Selasa, 01 Agustus 2017

PBNU Desak Pemerintah Sikapi Kantor OPM Oxford

Jakarta, Haedar Nashir. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mendesak pemerintah Indonesia untuk mensikapi dengan serius atas pembukaan kantor Organisasi Papua Merdeka (OPM) di Oxford Inggris. PBNU meminta pemerintah Indonesia memprotes keras kepada pemerintah Inggris yang telah memfasilitasi pembukaan kantor tersebut.

PBNU Desak Pemerintah Sikapi Kantor OPM Oxford (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Desak Pemerintah Sikapi Kantor OPM Oxford (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Desak Pemerintah Sikapi Kantor OPM Oxford

Demikian dinyatakan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj di Jakarta, Kamis (9/5). Menurut Said, Papua telah final menjadi bagian NKRI. Karenanya Pemerintah harus menunjukkan sikap tegas terhadap upaya-upaya disintegrasi dan dan usaha-usaha yang merongrong kedaulatan dan keutuhan bangsa Indonesia.

"Sudah disepakati di PBB bahwa Papua menjadi bagian mutlak bangsa Indonesia. Dan dalam hal ini Inggris turut menandatangani kesepakatan tersebut. Bila Menteri Luar Negeri sudah melayangkan protes namun belum cukup, maka presiden patut untuk mengambil sikap lebih tegas," tandas Kyai Said. 

Haedar Nashir

Sebelumnya, Pada Sabtu akhir pekan lalu, Kementerian Luar Negeri menyampaikan protes keras dan keberatan atas pembukaan kantor OPM di Oxford Inggris.  

"Dubes RI di London telah menyampaikan posisi pemerintah tersebut kepada pemerintah Inggris dan hal yang sama akan kami sampaikan kepada Kedubes Inggris di Jakarta," kata Menlu Marty Natalegawa.

Haedar Nashir

Penulis : Syaifullah Amin 

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pahlawan Haedar Nashir

Yang Bawa HP Dibunuh

Udin sebenarnya sudah berada di masjid dan siap menunaikan shalat Jum’at. Tapi tiba-tiba pulang setelah ada pengumuman pengurus ta’mir masjid perihal jamaah yang bawa telepon genggam.

Sesampai di rumah, ibunya bertanya: "Gak Jum’atan, Din?"

Yang Bawa HP Dibunuh (Sumber Gambar : Nu Online)
Yang Bawa HP Dibunuh (Sumber Gambar : Nu Online)

Yang Bawa HP Dibunuh

"Mboten, Buk (Tidak, Bu)!"

"Kenapa?"

Haedar Nashir

Haedar Nashir

“Karena saya bawa HP,” jawab Udin polos.

"Lah! Kenapa membawa HP kok tidak Jum’atan?" Sang ibu heran.

"Tadi pengurus ta’mir masjid kasih pengumuman, “Sing betho HP tolong dipatheni (Yang bawa HP harap dibunuh/dimatikan)". Ya, saya lari!”

“Hoh?”

(Ahmad Rosyidi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Bahtsul Masail, Nasional Haedar Nashir

Senin, 31 Juli 2017

Semarak Tadarus Al-Quran di Subulussalam Aceh

Subulussalam, Haedar Nashir

Semaraknya suasana tadarusan membaca Al-Quran di Subulussalam, Aceh kian menambah nuansa bulan Ramadhan di wilayah ini. Kegiatan tadarusan dimulai setelah selesainya pelaksanaan shalat tarawih berjamaah di masjid.

Semarak Tadarus Al-Quran di Subulussalam Aceh (Sumber Gambar : Nu Online)
Semarak Tadarus Al-Quran di Subulussalam Aceh (Sumber Gambar : Nu Online)

Semarak Tadarus Al-Quran di Subulussalam Aceh

Pada kegiatan tersebut, mulai dari anak-anak tingkat sekolah dasar (SD) sampai ke kalangan kaum remaja, turut serta. Mereka pun membentuk lingkaran kelompok-kelompok tadarusan dan saling bergiliran membacakan ayat demi ayat di dalam kitab Al-Quran.

Berdasarkan pantauan Haedar Nashir di beberapa masjid, hampir seluruh mushalla dan masjid di wilayah Subulussalam, kegiatan tadarusan diramaikan oleh kalangan anak-anak usia sekolah dasar dan kalangan kaum remaja. Lantunan ayat-ayat suci terdengar membahana lewat corong mikropon, sambut-menyambut dan menggema dari masjid ke masjid sampai dini hari.

Haedar Nashir

Kegiatan tadarusan ini merupakan rutinitas yang sudah membudaya di Subulussalam pada setiap kali bulan Ramadhan. Kelompok peserta tadarus menyelesaikan baca-bacaannya dari Surat Al-Fatihan hingga Juz ‘Amma sebagai target untuk dikhatamkan di malam kedua puluh tujuh Ramadhan, karena malam itu adalah akhir puncak kegiatan tadarusan.

Haedar Nashir

Seperti yang dilakukan oleh Malim Sabar Pardosi, seorang Kepala Desa di Dah, Kecamatan Runding, Subulussalam, Aceh, dimana ia selalu mengajak anak-anaknya untuk mengisi kegiatan tadarusan di masjid desanya, bahkan ia menunggu anak-anaknya sampai selesai melaksanakan tadarus.

"Saya melakukan ini, karena saya ingin anak-anak saya gemar dalam kegiatan-kegiatan religi (keagamaan)," tutur Malim Sabar kepada Haedar Nashir, Senin malam (20/6).

Sementara itu, selain kegiatan tadarus juga ada hal menarik yang dapat ditemui setiap malam pelaksanaan tadarusan, yaitu tatingan-tatingan warga untuk orang-orang bertadarusan.

Tatingan-tatingan tersebut adalah makanan dan minuman yang dihantarkan oleh warga ke masjid. Tatingan-tatingan penganan ini pun juga berlangsung selama kegiatan tadarusan. (Nukman Suryadi Angkat/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Tegal, Ahlussunnah, Pendidikan Haedar Nashir

Ma’arif Kabupaten Semarang Adakan Lomba Kreativitas Guru MI

Semarang,Haedar Nashir. Kelompok Kerja Guru (KKG) MI Ma’arif Kabupaten Semarang kembali mengadakan lomba kreativitas guru untuk ketiga kalinya pada hari Rabu 26 November 2014. Lomba tahun ini bertema “bersinergi dengan teknologi menuju madrasah berprestasi”.

Perlombaan tersebut diikuti 33 nominator dari 107 madrasah dibawah naungan LP Ma’arif Kabupaten Semarang. Perlombaan dibagi dalam tiga kategori? yaitu media pembelajaran interaktif, blog madrasah, dan blog guru.

Ma’arif Kabupaten Semarang Adakan Lomba Kreativitas Guru MI (Sumber Gambar : Nu Online)
Ma’arif Kabupaten Semarang Adakan Lomba Kreativitas Guru MI (Sumber Gambar : Nu Online)

Ma’arif Kabupaten Semarang Adakan Lomba Kreativitas Guru MI

Terpilih sebagai pemenang dalam Lomba ini untuk? kategori Media Pembelajaran Interaktif : Noema Didik Santosa, Nur Rahmat dan Nur Farid Makru ketiganya dari ungaran Barat. Untuk kategori blog Madrasah : MI Cemanggal (Bergas),MI Ma’arif Keji ( Ungaran Barat) dan MI Tarbiyatul Ulum Jembrak (Pabelan) dan untuk kategori Blog guru adalah Moh Safari (Pabelan), Nafian Nugroho (Bergas) dan Ida Ubaidah (Ungaran Barat).

Haedar Nashir

Dalam kesempatan itu Pengurus Cabang NU Kab Semarang H. Ahmad Hanik M.Pd.I memberikan apresiasi terhadap kegiatan ini dengan harapan semakin banyak tercipta guru-guru? yang kreatif dari rahim LP Ma’arif sehingga mampu melahirkan kader jamiyah yang handal dalam menyongsong perubahan kurikulum.

Hadir dalam kegiatan ini pengurus wilayah Ma’arif Jawa Tengah Drs Faojin yang juga memberikan semangat yang luarbiasa bagi sahabat guru untuk selalu berkarya dan berkreasi sebagai upaya peningkatan kwalitas kompetensi guru dalam melaksanakan tugasnya.

Haedar Nashir

Secara resmi kegiatan ini dibuka oleh kepala kantor kementrian Agama Kab Semarang? Drs. Subadi, M.Si yang didampingi oleh kepala seksi pendidikan madrasah Drs. Muhtadi, MPd. Ia menyampaikan penghargaan secara khusus kepada para pemenang dengan harapan akan semakin banyak guru madrasah yang kreatif maka berdampak positif bagi perkembangan madrasah di kabupaten Semarang. (Har/Alw)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Meme Islam, Cerita Haedar Nashir

Warga Solo Buka Bersama Sinta Nuriyah di Loji Gandrung

Solo, Haedar Nashir. Halaman rumah dinas walikota Solo, Loji Gandrung, pada Sabtu (20/7) sore kemarin terlihat lebih ramai dari biasanya. Sekitar 300 orang yang berasal dari wilayah Solo dan sekitar hadir ke tempat ini untuk mengikuti dialog dan buka puasa bersama Hj. Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid.

Kota Solo menjadi salah satu kota langganan untuk digelarnya kegiatan buka puasa bersama keluarga Gus Dur ini pada setiap tahunnya ketika bulan Ramadhan tiba. Kegiatan yang diselenggarakan atas kerjasama Pemkot Solo dan Keluarga alumni Ma’had Al Muayyad (Kamal) Solo ini mengangkat tema dialog "Puasa: Sekolah untuk Kesabaran dan Kejujuran".

Warga Solo Buka Bersama Sinta Nuriyah di Loji Gandrung (Sumber Gambar : Nu Online)
Warga Solo Buka Bersama Sinta Nuriyah di Loji Gandrung (Sumber Gambar : Nu Online)

Warga Solo Buka Bersama Sinta Nuriyah di Loji Gandrung

Walikota Solo, FX Hadi Rudyatmo, dalam sambutannya menyampaikan rasa bangganya ketika istri dari Presiden RI ke-4 ini bisa kembali hadir di Kota Solo. Ia juga menuturkan bahwa Solo yang baru saja mendeklarasikan diri sebagai kota Shalawat terus berupaya menciptakan suasana kota yang nyaman, aman, dan kondusif.

Haedar Nashir

“Solo sudah kita tetapkan sebagai kota Shalawat,” tegasnya.

Sementara Sinta Nuriyah menuturkan bahwa kegiatan ini sudah dilakukannya sejak Gus Dur masih menjadi presiden. Tidak hanya buka puasa bersama yang dilakukan, sahur bersama pun juga ia lakukan dalam setiap tour Ramadhannya.

Haedar Nashir

Di hadapan para warga yang hadir, Sinta menyatakan bahwa tema dialog yang diusungnya ini disesuaikan dengan situasi dan kondisi bangsa saat ini. “Setiap tahun temanya berubah-ubah sesuai kondisi bangsa,” ujar perempuan kelahiran Jombang, 8 Maret 1948 ini.

Dalam kesempatan tersebut, sosok yang dikenal pluralis ini juga menyatakan, “kita ini hidup di negara Bhinneka Tunggal Ika. Artinya Indonesia ini terdiri dari berbagai suku bangsa dan agama.”

Mengingat kondisi bangsa yang belakangan ini sering terjadi konflik antar kelompok agama maupun suku, lewat pernyataannya tersebut, Sinta ingin mengajak kepada semuanya untuk senantiasa berbagi kasih dan sayang dalam hal kemanusiaan.

Ia menuturkan bahwa banyak yang berpuasa namun tidak tahu makna dan hakekat puasa itu sendiri. Puasa bukan hanya sebatas pengguguran kewajiban seorang hamba kepada Tuhannya semata. Namun dari puasa kita belajar memaknai hidup lewat mereka yang kurang mampu agar kita saling berbagi.

“Ternyata kaum muslimin dan muslimat ketika menjalankan puasa masih banyak yang belum mengerti tentang makna dan hakekat puasa yang sesungguhnya. Islam itu sangat menjunjung tinggi kemanusiaan maka dari itu kita diajarkan untuk saling berbagi,” tandasnya.

Ia menegaskan bahwa inti dari puasa itu bukan hanya menahan lapar dan dahaga. Lebih dari itu adalah supaya kita sebagai hamba menjadi orang-orang yang bertakwa seperti yang telah tertuang dalam QS Al-Baqarah ayat 183.

Redaktur ? ? : A. Khoirul anam

Kontributor: Ahmad Rodif Hafidz

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Khutbah Haedar Nashir

Serahkan Naskah Akademik, NU Minta Presiden Tetapkan Harlah Pancasila 1 Juni

Pasuruan, Haedar Nashir - Apel Besar Hari Lahir Ke-93 Nahdlatul Ulama (NU) yang diselenggarakan di Candrawilwatikta, Pasuruan, Jawa Timur, Sabtu (30/4), menjadi momen bersejarah. Dalam apel tersebut NU mengusulkan secara resmi kepada Presiden Joko Widodo untuk menetapkan 1 Juni sebagai Hari Lahir Pancasila.

NU sudah melakukan kajian akademik dan hasilnya menentukan 1 Juni sebagai Hari Lahir Pancasila. Hal itu sesuai dengan kesaksian dan pernyataan Ketua PBNU Almarhum KH Masykur bahwa kelahiran Pancasila dimulai dari pidato Bung Karno.

Serahkan Naskah Akademik, NU Minta Presiden Tetapkan Harlah Pancasila 1 Juni (Sumber Gambar : Nu Online)
Serahkan Naskah Akademik, NU Minta Presiden Tetapkan Harlah Pancasila 1 Juni (Sumber Gambar : Nu Online)

Serahkan Naskah Akademik, NU Minta Presiden Tetapkan Harlah Pancasila 1 Juni

"NU berpendapat bahwa Pidato Soekarno pada 1 Juni 1945 adalah fakta sejarah yang tak dapat disangkal, dan Soekarno adalah penggali Pancasila," jelas Komandan Apel Besar Harlah, H Saifullah Yusuf.

Haedar Nashir

Naskah akademik yang menguatkan pendapat tersebut telah diberikan secara langsung oleh Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj kepada putri Bung Karno yang juga Presiden RI ke-5 Hj Megawati Soekarnoputri. "Nantinya Naskah akademik akan diserahkan kepada Presiden Jokowi," jelas Gus Ipul, Wakil Gubenur Jatim tersebut.

Ketua PWNU Jatim KH Hasan Mutawakkil Alallah saat mengatakan, saat ini hanya ada Hari Kesaktian Pancasila, sedangan hari lahirnya Pancasila belum ada. Menurutnya, usaha NU membuat kajian dan naskah akademik sangat tepat. "Yayasan dan pesantren saja punya tanggal lahir, lah kok bisa Pancasila, puluhan tahun menjadi ideologi dan dasar negara kok tidak punya harlah. Inikan sebuah keniscayaan," terang Kiai Mutawakkil.

Haedar Nashir

"Pancasila terbukti mampu menjadi perekat bagi masyarakat dan membawa ketenteraman di tengah warga Indonesia yang berbeda suku, agama dan kepentingan," lanjutnya.

Dalam apel tersebut dihadiri oleh 10 ribu lebih kader NU, perwakilan organisasi masyarakat, dan sejumlah partai politik. ABG (Anak Buah Gus Dur) dan ABM (Anak Buah Mega) berbaur jadi satu. Terlihat merah, putih, dan hijau menjadi satu. ?

Dalam kesempatan itu, hadir beberapa tokoh antara lain Hj Megawati Soekarnoputri, Wakil Rais Am KH Miftachul Akhyar, Rais Syuriah PBNU KH Mas Subadar, Ketum PBNU KH Said Aqil Siroj, Pangdam V Brawijaya, Wakil Gubenur DKI Djarot Saifullah, Walikota Surabaya Tri Rismaharini, dan utusan PCNU se-Jatim serta pengasuh pesantren se-Jatim turut hadir. (Rof Maulana/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir AlaNu Haedar Nashir

Sabtu, 29 Juli 2017

Santri Perlu Diajari untuk Profesional

Lumajang, Haedar Nashir. Selama ini kegiatan di pondok pesantren masih didominasi rutinitas di tingkat konsepsi, teori dan gagasan. Kalangan santri pun masih belum mampu beraktivitas di tingkat aktualisasi, implementasi dan aksi. Karenanya, lembaga pendidikan berbasis agama Islam itu pun perlu didorong agar lebih berani beraktualisasi sehingga dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Demikian wacana yang mengemuka pada pembukaan Kursus Maintenance Komputer dan Internet untuk Santri yang digelar Pimpinan Pusat (PP) Rabitah Ma’had Islami (RMI) di Lumajang, Jawa Timur, Senin (26/2). Hadir pada acara tersebut Wakil Katib Syuriah PBNU KH Sadid Jauhari, Ketua Umum PP RMI KH Mahmud Ali Zain, Wakil Sektetaris PP RMI HM Sulthan Fatoni dan Wakil Ketua PP RMI Bashori Alwi.

Santri Perlu Diajari untuk Profesional (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Perlu Diajari untuk Profesional (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Perlu Diajari untuk Profesional

”Kita sering melihat kelompok masyarakat sibuk dengan wacana syariat Islam namun kita tidak pernah tahu wujud aktualisasi ke-Islam-an mereka. Contoh nyata, kita sering mengkaji kitab kuning bab bai’ (transaksi jual-beli), namun kita masih belum mampu menerapkannya dalam kegiatan usaha yang profesional,” kata KH Mahmud Ali Zain.

Menurut Kiai Mahmud, banyak sekali potensi pesantren yang belum dimanfaatkan secara optimal karena keterbatasan kemampuan beraktualisasi. Kelemahan tersebut, katanya, dapat diatasi dengan cara memperbanyak kursus-kursus. ”Kursus maintenance komputer ini diharapkan dapat menumbuhkan kegairahan berkreasi. Begitu juga kursus internet yang dapat membantu santri untuk mengakses dunia keilmuan di luar komunitas mereka,”terangnya.

Senada dengan Kiai Mahmud, KH Sadid Jauhari mengatakan, sampai saat ini masih saja ada segelintir orang yang memanfaatkan NU untuk tujuan politik praktis. Tindakan tersebut tentu merugikan NU, baik di masa sekarang maupun mendatang. ”Saya minta agar NU tidak diseret ke mana-mana. Karena NU menjaga jarak yang sama dengan semua partai politik. Karena itu, program PP RMI seperti ini perlu diadakan sesering mungkin untuk menegaskan bahwa corak kegiatan NU yang sudah khittah itu, ya yang begini” ujarnya.

Haedar Nashir

Sementara itu, HM Sulthan Fatoni menjelaskan, program kursus komputer yang diikuti oleh 60 santri se-Jember, Pasuruan dan Lumajang itu akan dilaksanakan hingga tiga bulan mendatang. Sedangkan kursus internet selama enam hari. ”Peserta yang berasal dari Lumajang dapat berangkat dari rumahnya, sedangkan yang dari luar Lumajang ditampung di Ponpes Habibul Abrori Suko Lumajang,” ungkapnya.

Pada kesempatan itu, Sulthan meyakinkan tentang kesiapan tenaga teknisi. ”Kami bekerjasama dengan satu lembaga profesional yang sanggup menggaransi semua peserta kursus menjadi terampil berkomputer dan berinternet. Program ini dirancang cukup ideal dan diharapkan, pesantren-pesantren yang santrinya ikut kursus tidak lagi mempunyai problem tenaga teknisi komputer dan internet,” kata mantan Wakil Sekretaris Jenderal Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar NU itu. (maz)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir

Haedar Nashir RMI NU Haedar Nashir