Kamis, 05 Oktober 2017

Film “Penjuru 5 Santri” Mulai Tayang 29 Januari

Jakarta, Haedar Nashir. Film “Penjuru 5 Santri” karya sutradara Wimbadi JP akan mulai tayang di bioskop Indonesia pada 29 Januari 2015 besok. Film ini berkisah tentang 5 sekawan yang tinggal dalam kesederhanaan dan keprihatinan, namun mereka tetap memiliki semangat yang tinggi untuk mencari ilmu.

Film “Penjuru 5 Santri” Mulai Tayang 29 Januari (Sumber Gambar : Nu Online)
Film “Penjuru 5 Santri” Mulai Tayang 29 Januari (Sumber Gambar : Nu Online)

Film “Penjuru 5 Santri” Mulai Tayang 29 Januari

Persembahan Cahaya Alam Film ini mengambil lokasi syuting di sebuah desa yang masih asri di daerah Jogjakarta sehingga nuansa alam pedesaan terasa sekali di film ini. Film yang diharapkan menuai kesuksesan seperti film "Laskar Pelangi".

Film ini dibintangi oleh 5 anak sebagai pemeran utama yaitu Noky Ezra, Nurul Shanty, Audrick Ardian Pratama, Rizqullah Daffa dan Bowie Putra Mukti, film Penjuru 5 Santri ini juga dibintangi oleh para artis senior seperti Yatie Surachman, Roy Marten, Baron Hermanto, Pong Hardjatmo, Eman 4 Sekawan, Ferry Salim dan juga Rendy Bragi, serta sastrawan sekaligus kiai D. Zawawi Imron.

5 sekawan yaitu Sabar, Wahyu, Slamet, Sugeng dan Rahayu tinggal di sebuah desa yang masih sangat asri bernama Desa Selopamioro, yang letaknya 40 kilometer di selatan kota Yogyakarta. Desa tersebut begitu alami dan hijau, jauh dari kebisingan dan hiruk pikuk suasana kota. Masyarakat di desa ini masih menggunakan tungku api berbahan bakar kayu untuk memasak sehari-hari, serta sungai dan danau sebagai sumber utama air yang mereka pakai untuk keperluan sehari-hari.

Haedar Nashir

Meskipun 5 sekawan itu tinggal dalam kesederhanaan dan keprihatinan, mereka tetap memiliki semangat yang tinggi untuk mencari ilmu. Walaupun jalan yang mereka tempuh untuk pergi ke sekolah tidaklah mudah.

Haedar Nashir

Ketika pagi tiba mereka segera berangkat ke sekolah tanpa memakai sepatu ataupun alas kaki lainnya. Tak hanya itu mereka harus menyeberangi sungai dan berjalan beberapa kilometer, dan ketika sore datang mereka pergi ke pondok pesantren menggunakan obor sebagai penerangan untuk belajar mengaji.

Awalnya, Sabar tidak diijinkan neneknya untuk belajar mengaji di pondok pesantren itu karena harus membantunya mencari kayu bakar dan rumput untuk kambing. Namun dengan kesabaran dan kelembutan dari Kiai Landung dalam membujuk sang nenek, akhirnya Sabar boleh mengikuti pengajian.

Suatu hari, lima sekawan tidak sengaja menemukan kejanggalan di tengah hutan jati. Apa yang sebenarnya terjadi? Tunggu dan saksikan cerita selengkapnya di bioskop terdekat. (Red: Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Cerita, Amalan Haedar Nashir

Isyaroh Gus Dur pada Pengeboman Kedutaan Australia

Jakarta, Haedar Nashir. Aksi terorisme di Indonesia dengan jumlah korban meninggal sangat besar marak terjadi pada awal 2000-an, salah satu yang menjadi sasaran adalah kedutaan Australia di kawasan Kuningan Jakarta.

Pagi itu, pada hari terjadinya pengeboman, aktifitas Jakarta berjalan sebagaimana biasanya, panas, macet dan kesibukan jutaan manusia di dalamnya. Tak ada yang menduga ada peristiwa mengerikan bakal segera terjadi. 

Isyaroh Gus Dur pada Pengeboman Kedutaan Australia (Sumber Gambar : Nu Online)
Isyaroh Gus Dur pada Pengeboman Kedutaan Australia (Sumber Gambar : Nu Online)

Isyaroh Gus Dur pada Pengeboman Kedutaan Australia

Gus Dur berada di bandara Soekarno Hatta Cengkareng Jakarta, sedang menunggu boarding menuju Yogyakarta bersama Imam Mudakkir, salah seorang teman lamanya. Asyiklah mereka berdua mengobrol di ruang tunggu. Ditengah-tengah obrolan itu, Gus Dur tiba-tiba terdiam, lalu berujar.

Haedar Nashir

“Kang, kayaknya ini mau ada peristiwa luar biasa”

“Apa itu Gus,” kata Imam dengan mimik penasaran.

“Ya, ngak tahu, namanya juga isyaroh,”

Haedar Nashir

“Apa ya?” lanjut Imam penuh tanya.

“Kita tunggu saja,” kata Gus Dur menutup pembicaraan tentang hal itu dan melanjutkan obrolan sebelumnya yang disela.

Lalu, terbanglah mereka berdua menuju kota budaya ini. Sesuai dengan aturan penerbangan, seluruh alat komunikasi berupa HP harus dimatikan selama penerbangan. Pertanyaan tentang kejadian besar hanya disimpan dalam hati.

Akhirnya setelah melewati perjalanan selama sekitar 1 jam, sampailah mereka di Yogyakarta dengan selamat.

Begitu turun dari pesawat, mereka segera menyalahan HP. Manusia zaman modern tampaknya sudah tak bisa lepas dari HP sehingga dalam keadaan apapun, berusaha terhubung dengan yang lain.

Benar saja, baru saja dihidupkan, HP Imam berdering, dilihat nomor penelepon ternyata dari istrinya di Jakarta. Segera saja dijawabnya panggilan tersebut. Ia mendengar suara istrinya dengan nada panik dari saluran seberang.

“Pak, ini kedutaan Australia baru saja di bom. Kaca-kaca rumah kita di lantari 2 pada pecah semua,”

“Bagaimana, apa semua yang ada di rumah selamat?” ujar Imam terkejut. Rumahnya memang berada di lokasi tak jauh di belakang kedutaan Australia.

“Alhamdulillah, yang di rumah tidak ada yang terluka, tapi ngak tahu yang di lokasi kejadian,”

Imam pun segera melaporkan kejadian tersebut kepada Gus Dur. Ia disarankan untuk segera pulang.

“Sudah, kamu pulang saja, dengan penerbangan tercepat, urus keluarga di rumah. Saya biar melanjutkan perjalanan sesuai dengan rencana semula,“ kata Gus Dur.

“Ya, makasih Gus“

Akhirnya mereka berpisah, Gus Dur pergi bersama penjemput yang sudah menunggu sedangkan Imam menuju counter penjualan tiket menuju Jakarta.

Penulis: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Doa, AlaSantri, Nahdlatul Haedar Nashir

Rabu, 04 Oktober 2017

Guru yang Baik adalah yang Terus Belajar

Sumedang, Haedar Nashir

Pondok Pesantren Al-Hikamussalafiyyah yang beralamat di Sukamantri, Tanjungkerta, Sumedang, Jawa Barat, pada Sabtu (23/7) mengadakan pembinaan terhadap guru-guru tahfidz Al-Quran. Salah satu pengisi materi dalam kegiatan tersebut adalah Ketua PCNU Kabupaten Sumedang H. Sadulloh.

H. Sadulloh mengatakan bahwa ilmu itu akan tetap ada dan berkembang jika sering dideres (dibaca ulang). Salah satu cara melakukan hal itu adalah dengan mengajarkan ilmunya kepada orang lain.

Guru yang Baik adalah yang Terus Belajar (Sumber Gambar : Nu Online)
Guru yang Baik adalah yang Terus Belajar (Sumber Gambar : Nu Online)

Guru yang Baik adalah yang Terus Belajar

Selain itu, ia juga mengatakan bahwa menjadi guru itu bukan berarti ilmunya sudah cukup dan tidak perlu belajar lagi. Justru guru yang baik itu harus terus belajar. Guru harus mampu berinovasi dalam membuat strategi belajar mengajar.

Haedar Nashir

Zaman terus berkembang, kondisi dan karakter santri atau siswa yang akan belajar pun tiap tahunnya berubah-ubah. Seorang guru harus pandai mengajar dengan mengambil nilai-nilai baru yang baik tapi tetap mempertahankan nilai lama yang lebih baik.

Haedar Nashir

Menjadi guru, lanjutnya, juga harus berani dikritik oleh orang lain. Jangan keras kepala dan jangan merasa paling benar. Siapa tahu hafalan Al-Quran yang sering kita baca itu masih banyak yang salah. Solusinya seorang guru harus sering belajar untuk menambah wawasannya.

Sering mengeluh bukanlah karakter seorang guru yang baik. Guru itu jangan sering berkata “sibuk” dan jangan suka mengeluh. Syukuri saja kesibukan tersebut. Jangan menolak kepercayaan yang telah diberikan. Peganglah kepercayaan atau amanah itu semaksimal mungkin.

“Selain itu seorang guru harus bisa memberi hadiah kepada santri atau siswa yang berprestasi. Berikan juga sanksi atau teguran kepada santri atau siswa yang memang harus ditegur. Tapi sanksi atau tegurannya yang mendidik,” tutup H. Sadulloh. (Ayi Abdul Kohar/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pahlawan Haedar Nashir

As’ad Said Ali: Bukan Mustahil Indonesia Seperti Irak dan Suriah

Bojonegoro, Haedar Nashir - H As’ad Said Ali mengingatkan tentang pentingnya penguatan ideologi Ahlusunnah wal Jama’ah (Aswaja) seiring dengan tantangan di luar yang bisa merongrong keutuhan NKRI. Wakil Ketua Umum PBNU periode 2010-2015 ini mengatakan, bukan mustahil krisis kemanusiaan yang ada di Timur Tengah, seperti di Irak dan Suriah, akan terjadi juga di Indonesia.

Kemungkinan itu ada lantaran masuknya organisasi transnasional di Tanah Air seperti sekarang ini. Karena itu, penulis buku Al-Qaeda: Tinjauan Ssial-Politik, Ideologi, dan Seak Terjangnya ini mendorong NU sebagai jam’iyah bisa menjadi bandul penyeimbang antara dua kutub, ekstrem kanan maupun ekstrem kiri.

As’ad Said Ali: Bukan Mustahil Indonesia Seperti Irak dan Suriah (Sumber Gambar : Nu Online)
As’ad Said Ali: Bukan Mustahil Indonesia Seperti Irak dan Suriah (Sumber Gambar : Nu Online)

As’ad Said Ali: Bukan Mustahil Indonesia Seperti Irak dan Suriah

Ia menyampaikan hal tersebut saat menghadiri Musyawarah Kerja Cabang (Musykercab) II yang digelar Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Bojonegoro di Pondok Pesantren Abu Dzarrin Ngumpakdalem, Kecamatan Dander, Kabupaten Bojonegoro, Sabtu (18/3).

Mantan wakil kepala Badan Intelijen Negara ini juga menyinggung tentang isu komunisme di negara Indonesia. “Ideologi komunis ini sebenarnya sudah tidak laku lagi baik di negara kita maupun di negara asalnya seperti Rusia atau China, namun kita juga tidak boleh meremehkanyya atau menggagapnya ancaman serius,” katanya.

Haedar Nashir

Acara yang dikemas dengan Silaturahim Alim Ulama’ dan Halaqah itu mengangkat tema “Memperkokoh Jam’iyah dan Jamaah NU Menuju Pengawalan Tegaknya Ahlussunnah wal Jamaah dan NKRI.”

Haedar Nashir

Selain dihadiri para alim ulama dan pengurus NU setempat, hadir pula tamu dari jajaran Forpimda Kabupaten Bojonegoro, serta para alumni Kader Penggerak NU se-Bojonegoro yang sudah mencapai 814 kader yang meliputi angkatan I-XII.

Turut hadir dalam acara ini KH Abdurrahman Navis dari PWNU Jawa Timur untuk membuka acara tersebut. Dalam sambutannya? ia menyampaikan tentang pentingnya ideologi aswaja yang akhi-akhir ini sedang dalam ancaman dari organisasi transnasional, baik itu radikalisme maupun liberalisme. Navis juga menambahkan, terkait program prioritas NU yang sekarang sedang digalakkan yaitu penguatan ideologi aswaja, pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan pengkaderan. (Red: Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Tokoh Haedar Nashir

Senin, 02 Oktober 2017

Lima Pesan Kiai Ali Maksum untuk Warga NU

Boyolali, Haedar Nashir. Suatu ketika KH Ali Maksum, yang pernah mengemban sebagai Rais Aam PBNU, hadir dalam sebuah acara yang diselenggarakan pengurus NU. Dalam kesempatan tersebut, ia berpesan kepada sejumlah pengurus dan ribuan warga NU yang hadir. untuk melaksanakan beberapa hal ini.

“Pertama, yakni al-‘alimu wat ta’alum bi nahdlatil ulama. Warga Nahdliyyin mesti mempelajari apa dan bagaimana NU,” tutur Pengasuh Pesantren Al-Qur’aniyy Solo, KH Abdul Karim, pada saat acara pelantikan pengurus MWCNU Banyudono dan Sholawat, di Desa Jembungan Banyudono, Boyolali, Sabtu (11/10).

Lima Pesan Kiai Ali Maksum untuk Warga NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Lima Pesan Kiai Ali Maksum untuk Warga NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Lima Pesan Kiai Ali Maksum untuk Warga NU

Hal-hal lain, seperti kenapa mesti NU, siapakah tokoh NU juga perlu dipelajari. Kiai yang akrab dipanggil Gus Karim itu melanjutkan pesan kedua, yaitu setelah mempelajari juga perlu untuk diamalkan dan diajarkan (al-amalu bi nahdlatil ulama).

Haedar Nashir

Berikutnya ada jihad bi nahdlatil ulama (jihad ala NU) dan ash-shabru bi nahdlatil ulama (sabar dalam berjuang bersama NU). Terakhir, yakni ats-tsiqotu bi nahdlatil ulama (memiliki keyakinan terhadap perjuangan NU).

Haedar Nashir

“Kita mesti yakin, bahwa NU merupakan sebuah ormas yang mendapat ridho Allah. Bahwa dengan berjuang bersama NU, dapat membawa kita untuk masuk ke surga,” tegas Gus Karim. (Ajie Najmuddin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Pahlawan, Doa, AlaNu Haedar Nashir

PMII Bandar Lampung Gelar Aksi Tolak Politik Uang

Bandar Lampung, Haedar Nashir. Sejumlah kader PC PMII Bandar Lampung dari pelbagai perguruan tinggi menggelar orasi dan penggalangan 1000 tanda tangan bagi terciptanya demokrasi terhormat di Bandar lampung, Lampung, Rabu (8/1). Mereka mengajak warga Lampung menolak demokrasi transaksional, demokrasi umbar janji, dan demokrasi halal-haram hantam.

Ketua PC PMII Bandar Lampung Hendri Badra mengatakan, setelah merdeka 68 tahun, kematangan demokrasi yang diharapkan masyarakat masih sangat jauh dari harapan rakyat. “Republik ini masih terkungkung dengan kegalauan sistem demokrasi,” kata Hendri, Rabu (8/1).

PMII Bandar Lampung Gelar Aksi Tolak Politik Uang (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Bandar Lampung Gelar Aksi Tolak Politik Uang (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Bandar Lampung Gelar Aksi Tolak Politik Uang

Elit politik dan negarawan pada era Orde Lama berasal dari kalangan terdidik dan aktivis. Sementara pada Orde Baru, kata Hendri, elit politik diramaikan kalangan militer. Sedangkan saat ini, pengusaha juga turut andil dalam sistem kenegaraan. Buktinya banyak pengusaha melibatkan diri dalam partai besar selain membuat partai baru.

Haedar Nashir

Berangkat dari sejumlah pertimbangan di atas, PC PMII Bandar Lampung menggelar aksi kali ini. Aksi ini mengambil bentuk orasi berjalan dari Gedung Juang hingga Tugu Adipura.

Haedar Nashir

Hendri berharap aksi ini bisa menciptakan pemilu 2014 dan legislatif bersih supaya pemilihan umum kembali pada khittahnya. Sebagai tindak lanjut dari aksi ini, PC PMII Bandar Lampung membuka posko pengaduan dugaan kecurangan pemilu di beberapa titik di Kota Bandar Lampung. (Gatot Arifianto/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Anti Hoax, Pesantren Haedar Nashir

ISNU: Mahasiswa IAIN Punya Kelebihan Jadi Pemimpin

Padang, Haedar Nashir. Ketua Umum PP ISNU Ali Masykur Musa, mahasiswa IAIN memiliki kelebihan untuk tampil dalam kepemimpinan nasional. Setidaknya ada tiga kelebihan mahasiswa yang ditempa di perguruan tinggi Islam.

ISNU: Mahasiswa IAIN Punya Kelebihan Jadi Pemimpin (Sumber Gambar : Nu Online)
ISNU: Mahasiswa IAIN Punya Kelebihan Jadi Pemimpin (Sumber Gambar : Nu Online)

ISNU: Mahasiswa IAIN Punya Kelebihan Jadi Pemimpin

Ali Masykur Musa mengungkapkan hal itu dalam kuliah umum bertajuk Peran Perguruan Tinggi Dalam Memberantas Korupsi, Kamis (6/12/2012) di aula IAIN Imam Bonjol Lubuk Lintah Padang. Hadir Rektor IAIN IB Padang Prof.Makmur Syarif,  Ketua ISNU Sumbar Masrul, Ketua Tanfidziyah PWNU Sumbar Khusnun Aziz dan 500 mahasiswa IAIN IB.

Menurut Masykur, kelebihan itu adalah pandangan agama Islamnya lebih bagus. Ke depan Negara Indonesia harus dipimpin oleh orang yang mengerti agama. Sehingga jabatan yang dipegangnya juga dilihat dari sisi agama yang akan dipertanggungjawabkan kepada Allah Swt.

Haedar Nashir

“Kedua, hidup sederhana. Umumnya mahasiswa IAIN hidup sederhana. Kesederhanaan itulah yang menjadi suri tauladan. Pemimpin haruslah hidup dengan sederhana dan jangan hidup mewah di tengah penderitaan rakyat. Ketiga, mahasiswa IAIN memliki semangat pejuang yang tinggi. Pemimpin harus memiliki sikap hidup untuk orang banyak,” kata Masykur mantan Ketua Umum PB PMII ini.

Haedar Nashir

Dikatakan, ada dua masalah besar bangsa Indonesia saat ini. Pertama, memudarnya jiwa nasionalisme anak-anak bangsa. Banyak kekayaan dan potensi negara yang dijual kepada pihak asing untuk mengeruk keuntungan segelintir orang. Ini sebagai akibat tidak adanya nasionalisme yang mengutamakan kepentingan bangsa negara.

“Kedua pengelolaan keuangan negara yang banyak bocor. Keuangan negara banyak disalahgunakan untuk kepentingan pribadi. Inilah yang dinamakan korupsi. Kemajuan ekonomi Indonesia menunjukkan angka yang terus menggembirakan. Yang masalah adalah distribusi terhadap orang banyak yang tak jalan. Artinya pemerataan pembangunan dan perkembangan ekonomi tersebut tidak dirasakan merata oleh rakyat,” kata Masykur.

Ali Masykur mengakui, banyak anggaran APBN/APBD yang tidak untuk membangun ekonomi rakyat secara langsung. Tapi anggaran tersebut sekitar 75 persen dihabiskan untuk gaji pegawai, serimonial dan fisik semata. Sisanya baru dimanfaatkan untuk kepentingan yang berhubungan langsung dengan rakyat.

“Kepada mahasiswa IAIN diminta untuk tetap mengawal pemberantasan korupsi di negeri ini. Karena mahasiswa memiliki peran penting dalam memberantas korupsi tersebut,” kata Masykur.

Sebelumnya, Ali Masykur Musa juga memberikan kuliah umum di hadapan civitas akademika Universitas Negeri Padang (UNP) dan penanaman pohon penghijauan.

Redaktur: Mukafi Niam

Kontributor: Armaidi Tanjung

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Halaqoh Haedar Nashir