Kamis, 01 September 2016

LPBINU Libatkan Lembaga NU Lainnya soal Penanggulangan Bencana

Jakarta, Haedar Nashir. Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBINU) bekerjasama dengan Pemerintah Australia (DFAT) dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) akan melaksanakan program “Penguatan Kapasitas Pemerintah dan Masyarakat Daerah/Lokal dalam Kesiapsiagaan untuk Respon Bencana yang Cepat, Tepat dan Efektif”. LPBINU akan melibatkan banom dan lembaga NU lain yang responsif dan berkemampuan dalam penanggulangan bencana.

Demikian disampaikan Ketua LPBINU M. Ali Yusuf kepada wartawan setelah peluncuran program tersebut di Gedung PBNU Lantai 5, Jalan Kramat Raya Jakarta Pusat, Selasa (14/6) sore.

LPBINU Libatkan Lembaga NU Lainnya soal Penanggulangan Bencana (Sumber Gambar : Nu Online)
LPBINU Libatkan Lembaga NU Lainnya soal Penanggulangan Bencana (Sumber Gambar : Nu Online)

LPBINU Libatkan Lembaga NU Lainnya soal Penanggulangan Bencana

(Baca:? Gandeng Australia, LPBINU Tingkatkan Kapasitas Tanggap Bencana)

Ali menambahkan, program tersebut diwujudkan dalam beberapa kegiatan; yaitu pengembangan kapasitas, pengkajian risiko bencana, pengembangan sistem kesiapsiagaan bencana termasuk sistem peringatan dini dan mekanisme tanggap darurat bencana.?

Penguatan kapasitas dalam program dilaksanakan dengan melibatkan para pemangku kepentingan, yakni Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan instansi pemerintah terkait, Palang Merah Indonesia, tokoh masyarakat, perguruan tinggi, media lokal, lembaga usaha dan LSM di daerah target program.?

Haedar Nashir

“Selain itu, program juga mendorong untuk memaksimalkan fungsi Pusat Pengendalian dan Operasi (Pusdalops) yang sudah dimiliki oleh BPBD, terutama di tingkat provinsi sebagai sentral informasi, koordinasi khususnya operasi tanggap darurat bencana,” ujar Ali Yusuf.

Program dilaksanakan selama dua tahun (Mei 2016-Mei 2018) di empat kabupaten, yaitu di Barru dan Wajo (Sulawesi Selatan), dan Jepara dan Kudus (Jawa Tengah). Empat kabupaten tersebut termasuk daerah rawan bencana terutama banjir.

Haedar Nashir

Manajemen program terdiri dari SC (Steering Committee) dan Tim Pelaksana. SC di tingkat nasional berasal dari BNPB, PBNU, DFAT dan LPBI NU. Sedangkan di daerah, SC terdiri dari BPBD Provinsi dan BPBD Kabupaten.

Pelaksana program ini adalah Tim yang direkrut dan dibentuk oleh LPBI NU. Tim Pelaksana terbagi menjadi dua; Tim Pusat yang berada di Jakarta, dan Tim Lokal yang berada di daerah program.?

Adapun tahapan program adalah sebagai berikut: Pada tahun pertama, program akan fokus pada: konsolidasi program, peningkatan koordinasi stakeholder dalam PB-PRB, peningkatan kapasitas stakeholder dan penyusunan kajian risiko bencana. Pada tahun kedua berfokus pada: penyusunan sistem kesiapsiagaan dan mekanisme respon bencana serta uji sistem dan mekanisme melalui gladi posko dan gladi lapang. Selain itu, pada semester kedua tahun kedua program juga akan dilakukan penyiapan exit strategy dan keberlanjutan program.

Seluruh pelaksanaan program akan menggunakan prinsip-prinsip berikut: Pertama, berperspektif gender, di mana seluruh program, mulai dari input, proses hingga output akan mempertimbangkan aspek pengarusutamaan gender. Kedua, transparan dan akuntabel, artinya prinsip-prinsip manajemen yang transparan dan akuntabel akan diterapkan dalam pelaksanaan program.?

Ketiga, well organized, menekankan komunikasi dan koordinasi yang baik antara Tim LPBINU baik yang ada di pusat maupun di daerah target program. Keempat, tidak diskriminatif, bahwa program dirancang tidak berdasarkan kepentingan agama, ras, kelompok tertentu, jenis kelamin tertentu, tetapi terbuka untuk partisipasi semua pihak, terutama dan termasuk kelompok yang rentan bencana. (Kendi Setiawan/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Amalan, Daerah, Kajian Haedar Nashir

Jumat, 26 Agustus 2016

PBNU: Kinerja KPK Pakai “Mikroskop”

Jakarta, Haedar Nashir. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi menyindir Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang kinerjanya menggunakan “mikroskop”. Karena, menurutnya, hanya kasus-kasus korupsi bersifat kecil yang hanya ditangani lembaga tersebut, sementara kasus korupsi besar hampir tak tersentuh hukum.

“Jadi, ibaratnya, kalau pakai mikroskop, gajah yang besar itu nggak kelihatan. Nah, yang kelihatan itu hanya kutu-kutu yang ada di tubuh gajah itu,” kata Hasyim di Kantor PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta, Selasa (19/6). Ia mengatakan hal itu kepada wartawan usai diperiksa KPK terkait pengakuannya yang juga turut menerima dana non-budgetter Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP).

PBNU: Kinerja KPK Pakai “Mikroskop” (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU: Kinerja KPK Pakai “Mikroskop” (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU: Kinerja KPK Pakai “Mikroskop”

Sebelumnya, Hasyim yang juga mantan calon wakil presiden pada Pilpres 2004 lalu, mengaku mendapat amplop yang berisi uang sebesar Rp 10 juta dari mantan Menteri Kelautan dan Perikanan Rokhmin Dahuri.

Menurut Hasyim, pemeriksaan oleh KPK terhadap dirinya terkait dana yang dinilai hasil korupsi tersebut merupakan bukti bahwa upaya pemberantasan korupsi di negeri ini hanya berlaku bagi kasus-kasus yang kecil. Sedangkan, kasus-kasus korupsi berikut para koruptornya yang telah merugikan negara triliunan rupiah masih bebas berkeliaran.

Kepada wartawan, ia mengaku heran atas pemeriksaan dirinya oleh KPK. Padahal, katanya, uang yang diterimanya merupakan uang halal dan sama sekali tidak ada kaitannya dengan dana non-budgetter DKP yang dipermasalahkan tersebut.

Haedar Nashir

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Hikam, Malang, Jawa Timar, itu, menyebut keberadaan KPK sebagai “bagian dari kekuasaan, bukan bagian dari penegakan hukum dan keadilan.”. Deretan para koruptor yang telah ditangkap dan koruptor yang masih bebas berkeliaran, menunjukkan bahwa KPK tak bersungguh-sungguh memberantas penyakit bangsa tersebut.

Jika hal itu terus dilakukan, tambahnya, bukan tidak mungkin upaya pemberantasan korupsi akan berjalan di tempat dan tak ada perubahan berarti bagi cita-cita mewujudkan pemerintahan yang bersih dan berwibawa. Selain itu, pemberantasan korupsi yang masih terkesan tebang pilih, pasti akan akan menimbulkan dendam di kemudian hari saat berganti rejim.

Karena itu, katanya, jika pemerintah memiliki niat yang sungguh-sungguh, maka harus ada perumusan kembali secara utuh dan menyeluruh terhadap upaya pemberantasan korupsi. Ia menilai, pemberantasan korupsi yang dilakukan saat ini telah melenceng dari gagasan idealnya, sebagaimana pernah dicanangkan NU dan Muhammadiyah.

Haedar Nashir

Pemberantasan korupsi, jelas mantan Ketua Pengurus Wilayah NU Jatim itu, harus melalui syarat dan tahap-tahap tertentu, tidak seperti sekarang yang terkesan sporadis atau tidak sistematis.

“Tahapannya, peningkatan gaji pegawai negeri, penataan dan pendisipilan birokrasi, pembenahan perangkat hukum, konsensus nasional, dan harus dipimpin langsung oleh Presiden. Nah, setelah semua itu terpenuhi, barulah dilakukan pemberantasan kuropsi secara menyeluruh dan represif,” terang Hasyim. (rif)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kiai, Ulama, IMNU Haedar Nashir

Sabtu, 20 Agustus 2016

"Pak Presiden, Tolong Perhatikan Kesejahteraan Guru!"

Subang, Haedar Nashir. Presiden Joko Widodo diminta mempermudah aturan terkait dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS), karena akibat aturan itu sudah enam bulan pihak madrasah merasa direpotkan dalam menanggung biaya operasional madrasah.

"Menurut informasi ada aturan baru dari Menteri Keuangan yang mengubah pola pencairan dana BOS dan itu mengakibatkan dari bulan Januari sampai sekarang madrasah di berbagai daerah belum menerima dana BOS, makanya kalau memang Presiden peduli dengan pendidikan, tolong perhatikan ini," ungkap Ahmad Rifqi, salah seorang operator madrasah di Subang, Kamis (25/6)

Pak Presiden, Tolong Perhatikan Kesejahteraan Guru! (Sumber Gambar : Nu Online)
Pak Presiden, Tolong Perhatikan Kesejahteraan Guru! (Sumber Gambar : Nu Online)

"Pak Presiden, Tolong Perhatikan Kesejahteraan Guru!"

Madrasah di Subang, lanjut dia, semuanya merasa kerepotan karena harus menutupi biaya operasional madrasah sejak bulan Januari sampai sekarang, padahal menurutnya dalam membiayai kebutuhan madrasah rata-rata mengandalkan dana BOS.

Haedar Nashir

"Mungkin hanya guru saja yang sabar dalam menjalani pekerjaan, bayangkan saja sudah enam bulan mereka belum digaji tapi tetap istiqamah, kalau yang lain mungkin udah demo dan tiap hari masuk TV terus, guru mah enggak," tambahnya

Haedar Nashir

Ia pun berseloroh, guru dituntut mencetak generasi yang cerdas dan berakhlak mulia, tapi tuntutan itu tak sesuai dengan imbalan yang didapatkannya dan hal sebaliknya terjadi pada kehidupan artis karena anak-anak cenderung mengikuti ajaran artis yang ada dalam sekolah film.

Aturan sekarang, kata dia, laporan dulu baru bisa cair. Kalau dulu tidak, cair dulu baru laporan, dan itu pun gak serumit seperti pembuatan laporan sekarang

"Sekali lagi, Pak Presiden tolong perhatikan pendidikan, perhatikan kesejahteraan guru, karena ini baru BOS ya, belum lagi ada aturan lain yang membuat guru kehilangan tunjangan sertifikasinya," tegasnya.

Sementara itu, A. Sukandar selaku Kepala Kemenag Kabupaten Subang membenarkan perihal molornya pencairan dana BOS ini, ia mengungkapkan ada perubahan pola pencairan.

"Karena ada perubahan akun dari 57 (bansos) ke 52 (kegiatan)," katanya melalui pesan singkat.

Pejabat asal Sukabumi ini pun mengetahui persis kegelisahan yang dialami oleh para guru karena ia juga adalah Ketua Yayasan yang mengelola lembaga pendidikan formal sehingga punya tanggung jawab dalam memperhatikan honorarium guru. (Aiz Luthfi/Mahbib)

 

Foto: ilustrasi

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kyai, Nahdlatul Haedar Nashir

Selasa, 16 Agustus 2016

Sarbumusi Desak Penghapusan UU Pasal Buruh Kontrak

Jakarta, Haedar Nashir. Sarbumusi, Sarikat Buruh Muslimin Indonesia, badan otonom perburuan di bawah naungan NU, mendesak Kemenakertrans untuk segera merevisi undang-undang ketenagakerjaan, UU nomor 13 tahun 2003. Revisi ini penting untuk menentukan kepastian nasib terutama tenaga kerja kontrak.

"Undang-undang tersebut dinilai belum mengatur penerapan sistem penggunaan tenaga kerja oleh perusahaan, bagaimana sistem kerja kontrak, dan outsourching. Sementara kerja kontrak semakin marak setelah krisis ekonomi dunia tahun 2008," demikian dalam rilis pers yang diterima Haedar Nashir, Ahad (30/9).

Sarbumusi Desak Penghapusan UU Pasal Buruh Kontrak (Sumber Gambar : Nu Online)
Sarbumusi Desak Penghapusan UU Pasal Buruh Kontrak (Sumber Gambar : Nu Online)

Sarbumusi Desak Penghapusan UU Pasal Buruh Kontrak

Karena belum adanya aturan jelas, tenaga kerja kontrak mengalami keresahan yang terkait dengan jaminan kesejahteraan dan kelayakan hidup.

Haedar Nashir

Tenaga kerja kontrak sering menjadi korban. Pihak perusahaan tempat mereka bekerja dan pihak perusahaan penyalur saling melempar tanggung jawab perihal kesejahteraan, kesehatan, keamanan, dan jaminan hidup ketenagakerjaannya.

Selain itu, UU di atas belum memihak buruh kontrak terkait pemotongan gaji oleh pihak perusahaan penyalur mereka. Atas nama administrasi dan kerjasama, pihak perusahaan penyalur memangkas hak buruh kontrak.

Haedar Nashir

Sarbumusi mengusung gagasan bahwa yang dikontrak hanya jenis pekerjaan, bukan tenaganya. Dengan logika ini, tenaga kerja kontrak memiliki hak dan jaminan seperti yang dimiliki tenaga kerja tetap.

Atas dasar pertimbangan tersebut, Sarbumusi membuat sejumlah pernyataan sikap. Sarbumusi mendukung revisi UU nomor 13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan dengan mengawal seluruh proses revisi agar sesuai dengan kepentingan buruh.

Sarbumusi menolak hasil kajian LIPI atas UU tersebut karena substansi kajian itu banyak merugikan kepentingan buruh. Terakhir, Sarbumusi mendesak DPR dan Pemerintah untuk menghapus pasal terkait tenaga kontrak dalam revisi UU nomor 13 tahun 2003.

Redaktur: A. Khoirul Anam

Penulis   : Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Humor Islam Haedar Nashir

Sabtu, 13 Agustus 2016

Terpilih Secara Aklamasi, Farid Afif Pimpin GP Ansor Surabaya

Surabaya, Haedar Nashir. Muhammad Farid Afif terpilih sebagai Ketua Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Surabaya periode 2017-2021 pada Konferensi Cabang (Konfercab) ke-XVIII di Gedung Hoofdbestuur PCNU Surabaya, Ahad (7/5).?

Sidang pemilihan dipimpin pengurus Pimpinan Pusat GP Ansor, Sofiwi Haris Makmun dan Affan Asirozi. Sebanyak 22 Pimpinan Anak Cabang dari 31 Anak Cabang dan 92 Pimpinan Anak Ranting GP Ansor se-Kota Surabaya hadir dalam Konfercab.?

Dalam persidangan yang relatif singkat itu, pimpinan sidang menawarkan mekanisme pemilihan ketua secara aklamasi atau musyawarah mufakat. Usulan tersebut kemudian disetuji oleh semua peserta sidang.?

Terpilih Secara Aklamasi, Farid Afif Pimpin GP Ansor Surabaya (Sumber Gambar : Nu Online)
Terpilih Secara Aklamasi, Farid Afif Pimpin GP Ansor Surabaya (Sumber Gambar : Nu Online)

Terpilih Secara Aklamasi, Farid Afif Pimpin GP Ansor Surabaya

Usai pemilihan, Aris Yusuf Ketua GP Ansor Anak Cabang Kecamatan Karanpilang Kota Surabaya ? menjelaskan, dari hasil musyawarah yang yang begitu singkat para Ketua Ancab GP Ansor Surabaya memilih sahabat Farid Afif sebagai ketua PW GP Ansor Kota Surabaya.

? "Walaupun musyawarah begitu singkat, tapi kami yakin musyawarah memilih sahabat Afif tersebut sudah tepat," ungkapnya di Surabaya, Senin (8/5).

Muhammad Farid Afif Ketua GP Ansor Surabaya yang baru terpilih mengucapkan rasa terima kasih atas amanah yang telah diberikan kepadanya untuk memimpin GP Ansor Surabaya. Namun, menurutnya amanah tersebut tidak ringan, oleh karena itu dirinya mengajak para sahabat GP Ansor Kota Surabaya untuk bersama-sama mengemban amanah tersebut.?

Haedar Nashir

"Kedepan, tantangan GP Ansor tidaklah ringan, apalagi di tengah wilayah perkotaan seperti Surabaya, oleh karena itu kami akan berusaha bersama-sama akan meningkatkan konsolidasi dan membuat beberapa program,” ujar Afif. ?

Afif berharap kepada tim formatur agar dapat memilih pengurus periode 2017-2021 yang siap bekerja. "Saya ingin, tim formatur itu memilih pengurus cabang yang siap bekerja dan siap bekerja sama untuk priode kedepan, saya akan berusaha menyatukan tangan sahabat semua Ansor, untuk bersama-sama melangkah dalam menjaga amanah para ulama dan anggota Ansor, " pungkasnya. (Red.Zunus)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Humor Islam, Meme Islam Haedar Nashir

Senin, 08 Agustus 2016

Gus Yusuf: Islam Gus Dur Tidak Boros Takbir

Jakarta, Haedar Nashir. Dalam perjuangannya membumikan Islam selama hidupnya, memanusiakan masyarakat, menegakkan keadilan hukum, kesejahteraan, demokratisasi dan pluralism di Indonesia, yang pantang menyerah diibaratkan Gus Yusuf (Magelang Jateng) sebagai perwujudan Islam yang tidak boros takbir atau terlalu sering mengucapkan Allahu Akbar.

“Kalau di kampus-kampus dan kota-kota di Indoensia makin marak dengan kumandang takbir dalam menjalankan ajaran agama, tapi tidak demikian dengan Gus Dur. Karena bagi santri itu sehari-semalam cukup lima kali takbir. Sebab, kalau sering disebut was-was, peragu dan itulah yang dekat dengan syetan,”tandas Gus Yusuf dalam acara haul Gus Dur di Ciganjur, Jakarta Selatan, Kamis (30/12) malam.

Gus Yusuf: Islam Gus Dur Tidak Boros Takbir (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Yusuf: Islam Gus Dur Tidak Boros Takbir (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Yusuf: Islam Gus Dur Tidak Boros Takbir

Yang jelas kata Gus Yusuf, Gus Dur itu merupakan inspirasi bagi bangsa ini yang menempatkan sama antara satu dengan golongan masyarakat yang lain. Sehingga Gus Dur dan NU pun bisa diterima di mana-mana dan kapan saja. Sebagaimana keikhlasan dan ketulusannya dalam mengabdi kepada masyarakat, maka dalam kondisi sakit parah pun beliau masih sempat mengucapkan ‘Selamat Natal’ kepada teman-temannya

Haedar Nashir

Untuk itulah lanjut Gus Yusuf, kehadiran kita dalam haul ini sebegai generasi muda adalah sebagai komitmen untuk melanjutkan perjuangan Gus Dur, menegakkan niat dan meluruskan perjuangan. Dan, yang paling penting adalah sebagai ta’dzim, hormat kita kepad guru dan orangtua, yang kini mulai pudar di negeri ini.

Haedar Nashir

Apa artinya symbol-simbol agama yang megah dan mewah, jika kondisi masyarakatnya terpecah-belah dan memprihatinkan. Gus  Dur kata Gus Yusuf, Selalu menceritakan ketika di Pesantren Tegalrejo, Magelang asuhan KH Khudori. Dalam cerita itu terjadi tarik-menarik kepentingan masyarakat antara mendirikan masjid dan membeli gamelan.

“Mengingat tanpa masjid pun umat Islam bisa beribadah, sedangkan mereka juga perlu hiburan, maka KH Khudori memilih uang desa itu digunakan untuk membeli gamelan. Toh dengan kebersamaan, masjid pasti akan terbangun. Sedangkan gamelan bekas itu tidak mesti selalu ada, apalagi dengan harga murah,”katanya menirukan cerita Gus Dur.

Cerita lain lanjut Gus Yusuf,  sewaktu ingin makan ikan, Gus Dur mengajak keempat temannya untuk mengambil di kolam ikan pesantren miliki KH Khudori. Ketika malam itu ikannya sudah banyak dalam ember, KH Khudori keluar menggunakan sandal (bakiak). Mendengar itu Gus Dur menyuruh teman-temannya lari meninggalkan kolam ikan. Sedangkan Gus Dur duduk di samping ikan dalam ember tersebut.

Karuan saja ketika kepergok KH Khudori, beliau menanyakan,”Lagi ngapain Durrahman?”  Kata  Gus Dur, “Ini kiai, lagi menyelamatkan ikan yang mau diambil, tadi orangnya berlarian.” “Ya, sudah kamu goring saja?” jawab KH Khudori. Akhirnya Gus Dur kembali masuk kamar pesantren dan memanggil teman-temannya tadi. Teman-temannya pun menolak dituduh sebagai pencuri, karena semua itu atas inisiatif Gus Dur.

Lalu Gus Dur mengatakan, “Kamu kan tadi ingin ikan dan sekarang sudah ada ikannya, halal lagi. Jadi, ayo kita goreng.” Maka digorenglah semua ikan emas dalam ember tersebut. Artinya, seluruh liku-liku, hiruk-pikuk, pahit getirnya perjuangan Gus Dur selama ini adalah dilalui dengan jalan yang benar, halal dan untuk kepentingan rakyat, bangsa dan Negara. Oleh sebab itu, kita semua harus meneladani dan melanjutkan perjuangannya.(amf)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Tegal Haedar Nashir

Minggu, 07 Agustus 2016

Peringati Resolusi Jihad, Banser Kediri Unjuk Gigi

Kediri, Haedar Nashir. Hujan yang mengguyur kota Pare, Kediri, Selasa (13/11) tidak menyurutkan semangat ribuan Banser (Barisan Ansor Serbaguna) Kabupaten Kediri untuk menggelar Apel dalam rangka memperingati Resolusi Jihad NU dan Peringatan Tahun Baru Hijriyah.

Peringati Resolusi Jihad, Banser Kediri Unjuk Gigi (Sumber Gambar : Nu Online)
Peringati Resolusi Jihad, Banser Kediri Unjuk Gigi (Sumber Gambar : Nu Online)

Peringati Resolusi Jihad, Banser Kediri Unjuk Gigi

Bertempat di halaman masjid Jami’ An-Nur, Pare Kediri, ribuan Banser tumpleg bleg di arena itu. Bertindak selaku Inspektur Upacara adalah Kepala Satkorwil Banser Jawa Timur  H Imam Kusnin Ahmad SH.

Meski dalam kondisi hujan acara apel berjalan lancar tidak ada satu pasukanpun yang bergeser dari barisan. Mereka tetap antusias mendengarkan pidato arahan dari Komadan Banser Jatim tersebut.

Haedar Nashir

“Hujan tidak akan menyurutkan semangat anggota Banser dalam apel ini. Apalagi hujan. Darah dan nyawapun akan dikorbankan oleh Banser untuk memperrtahankan ajaran Islam Ahlussunah Waljamaah ala NU dan tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini,’’ ujar Kang Kusnin membakar semangat anggota Banser dan Ansor yang hadir pada saat itu, yang disambut dengan pekikan Allahu Akbar bebera pakali dari para peserta yang hadir.

Menurutnya, kalau dibanding dengan perjuangan para pahlawan dan pendahulu, tidak sebanding sama sekali. Para pahlawan dan suahada’ taruhannya jiwa dan raga  untuk merebut dan mempertahankan kemerdekaan negara ini. “ Para pahlawan tidak perfikir saya akan mendapat apa dalam perjuangan ini. Prinsipnya bagaimana negeri ini terbebas dari penjajahan yang nota bene simbul keangkara murkaan,’’ terang Kang Kusnin.

Haedar Nashir

Maka sangat tepat bila, kader-kader muda NU memperingati resolusi Jihad NU yang tercetus pada 22 Oktober 1945 itu. Karena dengan adanya resolusi Jihad menjiwai semanat umat Islam untuk mepertahankan  Kemerdekaan Indonesia, yang saat ini kita kenal dengan peringatan hari Pahlawan 10 November itu.

“Jadi NU selalu setia kepada NKRI begitu pula dengan Ansor dan Banser-nya. Mengapa, karena NU dan Ansor ibarat sebuah perusahaan, organisasi ini memiliki saham yang sah di negara ini. Sehingga apa bila ada piahk-pihak yang ingin memporandakan negara ini. NU dan Banser akan membela mati-matian. Dan saat ini upaya-upaya itu nampaknya sudah mulai terjadi,’’ tegas dia.

Untuk itu, ia minta seluruh anggota Banser  harus merapatkan barisan, persatu padu untuk mepertahankan NKRI dari upaya perpecahan. “ Sebagai kader bangsa kita berkewajiban mempertahankan negeri ini dari segala bentuk ancaman. Baik dari dalam maupun dari luar,’’ kilahnya.

Selain itu, Kang Kusnin juga meminta para anggota Banser untuk lebih profesional dalam menjalankan tugasnya. Agar bias melaksanakan tanggung jawabnya. Yakni , pertama menjaga, memelihara dan menjamin kelangsungan hidup serta kejayaan Gerakan Pemuda Ansor dan NU.

Kedua,berpartisipasi aktif melakukan pengamanan dan ketertiban terhadap kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan oleh Banser, Gerakan Pemuda Ansor, NU serta kegiatan sosial kemasyarakatan lainnya yang tidak bertentangan dengan perjuangan NU.

Ketiga, bersama dengan kekuatan bangsa yang lain untuk tetap menjaga dan menjamin keutuhan bangsa dari segala ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan dalam ikut menciptakan keutuhan NKRI.

Usai apel, acara dilanjutkan atraksi kekebalan tubuh dari satuan Densus 99 Banser Kabupaten Kediri dan kemampuan anggota Bagana ( Banser Tanggap Bencana) dalam memberikan pertolongan kepada para korban letusan gunung Kelud. “ Apel ini kami selenggarakan dalam rangka memperingati resolusi jihad NU dan sekaligus untuk peringatan tahun Islam,’’ ujar Agus Tariadi Ketua PC Ansor Kab. Kediri.

Selain apel, hari ini akan diselenggarakan oleh panitia gaungan dari PCNU dan banomnya. Diantaranya pawai ta’aruf, pengajian akbar dan malam bersholawat yang menghadirkan 5 ribu anggota Ishari (Ikatan Seni Hadrah Republik Indonesia) milik NU. “Yang akan memberikan ceramah adalah Ketua Umum PBNU KH Said Aqiel Siradj. Acara akan berlangsung di Stadion Canda Bhirawa Pare,” katanya. (Red:Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Sholawat, Khutbah, Tokoh Haedar Nashir