Kamis, 05 Oktober 2017

Isyaroh Gus Dur pada Pengeboman Kedutaan Australia

Jakarta, Haedar Nashir. Aksi terorisme di Indonesia dengan jumlah korban meninggal sangat besar marak terjadi pada awal 2000-an, salah satu yang menjadi sasaran adalah kedutaan Australia di kawasan Kuningan Jakarta.

Pagi itu, pada hari terjadinya pengeboman, aktifitas Jakarta berjalan sebagaimana biasanya, panas, macet dan kesibukan jutaan manusia di dalamnya. Tak ada yang menduga ada peristiwa mengerikan bakal segera terjadi. 

Isyaroh Gus Dur pada Pengeboman Kedutaan Australia (Sumber Gambar : Nu Online)
Isyaroh Gus Dur pada Pengeboman Kedutaan Australia (Sumber Gambar : Nu Online)

Isyaroh Gus Dur pada Pengeboman Kedutaan Australia

Gus Dur berada di bandara Soekarno Hatta Cengkareng Jakarta, sedang menunggu boarding menuju Yogyakarta bersama Imam Mudakkir, salah seorang teman lamanya. Asyiklah mereka berdua mengobrol di ruang tunggu. Ditengah-tengah obrolan itu, Gus Dur tiba-tiba terdiam, lalu berujar.

Haedar Nashir

“Kang, kayaknya ini mau ada peristiwa luar biasa”

“Apa itu Gus,” kata Imam dengan mimik penasaran.

“Ya, ngak tahu, namanya juga isyaroh,”

Haedar Nashir

“Apa ya?” lanjut Imam penuh tanya.

“Kita tunggu saja,” kata Gus Dur menutup pembicaraan tentang hal itu dan melanjutkan obrolan sebelumnya yang disela.

Lalu, terbanglah mereka berdua menuju kota budaya ini. Sesuai dengan aturan penerbangan, seluruh alat komunikasi berupa HP harus dimatikan selama penerbangan. Pertanyaan tentang kejadian besar hanya disimpan dalam hati.

Akhirnya setelah melewati perjalanan selama sekitar 1 jam, sampailah mereka di Yogyakarta dengan selamat.

Begitu turun dari pesawat, mereka segera menyalahan HP. Manusia zaman modern tampaknya sudah tak bisa lepas dari HP sehingga dalam keadaan apapun, berusaha terhubung dengan yang lain.

Benar saja, baru saja dihidupkan, HP Imam berdering, dilihat nomor penelepon ternyata dari istrinya di Jakarta. Segera saja dijawabnya panggilan tersebut. Ia mendengar suara istrinya dengan nada panik dari saluran seberang.

“Pak, ini kedutaan Australia baru saja di bom. Kaca-kaca rumah kita di lantari 2 pada pecah semua,”

“Bagaimana, apa semua yang ada di rumah selamat?” ujar Imam terkejut. Rumahnya memang berada di lokasi tak jauh di belakang kedutaan Australia.

“Alhamdulillah, yang di rumah tidak ada yang terluka, tapi ngak tahu yang di lokasi kejadian,”

Imam pun segera melaporkan kejadian tersebut kepada Gus Dur. Ia disarankan untuk segera pulang.

“Sudah, kamu pulang saja, dengan penerbangan tercepat, urus keluarga di rumah. Saya biar melanjutkan perjalanan sesuai dengan rencana semula,“ kata Gus Dur.

“Ya, makasih Gus“

Akhirnya mereka berpisah, Gus Dur pergi bersama penjemput yang sudah menunggu sedangkan Imam menuju counter penjualan tiket menuju Jakarta.

Penulis: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Doa, AlaSantri, Nahdlatul Haedar Nashir

Rabu, 04 Oktober 2017

Guru yang Baik adalah yang Terus Belajar

Sumedang, Haedar Nashir

Pondok Pesantren Al-Hikamussalafiyyah yang beralamat di Sukamantri, Tanjungkerta, Sumedang, Jawa Barat, pada Sabtu (23/7) mengadakan pembinaan terhadap guru-guru tahfidz Al-Quran. Salah satu pengisi materi dalam kegiatan tersebut adalah Ketua PCNU Kabupaten Sumedang H. Sadulloh.

H. Sadulloh mengatakan bahwa ilmu itu akan tetap ada dan berkembang jika sering dideres (dibaca ulang). Salah satu cara melakukan hal itu adalah dengan mengajarkan ilmunya kepada orang lain.

Guru yang Baik adalah yang Terus Belajar (Sumber Gambar : Nu Online)
Guru yang Baik adalah yang Terus Belajar (Sumber Gambar : Nu Online)

Guru yang Baik adalah yang Terus Belajar

Selain itu, ia juga mengatakan bahwa menjadi guru itu bukan berarti ilmunya sudah cukup dan tidak perlu belajar lagi. Justru guru yang baik itu harus terus belajar. Guru harus mampu berinovasi dalam membuat strategi belajar mengajar.

Haedar Nashir

Zaman terus berkembang, kondisi dan karakter santri atau siswa yang akan belajar pun tiap tahunnya berubah-ubah. Seorang guru harus pandai mengajar dengan mengambil nilai-nilai baru yang baik tapi tetap mempertahankan nilai lama yang lebih baik.

Haedar Nashir

Menjadi guru, lanjutnya, juga harus berani dikritik oleh orang lain. Jangan keras kepala dan jangan merasa paling benar. Siapa tahu hafalan Al-Quran yang sering kita baca itu masih banyak yang salah. Solusinya seorang guru harus sering belajar untuk menambah wawasannya.

Sering mengeluh bukanlah karakter seorang guru yang baik. Guru itu jangan sering berkata “sibuk” dan jangan suka mengeluh. Syukuri saja kesibukan tersebut. Jangan menolak kepercayaan yang telah diberikan. Peganglah kepercayaan atau amanah itu semaksimal mungkin.

“Selain itu seorang guru harus bisa memberi hadiah kepada santri atau siswa yang berprestasi. Berikan juga sanksi atau teguran kepada santri atau siswa yang memang harus ditegur. Tapi sanksi atau tegurannya yang mendidik,” tutup H. Sadulloh. (Ayi Abdul Kohar/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pahlawan Haedar Nashir

As’ad Said Ali: Bukan Mustahil Indonesia Seperti Irak dan Suriah

Bojonegoro, Haedar Nashir - H As’ad Said Ali mengingatkan tentang pentingnya penguatan ideologi Ahlusunnah wal Jama’ah (Aswaja) seiring dengan tantangan di luar yang bisa merongrong keutuhan NKRI. Wakil Ketua Umum PBNU periode 2010-2015 ini mengatakan, bukan mustahil krisis kemanusiaan yang ada di Timur Tengah, seperti di Irak dan Suriah, akan terjadi juga di Indonesia.

Kemungkinan itu ada lantaran masuknya organisasi transnasional di Tanah Air seperti sekarang ini. Karena itu, penulis buku Al-Qaeda: Tinjauan Ssial-Politik, Ideologi, dan Seak Terjangnya ini mendorong NU sebagai jam’iyah bisa menjadi bandul penyeimbang antara dua kutub, ekstrem kanan maupun ekstrem kiri.

As’ad Said Ali: Bukan Mustahil Indonesia Seperti Irak dan Suriah (Sumber Gambar : Nu Online)
As’ad Said Ali: Bukan Mustahil Indonesia Seperti Irak dan Suriah (Sumber Gambar : Nu Online)

As’ad Said Ali: Bukan Mustahil Indonesia Seperti Irak dan Suriah

Ia menyampaikan hal tersebut saat menghadiri Musyawarah Kerja Cabang (Musykercab) II yang digelar Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Bojonegoro di Pondok Pesantren Abu Dzarrin Ngumpakdalem, Kecamatan Dander, Kabupaten Bojonegoro, Sabtu (18/3).

Mantan wakil kepala Badan Intelijen Negara ini juga menyinggung tentang isu komunisme di negara Indonesia. “Ideologi komunis ini sebenarnya sudah tidak laku lagi baik di negara kita maupun di negara asalnya seperti Rusia atau China, namun kita juga tidak boleh meremehkanyya atau menggagapnya ancaman serius,” katanya.

Haedar Nashir

Acara yang dikemas dengan Silaturahim Alim Ulama’ dan Halaqah itu mengangkat tema “Memperkokoh Jam’iyah dan Jamaah NU Menuju Pengawalan Tegaknya Ahlussunnah wal Jamaah dan NKRI.”

Haedar Nashir

Selain dihadiri para alim ulama dan pengurus NU setempat, hadir pula tamu dari jajaran Forpimda Kabupaten Bojonegoro, serta para alumni Kader Penggerak NU se-Bojonegoro yang sudah mencapai 814 kader yang meliputi angkatan I-XII.

Turut hadir dalam acara ini KH Abdurrahman Navis dari PWNU Jawa Timur untuk membuka acara tersebut. Dalam sambutannya? ia menyampaikan tentang pentingnya ideologi aswaja yang akhi-akhir ini sedang dalam ancaman dari organisasi transnasional, baik itu radikalisme maupun liberalisme. Navis juga menambahkan, terkait program prioritas NU yang sekarang sedang digalakkan yaitu penguatan ideologi aswaja, pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan pengkaderan. (Red: Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Tokoh Haedar Nashir

Senin, 02 Oktober 2017

Lima Pesan Kiai Ali Maksum untuk Warga NU

Boyolali, Haedar Nashir. Suatu ketika KH Ali Maksum, yang pernah mengemban sebagai Rais Aam PBNU, hadir dalam sebuah acara yang diselenggarakan pengurus NU. Dalam kesempatan tersebut, ia berpesan kepada sejumlah pengurus dan ribuan warga NU yang hadir. untuk melaksanakan beberapa hal ini.

“Pertama, yakni al-‘alimu wat ta’alum bi nahdlatil ulama. Warga Nahdliyyin mesti mempelajari apa dan bagaimana NU,” tutur Pengasuh Pesantren Al-Qur’aniyy Solo, KH Abdul Karim, pada saat acara pelantikan pengurus MWCNU Banyudono dan Sholawat, di Desa Jembungan Banyudono, Boyolali, Sabtu (11/10).

Lima Pesan Kiai Ali Maksum untuk Warga NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Lima Pesan Kiai Ali Maksum untuk Warga NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Lima Pesan Kiai Ali Maksum untuk Warga NU

Hal-hal lain, seperti kenapa mesti NU, siapakah tokoh NU juga perlu dipelajari. Kiai yang akrab dipanggil Gus Karim itu melanjutkan pesan kedua, yaitu setelah mempelajari juga perlu untuk diamalkan dan diajarkan (al-amalu bi nahdlatil ulama).

Haedar Nashir

Berikutnya ada jihad bi nahdlatil ulama (jihad ala NU) dan ash-shabru bi nahdlatil ulama (sabar dalam berjuang bersama NU). Terakhir, yakni ats-tsiqotu bi nahdlatil ulama (memiliki keyakinan terhadap perjuangan NU).

Haedar Nashir

“Kita mesti yakin, bahwa NU merupakan sebuah ormas yang mendapat ridho Allah. Bahwa dengan berjuang bersama NU, dapat membawa kita untuk masuk ke surga,” tegas Gus Karim. (Ajie Najmuddin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pahlawan, Doa, AlaNu Haedar Nashir

PMII Bandar Lampung Gelar Aksi Tolak Politik Uang

Bandar Lampung, Haedar Nashir. Sejumlah kader PC PMII Bandar Lampung dari pelbagai perguruan tinggi menggelar orasi dan penggalangan 1000 tanda tangan bagi terciptanya demokrasi terhormat di Bandar lampung, Lampung, Rabu (8/1). Mereka mengajak warga Lampung menolak demokrasi transaksional, demokrasi umbar janji, dan demokrasi halal-haram hantam.

Ketua PC PMII Bandar Lampung Hendri Badra mengatakan, setelah merdeka 68 tahun, kematangan demokrasi yang diharapkan masyarakat masih sangat jauh dari harapan rakyat. “Republik ini masih terkungkung dengan kegalauan sistem demokrasi,” kata Hendri, Rabu (8/1).

PMII Bandar Lampung Gelar Aksi Tolak Politik Uang (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Bandar Lampung Gelar Aksi Tolak Politik Uang (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Bandar Lampung Gelar Aksi Tolak Politik Uang

Elit politik dan negarawan pada era Orde Lama berasal dari kalangan terdidik dan aktivis. Sementara pada Orde Baru, kata Hendri, elit politik diramaikan kalangan militer. Sedangkan saat ini, pengusaha juga turut andil dalam sistem kenegaraan. Buktinya banyak pengusaha melibatkan diri dalam partai besar selain membuat partai baru.

Haedar Nashir

Berangkat dari sejumlah pertimbangan di atas, PC PMII Bandar Lampung menggelar aksi kali ini. Aksi ini mengambil bentuk orasi berjalan dari Gedung Juang hingga Tugu Adipura.

Haedar Nashir

Hendri berharap aksi ini bisa menciptakan pemilu 2014 dan legislatif bersih supaya pemilihan umum kembali pada khittahnya. Sebagai tindak lanjut dari aksi ini, PC PMII Bandar Lampung membuka posko pengaduan dugaan kecurangan pemilu di beberapa titik di Kota Bandar Lampung. (Gatot Arifianto/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Anti Hoax, Pesantren Haedar Nashir

ISNU: Mahasiswa IAIN Punya Kelebihan Jadi Pemimpin

Padang, Haedar Nashir. Ketua Umum PP ISNU Ali Masykur Musa, mahasiswa IAIN memiliki kelebihan untuk tampil dalam kepemimpinan nasional. Setidaknya ada tiga kelebihan mahasiswa yang ditempa di perguruan tinggi Islam.

ISNU: Mahasiswa IAIN Punya Kelebihan Jadi Pemimpin (Sumber Gambar : Nu Online)
ISNU: Mahasiswa IAIN Punya Kelebihan Jadi Pemimpin (Sumber Gambar : Nu Online)

ISNU: Mahasiswa IAIN Punya Kelebihan Jadi Pemimpin

Ali Masykur Musa mengungkapkan hal itu dalam kuliah umum bertajuk Peran Perguruan Tinggi Dalam Memberantas Korupsi, Kamis (6/12/2012) di aula IAIN Imam Bonjol Lubuk Lintah Padang. Hadir Rektor IAIN IB Padang Prof.Makmur Syarif,  Ketua ISNU Sumbar Masrul, Ketua Tanfidziyah PWNU Sumbar Khusnun Aziz dan 500 mahasiswa IAIN IB.

Menurut Masykur, kelebihan itu adalah pandangan agama Islamnya lebih bagus. Ke depan Negara Indonesia harus dipimpin oleh orang yang mengerti agama. Sehingga jabatan yang dipegangnya juga dilihat dari sisi agama yang akan dipertanggungjawabkan kepada Allah Swt.

Haedar Nashir

“Kedua, hidup sederhana. Umumnya mahasiswa IAIN hidup sederhana. Kesederhanaan itulah yang menjadi suri tauladan. Pemimpin haruslah hidup dengan sederhana dan jangan hidup mewah di tengah penderitaan rakyat. Ketiga, mahasiswa IAIN memliki semangat pejuang yang tinggi. Pemimpin harus memiliki sikap hidup untuk orang banyak,” kata Masykur mantan Ketua Umum PB PMII ini.

Haedar Nashir

Dikatakan, ada dua masalah besar bangsa Indonesia saat ini. Pertama, memudarnya jiwa nasionalisme anak-anak bangsa. Banyak kekayaan dan potensi negara yang dijual kepada pihak asing untuk mengeruk keuntungan segelintir orang. Ini sebagai akibat tidak adanya nasionalisme yang mengutamakan kepentingan bangsa negara.

“Kedua pengelolaan keuangan negara yang banyak bocor. Keuangan negara banyak disalahgunakan untuk kepentingan pribadi. Inilah yang dinamakan korupsi. Kemajuan ekonomi Indonesia menunjukkan angka yang terus menggembirakan. Yang masalah adalah distribusi terhadap orang banyak yang tak jalan. Artinya pemerataan pembangunan dan perkembangan ekonomi tersebut tidak dirasakan merata oleh rakyat,” kata Masykur.

Ali Masykur mengakui, banyak anggaran APBN/APBD yang tidak untuk membangun ekonomi rakyat secara langsung. Tapi anggaran tersebut sekitar 75 persen dihabiskan untuk gaji pegawai, serimonial dan fisik semata. Sisanya baru dimanfaatkan untuk kepentingan yang berhubungan langsung dengan rakyat.

“Kepada mahasiswa IAIN diminta untuk tetap mengawal pemberantasan korupsi di negeri ini. Karena mahasiswa memiliki peran penting dalam memberantas korupsi tersebut,” kata Masykur.

Sebelumnya, Ali Masykur Musa juga memberikan kuliah umum di hadapan civitas akademika Universitas Negeri Padang (UNP) dan penanaman pohon penghijauan.

Redaktur: Mukafi Niam

Kontributor: Armaidi Tanjung

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Halaqoh Haedar Nashir

Minggu, 01 Oktober 2017

Prof. Soenarjo, Menteri Dalam Negeri dari NU

Prof. Mr. R.H. A. Soenarjo, selanjutnya Mr. Narjo adalah Menteri Dalam Negeri dari NU pada zaman Orde Lama, penyelenggara pemilu pertama di Indonesia 1955. Ia juga salah seorang tokoh pembangun Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, dan IAIN-IAIN lainnya yang pada perkembangannya menjadi Universitas Islam Negeri (UIN).?

Mr. Narjo adalah putra dari seorang penghulu pada zaman penjajahan Belanda bernama Raden Iman Nasiruddin Imamdipuro. Sebagaimana ayahnya, kakek Mr. Narjo, Zaenal Mustopo, juga adalah seorang penghulu. Zaenal Mustopo dikenal sebagai seorang dermawan. Dari kekayaannya, ia membangu sebuah masjid besar di tengah-tengah kota Sragen.?

Mr. Narjo lahir 15 Mei 1908 di Sragen. Pada masa kecilnya, ia menempuh pendidikan di sekolah umum milik Belanda. Setamat di sekolah itu, ia melanjutkan ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO, setingkat SMP) di Surakarta. Kemudian masuk ke Algemeene Middelbare School (AMS, setingkat SMA) jurusan bahasa-bahasa timur yang juga di Surakarta. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan ke Rechts Hooge School (RHS, Sekolah Tinggi Hukum). Ia tamat pada perguruan itu pada tahun 1941.

Prof. Soenarjo, Menteri Dalam Negeri dari NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Prof. Soenarjo, Menteri Dalam Negeri dari NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Prof. Soenarjo, Menteri Dalam Negeri dari NU

Pengetahuan agama ia dapatkan dengan mengaji sehabis maghrib kepada ayahnya sendiri. Mengaji dijalaninya selama tinggal bersama orang tuanya di Sragen. Kepada ayahnya ia khatam belajar membaca Al-Qur’an. Kemudian ketika di Surakarta, ia mengaji di Pesantren Manba’ul Ulum, Jamsaren, untuk beberapa waktu. Pelajaran ilmu agama ia dapatkan juga dari K.R.T.P. Tapsiranom di Pengulon Solo.?

Ketika di Jakarta, meski ia tidak belajar ilmu agama secara khusus, ia sering bergaul dengan tokoh-tokoh agama. Di samping itu, ia sering membaca buku-buku agama. Buku yang banyak dibacanya adalah Tafsir Al-Quran dalam bahasa Belanda.?

Mr. Narjo memulai karirnya dengan bekerja sebagai pegawai Kantor Pusat Statistik Jakarta. Namun tampaknya nasib telah menentukannya menjadi salah seorang pionir di Departemen Agama, karena tak lama kemudian, ia diangkat menjadi Panitera di Mahkamah Islam Tinggi, wilayah Jawa dan Madura. Jabatannya kemudian diganti Moh. Djunaidi pada tahun 1948.

Haedar Nashir

Sebetulnya sejak proklamasi kemerdekaan, Mr. Narjo tidak aktif mengemban jabatan itu karena ia bersama Prof. Dr. A Rasjidi dan KH Fathurrohman Kafrawi diberi tugas mengatur struktur Departemen Agama. Kemudian ia menjadi sekretaris jenderal departemen tersebut pada Menteri KH Masykur dari NU.?

Setelah masa perang berlalu, Pemerintahan RI kembali ke Jakarta (sempat dipindahkan ke Yogyakarta), ia diangkat Menteri Agama KH Wahid Hasyim menjadi Sekretaris Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri. Wahid Hasyim menugaskannya untuk membentuk PTAIN dalam kedudukannya sebagai Pejabat Tinggi Departemen Agama.?

Di samping jabatannya pejabat tinggi Departemen Agama, ia juga memberikan kuliah pada mahasiswa. Mata kuliah yang dipegangnya adalah “Asas-asas Hukum Tatanegara” dan “Asas-asas Hukum Perdata”.?

Kemudian Mr. Narjo kemudian terjun ke area politik melalui Partai NU. Ia menjadi menteri mewakili NU dalam beberapa kabinet. Ia tercatat menjadi Menteri Dalam Negeri mengganti Prof. Hazirin mulai 19 November 1954 pada Kabinet Ali Sastroamidjojo I dari Partai Nasional Indonesia. Dalam Kabinet Burhanuddin Haraharap dari Masyumi ia menduduki jabatan yang sama dan tetap mewakili NU (12 Agustus 1995 sampai dengan 24 Maret 1956). Tapi ia mundur bersama seluruh menteri dari NU pada 19 Januari 1956.

Dalam kabinet Ali Sastroamidjojo II dari Partai Nasional Indonesia, ia mengemban jabatan yang sama mewakili NU sejak 9 Januari 1957. Sampai kabinet jatuh, ia merangkap jabatan Menteri Kehakiman ad interim. ? Pada Kabinet Djuanda (Kabinet Karya) menjabat Menteri Agraria. Pada kabinet yang sama, pada tahun 1958, ia menjabat Menteri Agama ad interim.

Haedar Nashir

Ia juga pernah menjadi anggota Konstituante pada tahun 1956 sampai dengan 1959 mewakili Partai NU. Jabatan lembaga legislatif ini diperolehnya lagi ketika ia menjadi anggota DPR-GR pada tahun 1960 sampai dengan 1968 mewakili Golongan (cendekiawan). Ia menjadi anggota DPR/MPR pada tahun 1978 sampai dengan 1982 dari Partai Persatuan Pembangunan.?

Dari hasil perkawinannya dengan Hj. Umi Salamah (menikah tahun 1952), Mr. Narjo dikaruniai empat putra dan empat putri. Seluruh putra dan putrinya berhasil lulus dari Perguruan Tinggi. Tapi ia menekankan supaya anak-anaknya merasakan belajar ilmu agama sebagaimana dirinya. KH Anwar Musyadad, ajengan asal Garut, Jawa Barat, yang pernah jadi Wakil Rais Aam PBNU mengajar anak-anaknya dalam ilmu agama.?

Mr. Narjo meninggal pada tahun 1996 Bethesda Yogyakarta karena serangan stroke. Ia dimakamkan di Sragen di samping pusara istrinya. (Abdullah Alawi , disarikan dari: Machasin, Lima Tokoh IAIN Sunan Kalijaga: Prof. Mr. R.H.A. Soenarjo)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Quote, Hadits Haedar Nashir