Rabu, 12 Maret 2014

Mahasiswa Yogyakarta Hadirkan Buku Keteladanan Pengasuh Pesantren Annuqayah

Sumenep, Haedar Nashir. Para mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta turut memeriahkan acara silaturrahim alumni Pesantren Annuqayah di aula Syarqawi, Guluk-Guluk, Sumenep Madura, Sabtu (31/10). Mereka merupakan perwakilan dari Ikatan Alumni Annuqayah (IAA) Cabang Yogyakarta.

Mahasiswa Yogyakarta Hadirkan Buku Keteladanan Pengasuh Pesantren Annuqayah (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahasiswa Yogyakarta Hadirkan Buku Keteladanan Pengasuh Pesantren Annuqayah (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahasiswa Yogyakarta Hadirkan Buku Keteladanan Pengasuh Pesantren Annuqayah

Rinciannya, 3 dari perwakilan pengurus IAA Yogyakarta tersebut ialah Zian Faradis (ketua), Moh. Affan dan Faza Binal Alim; 2 orang penasehat IAA Yogyakarta Ruslani dan Haris.

Dalam kesempatan itu, mereka menghadirkan keteladanan pengasuh Pesantren Annuqayah alm KH A Warits Ilyas. Dua buku tersebut berjudul ‘Inspirator dan Guru Umat’ sebanyak 60 buah dengan harga Rp 25 ribu, sedangkan buku lainnya bertajuk ‘Oase Keteladanan KH Warits’ sebanyak 4 buku seharga Rp 35 ribu.

Haedar Nashir

"Penghasilannya buat IAA Press yang baru diprakarsai oleh IAA Yogyakarta," ujar Moh Affan.

Mengacu pada keteladanan Kiai Warits, lanjut Affan, pesantren secara umum dan Pesantren Annuqayah khususnya, harus menjadi lembaga Islam yang mampu memberikan solusi terdepan bagi kehidupan modern saat ini.

Haedar Nashir

"Tentunya dengan menjadi lembaga pendidikan Islam yang tidak terjebak pada pendikotomian ilmu: ilmu agama dan umum, seperti yang sudah ditulis Prof Dr Abd Ala (salah satu Kiai Annuqayah) dalam buku  Pembaharuan Pesantren," harap Affan.

Affan juga menerangkan, bahwa  alumni Annuqayaah banyak menjadi tokoh, pemikir, penyair, penulis, dosen, politisi, kiai, pengusaha, wartawan, dan sebagainya. “Mari berdayakan  sumberdaya manusia yang ada. Dan semoga Annuqayah menjadi lembaga yang terus merakyat," tukasnya. (Hairul Anam/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Hadits Haedar Nashir

Minggu, 02 Maret 2014

Ini Komentar Imam Aziz Soal Jilbab Halal dan Labelisasinya

Gunung Kidul, Haedar Nashir - Terminologi jilbab halal menarik perhatian Ketua PBNU H Imam Aziz. Istilah ‘jilbab halal’ beserta sertifikat halal yang menyertainya bagus-bagus saja di Indonesia sebagai negara dengan mayoritas Islam. Hanya saja yang terbaik adalah edukasi halal itu sendiri, bukan sertifikatnya.

"Produk bersertifikat halal memang perlu, tapi yang lebih perlu dan penting itu edukasi halal, " ujar H Imam Aziz kepada Haedar Nashir, Ahad (7/2).

Ini Komentar Imam Aziz Soal Jilbab Halal dan Labelisasinya (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Komentar Imam Aziz Soal Jilbab Halal dan Labelisasinya (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Komentar Imam Aziz Soal Jilbab Halal dan Labelisasinya

Menurut Imam, halal dan haram itu bukan labelisasi tetapi pendidikan kepada masyarakat agar mereka memahami halal dan haram sebagaimana yang diajarkan Islam.

Haedar Nashir

"Selain itu, labelisasi itu berisiko karena setelah sebuah produk itu sudah dicap halal, jangan-jangan di tengah-tengah perjalanan produk tersebut sudah tidak halal lagi. Dikarenakan tidak setiap saat badan itu mengontrol produk yang telah dicap halal," jelas Imam.

Ia menambahkan, kalau edukasi itu berjalan dengan baik, sebuah produk itu akan halal li dzatih (Red. halal pada produk), maupun halal li ghairih (Red. halal pada pengguna)," pungkas Ketua PBNU tersebut. (Ahmad Rosyidi/Alhafiz K)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Cerita, Amalan Haedar Nashir

Selasa, 18 Februari 2014

Peserta Perwimanas II Lakukan Perawatan Pohon di Taman Nasional Gunung Merapi

Magelang, Haedar Nashir?

Para peserta Perwimanas II melakukan giat bakti perawatan pohon di Taman Nasional Gunung Merapi yang bertempat di Jurang Jero Magelang, Jawa Tengah.

Kegiatan penghijauan tersebut diawali dengan perawatan sejumlah pohon kecil seperti membersihkan gulma di sekitar pohon, menggemburkan tanah dan penyiraman air. Kemudian dilanjutkan dengan perbaikan aliran Sungai Tangsi.

Peserta Perwimanas II Lakukan Perawatan Pohon di Taman Nasional Gunung Merapi (Sumber Gambar : Nu Online)
Peserta Perwimanas II Lakukan Perawatan Pohon di Taman Nasional Gunung Merapi (Sumber Gambar : Nu Online)

Peserta Perwimanas II Lakukan Perawatan Pohon di Taman Nasional Gunung Merapi

Dedeh Suryati, salah satu panitia penanggung jawab giat bakti Perwimanas II menyampaikan bahwa pada awalnya akan dilakukan penanaman pohon, namun karena cuaca yang tidak mendukung, maka giat bakti terfokus pada pemeliharaan pohon-pohon di sekitar taman nasional.?

“Kegiatannya di sini perawatan pohon dan perbaikan aliran Sungai Tangsi, kita sebenarnya mengikuti perintah dari pihak taman nasional juga. Kalau untuk tanam pohon musimnya gak cocok,” ungkapnya, Rabu (20/9) kemarin.

Hal senada juga disampaikan oleh Sadria, salah satu pendamping dari garda SAR Magelang. “Kalau untuk tanam pohon cuacanya tidak mendukung karena tidak memasuki musim hujan. Musim hujan dimungkinkan di bulan November,” tambahnya.?

Haedar Nashir

Kegiatan ini diharapkan mampu meningkatkan rasa cinta alam dalam diri para peserta, sebagaimana yang tercantum dalam poin kedua Dasa Dharma Pramuka “Cinta alam dan kasih sayang sesama manusia”.?

“Harapan saya, dari kegiatan ini adik-adik bisa menghargai alam. Karena kalau alamnya rusak, manusia dan hewan akan terkena imbasnya. Selain itu, supaya mereka bisa menghargai warisan dari para pendahulu untuk selalu merawat alam” ungkap Dedeh.

Diketahui, kegiatan bakti perawatan pohon di Taman Nasional Gunung Merapi akan berlangsung hingga akhir kegiatan Perwimanas II dan diikuti oleh lebih dari 6000 peserta dari berbagai daerah di Indonesia. (Ala/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir

Haedar Nashir News, Anti Hoax Haedar Nashir

Selasa, 11 Februari 2014

Kiai Sahal Ikuti Jejak Dakwah Sunan Kalijaga

Yogyakarta, Haedar Nashir. Dalam jejak dakwahnya, KH MA Sahal Mahfudh telah mengikuti jejak dakwah Sunan Kalijaga yang menggunakan pendekatan 3M, yakni Momong, Momol, dan Momot. Momong artinya mengasuh, sedangkan momol bisa bergaul dengan semua level manusia. Adapun momot yaitu menampung aspirasi dari berbagai kelompok.

Demikian disampaikan oleh Dr H Wayono Abdul Ghafur dalam Diskusi dan Bedah Buku “Belajar dari Kiai Sahal” yang berlangsung di Convention Hall UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Senin (19/5).

Kiai Sahal Ikuti Jejak Dakwah Sunan Kalijaga (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Sahal Ikuti Jejak Dakwah Sunan Kalijaga (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Sahal Ikuti Jejak Dakwah Sunan Kalijaga

Menurutnya, dakwah yang dilakukan oleh Kiai Sahal merupakan dakwah dalam pengembangan masyarakat, yakni dengan membuat pelayanan sosial untuk kehidupan bermartabat. Hal ini tentu berbeda dengan dakwah yang dilakukan kiai pada umumnya, yakni ceramah. “Mbah Sahal itu kalau diundang ceramah nggak mau,” tegas Waryono.

Haedar Nashir

Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini menambahkan, bahwa apa yang diperjuangkan Kiai Sahal adalah tumbuhnya kemandirian umat demi kehidupan yang ideal, sehingga bisa bekerjasama dengan siapapun. “Beliau itu pemikir yang baik. Beliau juga kiai yang penggerak dan mampu membumikan fiqih dalam konteks sosial,” tandasnya.

Haedar Nashir

Dari sisi politik, Moch Nur Ichwan yang merupakan salah satu penulis dalam buku “Belajar dari Kiai Sahal” mengatakan bahwa Kiai Sahal merupakan sosok yang a-politis namun memiliki ketegasan sikap di dalam berpolitik itu sendiri. ?

Menurutnya, jika politik dalam tingkat rendah adalah bertujuan mendapatkan kekuasaan, maka Kiai Sahal telah mempraktekkan politik dalam tingkat tinggi, yakni politik yang bertujuan mewujudkan keadilan dan kemaslahatan umat.

Diskusi dan Bedah Buku ini juga menghadirkan Ulil Abshar Abdalla menjadi pembicara. Selain itu, H Abdul Ghaffar Rozin yang merupakan putra Kiai Sahal didaulat menjadi keynote speaker. Ketua PBNU M Imam Aziz juga turut hadir dalam acara ini. (Dwi Khoirotun Nisa’/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kajian, Anti Hoax, Olahraga Haedar Nashir

Senin, 03 Februari 2014

PMII UPI Kenalkan Aswaja kepada Anggota Baru

Bandung, Haedar Nashir. Sebanyak 31 mahasiswa mengikuti Masa Penerimaan Anggota Baru (Mapaba) Pengurus Rayon Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (FPIPS) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).

PMII UPI Kenalkan Aswaja kepada Anggota Baru (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII UPI Kenalkan Aswaja kepada Anggota Baru (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII UPI Kenalkan Aswaja kepada Anggota Baru

Mapaba bertajuk “Membentuk Kader PMII agar Tanggap terhadap Tantangan Global sesuai dengan Nilai-nilai Aswaja” tersebut berlangsung Jumat-Ahad (13-15/3), di kantor PWNU Jawa Barat di Jalan Terusan Galunggung No. 9, Kota Bandung, Jawa Barat.

Irfan Iskandar, ketua panitia Mapaba, menjelaskan bahwa tema Mapaba kali ini dimaksudkan untuk menanamkan keyakinan kepada peserta tentang PMII sebagai organisasi kemahasiswaan yang tepat untuk mengembangkan diri mahasiswa di era global, serta tanggap akan isu-isu sosial di lingkungan sekitar.

Haedar Nashir

“Menanamkan keyakinan bahwa PMII adalah organisasi mahasiswa Islam yang tepat untuk memperjuangkan idealisme, memiliki keyakinan bahwa apa yang diperjuangkan PMII adalah suara bangsa Indonesia, mengikuti Aswaja sebagai prinsip pemahaman, pengalaman, dan penghayatan Islam di Indonesia di era global,” jelas Irfan.

Haedar Nashir

Dia menekankan, Mapaba mampu menjadi media untuk mengembangkan serta membangun kesadaran, terutama tanggung sosial yang perlu disadari oleh mahasiswa. Adapun materi yang disajikan kepada para calon anggota baru meliputi Paradigma PMII, Mahasiswa dan Tanggung Jawab Sosial, Aswaja, Gender, Sejarah Kebangkitan Nasional, Nilai Dasar Pergerakan, Antropologi Kampus, Manajemen Aksi, dan Manajemen Organisasi.

Dalam kesempatan yang sama, Ridwan Hidayat, Sekretaris Pengurus Cabang PMII Kota Bandung mengatakan bahwa kaderisasi di kampus umum, apalagi negeri? memang lumayan sulit. Pengalamannya sebagai kader PMII UPI, bahwa kampus tempat dia studi terdapat kondisi dan kultur yang tidak mendukung bagi mahasiswa untuk mengikuti organisasi ekstra kampus.

“Secara potensi banyak, hanya saja (kendalanya) seperti itu, tuntutan kuliah dan akademis membuat kemauan organisasi cenderung melemah,” ungkap mahasiswa jurusan Pendidikan Islam UPI itu.

Melalui Mapaba ini, dia berharap akan tercipta anggota PMII yang siap menghadapi berbagai tantangan, baik di kampus, masyarakat, dan secara luas tantangan global. “Dan diharapkan anggota baru ini dapat mengimplementasikan nilai-nilai Aswaja sebagai landasan dalam pergerakan dan perjuangannya,” pungkasnya.? (Muhammad Zidni Nafi’/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Sholawat Haedar Nashir

Rabu, 29 Januari 2014

Ansor Padangpariaman Tingkatkan Kewaspadaan Terhadap Aksi Teror

Padangpariaman, Haedar Nashir

Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Padangpariaman mengecam tindakan pemboman yang terjadi di kawasan Sarinah, Thamrin, Jakarta Pusat, Kamis (14/1/2016). Apapun alasannya, tindakan pemboman yang menewaskan jiwa manusia adalah tindakan tidak berprikemanusiaan dan menodai kemuliaan jiwa dan agama.

Hal itu diungkapkan Ketua Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Padangpariaman Zeki Aliwardana, Jumat (15/1/2016), di Sekretariat PC GP Ansor Padangpariaman, Jl Raya Lubuk Alung-Pariaman, Kelok, Punggungkasiak. Menurut Zeki, aksi pemboman tersebut membuktikan adanya kelompok radikal yang ingin merongrong keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Ansor Padangpariaman Tingkatkan Kewaspadaan Terhadap Aksi Teror (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Padangpariaman Tingkatkan Kewaspadaan Terhadap Aksi Teror (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Padangpariaman Tingkatkan Kewaspadaan Terhadap Aksi Teror

"Menyikapi peristiwa ledakan bom tersebut, Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor Yaqut Cholil Qaumas sudah menyampaikan instruksinya kepada pengurus Ansor hingga ke tingkat Pimpinan Cabang agar meningkatkan kewaspadaan terhadap adanya tindakan aksi-aksi teror yang dilakukan oleh kelompok radikal. Meski ledakan bom terjadi di Jakarta, namun tidak tertutup kemungkinan terjadi pula di luar Jakarta. Selain itu, rekrutmen kelompok radikal ini bisa terjadi dimana saja di seluruh Indonesia," kata Zeki Aliwardana mengutip instruksi dari PP GP Ansor.

Dikatakan Zeki Aliwardana, terkait dengan himbauan dari PP GP Ansor tersebut, Ansor dan Banser Padangpariaman menginstruksikan kepada pengurus dan kadernya untuk meningkatkan kewaspadaan di tengah-tengah masyarakat. "Jika ada hal-hal yang mencurigakan, kita akan segera berkoordinasi dengan aparat keamanan," tutur Zeki didampingi Sekretarisnya Alva Anwar.

Haedar Nashir

Ledakan bom ini membuktikan, kata Zeki, kelompok radikal masih menjadi ancaman bagi bangsa Indonesia. Ansor yang selalu menyerukan Islam rahmatan lilalamin jelas mengutuk aksi ledakan bom ini. Apapun alasannya, aksi pemboman ini harus diusut tuntas oleh aparat keamanan.?

Menurutnya, di Kabupaten Padangpariaman sendiri memang sudah ada Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) ? yang sudah tersebar dari Aceh hingga Papua. Gafatar dinyatakan sesat karena anggotanya tidak wajib shalat lima waktu, tidak wajib puasa Ramadhan, syahadat mereka berbeda, yang bukan kelompok mereka dianggap kafir.

Haedar Nashir

"Kelompok ini menjalankan aksinya dengan program sosial kemasyarakatan. Selanjutnya anggota yang direkrut mulai diarahkan sesuai dengan misi dan visi organisasi ini. Untuk itu, Ansor ? Padangpariaman menghimbau masyarakat agar selalu waspada terhadap adanya kelompok/komunitas atau organisasi yang muncul di tengah masyarakatnya. Apakah organisasi tersebut legal, tidak dilarang, bukan sesat, atau tidak sesuai dengan tradisi dan keyakinan yang sudah lama hidup di masyarakat tersebut," kata Zeki, mantan Sekretaris Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota Pariaman ini menambahkan. (Armaidi Tanjung/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Budaya, Hikmah, Fragmen Haedar Nashir

Selasa, 07 Januari 2014

Dahlan Iskan: Jadi Santri Tak Perlu Minder, Saya Juga Santri

Jember, Haedar Nashir. Santri tidak perlu berkecil hati dalam menghadapi persiangan di luar. Sebab, santri mempunyai potensi untuk maju asal ada kemauan. Demikian dikemukakan Dahlan Iskan dalam acara silaturrahmi dengan para santri dan kiai di pondok pesantren Nuris, Antirogo, Jember, Jawa Timur.

Menurutnya, predikat santri justru harus dijadikan pendorong untuk menuai sukses dalam setiap usahanya. “Saya dulu juga santri. Pendidikan saya juga ditempuh di lembaga (pendidikan) agama,” ujarnya pada acara yang berlangsung Ahad (20/7) itu.

Dahlan Iskan: Jadi Santri Tak Perlu Minder, Saya Juga Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
Dahlan Iskan: Jadi Santri Tak Perlu Minder, Saya Juga Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

Dahlan Iskan: Jadi Santri Tak Perlu Minder, Saya Juga Santri

Dahlan memberikan testimoni bahwa santri juga bisa berbuat banyak. Ia mencontohkan dirinya yang merintis usaha di bidang media mulai dari nol. Ketika dirinya diminta mengelola sebuah koran lokal (cikal bakal Jawa Pos), banyak yang mencibir dan meremehkan kemampuannya.

Haedar Nashir

“Banyak yang bilang, bisa apa orang seperti saya, yang hanya lulusan pendidikan agama,? ? bisa apa. Tapi dari cibiran itu, justru saya kian bersemangat. Ruh jihad saya muncul untuk membuktikan bahwa saya juga bisa,” cerita alumni sebuah pesantren di Magetan tersebut.

Haedar Nashir

Akhirnya, seperti diketahui, Dahlan berhasil memimpin Jawa Pos, dan tahun-tahun berikutnya terus berkembang menjadi bisnis media cetak dan elektronik yang menjanjikan.

Dalam kesempatan itu, Meneg BUMN tersebut juga menyinggung soal Pilpres. Menurutnya, yang terbaik bagi bangsa Indonesia pasca Pilpres ini adalah melakukan rekonsiliasi. “Jadi rekonsiliasi adalah syarat mutlak untuk membangun bangsa kedepan yang lebih baik lagi,” harapnya.

Kehadiran Dahlan di pondok pesantren asuhan KH Muhyiddin Abdusshomad itu, disambut antusias oleh segenap santri, para kiai dan para pengurus NU. (Aryudi Arazaq/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Habib, Sholawat Haedar Nashir