Sabtu, 11 November 2017

KH Maruf: Soliditas Keumatan dan Kebangsaan Juga Tugas Ulama

Makassar, Haedar Nashir - Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Maruf Amin menghadiri Halaqah Dakwah Wasathiyah An-Nahdliyah yang diadakan oleh PWNU Sulawesi Selatan di Auditorium KH Muhyiddin Zain Universitas Islam Makassar, Sabtu (20/5).

KH Maruf Amin menyampaikan, "Kepengurusan Syuriyah saat ini memiliki tugas untuk selalu turun ke daerah karena pada dasarnya PBNU tidak bisa mengontrol dari pusat, tetapi harus turun langsung untuk bersilaturrahim bersama ulama seluruh Indonesia."

KH Maruf: Soliditas Keumatan dan Kebangsaan Juga Tugas Ulama (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Maruf: Soliditas Keumatan dan Kebangsaan Juga Tugas Ulama (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Maruf: Soliditas Keumatan dan Kebangsaan Juga Tugas Ulama

Pemilik NU itu ulama. Pengurus hanya sopir atau yang menjalankan. Ulama jangan hanya mengurus pesantren, tetapi harus menjaga soliditas keumatan, kebangsaan, dan bernegara.

Haedar Nashir

Selain itu tanggung jawab keumatan, NU harus menjadi penggerak bukan digerakkan. Syuriyah harus menggerakkan dan Tanfidziah yang menjalankan.

Haedar Nashir

Saat ini banyak kelompok yang mengaku Ahlusunnah wal Jamaah tetapi tidak mengakui Asyariyah dan Maturidiah, bahkan menyesatkan kedua ulama besar ini. Karena itu, kita harus menyebut “Ahlusunnah wal Jamaah An-Nahdliyah”. Sementara pihak yang menyesatkan mesti disebut “Ahlusunnah wal Jamaah Wahabiyah”.

Secara garis besar NU meliputi lima hal, yaitu aqidah gerakan, aqidah yang sesuai ajaran Ahlusunnah wal Jamaah An-Nahdliyah. Kedua, fiqrah yakni pola pikir, Ketiga, amaliah, yaitu istighotsah, qunut subuh, dan lain sebagainya.

Keempat, haraqah yakni gerakan melindungi umat dari aqidah yang menyimpang seperti gerakan radikal, kelompok yang akan mengubah komitmen kebangsaan kita, yakni Pancasila dan NKRI. Kelima, jamiyyah yakni organisasi yang memiliki aturan-aturan, yaitu Qanun Asasi dan aturan lainnya. Dalam tradisi NU berbeda pendapat itu biasa, tetapi ketika sudah ada keputusan, maka semua pengurus harus mentaati.

Selain itu Nahdlatul Ulama harus menjadi kaidah penuntun dalam berbangsa dan bernegara. Nahdlatul Ulama harus menjadi pelayan umat untuk memudahkan. NU harus melakukan perbaikan secara terus-menerus dalam semua hal, yaitu aqidah, pendidikan, ekonomi, politik, dan lain sebagainya.

Di sesi arahan dan tausiahnya Rais Aam PBNU KH Maruf Amin meminta Wakil Rais Aam PBNU KH Miftahul Akhyar untuk memberikan taushiyah.

Tampak hadir Rektor Universitas Islam Makassar Majdah Agus Arifin Numang, Kepala Kantor Kanwil Kemenag Sulsel Abd Wahid Thahir, para pengurus Syuriyah dan Tanfidziyah NU se-Sulawesi Selatan, serta Pimpinan Pesantren se-Sulawesi Selatan. (Andy Muhammad Idris/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Lomba Haedar Nashir

Fiqih Sosial Ala KH MA Sahal Mahfudh

Judul: Dialog Problematika Umat

Penulis: KH. MA Sahal Mahfudz

Penerbit: Khalista Surabaya dan LTN PBNU

Cetakan: I, Januari 2011

Fiqih Sosial Ala KH MA Sahal Mahfudh (Sumber Gambar : Nu Online)
Fiqih Sosial Ala KH MA Sahal Mahfudh (Sumber Gambar : Nu Online)

Fiqih Sosial Ala KH MA Sahal Mahfudh

Tebal: xii+464 hal.

Peresensi: Ahmad Shiddiq *


Haedar Nashir

Orang mengenal Kiai Sahal sebagai sosok kiai yang bersahaja. Namun, di balik kesederhanaannya, pengasuh Pesantren Maslakul Huda Kajen Pati, Jawa Tengah ini memiliki keluasan ilmu yang jarang dimiliki oleh kiai kebanyakan. Tidak salah kalau kemudian dalam penelitian yang dilakukan Dr Muzammil Qomar, beliau disejajarkan dengan nama-nama besar semisal (alm) KH Achmad Shiddiq sebagai tokoh yang mempunyai pemikiran liberal. Bahkan? beberapa waktu yang lalu kiai bernama lengkap Muhammad Ahmad Sahal Mahfudz ini di anugerahi Doctor Honoris Causa (Dr HC) dari Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta karena keteguhannya dalam fikih Indonesia.

Kiai Sahal adalah figur, pemimpin, ekonom, pendobrak kebekuan, kemunduran, kemiskinan, dan latar belakang. Sosok multidisipliner dan dinamisator kalangan pesantren serta Nahdlatul Ulama, dua lembaga yang membesarkan juga dibesarkannya. Sebagai ulama, Kiai Sahal tidak diragukan lagi kapasitas keilmuan agamanya, khususnya penguasaan terhadap kitab kuning atau al-turast al-islami. Kapasitas keulamaan ini terlihat dari karya yang sangat banyak meliputi berbagai aspek keilmuan.

Haedar Nashir

Dunia pesantren maupun akademisi begitu memberikan apresiasi sekaligus kepercayaan kepadanya untuk bisa mentransformasikan keilmuan di berbagai tempat, termasuk lewat berbagai media yang telah memberikan kesempatan kepada beliau untuk mengisi rubrik khusus sebagai kolumnis maupun forum dialog atau bathsul masail, yang diantaranya menjadi buku ini.

Dengan pemikiran yang tajam, ia mampu memberikan solusi secara kronologis, jelas, transparan dan sistematis dari setiap problema umat yang disodorkan kepadanya. Disini dibahas tuntas problematika mengenai bersuci, shalat, puasa Ramadhan, zakat dan pemberdayaan ekonomi umat, haji, rumah tangga, antara tuntutan ibadah dan rekayasa teknologi, akidah-akhlak, mengagungkan kitab suci, makanan, dan etika sosial.

Bagi Kiai Sahal, fiqh bukanlah konsep dogmatif-normatif, tapi konsep aktif-progresif. Fiqh harus bersenyewa langsung dengan ‘af al al-mutakallifin sikap perilaku, kondisi, dan sepak terjang orang-orang muslim dalam semua aspek kehidupan, baik ibadah maupun mu’amalah (interaksi sosial ekonomi). Kiai Sahal tidak menerima kalau fiqh dihina sebagai ilmu yang stagnan, sumber kejumudan dan kemunduran umat, fiqh justru ilmu yang langsung bersentuhan dengan kehidupan riil umat, oleh karena itu fiqh harus didinamisir dan revitalisir agar konsepnya mampu mendorong dan menggerakkan umat Islam meningkatkan aspek ekonominya demi mencapai kebahagian dunia-akhirat.

Kontekstualisasi dan aktualisasi fiqh adalah dua term yang selalu dikampanyekan Kiai Sahal baik secara ‘qauli (teks) melalui acara seminar, simposium, dan sejenisnya. ‘kitabi (tulisan) dikoran, majalah, makalah, serta fi’li (tindakan) dalam bentuk aksi langsung di tengah masyarakat dengan program-program riil dan konkret yang menyentuh kebutuhan dasar masyarakat.

Dalam buku ini, jelas bahwa umat Islam sekarang dalam sebuah kebingungan menghadapi dunia modern. Dunia modern yang selama ini dibanggakan oleh masyarakat, ternyata malah menyisakan problem yang memprihatinkan. Dunia modern diagung-agungkan dengan berbagai kecanggihan informasi, transportasi, dan alat-alat teknologi lainnya ternyata gagal membentuk pribadi muslim yang luhur dan mampu mengorbankan serta pengabdian dirinya untuk masyarakat. Semua orang dengan bangga berkata sebagai orang modern, tetapi ternyata hatinya berpenyakit dan begitu menyedihkan bila ditinjau dalam segi agama.

Bagi Kiai Sahal, kebenaran sesuatu selain dari dalil-dalil naqliyah juga bisa berasal dari dalil aqliyah. Memang al-Qur’an dan al-Hadits merupakan sumber hidayah yang paling utama dan esensial bagi umat Islam. Namun peran akal juga tidaklah kalah penting. Dalam beberapa ayat, peran akal sangat istimewa bahkan orang-orang yang diberi ilmu derajatnya tinggi dihadapannya. Hasil pemikiran sains yang berkembang sekarang dapat kita jadikan sebagai petunjuk untuk mempertebal keimanan asalkan tidak bertentangan dengan ketetapan syariah. Dengan demikian, sains dan ilmu pengetahuan yang bersumber dari akal pikiran bukan bid’ah, atau kemusyrikan dan kekufuran. Bahkan sains dan ilmu pengetahuan diperintahkan Allah untuk dipelajari dan dikembangkan. Ini penting karena berguna meningkatkan kualitas hidup manusia dan bahkan bisa mempertebal iman.

Pergulatan panjang Kiai Sahal dalam lapangan fiqh sosial ini ternyata membawa perubahan besar dan dahsyat dalam lapangan pemikiran pesantren dan akademis? (perguruan tinggi), ekonomi kerakyatan, kebudayaan, kelembagaan (pesantren dan NU), dan politik kebangsaan. Dari kalangan peasntren, pemikiran progresif fiqh sosial Kiai Sahal mendorong santri dan Gus-Gus muda pesantren belajar secara mendalam ilmu usul fiqh dan mengembangkan untuk merespons tantangan modernisasi sekarang ini. Lalu muncullah pemikir-pemikir muda pesantren dan NU progresif, transformatif, dan inovatif, dan mereka jauh lebih berani keluar mainstream pemikiran NU, tetapi tetap dalam koridor ahlusunnah wal jamaah.



Dengan demikian, dilihat dari kacamata akademik pesantren Kiai Sahal mampu menyediakan informasi yang komprehensif dan cermat dalam menganalisis serta akurat dalam menyajikan jawaban-jawaban umat. Rais Aam PBNU ini, telah lebih maju dengan memberikan tawaran gagasan-gagasan segar terkait problematika umat dengan pengembangan qawaid ushuliyah untuk menjadikan fiqh sebagai bagian dari peradaban modern.

Wal-hasil buku setebal 464 ini dapat menjadi inspirasi kaum muda dalam mengembangkan lebih jauh gagasan-gagasan ulama sekaliber KH MA Sahal Mahfudz dan tentunya patut menjadikan buku ini, rujukan menemukan jawaban hukum Islam yang berkaitan problematika umat. Selain mudah dibaca oleh siapa saja, buku ini memberikan jawaban nuansa berbeda yang disesuaikan dengan zaman kontemporer. Waallahu a’lamu bi al-shawab.

*) Penulis Santri Pesantren Luhur Al-Husna dan Redaktur Pena Pesantren Surabaya Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Halaqoh, Anti Hoax Haedar Nashir

Belajar dari Kesuksesan Gerakan Sedekah di Sukabumi

Ada seabrek buku yang membahas tentang urgensi zakat, infak, dan sedekah (ZIS). Umumnya buku-buku tersebut berupaya meyakinkan para pembaca bahwa terdapat hubungan saling mengikat antara kesalahen ritual dan sosial. Dipaparkanlah dalil-dalil dari teks suci, keteladanan para Rasul, hingga prospek kemanfaatan yang bakal diambil dari perilaku gemar berbagi itu. Jumlah buku semacam ini tampaknya kian banyak dan mungkin sedikit saja yang mengulas soal panduan praktis gerakan filantropi dan contoh hasil yang bisa menjadi inspirasi.

Buku Membumikan Sedekah: Belajar dari Cicurug Sukabumi adalah di antara yang sedikit itu. Buku yang disusun oleh sebuah tim NU Care-LAZISNU (Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shadaqah Nahdlatul Ulama) ini menekankan tentang bagaimana kesadaran filantropi dibangkitkan, dikelola, lalu dikembalikan manfaatnya kepada masyarakat kampung. Para penerima manfaat bukanlah orang asing. Mereka adalah para penderma itu sendiri yang tiap hari menyedekahkan limaratus rupiah atau 2,5 persen dari penghasilan mereka.

Belajar dari Kesuksesan Gerakan Sedekah di Sukabumi (Sumber Gambar : Nu Online)
Belajar dari Kesuksesan Gerakan Sedekah di Sukabumi (Sumber Gambar : Nu Online)

Belajar dari Kesuksesan Gerakan Sedekah di Sukabumi

Hasil yang kini terlihat luar biasa. Poliklinik ZIS seluas seribu meter persegi berdiri megah dari kantong umat sendiri. Begitu pula penyediaan ambulans jenazah dan orang sakit. Layanan kesehatan disediakan secara cuma-cuma, termasuk untuk para ibu yang menjalani proses persalinan. Di luar sektor kesehatan, manfaat yang terasa juga tampak di segi infrastruktur. Dana sedekah tersebut telah membuahkan ratusan lampu dan menerangi hampir seluruh sudut jalanan desa yang sebelumnya gelap gulita.

Haedar Nashir

Belum lagi soal bantuan-bantuan sosial dan berbagai pembiayaan rutin untuk sejumlah fasilitas publik. Santunan diberikan kepada mereka yang benar-benar miskin, tak terkecuali para janda jompo. Sementara sejumlah ongkos rutin yang juga ditanggung meliputi listrik masjid, serta insentif untuk beberapa imam, marbot, dan guru ngaji. Semua dilakukan sepengetahuan dan atas persetujuan masyarakat setempat.

Di balik hasil yang gemilang tentu ada proses dan perjuangan. Demikian pula kemandirian masyarakat di desa-desa Kecamatan Cicurug, Sukabumi, Jawa Barat itu. Kisah penggalangan partisipasi dana publik melalui zakat, infak, dan sedekah ini bermula dari uang Rp500 setiap kepala keluarga (KK) setiap RT setiap hari.

Angka 500 rupiah tak muncul sembarangan. Jumlah tersebut berasal dari hitung-hitungan rasional 2,5 persen rata-rata pendapatan harian penduduk Desa Nanggerang, Kecamatan Cicurug. Mereka yang mayoritas adalah buruh tani lepas berpenghasilan Rp20.000 per hari. “Kira-kira kalau diambil 500 rupiah per hari, apakah mengurangi jumlah nasi yang disuapkan ke keluarga? Apakah memberatkan?” Begitu tanya KHR Abdul Basith, inisiator gerakan sedekah ini, saat sosialisasi di sebuah majelis taklim. Jamaah menjawab, “Tidaaaak.” “Kalau begitu apakah berani diambil 500 rupiah per hari demi berbagi dan membangun desa?” Semua menyatakan berani.

Haedar Nashir

Dari situlah kesadaran berderma dipupuk. Buya Basith, panggilan akrab ketua PCNU Sukabumi itu, sejatinya hendak mendidik masyarakat untuk belajar zakat sebelum nishab (batas minimum jumlah harta wajib zakat). Lima ratus rupiah memang sangat sedikit, namun saat itu dilakukan terus menerus, jumlahnya menjadi banyak. Karena sedikit adalah dasar dari yang banyak. Bukankah gunung yang besar itu terdiri dari kumpulan batu, tanah, dan krikil yang kecil?

Analogi tersebut menunjukkan kebenarannya. Uang recehan itu ditaruh di dalam toples setiap hari, untuk kemudian dipunguti tiap pekan oleh petugas khusus. Dari toples ke toples recehan selama setahun itulah terhimpun total dana yang cukup fantastis untuk ukuran masyarakat setempat. Sebagai contoh, untuk tahun 2016 lalu saja, Desa Nanggerang yang menjadi proyek percontohan desa-desa lainnya memperoleh pemasukkan sebesar 336 juta rupiah.

Kunci sukses dari jerih payah ini tak lepas dari kejelian para tokoh dan aktivis NU dalam melihat potensi kearifan lokal di sana. Di kalangan urang Sunda Sukabumi telah berkembang lama tradisi beas perelek. Beas atau beras yang dikumpulkan sepekan sekali dan dikumpulkan oleh salah seorang petugas yang berkeliling memanggul karung dari rumah ke rumah. Tradisi yang dilakukan mengantisipasi ancaman kekurangan stok pangan ini menjadi modal sosial bagi kebangkitan gerakan ZIS. Tradisi tak dihilangkan. Hanya saja kini meningkat intensitasnya dengan gerakan Rp500 saban hari, dan pemaknaan terhadapnya sebagai bagian dari kegiatan ibadah semakin tinggi.

Selain sinergi dengan pemerintah setempat, keberhasilan gerakan filantropi ini juga sangat dipengaruhi oleh manajemen pengelolaan yang tertata. Dewan pengurus dibentuk dengan melibatkan pengurus RT/RW dan tokoh masyarakat. Distribusi tugas, perencanaan, dan laporan-laporan dijalankan. Semuanya digerakkan secara profesional tanpa mengurangi semangat kerelawanan dan gotong royong para pengurus yang mengemban amanah. Juru sosialisasi dan pengurus ZIS juga dituntut memberikan keteladanan sebelum mengajarkan. Dengan demikian, sistem terbangun mapan, semangat berderma kian berkembang, dan target pun mudah diraih.

Pelajaran utama gerakan yang dipaparkan dalam buku Membumikan Sedekah: Belajar dari Cicurug Sukabumi bukan terletak pada jumlah uang yang terkumpul. Melainkan, seberapa besar kesuksesan membangun kesadaran untuk berbagi pada masyarakat itu dicapai. Karena yang paling inti dari sebuah gerakan filantropi adalah tumbuhnya empati, gotong royong, dan kepedulian antarsesama. Kasus di Sukabumi ini juga mengajarkan kita bahwa “hal kecil” yang dijalankan secara kontinu (istiqamah) dan berjamaah akan menjelma sebagai hal yang berdampak besar.

Sayangnya, buku ini belum menyuguhkan data secara rinci seputar kelemahan atau kendala yang dialami para aktivis yang menjalankan gerakan ZIS itu. Padahal, sebagai buku inspiratif, paparan detail tentang berbagai tantangan di lapangan akan menjadi pelajaran berharga bagi siapa saja yang hendak melakukan hal serupa. Terlepas dari itu, buku NU Care-LAZISNU ini layak menjadi referensi bagi yang ingin mengetahui gairah berfilantropi yang sukses dan mengakar karena berangkat dari partisipasi masyarakat bawah (bottom up).

Data Buku:

Judul buku : Membumikan Sedekah: Belajar dari Cicurug Sukabumi

Penulis? ? ? ? ? : Syamsul Huda, Nur Rohman, Amin Sudarsono

Penerbit? ? ? ? : NU Care-LAZISNU, Cetakan I, 2017

Tebal? ? ? ? ? ? ? ? : 180 halaman

Peresensi? : Mahbib Khoiron, penikmat buku; tinggal di Jakarta

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Makam, Humor Islam, Internasional Haedar Nashir

Assalafiyyah Mlangi Siap Bangun Pesantren Terpadu

Sleman, Haedar Nashir. Pondok Pesantren Assalafiyyah Mlangi, Nogotirto, Gamping, Sleman, DIY akan segera membangun komplek Pesantren Assalafiyyah II Terpadu. Lokasinya tak jauh dari komplek Assalafiyyah I, yakni di tengah pesawahan di Dusun Mlangi.

Assalafiyyah Mlangi Siap Bangun Pesantren Terpadu (Sumber Gambar : Nu Online)
Assalafiyyah Mlangi Siap Bangun Pesantren Terpadu (Sumber Gambar : Nu Online)

Assalafiyyah Mlangi Siap Bangun Pesantren Terpadu

“Nantinya di kompleks Assalafiyyah Terpadu ini akan dibangun tempat yang baru untuk anak-anak MTs dan MA, masjid, serta rusunawa,” ujar KH Noor Hamid Majid, Pimpinan Pesantren Assalafiyyah pada peletakan batu pertama, Rabu (30/04), di komplek bakal Pesantren Assalafiyyah II Terpadu, Mlangi.

Kiai Noor Hamid menambahkan, di komplek baru akan dibangun rumah kediaman Gus Irwan Masduki yang akan dipercayai memegang MTs dan MA. Ia juga memohon doa restu dan dukungan demi kelancaran pembangunan yang akan dimulai pada bulan Juni tersebut.

Haedar Nashir

KH Noor Hamid Majid pada sambutannya juga memaparkan beberapa program unggulan MTs dan MA Assalafiyyah, seperti tahfidzul Qur’an, qiro’atul kutub, dan penguasaan bahasa Arab dan Inggris.

Haedar Nashir

Khusus untuk program tahfidzul Qur’an, lanjutnya, ada target-target yang telah dipersiapkan. Untuk tingkat MTs, kelas I ditargetkan hafal 5 juz, kelas II hafal 10 juz, dan kelas III hafal 15 juz. Selanjutnya untuk sampai pada hafalan 30 juz dilanjutkan di tingkat MA.

KH Hasan Abdullah, pengasuh Pesantren Assalafiyyah sekaligus Katib Syuriah PWNU DIY menguatkan, “Nantinya kalau Assalafiyyah II Terpadu sudah ada akan digunakan untuk santri-santri yang nyambi sekolah atau kuliah, sedangkan Assalafiyyah I akan digunakan untuk yang konsentrasi mondok saja,” ujarnya kepada Haedar Nashir.

Pesantren Assalafiyyah Mlangi yang didirikan oleh KH Masduqi pada tahun 1936 tersebut baru membuka pendidikan formal yakni MTs dan MA tahun 2013. (Dwi Khoirotun Nisa’/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Internasional Haedar Nashir

Jumat, 10 November 2017

Bersusah-payahlah untuk Bisa Mengunjungi Tiga Kota Suci Ini

Pacitan, Haedar Nashir



Pengasuh Pesantren Tremas Pacitan KH Fuad Habib Dimyathi berpesan kepada para jamaah pengajian Isra Miraj Nabi Muhammad SAW agar memiliki cita-cita kuat untuk mengunjungi tiga tempat yang mulia seperti yang telah disebutkan dalam sebuah hadits Nabi.

"Tiga tempat yang dimaksud yaitu masjid Al Haram Makkah, masjid Nabawi Madinah, dan masjid Aqsa di Palestina. Yang kemudian dikenal sebagai tiga kota suci," tutur Kiai Fuad, Selasa malam (25/4) di hadapan ribuan santri yang memenuhi halaman Masjid Pesantren Tremas Pacitan.

Bersusah-payahlah untuk Bisa Mengunjungi Tiga Kota Suci Ini (Sumber Gambar : Nu Online)
Bersusah-payahlah untuk Bisa Mengunjungi Tiga Kota Suci Ini (Sumber Gambar : Nu Online)

Bersusah-payahlah untuk Bisa Mengunjungi Tiga Kota Suci Ini

Mengunjungi tiga kota suci itu, ungkap Kiai Fuad, merupakan sebuah perjalan yang mulia. Hingga umat Islam sangat dianjurkan untuk melakukanya. Dijelaskan oleh Kiai Fuad, bahwa ketiga kota itu merupakan tempat penting bagi umat Islam, dan memiliki keistimewaan masing-masing. "Karena mengunjungi tiga tempat itu juga ada dawuhnya (perintahnya)," sambung alumnus Pesantren Krapyak Yogyakarta itu.

Ketiga tempat itu menjadi saksi sejarah perjalan hidup dan perjuangan Rasulullah SAW. Di Makkah Rasulullah dilahirkan, kemudian menjalani peristiwa Isra Miraj melalui Masjidil Aqsa, dan Rasulullah wafat di Madinah.

Oleh karena itu, imbuhnya, sebagai seorang muslim tidak dianjurkan dengan bersusah payah untuk melakukan perjalanan ke tempat lain kecuali mengunjungi tiga tempat itu. Seorang Muslim harus memiliki niat dan tekad yang kuat agar kelak dapat sampai di tiga kota suci itu.

Haedar Nashir

"Ora petentengan (tidak perlu bersusah payah) untuk pergi ke Bali, pergi ke Las Vegas, ke Pacitan bagi para santri umpamanya. Tapi kita harus bersusah payah dan memiliki niat, semangat kuat, jihad, nekat, untuk sampai ke tiga kota suci itu," pesan Kiai Fuad.

Kiai Fuad lalu mendokan para santri agar diberikan kemudahan oleh Allah dapat mengunjungi tiga kota suci itu."Insyaallah teko kono nduk ya, teko kono mas ya. (Insyaallah santri putra, santri putri bisa mengunjunginya) Allahumma Amiin, " tutupnya.

Haedar Nashir

Pesantren Tremas Pacitan menggelar pengajian Peringatan Isra Miraj Nabi. Pada kesempatan ini, KH Nur Hadi dari Batang, Jawa Tengah didaulat menjadi pembicara pada acara ini.?

Tampak hadir di tengah-tengah para santri, KH Total Amin, KH Muhammad Habib Dimyathi, KH Achidz Turmudzi dan para kiai lainya. (Zaenal Faizin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ahlussunnah, IMNU Haedar Nashir

Silakan Khilafah, Jangan Bawa Nama NU

Magelang, Haedar Nashir

Nahdlatul Ulama (NU) dipastikan tidak akan tertarik dengan gagasan pendirian Khilafah Islamiyah. Namun kalangan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dipersilakan meneruskan agendanya asal tidak membawa-bawa nama NU. Demikian Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Sa’id Aqil Siradj.

Dalam perjalanan sejarahnya, Rasulullah SAW juga tidak pernah mendirikan negara Islam. Justru di tengah masyarakat Madinah yang plural Rasulullah membuat kesepakatan yang dikenal sebagai Piagam Madinah. Seluruh penduduk yang ada disamakan dalam hukum, aturan serta hak dan kewajibannya, meski mereka berbeda-beda dalam agama, suku dan rasnya.

Silakan Khilafah, Jangan Bawa Nama NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Silakan Khilafah, Jangan Bawa Nama NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Silakan Khilafah, Jangan Bawa Nama NU

Pada masa sepeninggal Rasul, model pemerintahan yang dijalankan juga beda-beda. “Islam tidak memberikan ketentuan yang baku tentang sistem pemerintahan, yang penting pemimpinnya adil, jujur dan melayani masyarakatnya dengan baik, itu sudah cukup,” kata Said Agil menjelang acara haul KH Asrori Ahmad di Pondok Pesantren Raudlatut Thullab, Wonosari, Tempuran Magelang pada Rabu (22/8) malam lalu.

Menurut Kang Said (panggilan akrab Said Agil), dalam perjalanan panjang sejarah Islam selanjutnya, malah ditemukan berbagai jenis model pemerintahan, mulai dari khalifah, imarah, sampai kesultanan yang kebanyakan justru terjadi melalui pertumpahan darah sesama kaum muslimin. “Saya kok yakin, mereka itu tidak tahu sejarah Islam,” kata Kang Said menyindir..

Alumnus Universitas Ummul Qura’ Makkah itu memastikan bahwa menurut NU menilai gagasan dari kalangan HTI itu tidak masuk akal tersebut. Namun jika kalangan HTI bersikeras mengumumkan semangat khilafah, NU tidak akan menghalangi, asal tidak memanipulasi dukungan dari NU, apalagi sampai merebut aset-aset NU.

“Kalau sampai mereka merebut aset-aset NU, kita akan pertahankan dengan cara apapun, karena itu memang hak kita,” katanya, “Jika HTI sampai merebut aset-aset NU, maka posisi mereka tidak jauh beda dengan kelompok Mu’awiyah ketika berhadapan dengan pasukan Shahabat Ali bin Abi Thalib.”

Haedar Nashir

Meski sesama muslim, namun Shahabat Ali berani bertempur untuk mempertahankan haknya. “JIka seperti itu maka mereka telah bughat pada kita,” kata Kang Said, menirukan kalimat Ali kala itu menjelang perang. “Tapi itu langkah terakhir, kalau mereka memang memaksa, kita sudah siap,” tegasnya meyakinkan.

Kepada warga NU yang memadati setiap jengkal tanah pondok pesantren asuhan KH Said Asrori (Ketua PCNU Magelang) itu, Kang Said mengungkapkan, sebagian besar gerakan Islam radikal di seluruh dunia, ternyata atas dukungan Amerika Serikat. Negeri besar itulah yang mendanai dan mendidik mereka. Biasanya aliran dana besar itu dilewatkan negara-negara Arab, sehingga terasa seperti dari negara Arab. “Semoga kita tidak terjebak,” tandas Kang Said.(sbh)

Haedar Nashir

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Ubudiyah Haedar Nashir

“Sekolah Menulis” PMII Jombang, Upaya Lahirkan Jurnalis Muda

Jombang, Haedar Nashir. Selama 3 hari (2-4/3), Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Jombang Jawa Timur menyelenggarakan "Sekolah Menulis". Kegiatan yang diikuti puluhan mahasiswa dan sarjana dari sejumlah kampus di Jombang ini berlangsung di Pesantren Tebuireng.

"Kita sadar bahwa kekurangan yang menjadi keprihatinan bersama adalah minimnya kemampuan kader yang bisa mempublikasikan kegiatan yang diselenggrakan pengurus dan kader," kata Nizar Rafi al-Muttaqin kepada Haedar Nashir, Senin (2/3). Padahal dalam pandangan alumnus Fakultas Syariah Universitas Hasyim Asyari Jombang ini, ada banyak kegiatan yang dilakukan PMII baik internal organisasi maupun pendampingan di masyarakat, lanjutnya.

“Sekolah Menulis” PMII Jombang, Upaya Lahirkan Jurnalis Muda (Sumber Gambar : Nu Online)
“Sekolah Menulis” PMII Jombang, Upaya Lahirkan Jurnalis Muda (Sumber Gambar : Nu Online)

“Sekolah Menulis” PMII Jombang, Upaya Lahirkan Jurnalis Muda

"Namun karena minimnya para penulis, khususnya mereka yang memiliki kecakapan dalam menulis berita, nyaris seluruh kegiatan yang dilakukan tidak pernah terpublikasi," kata Ketua 1 PC PMII Jombang yang menangani kaderisasi ini.

Haedar Nashir

Berangkat dari keprihatinan tersebut, akhirnya menginspirasi para aktivis PMII menyelenggarakan kegiatan "Sekolah Jurnalistik". Kegiatan yang diikuti puluhan peserta dari sejumlah kampus di Jombang ini berlangsung di Pesantren Tebuireng. "Hari pertama dilaksanakan di kantor redaksi Majalah Tebuireng, dan selanjutnya di perpustakaan pesantren ini," terangnya.

Haedar Nashir

Selama kegiatan, para peserta mendapatkan materi seputar penulisan berita dan feature, cara menulis opini hingga penulisan tokoh. "Ini masih informasi awal, selanjutnya akan dilakukan pendalaman," kata Nizar, sapaan akrabnya.

Diharapkan usai kegiatan ini, maka akan lahir para jurnalis muda yang memiliki kepedulian dengan kegiatan yang diselenggarakan. "Baik yang dilakukan secara rutin di internal PMII maupun di Nahdlatul Ulama," terangnya.

Sejumlah narasumber dihadirkan. Di antaranya Romza M Gawat dari Radar Mojokerto yang merupakan jaringan Jawa Pos Grup. "Mas Romza menyampaikan materi seputar penulisan berita," tandas Nizar. Narasumber lain adalah Ahmad Faozan dari media Tebuireng Grup dengan bahasan seputar penulisan opini dan artikel.

Bagaimana format media yang akan dikelola usai kegiatan ini, Nizar menyampaikan bahwa ada salah seorang tokoh di Jombang yang berkenan untuk membiayai media yang akan dikelola. "Kita menginginkan media yang akan dikelola berbentuk buletin yang dicetak sesuai dana yang telah disanggupi investor," ungkapnya.

Karena itu, demi menjawab tantangan dan kesempatan yang diberikan, PMII akan menjawabnya dengan ketersediaan kader yang memiliki kelebihan dalam tulis menulis ini.

"Memang butuh proses," kata Nizar. Namun kedekatan antara narasumber dengan para peserta pelatihan, maka dapat dipastikan perkembangan kemampuan peserta dapat terpantau dengan baik. "Intensitas komunikasi dan konsultasi adalah juga faktor penentu bagi keberhasilan kegiatan ini," pungkas Nizar. (Syaifullah/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Haedar Nashir Daerah, Habib, Pertandingan Haedar Nashir