Minggu, 01 Oktober 2017

Majelis Alumni IPNU Desak Penuntasan RUU KUHP

Semarang, Haedar Nashir. Majelis Alumni mendorong percepatan dan penuntasan rancangan Undang Undang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (RUU KUHP) yang berbasis pada norma hukum yang hidup di tengah masyarakat Indonesia.

Majelis Alumni IPNU Desak Penuntasan RUU KUHP (Sumber Gambar : Nu Online)
Majelis Alumni IPNU Desak Penuntasan RUU KUHP (Sumber Gambar : Nu Online)

Majelis Alumni IPNU Desak Penuntasan RUU KUHP

Demikian salah satu pokok pikiran yang menjadi pembahasan dalam  acara silaturrahim Nasional (Silatnas) Majelis Alumni IPNU di Semarang Jum’at-Sabtu (22-23/3).

Ketua Umum Presidium Majelis Alumni H Hilmi Muhammadiyah menilai KUHP merupakan produk Belanda dan bersumber dari tata nilai yang berbeda dengan tata nilai yang hidup di tengah masyarakat Indonesia sehingga sangat terlambat untuk segera diganti.

Haedar Nashir

“Untuk itu Majelis Alumni IPNU mendesak segera penuntasan KUHP baru yang menyerap jiwa dan nilai yang hidup di tengah masyarakat, terkhusus norma dan hukum Islam yang terkait dengan aturan pemidanaan,” katanya yang didampingi sekjen presidium Asrorun Ni’am Sholeh.

Haedar Nashir

Dalam konteks ini, tandasnya, Majelis Alumni IPNU mendorong pasal pemberatan hukuman terhadap pengedar dan bandar narkoba, miras, dan zat adiktif lainnya dalam rangka menjaga akal (hifzh al-‘aql) serta memberikan hukuman keras bagi penoda agama dalam rangka menjaga kesucian agama dan ajarannya (hifzh al-din).

“Termasuk juga pidana bagi pembunuh dan segala aktifitas yang mengancam jiwa, termasuk santet, sihir, tenung, dan aktifitas yang menjanjikan jasa untuk mengancam jiwa,  dalam rangka mengoptimalkan perlindungan terhadap jiwa (hifzh al-nafs),” tandas Hilmi.

Alumni IPNU juga mendorong penuntasan pasal pidana  pemerkosa, pelaku pelecehan seksual, dan pelaku perzinaan serta hidup bersama tanpa pernikahan dalam rangka menjaga keturunan yang sah ((hifzh al-nasl).

“Termasuk pula pasal tentang pelaku korupsi, kolusi, nepotisme, serta pencurian, baik terhadap kekayaan indivisu, korporasi, maupun negara, dalam rangka perlindungan terhadap harta (hifzh al-maal),”tambahnya.

Terkait persoalan internal NU, Majelis Alumni mendorong pemaknaan Khittah NU secara proporsional. Menurutnya, khidmah kader NU di berbagai bidang adalah sebuah realitas yang harus didukung, difasilitasi, didorong, dan disinergikan, agar senantiasa berpegang teguh pada nilai-nilai luhur NU serta dapat memberi manfaat secara optimal bagi NU dan bangsa. 

“Perbedaan lahan pengabdian, orientasi pilihan politik maupun peran sosial kemasyarakatan yang berbeda, serta khidmah di bidang-bidang lain harus dibaca sebagai sebuah kekuatan yang harus dirajut; bukan sebuah kelemahan, terlebih ancaman yang harus diberangus.”ujar Hilmi.

Majelis alumni menilai secara filosofis Khittah Nahdlatul Ulama 1926 yang diputuskan pada Muktamar di Situbondo, Jawa Timur, adalah upaya ulama untuk memosisikan Nahdlatul Ulama pada jalan yang benar dalam relasi negara dan agama. Khittah NU tidak serta merta mengharamkan partisipasi politik, termasuk poltik praktis. 

“Khittah NU justru menempatkan politik pada proporsinya, menjadi salah satu instrumen dan sarana khidmah untuk mengoperasionalisasi nilai dan tujuan NU dalam dunia nyata, melalui jalur politik. Pada saat bersamaan, jalur dakwah, pendidikan, dan sosial harus tetap didorong dan saling bersinergi.”terang Hilmi Muhammadiyah.

Sementara itu, agenda Silatnas  Sabtu (23/3) pagi adalah diskusi sosial politik dan keagamaan bersama politisi PPP Arwani Thamafi, Abdul hamid Wahid dan mantan ketua umum IPNU yang juga Bupati Banyuwangi Abdullah Aswar Anas. Kemudian dilanjutkan Diskusi Bidang Hukum dan ekonomi dengan nara sumber Arifin Hamid.

Usai itu, kegiatan yang mengambil tema konsolidasi generasi baru NU; memperkuat akar,mengokohkan khidmat, dilanjutkan pendalaman dan penyusunan rekomendasi silatnas kemudian  diteruskan dengan upacara penutupan pukul 12.00 WIB.

Redaktur     : A. Khoirul Anam

Kontributor : Qomarul Adib

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Hadits Haedar Nashir

Bazar Nusantara, Padukan Perniagaan dan Keilmuan

Surabaya, Haedar Nashir. Bazaar Nusantara digelar kemarin, Surabaya, Kamis (25/6) malam. Pemandangan berbeda di Bazar Nusantara itu ialah pengajian yang hadir di tengah pasar. Panitia bazar sengaja berkerja sama dengan Aswaja NU Center PWNU Jatim guna mengisi pengajian di tengah-tengah bazar.

Bazar Nusantara, Padukan Perniagaan dan Keilmuan (Sumber Gambar : Nu Online)
Bazar Nusantara, Padukan Perniagaan dan Keilmuan (Sumber Gambar : Nu Online)

Bazar Nusantara, Padukan Perniagaan dan Keilmuan

Seketika itu Bazar Nusantara disulap seperti salah satu pasar di Yaman. Pasar itu bernama pasar Tarim. Pasar Tarim adalah pasar yang memadukan kepentingan perniagaan (jual-beli) dan keilmuan.

"Bazar Nusantara kalau seperti ini seperti pasar Tarim, Yaman. Para penjual menjual barang dagangannya, sedangkan sebagian para pengunjung mengikuti atau menyimak pengajian yang telah berlangsung di pasar," kata ustadz A Muntaha, mengawali penyampaiannya.

Haedar Nashir

Dalam pengajian yang diberi nama Ngabar (Ngaji Aswaja di Bazar) itu, A Afif Amrullah yang didaulat sebagai moderator terlebih dahulu memperkenalkan Aswaja NU Center PWNU Jatim serta menyampaikan tujuan dan maksud dilaksanakan Ngabar ini.

Haedar Nashir

"Kami juga membagikan buku saku argumen amaliyah di bulan Syaban dan Ramadlan kepada 20 peserta pertama," lanjutnya mengajak para pengunjung Ngabar.

Aswaja NU Center adalah salah satu lembaga nonstruktural yang berada di NU. Ngabar ini bertujuan menyebarluaskan paham Aswaja kepada masyarakat luas. "Di bazar semua masyarakat berbagai elemen berkumpul, inilah salah satu cara kami untuk memperkenalkan Aswaja kepada masyarakat umum," ujar Afif, saat ditemui setelah acara.

Sementara ustadz Muntaha lebih banyak bicara amaliyah NU. Menurutnya, di NU sudah jelas Tarawih 20 rakaat berdasarkan mayoritas ahli ilmu mengikuti riwayat Sayyidina Umar dan para sahabat Nabi Muhammad SAW. Hadist itu diriwayatkan oleh Sunan At-Tirmidzi 734.

Selain itu, Muntaha menyampaikan kepada peserta Ngabar tentang penentuan awal Ramadlan dan awal Syawal yang selalu menggunakan metode rukyatul hilal.

Alamiyah bulan Syaban pun dikupas habis oleh ustadz yang juga pengurus LBM NU Jawa Timur itu. Muntaha lebih banyak berbicara soal nisfu Syaban. (Rofii Boenawi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Hadits, Olahraga, Cerita Haedar Nashir

Jumat, 29 September 2017

35 Persen Peserta BPUN Way Kanan Tapaki PTN Idaman

Way Kanan, Haedar Nashir?

35 persen peserta Pesantren Kilat Bimbingan Belajar Pasca Ujian Nasional (Sanlat BPUN) Way Kanan 2015 dinyatakan lulus mengikuti Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) sehingga bisa menapaki Perguruan Tinggi Negeri (PTN) idaman mereka.

Ketua Alumni Sanlat BPUN Way Kanan 2015 Disisi Saidi Fatah di Blambangan Umpu, Sabtu (11/7) menjelaskan, 5 dari 14 peserta BPUN atau terhitung 35 persen lulus SBMPTN.

35 Persen Peserta BPUN Way Kanan Tapaki PTN Idaman (Sumber Gambar : Nu Online)
35 Persen Peserta BPUN Way Kanan Tapaki PTN Idaman (Sumber Gambar : Nu Online)

35 Persen Peserta BPUN Way Kanan Tapaki PTN Idaman

Mereka adalah, Dicky Afrizal, perwakilan SMAN2 Gunung Labuhan, terjaring di jurusan Biologi Murni, Universitas Lampung (Unila), lalu ? Iwan Supriadi, perwakilan SMAN1 Baradatu, diterima di jurusan Agro Teknologi Universitas Jambi, lantas Frastika Maulia, perwakilan SMAN1 Blambangan Umpu, masuk di jurusan Sosiologi Universitas Sriwijaya. Ketiganya terdaftar sebagai peserta Bidik Misi.

Haedar Nashir

Selanjutnya ? perwakilan SMAN1 Baradatu lainnya, Lastri Dwi Saputri, diterima di jurusan Biologi Murni Universitas Bangka Belitung, lantas ? perwakilan SMAN1 Blambangan Umpu Suryaningsih, tersaring di jurusan Teknik Pertanian Unila. Keduanya tidak terdaftar sebagai penerima Bidik Misi.

Haedar Nashir

"Yang lain belum beruntung termasuk saya. Namun saya akan mencoba Penerimaan Mahasiswa Perluasan Akses (PMPAP). Congratulation buat sahabat-sahabatku yang sukses lolos SBMPTN. Buat yang belum beruntung jangan putus asa, tetap semangat dan optimis," kata Disisi.

BPUN merupakan program utama Yayasan Mata Air. Program ini bertujuan mengantarkan pelajar untuk melanjutkan kuliah di kampus negeri melalui SBMPTN. Di Way Kanan, BPUN pertama kali dihelat PC GP Ansor setempat di Pesantren Tahfidzul Quran km 5 Blambangan Umpu mulai 18 Mei hingga 1 Juni 2015. 9 hingga 17 Mei, 27 peserta belajar mandiri setelah mendapatkan modul dari penyelenggara. Namun saat karantina mulai berlangsung, sejumlah peserta mengundurkan diri sehingga diikuti 14 peserta.

Ketua PC GP Ansor Way Kanan sekaligus Manajer BPUN Way Kanan Gatot Arifianto mengaku senang dan bersyukur atas kelulusan sejumlah peserta BPUN, kendati tidak 100 persen.

"Kami sudah berupaya maksimal kendati hasil dari kerja sosial edukasi tersebut belum maksimal. Ke depan kami akan mengevaluasi kekurangan dan kelebihan Sanlat BPUN yang pertama kali dihelat di daerah ini dengan space waktu yang cukup mepet," papar penggiat Gusdurian Lampung itu pula.

Kepada peserta BPUN yang belum terjaring SBMPTN, Gatot mengimbau untuk mengikuti apa yang akan dilakukan Disisi dengan mengikuti PMPAP. Adapun pihaknya akan mencari informasi beasiswa masuk perguruan tinggi lain yang memungkinkan untuk diikuti.

"Percaya saja dengan Surat Al-Insyirah. Sekali kita belajar menyerah maka itu akan menjadi kebiasaan," ujarnya memotivasi. Koordinator The Society of Indonesian Environmental Journalists ((SIEJ) Lampung itu lalu mengutip pernyataan Alexander Graham Bell: "Ketika satu pintu tertutup maka pintu lain akan terbuka, kadang kita terlalu lama terpaku di depan pintu tertutup itu."

Dengan demikian, kata Gatot menambahkan, berpikir positif dan aktif mencari informasi terkait bea siswa lain lebih baik ketimbang menyesal dan pasif. "Mari bergerak bersama untuk perbaikan diri," ujarnya. Tedy Heriyanto. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Sejarah, IMNU, Lomba Haedar Nashir

Soal Doa Bersama di Monas, Kang Said: Aparat Penegak Hukum Harus Berbenah

Jakarta, Haedar Nashir - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj (Kang Said) memandang doa, zikir, dan Jumatan bersama di lapangan Monas pada Jumat (2/12) sebagai teguran moral untuk para penegak hukum di Indonesia. Menurut Kang Said, pemerintah dan terutama aparat penegak hukum perlu melakukan reformasi kelembagaan terutama berkaitan dengan upaya penegakan hukum di Indonesia.

Demikian disampaikan Kang Said kepada Haedar Nashir di Kantor PBNU, Jakarta Pusat, Jumat (2/12) malam

Soal Doa Bersama di Monas, Kang Said: Aparat Penegak Hukum Harus Berbenah (Sumber Gambar : Nu Online)
Soal Doa Bersama di Monas, Kang Said: Aparat Penegak Hukum Harus Berbenah (Sumber Gambar : Nu Online)

Soal Doa Bersama di Monas, Kang Said: Aparat Penegak Hukum Harus Berbenah

“Ini menunjukkan masyarakat masih belum percaya dengan sikap lembaga hukum,” kata Kang Said.

Aparat penegak hukum dan lembaga peradilan, menurutnya, harus menangkap aspirasi doa bersama yang dilakukan masyarakat di Monas, Jumat lalu. Mereka diharapkan melakukan pembenahan dan menunjukkan kerja-kerja konkret terkait penguatan kelembagaan.

Haedar Nashir

Haedar Nashir

“Jelas ini menjadi pekerjaan rumah pemerintah dan lembaga hukum untuk membangun kepercayaan publik.”

Pengasuh Pesantren Ats-Tsaqafah Ciganjur ini mengingatkan pemerintah terutama aparat hukum dan lembaga peradilan untuk bekerja sesuai kode etik penegak hukum yang berlaku. Pasalnya kerja mereka selama ini mendapat pantauan dan sorotan publik.

“Ini akumulasi kekecewaan atas lemahnya penegakan hukum untuk kasus apapun di Indonesia selama ini,” tandas Kang Said. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kiai, Olahraga Haedar Nashir

Empat Seruan NU kepada Pemerintah soal Utang Luar Negeri

Jombang, Haedar Nashir. Secara prinsip, negara harus berkomitmen untuk segera melunasi semua hutangnya. Postur APBN harus ditata sedemikian rupa agar pembangunan tetap berjalan, namun pada saat yang sama hutang juga terbayar.

Demikian dinyatakan Abdul Moqsith saat membacakan hasil sidang Komisi Bahtsul Masail Diniyah Maudluiyah pada rapat pleno Muktamar Ke-33 NU dengan agenda pengesahan sidang-sidang komisi, di alun-alun Jombang, Jawa Timur, Rabu (5/8).

Empat Seruan NU kepada Pemerintah soal Utang Luar Negeri (Sumber Gambar : Nu Online)
Empat Seruan NU kepada Pemerintah soal Utang Luar Negeri (Sumber Gambar : Nu Online)

Empat Seruan NU kepada Pemerintah soal Utang Luar Negeri

?

Untuk kepentingan ini, ada beberapa hal yang perlu dilakukan. Pertama, pada dasarnya yang wajib kita bayar adalah utang-utang pokok, bukan beban bunga. Oleh karena itu sah apabila Pemerintah RI menuntut pembebasan bunga dari negara-negara kreditor.

?

Haedar Nashir

Kedua, Pemerintah harus secara tegas mengontrol anggaran agar tidak bocor, dan menarik kembali uang negara yang telah? dijarah oleh para koruptor, baik dari kalangan pejabat atau pengusaha.

Haedar Nashir

?

"Ketiga, pemerintah sedapat mungkin melakukan efisiensi dengan menggunakan barang dan jasa dalam negeri yang dibarengi dengan kebijakan pro growth, pro job, pro poor, dan pro environment," ujar anggota Komisi Bahtsul Masail Diniyah Maudluiyah itu.

?

Keempat, Pemerintah dianjurkan melakukan optimalisasi dana penerimaan pajak, cukai dan pembiayaan non utang dari keuntungan pengelolaan aset negara, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), pembiayaan dari saldo rekening Pemerintah dari penerimaan Rekening Dana Investasi (RDI), Rekening Pembangunan Daerah (RPD), Rekening Pembangunan Hutan (RPH), Saldo Anggaran Lebih (SAL), dan rekening lainnya.

Forum bahtsul masail menyayangkan kondisi bangsa Indonesia yang hingga kini lekat dengan utang luar negeri. Menurut forum, jika dibandingkan dengan data kekayaan sumber daya alam, kondisi tersebut sangat ironis dan mengkhawatirkan, walau pemerintah dengan indikator ekonomi makro masih menyatakan aman. (Mahbib Khoiron)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Makam Haedar Nashir

NU Wakili Indonesia di Global Peace Leader 2010 Seoul Korea

Seoul, Haedar Nashir. Penyelenggaraan Global Peace Leader Conference 2010 yang berlangsung di Seoul Korea Selatan juga mengundang Dr Marsyudi Syuhud, ketua PBNU, sebagai wakil dari Indonesia.



NU Wakili Indonesia di Global Peace Leader 2010 Seoul Korea (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Wakili Indonesia di Global Peace Leader 2010 Seoul Korea (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Wakili Indonesia di Global Peace Leader 2010 Seoul Korea

Pada acara yang berlangsung 11-13 Oktober ini, Marsyudi memberikan sambutan tentang Islam rahmatan lil alamiin yang dikembangkan oleh NU, yang berupaya agar Islam memberi rahmat bagi seluruh alam. Untuk menuju hal tersebut, salah satunya melalui silaturrahmi.

Ia menjelaskan, melalui silaturrahmi, manusia akan saling mengenal dan saling memahami serta menyayangi satu sama lain. Disitu ajaran Islam rahmatan lil alamiin mulai berfungsi. Marsyudi menegaskan, dalam muamalah, Islam mengajarkan tanpa ada sekat muslim atau non muslim.

Haedar Nashir

Acara dihadiri oleh berbagai delegasi dari pemimpin negara maupun tokoh-tokoh agama, dari Amerika, Paraguay, Kenya, China, Jepang, Mongolia, dan lain sebagainya, Chairman Global Peace Festival Dr. Hyun Jin Moon membuka acara tersebut pada 11 Oktober 2010 diGand Hilton Hotel Seoul Korea.

Korea berbagi pengalaman dalam tema Effective Models of Balance Development: The Korean Experience, bagaimana Korea Selatan berhasil menjadi negara terkaya no 13 hanya dalam waktu 50 tahun.

Haedar Nashir

Dalam kesempatan tersebut beberapa lembaga pemerintah Korea seperti KOICA, KDI, Korea Saemaul Undong Center berbagi pengalaman dan menjadi donor bagi negara-negara berkembang untuk membangun komunitas dan kehidupan yang lebih baik.

Global Peace Festival berikut akan diadakan di Jakarta pada tanggal 15 - 17 Oktober di Jakarta. (mad)Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir AlaNu, Quote Haedar Nashir

Kamis, 28 September 2017

Kunjungi PCNU, Kapolres Pamekasan Bahas Ujaran Kebencian

Pamekasan. Haedar Nashir - Kepala Kepolisian Resor (Kapolres) Pamekasan AKBP Nowo Hadi Nugroho berkunjung ke kantor PCNU setempat di Jalan R Abdul Aziz, Selasa (22/11). Kehadirannya disambut langsung oleh Ketua PCNU KH Taufiq Hasyim beserta pengurus teras PCNU.

"Kami berkunjung ke PCNU Pamekasan guna menguatkan tali silaturahmi. Alhamdulillah kehadiran kami disambut dengan hangat dan penuh keakraban," terang Kapolres AKBP Nowo.

Kunjungi PCNU, Kapolres Pamekasan Bahas Ujaran Kebencian (Sumber Gambar : Nu Online)
Kunjungi PCNU, Kapolres Pamekasan Bahas Ujaran Kebencian (Sumber Gambar : Nu Online)

Kunjungi PCNU, Kapolres Pamekasan Bahas Ujaran Kebencian

Menurutnya, NU merupakan organisasi terbesar di dunia yang menjunjung tinggi nilai keagamaan dan kebangsaan. Kesetiaannya pada NKRI tidak diragukan lagi.

"Selain bermaksud silaturahmi, kami juga sepakat untuk menjalin kesepakatan atau kerja sama secara kelembagaan," terang AKBP Nowo.

Haedar Nashir

Haedar Nashir

Kiai Taufiq Hasyim membenarkan bahwa pertemuan kedua pihak menghasilkan beberapa kesepakatan. Salah satunya, berupa kerja sama tentang penyikapan atas hate speech atau ujaran kebencian.

"Insya Allah, Kamis lusa (24/11) pukul 09:00 WIB kami akan menandatangani kerja sama ini di Mapolres tentang hate speech," tetang Kiai Taufiq. (Khairul Anam/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Sunnah Haedar Nashir