Kamis, 09 November 2017

Untuk Apa PMII Didirikan?

Oleh KH Nuril Huda (Pendiri PMII)

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) pada 17 April 2016 genap berusia 56 tahun. Sebagai warga pergerakan sekaligus pendiri PMII, penulis bangga sekaligus bersyukur ke hadirat Illahi Robbi yang telah memberikan karunia dan nikmat untuk terus mengabdi dan berjuang dalam mencari ridla-Nya.

Untuk Apa PMII Didirikan? (Sumber Gambar : Nu Online)
Untuk Apa PMII Didirikan? (Sumber Gambar : Nu Online)

Untuk Apa PMII Didirikan?

Bangga karena tidak terasa ternyata PMII sudah berusia 56 tahun, umur yang dalam hitungan usia sudah tidak muda lagi, tapi semangat dan jiwa sebagai warga pergerakan harus muda dan siap menjadi garda terdepan dalam mengawal tradisi dan ajaran Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja).

Haedar Nashir

Semakin tua semakin menjadi. Artinya, dengan sikap kesatria, profesional dan mandiri, PMII harus lebih produktif memberikan sumbangsih dan kontribusi terhadap agama dan bangsa Indonesia. Meskipun acapkali PMII selalu menjadi momok dalam rumah sendiri, tapi itulah perjuangan, bahwa perjuangan hanya butuh pengorbanan bukan imbalan.

Meminjam istilah Bung Karno “berikan aku 10 pemuda, maka akan kuguncang dunia”, begitu juga dengan PMII, sekali PMII selamanya berjuang bersama PMII. Di PMII hanya butuh pemuda yang idealis dan semangat berjuang mengawal tradisi Aswaja. Berorganisasi itu belajar menghargai orang lain, latihan mengenal orang, menghormati keyakinan orang lain. Orang yang tanpa latihan maka dia akan menjadi pemimpin yang wagu, yang tidak pernah menghargai orang lain, apalagi menghormati orang lain.

Haedar Nashir

Nah, pada harlah (hari lahir) PMII kali ini, terpenting dan yang paling penting adalah mengenang dan mendoakan (haul) jasa para pendiri PMII. Meneruskan perjuangan dan menjaga tradisi paham Aswaja. Tentu, melalui acara istighotsah, tahlil, dan doa bersama. Karena inilah etika dan kebudayaan model Aswaja. Harlah PMII dalam setiap tahun harus selalu diperingati agar para generasi PMII tahu, orang lain tahu, apa sih PMII dan mengapa didirikan. Ini penting!

Mengapa PMII berdiri? Pada saat itu, tahun 1960 partai-partai besar mempunyai angkatan muda khususnya di kalangan mahasiswa, seperti GMNI, HMI, Masyumi, dan lain sebagainya. Akan tetapi NU yang memiliki basis massa terbesar justru tidak memiliki. HMI yang dulunya menjadi garda NU akan tetapi lebih condong kepada Masyumi.

Akhirnya, munculah ide dan gagasan dari daerah-daerah untuk mendirikan pergerakan mahasiswa yang selanjutnya diberi nama PMII. Beridirnya PMII tidak mulus begitu saja, banyak ganjalan dan kendala untuk mendirikan sebuah pergerakan Islam. Namun, karena keukeuh dan tekad bulat dari para pendiri PMII, maka hingga saat ini PMII tetap kokoh berdiri dan eksis sepanjang masa.

Gagasan Mendirikan PMII

Gagasan untuk mendirikan PMII berawal muncul dari pojok Sekretariat IPNU di Yogyakarta, dan waktu itu yang menjadi koordinator sementara adalah Ismail Makki. Setelah semua ide dikumpulkan, maka sepakat untuk mendirikan PMII. Sebanyak 13 orang sowan (menghadap) kepada Pengurus Besar NU di Jakarta yang isinya niatan untuk mendirikan PMII. Akhirnya, setelah berbincang dan membahas panjang, maka PBNU setuju PMII didirikan yang tujuannya adalah untuk mengikat para mahasiswa NU agar tidak bisa dan memiliki rumah sendiri.

Pada tahun 1960-an tepatnya bulan Ramadhan, selama 3 hari di Kaliurang,Yogyakarta, berkumpulah para tokoh IPNU dan 13 pimpinan IPNU wilayah se-Indonesia. Ketika itu, saya merupakan ketua IPNU cabang Solo yang saat itu sedikitnya memiliki 7 perguruan tinggi. Karena memang syarat mendirikan PMII di daerah harus ada perguruan tingginya. Sedangkan utusan dari PBNU yang hadir adalah KH. Anwar Mussadad.

Nah, dalam kongres pertama inilah PMII resmi berdiri lalu melahirkan berbagai macam aturan dan okoh muda yang selanjutnya diberikan mandat untuk meneruskan perjuangan Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) di Nusantara. Karena esensi didirikannya PMII adalah pertama, untuk meneruskan estafet perjuangan NU. Kedua, untuk melatih diri bermasyarakat dan berorganisasi tanpat mengubah pendirian dalam mempertahankan Aswaja. Dan ketiga, untuk menyiapkan generasi yang mampu menangani pergolakan tanpa mengorbankan prinsip akidah.

Untuk mendirikan PMII di daerah, saya sowan ke KH Abdul Hadi Al Hafidz di Langitan, Tuban. Niatan itu mendapat restu dan pesan untuk menunaikan puasa. Saya puasa 7 hari, dan mendirikan PMII di Lamongan, kemudian harus kembali lagi ke Solo untuk melanjutkan kuliah. Jadi, tidak main-main untuk memperjuangkan PMII. Bahwa berjuang di NU itu tidak mengandalkan pemikiran saja tetapi juga mengorbankan harta dan mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa.

Sekali lagi inilah perjuangan. Jadi, idealis itu butuh generasi, bahwa mendirikan PMII sampai merawat organisasi itu tidak gampang dan butuh perjuangan panjang. Untuk itulah, generasi saat ini hanya tinggal meneruskan dan merawat saja, tidak kurang, tidak lebih. Dan yang paling utama adalah tradisi Aswaja jangan sampai pudar dan musnah ditelah modernnya zaman.

Setelah PMII berdiri, maka para pengurus langsung eksen dan menyebarkan PMII di kampus-kampus. Berawal di kampus Yogyakarta, selama beberapa tahun anggotanya bisa dihitung jari, karena banyak mahasiswa yang tidak tertarik dengan PMII. Apa PMII itu? Mahluk apa itu? begitu kira-kira pertanyaannya.

Alhamdulillah, di Asia Tenggara, hanya PMII-lah yang sampai hari ini tetap eksis dan banyak anggotanya hampir mencapai satu juta dua ratus, tiap kota ada PMII. Dari 9 tokoh pendiri PMII, kini tinggal 3 orang yang masih hidup dan terus berjuang agar PMII tetap eksis dan menjadi penerus perjuangan ajaran Aswaja. Ketiga tokoh itu di antaranya, saya, KH Munsih Nahrawi dan KH Khalid Mawardi.

Sampai sekarang saya masih terus bergerilya ke daerah-daerah untuk menyuarakan panji-panji PMII. Pada tanggal 17 April 2016 saya menghadiri harlah PMII di Tuban, lanjut ke Lamongan pada tanggal 18, terus ke Bekasi, dan tanggal 19 saya menghadiri harlah PMII di Bondowoso, dan tanggal 20 saya menghadiri harlah PMII di Pamekasan, Madura. Kalau dituruti, hidup saya di jalanan, tapi enggak apa-apa, memang harus begini. Yang penting PMII tetap hidup dan terus berkembang.

Kalau saya tidak turun, saya khawatir, dalam ilmu sosiologi, suatu organisasi yang lama didirikan tanpa sentuhan pendiri maka lambat laun akan berubah. Makanya, saya khawatir PMII kalau tidak diurusi, akan berubah dan lama-lama tidak keruan. Saya sangat memperhatikan, terlebih kalau di luar daerah, apakah saya diundang MUI, NU, atau acara lainnya, saya selalu telepon temen-temen PMII untuk kumpul sama-sama bicara soal PMII dan masa depan PMII. Ini saya lakukan, mumpung saya masih hidup.

Tantangan hari ini, besok dan lusa PMII adalah budaya zaman. Tapi kalau idealisme PMII selamanya tidak bisa berubah yakni Aswaja, begitu juga soal akidah tidak bisa kompromi dan berubah, sekali NU selamanya tetap NU. Memang zaman sekarang berbeda jauh dengan zaman dulu, dari sisi budaya, karakter dan modelnya. Untuk itulah, generasai PMII saat ini harus bisa mengalahkan zaman atau paling tidak, jangan sampai kalah dengan budaya zaman saat ini. Boleh kita bicara budaya, boleh kita bergaya modern, boleh kita berdandan barat, boleh kita berpolitik, dan seterusnya. Tapi, jangan sekali-kali idealisme dan idiologi Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) berubah. Karakter NU harus tetap melekat walaupun penampilan bukan NU.

Salam pergerakan! Wallâahul muwaffiq ila aqwamith tharîq. Wassalam.

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Quote, Halaqoh Haedar Nashir

Rebut Kembali Masjid Nahdliyyin, LDNU Kumpulkan Majelis Ta’lim se-Jabotabek

Jakarta, Haedar Nashir

Nahdlatul Ulama (NU) merasa khawatir dengan nasib masjid-masjid milik warga nahdliyyin (sebutan untuk warga NU) diambilalih oleh kelompok-kelompok yang mengatasnamakan Islam. Oleh karenanya, Pengurus Pusat (PP) Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) berinisiatif melakukan gerakan nyata untuk merebut kembali masjid-masjid milik warga nahdliyyin itu, dengan mengumpulkan para pemimpin majelis ta’lim se-Jabotabek (Jakarta, Bogor, Tangerang dan Bekasi)

“Tanggal 30 (Agustus, red) nanti kita akan kumpulkan ketua-ketua majelis ta’lim se-Jabotabek. Kita harus rebut kembali masjid-masjid yang sudah dikuasai orang (kelompok, red) lain itu,” kata Ketua Umum PP LDNU KH Nuril Huda kepada Haedar Nashir di Kantor PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat, Kamis (24/8).

Seperti diberitakan Haedar Nashir beberapa waktu lalu, Ketua PBNU KH Masdar F Mas’udi mengungkapkan, sekelompok orang yang mengatasnamakan Islam telah serampangan mengambilalih masjid-masjid milik warga nahdliyyin dengan alasan syarat ajaran bid’ah dan beraliran sesat. Pengambilalihan yang dimaksud berbentuk penggantian para takmir masjid yang selama ini diisi oleh warga nahdliiyin. Demikian juga dengan tradisi-tradisi ritual keagamaan khas NU pun diganti.

Rebut Kembali Masjid Nahdliyyin, LDNU Kumpulkan Majelis Ta’lim se-Jabotabek (Sumber Gambar : Nu Online)
Rebut Kembali Masjid Nahdliyyin, LDNU Kumpulkan Majelis Ta’lim se-Jabotabek (Sumber Gambar : Nu Online)

Rebut Kembali Masjid Nahdliyyin, LDNU Kumpulkan Majelis Ta’lim se-Jabotabek

Kegiatan yang merupakan hasil kerja sama PP LDNU dengan PP Muslimat NU itu, kata Kiai Nuril—demikian panggilan akrabnya—, dilaksanakan setiap akhir bulan. Dalam pertemuan itu, para pemimpin majelis ta’lim tersebut diberikan pemahaman yang menyeluruh tentang paham Ahlusunnah wal Jama’ah (Aswaja).

Menurut Kiai Nuril, pemahaman tentang Aswaja yang benar dirasa sangat penting guna menghadapi gerakan-gerakan kelompok-kelompok yang telah mengambilalih masjid-masjid NU. Pasalnya, secara umum para pemimpin majelis ta’lim itu belum memahami sepenuhnya ajaran Aswaja tersebut.

Selain itu, Kiai Nuril menambahkan, tidak sedikit pula bermunculan ajaran yang mengatasnamakan Ahlussunnah, namun yang dimaksud bukanlah Aswaja. “Sekarang kan banyak sekali aliran yang mengaku Ahlussunnah, tapi sebetulnya bukan Ahlussunnah Wal Jama’ah. Ahlussunnah saja, beda dengan Ahlussunnah Wal Jama’ah. Makanya, majelis ta’lim ini harus diberi pemahaman agar bisa membedakan antara Ahlussunnah saja, dengan Ahlussunnah Wal Jama’ah,” terangnya.

Haedar Nashir

“Bedanya, kalau Ahlussunnah saja, itu hanya mengikuti ajaran dan perilaku Nabi Muhammad SAW. Tapi kalau Ahlussunnah Wal Jama’ah, mengikuti ajaran dan perilaku nabi sekaligus juga para Khulafaur Rosyidin (kholifah empat; Abu Bakar Assiddiq, Umar bin Khatab, Usman bin Affan dan Ali bin Abi Tholib, red),” imbuh Kiai Nuril.

Disadari Kiai Nuril, sebagai ormas Islam terbesar di Indonesia yang berpaham Aswaja, NU merasa perlu untuk segera melakukan gerakan-gerakan nyata dalam rangka penyelamatan terhadap paham yang sudah diyakini kebenarannya selama ini. Jika tidak, katanya, tidak ada jaminan dalam waktu sepuluh tahun mendatang ajaran moderat yang terkandung dalam Aswaja akan hilang dan tergantikan oleh paham yang lain.

Diungkapkan Kiai Nuril, pada pertemuan pertama dan kedua yang diikuti 162 ketua majelis ta’lim se-Jabotabek itu, responnya cukup positif atas kegiatan tersebut. Dalam pertemuan tersebut, katanya, sekaligus terungkap bahwa sebagian besar pimpinan majelis ta’lim belum mengerti sepenuhnya paham Aswaja sebagaiamana diterapkan NU selama ini.

Haedar Nashir

“Ibaratnya, kita akan berikan pencerahan kepada para majelis ta’lim itu tentang ajaran Aswaja yang benar dan menyeluruh. Biar mereka juga bisa membedakan antara paham Ahlussunnah saja dengan Ahlussunnah yang ada Wal Jama’ah-nya,” tandas Kiai Nuril.

Kegiatan tersebut, kata Kiai Nuril merupakan awalan. Selanjutnya, pihaknya akan memperluas wilayah garapan dari kegiatan tersebut hingga ke daerah-daerah, terutama daerah di luar Jawa. Karena, ungkapnya, fenomena tersebut tidak hanya terjadi di wilayah Jabotabek saja, melainkan seluruh Indonesia.

Untuk pertemuan mendatang (30 Agustus), tutur Kiai Nuril, pihaknya telah mengundang seorang tokoh muslimah asal Amerika Serikat untuk menjadi penceramah, yakni Mrs Tiye Mulazim. Menurutnya, Mrs Tiye Mulazim juga seorang muslimah yang berpaham Aswaja. (rif)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Halaqoh, Hadits, Hikmah Haedar Nashir

PP Muslimat NU Resmikan Kantor Baru Hasil Infak di 3 Kali Kongres

Bogor, Haedar Nashir. Pimpinan Pusat (PP) Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) bakal menempati kantor baru di Pengadegan, Kalibata, Jakarta Selatan yang diresmikan, Senin (27/3). Kantor baru itu terletak di samping kantor lama sehingga saat ini markas Muslimat NU memadai.

Ketua Umum PP Muslimat NU Hj Khofifah Indar Parawansa mengakui, kantor baru itu hasil infak dari para anggota Muslimat NU dari seluruh Indonesia yang berhasil ditabung selama 3 kali melewati perhelatan Kongres, yaitu di Lampung, Batam, dan Pondok Gede Jakarta.

PP Muslimat NU Resmikan Kantor Baru Hasil Infak di 3 Kali Kongres (Sumber Gambar : Nu Online)
PP Muslimat NU Resmikan Kantor Baru Hasil Infak di 3 Kali Kongres (Sumber Gambar : Nu Online)

PP Muslimat NU Resmikan Kantor Baru Hasil Infak di 3 Kali Kongres

“Itu hasil infak di kongres. Ibu-ibu mungkin tidak merasa, pada kongres di Lampung sebagian dari infaknya dikembalikan. Lalu saat kongres di Batam, sebagian infak juga dikembalikan untuk keperluan membangun kantor baru,” jelasnya dalam Rapimnas Muslimat NU, Ahad (26/3) di Sentul, Bogor, Jawa Barat.

Begitu juga dengan Kongres ke-17 Muslimat NU di Pondok Gede Jakarta, kata dia, 100 persen infak dari ibu-ibu Muslimat disatukan dengan infak dari kedua kongres di Lampung dan di Batam untuk membangun kantor baru.

“Yang ada di kantor itu, sebagian di antaranya adalah dana dari infak seluruh peserta Kongres ke-17 tahun 2016 lalu. Mudah-mudahan akan menjadi jariyah ibu-ibu semua,” ungkap Khofifah.

Haedar Nashir

Peresmian kantor baru tersebut merupakan bagian dari rangkaian Hari Lahir (Harlah) ke-17 yang dirangkai dengan pelantikan PP Muslimat NU yang digelar, Selasa (28/3) di Masjid Istiqlal Jakarta. Acara ini akan dihadiri sekitar 17.000 kader Muslimat dari sejumlah daerah.?

Haedar Nashir

Sebelum menggelar peringatan Harlah dan pelantikan pengurus, Muslimat NU terlebih dahulu menggelar Refleksi Kebangsaan 71 Tahun Muslimat NU bertajuk Pancasila, Agama, dan Negara sebagai penguatan ruh gerakan Muslimat NU.?

Diskusi dalam refleksi tersebut menghadirkan narasumber di antaranya Rais Aam PBNU KH Ma’ruf Amin, Pengasuh Pesantren Tebuireng KH Salahuddin Wahid, Ketua MPR RI Zulkifli Hasan, dan Direktur Pusat Studi Islam dan Kenegaraan Yudi Latif. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Kajian, Humor Islam, News Haedar Nashir

Rabu, 08 November 2017

KH Ma‘ruf Amin dan Gelar Professornya

Oleh Muhammadun

Rabu, 24 Mei 2017, KH Maruf Amin mendapatkan gelar profesor dari Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Magribi, Malang. Ini sesuai dengan Surat Keputusan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia (Menristek Dikti) Nomor 69195/A2.3/KP/2017, yang menegaskan bahwa KH Ma‘ruf Amin diangkat sebagai professor dengan status sebagai dosen tidak tetap dalam bidang Ilmu Ekonomi Syariah di UIN Malang.

Sidang senat terbuka itu dihadiri oleh Presiden Joko Widodo, Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa, Menristek Diktri Muhammad Natsir, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, dan lain sebagainya.

KH Ma‘ruf Amin dan Gelar Professornya (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Ma‘ruf Amin dan Gelar Professornya (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Ma‘ruf Amin dan Gelar Professornya

Para kiai memang tidak lazim mendapatkan gelar professor, karena mereka memang tidak begitu memedulikan urusan teknis akademik. Kiai lebih sibuk dengan melayani umat. Walaupun kiai melakukan proses pengembaraan ilmu begitu panjang, tetapi itu dilakukan tanpa predikat dan ijazah formal. Mereka sibuk mengkhatamkan kitab, kalaupun mendapatkan ijazah itu ijazah sanad ilmu, bukan ijazah sebagaimana lazimnya dalam sekolah. Kalau soal ijazah sanad ilmu, itu menjadi perhatian sangat serius bagi kiai. Karena sanad ilmu yang mereka kaji harus sampai kepada Nabi Muhammad SAW.

Haedar Nashir

KH Ma’ruf Amin termasuk kiai dengan tradisi keilmuan klasik yang sangat mapan. Ia mewarisi etos generasi santri salaf (klasik) yang sibuk dengan mengkaji ilmu Islam yang termaktub dalam kitab kuning. Kajian dalam kitab kuningnya tidak berhenti dalam diskusi dan ngaji, tetapi diaktualisasikan (dan diamalkan) dalam membangun bangsa dan negara. Tak heran kemudian kalau KH Ma’ruf Amin sekarang menduduki posisi tertinggi dalam tradisi keulamaan, Rais Aam PBNU dan Ketua Umum MUI Pusat. Dalam tradisi NU, kedudukan Rais Aam NU bukan amanah biasa, karena selain kedalaman ilmu pengetahuan, juga mempunyai posisi istimewa dalam spiritual.

Haedar Nashir

Gelar profesor, bagi seorang Rais Aam NU, hanyalah melengkapi kewibawaan semata. Karena posisi Rais Aam NU sama sekali tidak terkait dengan gelar akademik seorang kiai. Kalaupun perguruan tinggi memberikan gelar akademik, itu tugas perguruan tinggi untuk memberikan penghargaan sekaligus belajar dari tradisi keilmuan para Rais Aam NU. Tugas negara, melalui perguruan tingginya, untuk memberikan penghargaan itu, karena para kiai sudah menjalankan Tridarma perguruan tinggi dengan begitu tulus dan terbukti memberikan kontribusi besar dalam menjaga negara.

Gelar akademik yang disandang para kiai banyak didapatkan tanpa jenjang perkuliahan formal, karena kiai belajar dari pesantren ke pesantren. Pada masa orde lama, Bung Karno memberikan apresiasi tinggi kepada para kiai. Para kiai diminta mengajar di berbagai perguruan tinggi, walaupun mereka tidak mengenyam pendidikan formal. Di antara kiai yang mendapatkan gelar professor adalah KH Anwar Musaddad, KH Saifuddin Zuhri, KH R Moh Adnan, KH Ali Yafi. Gelar professor yang mereka dapatkan dikarenakan keahlian yang sangat mumpuni dan kiprahnya yang besar bagi bangsa dan negara. Masih banyak kiai dengan kapasitas keilmuan yang lebih tinggi, tetapi tidak mau mendapatkan gelar akademik tersebut.

Semasa Orde Baru, para kiai “tersingkir” dari dunia kampus. Karena tidak mempunyai ijazah formal, kiai dikembalikan ke pesantren masing-masing. Banyak kiai dengan kapasitas ilmu yang tinggi, santrinya juga ribuan, tetapi Orde Baru lebih memilih gelar akademik untuk mengajar di kampus. Setinggi apapun ilmu yang dicapai, karena tidak memenuhi syarat formal ijazah, kiai tidak bisa mengajar di kampus. Makanya, semasa Orde Baru tidak ada kiai yang mendapatkan gelar kehormatan dalam akademik. Para kiai akhirnya sibuk mendidik santri di pesantren dan melayani umat. Mahasiswa harus datang ke pesantren kalau mau mendapatkan ilmu para kiai. Masa Orde Baru, ilmunya kiai tidak diserap di kampus.

Kiai dan pesantren di masa Orde Baru menjadi kelompok yang termarginalkan, karena kiai dan pesantrennya tidak mau tunduk dalam politik Orde Baru. Orde Baru memangkas gerak langkah kiai dan pesantren, karena disinyalir sebagai bagian dari kekuasaan Orde Lama. Kiai NU dan pesantrennya memang mengalami masa “mesra” bersama Bung Karno, walaupun tetap kritis terhadap kepemimpinan negara. Banyak sekali contoh kritisnya para kiai dengan kebijakan Bung Karno, seperti pembentukan DPR-GR tanpa pemilu, kebijakan terkait PKI, dan kebijakan politik luar negerinya terkait dunia Islam. Tetapi bagaimanapun sikap kritis itu dilancarkan, para kiai selalu teguh menjaga NKRI dari ancaman apapun.

Pada masa Reformasi, ketika peta politik nasional mengalami pergeseran, posisi kiai dalam dunia akademik mendapatkan tempat baru. Tidak sedikit para kiai yang dikenal tinggi kapasitas keilmuannya kemudian mendapatkan gelar kehormatan doktor dan professor. Di antaranya KH MA Sahal Mahfudh, KH A Mustofa Bisri, KH Ahmad Hasyim Muzadi, KH Sholahuddin Wahid, dan KH Tholhah Hasan. Sedangkan yang mendapatkan gelar professor adalah KH Said Aqil Siroj dan KH Ma’ruf Amin.

Gelar yang diterima KH Ma’ruf Amin dan kiai lainnya adalah adalah bukti bahwa negara kembali hadir memberikan pengakuannya terhadap khazanah keilmuan yang berkembang di pesantren. Pengakuan negara ini sangat penting, bukan untuk kalangan pesantren, tetapi untuk masa depan negara itu sendiri. Karena pesantren sepanjang sejarah negeri ini terbukti memberikan kontribusinya dalam mencerdaskan anak bangsa.

Diakui atau tidak diakui negara, pesantren tetap menyelenggarakan pendidikan yang khas, sesuai dengan karakternya. Kalau negara tidak mengakui, yang rugi negara sendiri, karena telah mengabaikan proses belajar anak bangsa. Pesantren juga memberikan beasiswa tidak sedikit kepada santrinya yang tidak mampu, karena biaya sama sekali tidak menjadi acuan dalam belajar di pesantren. Banyak santri yang mengabdi di pesantren, tanpa bekal biaya sepeserpun, mendapatkan fasilitas pendidikan yang sama dengan lainnya. Para kiai tidak memedulikan anggaran dan bantuan dari negara, karena para kiai hanya fokus mengajar santri atau umat, tanpa peduli dengan urusan gaji.

Dokter Sutomo, salah satu pengagas Budi Utomo, melihat pesantren sebagai perguruan asli milik Nusantara ini. Dalam hal ini, Dokter Sutomo mengatakan.

“Pada zaman nenek saya, yaitu kira-kira pertengahan abad ke-19, pesantrenlah tempat perguruan kita yang asli. Karena belum terdesak oleh sekolah Gubernemen, pesantren ribuan jumlahnya. Pengaruh perguruan itu terhadap masyarakat kita, peradaban rakyat, tidak dapat diabaikan. Hubungan antara santri-santri dewasa (istilah sekarang mahasiswa dari universitas; di dalam pondok-pondok yang besar juga diajarkan ilmu lahir dan batin, yang di waktu ini jarang didapati di tanah air kita) erat sekali. Umpamanya, di waktu menanam dan menuai padi, di waktu ada kematian, di waktu bulan Puasa, hubungan yang erat itu nyata benar.”

Sutomo bahkan mengusulkan pesantren sebagai model pendidikan untuk Indonesia yang akan dilahirkan, walaupun usulannya ditolak. Sutomo memilih pesantren dengan beberapa alasan, yakni dalam dunia pesantren ada hubungan akrab dan intens antara santri dan kiai; lulusannya ternyata mampu masuk dalam dunia lapangan pekerjaan secara merdeka; kehidupan kiai yang sederhana; dan? model pendidikannya berjalan duapuluh empat jam. Dokter Sutomo mengatakan.

“Pesantren dan pondoknya mempersatukan anak-anak muda kita dari segala lapisan masyarakat. Anak petani, anak saudagar, anak bangsawan berkumpul di dalam pondok itu. Keadaan lahir dan batinnya mendapat bimbingan yang sama dari guru sehingga pemuda-pemuda itu, yang di kemudian hari memegang pekerjaan yang beraneka warna di dalam masyarakat, merasa satu karena ikatan lahir dan batin yang telah diletakkan, ditanam di dalam pondok dan pesantren itu. Sikap hidup bangsa kita di waktu itu, dari lapisan mana pun, tidaklah terpecah belah, terpisah satu sama lain seperti sekarang.”

Gelar professor yang diterima KH Ma’ruf Amin memang patut diapresiasi. Tetapi, kalangan pesantren harus tetap mengalir sebagaimana aslinya. Jangan sampai gelar-gelar akademik yang didapatkan para kiainya justru menjadikan pesantren keluar dari naluri dan keasliannya. Kalau itu terjadi, gelar professor yang diterima KH Ma’ruf Amin dan para kiai lainnya justru merusak masa depan keilmuan di pesantren.

Gelar professor yang diterima KH Ma’ruf Amin dan kiai lainnya juga bukan untuk mematikan daya kritis pesantren. Kalau negara melenceng, para kiai harus kritis terhadap para penyelenggara negara. Justru, para kiai harus berada di atas birokrasi kenegaraan sehingga tetap jernih dalam melihat setiap problem yang terjadi dalam penyelenggaraan negara. Para kiai harus tetap pada khittahnya: melayani umat, menjaga negara, dan teguh mengangkat harkat? dan martabat bangsa.

*) Santri di Masjid Zahrotun Wonocatur Banguntapan BantulDari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir RMI NU, Ulama, Syariah Haedar Nashir

PMII: Pemuda Jauh dari Cita Pendiri Bangsa

Pamekasan, Haedar Nashir. Di bawah terik matahari pukul 10.00 aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Pamekasan, satu per satu menaiki pondasi monumen Arek Lancor di jantung kota Pamekasan Ahad (27/10). Mereka berpidato.

Salah seorang aktivis, Mohammad Elman menegaskan, PMII miris kondisi pemuda hari ini. “Pemuda Indonesia, kini jauh dari cita-cita penegak kemerdekaan bangsa ini. Termasuk pemuda Madura sendiri. Tak sedikit yang masih terbelenggu oleh sifat menuhankan uang, pragmatis, dan karakter yang lebih mementingkan diri sendiri,” terang Ketua I PC PMII Pamekasan ini.

PMII: Pemuda Jauh dari Cita Pendiri Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII: Pemuda Jauh dari Cita Pendiri Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII: Pemuda Jauh dari Cita Pendiri Bangsa

Dikatakan, orasi yang menjadi perhatian banyak pengendara tersebut, merupakan salah satu upaya untuk merajut kesadaran para pemuda. Kesadaran betapa pemuda saat ini harus bangkit kembali. Pemuda Madura harus beranjak dari zona nyaman.

Haedar Nashir

“Jangan sampai, pesatnya teknologi dan informasi, menjadikan pemuda abai dalam belajar. Pemuda Madura yang sejauh ini belum begitu menjadi kiblat keilmuan dan kecakapan, bisa menunjukkan taringnya,” tekan Elman dengan wajah serius.

Haedar Nashir

Pantauan Haedar Nashir, massa PMII tampaknya tidak peduli dengan sinar matahari yang terasa membakar kulit. Hingga azan Dhuhur berkumandang, mereka tetap mendengungkan sekaligus mengajak pemuda agar sadar dan bangkit untuk semangat membangun negeri ini.

“Salah satu langkah positif yang bisa dilakukan pemuda sekarang ialah memandirikan diri sendiri. Membikin dirinya hebat dengan ilmu pengetahuan serta kecakapan yang bersumber dari potensi dan bakatnya. Ketika sudah bisa mandiri dan sejahtera, maka baru ia bisa bicara dan melangkah untuk memandirikan serta menyejahterakan masyarakat,” ujar alumnus STAIN Pamekasan ini.

Menurutnya, pemuda saat ini, termasuk pemuda Madura, cenderung semangat melakukan kritik dan kontrol terhadap orang lain. Sedangkan dirinya terperangkap dalam keterpurukan.

Sudarsono, aktivis PMII lainnya, menyatakan betapa pemuda itu tidak boleh seperti lilin. “Jangan sampai ia menerangi sekelilingnya, tetapi dirinya sendiri terbakar. Jadilah matahari. Ia setia menebar sinar sepanjang waktu, hingga tiba nantinya akhir dari segala kehidupan ini,” tukasnya.

Refleksi Sumpah Pemuda PMII Pamekasan ini diikuti oleh kader yang tersebar di penjuru Kabupaten Pamekasan. Terdiri dari lima komisariat. “Hanya Komisariat STAI Al-Khairat yang tidak hadir. Sebab, saat ini sedang melangsungkan Mapaba (Masa Penerimaan Anggota Baru, red),” pungkasnya.

Dalam kesempatan itu, para aktivis pergerakan menghayati makna Sumpah Pemuda. Sempat disentil bahasa-bahasa presiden SBY yang seringkali dicampur dengan bahasa asing dalam pidato resminya. Disinggung pula betapa tanah air ini penuh dengan penindasan karena belum meratanya keadilan. (Hairul Anam/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Amalan, Anti Hoax Haedar Nashir

Selasa, 07 November 2017

“GP Ansor Bukan Organisasi Kemarin Sore”

Kencong-Jember, Haedar Nashir. Puncak peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-79 GP Ansor Kencong Jember diadakan dalam bentuk Apel Kebangsaan. Apel yang dipusatkan di Alun-alun kota Puger itu diikuti 300 anggota Ansor dan 250 anggota Banser serta ratusan warga nahdliyyin, Ahad (23/6).

Kegiatan yang dirangkai dengan pelantikan 6 PAC dan 53 Pimpinan Ranting se Cabang Kencong tersebut diawali dengan kirab panji-panji Ansor dan Banser keliling kota Puger, dilanjutkan dengan penampilan atraksi pencak silat dan gebyar shalawat.

“GP Ansor Bukan Organisasi Kemarin Sore” (Sumber Gambar : Nu Online)
“GP Ansor Bukan Organisasi Kemarin Sore” (Sumber Gambar : Nu Online)

“GP Ansor Bukan Organisasi Kemarin Sore”

Tampil juga menghibur masyarakat kota Puger, tim Paduan Suara anak-anak Pesantren Kilat (Bimbingan Pasca Ujian Nasional) yang melantunkan lagu-lagu penyemangat GP Ansor, seperti Mars Ansor, Yaah Lalwathan dan Pusaka Ulama.

Haedar Nashir

Dalam sambutannya, Bupati Jember, yang diwakili oleh Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Pemkab Jember, H. Wiji Prastyo, menyampaikan apresiasi kepada Ansor, khususnya Ansor Kencong yang selalu tampil di Garda Depan dalam Perjuangan membela tanah air.

“Ansor bukanlah organisasi kemarin sore. Ansor adalah organisasi yang lahir sebelum bangsa ini lahir, dan perjuangan Ansor tak lapuk oleh hujan dan tak lekang karena panas,” jelas Kakesbangpol yang kader NU tersebut di lapangan kota Puger yang diguyur hujan gerimis.

Haedar Nashir

Selain para tokoh NU dan para ulama se kota Puger, hadir juga Pimpinan Wilayah GP Ansor Jawa Timur, ketua PC GP Ansor Banyuwanagi, para ketua Badan Otonom NU, kader Ansor yang menjadi anggota DPRD, yaitu Agus Widianto, ketua Fraksi PAN DPRD Jember dan HM Imam Ghozaly Aro, anggota DPRD Jawa Timur dan sejumlah undangan lainnya.

KH Khoir Zad Maddah, Rais Syuriyah PCNU Kencong dalam amanahnya menyampaikan agar GP Ansor selalu berada dalam garis perjuangan ulama NU, yaitu islam ala ahlissunnah wal jamaah.

Pesan Gus Ya’ (panggilan akrab KH Khoir Zad) tersebut mempertegas instruksi kepada kader Ansor, agar persoalan aliran menyimpang yang selama ini mengganggu kerukunan warga NU dan umat Islam kota Puger selalu menjadi fokus perhatian Ansor. 

Sementara itu, Abd. Rohim, ketua PC GP Ansor dalam laporannya menyampaikan berbagai program kegiatan dalam rangka Harlah 79 GP Ansor, yang meliputi berbagai kegiatan, Seminar, Gebyar Shalawat, Bahtsul Masail, Pelatihan Koperasi Syariah, Sanlat, Turnamen Tenes Meja, dan ditutup dengan Apel Kebangsaan di Alun-Alun Kota Puger.

“Pokoknya sejak April 2013 sampai jelang malam Nisfu Sya’ban sore ini Ansor Kencong benar-benar bergerak,” tutup ketua cabang yang akan mengakhiri Masa Khikmadnya tahun depan ini.

Red: A. Khoirul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Hikmah Haedar Nashir

Sedekah dengan Ganjaran Dobel

Macau,Haedar Nashir

Senin (5/6) adalah pelaksanaan shalat tarawih malam kesebelas. Tak terasa sudah sampai masuk sepertiga kedua Ramadhan. Rencananya saya akan memimpin tarawih dan witir sebanyak 23 rakaat. Baru dua rakaat baju saya sudah lepek basah oleh keringat. Di ruangan itu kipas terus berputar kencang tanpa henti, namun angin yang berhembus justru laksana uap sauna.

Sedekah dengan Ganjaran Dobel (Sumber Gambar : Nu Online)
Sedekah dengan Ganjaran Dobel (Sumber Gambar : Nu Online)

Sedekah dengan Ganjaran Dobel

Usai witir, bermula dari sebuah pertanyaan obrolan seputar zakat, infak, dan sedekah meluncur satu per satu dari jamaah Indonesia yang berasal dari Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur. Memang diakui potensi zakat umat Muslim yang sedemikian besar belum digarap secara maksimal, walaupun diakui trennya setiap tahun selalu naik.

Salah satu yang menarik kami diskusikan ialah masih luputnya wawasan fiqh prioritas dari Muslim Indonesia. Banyak di antara kita yang menyalurkan sedekah atau infaknya, namun tidak mengindahkan skala prioritas. Padahal seharusnya orangtua, keluarga, dan kerabat dekat lebih dahulu menjadi perhatian utama.

Haedar Nashir

"Iya, Ustad. Kita sering bersedekah kepada fakir miskin ataupun masjid. Tapi lupa sama saudara sendiri yang susah. Seakan akan gak kelihatan," begitu komentar salah satu jamaah.

Haedar Nashir

Harus diakui tak jarang masyarakat kita justru gemar sedekah dan berinfak, namun abai pada keluarga atau kerabat dekat. Padahal ganjaran sedekah terhadap keluarga dan kerabat dekat nilainya dua kali lipat. Pertama, dinilai sedekah. Kedua dinilai sebagai upaya shilah (menyambung silaturahim) sebagaimana tercantum dalam hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad, At-Turmudzi dan An-Nasai.

Jika kita merujuk kepada Al-Qur’an, di antaranya terdapat dalam Surat An-Nisa ayat 36 dan An-Nahl ayat 90, berbicara tentang pentingnya berbuat kebaikan kepada keluarga dan kerabat dekat. Bahkan ada satu ayat yang bicara tentang memberi harta pada dzawi al-Qurba", baru kemudian menunaikan zakat seperti yang tercantum dalam Al-Baqarah ayat 177.

Ibadah sosial dan yang memperkuat hubungan silaturahim memang lebih ditekankan di dalam Al-Qur’an ketimbang ibadah yang hanya membawa kenikmatan secara individual. Karena dampak ibadah sosial jauh lebih besar manfaatnya kepada masyarakat.

Malam itu, ditemani segelas kopi saya sampaikan, "Di dalam Islam kita dilarang meminta-minta. Tapi di saat yang sama kita harus memberi sebelum mereka yang membutuhkan, meminta."

Rekan saya, Ustad Muhammad Yunus turut menambahkan, fenomena itu mungkin terjadi karena adanya penyakit hati.

“Sehingga justru urusan harta dan hubungan kekeluargaan menjadi amat sensitif. Perbedaan ekonomi bukan jadi kesempatan untuk saling mengisi, justru yang ‘berada’ tak peduli walau terhadap keluarga sendiri,” papar Ustad asal Banyuwangi, Jawa Timur.

"Ibadah sosial bukan hanya membutuhkan tekad dan iming-iming pahala tapi juga kebersihan hati, kearifan serta kepekaan yang tinggi dalam menentukan prioritas," tutup saya. (Saepuloh, dai anggota Tim Inti Dai Internasional dan Media (TIDIM) LDNU yang ditugaskan ke Macau. Kegiatan ini bekerja sama dengan LAZISNU)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Santri Haedar Nashir