Rabu, 04 Oktober 2017

As’ad Said Ali: Bukan Mustahil Indonesia Seperti Irak dan Suriah

Bojonegoro, Haedar Nashir - H As’ad Said Ali mengingatkan tentang pentingnya penguatan ideologi Ahlusunnah wal Jama’ah (Aswaja) seiring dengan tantangan di luar yang bisa merongrong keutuhan NKRI. Wakil Ketua Umum PBNU periode 2010-2015 ini mengatakan, bukan mustahil krisis kemanusiaan yang ada di Timur Tengah, seperti di Irak dan Suriah, akan terjadi juga di Indonesia.

Kemungkinan itu ada lantaran masuknya organisasi transnasional di Tanah Air seperti sekarang ini. Karena itu, penulis buku Al-Qaeda: Tinjauan Ssial-Politik, Ideologi, dan Seak Terjangnya ini mendorong NU sebagai jam’iyah bisa menjadi bandul penyeimbang antara dua kutub, ekstrem kanan maupun ekstrem kiri.

As’ad Said Ali: Bukan Mustahil Indonesia Seperti Irak dan Suriah (Sumber Gambar : Nu Online)
As’ad Said Ali: Bukan Mustahil Indonesia Seperti Irak dan Suriah (Sumber Gambar : Nu Online)

As’ad Said Ali: Bukan Mustahil Indonesia Seperti Irak dan Suriah

Ia menyampaikan hal tersebut saat menghadiri Musyawarah Kerja Cabang (Musykercab) II yang digelar Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Bojonegoro di Pondok Pesantren Abu Dzarrin Ngumpakdalem, Kecamatan Dander, Kabupaten Bojonegoro, Sabtu (18/3).

Mantan wakil kepala Badan Intelijen Negara ini juga menyinggung tentang isu komunisme di negara Indonesia. “Ideologi komunis ini sebenarnya sudah tidak laku lagi baik di negara kita maupun di negara asalnya seperti Rusia atau China, namun kita juga tidak boleh meremehkanyya atau menggagapnya ancaman serius,” katanya.

Haedar Nashir

Acara yang dikemas dengan Silaturahim Alim Ulama’ dan Halaqah itu mengangkat tema “Memperkokoh Jam’iyah dan Jamaah NU Menuju Pengawalan Tegaknya Ahlussunnah wal Jamaah dan NKRI.”

Haedar Nashir

Selain dihadiri para alim ulama dan pengurus NU setempat, hadir pula tamu dari jajaran Forpimda Kabupaten Bojonegoro, serta para alumni Kader Penggerak NU se-Bojonegoro yang sudah mencapai 814 kader yang meliputi angkatan I-XII.

Turut hadir dalam acara ini KH Abdurrahman Navis dari PWNU Jawa Timur untuk membuka acara tersebut. Dalam sambutannya? ia menyampaikan tentang pentingnya ideologi aswaja yang akhi-akhir ini sedang dalam ancaman dari organisasi transnasional, baik itu radikalisme maupun liberalisme. Navis juga menambahkan, terkait program prioritas NU yang sekarang sedang digalakkan yaitu penguatan ideologi aswaja, pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan pengkaderan. (Red: Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Tokoh Haedar Nashir

Senin, 02 Oktober 2017

Lima Pesan Kiai Ali Maksum untuk Warga NU

Boyolali, Haedar Nashir. Suatu ketika KH Ali Maksum, yang pernah mengemban sebagai Rais Aam PBNU, hadir dalam sebuah acara yang diselenggarakan pengurus NU. Dalam kesempatan tersebut, ia berpesan kepada sejumlah pengurus dan ribuan warga NU yang hadir. untuk melaksanakan beberapa hal ini.

“Pertama, yakni al-‘alimu wat ta’alum bi nahdlatil ulama. Warga Nahdliyyin mesti mempelajari apa dan bagaimana NU,” tutur Pengasuh Pesantren Al-Qur’aniyy Solo, KH Abdul Karim, pada saat acara pelantikan pengurus MWCNU Banyudono dan Sholawat, di Desa Jembungan Banyudono, Boyolali, Sabtu (11/10).

Lima Pesan Kiai Ali Maksum untuk Warga NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Lima Pesan Kiai Ali Maksum untuk Warga NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Lima Pesan Kiai Ali Maksum untuk Warga NU

Hal-hal lain, seperti kenapa mesti NU, siapakah tokoh NU juga perlu dipelajari. Kiai yang akrab dipanggil Gus Karim itu melanjutkan pesan kedua, yaitu setelah mempelajari juga perlu untuk diamalkan dan diajarkan (al-amalu bi nahdlatil ulama).

Haedar Nashir

Berikutnya ada jihad bi nahdlatil ulama (jihad ala NU) dan ash-shabru bi nahdlatil ulama (sabar dalam berjuang bersama NU). Terakhir, yakni ats-tsiqotu bi nahdlatil ulama (memiliki keyakinan terhadap perjuangan NU).

Haedar Nashir

“Kita mesti yakin, bahwa NU merupakan sebuah ormas yang mendapat ridho Allah. Bahwa dengan berjuang bersama NU, dapat membawa kita untuk masuk ke surga,” tegas Gus Karim. (Ajie Najmuddin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pahlawan, Doa, AlaNu Haedar Nashir

PMII Bandar Lampung Gelar Aksi Tolak Politik Uang

Bandar Lampung, Haedar Nashir. Sejumlah kader PC PMII Bandar Lampung dari pelbagai perguruan tinggi menggelar orasi dan penggalangan 1000 tanda tangan bagi terciptanya demokrasi terhormat di Bandar lampung, Lampung, Rabu (8/1). Mereka mengajak warga Lampung menolak demokrasi transaksional, demokrasi umbar janji, dan demokrasi halal-haram hantam.

Ketua PC PMII Bandar Lampung Hendri Badra mengatakan, setelah merdeka 68 tahun, kematangan demokrasi yang diharapkan masyarakat masih sangat jauh dari harapan rakyat. “Republik ini masih terkungkung dengan kegalauan sistem demokrasi,” kata Hendri, Rabu (8/1).

PMII Bandar Lampung Gelar Aksi Tolak Politik Uang (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Bandar Lampung Gelar Aksi Tolak Politik Uang (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Bandar Lampung Gelar Aksi Tolak Politik Uang

Elit politik dan negarawan pada era Orde Lama berasal dari kalangan terdidik dan aktivis. Sementara pada Orde Baru, kata Hendri, elit politik diramaikan kalangan militer. Sedangkan saat ini, pengusaha juga turut andil dalam sistem kenegaraan. Buktinya banyak pengusaha melibatkan diri dalam partai besar selain membuat partai baru.

Haedar Nashir

Berangkat dari sejumlah pertimbangan di atas, PC PMII Bandar Lampung menggelar aksi kali ini. Aksi ini mengambil bentuk orasi berjalan dari Gedung Juang hingga Tugu Adipura.

Haedar Nashir

Hendri berharap aksi ini bisa menciptakan pemilu 2014 dan legislatif bersih supaya pemilihan umum kembali pada khittahnya. Sebagai tindak lanjut dari aksi ini, PC PMII Bandar Lampung membuka posko pengaduan dugaan kecurangan pemilu di beberapa titik di Kota Bandar Lampung. (Gatot Arifianto/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Anti Hoax, Pesantren Haedar Nashir

ISNU: Mahasiswa IAIN Punya Kelebihan Jadi Pemimpin

Padang, Haedar Nashir. Ketua Umum PP ISNU Ali Masykur Musa, mahasiswa IAIN memiliki kelebihan untuk tampil dalam kepemimpinan nasional. Setidaknya ada tiga kelebihan mahasiswa yang ditempa di perguruan tinggi Islam.

ISNU: Mahasiswa IAIN Punya Kelebihan Jadi Pemimpin (Sumber Gambar : Nu Online)
ISNU: Mahasiswa IAIN Punya Kelebihan Jadi Pemimpin (Sumber Gambar : Nu Online)

ISNU: Mahasiswa IAIN Punya Kelebihan Jadi Pemimpin

Ali Masykur Musa mengungkapkan hal itu dalam kuliah umum bertajuk Peran Perguruan Tinggi Dalam Memberantas Korupsi, Kamis (6/12/2012) di aula IAIN Imam Bonjol Lubuk Lintah Padang. Hadir Rektor IAIN IB Padang Prof.Makmur Syarif,  Ketua ISNU Sumbar Masrul, Ketua Tanfidziyah PWNU Sumbar Khusnun Aziz dan 500 mahasiswa IAIN IB.

Menurut Masykur, kelebihan itu adalah pandangan agama Islamnya lebih bagus. Ke depan Negara Indonesia harus dipimpin oleh orang yang mengerti agama. Sehingga jabatan yang dipegangnya juga dilihat dari sisi agama yang akan dipertanggungjawabkan kepada Allah Swt.

Haedar Nashir

“Kedua, hidup sederhana. Umumnya mahasiswa IAIN hidup sederhana. Kesederhanaan itulah yang menjadi suri tauladan. Pemimpin haruslah hidup dengan sederhana dan jangan hidup mewah di tengah penderitaan rakyat. Ketiga, mahasiswa IAIN memliki semangat pejuang yang tinggi. Pemimpin harus memiliki sikap hidup untuk orang banyak,” kata Masykur mantan Ketua Umum PB PMII ini.

Haedar Nashir

Dikatakan, ada dua masalah besar bangsa Indonesia saat ini. Pertama, memudarnya jiwa nasionalisme anak-anak bangsa. Banyak kekayaan dan potensi negara yang dijual kepada pihak asing untuk mengeruk keuntungan segelintir orang. Ini sebagai akibat tidak adanya nasionalisme yang mengutamakan kepentingan bangsa negara.

“Kedua pengelolaan keuangan negara yang banyak bocor. Keuangan negara banyak disalahgunakan untuk kepentingan pribadi. Inilah yang dinamakan korupsi. Kemajuan ekonomi Indonesia menunjukkan angka yang terus menggembirakan. Yang masalah adalah distribusi terhadap orang banyak yang tak jalan. Artinya pemerataan pembangunan dan perkembangan ekonomi tersebut tidak dirasakan merata oleh rakyat,” kata Masykur.

Ali Masykur mengakui, banyak anggaran APBN/APBD yang tidak untuk membangun ekonomi rakyat secara langsung. Tapi anggaran tersebut sekitar 75 persen dihabiskan untuk gaji pegawai, serimonial dan fisik semata. Sisanya baru dimanfaatkan untuk kepentingan yang berhubungan langsung dengan rakyat.

“Kepada mahasiswa IAIN diminta untuk tetap mengawal pemberantasan korupsi di negeri ini. Karena mahasiswa memiliki peran penting dalam memberantas korupsi tersebut,” kata Masykur.

Sebelumnya, Ali Masykur Musa juga memberikan kuliah umum di hadapan civitas akademika Universitas Negeri Padang (UNP) dan penanaman pohon penghijauan.

Redaktur: Mukafi Niam

Kontributor: Armaidi Tanjung

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Halaqoh Haedar Nashir

Minggu, 01 Oktober 2017

Prof. Soenarjo, Menteri Dalam Negeri dari NU

Prof. Mr. R.H. A. Soenarjo, selanjutnya Mr. Narjo adalah Menteri Dalam Negeri dari NU pada zaman Orde Lama, penyelenggara pemilu pertama di Indonesia 1955. Ia juga salah seorang tokoh pembangun Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, dan IAIN-IAIN lainnya yang pada perkembangannya menjadi Universitas Islam Negeri (UIN).?

Mr. Narjo adalah putra dari seorang penghulu pada zaman penjajahan Belanda bernama Raden Iman Nasiruddin Imamdipuro. Sebagaimana ayahnya, kakek Mr. Narjo, Zaenal Mustopo, juga adalah seorang penghulu. Zaenal Mustopo dikenal sebagai seorang dermawan. Dari kekayaannya, ia membangu sebuah masjid besar di tengah-tengah kota Sragen.?

Mr. Narjo lahir 15 Mei 1908 di Sragen. Pada masa kecilnya, ia menempuh pendidikan di sekolah umum milik Belanda. Setamat di sekolah itu, ia melanjutkan ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO, setingkat SMP) di Surakarta. Kemudian masuk ke Algemeene Middelbare School (AMS, setingkat SMA) jurusan bahasa-bahasa timur yang juga di Surakarta. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan ke Rechts Hooge School (RHS, Sekolah Tinggi Hukum). Ia tamat pada perguruan itu pada tahun 1941.

Prof. Soenarjo, Menteri Dalam Negeri dari NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Prof. Soenarjo, Menteri Dalam Negeri dari NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Prof. Soenarjo, Menteri Dalam Negeri dari NU

Pengetahuan agama ia dapatkan dengan mengaji sehabis maghrib kepada ayahnya sendiri. Mengaji dijalaninya selama tinggal bersama orang tuanya di Sragen. Kepada ayahnya ia khatam belajar membaca Al-Qur’an. Kemudian ketika di Surakarta, ia mengaji di Pesantren Manba’ul Ulum, Jamsaren, untuk beberapa waktu. Pelajaran ilmu agama ia dapatkan juga dari K.R.T.P. Tapsiranom di Pengulon Solo.?

Ketika di Jakarta, meski ia tidak belajar ilmu agama secara khusus, ia sering bergaul dengan tokoh-tokoh agama. Di samping itu, ia sering membaca buku-buku agama. Buku yang banyak dibacanya adalah Tafsir Al-Quran dalam bahasa Belanda.?

Mr. Narjo memulai karirnya dengan bekerja sebagai pegawai Kantor Pusat Statistik Jakarta. Namun tampaknya nasib telah menentukannya menjadi salah seorang pionir di Departemen Agama, karena tak lama kemudian, ia diangkat menjadi Panitera di Mahkamah Islam Tinggi, wilayah Jawa dan Madura. Jabatannya kemudian diganti Moh. Djunaidi pada tahun 1948.

Haedar Nashir

Sebetulnya sejak proklamasi kemerdekaan, Mr. Narjo tidak aktif mengemban jabatan itu karena ia bersama Prof. Dr. A Rasjidi dan KH Fathurrohman Kafrawi diberi tugas mengatur struktur Departemen Agama. Kemudian ia menjadi sekretaris jenderal departemen tersebut pada Menteri KH Masykur dari NU.?

Setelah masa perang berlalu, Pemerintahan RI kembali ke Jakarta (sempat dipindahkan ke Yogyakarta), ia diangkat Menteri Agama KH Wahid Hasyim menjadi Sekretaris Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri. Wahid Hasyim menugaskannya untuk membentuk PTAIN dalam kedudukannya sebagai Pejabat Tinggi Departemen Agama.?

Di samping jabatannya pejabat tinggi Departemen Agama, ia juga memberikan kuliah pada mahasiswa. Mata kuliah yang dipegangnya adalah “Asas-asas Hukum Tatanegara” dan “Asas-asas Hukum Perdata”.?

Kemudian Mr. Narjo kemudian terjun ke area politik melalui Partai NU. Ia menjadi menteri mewakili NU dalam beberapa kabinet. Ia tercatat menjadi Menteri Dalam Negeri mengganti Prof. Hazirin mulai 19 November 1954 pada Kabinet Ali Sastroamidjojo I dari Partai Nasional Indonesia. Dalam Kabinet Burhanuddin Haraharap dari Masyumi ia menduduki jabatan yang sama dan tetap mewakili NU (12 Agustus 1995 sampai dengan 24 Maret 1956). Tapi ia mundur bersama seluruh menteri dari NU pada 19 Januari 1956.

Dalam kabinet Ali Sastroamidjojo II dari Partai Nasional Indonesia, ia mengemban jabatan yang sama mewakili NU sejak 9 Januari 1957. Sampai kabinet jatuh, ia merangkap jabatan Menteri Kehakiman ad interim. ? Pada Kabinet Djuanda (Kabinet Karya) menjabat Menteri Agraria. Pada kabinet yang sama, pada tahun 1958, ia menjabat Menteri Agama ad interim.

Haedar Nashir

Ia juga pernah menjadi anggota Konstituante pada tahun 1956 sampai dengan 1959 mewakili Partai NU. Jabatan lembaga legislatif ini diperolehnya lagi ketika ia menjadi anggota DPR-GR pada tahun 1960 sampai dengan 1968 mewakili Golongan (cendekiawan). Ia menjadi anggota DPR/MPR pada tahun 1978 sampai dengan 1982 dari Partai Persatuan Pembangunan.?

Dari hasil perkawinannya dengan Hj. Umi Salamah (menikah tahun 1952), Mr. Narjo dikaruniai empat putra dan empat putri. Seluruh putra dan putrinya berhasil lulus dari Perguruan Tinggi. Tapi ia menekankan supaya anak-anaknya merasakan belajar ilmu agama sebagaimana dirinya. KH Anwar Musyadad, ajengan asal Garut, Jawa Barat, yang pernah jadi Wakil Rais Aam PBNU mengajar anak-anaknya dalam ilmu agama.?

Mr. Narjo meninggal pada tahun 1996 Bethesda Yogyakarta karena serangan stroke. Ia dimakamkan di Sragen di samping pusara istrinya. (Abdullah Alawi , disarikan dari: Machasin, Lima Tokoh IAIN Sunan Kalijaga: Prof. Mr. R.H.A. Soenarjo)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Quote, Hadits Haedar Nashir

Majelis Alumni IPNU Desak Penuntasan RUU KUHP

Semarang, Haedar Nashir. Majelis Alumni mendorong percepatan dan penuntasan rancangan Undang Undang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (RUU KUHP) yang berbasis pada norma hukum yang hidup di tengah masyarakat Indonesia.

Majelis Alumni IPNU Desak Penuntasan RUU KUHP (Sumber Gambar : Nu Online)
Majelis Alumni IPNU Desak Penuntasan RUU KUHP (Sumber Gambar : Nu Online)

Majelis Alumni IPNU Desak Penuntasan RUU KUHP

Demikian salah satu pokok pikiran yang menjadi pembahasan dalam  acara silaturrahim Nasional (Silatnas) Majelis Alumni IPNU di Semarang Jum’at-Sabtu (22-23/3).

Ketua Umum Presidium Majelis Alumni H Hilmi Muhammadiyah menilai KUHP merupakan produk Belanda dan bersumber dari tata nilai yang berbeda dengan tata nilai yang hidup di tengah masyarakat Indonesia sehingga sangat terlambat untuk segera diganti.

Haedar Nashir

“Untuk itu Majelis Alumni IPNU mendesak segera penuntasan KUHP baru yang menyerap jiwa dan nilai yang hidup di tengah masyarakat, terkhusus norma dan hukum Islam yang terkait dengan aturan pemidanaan,” katanya yang didampingi sekjen presidium Asrorun Ni’am Sholeh.

Haedar Nashir

Dalam konteks ini, tandasnya, Majelis Alumni IPNU mendorong pasal pemberatan hukuman terhadap pengedar dan bandar narkoba, miras, dan zat adiktif lainnya dalam rangka menjaga akal (hifzh al-‘aql) serta memberikan hukuman keras bagi penoda agama dalam rangka menjaga kesucian agama dan ajarannya (hifzh al-din).

“Termasuk juga pidana bagi pembunuh dan segala aktifitas yang mengancam jiwa, termasuk santet, sihir, tenung, dan aktifitas yang menjanjikan jasa untuk mengancam jiwa,  dalam rangka mengoptimalkan perlindungan terhadap jiwa (hifzh al-nafs),” tandas Hilmi.

Alumni IPNU juga mendorong penuntasan pasal pidana  pemerkosa, pelaku pelecehan seksual, dan pelaku perzinaan serta hidup bersama tanpa pernikahan dalam rangka menjaga keturunan yang sah ((hifzh al-nasl).

“Termasuk pula pasal tentang pelaku korupsi, kolusi, nepotisme, serta pencurian, baik terhadap kekayaan indivisu, korporasi, maupun negara, dalam rangka perlindungan terhadap harta (hifzh al-maal),”tambahnya.

Terkait persoalan internal NU, Majelis Alumni mendorong pemaknaan Khittah NU secara proporsional. Menurutnya, khidmah kader NU di berbagai bidang adalah sebuah realitas yang harus didukung, difasilitasi, didorong, dan disinergikan, agar senantiasa berpegang teguh pada nilai-nilai luhur NU serta dapat memberi manfaat secara optimal bagi NU dan bangsa. 

“Perbedaan lahan pengabdian, orientasi pilihan politik maupun peran sosial kemasyarakatan yang berbeda, serta khidmah di bidang-bidang lain harus dibaca sebagai sebuah kekuatan yang harus dirajut; bukan sebuah kelemahan, terlebih ancaman yang harus diberangus.”ujar Hilmi.

Majelis alumni menilai secara filosofis Khittah Nahdlatul Ulama 1926 yang diputuskan pada Muktamar di Situbondo, Jawa Timur, adalah upaya ulama untuk memosisikan Nahdlatul Ulama pada jalan yang benar dalam relasi negara dan agama. Khittah NU tidak serta merta mengharamkan partisipasi politik, termasuk poltik praktis. 

“Khittah NU justru menempatkan politik pada proporsinya, menjadi salah satu instrumen dan sarana khidmah untuk mengoperasionalisasi nilai dan tujuan NU dalam dunia nyata, melalui jalur politik. Pada saat bersamaan, jalur dakwah, pendidikan, dan sosial harus tetap didorong dan saling bersinergi.”terang Hilmi Muhammadiyah.

Sementara itu, agenda Silatnas  Sabtu (23/3) pagi adalah diskusi sosial politik dan keagamaan bersama politisi PPP Arwani Thamafi, Abdul hamid Wahid dan mantan ketua umum IPNU yang juga Bupati Banyuwangi Abdullah Aswar Anas. Kemudian dilanjutkan Diskusi Bidang Hukum dan ekonomi dengan nara sumber Arifin Hamid.

Usai itu, kegiatan yang mengambil tema konsolidasi generasi baru NU; memperkuat akar,mengokohkan khidmat, dilanjutkan pendalaman dan penyusunan rekomendasi silatnas kemudian  diteruskan dengan upacara penutupan pukul 12.00 WIB.

Redaktur     : A. Khoirul Anam

Kontributor : Qomarul Adib

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Hadits Haedar Nashir

Bazar Nusantara, Padukan Perniagaan dan Keilmuan

Surabaya, Haedar Nashir. Bazaar Nusantara digelar kemarin, Surabaya, Kamis (25/6) malam. Pemandangan berbeda di Bazar Nusantara itu ialah pengajian yang hadir di tengah pasar. Panitia bazar sengaja berkerja sama dengan Aswaja NU Center PWNU Jatim guna mengisi pengajian di tengah-tengah bazar.

Bazar Nusantara, Padukan Perniagaan dan Keilmuan (Sumber Gambar : Nu Online)
Bazar Nusantara, Padukan Perniagaan dan Keilmuan (Sumber Gambar : Nu Online)

Bazar Nusantara, Padukan Perniagaan dan Keilmuan

Seketika itu Bazar Nusantara disulap seperti salah satu pasar di Yaman. Pasar itu bernama pasar Tarim. Pasar Tarim adalah pasar yang memadukan kepentingan perniagaan (jual-beli) dan keilmuan.

"Bazar Nusantara kalau seperti ini seperti pasar Tarim, Yaman. Para penjual menjual barang dagangannya, sedangkan sebagian para pengunjung mengikuti atau menyimak pengajian yang telah berlangsung di pasar," kata ustadz A Muntaha, mengawali penyampaiannya.

Haedar Nashir

Dalam pengajian yang diberi nama Ngabar (Ngaji Aswaja di Bazar) itu, A Afif Amrullah yang didaulat sebagai moderator terlebih dahulu memperkenalkan Aswaja NU Center PWNU Jatim serta menyampaikan tujuan dan maksud dilaksanakan Ngabar ini.

Haedar Nashir

"Kami juga membagikan buku saku argumen amaliyah di bulan Syaban dan Ramadlan kepada 20 peserta pertama," lanjutnya mengajak para pengunjung Ngabar.

Aswaja NU Center adalah salah satu lembaga nonstruktural yang berada di NU. Ngabar ini bertujuan menyebarluaskan paham Aswaja kepada masyarakat luas. "Di bazar semua masyarakat berbagai elemen berkumpul, inilah salah satu cara kami untuk memperkenalkan Aswaja kepada masyarakat umum," ujar Afif, saat ditemui setelah acara.

Sementara ustadz Muntaha lebih banyak bicara amaliyah NU. Menurutnya, di NU sudah jelas Tarawih 20 rakaat berdasarkan mayoritas ahli ilmu mengikuti riwayat Sayyidina Umar dan para sahabat Nabi Muhammad SAW. Hadist itu diriwayatkan oleh Sunan At-Tirmidzi 734.

Selain itu, Muntaha menyampaikan kepada peserta Ngabar tentang penentuan awal Ramadlan dan awal Syawal yang selalu menggunakan metode rukyatul hilal.

Alamiyah bulan Syaban pun dikupas habis oleh ustadz yang juga pengurus LBM NU Jawa Timur itu. Muntaha lebih banyak berbicara soal nisfu Syaban. (Rofii Boenawi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Hadits, Olahraga, Cerita Haedar Nashir