Jumat, 20 Januari 2017

Perbedaan Makna Lebaran Kiai Jebul dan Kang Suyar

Oleh Kifayatul Akhyar

Di suatu mimbar ceramah Kiai Jebul menggebu-ngebu menjelaskan makna lebaran. Lebaran secara etimologi Jawa menurut penjelasannya mengandung empat maksud yaitu lebar-lebur-luber-labur.

Lebar artinya “kita akan bisa lebaran dari kemaksiatan dan lebur berarti lebur dari dosa, sedangkan luber artinya luber dari pahala dari Tuhan, luber dari keberkahan, luber dari rahmat Allah SWT.”

Perbedaan Makna Lebaran Kiai Jebul dan Kang Suyar (Sumber Gambar : Nu Online)
Perbedaan Makna Lebaran Kiai Jebul dan Kang Suyar (Sumber Gambar : Nu Online)

Perbedaan Makna Lebaran Kiai Jebul dan Kang Suyar

Sedangkan labur artinya “bersih sebab bagi orang yang benar-benar melaksanakan ibadah puasa, maka hati kita akan dilabur menjadi putih bersih tanpa dosa, makanya wajar saat mau lebaran rumah-rumah banyak yang dilabur (dicat), hal itu mengandung arti pembersihan jiwa juga pembersihan raga yang telah dilakukan.”

Haedar Nashir

Hari raya Idul Fitri, menurut Kiai Jebul, adalah puncak dari ibadah puasa, karena Idul Fitri mempunyai keterkaitan dengan tujuan berpuasa, yaitu menjadi manusia yang bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Kata “Id” secara bahasa Arab berasal dari akar kata ‘âda–ya‘ûdu artinya kembali. Sedangkan? “Fitri” berasal dari kata afthara–yufthiru–ifthar, dan itu bisa bisa berarti buka puasa atau makan dan bisa diartikan suci.

Haedar Nashir

Lalu kata “Fitri” berasal dari kata fathara–yafthiru yang berarti suci, bersih dari segala dosa, kesalahan, kejelekan dan keburukan. Maka dari itu, menurut Kiai Jebul, bisa diambil simpulan bahwa Idul Fitri bisa diartikan kembalinya manusia ke dalam keadaan suci, atau keterbebasan dari segala dosa dan noda sehingga berada dalam kesucian (fitrah).

Tetapi, bagi Kang Suyar, penjelasan panjang lebar Kiai Jebul mengenai Lebaran dan Idul Fitri tersebut tidaklah begitu pas dengan dirinya, bahkan sangat-sangat tidak pas.

Kang Suyar yang hanya orang desa, pekerjaannya hanya sebagai "tukang nderes" (penyadap nira kelapa) dan buruh tani serabutan, sembahyangnya hanya "rubuh-rubuh gedang" (pepatah Jawa untuk menggambarkan shalat sebisanya), tidak pernah mondok ataupun mendalami ilmu agama, ngajinya hanya di surau saat kecil dulu, dan membaca Al-Quran pun tidak begitu lancar.

Kang Suyar memiliki seorang istri dan empat anak, semuanya masih sekolah. Yang bungsu kelas dua SMP. Yang ragil masih TK. Pekerjaannya sebagai penyadap nira kelapa hanya cukup untuk makan hari itu juga, tidak lebih tidak kurang. Biaya sekolah anak-anaknya juga masih banyak nunggak beberapa bulan, apalagi sampai mikir makna lebaran yang Kiai Jebul jelaskan.

Belum lagi musim lebaran seperti ini, walaupun menurutnya bukan hal wajib, tetapi Kang Suyar "nelangsa" (nangis batin) jika istri dan anaknya tidak makan ikan serta melihatnya tidak pakai baju baru saat hari lebaran nanti.

Maka dari itu, mendengar ceramah Kiai Jebul tersebut Kang Suyar hanya manggut-manggut sambil terkantuk-kantuk, karena semua yang dijelaskan Kiai Jebul walaupun itu benar tapi sangat tidak pas dengan kondisi dirinya.

Makna lebaran menurut Kang Suyar yang pas hanya makan ikan dan baju baru, itu saja, tidak lebih, tidak kurang.

*) Penulis tinggal di BanyumasDari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Sejarah Haedar Nashir

Menaker: Peranan Tripartit Menentukan Hubungan Industrial yang Harmonis

Jakarta, Haedar Nashir

Menteri Ketenagakerjaan M. Hanif Dakhiri menegaskan kunci keberhasilan menghadapi persoalan dan tantangan ketenagakerjaan salah satunya ditentukan oleh sejauhmana peran stakeholder (Pemerintah, pengusaha dan pekerja) dalam membangun hubungan industrial yang harmonis, dinamis dan berkeadilan.?

Menurut Menaker permasalahan ketenagakerjaan yang menjadi persoalan krusial di dunia saat ini, khususnya di Indonesia, tidak dapat dilihat secara parsial. Semua aspek yang tercakup dalam bidang ketenagakerjaan, mempunyai kaitan satu sama lain, mulai dari aspek perencanaan, pelatihan, penempatan, pelaksanaan hubungan industrial sampai tingkat pengawasannya.

Menaker: Peranan Tripartit Menentukan Hubungan Industrial yang Harmonis (Sumber Gambar : Nu Online)
Menaker: Peranan Tripartit Menentukan Hubungan Industrial yang Harmonis (Sumber Gambar : Nu Online)

Menaker: Peranan Tripartit Menentukan Hubungan Industrial yang Harmonis

"Kami berharap gerakan Serikat Pekerja/Serikat Buruh kedepan dapat menjadi partner utama pemerintah dan pengusaha dalam pembangunan," kata Menaker Hanif saat membuka acara THE 5th UNI APRO COMMERCE AND FINANCE JOIN CONFRENCE di Jakarta, Selasa (21/11).?



Haedar Nashir



Turut hadir Director ICTS and ASEAN Activities UNI Apro Yoko Ogawa; Presiden ASPEK Indonesia Mirah Sumirat; Deputy General Secretary UNI Global Union Christy Hoffman; President UNI Apro Commerce Ian Blandthorn; Regional Secretary UNI Apro Christopher Ng.

Ditambahkan Menaker, jumlah Serikat Pekerja/Serikat Buruh di Indonesia saat ini tercatat sebanyak 7.294 SP/SB dengan jumlah pekerja/buruh sebanyak 2.717.961 orang.

Haedar Nashir





"Kekuatan ini merupakan modalitas berharga untuk meningkatkan kesejahteraan pekerja/buruh, terlebih lagi apabila gerakan buruh solid dan terkonsolidasi," kata Menaker.





Menaker Hanif menegaskan pihaknya memiliki keyakinan sama dengan Uni Global Union, hubungan kondusif antara tiga elemen hubungan industrial akan memungkinkan ekonomi domestik mampu mencapai pertumbuhan yang sustainable, productive dan profitable.

“Upaya ini dapat dilakukan melalui media dialog sosial Bipratit dan Tripartit,“ katanya.

Menaker menegaskan ada tiga manfaat dialog sosial antara Pemerintah, Pengusaha dan Pekerja. ? Pertama, melalui dialog sosial di perusahaan, pengusaha dan pekerja bisa sama-sama mendiskusikan masalah hubungan industrial yang dihadapi dan mencari solusi yang tepat.

Kedua, dialog yang sehat juga bisa mendorong kesejahteraan, dimana aspirasi pekerja/buruh ditindaklanjuti oleh adanya kebijakan yang terkait dengan produktivitas kerja, misalnya melalui pelatihan-pelatihan vokasi, perbaikan sistem pengupahan dan perlindungan kerja melalui jaminan sosial.

Ketiga, dialog sosial dapat menjadi sarana bagi Serikat Pekerja/Serikat Buruh untuk merencanakan program pengembangan kompetensi anggotanya sehingga produktivitas mereka meningkat.

Ditambahkan Menaker, paradigma partnership sama sekali tidak akan mereduksi positioning dan bergaining gerakan pekerja/buruh. Sebaliknya, paradigma ini akan memperkuat gerakan buruh menjadi lebih efektif, karena partnership diasumsikan sebagai equal position.

“Saya berharap semoga konfrensi UNI Apro ke-5 ini dapat menghasilkan berbagai terobosan bagi pengembangan hubungan industrial dan pembangunan ekonomi dunia yang berkeadilan,“ katanya. (Red: Kendi Setiawan). Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pertandingan Haedar Nashir

Rabu, 18 Januari 2017

Indonesia Jadi Rujukan Membangun Perdamaian di Asia Pasifik

Jakarta, Haedar Nashir. The Asian Muslim Action Network  (AMAN) Indonesia bekerjasama dengan Action Asia akan menyelenggarakan 6th Peacebuilders’ Forum pada 16 – 18 Oktober 2017 di Hotel Le Meridien, Jakarta. Dalam forum yang akan dibuka Wakil Presiden Indonesia Jusuf Kalla tersebut, Action Asia mengangkat tema Pencegahan Kekerasan Ekstremisme melalui Perspektif Peacebuilding.

“Ini merupakan pertama kalinya pembahasan mengenai ekstremisme kekerasan dilakukan menggunakan perspektif Peacebuilding. Metode ini akan memberikan pemahaman kontekstual yang lebih mendalam, aksi kolaboratif lintas batas, dan membangun lingkungan yang saling mendukung dalam pengimplementasian kebijakan terkait ekstremisme kekerasan,” ujar Direktur AMAN Indonesia, Ruby Khalifah di Jakarta, Sabtu (14/10)

Lebih lanjut, perempuan pemenang N-peace Award 2016 itu memberi penegasan bahwa forum yang akan dihadiri 300 peserta dari berbagai LSM serta perwakilan pemerintah dari 16 negara di Asia Pasifik dan lainnya ini menjadi sangat strategis bagi Indonesia dan negara-negara lain di dunia. Sebab, khusus kawasan Asia Pasifik yang menjadi salah satu sasaran utama kelompok ekstremisme, pendekatan inovatif dengan meningkatkan kapabilitas aparatur penegak hukum atau yang terkait pencegahan dan penanganan ekstremisme menjadi sangat relevan.

Indonesia Jadi Rujukan Membangun Perdamaian di Asia Pasifik (Sumber Gambar : Nu Online)
Indonesia Jadi Rujukan Membangun Perdamaian di Asia Pasifik (Sumber Gambar : Nu Online)

Indonesia Jadi Rujukan Membangun Perdamaian di Asia Pasifik

Acara ini rencananya menghadirkan lebih dari 15 pakar di bidang berdamaian dan ekstremisme se-Asia Pasifik, di antaranya adalah Azyumardi Azra , Simon Park (UNODC) dan Amina Rasul (Filipina).

“Dalam forum ini peserta akan mengeksplorasi beragam aspek dan dinamika ekstremisme, progres kebijakan di tingkat nasional maupun regional, dan berbagai program serta langkah-langkah efektif untuk menangkal ancaman yang muncul dari ekstremisme kekerasan,” pungkas Ruby. (Red-Zunus)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir

Haedar Nashir Meme Islam, AlaSantri Haedar Nashir

Jumat, 13 Januari 2017

Memoar Tokoh NU yang Terlupakan Dibedah di UIN Surabaya

Surabaya, Haedar Nashir



Sejarah bangsa Indonesia tak bisa dilepaskan dari peran para tokoh Nahdlatul Ulama. Organisasi ulama-santri ini berhasil membentuk citra dan cerita yang positif tentang bagaimana andil umat Islam dalam menegakkan bangsa dan Negara. Melihat pentingnya konstribusi tersebut, maka para pegiat literasi yang tergabung dalam Komunitas Baca Rakyat (Kobar) bekerjasama dengan Pustaka Tebuireng menggelar seminar dan bedah buku berjudul Membuka Ingatan: Memoar Tokoh NU yang Terlupakan bertempat di gedung B lantai 3 Twin Tower UIN Sunan Ampel Surabaya.?

Acara yang digelar pada hari Selasa (11/04) ini, dihadiri langsung oleh pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng yang sekaligus didapuk sebagai narasumber utama yaitu KH Shalahudin Wahid (Gus Sholah). Adapun narasumber kedua adalah KH Muhibin Zuhri selaku ketua PCNU Kota Surabaya, sementara itu Prof Masdar Hilmy mendapatkan tempat sebagai narasumber ketiga.?

Memoar Tokoh NU yang Terlupakan Dibedah di UIN Surabaya (Sumber Gambar : Nu Online)
Memoar Tokoh NU yang Terlupakan Dibedah di UIN Surabaya (Sumber Gambar : Nu Online)

Memoar Tokoh NU yang Terlupakan Dibedah di UIN Surabaya

Dalam paparannya, Gus Sholah menyatakan bahwa buku ini ditulis dalam rangka mengangkat kembali figur NU yang patut diteladani. Menurutnya ada beberapa hal yang perlu diikuti.

“Terutama motivasinya untuk maju, untuk mengembangakan diri, disiplin diri, tanggung jawab, integritas dan yang paling penting beliau semua adalah negarawan,” terangnya saat menyampaikan materi.

Haedar Nashir

Gus Sholah menambahkan bahwa para sosok yang diangkat dalam buku ini adalah seseorang yang secara sukses terbukti mampu menghidup-hidupi NU, bukan hidup di dalam NU.

Pernyataan ini, diperkuat oleh KH Muhibin Zuhri yang mengatakan bahwa para aktvis NU tempo dulu adalah orang-orang yang telah selesai urusan perutnya. “Para aktifis dulu adalah ? orang yang mapan, sehingga menjadi aktifis merupakan suatu pelarian dari segala hal yang mereka miliki. Karena, aktivis yang belum selesai masalah perutnya, biasanya justru masuk organisasi ? untuk menyelesaikan perutnya,” ujarnya dalam seminar tersebut.

Direktur Museum NU ini juga mengungkapkan bahwa buku ini penting karena banyak mengangkat tokoh yang semuanya merupakan pemimpin besar, karena mampu menginspirasi. Hal ini juga ditegaskan oleh Prof Masdar Hilmy yang menyatakan bahwa buku ini memberikan kontribusi sangat bagus bagi generasi muda untuk mengenal siapa saja yang mendedikasikan hidupnya untuk NU, Nusa dan bangsa.?

“Informasi yang dimuat dalam buku ini adalah jembatan antar generasi. Buku ini adalah media yang sangat penting untuk mengenalkan figur-figur yang punya nilai dalam hidupnya, yang bisa kita teladani, sehingga bisa kita buat sebagai kaca benggala untuk diri kita,” terangnya.

Acara yang digelar oleh Kobar ini semakin semarak karena dihadiri oleh para tokoh, antara lain Hj Farida Syaifudin (istri Gus Sholah), Prof.Abdul A’la (rektor UIN Sunan Ampel), Prof Husein Aziz (Direktur Pasca Sarjana UIN Sunan Ampel), Prof Ridwan Natsir, Prof Ali Haidar dan para akademisi dari Surabaya, Jombang, Sidoarjo dan sekitarnya. (Eka Wahyudi/Mukafi Niam)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Sejarah, Makam, Tegal Haedar Nashir

Hadirin Penuhi Halaman PBNU

Jakarta, Haedar Nashir. Hadirin memenuhi halaman gedung PBNU, Jakarta, pada Kamis malam, (31/01). Mereka berdesak-desakkan hingga trotoar jalan Kramat Raya 164.

Mereka datang bergelombang sejak Ashar hingga selepas Isya untuk memeriahkan peringatan Hari Lahiir (Harlah) NU ke-87. Peringatan tersebut dikemas dengan "Pengajian Budaya dan Bedah Buku Atlas Wali Songo."

Hadirin Penuhi Halaman PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Hadirin Penuhi Halaman PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Hadirin Penuhi Halaman PBNU

Halaman PBNU disulap menjadi tempat pertunjukan; dialasi karpet, dipayungi tenda putih. Di situlah hadirin duduk. Yang tidak kebagian terpaksa berdiri berdesak-desakan hingga ke pojok-pojok. Di hadapan hadirin atau sebelah kanan gedung PBNU, berdiri sebuah panggung.

Haedar Nashir

Selepas Isya, acara dimulai dengan pembacaan ayat suci Al-Quran. Kemudian sambutan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj.

“Harlah NU kali ini diadakan kecil-kecilan. Nanti yang besar insya Allah diadakan pada 16 Rajab 1434 atau sesuai dengan penanggalan Hijriyah,” kata kiai kelahiran Cirebon 1953 tersebut.

Haedar Nashir

Acara dilanjutka dengan penampilan grup musik kolaborasi Kiai Kanjeng yang dipimpin Emha Ainun Najib. Personil berseragam hitam-hitam tersebut melantunkan shalawat-shalawat, termasuk syair Tanpo Waton.

Sekarang sedang berlangsung bedah buku Atlas Wali Songo. Pembedahnya Wakil Ketua Umum PBNU H As’ad Said Ali dan penulis buku tersebut Agus Sunyoto. Bedah buku dipandu Emha Ainun Najib yang akrab disapa Cak Nun.

Harlah yang bernuansa sejarah tersebut berlangsung akrab; kadang diselipi tertawa karena guyonan Cak Nun.

?

?

Penulis: Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir AlaSantri, Daerah, Pendidikan Haedar Nashir

Selasa, 10 Januari 2017

Para Hafidz Pesantren Raudhatuth Thalibin Dibacakan Wasiat KH Arwani

Demak, Haedar Nashir. Pondok Pesantren Raudhatuth Thalibin Asuhan KH. Asrori Lathif Desa Jragung, Kecamatan Karangawen Kabupaten Demak, Jawa Tengah, Ahad (5/1) pagi, menggelar acara Khotmil Qur’an di Masjid Busyra Lathif di desa setempat.

Sebanyak 9 santri yang ikut program tahfidh (hafalan alQur’an 30 Juz), 15 peserta bin nadzar (mengkhatamkan 30 juz dengan cara membaca dan melihat mushaf) dan 17 santri yang telah merampungkan belajar juz ‘amma tampil di hadapan para kiai dan seluruh pengunjung haul haul Simbah Kiai Marwan, AH.

Para Hafidz Pesantren Raudhatuth Thalibin Dibacakan Wasiat KH Arwani (Sumber Gambar : Nu Online)
Para Hafidz Pesantren Raudhatuth Thalibin Dibacakan Wasiat KH Arwani (Sumber Gambar : Nu Online)

Para Hafidz Pesantren Raudhatuth Thalibin Dibacakan Wasiat KH Arwani

Usai mengkhatamkan al-Qur’an peserta khataman mengikuti pembacaan tahlil yang dipimpin KH. Ulil Albab, putra seorang hafidz dan pakar al-Qur’an, KH. Arwani Amin, dari Kudus, Jawa Tengah. Selanjutnya para wisudawan menyimak wasiat KH Arwani Amin.

Haedar Nashir

Putra sulung KH Arwani Amin, KH Ulin Nuha, membacakan wasiat tersebut dengan ayat “Wala tasytaruu bi aayaatii tsamanan qalilaa”. Ayat tersebut berpesan tentang larangan memperjualbelikan al-Qur’an dengan harga yang rendah, yakni dunia.

Dalam wasiatnya, KH Arwani tidak meridhai santri-santrinya untuk mengikuti ajang Musabaqah Tilawtil Qur’an atau yang lebih dikenal dengan istilah kejuaraan “MTQ”. Wasiat ini memiliki silsilah sanad yang jelas sampai kepada KH Arwani dan menjadi pegangan para penghafal al-Qur’an di sana. (Asnawi Lathif/Mahbib)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Santri, Pesantren Haedar Nashir

Senin, 09 Januari 2017

Dalam Berorganisasi, Aktivis NU Jangan Salah Niat

Surabaya, Haedar Nashir. Menjadi pegiat organisasi di Nahdlatul Ulama hendaknya diniati untuk berkhidmat demi meninggikan panji dan kalimat Allah SWT, bukan untuk memperoleh kedudukan apalagi keuntungan materi. Hal inilah yang membedakan dengan para aktivis di organisasi lain.

Dalam Berorganisasi, Aktivis NU Jangan Salah Niat (Sumber Gambar : Nu Online)
Dalam Berorganisasi, Aktivis NU Jangan Salah Niat (Sumber Gambar : Nu Online)

Dalam Berorganisasi, Aktivis NU Jangan Salah Niat

"Saat aktif di NU, jangan sekali-kali memiliki motivasi merebut jabatan, apalagi untuk mendapatkan keuntungan materi," kata Nyai Hj Nur Zainab Nur, Ahad (24/7). Pesan ini disampaikannya saat acara halal bi halal dan silaturrahim Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan Ikatan Puteri Pelajar Nahdlatul Ulama lintas generasi di aula PWNU Jatim, jalan Masjid al-Akbar Timur 9 Surabaya.

Mantan Ketua Pimpinan Wilayah ? Ikatan Pelajar Puteri Nahdlatul Ulama (PW IPPNU) Jatim yang tetap semangat meskipun hadir dengan menggunakan kursi roda tersebut mengingatkan para aktifis kekinian untuk bisa belajar ketulusan kepada para pendahulu. "Untuk dapat melakukan konsolidasi, dulu kami harus rela numpang truk karena kendaraan memang terbatas dan tidak memiliki ongkos yang cukup," terangnya.

Demikian pula untuk memantau perkembangan organisasi, undangan rapat sering dititipkan lewat secarik kertas untuk dapat memastikan akan melaksanakan koordinasi di waktu dan tempat yang ? telah ditentukan. "Kami sangat menghargai kesempatan bertemu," kenangnya.

Haedar Nashir

Meskipun sebagai pelajar perempuan, para pegiat IPPNU kala itu tidak ingin dipandang sebelah mata oleh kalangan Ikatan Pelajar NU atau IPNU. "Saat akan ada rapat bersama IPNU, kami melakukan rapat sebelumnya untuk membahas sejumlah persoalan sekaligus membagi siapa yang akan menjadi juru bicara," katanya disambut aplaus hadirin.

Nyai Hj Nur Zainab Nur kemudian menceritakan bagaimana para pelajar perempuan NU kala itu harus mendatangi para pengusaha dan kantor pemerintah untuk mendapatkan dana ketika hendak menyelenggarakan kegiatan. "Satu demi satu kami datangi," kata perempuan yang kini tinggal di Sidoarjo tersebut.

Haedar Nashir

Di akhir paparannya, kembali mantan Ketua PW Muslimat NU Jatim ini mengingatkan para aktifis IPNU dan IPPNU era kekinian untuk menjaga ketulusan niat dan juga kekompakan. "Jaga terus niat kalian dan tetap kompak," pungkasnya.

Sejumlah ketua dan aktifis PW IPNU dan IPPNU Jatim dari berbagai angkatan hadir pada kegiatan tersebut. Bahkan mantan Ketua Umum PP IPNU, H Abdullah Azwar Anas turut hadir dan memberikan sambutan. Bupati Banyuwangi dua periode tersebut juga mengundang seluruh hadirin untuk bergabung pada acara halal bihalal yang diselenggarakan Majelis Alumni IPNU tingkat nasional, 28 Juli mendatang. Kegiatan akan dilaksanakan di Banyuwangi sekaligus mengenalkan sejumlah destinasi wisata kebanggaan kota paling timur di Jatim tersebut. (Ibnu Nawawi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir PonPes Haedar Nashir