Selasa, 11 Juli 2017

IPNU-IPPNU Al-Furqan Cetak Kader Anti-Narkoba

Sumenep, Haedar Nashir. Setelah menjalani kegiatan kaderisasi, peserta Makesta IPNU-IPPNU Komisariat Al-Furqan, Desa Keles, Kecamatan Ambunten, Sumenep, Jawa Timur berkomitmen menjadi pelopor dalam memerangi narkoba. Penutupan acara tersebut diparipurnai dengan orasi kebangsaan oleh Ketua PC IPNU Sumenep, Abror M. Wasil, Jumat (27/5).

IPNU-IPPNU Al-Furqan Cetak Kader Anti-Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Al-Furqan Cetak Kader Anti-Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Al-Furqan Cetak Kader Anti-Narkoba





Sebelumnya, Abror memimpin prosesi pembaitan. Setelah itu, dia mendengungkan ragam bahaya narkoba dan kader pelajar NU harus getol memeranginya.



Haedar Nashir



"Makesta ini merupakan salah satu upaya mematangkan anggota IPNU-IPPNU sebagai kader nahdliyin yang militan, penjaga dan pengawal Islam Ahlussunnah wal Jamaah, Islam Nusantara, serta penjaga dan Pengawal NKRI," tegas Abror.





Haedar Nashir

Dalam kesempatan itu, IPNU-IPPNU Komisariat Al-Furqan tegas menolak paham-paham radikalisme. IPNU-IPPNU Komisariat Al-Furqan juga berkomitmen menyebarkan Islam Rahmatan lil Alamin, bukan Islam yang Laknatan lil Alamin. (Hairul Anam/Fathoni). Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Doa Haedar Nashir

Senin, 10 Juli 2017

Masjid Kini Sepi, Kalah dengan Gadget

Kendal, Haedar Nashir. Pimpinan Anak Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, menyayangkan sepinya masjid dari kegiatan keagamaan, pendidikan, dan lainnya. Fungsi masjid kini seolah menjadi tempat shalat lima waktu saja.

Masjid Kini Sepi, Kalah dengan Gadget (Sumber Gambar : Nu Online)
Masjid Kini Sepi, Kalah dengan Gadget (Sumber Gambar : Nu Online)

Masjid Kini Sepi, Kalah dengan Gadget

Di zaman yang sudah penuh dengan kemajuan teknologi dan ilmu pengetahuan ini, masjid sudah mulai tersisihkan dengan kegiatan duniawi. “Masjid sekarang ini sudah kalah dengan gadget. Betapa tidak, anak-anak kecil dan remaja bukannya pergi ngaji malah mainan HP. Sibuk dengan dunianya sendiri,” ujar Ketua PAC IPNU Sukorejo Budi Irwanto, Senin (23/2).

Menurut alumni STAINU Temanggung ini, masjid seharusnya banyak-banyak diisi kegiatan islami atau diskusi ilmiah. Lebih-lebih anak muda juga ikut dilibatkan.

Haedar Nashir

“Masjid itu kan tempat orang Islam, harus ada kegiatan islami, entah diskusi ilmiah atau pengajian sore. Anak muda juga harus dilibatkan,” imbuhnya.

Hal senada diungkapkan Sekretaris IPNU Sukorejo Sukron. Ia menilai, masjid-masjid di sekitarnya sekarang ini sudah jarang yang mengunjungi, terutama di waktu sore. “Dulu, waktu saya masih kecil banyak anak-anak yang mengaji di waktu sore. Tapi sekarang berbeda, masjid-masjid mulai sepi,” ujarnya.

Haedar Nashir

Tidak hanya anak-anak, remaja dan dewasa pun juga sudah seperti enggan memanfaatkan masjid untuk kegiatan keagamaan. Padahal, lanjut dia, masjid merupakan tempat yang seharusnya ramai dengan kegiatan keagamaan.

“Harusnya kan masjid sering-sering digunakan untuk ngaji, biar tidak sepi.” Imbuhnya, yang juga Alumni Pondok Pesantren Darul Amanah Sukorejo ini.

Di kesempatan yang sama, Said Jakfar, Wakil Ketua IPNU Sukorejo juga menyampaikan hal senada. Dirinya mengungkapkan, ramai atau sepinya sebuah masjid ditentukan oleh pengurus masjid itu sendiri. Karena pengurus masjid lah yang memegang peranan dalam menentukan sepi atau tidaknya sebuah masjid.

“Masjid mau sepi atau ramai, bergantung pada pengurusnya kok,” tandasnya.

Menurut mahasiswa tingkat akhir UIN Yogyakarta ini, sudah selayaknya masyarakat punya inisiatif sendiri untuk meramaikan masjid dengan kegiatan yang positif. “Masyarakat harus punya inisiatif sendiri meramaikan masjid,” tambahnya.

Perlu diberikan pemahaman kepada masyarakat tentang masjid.  Menurut Said, masyarakat harus diberikan pemahaman dan penjelasan tentang pentingnya meramaikan masjid.

“Pengurus masjid perlu lah mengadakan kegiatan yang isinya memberikan pemahaman dan penjelasan betapa pentingnya meramaikan masjid,” ujar Said.

Untuk itu, diperlukan adanya sosialisasi agar masyarakat faham betul, bahwa masjid bukan hanya tempat shalat saja. Melainkan bisa digunakan sebagai tempat diskusi sesama pelajar, ataupun dialog mahasiswa.

“Jadi intinya, diskusi atau dialog tidak hanya di adakan di aula melulu. Bisa di masjid,” tuturnya. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Quote Haedar Nashir

Minggu, 09 Juli 2017

Pemerintah RI dan Singapura Sepakat Tingkatkan Kerja Sama Pelatihan Vokasi

Jakarta, Haedar Nashir

Di akhir kunjungan kerjanya ke Singapura, Menteri Ketenagakerjaan M Hanif Dhakiri mengadakan pertemuan informal dengan Menteri Tenaga Kerja Singapura Lim Swee Say di Singapura, Sabtu (16/9).

Pemerintah RI dan Singapura Sepakat Tingkatkan Kerja Sama Pelatihan Vokasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemerintah RI dan Singapura Sepakat Tingkatkan Kerja Sama Pelatihan Vokasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemerintah RI dan Singapura Sepakat Tingkatkan Kerja Sama Pelatihan Vokasi

Dalam pertemuan bilateral ini, kedua menteri sepakat meningkatkan kerja sama pendidikan dan pelatihan vokasi untuk meningkatkan kompetensi dan daya saing SDM  Indonesia dan Singapura. 

"Dalam pertemuan tadi, kita sepakat meningkatkan dan memperluas kerja sama pelatihan vokasi serta terus berupaya memperbaiki kerjasama di sektor-sektor bidang ketenagakerjaan lainnya," kata Menakerdalam keterangan persnya di Jakarta, Sabtu (16/9).

Turut hadir sebagai delegasi Indonesia antara lain  Dirjen Binalattas Kemnaker Bambang Satrio Lelono, Dubes RI untuk Singapura I Ngurah Swajaya  anggota Komite Vokasi Nasional.

Haedar Nashir

Menaker mengatakan selama ino kerjasama di bidang pendidikan  dan pelatihan vokasi telah berjalan lebih baik. Namun dibutuhkan komitmen lebih untuk pengembangannya.

"Perlu diperkuatnya kembali kerja sama pelatihan vokasi  yang sudah dilakukan serta

komitmen membantu pembenahan kualitas Balai Latihan Kerja dengan melibatkan Kementerian dan  lembaga terkait lainnya  di Singapura," kata Hanif.

Di bidang pelatihan vokasi, kerja sama yang telah dilakukan antara lain dengan Temasek Foundation Polytechnic Singapore International (SPI), Workforce Singapura dan lembaga lainnya.

Bentuk kerjasamanya antara lain berupa konsep kurikulum dan upskilling instruktur vokasi, perbaikan fasilitas  dan sarana serta prasarana pendukung pelatihan vokasi, pemagangan dan informasi pasar kerja.

Haedar Nashir

"Kita akan undang lembaga-lembaga terkait ke Indonesia  untuk bersama-sama memperbaiki kualitas pelatihan vokasi di balai latihan kerja dan lembaga  pelatihan lainnya yang tersebar di seluruh Indonesia," ujarnya.

Di Indonesia pelaksanaan pelatihan vokasi dilakukan oleh BLK, LPK Swasta, Training Center Industri serta Lembaga pelatihan Kementerian atau lembaga.

Menaker memberikan apresiasi atas pertemuan Menteri-menteri Tenaga Kerja ASEAN awal September lalu, yang sepakat menempatkan Keselamatan dan Kesehatan (K3) sebagai  bagian integral  dalam pembangunan yang inklusif di kawasan ASEAN.

Salah satu poin yang penting yang disepakati afakah  penerapan K3 di kawasan ASEAN yang menjamin bahwa setiap pekerja/ buruh baik itu pekerja lokal maupun pekerja migran berhak atas lingkungan kerja yang aman dan sehat.

Sementara itu, Menteri Tenaga Kerja Singapura Lim Swee Say juga menyatakan siap mempererat kerja dalam bidang pelatihan vokasi dan bidang ketenagakerjaan dengan Indonesia dengan melibatkan lembaga pelatihan dan pelaku industri di Singapura.

"Di tengah perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, kedua negara harus mempersiapkan tenaga kerjanya untuk  meningkatkan keterampilan kerja dan bersiap menghadapi perubahan bentuk dan karakter pekerjaan di masa depan, kata Menteri Lim Swee.

Akhirnya, pertemuan ini diharapkan makin mempererat hubungan baik pemerintah Indonesia dan Singapura serta meningkatkan kerjasama di bidang ketenagakerjaan, termasuk peningkatan perlindungan dan kesejahteraan  pekerja migran di kedua negara. (Red. Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir IMNU, Nasional Haedar Nashir

Sabtu, 08 Juli 2017

IPNU-IPPNU Wadah Bersosialisasi di Tengah Arus Individualisme

Purworejo, Haedar Nashir. Di tengah kehidupan yang serba modern yang serba individualis, pemuda dan pemudi harus pandai bersosialisasi agar tidak terbawa arus negatif pergaulan. Demikian dikatakan pengurus IPNU Cabang Purworejo Ustadz Hamdan Kurnia Aji dalam kegiatan bulan Ramadhan PAC IPNU-IPPNU Kecamatan Kaligesing di Balai Desa Kedunggubah, Sabtu (28/7).

Ustadz Hamdan juga menekankan pentingnya organisasi seperti IPNU-IPPNU sebagai wadah belajar dan bersosialisasi. “Jika rekan dan rekanita mau bergabung dengan organisasi seperti ini, Insya Allah akan mudah bergaul dengan siapa saja dan pandai memilah baik-buruknya” ungkap Ustad Hamdan.

IPNU-IPPNU Wadah Bersosialisasi di Tengah Arus Individualisme (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Wadah Bersosialisasi di Tengah Arus Individualisme (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Wadah Bersosialisasi di Tengah Arus Individualisme

Pembinaan keorganisasian generasi muda ini diikuti oleh 44 peserta dari dua desa yaitu Kedunggubah dan Jelok Kaligesing Purworejo. Menurut Ketua PAC IPPNU Kaligesing Rani Pranita, acara ini merupakan rangkaian kegiatan yang menjadi program  kerja organisasi yang telah disusun jauh-jauh hari dalam rangka mengisi Bulan Ramadhan.

Haedar Nashir

“Kehadiran organisasi kepemudaan sudah ditunggu-tunggu disini, jadi para peserta merasa senang karena punya wadah mengekspresikan diri” ungkap Rani.

Haedar Nashir

Hadir dalam acara pembukaan, Ketua MWCNU Kec. Kaligesing, Tokoh Agama dan Kepala Desa Kedunggubah dan Jelok. Mewakili Masyarakat Kepala Desa Kedunggubah menyambut gembira kegiatan yang digelar PAC. IPNU IPPNU ini. 

“Di tengah gempuran modernisme yang menggerogoti moral generasi muda, saya merasa bangga dan gembira atas digelarnya kegiatan di Desa Kedunggubah sehingga menjadi media pembelajaran berorganisasi yang positif bagi generasi muda desa Kedung Gubah dan Jelok," ungkap kepala Desa Kedunggubah Puji Purnomo dalam sambutannya. 

Ahmad Kosim, pembina IPNU Kaligesing menambahkan, kegiatan positif serupa hendaknya terus ditingkatkan. “Silakan nantinya rekan dan rekanita mewarnai kegiatan kepemudaan semisal Takbir Keliling, Saraehan, Ziarah Bersama, Kajian-kajian dan pelatihan untuk menambah skill individu masing-masing.” ungkapnya.

Dalam acara yang dibalut dengan Buka Bersama tersebut, peserta mendapat berbagai materi seperti Ke-organisasi-an, Leadership, Motivasi dan Keislaman dari pengurus cabang IPNU-IPPNU Kabupaten Purworejo. 

Pengurus MWCNU Kaligesing dan beberapa tokoh masyarakat juga turut serta memberi motivasi dan kajian keislaman. Joni, salah satu peserta mengaku senang dan bangga dengan adanya acara ini.

“Saya berharap ke depanya acara serupa walaupun mungkin dengan format lain bisa terus digelar di desa-desa. Selain menambah teman dan ilmu, saya bias belajar bagaimana bersama-sama dengan orang yang tidak sama,” ungkapnya. Walau sempat ada dua peserta yang kesurupan,  acara berlangsung tertib dan lancar.

Redaktur: A. Khoirul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pendidikan, Humor Islam, Fragmen Haedar Nashir

Kamis, 06 Juli 2017

PBB Desak Bangladesh Pindahkan 15 Ribu Rohingya Terdampar dari Perbatasan

Jenewa, Haedar Nashir. Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Pengungsi (UNHCR), Selasa (17/10), mendesak Bangladesh untuk mempercepat pemeriksaan terhadap para pengungsi Rohingya yang mencapai 15.000 orang yang kini terdampar di dekat perbatasan.

Belasan ribu Muslim Rohingya itu berada di sana setelah menyeberang dari Myanmar ke Bangladesh menyusul tragedi kekerasan yang berlangsung di negara bagian Rakhine.

PBB Desak Bangladesh Pindahkan 15 Ribu Rohingya Terdampar dari Perbatasan (Sumber Gambar : Nu Online)
PBB Desak Bangladesh Pindahkan 15 Ribu Rohingya Terdampar dari Perbatasan (Sumber Gambar : Nu Online)

PBB Desak Bangladesh Pindahkan 15 Ribu Rohingya Terdampar dari Perbatasan

PBB mengimbau Bangladesh segera memindahkan dari perbatasan demi keselamatan dan tersedianya kondisi yang lebih baik.

"Kami sangat prihatin dengan kondisi kemanusiaan di Bangladesh, di mana ribuan pendatang baru terdampar di dekat perbatasan," juru bicara UNHCR Andrej Mahecic dalam sebuah konferensi pers di Jenewa, seperti dikutip Reuters.

"Masalahnya berkaitan dengan penyaringan, pemerintah yang berdaulat perlu tahu siapa yang akan masuk ke wilayahnya," tambahnya. 

Haedar Nashir

Beberapa waktu lalu, otoritas Bangladesh sempat menghancurkan kapal-kapal milik Rohingya menyusul tudingan adanya penyelundupan methamphetamine, salah satu jenis narkoba yang dinilai sangat berbahaya.

Haedar Nashir

(Baca: Ada Eksploitasi Penderitaan Rohingya untuk Selundupkan Narkoba?)

 

Beredar dugaan bahwa perjalanan Rohingya dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu untuk kepentingan memasukkan barang haram tersebut ke Bangladesh. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir IMNU, Pesantren Haedar Nashir

Selasa, 04 Juli 2017

Ansor Way Kanan: Kembalikan Donasi Waralaba ke Daerah

Way Kanan, Haedar Nashir

Kabupaten Way Kanan, Lampung, memiliki luas sekitar 392.163 hektar atau 3.921,63 kilometer persegi, didiami oleh 415.078 jiwa dari 274.230 kepala keluarga. Berdasarkan Pendataan Program Perlindungan Sosial (PPLS) Badan Pusat Statistik (BPS) setempat 2013, jumlah penduduk miskin tercatat 32.791 kepala keluarga.

"Pengembalian donasi waralaba ke daerah merupakan salah satu solusi untuk mengatasi persoalan tersebut," ujar Ketua Pimpinan Gerakan Pemuda Ansor Way Kanan Gatot Arifianto di Blambangan Umpu, Kamis (10/3).

Ansor Way Kanan: Kembalikan Donasi Waralaba ke Daerah (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Way Kanan: Kembalikan Donasi Waralaba ke Daerah (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Way Kanan: Kembalikan Donasi Waralaba ke Daerah

Berdasarkan data BPS itu, jumlah penduduk miskin dimaksud adalah rumah tangga sasaran penerima manfaat dan kuantum penyaluran beras program Penyaluran Beras Rumah Tangga Miskin (Raskin) Tahun 2013.

Haedar Nashir

Tertinggi di Kecamatan Blambangan Umpu dengan jumlah rumah tangga miskin 4.998 KK atau sekitar 15,24 persen dan jumlah penduduk miskin terendah terdapat di kecamatan Bahuga dengan jumlah penduduk miskin sebesar 786 KK atau sekitar 2,4 persen.

"Donasi dari sisa pembelian masyarakat di waralaba-waralaba yang ada menurut sejumlah pekerja tersalur ke pusat waralaba perdagangan retail tersebut. Lalu digunakan untuk apa, disalurkan ke mana, bagaimana penyalurannya, untuk siapa dan di mana?" ujar mantan Sekretaris Jenderal Denting Biola untuk Indonesia itu lagi.

Haedar Nashir

Penggiat Gusdurian di Lampung ini berpendapat, akan lebih maslahat kalau jumlah donasi terhimpun oleh waralaba dari masyarakat Way Kanan disalurkan kembali ke daerah berada di selatan Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Timur Provinsi Sumatera Selatan ini guna membantu 32.791 KK yang tercatat masih miskin.

"Perusahaan perdagangan retail tidak akan rugi karena setiap donasi masuk selalu tercatat jumlahnya, konsepnya dari masyarakat dan dikembalikan ke masyarakat. Gerakan Pemuda Ansor Way Kanan mengharapkan pemerintah daerah mengambil kebijakan agar donasi waralaba bisa dikembalikan dan selanjutnya digunakan untuk pemberdayaan masyarakat kurang mampu," ujar alumni Civic Education for Future Indonesian Leaders (CEFIL) itu pula.

Sejumlah masyarakat setempat menyatakan belum pernah mendengar perusahaan perdagangan retail di Way Kanan yang terdata lebih dari 10 itu menggelar kegiatan sosial seperti sunatan massal.

Hal senada juga ditegaskan Kepala Bidang Tenaga Kerja Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Way Kanan Sutrisno Utomo.

"Belum pernah tahu atau mendengar ada kegiatan sosial seperti sunatan massal digelar oleh waralaba yang ada di daerah ini," ungkap Sutrisno. (Disisi Saidi Fatah/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Fragmen, Santri, Nasional Haedar Nashir

Senin, 03 Juli 2017

MI Al-Fauzain Hidupkan 1000 Oksigen di Tengah Kabut Polusi Jakarta

Tanah di halaman Madrasah Ibtidaiyah (MI) Al-Fauzain basah oleh sisa-sisa air siraman pohon di atasnya. Endapan airnya memberikan warna tanah lebih kuat dibanding tanah kering yang tidak menerima tetesan air. Demikian suasana hampir setiap sore MI Al-Fauzain di Pondok Pinang Timur kecamatan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.Rutinitas ini dilakukan hampir setiap hari oleh guru Sejarah Kebudayaan Islam (SKI) Ustadz Imran Rosyid. Bendahara MI Al-Fauzain ini dengan telaten merawat sedikitnya tujuh tanaman yang memagari gedung MI Al-Fauzain.

Pengelola MI Al-Fauzain memandang anak-anak warga di kota besar manapun termasuk anak warga di ibu kota membutuhkan pendidikan agama yang cukup. Kecuali itu, pihak pengelola prihatin melihat anak-anak kota yang kalah oleh polusi transportasi dan industri kota besar.

MI Al-Fauzain Hidupkan 1000 Oksigen di Tengah Kabut Polusi Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)
MI Al-Fauzain Hidupkan 1000 Oksigen di Tengah Kabut Polusi Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)

MI Al-Fauzain Hidupkan 1000 Oksigen di Tengah Kabut Polusi Jakarta

“Anak-anak juga perlu oksigen yang cukup untuk perkembangan fisik dan otak mereka,” kata Wakil Kepala MI Al-Fauzain Iis Supriatin.

Madrasah Ibtidaiyah Al-Fauzain yang sejak 1958 mengalami perkembangannya sendiri seiring perubahan kota Jakarta yang begitu cepat. Warga di sekitar madrasah yang semakin berkurang tahun demi tahun karena tergusur pembangunan juga memengaruhi suasana madrasah. Posisi gedung sekolah kini diapit oleh dua gedung pencakar langit yang menjulang di bagian selatan. Sementara di sisi utaranya terdapat masjid dan beberapa rumah warga yang masih bertahan.

Haedar Nashir

Dengan lahan yang terbatas, pihak pengelola memanfaatkannya untuk lahan hijau. Para guru menanam antara lain pohon Melati Jepang, Belimbing, Pepaya, Jambu, Palem, Kamboja Bangkok. Sebagian diperoleh dari membeli. Sebagian lagi didapat dari bantuan relawan di luar madrasah.

Dari semua pohon itu, mereka lebih banyak menanam Mali-mali Pucuk Merah dengan nama latin Leea Rubra. Pucuk Merah ini dominan mengisi lorong sekolah dari mulai gerbang utama hingga gerbang sekolah. Daun tumbuhan perdu ini diyakini dapat menyembuhkan luka. Mereka membeli hampir semua tanaman itu.

Haedar Nashir

“Perawatannya mudah. Cukup dipupuk dan disiram,” ujar Kepala MI Al-Fauzain Ustadz Hasanuddin.

Berbagai upaya dilakukan pihak madrasah untuk menciptakan lingkungan yang sejuk, segar, dan bersih. Dengan menanam dan merawat pohon di lingkungan madrasah, para guru setempat memberikan teladan nyata yang layak dicontoh para murid. Wali murid sendiri bisa “belajar” bagaimana menciptakan lingkungan yang hijau di lingkungan rumah mereka.

“Kita ingin penghijauan. Polusi di Jakarta sudah terlalu parah,” kata Iis yang setiap harinya mengajar mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS).

Selain menanam pohon, dewan guru memberlakukan “Jum’at bersih”. Para siswa dan guru mengawali belajar di hari Jum‘at dengan melakukan bersih-bersih. Mereka memungut sampah-sampah yang berserakan di kelas, halaman, dan lingkungan madrasah. Mereka mengumpulkannya ke dalam wadah sampah.

“Bagus untuk membiasakan tertib buang sampah di tempatnya dan bersih-bersih lingkungan,” kata Iis.

Lingkungan yang bersih dan sejuk ini menempatkan para murid dalam posisi nyaman beraktivitas, belajar, bermain, dan berolahraga. Tidak heran kalau murid-murid MI Al-Fauzain ini berhasil merebut juara III sepak bola yang melibatkan antarsekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah sekelurahan Pondok Pinang pada 2014 lalu.

“Kita tidak punya lapangan besar. Sebenarnya lahan di sini tidak memadai untuk olahraga murid. Dengan lahan ala kadarnya, kita belikan mereka gawang sepak bola tiga tahun lalu,” ujar Hasanuddin.

Warga di sekitar madrasah semakin sedikit. Kehadiran gedung pecakar langit mengisoalasi termasuk ruang gerak madrasah. Sekarang sebuah gedung tengah dibangun yang rencananya untuk pemukiman bersusun, apartemen. Suara bising aktivitas proyek menggangu siang dan malam.

Di tengah kelahiran gedung-gedung itu, para guru madrasah ini terus berupaya menciptakan lingkungan bersih dan hijau untuk muridnya. Mereka tidak berhenti merawat pohon untuk asupan paru-paru anak-anak warga kota. (Alhafiz Kurniawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Doa, AlaNu, Syariah Haedar Nashir