Kamis, 27 Juli 2017

Sidang Itsbat pada 7 Agustus, Lebaran Diperkirakan Bareng

Jakarta, Haedar Nashir. Pemerintah akan melaksanakan sidang itsbat penentuan 1 Syawal 1434 Hijriyah pada 7 Agustus 2013 sesaat setelah diadakan rukyatul hilal di berbagai dareah. 

Pada saat itu posisi hilal sudah memungkinkan untuk dirukyat (imakur rukyat), dan berdasarkan pengalaman  maka hilal dimungkinkan bisa disaksikan.

Sidang Itsbat pada 7 Agustus, Lebaran Diperkirakan Bareng (Sumber Gambar : Nu Online)
Sidang Itsbat pada 7 Agustus, Lebaran Diperkirakan Bareng (Sumber Gambar : Nu Online)

Sidang Itsbat pada 7 Agustus, Lebaran Diperkirakan Bareng

Wakil Menteri Agama Nasaruddin Umar dalam laman Kementerian Agama di Jakarta, Rabu, berharap hari raya Idul Fitri tahun ini akan dirayakan secara bersama oleh semua umat Muslim di Tanah Air.

Haedar Nashir

"Sidang itsbat akan dilaksanakan 7 Agustus, semua ormas Islam kita undang," kata Wamenag kepada wartawan pada acara buka puasa bersama di kediamannya, Jalan Ampera I No. 10, Jakarta Selatan, Selasa sore.

Haedar Nashir

Hadir Duta Besar Arab Saudi Mustafa bin Ibrahim Al Mubarak, para pejabat eselon I, II, dan III Kementerian Agama, serta beberapa direktur BUMN.

Wamenag mengatakan, jika didasarkan pada perhitungan hisab, pada hari pelaksanaan rukyatul hilal atau hari Rabu senja tanggal 7 Agustus 2013, posisi hilal berada di atas dua derajat.

Sesuai pengalaman tahun-tahun yang lalu, apabila hilal di atas dua derajat, maka hilal atau bulan baru dimungkinkan akan bisa disaksikan atau imkanur rukyat.

"Kecuali jika pada hari itu seluruh lokasi pemantauan hilal di Tanah Air terhalang mendung," ujarnya.

Namun Wamenag berharap, hari raya Idul Fitri tahun ini akan dirayakan bersama-sama oleh seluruh masyarakat muslim Indonesia. “Kita berharap lebaran bareng, sehingga lebih menguatkan ukhuwah Islamiyah," ujarnya.

Dirjen Bimas Islam Abdul Djamil menambahkan, pada sidang itsbat penentuan awal syawal nanti terlebih dahulu dilaksanakan sebuah seminar membahas tentang masalah hisab-rukyat.

"Jika sebelumnya kegiatan sidang dilaksanakan sore hari, itsbat nanti akan dimulai dari siang hari, sekitar pukul 13.30 dengan sebuah seminar membahas permasalahan hisab rukyat, termasuk juga mengenai penetapan yang dilakukan oleh kelompok An Nazir dan Naqshabandi," kata Djamil.

Redaktur: Mukafi Niam

Sumber  : Antara

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pertandingan, Lomba, Aswaja Haedar Nashir

PSSI Riau Sebut Istimewa Pembukaan Liga Santri Nusantara di Inhu

Indragiri Hulu, Haedar Nashir?

Liga Santri Nusantara Region V Provinsi Riau secara resmi dibuka Bupati Indragiri Hulu H. Yopi Arianto di Stadion Nara Singa Rengat 27 Agustus lalu. Acara ini dimulai dari pukul 20.00 hingga pukul 23.30 dihadiri oleh sekira 10.000 orang. Kick off dimeriahkan drumb band dari pesantren setempat yang diikuti oleh defile dari kafilah-kafilah perwakilan 16 pesantren se-Provinsi Riau yang mengikuti Liga Santri.?

Di antara pesantren-pesantren tersebut adalah Pondok Pesantren Salafiyah Babussalam, Pondok Pesantren Syamsyudildin, Pondok Pesantren Nurul Huda, Pondok Pesantren Darul Huda, Pondok Pesantren Al Majdiyah, Pondok Pesantren Khairul Ummah, Pondok Pesantren Al Ihsan, Pondok Pesantren Al Munawwarah, Pondok Pesantren Al Hidayah, Pondok Pesantren Darun Nahda, Pondok Pesantren Nurul Hidayah, Pondok Pesantren Jabal Nur, Pondok Pesantren Al Kautsar, Pondok Pesantren Tebuireng 4, Pondok Pesantren Baqiyyatussyadiyyah, dan Pondok Pesantren Raudlatul Jannah.

PSSI Riau Sebut Istimewa Pembukaan Liga Santri Nusantara di Inhu (Sumber Gambar : Nu Online)
PSSI Riau Sebut Istimewa Pembukaan Liga Santri Nusantara di Inhu (Sumber Gambar : Nu Online)

PSSI Riau Sebut Istimewa Pembukaan Liga Santri Nusantara di Inhu

Dalam sambutannya, Ketua PSSI Asprov Riau menyebut bahwa pembukaan LSN Region V Riau-Kepri ini meriah sekali dan sudah setara perhelatan SEA Games. "Bayangkan, Indragiri Hilir ini jauh dari ibukota provinsi, tetapi lihatlah ia berani menyelenggarakan event sepakbola di malam hari. Kalau bukan infrastruktur memadai, ini tidak akan terjadi. Inilah istimewanya Liga Santri," ujar Chaidir Ketua Pengprov PSSI Riau.

Sementara itu, Bupati Indragiri Hulu dalam sambutannya memberikan apresiasi kepada Kemenpora dan PBNU atas terselenggaranya Liga Santri. "Pembibitan sepakbola kita harus dimulai sejak dini. Liga Santri ini membantu PSSI untuk menyelenggarakan kompetisi sepakbola di Usia-16. Ini sangat strategis mengingat belum ada kompetisi yang masif dan teratruktur di usia ini," tutur Yopi.

Labih lanjut Yopi mengungkapkan kebanggaannya pada NU. "Sebagai kepala daerah saya sangat bangga kepada NU. Bukan saja karena saya seorang Nahdliyin, tetapi karena sejarah berdirinya negara ini tidak bisa dipisahkan dari keringat, darah dan airmata para kiai, santri dan pesantren yang merupakan basis gerakan dari jam’iyah Nahdlatul Ulama," kata Yopi berapi-api.

Haedar Nashir

Tampak hadir dalam acara tersebut adalah Kadispora Provinsi Riau Doni Aprialdi, perwakilan Kapolda Riau, Kapolres Inhu, Forkompuda Provinsi Riau, Jajaran PWNU Provinsi Riau, Jajaran PCNU Inhu dan pengurus MWC NU se-Kabuoten Inhu. Selain itu perhelatan ini juga diikuti oleh seluruh pesantren dan madrasah di Inhu.

Sementara itu dari Panitia Nasional LSN diwakili oleh jajaran direksi, antara lain Cornelius Ariyanto Wibisono, Ade Abdul Aziz, dan Irham Saifuddin. Acara tersebut langsung dikoordinasikan oleh Koordinator Region V Riau-Kepri Ribhan Dwi Jayana. (Ali/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir

Haedar Nashir Aswaja, AlaNu, Anti Hoax Haedar Nashir

Selasa, 25 Juli 2017

Kisah Uwais Al Qarni, Pemuda Istimewa di Mata Rasulullah

“Belum dikatakan berbuat baik kepada Islam, orang yang belum berbuat baik dan berbakti kepada kedua orang tuanya.” Syaikhul Jihad Abdullah Azzam

Di Yaman, tinggallah seorang pemuda bernama Uwais Al Qarni yang berpenyakit sopak. Karena penyakit itu tubuhnya menjadi belang-belang. Walaupun cacat tapi ia adalah pemuda yang saleh dan sangat berbakti kepada ibunya, seorang perempuan wanita tua yang lumpuh. Uwais senantiasa merawat dan memenuhi semua permintaan ibunya. Hanya satu permintaan yang sulit ia kabulkan.

Kisah Uwais Al Qarni, Pemuda Istimewa di Mata Rasulullah (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Uwais Al Qarni, Pemuda Istimewa di Mata Rasulullah (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Uwais Al Qarni, Pemuda Istimewa di Mata Rasulullah

“Anakku, mungkin Ibu tak lama lagi akan bersamamu. Ikhtiarkan agar ibu dapat mengerjakan haji,” pinta sang ibu.

Haedar Nashir

Mendengar ucapan sang ibu, Uwais termenung. Perjalanan ke Mekkah sangatlah jauh, melewati padang tandus yang panas. Orang-orang biasanya menggunakan unta dan membawa banyak perbekalan. Lantas bagaimana hal itu dilakukan Uwais yang sangat miskin dan tidak memiliki kendaraan?

Uwais terus berpikir mencari jalan keluar. Kemudian, dibelilah seekor anak lembu, kira-kira untuk apa anak lembu itu? Tidak mungkin pergi haji naik lembu. Uwais membuatkan kandang di puncak bukit. Setiap pagi ia bolak-balik menggendong anak lembu itu naik turun bukit. “Uwais gila... Uwais gila..” kata orang-orang yang melihat tingkah laku Uwais. Ya, banyak orang yang menganggap aneh apa yang dilakukannya tersebut.

Haedar Nashir

Tak pernah ada hari yang terlewatkan ia menggendong lembu naik-turun bukit. Makin hari anak lembu itu makin besar, dan makin besar pula tenaga yang diperlukan Uwais. Tetapi karena latihan tiap hari, anak lembu yang membesar itu tak terasa lagi.

Setelah 8 bulan berlalu, sampailah pada musim haji. Lembu Uwais telah mencapai 100 kilogram, begitu juga otot Uwais yang makin kuat. Ia menjadi bertenaga untuk mengangkat barang. Tahukah sekarang orang-orang, apa maksud Uwais menggendong lembu setiap hari? Ternyata ia sedang latihan untuk menggendong ibunya.

Uwais menggendong Ibunya berjalan kaki dari Yaman ke Makkah! Subhanallah, alangkah besar cinta Uwais pada ibunya itu. Ia rela menempuh perjalanan jauh dan sulit, demi memenuhi keinginan ibunya.

Uwais berjalan tegap menggendong ibunya wukuf di Ka’bah. Ibunya terharu dan bercucuran air mata telah melihat Baitullah. Di hadapan Ka’bah, ibu dan anak itu berdoa.

“Ya Allah, ampuni semua dosa ibu,” kata Uwais.

“Bagaimana dengan dosamu?” tanya sang Ibu keheranan.

Uwais menjawab, “Dengan terampuninya dosa ibu, maka ibu akan masuk surga. Cukuplah ridha dari ibu yang akan membawaku ke surga.”

Itulah keinginan Uwais yang tulus dan penuh cinta. Allah subhanahu wata’ala pun memberikan karunia untuknya. Uwais seketika itu juga sembuh dari penyakit sopaknya. Hanya tertinggal bulatan putih ditengkuknya. Tahukah kalian apa hikmah dari bulatan disisakan di tengkuknya Uwais tersebut? Ituah tanda untuk Umar bin Khaththab dan Ali bin Abi Thalib, dua sahabat Rasulullah untuk mengenali Uwais.

Beliau berdua sengaja mencari di sekitar Ka’bah karena Rasulullah berpesan, “Di zaman kamu nanti akan lahir seorang manusia yang doanya sangat makbul. Kalian berdua, pergilah cari dia. Dia akan datang dari arah Yaman, dia dibesarkan di Yaman.”

“Sesungguhnya Allah mengharamkan atas kamu durhaka pada ibu dan menolak kewajiban, dan meminta yang bukan haknya, dan membunuh anak hidup-hidup, dan Allah, membenci padamu banyak bicara, dan banyak bertanya, demikian pula memboroskan harta (menghamburkan kekayaan).” (HR Bukhari dan Muslim)

Uwais Al Qarni pergi ke Madinah

Setelah menempuh perjalanan jauh, akhirnya Uwais Al Qarni sampai juga di kota Madinah. Segera ia mencari rumah Nabi Muhammad. Setelah ia menemukan rumah Nabi, diketuknya pintu rumah itu sambil mengucapkan salam, keluarlah seseorang seraya membalas salamnya. Segera saja Uwais Al Qarni menyakan Nabi yang ingin dijumpainya. Namun ternyata Nabi tidak berada di rumahnya, beliau sedang berada di medan pertempuran. Uwais Al Qarni hanya dapat bertemu dengan Siti Aisyah r.a., istri Nabi. Betapa kecewanya hati Uwais. Dari jauh ia datang untuk berjumpa langsung dengan Nabi, tetapi Nabi tidak dapat dijumpainya.

Dalam hati Uwais Al Qarni bergejolak perasaan ingin menunggu kedatangan Nabi dari medan perang. Tapi kapankah Nabi pulang? Sedangkan masih terniang di telinganya pesan ibunya yang sudah tua dan sakit-sakitan itu,agar ia cepat pulang ke Yaman, “Engkau harus lepas pulang.”

Akhirnya, karena ketaatanya kepada ibunya, pesan ibunya mengalahkan suara hati dan kemauannya untuk menunggu dan berjumpa dengan Nabi. Karena hal itu tidak mungkin, Uwais Al Qarni dengan terpaksa pamit kepada Siti Aisyah r.a., untuk segera pulang kembali ke Yaman, dia hanya menitipkan salamnya untuk Nabi. Setelah itu, Uwais pun segera berangkat pulang mengayunkan lengkahnya dengan perasaan amat sedih dan terharu.

Peperangan telah usai dan Nabi pulang menuju Madinah. Sesampainya di rumah, Nabi menanyakan kepada Siti Aisyah r.a., tentang orang yang mencarinya. Nabi mengatakan bahwa Uwais anak yang taat kepada orang ibunya, adalah penghuni langit. Mendengar perkataan Nabi, Siti Aisyah r.a. dan para sahabat tertegun. Menurut keterangan Siti Aisyah r.a. memang benar ada yang mencari Nabi dan segera pulang ke Yaman, karena ibunya sudah tua dan sakit-sakitan sehingga ia tidak dapat meninggalkan ibunya terlalu lama. Nabi Muhammad melanjutkan keterangannya tentang Uwais Al Qarni, penghuni langit itu, kepada sahabatnya, “Kalau kalian ingin berjumpa dengan dia, perhatikanlah ia mempunyai tanda putih di tengah telapak tangannya.”

Sesudah itu Nabi memandang kepada Ali bin Abi Thalib dan Umar bin Khaththab seraya berkata, “Suatu ketika apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah doa dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit, bukan orang bumi.”

Waktu terus berganti, dan Nabi kemudian wafat. Kekhalifahan Abu Bakar pun telah digantikan pula oleh Umar bin Khaththab. suatu ketika Khalifah Umar teringat akan sabda Nabi tentang Uwais Al Qarni, penghuni langit. Beliau segera mengingatkan kembali sabda Nabi itu kepada sahabat Ali bin Abi Thalib. Sejak saat itu setiap ada kafilah yang datang dari Yaman, Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib selalu menanyakan tentang Uwais Al Qarni, si fakir yang tak punya apa-apa itu. yang kerjanya hanya menggembalakan domba dan unta setiap hari? Mengapa Khalifah Umar dan sahabat Nabi, Ali bin Abi Thalib selalu menanyakan dia?

Rombongan kafilah dari Yaman menuju Syam silih berganti, membawa barang dagangan mereka. Suatu ketika, Uwais Al Qarni turut bersama mereka. Rombongan kafilah itu pun tiba di kota Madinah. Melihat ada rombongan kafilah yang baru datang dari Yaman, segera Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib mendatangi mereka dan menanyakan apakah Uwais Al Qarni turut bersama mereka. Rombongan kafilah itu mengatakan bahwa Uwais ada bersama mereka, dia sedang menjaga unta-unta mereka di perbatasan kota. Mendengar jawaban itu, Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib segera pergi menjumpai Uwais Al Qarni.

Sesampainya di kemah tempat Uwais berada, Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib memberi salam. Tapi rupanya Uwais sedang salat. Setelah mengakhiri salatnya dengan salam, Uwais menjawab salam Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib sambil mendekati kedua sahabat Nabi tersebut dan mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Sewaktu berjabatan, Khalifah dengan segera membalikan telapak tangan Uwais, seperti yang pernah dikatakan Nabi. Memang benar! Tampaklah tanda putihdi telapak tangan Uwais Al Qarni.

Wajah Uwais nampak bercahaya. Benarlah seperti sabda Nabi. Bahwa ia adalah penghuni langit. Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib menanyakan namanya, dan dijawab, “Abdullah”. Mendengar jawaban Uwais, mereka tertawa dan mengatakan, “Kami juga Abdullah, yakni hamba Allah. Tapi siapakah namamu yang sebenarnya?” Uwais kemudian berkata, “Nama saya Uwais Al Qarni”.

Dalam pembicaraan mereka, diketahuilah bahwa ibu Uwais telah meninggal dunia. Itulah sebabnya, ia baru dapat turut bersama rombongan kafilah dagang saat itu. akhirnya Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib memohon agar Uwais membacakan doa dan Istighfar untuk mereka. Uwais enggan dan dia berkata kepada Khalifah, “Saya lah yang harus meminta do’a pada kalian”.

Mendengar perkataan Uwais, “Khalifah berkata, “Kami datang kesini untuk mohon doa dan istighfar dari Anda”. Seperti dikatakan Rasulullah sebelum wafatnya. Karena desakan kedua sahabat ini, Uwais Al Qarni akhirnya mengangkat tangan, berdoa dan membacakan istighfar. Setelah itu Khalifah Umar berjanji untuk menyumbangkan uang negara dari Baitul Mal kepada Uwais untuk jaminan hidupnya. Segera saja Uwais menampik dengan berkata, “Hamba mohon supaya hari ini saja hamba diketahui orang. Untuk hari-hari selanjutnya, biarlah hamba yang fakir ini tidak diketahui orang lagi.”



Fenomena ketika Uwais Al Qarni Wafat


Beberapa tahun kemudian, Uwais Al Qarni berpulang ke rahmatullah. Anehnya, pada saat dia akan di mandikan, tiba-tiba sudah banyak orang yang ingin berebutan ingin memandikannya. Dan ketika di bawa ke tempat pembaringan untuk dikafani, di sana pun sudah ada orang-orang yang sudah menunggu untuk mengafaninya. Demikian pula ketika orang pergi hendak menggali kuburannya, di sana ternyata sudah ada orang-orang yang menggali kuburnya hingga selesai. Ketika usungan dibawa ke pekuburannya, luar biasa banyaknya orang yang berebutan untuk menusungnya.   

Meninggalnya Uwais Al Qarni telah menggemparkan masyarakat kota Yaman. Banyak terjadi hal-hal yang amat mengherankan. Sedemikian banyaknya orang yang tak kenal berdatangan untuk mengurus jenazah dan pemakamannya, padahal Uwais Al Qarni adalah seorang yang fakir yang tidak dihiraukan orang. Sejak ia dimandikan sampai ketika jenazahnya hendak diturunkan ke dalam kubur, di situ selalu ada orang-orang yang telah siap melaksanakannya terlebih dahulu.

Penduduk kota Yaman tercengang. Mereka saling bertanya-tanya, “Siapakah sebenarnya engkau Wahai Uwais Al Qarni? Bukankah Uwais yang kita kenal, hanyalah seorang fakir, yang tak memiliki apa-apa, yang kerjanya sehari-hari hanyalah sebagai pengembala domba dan unta? Tapi, ketika hari wafatnya, engkau menggemparkan penduduk Yaman dengan hadirnya manusia-manusia asing yang tidak pernah kami kenal.mereka datang dalam jumlah sedemikian banyaknya. Agaknya mereka adalah para malaikat yang diturunkan ke bumi, hanya untuk mengurus jenazah dan pemakamannya.”

Berita meninggalnya Uwais Al Qarni dan keanehan-keanehan yang terjadi ketika wafatnya telah tersebar kemana-mana. Baru saat itulah penduduk Yaman mengetahuinya, siapa sebenarnya Uwais Al Qarni. Selama ini tidak ada orang yang mengetahui siapa sebenarnya Uwais Al Qarni disebabkan permintaan Uwais Al Qarni sendiri kepada Khalifah Umar dan Ali bin Abi Thalib agar merahasiakan tentang dia. Barulah di hari wafatnya mereka mendengar sebagaimana yang telah di sabdakan oleh Nabi, bahwa Uwais Al Qarni adalah penghuni langit.

Begitulah Uwais Al Qarni, sosok yang sangat berbakti kepada orang tua, dan itu sesuai dengan sabda Rasulullah ketika beliau ditanya tentang peranan kedua orang tua. Beliau menjawab, “Mereka adalah (yang menyebabkan) surgamu atau nerakamu.” (HR Ibnu Majah).

M. Haromain,

Alumnus Pondok Pesantren Lirboyo Kediri;

Berdomisili di Pondok Pesantren Nurun ala Nur Bogangan Utara Wonosobo


Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Hadits, Pendidikan Haedar Nashir

Senin, 24 Juli 2017

Ideologi PMII Harus Sama, Pemetaan Kader Lihat Potensi Lokal

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia kini telah berusia 57 tahun. Organisasi yang didirikan di Surabaya tersebut, telah memiliki kader dari Sabang sampai Merauke. Para alumnusnya telah memasuki beragam bidang, baik di kemayarakatan maupun di pemerintahan.?

Meski demikian, organisasi yang baik adalah organisasi yang melihat masa lalu, potensi saat ini dan terutama tantangan masa depan. Agar PMII bisa terus eksis menjadi organisasi di kalangan mahasiswa.?

Sebagai salah satu upaya menjawab atau saran untuk PMII, Abdullah Alawi dari Haedar Nashir mewawancarai salah seorang alumnusnya, Juri Ardiantoro, yang saat ini menjadi salah seorang Ketua PBNU dan pernah menjadi Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Pusat. Berikut petikannya: ? ?

Ideologi PMII Harus Sama, Pemetaan Kader Lihat Potensi Lokal (Sumber Gambar : Nu Online)
Ideologi PMII Harus Sama, Pemetaan Kader Lihat Potensi Lokal (Sumber Gambar : Nu Online)

Ideologi PMII Harus Sama, Pemetaan Kader Lihat Potensi Lokal





Bagaimana melihat kaderisasi PMII hari ini?

Haedar Nashir

Kaderisasi harus diperluas orientasinya tidak hanya sekadar menambah jumlah kader. Tapi menambah bobot kader. Bobot kader juga harus diperluas tidak hanya sekadar menghiasi dunia politik, tapi dunia profesional. Dan mulai menyiapkan kader-kader untuk mengambil peran di wilayah itu.

Caranya agar PMII bisa seperti itu bagaimana?

Haedar Nashir

Harus ada pemetaan potensi kader dan pemetaan berdasar keunikan kader di tiap-tiap daerah. Jadi, kaderisasi tak harus mesti sama seluruh daerah, seluruh Indonesia. Pada hal-hal yang sangat prinsip tata, nilai, ideologi harus sama. Tapi pada konteks pengembangan kader dan penyiapan kepemimpinan, ya harus memperhatikan karakater atau keunikan daerah. Sehingga kader PMII tidak setiap kader PMII harus ke Jakarta. Caranya harus pemetaan kader dulu yang membangun satu strategi penguatan kelembagaan dan kader serta bisa memanfaatkan sumber daya di lokal. Jadi, tidak harus ke Jakarta.

Kenapa politik masih pusat perhatian PMII?

Makanya harus diperluas framenya, PMII tidak melulu urusan politik. Dunia profesional harus digeluti. Kalaupun politik, adalah politik dalam upaya penyiapan kader kepemimpinan bangsa, yang lebih luas, bukan sekadar anggota DPR.

Hubungan dengan alumni untuk membangun upaya PMII seperti itu?





Alumni harus menjadi inspiratif, bukan sekadar membangun patronase. Kelemahan organisasi mahasiswa itu kan alumninya membangun patronase sehingga membangun blok-blok. Nah, itu yang tidak bagus. Alumni harus bisa mengemong semua. Ini kader siapa, itu kader siapa. Nah, ini mestinya tidak begitu.?

Selain itu, tantangan PMII ke depan itu apa?

Salah satu tantangan organisasi Islam itu sekarang adalah memoderasi menguatnya kelompok garis keras di kalangan anak muda. Bagaimaana memoderasi radikalisme di kalangan anak muda ini yang harus digarap PMII. Jagan asyik di dunianya, lupa urusan gerakan keislaman di kalangan muda yang sudah mulai menguat unsur-unsur Islam garis kerasnya. Bukan hanya membaca buku, tapi memperkuat gerakan praksis untuk memoderasi gerakan Islam garis keras itu.?

PMII mampu melakukan hal itu? ?

Ya mampu karena PMII itu kan sudah menjadi organisasi besar ya, hampir di seluruh daerah mempunyai basis. Cuma ya itu tadi, orientasinya harus diubah tidak hanya urusan politik. Tapi kalaupun politik harus politik tingkat tinggi, jangan melupakan urusan lokal, mushala, kampus.?

Sebagai alumnus PMII, bagi Anda, apa manfaat berorganisasi di PMII itu?

Pada zaman saya itu kan di PMII menjadi tempat, menjadi media dimana kita diperkenalkan dengan bagaimana cara mengkonkretkan semangat kepemudaan yang berbasis agama. Itulah manfaatnya. Kemudian dengan ber-PMII, kita punya pandangan lebih luas, tidak sempit karena bertemu dengan banyak orang dan bertemu banyak perspektif pemikiran, banyak orang; dan kita juga bertemu dengan banyak potensi di tempat lain yang mungkin tidak kita temukan kalau tidak ikut organisasi. ?

Apa pesan pribadi kepada kader-kader PMII di seluruh Indonesia?

Mumpung masih muda dan PMII, berorganisasi tidak sekadar ingin bergaul atau memperoleh status di organisasi, tapi berorganisasi harus memiliki makna untuk dirinya sendiri dan bagi organisasi sendiri, dan bagi masyarakat pada umumnya. Jadi, organisasi menjadi alat untuk memberdayakan dirinya sebelum juga memberdayakan lingkungannya.?

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Nahdlatul Haedar Nashir

NU Pecahkan 2 Rekor Dunia MURI di Peringatan Hari Santri 2016

Jakarta, Haedar Nashir. Di peringatan Hari Santri Nasional 2016, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) berhasil memecahkan 2 rekor dunia MURI untuk pembacaan serentak 1 miliar shalawat Nariyah dan kirab terjauh (2000 km).

Kirab Resolusi Jihad NU menempuh jarak dari Banyuwangi ke Jakarta. PBNU menerjunkan sekitar 150 Tim Kirab Resolusi Jihad yang singgah dari tempat bersejarah satu ke tempat bersejarah lain.?

NU Pecahkan 2 Rekor Dunia MURI di Peringatan Hari Santri 2016 (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Pecahkan 2 Rekor Dunia MURI di Peringatan Hari Santri 2016 (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Pecahkan 2 Rekor Dunia MURI di Peringatan Hari Santri 2016

Antusisme masyarakat dalam menyambut Kirab Resolusi Jihad juga cukup tinggi. Hal ini dibuktikan dengan berjejernya masyarakat dan santri di sepanjang jalan untuk menyapa Tim Kirab yang diketuai oleh Wasekjen PBNU Isfah Abidal Aziz.?

“Kirab menggunakan kendaraan dengan jarak terjauh selama ini di dunia hanya dilakukan oleh NU dengan Kirab Resolusi Jihadnya,” ujar Ketua Umum MURI Jaya Suprana saat menyerahkan piagam Rekor Dunia MURI kepada Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, Sabtu (22/10) dalam apel akbar dan upacara Hari Santri Nasional di Monas Jakarta.?

Haedar Nashir

Demikian juga dengan gerakan pembacaan 1 miliar shalawat nariyah secara serentak yang diinisiasi oleh PBNU. Pembacaan shalawat serentak hanya berlangsung satu malam dengan beberapa jam saja.

Warga NU ramai-ramai mengisi masjid, mushola, majelis taklim, madrasah, pesantren dan kantor-kantor pengurus untuk membaca shalawat nariyah yang bertujuan untuk mendoakan bangsa dan negara Indonesia agar tetap aman, makmur, damai, dan berkeadilan.

Pembacaan shalawat yang diyakini memiliki banyak keberkahan ini juga dilakukan oleh para pengurus PCINU di 24 negara.

“Belum pernah ada muslim di dunia ini yang membaca shalawat hingga 1 miliar secara bersamaan, NU luar biasa sudah melakukannya,” terang Jaya Suprana.

Rekor Dunia MURI ini membuktikan karakter santri dan NU sebagai elemen bangsa yang terus bekerja keras dalam membangun spirit kehidupan bangsa dan negara yang lebih baik di segala bidang kehidupan. Ikhtiar spiritual seperti pembacaan shalawat nariyah juga tidak semata kepentingan kelompok, tetapi demi menjaga keutuhan dan kemakmuran bangsa. (Fathoni)?

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kyai, Hikmah, Pendidikan Haedar Nashir

Minggu, 23 Juli 2017

Presiden dan Masyarakat Peringati Maulid di Monas

Jakarta, Haedar Nashir. Sebagian umat muslim Jakarta memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 1435 H di Lapangan Monumen Nasional (Monas) pada Selasa pagi.

Presiden dan Masyarakat Peringati Maulid di Monas (Sumber Gambar : Nu Online)
Presiden dan Masyarakat Peringati Maulid di Monas (Sumber Gambar : Nu Online)

Presiden dan Masyarakat Peringati Maulid di Monas

Warga yang kebanyakan mengenakan pakaian putih dan sebagian mengenakan jaket hitam bertulisan "Majelis Rasulullah" pada bagian belakang menghadiri acara yang berlangsung mulai sekitar pukul 08.00 sampai 10.00 WIB tersebut.

Lapangan Monas dipadati warga yang menghadiri acara yang juga dihadiri oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tersebut. Sebagian bus dan mobil warga yang mengikuti acara tersebut diparkir di Jalan Merdeka Selatan.

Haedar Nashir

Peringatan Maulid Nabi yang dihadiri ribuan orang dari Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi itu diisi dengan dzikir dan tausyiah oleh Habib Ahmad bin Jindan.

Haedar Nashir

Usai acara sebagian peserta melakukan konvoi menggunakan motor meninggalkan kawasan Monas dan sebagian lainnya berjalan kaki keluar dari area Monas ke kawasan Merdeka Barat dan Merdeka Timur, membuat para pengendara yang melewati jalanan itu memelankan laju kendaraan mereka.

Namun hal itu tidak sampai menimbulkan kemacetan panjang. Aparat kepolisian terlihat mengatur lalu lintas di sekitar kawasan tersebut.

Dalam kesempatan tersebut Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan, Rasulullah Muhammad SAW merupakan pemimpin transformatif yang mampu mengubah masyarakat dari jaman kegelapan menuju era baru yang penuh iman.

"Kita berterimakasih pada Muhamad karena beliau telah mengajarkan Islam, membimbing kita, telah memimpin perubahan masa besar, yang sering kita sebut transformasi, dari jaman kegelapan ke jaman penuh cahaya iman," kata Presiden Yudhoyono.

Presiden dalam kesempatan itu mengatakan, pribadi Nabi Muhammad SAW merupakan pribadi paripurna yang harus menjadi teladan pemimpin. Nabi merupakan seorang pekerja keras, selalu menuntut ilmu, dan menjadi pengayom bagi masyarakatnya. 

"Beliau mengayomi semua, membangun toleransi, menjaga ukhuwah dan kerukunan bagi semua yang dipimpin. Ini cocok dikaitkan dengan Indonesia, umat Islam terbesar di dunia tetapi negara kita bangsa yang majemuk," kata Presiden. 

Presiden menambahkan, sifat-sifat kepemimpinan Nabi yang bekerja keras dan pantang untuk menyerah juga harus menjadi contoh bagi bangsa Indonesia untuk terus membangun dan tidak berputus asa. Menurut dia, tidak ada jalan pintas dalam menggapai cita-cita mulia. 

Presiden dalam kesempatan itu juga berpesan, mendekati pemilu 2014, agar semua komponen bangsa menjaga keamanan dan ketertiban serta terus meningkatkan kerukunan. (antara/mukafi niam)

Foto: Antara

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Habib, Anti Hoax Haedar Nashir

Pesantren Lirboyo, Dari Bela Diri Tradisional Hingga Pameran Akik

Kediri, Haedar Nashir. Serangkaian kegiatan dilaksanakan oleh Pondok Pesantren Lirboyo Kota Kediri dalam rangka menyambut Muktamar ke-33 Nahdlatul Ulama di Jombang dan Reuni Akbar Pesantren Lirboyo Kediri ke-115.?

Pesantren Lirboyo, Dari Bela Diri Tradisional Hingga Pameran Akik (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Lirboyo, Dari Bela Diri Tradisional Hingga Pameran Akik (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Lirboyo, Dari Bela Diri Tradisional Hingga Pameran Akik

Diantara kegiatan yang diselenggarakan, yaitu Pasar Rakyat, Pameran Batu Nusantara (Akik) dan Pencak Dor (Open Bar) atau pertarungan terbuka, yakni sebuah pertandingan pencak silat atau beladiri tradisional antar-jawara se-Karesidenan Kediri.?

Acara yang dimulai sejak tanggal 19-26 Mei 2015 itu diselenggarakan atas kerja sama antara Keluarga Besar Pesantren Lirboyo, PCNU Kota Kediri dan PC GP Ansor Kota Kediri serta PT Gudang Garam Kediri.

Haedar Nashir

“Pasar Rakyat dan pameran Akik kita selenggarakan mulai tanggal 19-26 Mei 2015. Khusus untuk pameran Batu Nusantara kita mulai pukul 15.00 sampai pukul 22.00,” ungkap Gus Mamik, salah seorang panitia penyelenggara, Kamis (21/5).

Menurut Ketua GP Ansor Kota Kediri itu, selama pameran batu Nusantara berlangsung akan dilakukan juga lelang On The Sport. “Lelang akan dilakukan ? setiap hari mulai pukul 15.00 WIB hingga selesai,” katanya.

Haedar Nashir

Selain gelar pameran batu yang saat ini sedang digandrungi masyarakat tersebut, lanjut Gus Mamik, panitia juga akan menggelar kesenian beladiri tradisional warga NU Majapahitan berupa Pencak Dor (Open Bar) atau pertarungan terbuka.?

Dikatakannya pertarungan terbuka, karena setiap jawara pencak silat yang tampil tidak akan pilih-pilih lawan yang akan dihadapi. Semua dilakukan secara terbuka satu lawan satu sesuai aturan di dunia pencak dor. “Siapa saja boleh ambil bagian di acara ini. Yang penting berani dan memiliki teknik bertanding,” terangnya. ?

Biasanya, tandas Mamik, para jawara pencak dor dari masing-masing kabupaten di sekitar Kediri akan tumplek blek di lapangan Aula Muktamar untuk ikut ambil bagian. Tidak jarang Open Bar disaksikan puluhan ribu penonton.? “Ini kesenian klasik yang ? masih bertahan di wilayah Karesidenan Kediri,” katanya. (Imam Kusnin/Fathoni)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pemurnian Aqidah Haedar Nashir