke Sempur, Purwakarta.

"Sampai Sempur sudah malam, Mama Rende tidur di bawah bedug. Santri Mama Sempur kaget karena saat hendak menabuh bedug subuh, ada seseorang yang tidak dikenal, barulah diketahui bahwa orang tersebut adalah Mama Rende, sahabatnya Mama Sempur," ujarnya.

Haedar Nashir

Ditambahhkannya, usai shalat subuh keduanya mengobrol, Mama Rende mengeluarkan bako mole, melinting lalu merokok. Sesaat kemudian sambil guyon Mama Sempur menyindir Mama Rende karena merokok.

"Masih merokok, ajengan?" kata Kiai Nawawi meniru pertanyaan Mama Sempur.

Pertanyaan tersebut dianggap cukup menohok, karena diketahui Mama Sempur bukanlah perokok aktif, tanpa pikir panjang, Mama Rende pun akhirnya menjawab. "Lebih baik merokok daripada pinjam kitab tapi tidak dipulangkan," jawab Mama Rende.

Usai saling melontarkan sindiran, kedua ulama tersebut kemudian melanjutkan obrolan namun tetap dalam susana keakraban. "Saya tahu cerita ini dari ajengan Mansur, dulu dia sering ke sini, dia santri yang ikut mengantar Mama Rende ke Pesantren Sempur,” kata Kiai Nawawi menutup kisahnya. (Aiz Luthfi/Fathoni)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kyai Haedar Nashir

Senin, 25 November 2013

Masa Taaruf Santri Asshiddiqiyah Way Kanan Tekankan Santri Aktif dalam Pembangunan

Way Kanan, Haedar Nashir. Pesantren Assiddiqiyah 11, Labuhan Jaya, Gunung Labuhan, Way Kanan, Lampung, Selasa (19/7) menggelar Masa Taaruf Santri (Mastasa). Ketua PC GP Ansor Way Kanan Gatot Arifianto yang diminta menyampaikan materi kemasyarakatan mengajak santri untuk berpartisipasi dalam pembangunan.

"Kata masyarakat berasal dari kata dalam bahasa Arab, musyarak. Sakai sambayan dalam bahasa Lampung yang berarti gotong-royong merupakan contoh wujud interaksi, bertegur sapa antara orang-orang di dalam masyarakat untuk mencapai tujuan tertentu. Nilai tersebut harus tetap ada," kata Gatot, di Gunung Labuhan.

Masa Taaruf Santri Asshiddiqiyah Way Kanan Tekankan Santri Aktif dalam Pembangunan (Sumber Gambar : Nu Online)
Masa Taaruf Santri Asshiddiqiyah Way Kanan Tekankan Santri Aktif dalam Pembangunan (Sumber Gambar : Nu Online)

Masa Taaruf Santri Asshiddiqiyah Way Kanan Tekankan Santri Aktif dalam Pembangunan

Mengajak berdiskusi, Ketua Bidang Media dan Publikasi DPP Sarbumusi NU itu mengajak 29 santri peserta mastasa untuk menyampaikan pengetahuan masing-masing mengenai masyarakat.

"Meski Ketua Ansor, ketika masuk pesantren saya adalah santri yang harus tunduk pada peraturan yang ada. Sederhananya, kita sama-sama belajar, saya bisa menjadi guru teman-teman, dan sebaliknya juga demikian. Kader NU harus terampil, silakan maju kedepan," ujarnya.

Haedar Nashir

Sejumlah santri menjawab masyarakat mempunyai peraturan atau tatanan masing-masing yang telah disepakati. Antara satu kampung dengan kampung lain ada perbedaan.

"Misalnya di pesantren ini, kita ada peraturan tidak membuang sampah sembarangan," kata Intan, santri pesantren asuhan Kiai Imam Sayuthi Murtadlo itu.

Aktivis Gusdurian itu selanjutnya mengajak santri bermain games membangun pusat kesehatan masyarakat (puskesmas). Para santri yang dibagi tiga kelompok diminta memperkirakan sendiri biaya dihabiskan untuk pembangunan, tercapai mufakat Rp15 juta.

Dana pembangunan sebagai gambaran partisipasi pembangunan dihasilkan dari sumbangan santri yang berperan sebagai anggota masyarakat. Peci, tas, dasi, kaus kaki, jam tangan, gelang dinominalkan dengan harga tertentu. Kelompok yang menghimpun dana mendekati kebutuhan pembangunan puskesmas dinyatakan sebagai pemenang.

Hasilnya, santri menyimpulkan masyarakat merupakan himpunan orang-orang yang tunduk pada peraturan berlaku yang ada, di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung, memiliki pemimpin. Untuk mencapai keberhasilan pembangunan dicita-citakan bersama, perlu pengorbanan, keikhlasan, kerjasama, menghargai pendapat orang lain.

Haedar Nashir

"Hal tersebut berlaku pula bagi daerah dan negara. Saya hanya memfasilitasi teman-teman untuk tidak takut berpikir dan berpendapat, dan ternyata bisa. Insya Allah, teman-teman akan menjadi orang hebat," pungkas Gatot. (Disisi Saidi Fatah/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pertandingan, Warta Haedar Nashir