Jumat, 18 Agustus 2017

Pesantren, Lokomotif Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat

Jakarta, Haedar Nashir. Sebagai salah satu pusat rujukan masyarakat, pesantren dituntut mengembangkan peran untuk menyesuaikan dengan kebutuhan lingkungannya. Di samping menjadi wahana dakwah Islam dan kaderisasi ulama, pesantren bisa pula menjadi lokomotif pemberdayaan ekonomi bagi masyarakat.

Pesantren, Lokomotif Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren, Lokomotif Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren, Lokomotif Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat

Semangat inilah yang diperjuangkan Pengurus Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) Nahdlatul Ulama atau asosiasi pesantren NU melalui program “Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Melalui Pesantren”. Selama tiga bulan terakhir RMI secara gencar melatih ratusan santri dan masyarakat di sekitar pesantren untuk aktif di bidang kewirausahaan.

Akhir April lalu (28-30/4), RMI menggelar pelatihan usaha kecil menengah (UKM) di Pondok Pesantren Kempek, Cirebon. Sebelumnya, kegiatan serupa diadakan di Pesantren Al-Ikhlas, Boyolali, dengan segmen usaha penggemuakan sapi, serta di Pesantren Al-Huda, Ciamis, dengan segmen usaha pertukangan dan industri mebel.

Haedar Nashir

Program yang diikuti para santri senior dan pemuda dari masyarakat di sekitar pesantren ini merupakan hasil kerja sama antara RMI dan Corporate Social Responbility (CSR) Bank Mandiri. Selain menggelar pelatihan, gerakan pemberdayaan ini disertai pendampingan selama kurang lebih satu tahun, untuk mematangkan kesiapan peserta menjadi wirausahaan sesuai bidang yang digelutinya.

Ketua Pengurus Pusat RMI KH Amin Haedari mengakui, pesantren sejak lama menyimpan potensi besar dan beragam. Karena itu, pesantren harus mampu berkontribusi untuk mengembangkan ekonomi masyarakat. “Yang penting, bagaimana semangat kita untuk membangun diri,” ujarnya.

Haedar Nashir

Supaya tetap relevan, RMI sengaja memilih segmen pelatihan yang disesuaikan dengan potensi pesantren dan lingkungannya. Selanjutnya, pesantren bersangkutan diharapakan sanggup mengembangkan pengalaman ini kepada pesantren-pesantren lain.

Saat ini RMINU tengah mulai melakukan pendampingan dan bantuan modal usaha sebagai kelanjutan program ini. Di luar pembangkitan etos wirausaha, program kerja sama ini juga telah menyiapkan program pembangunan sanitasi dan air bersih di sejumlah pesantren di Indonesia.

Redaktur ? ? : A. Khoirul Anam

Kontributor: Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Tegal, Olahraga Haedar Nashir

Kamis, 17 Agustus 2017

GP Ansor NTT Dukung Polisi Putus Rantai Peredaran Narkoba

Kupang, Haedar Nashir. Pengurus GP Ansor NTT menginstruksikan anggotanya untuk berperan aktif membantu Polda NTT dalam gerakan pemberantasan narkoba. Para anggota Ansor NTT setidaknya melaporkan indikasi peredaran narkoba dengan jenis apapun ke pihak kepolisian.

Ketua GP Ansor NTT Abdul Muis mengatakan, generasi muda NTT harus mendukung gerak langkah satuan Narkoba Polda NTT dalam memberantas narkoba di NTT. 

GP Ansor NTT Dukung Polisi Putus Rantai Peredaran Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor NTT Dukung Polisi Putus Rantai Peredaran Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor NTT Dukung Polisi Putus Rantai Peredaran Narkoba

"PW Ansor NTT mendukung penuh upaya kepolisian dalam upaya pengentasan Narkoba jenis apapun yang masuk NTT," katanya.

Haedar Nashir

Jangan sampai generasi muda NTT terpengaruh peredaran narkoba yang semakin luas. Ia juga berharap kepada masyarakat, selalu respon dengan informasi peredaran narkoba dan jika ditemukan atau mengetahui segera memberikan informasi kepada polisi, ungkapnya.

Sebelumnya Polda Nusa Tenggara Timur melalui Direktorat Narkoba melakukan gelar perkara Kasus Narkotika dan obat-obatan terlarang (Narkotika) di Mapolda NTT.

Haedar Nashir

Dua orang tersangka pengedar narkoba Hairil alias Herry warga saleko desa Parangina kecamatan Sape kabupaten Bima NTB dan Abdul Haris alias Rijes warga dusun Sumpi desa Rosabou kecamatan Sape kabupaten Bima NTB, ditangkap saat melakukan pengedaran narkoba jenis ganja ke NTT melalui penyeberangan laut dari Bima menuju Labuan Bajo.

Polisi berhasil menyita 6,7 Gram dari tangan Haris sedangkan 318,2 gram ganja kering siap edar di NTT. Keduanya kerap mengirim pasokan ganja siap edar ke NTT, kata Direktur Direktorat Narkoba Polda NTT Kombes Pol Kumbul KS di Mapolda NTT, Senin (27/1).

Mereka ditangkap oleh satuan direktorat narkoba pada Kamis (22/1) di kantin Kapal KM Cakalang II pelabuhan Kapal Fery Labuan Bajo kecamatan Komodo kabupaten Manggarai Barat. Keduannya dikenakan pasal 114 ayat 1 dan atau pasal (1) undang-undang RI No. 35 Tahun 2009 tentang Narkoba. (Ajhar Jowe/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Halaqoh, PonPes, Daerah Haedar Nashir

Novel Perjalanan Ruhani Sunan Gunung Jati

“Gusti pernah bilang bila air senantiasa mengalir sampai jauh dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah. Meskipun wadahnya berbeda-beda, air selalu memiliki permukaan yang datar. Ini adalah gambaran kodrat Gusti Allah. Dan air tidak pernah melawan kodrat Gusti Kang Murbeng Dumadi. Watak air akan membawa seseorang menempuh jalan kehidupan dengan irama yang paling mudah, dan pada akhirnya akan masuk ke samudra anugerah Gusti Allah,” ujar Patih Keling.?

“Bagaimana ketika air itu mengalir ke Pakuan Pajajaran, hingga akhirnya saling berhadapan dengan Kanjeng Eyang,” batin Syarif Hidayatullah. ?

Novel Perjalanan Ruhani Sunan Gunung Jati (Sumber Gambar : Nu Online)
Novel Perjalanan Ruhani Sunan Gunung Jati (Sumber Gambar : Nu Online)

Novel Perjalanan Ruhani Sunan Gunung Jati

Dialog spiritual di atas menjadi semacam energi yang mengantarkan Sunan Gunung Jati menemui eyangnya, menghabiskan waktu untuk berdakwah. Jauh sebelum itu secara emosional ibunya, Syarifah Mudaim – telah memberi bekal berbagai kearifan yang tak ditemukan di tanah kelahiran suaminya. Kearifan yang akan menjadi modal utama dalam melakukan dakwah, maupun bergaul dengan para wali tanah Jawa. Melalui cerita, ia telah memberi pemahaman bagaimana bibit Islam disemaikan di daerah Caruban, diawali oleh seorang saleh bernama Syaikh Datuk Kahfi.?

Dalam Babad Tanah Sunda Babad Cirebon yang ditulis Pangeran S. Sulendraningrat, penyebar islam ini disebut dengan nama Syeh Nurjati. Santri generasi pertama yang berguru kepada Syaikh Datuk Kahfi, tak lain putra-putri Prabu Siliwangi dari permaisuri Nyai Ratu Subanglarang. Nama Nyimas Rarasantang, putri kedua Sri Baginda Maharaja Prabu Siliwangi dari permaisuri Nyai Ratu Subanglarang, setelah menunaikan ibadah haji dan menjadi istri Syarif Abdullah, Sultan Palestina.?



Jauh sebelum itu di Tanjungpura, Karawang, juga telah berdiri Pesantren Quro. Salah seorang santrinya adalah Nyai Subang Larang putri Ki Gedeng Tapa dari Kerajaan Singapura Muara Jati yang masih keturunan Raja Sunda, Prabu Niskala Wastu Kancana. Nyai Subang Larang kemudian dijodohkan dengan Raden Pamanah Rasa, Putra Mahkota Kerajaan Pajajaran. Dari rahim Nyai Subang Larang ini kemudian lahir Pangeran Walangsungsang dan Nyimas Rarasantang.?

Haedar Nashir

Sebelum berkenan dipersunting, Nyai Subang Larang mengajukan tiga syarat yang harus dipenuhi yaitu disediakan bintang saketi. Dalam Novel Prabu Siliwangi: Bara Di Balik Terkoyaknya Raja Digdaya (Edelweiss (Pustaka IIMaN Group), 2009) dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan bintang saketi tak lain adalah tasbih, yang merupakan simbol islam. Sehingga sekalipun diperistri seorang raja yang agama negaranya belum Islam, Nyai Subang Larang tetap bersikeras agar diperkenankan melaksanakan wirid dan ritual Islam lainnya. Anak-anaknya kelak harus jadi muslim dan muslimah.?

Perjalanan dakwah Syarif Hidayatullah – kelak dikenal sebagai Sunan Gunung Jati – ke bumi Jawa memetakan apa yang telah dilakukan ibu dan uwaknya, Nyimas Rarasantang dan Pangeran Walangsungsang. Sejarah memang senantiasa berulang. Ketika meninggalkan istana di Palestina – padahal ia telah diangkat sebagai sultan menggantikan almarhum ayahnya – seperti mengulang apa yang dilakukan uwaknya, Pangeran Walangsungsang dan ibunya Nyimas Rarasantang saat meninggalkan Keraton Pakuan Pajajaran.

Syarif Hidayatullah memperdalam nur muhammad dari satu guru mursyid kepada guru lainnya, sama persis seperti yang telah dilakukan Nyimas Rarasantang dan Pangeran Walangsungsang dulu. Langkah Syarif Hidayatullah pun sebenarnya menapak jejak orang tuanya dari arah sebaliknya. Bila perjalanan Nyimas Rarasantang dan Pangeran Walangsungsang bisa dipetakan dari Keraton Pakuan Pajajaran – Amparan Jati – Pasai – Campa – Mekkah, maka langkah Syarif Hidayatullah dimulai dari Palestina – Mekkah – Pasai – Muara Jati – Amparan Jati, lalu menempa diri di Caruban Larang sebelum menjadi bagian dari simpul perjuangan wali songo.

Syarif Hidayatullah lahir di Palestina, ketika kota itu sedang menggeliat menjadi salah satu kota metrolopolis terpenting di timur tengah. Di kota ini ayahnya, Syarif Abdullah memimpin negeri dengan latar belakang sosio culture dimana tiga agama samawi hidup tumbuh berdampingan. Masyarakat islam berdampingan dengan kaum kristiani dan Yahudi, yang ketiganya memiliki sejarah dan keterkaitan dengan kota itu sangat tinggi baik histori maupun religi.?

Haedar Nashir

Hanya seorang pemimpin yang memiliki kekuatan mental untuk mendudukkan ketiga masyarakat yang berbeda secara adil itulah yang akan mampu memimpin Palestina, sebab percikan ketegangan sedikit saja bisa menimbulkan kobaran api. Dan hal itu berhasil dilakukan Syarif Abdullah, yang kemudian menurunkan sikap bijak dan tepa selira itu kepada Syarif Hidayatullah. Watak yang kemudian sangat membantu ketika menghadapi masyarakat Caruban dan Sunda, yang kala itu lebih menonjol sikap sempit wawasan, agak malas, dan tidak memiliki pengetahuan agama yang baik, sehingga melahirkan watak yang mudah menyerah dan gampang tersinggung.

Kenapa Syarif Hidayatullah memilih Jawa? Bila ibunya, Nyimas Rarasantang dan uwaknya, Pangeran Walangsungsang keluar dari Keraton Pakuan Pajajaran terdorong oleh ilham untuk mengejar nur muhammad, Syarif Hidayatullah memilih meninggalkan Palestina setelah selesai mengkaji kitab Usul Kalam. Kitab ini mengisahkan perjalanan keluarga ahlul bait yang tercerai-berai setelah peristiwa perang Jamal dan Shiffin. Nasab dari ayahnya, Syarif Abdullah, merujuk kepada keluarga bagida Ali r.a. Pertemuannya dengan Syaikh Abdullah Sidiq di Samudera Pasai, semakin menentukan bagaimana Syarif Hidayatullah akan menjadi satu titik penting dari perkembangan islam di Jawa.?

Ia kemudian bersinggungan dan saling mempengaruhi dengan para dewan wali yang telah lebih ada. Dengan Sunan Ampel yang bila dirunut akan mempertemukan pada satu leluhur yang sama. Secara historis pertemuan dengan Sunan Ampel adalah membagi daerah dakwah menjadi dua bagian besar di barat dan timur yang dibatasi Sungai Cipamali. Dari Cipamali ke barat sampai Ujung Kulon adalah wilayah dakwah Syarif Hidayatullah, yang tak lain masyarakat Sunda dan pesisir.

Sedangkan dari Cipamali sampai Blambangan yang menjadi wilayah kekuasaan Sunan Ampel, tak lain adalah masyarakat Jawa. Pemisahan ini tidak saja memisahkan dua wilayah, tapi lebih kepada memisahkan dua kultur dan histori yang berbeda – Sunda dan Jawa. ? Peristiwa ini akan mengingatkan kita kepada Rakeyan Darmaraja ketika memberi wilayah jajahan kepada putranya, Raden Wijaya. Saat itu tidak ada pemisahan ini, sehingga menyatukan dua kultur yang berbeda itu dihadang banyak hambatan.

Kekuasaan Syarif Hidayatullah mulai terlihat dominan ketika Pangeran Cakrabuana menyerahkan Caruban Larang kepadanya. Ia kemudian berinisiatif menghentikan seba kepada Pakuan Pajajaran dan menyatakan sebagai negeri mandiri. Langkah politis yang kemudian telah melukai perasaan Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi, yang tak lain eyangnya sendiri. Prabu Siliwangi mengutus Tumenggung Jagabaya untuk memberi peringatan kepada Syarif Hidayatullah, tapi siapa yang mengira rombongan itu dihadang pasukan Caruban dan Demak.?

Prabu Siliwangi tidak menyadari bila sebelum langkah itu diambil, Syarif Hidayatullah telah memetakan wilayah dari Cipamali ke barat itu dalam genggamannya dengan menyebarkan ajaran islam di beberapa titik penting. Sehingga ketika Prabu Siliwangi melangkah jauh, wilayah Pajajaran sendiri telah terkepung. Begitu pula ketika Pajajaran berhasil mengikat kerjasama dengan Portugis, Caruban Larang telah mengikat hubungan erat dengan Demak dan Banten, yang terikat tidak saja secara politis melainkan lebih jauh dari itu – mengikat hubungan kekeluargaan melalui pernikahan.

Akhirnya langkah Syarif Hidayatullah sampai pula di Pakuan Pajajaran, bertemu dengan Prabu Siliwangi ketika Banten Surosowan telah berdiri dan Demak telah semakin matang baik secara politis maupun militer. Pertemuan mengharukan itu berakhir ketika Prabu Siliwangi menyetujui untuk menyebarkan islam di mana pun, dengan satu syarat jangan dengan paksaan dan pertumpahan darah.?

Langkah jihad Syarif Hidayatullah berkobar di Sunda Kalapa menghadapi Portugis yang telah disokong Pajajaran. Demikianlah yang bisa ditemukan dalam novel sejarah ini. Tentu saja tidak saja konflik keyakinan dan politis, ketika meretas jihad di bumi leluhur, Syarif Hidayatullah tak bisa menghindari dari kisah dramatis dan romantis, seperti juga yang dialami Nyimas Rarasantang dan Pangeran Cakrabuana ketika memilih keluar dari Keraton Pakuan Pajajaran.

?

Syarif Hidayatullah-di Jawa Barat lebih dikenal dengan Syaikh Sunan Gunung Jati-meninggalkan tanah kelahiran ayahnya untuk berguru kepada beberapa orang guru seperti kepada Syeikh Tajudin al-Kubri selama 2 tahun, Syeikh Athaillah Syazali. Di Baghdad berguru Tasawuf Rasul dan tinggal di pesantren saudara ayahnya selama 2 tahun (Sunarjo, 1983:51). Dalam waktu singkat Syarif Hidayatullah telah mempunyai banyak nama di antaranya Syaid Al kamil, Syeikh Nuruddin Ibrahim Ibnu Maulana Sultan Mahmud al-Khibti.

Nama-nama yang menyiratkan tahapan perjalanan kehidupannya intelektual dan keimanannya dari remaja hingga dewasa. Ketika ayahnnya wafat yang secara historis menjadi penerus kesultanan, dia menolak dan meminta adiknya Syarif Nurullah untuk menggantikan dirinya. Syarif Hidayatullah lebih memilih pergi ke Jawa untuk menyebarkan agama Islam. Dalam perjalanannya ke Jawa, Syarif Hidayatullah singgah di Gujarat.?

Di sana Syaid Kamil betemu dengan Dipati Keling beserta anak buahnya. Dipati Keling dan anak buahnya masuk Islam dan mengabdi pada Syarif Hidayatullah. Kemudian mereka bersama-sama meneruskan perjalannannya menuju Jawa. Sebelum ke Jawa, Syaid Kamil singgah di Pasai. Disini Syarif Hidayatullah berguru kepada Syaid Ishak. Di Pasai mereka tinggal selama dua tahun. Setelah itu, Syaid Kamil dan rombongan meneruskan perjalan menuju ke Jawa, yang diawali dengan persinggahannya di negeri Banten. Di negeri itu sudah banyak yang memeluk agama Islam berkat binaan dari Syaid Rakhmat atau Ali Rakhmatullah seorang guru agama dari Ampel Gading yang kemudian bergelar Susuhunan Ampel.

Setelah bertemu dengan Sunan Ampel, Syarif Hidayatullah diminta untuk meneruskan Ali Rakhmatullah untuk mengajar agama Islam di negeri Banten. Ketika Syaid Rakhmatullah pulang ke Ampel, Syarif Hidayatullah ikut pula ke Ampel guna lebih memperdalam agama Islam. Ketika tiba di Ampel, di sana telah berkumpul para wali. Pada saat itu para wali sedang membagi pekerjaan untuk menyebarkan agama Islam di tanah Jawa. Setelah bersilaturahmi dengan para wali, maka diatur mengenai siasat penyebaran Islam di Jawa. Saat itu Syaid Kamil atau Syarif Hidayatullah diminta untuk menyebarkan agama Islam di Jawa bagian Barat yaitu di tatar Sunda.

Kisah Syaikh Sunan Gunung Jati – terutama dalam kisah tradisional – lebih banyak dihiasi kisah-kisah mitos. Tentu saja kisah-kisah ini bukan untuk mengacaukan alur sejarah. Kisah-kisah mitos tumbuh dari kecintaan dan penghormatan rakyat yang mungkin berlebihan kepada sosok Syaikh Sunan Gunung Jati ini. Dan dibanding dengan fakta sejarah – terutama sumber primer – tentu kisah bercampur mitos ini terasa lebih dramatik dan tetap mengandung nilai-nilai spiritual dan moral. Sehingga dalam kaitannya untuk mengungkap nilai-nilai luhur yang tak banyak terungkap dalam fakta sejarah primer itulah, pembaca dapat menemukan kisah-kisah bercampur mitos dalam alur novel Suluk Gunung Jati : Novel Perjalanan Ruhani Syaikh Syaikh Syarif Hidayatullah ini.?

Novel Suluk Gunung Jati: Perjalanan Ruhani Syaikh Syarif Hidayatullah, bukanlah laporan dokumenter. Kendati fakta-fakta sejarah menjadi landasan utama, pada akhirnya tetap memerhatikan unsur-unsur dramatik sebuah novel. Sehingga Syaikh Gunung Jati dalam interaksi kesehariannya tetap dipandang sebagai sosok manusia yang memiliki emosi. Sisi romantisme sebagai seorang lelaki dewasa berkelindan dalam alur yang tidak paralel ini. E. Rokajat Asura berhasil menghubungkan dan menyambungkan antara sejarah dan kebenaran mengenai riwayat dan ajaran Sunan Gunung Jati.?

Di dalamnya tersaji tidak hanya dinamika perjuangan dakwah dan konflik politik, penulis juga menampilkan romansa percintaan. Inilah yang menjadikan novel ini manusiawi dan menyentuh hati pembaca. Dengan dasar sumber tertulis maupun cerita tutur, lewat novel ini kita seperti diajak menyelami tafsir atas perjalanan ruhani Syarif Hidayatullah dalam berdakwah. Islam yang diperkenalkan Sunun Gunung Jati adalah Islam yang ramah dan menghargai nilai-nilai budaya lokal.?

Novel sufistik ini menjadi menarik, setidaknya karena dua hal. Pertama, kehadiran novel ini mengisi kelangkaan, untuk tidak dibilang ketiadaan, novel sejarah Islam di Indonesia masa kini. Kedua, lewat novel ini kita diingatkan kembali pada metode dakwah para wali di masa lampau yang bersemangat merangkul, bukan menggertak apalagi menghukum seperti yang mulai marak akhir-akhir ini. Dan sungguh novel ini terbit pada saat yang tepat, saat Indonesia membutuhkan inspirasi untuk kembali belajar ramah dan menghargai nilai-nilai budaya dalam bingkai kebhinekaan. Saya kira, dua hal tersebut sudah cukup untuk menjadikan novel ini wajib ain untuk disebarkan dan dibaca.

Data buku:

Judul: Suluk Gunung Jati: Novel Perjalanan Ruhani Syaikh Syarif Hidayatullah?

Penulis: E. Rokajat Asura

Terbit: Agustus, 2016

Tebal: 347 halaman

ISBN: 978-602-7926-26-4

Peresensi: Faried Wijdan,? warga NU, tinggal di Depok, Jawa Barat.

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pesantren Haedar Nashir

Rabu, 16 Agustus 2017

Waspadai Website Pendukung Tindak Kejahatan Terorisme

Cirebon, Haedar Nashir. Sebanyak 50 peserta pelatihan agen santri anti kejahatan terorisme di pesantren Kempek, mengidentifikasi situs jejaring sosial yang membawa semangat kekerasan dan keresahan. Mereka mendata situs jejaring sosial dengan aneka bentuk konten yang mengampanyekan kekerasan atas nama agama.

Waspadai Website Pendukung Tindak Kejahatan Terorisme (Sumber Gambar : Nu Online)
Waspadai Website Pendukung Tindak Kejahatan Terorisme (Sumber Gambar : Nu Online)

Waspadai Website Pendukung Tindak Kejahatan Terorisme

“Pada era digital seperti ini website kerap menjadi rujukan paling cepat dan mudah bagi masyarakat. Namun demikian, daya kritis tetap sangat diperlukan ketika seseorang mengakses gambar, video, atau tulisan di internet,” kata peniliti dari PAKAR, Badrus Samsul Fata memandu peserta pelatihan gerakan santri anti terorisme di pesantren Kempek, Cirebon, Senin-Rabu (29/9-1/10).

Situs jejaring anti aswaja, lanjut Badrus, memuat ajakan untuk berbuat kekerasan. Pengelola jejaring ini menarik simpati pengguna dengan mengabarkan pembantaian umat Islam dari pelbagai belahan dunia.

Haedar Nashir

“Selain bercampur opini dan fakta, berita yang ditayangkan tidak bisa diverifikasi kebenarannya,” kata Badrus di hadapan santri dari pelbagai pesantren di Jawa Barat.

Konten jejaring mereka menyuarakan paham anti demokrasi. Mereka menolak NKRI dan Demokrasi. Semangat jihad kekerasan begitu tinggi. Jejaring mereka tidak segan menyebut Pancasila dan NKRI sebagai sistem Thaghut.

Haedar Nashir

Sejumlah website yang teridentifikasi mengarah pada terorisme, antara lain arrahmah, muslimdaily, attawbah, kiblat, voa-islam, nahimunkar, daulahislamiyah, kompas islam, salam online. Daftar ini, kata Badrus pada pelatihan yang difasilitasi RMI NU, bisa diperpanjang. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Daerah, Tegal Haedar Nashir

Drumben GP Ansor Meriahkan Kirab Budaya di Hari Jadi Brebes

Brebes, Haedar Nashir - Grup drumben Ansoruna GP Ansor Brebes turut memeriahkan Kirab Budaya pada Hari Jadi Ke-338 Kabupaten Brebes. Penampilan Ansoruna menarik simpati para pengunjung kirab di sepanjang jalan yang mengambil rute dengan awal di gedung dewan, Jalan Jend Sudirman, Jalan Tritura, dan berakhir di alun-alun kabupaten setempat.

“Kami ingin menghibur sekaligus memperkenalkan Ansor di tengah masyarakat,” kata Koordinator drumben Ansoruna Bayu Murohman di sela kegiatan, Selasa (19/1) sore.

Drumben GP Ansor Meriahkan Kirab Budaya di Hari Jadi Brebes (Sumber Gambar : Nu Online)
Drumben GP Ansor Meriahkan Kirab Budaya di Hari Jadi Brebes (Sumber Gambar : Nu Online)

Drumben GP Ansor Meriahkan Kirab Budaya di Hari Jadi Brebes

Sepanjang pementasan, grup ini mempersembahkan lagu-lagu nasional dan shalawatan dalam ritme yang indah dan enak didengar. Tak terkecuali dua mayorete lelaki sesekali menghempaskan tongkat ke angkasa kemudian ditangkap kembali.

Haedar Nashir

Kirab dilepas dari Halaman DPRD Brebes oleh Bupati Brebes Hj Idza Priyanti yang ditandai dengan pemberiaan Pataka Brebes dari Ketua DPRD Brebes yang diwakili anggota Hery Fitriyansah.

Di alun-alun sembari menyaksikan kirab, masyrakat dipersilakan makan gratis sesuka hati yang disediakan oleh pedagang alun-alun. “Saya menggratiskan kepada masyarakat, karena malam harinya sudah dibeli oleh Bupati,” terang salah seorang pedagang di alun-alun, Gareng.

Haedar Nashir

Selain drumben, kirab budaya juga menampilkan kereta kencana yang ditumpangi Hj Idza Priyanti bersama suami Kompol H Warsidin. Sementara 30 andong ditumpangi Wakil Bupati Narjo beserta istri Srilegiastuti, para Forkompinda, Kepala SKPD, camat dan pejabat instansi vertikal lainnya.

Tampak batik karnaval yang diperagakan oleh para Sinok Sitong Kabupaten Brebes. Terlihat juga barisan kesenian khas daerah dari 17 kecamatan se-Kabupaten Brebes seperti barongsai, singa barong, rebana, dan lain-lain.

Di sepanjang perjalanan, Hj Idza menaburkan beras kuning kepada masyarakat yang tentu saja ada uang recehan. Anak-anak dengan sigap berebut uang tersebut. Siapa saja yang mendapatkan, ia bisa menggunakannya untuk membeli minuman. Bupati Brebes ini menaburkan permen sehingga menambah suasana meriah.

Di panggung kehormatan, tari Rumangsa sebagai pembuka acara dipentaskan. Tarian ini mencerminkan kegembiraan, keceriaan, dan suka cita remaja putri yang menginjak dewasa. Karenanya dalam tarian tersebut para penari sangat energik dalam setiap gerakannya.

Kegembiraan itu tergambarkan pula dalam tarian Rumangsa dengan gerak lincah dan penuh semangat. Terlihat sekelompok remaja putri menari dengan lincah. Tarian Rumangsa juga menggambarkan keragaman budaya yang dimiliki Brebes. (Wasdiun/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Sunnah, Kajian, Kiai Haedar Nashir

Ratusan Nahdliyin Ikuti Daurah II Aswaja NU di Bawean

Bawean, Haedar Nashir. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Bawean menggelar daurah II Aswaja NU Center. Pihak PCNU setempat mendatangkan dua narasumber dari Aswaja NU Center Jatim KH Abdurahman Nafis dan KH Makruf Khazin. Ratusan peserta yang terdiri atas guru, mahasiswa dan pengurus NU mulai ranting hingga cabang mengikuti kajian Aswaja NU sejak Jumat-Sabtu (19-20/11).

Ratusan Nahdliyin Ikuti Daurah II Aswaja NU di Bawean (Sumber Gambar : Nu Online)
Ratusan Nahdliyin Ikuti Daurah II Aswaja NU di Bawean (Sumber Gambar : Nu Online)

Ratusan Nahdliyin Ikuti Daurah II Aswaja NU di Bawean

Daurah Aswaja digelar untuk meneguhkan aqidah warga NU. Pihak PCNU Bawean menilai, arus informasi memberikan banyak pengaruh bagi keyakinan warga NU. Mereka berharap daurah ini memantapkan aqidah dan amaliyah nahdliyin menjadi lebih kokoh.

Sejumlah materi disampaikan dalam daurah aswaja ini seperti firqah-firqah dalam Islam, bid’ah dan fikih jenazah. Khusus untuk fiqh jenazah, mereka membedah buku karya KH Makruf Khazin. Daurah ini dilaksanakan di tiga tempat, pondok pesantren Hasan Jufri, Nurul Huda, dan Manbaul Falah.?

Haedar Nashir

Menurut Direktur Aswaja NU Center Bawean Syamsudin, kegiatan ini akan dilanjutkan dengan daurah III yang fokus pada pendalaman. “Daurah pertama ? dan kedua ini masih bersifat umum. Nanti daurah yang ketiga akan lebih fokus. Jadi pesertanya terbatas,” ujar Syamsudin.

Pada kesempatan ini, pengurus Aswaja NU Center Bawean masa khidmat 2015-2020 dilantik. (Kuncoro/Alhafiz K)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Fragmen Haedar Nashir

Kisah Pengusaha Kripik Asal Banyuwangi

Banyuwangi, Haedar Nashir



Syarat menjadi seorang pengusaha sukses adalah pantang menyerah. Konsekuensi itu juga dimiliki Abdul Majid Firdaus, pengusaha jajanan kripik asal Kecamatan Kalipuro, Kabupaten Banyuwangi. Sebelum meraup omzet Rp 6 juta per bulan dan memiliki empat orang karyawan, ia harus melewati pahit dan manisnya perjuangan.

Kisah Pengusaha Kripik Asal Banyuwangi (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Pengusaha Kripik Asal Banyuwangi (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Pengusaha Kripik Asal Banyuwangi

Tahun 2003 adalah sejarah awal merintis usaha jajanan keripik bagi Majid. Ia harus melakoni usahanya dengan penuh kesabaran dan keterbatasan bersama sang istri Siti Nur Qoyimah.

 

"Hanya bermodalkan sebesar Rp 300 ribu. Saya ingat, waktu itu hanya cukup untuk membeli bahan baku berupa pisang, minyak goreng, dan plastik untuk kemasan," jelas Majid yang juga salah satu Pengurus Ranting NU di Kalipuro saat dimintai keterangan.

Haedar Nashir

Setiap pagi ayah dari kedua anak ini mengawali hari-harinya dengan proses pengupasan bahan baku, perendaman, penggorengan, sampai tahap pengemasan. Ia melakukan proses produksi ini mulai selepas Shalat Shubuh sampai pukul 16.00 WIB. 

"Nasib, karena masih belum ada karyawan sama sekali. Jadi, seluruh tahapan itu saya bersama istri yang melakukan secara keseluruhan," tegas Majid.

Berbekal kesederhanaan manajemen pemasaran, ia pasarkan jajanan keripik pisang ke warung dan tetangga terdekat. Ia gunakan kurun waktu satu minggu; tiga hari untuk proses produksi, tiga hari untuk pemasaran, dan satu hari untuk istirahat.

Haedar Nashir

"Memasarkan dengan sepeda ontel yang saya miliki ke beberapa warung terdekat. Selang beberapa hari, saya kontrol kembali, apakah produknya sudah laku," tuturnya.

Saat kontrol ke warung-warung dan para tetangga, ternyata barang masih belum juga laku. Konsumen masih belum semua menerima. Hal yang sama, terjadi selama berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan. Hampir saja membuat Majid merasa putus asa dan kewalahan. Karena waktu itu, usahanya masih seumur jagung.

Melewati masalah itu, Majid akhirnya membuka diri dan pikiran untuk terlibat dalam pelatihan-pelatihan yang dilakukan oleh dinas-dinas daerah. Banyak sekali pelatihan yang ia ikuti, mulai dari produksi pembuatan kripik, kemasan, sampai pemasaran.

Ternyata semua itu ada manfaatnya. Pada 2005, usahanya mulai tumbuh. Di tahun ini pula, Majid mulai melebarkan sayap pemasaran seiring dengan perkembangan koneksi yang dibangun.

"Setalah mengikuti pelatihan, membuat usaha saya semakin berkembang mulai kualitas produk sampai dengan perkembangan jaringan pemasaran. Ditambah dengan adanya empat orang karyawan yang memiliki dedikasi tinggi. Saya sangat berharap sekali pemerintah terus melakukan edukasi kepada masyarakatnya melalui pelatihan-pelatihan," tutur ayah yang berusia 51 tahun ini.

Majid juga menitipkan produknya di beberapa pusat toko oleh-oleh khas daerah juga bergabung dengan market place milik pemerintah daerah (banyuwangi-mall.com) sampai menembus konsumen di daerah Jakarta, Jepara, sampai Semarang.

"Alhamdulillah, mulai bermodal Rp 300 ribu sekarang meraup omzet sebesar Rp 6 juta tiap bulan dengan varian keripik yang lebih beragam mulai pisang, singkong, talas, sampai jajanan rengginang," ujar Majid.

Ia juga memdapat manfaat saat era kepemimpinan bupati Abdullah Azwar Anas dengan festival-festivalnya yang diimbangi dengan dibukanya stand pameran untuk para pelaku usaha mikro.

Intinya dalam merintis usaha apa pun, kata Majid, tidak pernah berhenti melakukan tiga hal. Pertama belajar, kedua berjuang, dan ketiga berdoa.

"Ini saling terikat, tidak apat dipisahkan. Apalah belajar dan usaha yang kita lakukan, tanpa adanya kemudahan dan ridha dari Allah SWT," pesan Majid. (M.Sholeh Kurniawan/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Bahtsul Masail, Hikmah, Berita Haedar Nashir